Kebahagiaan mu

By: Miftha Zoldyck

.

.

.

Disclaimer: Naruto milik Masashi Khisimoto

Rate T

Genre: Hurt/comfort,Romance

Pair : Naruhina, dan yang lainnya

Warning : Typo,OOC,dan banyak kesalahan lainnya


.

.

.

Menunggu bukanlah hal yang menyenangkan tapi, hanya itulah yang bisa dilakukan oleh Naruto. Dia hanya bisa menunggu gadis bermanik lavender itu untuk bangun dari komanya, sudah dua hari lamanya dia menunggu agar gadis itu terbangun. Naruto menutup panggilan dari Shikamaru dan kembali mendudukkan dirinya di kursi yang berada disebelah Hinata.

"Hei, kudengar dari ayahmu jika kau sangat ahli dalam berkelahi. Kenapa kau tidak melawan mereka, jika kau mampu untuk melawannya? Seharusnya kau harus lebih membuka dirimu Hinata-chan. Jangan lagi untuk terpuruk pada masa lalu kelammu itu. Kumohon Hinata-chan, bangunlah! Kau harus bangun karena satu minggu lagi kita akan melakukan pertunangan. Apa kau tidak ingin bertunangan denganku?" Naruto menenggelamkan kepalanya di sebelah tangan Hinata yang ada di ranjang. Semua teman-temannya menatap iba padanya, karena setahu mereka inilah pertama kalinya Naruto terlihat serapuh ini.

"Naruto, mereka telah kuberi pelajaran." Saat memasuki ruangan inap Hinata, Shikamaru langsung mengatakan pada Naruto jika ia telah memberikan pelajaran pada Shion dan Karin. Naruto mengangkat kepalnya dan beralih menatap ke arah Shikamaru. Dahinya berkerut dan mengatakan kata 'Ha?'

"Kau belum memberi mereka pelajaran Shikamaru. Yang kau lakukan itu bukanlah pelajaran, yang akan memeberikan mereka pelajaran yang sesungguhnya itu hanyalah aku." Dingin. Itulah kesan Naruto ketika mengatakan itu. Dan tepat saat Naruto mengatakan itu, Hinata terbangun dengan meneriakkan, "Neji-nii." Matanya mulai mengeluarkan air mata dan tangannya mulai menarik-narik surai indigonya. Melihat itu, Naruto langsung menarik Hinata ke dalam pelukannya. Tidak mempedulikan berontakan-berontakan yang diberikan Hinata. Semakin dieratkannya pelukan itu dan tidak lama kemudian kondisi Hinata mulai menjadi tenang. Lagi, Naruto melihat ke arah Shikamaru.

"Kau lihat, apa yang kau lakukan pada mereka belumlah setimpal dengan apa yang mereka lakukan pada Hinata-chan." Shikamaru, Sasuke, Kiba, Sakura dan Ino hanya bisa menatap sendu pada Naruto. Rasanya, mereka tidak mengenal sosok Naruto yang seperti ini. Sosok yang biasanya hangat ternyata bisa menjadi sedingin ini. Mungkin, itulah yang terpikirkan oleh mereka saat ini.

.

.

.

Beberapa telah dicoba oleh ibu Hinata untuk menyuapi anaknya itu, tapi semua usahanya itu hanya sia-sia karena Hinata tidak kunjung mau memakan makanannya. Ketika mendengar pintu yang dibuka, ibu Hinata langsung melihat siapa yang berkunjung dan ternyata orang itu adalah Naruto. Disungginggkannya senyuman saat melihat pemuda itu. "Kenapa kaa-san? Apa Hinata-chan tidak ingin makan?" Tanya Naruto pada ibu Hinata.

"Dia tidak ingin makan." Naruto menghelah nafas kemudian mengambil alih makanan itu dan mulai duduk di samping Hinata.

"Hai, Hinata-chan." Sapa Naruto, namun Hinata tidak membalas sapaan itu. Melihatpun tidak.

Naruto mengeluarkan foto pemandangan bunga lavender dan memperlihatkannya pada Hinata. Seperti dugaannya, hal itu memang berhasil menarik perhatian Hinata. Hinata memiringkan kepalanya saat melihat gambar itu kemudian beralih menatap Naruto.

"Kau suka? Aku bisa membawamu kesana jika kau mau menghabiskan makananmu selama kau berada di rumah sakit." Awalnya Hinata sempat mengkerutkan dahinya seakan tengah berpikir tapi, akhirnya dia menganggukkan kepalanya juga. Dan mulailah Naruto menyuapkan Hinata.

Setelah menyuapkan makanan yang untuk terakhirnya, Naruto mengusap kepala Hinata dan mulai tersenyum lebar. "Tunangan pintar," katanya yang langsung mendapat gelengan dari Hinata. "Masih calon," jawabnya pelan.

"Hm, benarkah? Kurasa kau sudah menjadi tunanganku, ah... tentu saja kau tidak tahu. Kaukan koma selama dua hari," goda Naruto.

"Jangan berbohong! Kau pikir aku orang bodoh. Ingat! Aku orang terpintar di sekolah, walaupun aku selama dua hari koma, aku tidak menjadi bodoh." Naruto tertawa saat meneedengar bantahan dari Hinata. Sekali lagi diacaknya surai indigo milik gadis Hyuga itu. Mengikuti senyuman di wajah tan milik Naruto, tanpa disadarinya senyuman tipis mulai menghiasi wajahnya. Perasaan takut yang timbul karena teringat dengan masa lalu kelamnya mulai menghilang seiring senyuman yang selalu diberikan 'mataharinya'.

.

.

.

Tiga hari setelah Hinata siuman, Hinata kembali masuk ke sekolah. Masih seperti dulu, wajahnya masih tetap memperlihatkan kedataran. Menjadi pusat perhatian adalah hal yang sangat tidak disukai oleh Hinata. Dilihatnya sekilas Naruto yang masih tidak ingin beranjak dari kelasnya dengan alasan ingin melihat wajah tunangannya-ralatnya, calon tunangan.

Tettt... tettttt...tetttttt

Wajah cemberut mulai terlihat dari wajah Naruto saat mendengar bunyi bel, berbeda dengan Hinata, dia malah tampak terhibur saat melihat wajah masam milik Naruto. Jika saat ini dia tidak menjadi pusat perhatian, pasti saat ini dia telah tertawa lepas. "Hah, jaa ne Hinata-chan," kata Naruto dan mengusap kepala Hinata.

Blush...

Hinata memalingkan wajahnya saat dirasaanya wajahnya memanas saat Naruto memperlakukannya dengan sikap manis seperti tadi.

Setelah keluar dari kelas Hinata, Naruto mulai mencari dua orang gadis yang masih memiliki urusan dengannya. Seringaian muncul di wajahnya saat melihat kedua gadis itu sedang duduk di taman belakang sekolah. Langsung saja dihampirinya kedua gadis itu.

Respon yang diberikan oleh Shion dan Karin saat melihat Naruto adalah wajah kaget diserti takut. "M-mau apa kau Naruto-kun?" Tanya Shion dengan nada gemetar.

"Aku?" Tunjuk Naruto pada dirinya sendiri kemudian dia tertawa pelan. "Hei, ada apa dengan wajah kalian itu?" Tanyanya.

Mereka menggelengkan kepala dan masih menatap Naruto dengan wajah yang bisa dikatakan ketakutan. Wajah Naruto yang awalnya masih tersenyum, mulai tergantikan dengan wajah datar dan dingin. Ditatapnya Shion dan Karin dengan tajam. "Kuingatkan! Jangan pernah menganggu Hinata. Kali ini aku tidak akan melukai kalian karena permintaan dari Hinata. Tapi, jika kalian kembali melakukan hal yang membuat Hinata tertekan... sekalipun Hinata kembali untuk membiarkannya, aku tidak akan pernah melepaskan kalian." Setelah mengatakan semua itu dengan penuh penekanan, Naruto kembali berlalu dengan wajah yang terhias dengan senyuman.

"Cih, kau semakin membuatku membencimu Hinata," desis Shion.

.

.

.

"Kau membuat kami takut Naruto, tidak bisakah kau menghilangkan senyuman konyolmu itu. Ingat! Bersikaplah lebih baik, dasar bodoh apa kau lupa jika saat ini kau sedang berada di pesta pertunanganmu." Sakura menjitak kepala Naruto karena jengah akan senyuman konyol Naruto.

"Memangnya kenapa jika aku tersenyum. Asal kau yahu, aku tersenyum karena merasa senang. Akhirnya kaa-chan dan tou-chan menjodohkanku dengan gadis yang benar-benar cocok denganku." Setelah memberengut Naruto kembali tersenyum. Namun, seketika senyumannya berubah menjadi wajah terpana saat melihat sang tokoh utama di pesta itu turun dari tangga dengan diiringi oleh dua orang wanita dewasa. Bukan hanya dia saja yang terpana, tapi hampir semua orang yang ada di sana merasa terpana oleh penampilan gadis itu.

"Hinata-chan," guman Naruto tanpa sadar.

.

.

.

To be continue...

.

Terima kasih pada semuanya yang telah membaca. Dan terus berikan review pada cerita ini. Sankyuu xD.

.

RnR

.

Salam

Miftha