Kotak GOKIL!
Shingeki no Kyojin by Hajime Isayama
WARN : AU. OOC. Typo. BAHASA SEHARI-HARI YANG SUPER NYELENEH. ect.
.
.
Berhubung dia tidak mungkin ke acara pesta ulang tahun Jean dengan tangan kosong dan yang menjualnya adalah seorang nenek berwajah melas di pinggir jalan, maka Connie pun membeli kotak itu. [ P.s : Namanya Kotak GOKIL! Buat permintaan dan semua akan menjadi kenyataan. Yoi, GOKIL kan?! ]
.
Happy Reading! ^^
.
.
.
Deru napas kuda menjadi kencang ketika hendak dipacu untuk berlomba. Jangankan kuda, penunggangnya juga pasti merasakan degupan jantung lebih cepat. Jadi jangan salahkan Jean kalau dia sedang super dag-dig-dug dengan hidung kembang-kempis sekarang. Dia tidak akan pernah tahu sosok seperti apa yang akan keluar dari kotak lusuh ajaib itu ketika ia bilang mau cewek cantik. Apa yamato nadeshiko? Super model majalah Fogue? Loli menggemaskan? Jean menggeleng keras. Ah, apa dia harus mengucapkan dengan detail seperti apa wanita idamannya? Jean membaca ulang secarik kertas yang datangnya bersamaan dengan kotak tersebut. Mungkin saja ada petunjuk yang belum terbaca?
Namanya Kotak GOKIL! . Buat permintaan dan semua akan menjadi kenyataan. Yoi, GOKIL kan?! .
Cobalah dan lihat keajaiban sesungguhnya!
(P.S : Kotak ini benar-benar berkekuatan magis. Hendaknya perlakukan dengan baik.)
.
(P.S : Kotak ini benar-benar berkekuatan magis. Hey, katakan saja -gan baik.)
.
(P.S : Kotak ini benar-benar berkekuatan magis. Hey, katakan saja keinginanmu -aik.)
.
(P.S : Kotak ini benar-benar berkekuatan magis. Hey, katakan saja keinginanmu, Jean! )
.
"WHOAAA!"
Jean reflek melemparkan kertas tersebut dengan tangan gemetar. Dadanya naik turun, keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Tulisannya bisa berubah sendiri! Ya ampun. Manik karamel Jean masih terus memperhatikan secarik kertas lusuh tersebut. Oh, sepertinya tulisan disana sudah berubah lagi. Dia menengguk ludah.
.
(P.S : Kotak ini benar-benar berkekuatan magis. Ini bukan -atakan saja keinginanmu, Jean! )
.
(P.S : Kotak ini benar-benar berkekuatan magis. Ini bukan hal mistis -ja keinginanmu, Jean! )
.
(P.S : Kotak ini benar-benar berkekuatan magis. Ini bukan hal mistis kau tidak perlu takut, Jean. )
.
Jean mengulum bibir. Baiklah. Tangannya masih gemetar meraih kotak ajaib tersebut, membawanya ke pangkuan. "Err.. Oke. Aduh, gimana bilangnya?" Jean malah menggumam sendiri kebingungan dan untuk kedua kalinya ia mengulum bibir.
"Eh, ini.. aku ingin sekali memiliki pacar. Seorang perempuan yang cantik. Yah, tidak perlu yang seperti model majalah sih. Cukup yang sederhana tapi menggemaskan.. mungkin? Oiya! Aku tahu siapa yang mirip dengan kriteriaku, namanya Petra. Dia kakak kelasku, tegas tapi sifatnya lembut. Hanya saja yah.. ada yang bilang kalau dia suka sekali dengan Rivaille. Jujur saja aku tidak mengerti bagaimana makhluk grumpy itu bisa membuatnya jatuh hati." Jean mendengus. "Tapi, sebenarnya ada lagi sih tipe lain yang sangat aku sukai. Wanita pendiam, wajah super cantik, dan jenius! Pesona wanita seperti ini ternyata sungguh mengagumkan, bahkan aku rela mengikutinya kemanapun. Contohnya adalah Mikasa! Dia teman sekelasku.. hanya saja dia selalu mengikuti Eren kemana-mana bersama Armin. Cih, sialan sekali memang bocah yang satu itu! Mikasa jelas lebih baik denganku."
Hening. Jean menghela napas berat.
"EH, SIALAN! KENAPA GUA MALAH CURHAT?!"
Yah.. Mana ada yang tahu? Jean juga sedang sendirian di rumah.
"Ah, udah lah!" Jean kesal sendiri, "Wahai kotak ajaib, aku minta pacar yang cantik!"
BLAZT!
Kotak gokil loncat dari tangan Jean dengan tutup terbuka lebar memancarkan cahaya terang. Jean mengurangi silau dengan tangannya, mata terus terbuka untuk melihat apa yang sedang terjadi. Perlahan kilauan cahaya itu membentuk siluet tubuh seorang wanita berbalut kimono. Semakin redup semakin terlihat sosoknya dengan rambut coklat sepunggung dan wajah teduh. Jean terpesona, berjalan mendekatinya. Sepasang manik hijau terbuka sayu, tangan kecil putihnya berusaha meraih Jean.
"Jean.."
"Eh?"
Belum sempat bertanya, gadis itu langsung jatuh pingsan. Untung saja Jean cekatan meraih tubuhnya. Tapi, bagaimana gadis ini tahu kalau namanya Jean?! Mata karamel Jean berkedip tidak mengerti. Antara takjub dan keheranan.
.
.
.
"JAN! JAAN!"
Alis Jean terangkat tinggi melihat connie yang berlari ke arahnya dengan tergopoh-gopoh. Lamunan tentang kekasih baru dari kotaknya langsung hilang sekejap mata. Jelas saja Jean kepikiran, gadis itu belum juga bangun sampai Jean berangkat sekolah. Pintu rumahnya juga dia kunci takut ada maling gadis cantik dibanding takut ada maling barang. Apalagi soal bagaimana si gadis itu tahu namanya Jean.
"Eren.., Jean!" napas Connie masih tersengal-sengal begitu mendekatinya di lorong sekolah, "EREN ILANG, JAN!"
"Hah? Serius lo?"
Kepala botak connie mengangguk, "Iya, kelas heboh banget tuh! Armin keliatan lemes banget, Mikasa juga udah nangis pagi-pagi di kelas!"
Tanpa babibu Jean berlari ke kelasnya untuk melihat keadaan. Cih, bagaimana ceritanya pula si bocah kampret itu bisa hilang? Benar saja, sampai di kelas beberapa anak ada yang mengerubung di meja Mikasa dan Armin. Berbeda dengan Mikasa yang cenderung diam saja – walaupun matanya sembap – Armin terlihat menjawab beberapa pertanyaan teman sekelasnya dengan raut wajah antara panik, takut dan sedih.
Jean menghampiri meja Armin lebih dulu. "Oi, Armin! Gimana si Eren?"
"Eh.. Jean?"
Jean berdecak sambil terus mendekat dan duduk di depan Armin – tempat duduknya Eren – "Kok bisa si Eren ilang, hah? Kenapa?" tanyanya setengah geram. Belum habis pikir dia.
"Sebenernya semua orang di rumah juga enggak tahu, Jean. Bibi Carla sama Mikasa kira Eren ada di kamarnya, ternyata kosong sampai malamnya. Karena itu Eren gak dateng ke rumahmu kemarin." jelas Armin setenang mungkin. "Padahal, handphone sama dompet Eren juga ada di kamar."
"Sampe sekarang gak ada di rumah?"
Armin mengangguk.
"Udah lapor polisi?"
Armin lagi-lagi mengangguk.
Jean mendengus, "Itu bocah kabur dari rumah kali?"
Kali ini Armin menggeleng, "Eren mana mungkin kabur dari rumah seharian, Jean? Lagian, katanya dia terakhir kedengeran suaranya itu lagi sibuk sama mainan baru dari ayahnya di kamar. Tapi gak tau kenapa dia jadi ga ada sama sekali di rumah."
"Oh! Digondol wewe!" kali ini Jean menebak dengan suara setengah berteriak. Seolah baru saja menemukan teori brilian. "Katanya dia lagi pindah ke apartemen kan? Siapa tau ternyata tempatnya serem terus – "
PLUAAAKK!
"Berisik.." Desis pelaku pemukulan – Mikasa Ackerman.
Duh, mampus Jean.
Jean mengusap kepalanya, "E-eh.. Sorry, Mikasa." Katanya ngeri sekaligus merasa bersalah. 'Duh! Bego banget si?! Kan Mikasa juga satu rumah sama Eren!' batin Jean mengumpati dirinya sendiri. "Beneran, Mik, Maaf. Gua gak sengaja cuma itu satu-satunya pikiran di kepala gua. Lagian kan hal mistis itu – "
"Mending lo balik ke kursi lo, Jean!"
Keberanian Jean seketika menciut. Entah kenapa tatapan mata jelaga Mikasa terlihat sangat buas seperti ingin mencabik. Jean pun balik ke kursinya dan membiarkan Mikasa ganti menempati kursi Eren untuk menenangkan Armin. Tapi, mulai saat itu juga dia jadi merasa kesal dengan Mikasa.
Ya kan dia hanya menebak! Toh, hal mistis bukannya memang sering terjadi?
.
.
.
Sampai di sekolah Jean masih terheran-heran kemana hilangnya Eren, tapi di jam istirahat tadi dia mulai sibuk melamunkan si gadis dari kotak yang ada di rumahnya lagi sampai perjalanan pulang. Jean beberapa kali memikirkan opsi yang bisa terjadi di rumahnya selagi dia di sekolah. Pertama, si gadis itu ternyata makhluk berwujud manusia tapi masih asing dengan yang ada di sekelilingnya. Kemudian dia akan menjerit ketakutan bila melihat televisi yang gambarnya bergerak-gerak atau tanpa sengaja merusak barang elektronik karena asal pencet. Ah, ada yang mungkin lebih parah lagi.. memecahkan set makan keramik kesayangan ibu!
Raut wajah Jean berubah menjadi horor seketika.
Tapi, dengan hipotesis bahwa gadis itu juga manusia biasa – faktanya dia tahu namanya Jean. Maka opsi kedua yang terbayang di kepala Jean adalah gadis itu justru kebingungan sana-sini. Jean yakin kalau gadis itu baik lalu sibuk beres-beres dan membuat makanan karena kelaparan. Kalau yang ini sih, Jean sangat suka. Maka raut wajahnya akan berbinar senang lalu dihiasi emoticon bunga-bunga.
Anehnya selama perjalanan pulang Jean justru kepikiran kalau gadis itu akan diam saja di kamarnya. Duduk dengan memeluk lutut menahan rasa lapar. Oh, bahkan mungkin saja gadis itu tidak sadar kalau dia sebenarnya lapar! Bukankah semalam gadis itu hanya bisa menyebut namanya? Bagaimana kalau dia terkapar begitu hanya sanggup lirih memanggil Jean terus sepanjang hari? Lalu, dia merasa pusing dan pingsan!?
Jean akhirnya berlari menuju rumahnya sendiri secepat mungkin.
"AKU PULAANG!" Jean berteriak begitu membuka pintu dengan napas tersengal. Dia menyumpah kemudian karena masih harus buka sepatu, lalu dia kembali berseru "Hey! Apa kamu baik-baik saja? Maaf tadi pintunya aku kunci karena – "
"Jean?!"
Jean ikut merona melihat wajah bahagia si gadis dari kotak. Ditambah penampilan lucu dengan rambut yang kusut dan pinggiran bibir belepotan karena krim kue ulang tahunnya. Ah, untung saja dia tahu lapar dan makan. Rumahnya juga terlihat baik-baik saja, tidak berantakan. Jean masih terus terpesona sampai gadis itu menghampiri dan memeluknya erat.
Aduh, deg-degan Jean jadinya.
"Makasih, Jan!" kata si gadis kotak dengan suara riang, "Sumpah! Gua gak tau gimana jadinya kalo lu gak ngeluarin gua dari kotak itu, Jan! Lu emang temen terbaik gua!"
Rona merah mulai pudar di wajah Jean. Eh?
"Oh iya! Selamat ulang tahun, Jan! Hahaha.. Gimana kadonya? Bermanfaat banget 'kan tuh buat lu? Pengetahuan lebih tentang spesies kuda! Hahaha.."
'Haaah?'
.
.
.
"Si-siapa?"
"Siapa apanya?"
Jean menunjuk Eren kaku dengan tampang paling kusut sedunia.
"Lu bego apa mendadak amnesia sih, Jan?!" Eren mendengus, "GUA EREN LAH! EREN JAEGER!"
"Eren?"
"Iya lah! Apa-apaan sih lo?!"
Jean tiba-tiba menyeretnya ke arah kaca lemari besar, menghadap bayangan mereka di sana. "Tuh liat! Mana ada wujud Eren Jaeger kayak gini?!" katanya sambil menunjuk kaca super semangat efek emosi.
Eren melotot, "LU NGEJEK GUA?!"
"GAK LAH! MANA PERNAH GUA NGEJEK ANAK CEWEK?!"
"LU NGATAIN GUA KAYAK CEWEK, KAMPRET!"
Jean seenak udel memutar kepala Eren hingga menatap lurus ke arah kaca, "LIAT YANG BENEER!"
"CK, APAAN SIH, JAN?!" Eren langsung menepis tangan Jean keras, "BIASA AJA DONG! LU KIRA GUA GAK PERNAH NGACA?"
"Sumpah! Demi spandex Rivaille, Eren Jaeger! WUJUD LO ITU CEWEK!" Jean seolah tidak bosan menganggapnya cewek. "Mangkanya gua suruh lo ngaca!"
Eren mulai mendengus dan memperhatikan kembali bayangan tubuhnya di kaca sekilas. Apa-apaan sih Jean? Bayangannya biasa saja, Eren jelas seorang laki-laki. Mungkin mata si kuda ini sedang kelilipan babon Afrika? Pake bawa-bawa spandex kesayangan Rivaille segala.
"Gua gak buta, Jean Kirschtein. DAN JELAS MAU BAYANGAN DI SANA MAU DI AIR JUGA, GUA ITU LAKI-LAKI!" Eren tidak mau kalah juga menunjuk kaca sambil berteriak keras di depan muka Jean.
"CEWEK! LO CEWEK!"
"LAKI!"
"CEWEK!"
"LAKI!"
"CEWEK!"
"LAKI, ZENG!"
Jean menggeram frustasi layaknya menantu yang sedang berdebat menebak jenis kelamin cucu pertama mereka. Akhirnya ia bergegas mengambil ponsel pintarnya, mengajak Eren berselfie ria secepat kilat tanpa sempat memasang pose tampan. "NIH! MAMAM ITU WUJUD LAKI-LAKI!" katanya ngotot sambil menyodorkan hasil jepretan.
Tidak butuh satu menit bagi Eren untuk berseriosa dengan suara cempreng ala anak cewek.
.
.
.
Waktu itu rasanya kecerdasan Jean langsung meningkat berkali-kali lipat. Tarik hipotesis sana-sini, saling kait satu sama lain dan voila! Eren Jaeger dikutuk menjadi perempuan. Sungguh, rasanya sulit dipercaya. Hancur berkeping-keping sudah bayangan gadis tipe yamato nadeshiko atau gadis super model bahkan loli gemes. Seharusnya Jean curiga sejak awal, ciri fisik gadis itu mirip Eren. Matanya hijau dan rambutnya brunette. Alis tebal galaknya saja jelas begitu tidak berubah sama sekali. Kemudian saat mereka saling adu bacot, mendengar gaya bahasa yang digunakan dan sifat yang mudah tersulut baru Jean seratus persen yakin. Eren Jaeger jadi perempuan cantik!
"Ren.."
Jean dicuekin, yang dipanggil masih sibuk mematut diri dengan kamera ponsel. Raut wajahnya benar-benar horor melihat gaya rambut yang sisinya yang dikepang ke belakang. Membingkai manis pipi chubby dan mata belo bagai batu permata warna hijau. Oh, poni belah tengah Eren jadi agak panjang kalau versi ini. Ya ampun..
"Eren.."
"Seenggaknya alis gua tetep sama, Jan."
Jean mengusap wajah, "Tapi gimana bisa lu masuk kotak, Ren?!" tanyanya frustasi. "Sumpah! Gua masih gak percaya lu... wujud cewek gini.. Aduh, lu tuh emang tukang cari mati ya?"
Ponsel Jean diletakkan di meja setengah dibanting oleh Eren. Sengaja. "Ya siapa juga yang mau kejebak di kotak –Arrgh! Gua emang lagi super sial aja, Jan!" katanya dengan muka merah padam. "Lagian, siapa suruh ngeluarin tamagochi padahal gua pengen PSP 4? Ngeluarin makanan busuk pas gua lagi kepo sama makanan escargot? Ya kan gua jijik gak sengaja nendang itu kotak."
"..."
"Coba lu bayangin tiba-tiba ada makanan di tangan lo, terus di piringnya ada para belatung lagi kejat-kejit asik gitu?" Eren bergidik sendiri. Bulu kuduknya meremang kalau mengingatnya. "Pokoknya jangan main-main deh sama itu kotak! Kapok pol gua, sial!"
Jean pucat pasi, kehilangan selera makan. Setidaknya dia beruntung belum dapat benda-benda aneh dari kotak gokil tersebut.
"Nah, terus gimana caranya lu ngeluarin gua? Lu minta apaan emangnya?"
Jelas lah Jean tidak menjawab, dia gengsi.
"OH! GUA TAU!" dengan tampang super cantiknya Eren menyeringai, "LU MINTA PACAR! HAHAHA DASAR-!"
Tuh kan.
Dengan cepat Jean menyumpal mulut Eren menggunakan serbet makan terdekat. Walau sebenarnya tidak tega juga sih karena yang disumpal tetap saja wujudnya perempuan cantik. Bodo amat lah, masih lebih berat rasa kesal dibanding rasa kasihan yang dipunya Jean.
"Cih, nyesel gua minta pacar yang keluar justru makhluk lucknut macem lo!"
.
.
.
Sejam kemudian Eren sembah sujud di depan kotak. Minta dikembalikan jadi wujud laki-laki sekaligus pejantan paling tangguh. Namun, sejam itu juga kotak gokil bergeming. Salah Eren juga yang kurang sopan santun dengan barang seajaib ini, bahkan saat pertama kali menerimanya dari tangan ayah dia berdecih tak suka. Berbagai cara bicara sudah Eren coba, semua kata-kata dengan awalan seperti...
"Tolong saya dong.."
"Saya mohon.."
"DENGAN SEGALA RESPEK KEPADA MAKHLUK GAIB-!"
Liur Jean menyembur tipis. Terlalu kuat usaha menahan tawa yang sebenarnya bisa meledak-ledak.
"NJIR! BANTUIN LO! KETAWA AJA BISANYA?!" Eren sudah sewot sendiri. Lihat, alisnya saja sudah menukik tajam begitu. Untung saja wajahnya cantik jadi terlihat gemes-gemes unyu gitu. "JAN!" hardiknya ketika tawa teman seperkampretan-nya itu semakin keras.
"Lagian lo ada-ada aja sih, ren?!" Jean menyeka air mata karena terlalu terhura. "Dengan segala respek – ahahaha!"
Eren mendengus keras.
"Dah lah, serah lo mau ngomong gimana. Sorry, gua gak jago ngerayu benda mati." Katanya Jean sambil berjalan lalu, "Gua mau pesen makan. Laper nih gara-gara ketawa mulu."
Eren sudah siap mengumpat saat itu juga, tapi sebuah suara berhasil menginterupsinya dengan cepat.
"Ah, kamu bocah yang kurang ajar itu ya?" ucap seorang nenek yang entah bagaimana sudah berdiri di hadapan Eren. Menatap sinis dengan lipatan wajah yang semakin rumit efek usia. Yah, walaupun tidak ada yang tahu berapa tahun persis usianya. "Berisik sekali.."
Seketika Eren bersujud, "Mbah, saya mohon ampun mbah!"
"Heh, sejak kapan saya nikah sama mbahmu?"
"E-eh, Iya, maaf. Tapi, tolong ampuni saya, mbah. Kembalikan saya jadi laki-laki lagi!"
"Mbah..?!"
"Ampun, Nyai!"
Si nenek berdecih ria, "Salahmu sendiri tidak sopan dengan barang berharga ini!" katanya yang disambut dengan ringisan Eren penuh penyesalan. "Dengar, aku hanya akan membantumu sekali. Jadi camkan ini di otakmu, mengerti?!"
"Siap, mengerti!" Eren reflek menegakkan punggung.
"Kau sudah tahu bukan kenapa kau bisa keluar dari dalam sini?" tanya si nenek sambil menunjuk kotak. Eren hanya mengangguk. "Kalau begitu, buat dia senang karena memiliki pacar sepertimu! Seperti barusan, kau membuatnya ingin makan padahal sebelumnya jelas sekali dia tidak mood makan karena cerita belatung kejat-kejitmu."
Eren tidak berminat untuk berdebat mengenai escargot jadi-jadian yang dikeluarkan kotak itu. Tapi – "PACAR?! Aku harus jadi pacarnya?! DIH, GILA!"
"Karena kamu berani teriakin saya, jadi kamu harus cium dia juga."
ASDFGHJKLASDJKASKGH. Sumpah, Eren tidak tahu harus mengumpat bagaimana lagi.
"Kamu tahu misi kotak gokil ini adalah mengabulkan permintaan setiap orang kan? Ciuman dengan pacar termasuk keinginan keinginan Jean sendiri sebenarnya."
Mulut Eren ternganga layaknya mulut goa, 'DAHELL!?'
"Oh ya, waktunya sampai bulan purnama esok hari. Tapi kalau misi ini gagal, berarti kau akan kembali lagi ke kotak." Lanjut si nenek lagi yang membuat Eren seketika mematung, "Kalau tidak mau yasudah. Apa kau kira akan ada banyak pilihan untuk bocah sepertimu?"
Suara Eren sudah diujung tenggorokan hendak bernegosiasi lebih lanjut, tapi sosok nenek itu lalu menghilang secepat kilat. Suara melengking pun akhirnya kembali memenuhi kediaman keluarga Kirschtein.
.
.
.
Jean mengomel karena dua hal ; Pertama, Eren menghabiskan ciki yang sengaja disimpan untuk cuci mulut. Kedua, Eren sudah tiga kali menjerit di rumahnya yang padahal tetangga lain tahu kalau orang tua Jean sedang tidak di rumah. "Lu muka gila apa?! Kalo gua dikira yang enggak-enggak sama orang komplek gimana?!" seru Jean panik.
Eren menggumam tidak jelas sambil mengunyah ciki.
"Heh?!"
Tanpa rasa bersalah Eren membuang bungkus ciki ke tong sampah. "Ya kan gua gak tau, Jan, kalo cikinya masih mau lu makan. Lagian daripada ngendep di lemari dapur mulu kan?" Sahutnya santai, "Terus ya, gua khilaf. Beneran Jan, setiap gua ngomong gini aja di kuping gua kedengeran suara cowok bukan cewek. Gitu juga kalo gua ngaca, gua liatnya bayangan cowok bukan cewek."
"Sampe sekarang? Biar lu tau kalo lagi dikutuk jadi cewek?"
"Iya.."
Jean mendengus. "Tapi awas ya kalo sampe teriak lagi? Gua bakal – "
"ENGGAK!" dengan cepat Eren memotong ucapan Jean. "GUA BAKAL TERUS TERIAK SAMPE LO MAU BANTUIN GUA!"
"EH, ANJIR!"
"JADI GIMANA LU MAU BANTUIN APA ENG–"
"IYA! IYA! GAK USAH PAKE BACOD, GOBLO!" Jean sudah menyumpal mulut Eren lagi dengan serbet makan, "Dah! Cepet gimana caranya, hah?!"
.
.
.
-to be continued-
A/N : Hallo~ aku kembaliii~! Ternyata dan kayaknya emang gak cukup dijadiin dua chapter ini fic. Jadi, aku potong lagi deh wkwkwk. Paling chapter depan udah tamat, doain aja saya diluangkan waktu buat lanjut ngetik lagi. hehe. (((sok sibuk))) Inti cerita kayaknya masih mainstream ya? Super sederhana emang huhuhu. Maafkeun! Tapi, jujur sih ga tau kenapa saya suka senyam-senyum sendiri kalo misal udah lama ga megang fic terus mau lanjut ngetik fic ini. (((jadi kalo diliat umur file word fic ini di laptop saya, sebenernya udah ada satu tahun fic ini ngendep disana. Hehe))) Mungkin efek terlalu retjeh kali ya?
Oke, gitu ae. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca fic level humor retjeh ini ya! Semoga terhibur. Kritik, saran dan komentar selalu saya tunggu di kotak review lho! (((wink-wink)))
Au revoir on next chapter! (^^)/
