"Nah kan, sekarang lo – bisa dibilang – udah punya pacar. Terus mau ngapain?"

"..."

"Kira-kira yang bisa bikin lu seneng gitu kalo sama pacar lu?"

Ena-ena..?

"HEH, KUDA?!"

Mata Jean berkedip cepat, terbangun dari alam lamunan. "Apaan sih?! Kan gua udah bilang jangan teriak-teriak!" katanya yang justru balik mengomel. Dia lalu menggelengkan kepalanya cepat. Aduh, pipinya panas.

"Dasar otak sange!"

"HAAH?!"

"Emang lo kira gua gak tau!?" Eren nyaris mencolok mata Jean dengan telunjuk. "Mata lo tuh liatin mana tadi, hah? Oppai 'kan?! Astaga, Jean! Ini tuh palsu woy! Demen juga lo sama yang palsu?"

"KAGAK LAH ANJER!"

"Terus itu mimisan kenapa, hah?"

Jean buru-buru menyeka bagian hidung. Tapi, tidak ada darah sama sekali. "Sialan lo!" umpatnya lalu melempar bantal sofa ke arah muka Eren yang puas tertawa. "Mangkanya kalo jadi cewek kalem dikit yang duduk, bego! Gimana cowok gak mesum liat paha sama dada diumbar gitu?!" kali ini gantian Jean yang menunjuk Eren dengan pose duduk mirip bapak-bapak di warung kopi. Kaki kanan ditekuk keatas sedangkan sebelah kiri sila di bawah, tambah lagi tangan kanan yang disandarkan di atas lutut dan kerah baju yang melorot ke sisi kiri bagian bawah.

"Gua cowok, sialan!"

"Tapi, badan lo sekarang cewek, Ren!" Jean mengurut dahinya yang terasa pening. Baru saja Eren membuka mulut, tapi Jean kembali menyela. "Dah! Udah! Sekarang, mending ganti baju lo! Kita keluar cari angin!"

.

.

.

Kotak GOKIL!

Shingeki no Kyojin by Hajime Isayama

WARN : AU. OOC. Typo. BAHASA SEHARI-HARI YANG SUPER NYELENEH. ect.

[ P.s : Namanya Kotak GOKIL! Buat permintaan dan semua akan menjadi kenyataan. Yoi, GOKIL kan?! ]

Enjoy!

.

.

.

Akhirnya mereka berkencan di Shingashina Park, satu-satunya taman bermain yang memiliki ikon paling aneh yaitu Titan. Tapi, itu tidak lagi penting ketika Eren harus mengencani teman laki-lakinya yang paling kampret. Mungkin bagi Jean masih lebih beruntung karena memang terlihat sedang mengencani seorang perempuan beralis tebal. Sedangkan, Eren? Aih, buntung. Meraba dada saja tetap terasa bidang.

Eren menghela napas, "Mau naik apa nih?" tanyanya lesu.

"Gua sih udah pernah naik semua." aku Jean terdengar kurang berminat.

"Lah, terus ngapain ngajak kesini?!"

"Yang tadi terus-terusan nanya mau ngapain siapa, hah?!"

Jean dan Eren lanjut adu pelototan, siapa yang berkedip duluan dia yang kalah. Sebenarnya mereka bisa saja gulat saat itu juga, tapi melihat keadaan dan tempat yang tidak memungkinkan jadi urung untuk dilakukan. Sebagai (yang terlihat) pacar laki-laki, Jean mengalah. Berdeham, "Ren, mendingan kita akur aja deh. Repot kalo sampe viral terus ketauan kalo.. yah, lu tau kan?"

Eren mengacak rambutnya frustasi, "Ck, iya dah! Iyaa!"

"EH JANGAN DIACAK-ACAK ANJER! SUSAH GUA YANG KEPANG!"

"..."

"..."

Dua anak perempuan usia sekolah menengah pertama yang baru saja melewati bangku Eren dan Jean terkikik, "Lucu ya? Jadi pengen dikepangin sama pacar deh." Ucap salah satu dari mereka yang menggunakan kaos berwarna pink. "Iya. Tapi, pasangan itu tadi kayak di film gak sih? Berantem moe-moe. Hihi.." sahut yang satunya lagi.

Jean menepuk dahi. Berantem moe-moe apaan sii?

"Begoo.." umpat Eren dengan berbisik.

.

.

.

"Gak usah garuk kepala!"

Eren mendelik, "Kan gatel, Jan! Lagian, lu ribet amat sih pake kepangin rambut segala? Milihin baju sampe sepatu pula! Demen mainan barbie ya, lu?" tuduhnya ketus.

"Ya enggak lah!" bantah Jean, "Gua susah payah gitu kan demi elu biar keliatan cantik! Mana ada cowok yang mau jalan sama cewek bajunya kayak gembel? Ya kali ngedate lu gak mau dandan?"

Sebenarnya Eren ingin balas protes, tapi lagi-lagi mata pengunjung mengarah padanya. Entah apa yang dibisikkan di belakang mereka kemudian. Eren menghela napas panjang. Terserah lah, ada hal yang lebih penting untuk ditanamkan ke dalam kepalanya. Eren harus membuat Jean senang dengan menjadi pacarnya.

Sebentar.. kok Eren jadi murahan banget?

Eren menggeleng keras.

"Nah kan, gua bilang apa." ujar Jean. Padahal, Eren bukan menggeleng buat ucapannya Jean. "Eh, naik itu aja yok! Tambah seru kalo taruhan, siapa yang jerit dia yang kalah. Gimana? Berani gak lo?"

Mata hijau Eren terbuka lebih lebar melihat lintasan roller coaster dan penumpang menjerit di atasnya.

"Takut?" tanya Jean dengan cengiran kuda paling lebar.

"Enggak!" jawab Eren ngotot – yang malah keliatan kawaii karena pipinya ikutan tambah gembul.

Jean tertawa, ditepuknya kepala Eren saking gemasnya. "Tenang aja, kan ada aku. Boleh pegang tangan juga kok."

YEU! Eren bisa saja berteriak seperti adegan sinetron yang sedang viral itu, 'JANGAN SENTUH AKU! AKU JIJIK SAMA MAS KUDA! DEDEK EREN JIJIK!' lalu pergi dengan tangis yang meraung-raung. Tapi, demi kewarasan bersama yang dia lakukan kenyataannya hanya melayangkan bogem mentah kepada Jean.

"Challenge's accepted, you Horse!"

.

.

.

Eren terkekeh.

Jean muntah-muntah di tempat, padahal dia sendiri yang mengusulkan ide bersenang-senang di atas roller coaster. Tapi, begitu turun dari wahana muka Jean berubah pucat pasi dan mengeluarkan isi perutnya begitu bertemu dengan lubang gorong-gorong.

"Sarapan kayak orang gak makan seminggu sih lu!"

Sepasang manik karamel Jean menatap Eren tidak suka. Begitu juga beberapa wanita yang berada di dekat mereka. Jelas saja, mana ada cewek yang memaki pacarnya sendiri yang tengah tidak enak badan? Ditambah lagi Eren jelas-jelas tertawa sebelumnya.

Eren menggaruk pipinya, "Err.. sebentar, a-aku cariin minum sama obat ya." Katanya lalu melesat cepat ke arah toko terdekat. Mencari air mineral dan obat mual. Kalau bukan karena wujudnya yang perempuan, mana sudi Eren susah payah begini. Siapa pula yang mau jadi pacarnya Jean Si Kuda Binal?!

"Nih!" Eren menyodorkan sebotol air mineral yang langsung diterima oleh Jean, "Cari tempat duduk dulu deh, buat minum obat sama istirahat sebentar. Di deket toko sana ada kursi kosong banyak."

"..."

"Kenapa? Masih kerasa gak enak?" tanya Eren.

Jean menggaruk belakang kepalanya. Wajah yang sebelumnya pucat pasi mendadak lebih berwarna. "Eh, yah.. lumayan. Tapi, udah mendingan kok." jawabnya.

Jujur saja, Eren jadi jijik sendiri melihat reaksi Jean yang sok salah tingkah. "Terus kenapa?"

"Enggak, cuma.. ternyata lu bisa juga jadi cewek baik?"

Wah, ingin sekali Eren melempar Jean ke sungai terdekat. Gorong-gorong tempat Jean muntah tadi juga boleh. Tapi, lagi-lagi demi kemaslahatan mereka di muka umum, Eren akhirnya menggeret Jean ke arah kursi kosong dengan genggaman yang erat – seerat menghancurkan gelas kaca.

"Aduh.. Sakit, ren! Tangan gua, anjerr!"

.

.

.

Seperti pasangan remaja pada umumnya, setelah berpergian maka dating ditutup dengan makan bersama lalu mengantarkan si perempuan kembali ke rumah. Tapi sebelum pulang, Jean kembali ke counter untuk memesan dua ice cream cone rasa vanilla. "Nih, makanan penutup. Mau gak?" katanya sambil menyodorkan ice cream kepada Eren.

"MAU!" jawab Eren girang lalu menyambar cepat ice cream dari tangan Jean.

Jean mengusap kepalanya sendiri. Masih terheran datang darimana niat mentraktir Eren sebuah ice cream. Padahal, bisa saja dia membeli cola atau minuman lainnya. Atau sebenarnya dia telah terpengaruh wujud cantik Eren sekarang?

"Balik sekarang aja yok, Jean. Capek banget gua mau tidur." ajak Eren sambil sibuk memakan ice creamnya.

"Iya, yok." Sahut Jean. Tuh kan, mendadak Jean jadi pacar cowok yang manut. Apa ini alasan dibalik slogan 'cewek cantik mah bebas' ? Aduh, Jean tidak paham lagi. 'Inget, dia itu Eren Jaeger, Jean. Manusia paling kampret!'

"Kayaknya terakhir gua kesana pas masih SD deh, belom lama dibuka juga." ucap Eren membuka topik pembicaraan selama di jalan. Masih menikmati ice cream. "Lo sering kesana mangkanya udah khatam semua sama wahananya?"

"Enggak sih, orang tua gua suka ngajak kesana setiap gua ulang tahun aja. Itu juga pas SD." kata Jean jujur. Dia melirik Eren yang makan ice cream hingga tercecer di sudut dagunya, "Dih, gimana sih lu? Makan ice cream gitu aja sampe belepotan? Kayak anak bocah aja!" katanya sambil berdecak mengelap dagu Eren, kemudian membersihkan jarinya dengan meper ke brosur yang ada di dinding.

"..."

"Kenapa –"

"..."

Eh.. Jean sebaiknya ikut mematung.

"LU NGAPAIN, ANJERR?!" sembur Eren kemudian sambil memegangi dagunya yang sudah tidak suci lagi.

"GAK SENGAJA, GOBLO!"

.

.

.

"Eh, Jean. Seneng gak tadi jalan sama gua?"

Rasanya seperti ada pesawat boeing yang mendarat darurat di depan rumah Jean dengan rem yang berdecit hingga membuat ngilu telinga, "Hah? Apa?" Jean mendadak tuli.

"Err – " Eren memainkan ujung bajunya, "Pengen tau aja, kali aja lu have fun..?"

Jean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal demi menahan sesuatu akibat visualisasi Eren yang super kawaii. "Yah – ya, lumayan."

"Eh? Jadi cuma... lumayan?"

Waduh, raut wajah melas macam apa itu? Sejak kapan mata Eren versi cantik menjadi tambah besar dan lebih berair? Jean jadi tidak tega. "Ma-maksud gua seru kok! Iya, seru juga tadi pergi kesana bareng lu. Terus udah beliin obat mual buat gua, makasih ya."

"YEESS!" Eren melompat kegirangan. "Okay, kalo gitu gua pake kamar lo ya malam ini? Good night, Jean!"

Jean melongo di tempat melihat Eren yang mirip kutu loncat menuju lantai atas rumahnya.

Kepala Eren kemudian kembali berputar ke arahnya dengan senyum yang lebar, "Oh ya, thank you so much, Buddies!"

Keliatan cantik sih untuk Jean tapi – 'APAAN SIH GAJE?!'

.

.

.

"Jean! Gawat, Jean!"

Alis Jean terangkat tinggi melihat Eren yang tergopoh-gopoh turun tangga untuk menghampirinya. "Apanya yang gawat?" tanyanya heran.

"Sebentar lagi jam 12 dan gua belom balik jadi cowok juga?! Aaaarrghh!" Eren mengacak-acak rambutnya frustasi.

"Lah, emang harusnya udah bisa balik lagi lo? Gimana caranya?"

"Kan gua udah jadi pacar lo yang baik, nemenin ngedate! Lo juga seneng 'kan?" Eren tiba-tiba menjentikkan jarinya, "Oh! Apa jangan-jangan lo bohongin gua lagi?! Aduh, Jan! Kalo gak sekarang gua gak bakal bisa lepas kutukannya!"

"Gua mana tau kalo gitu caranya anjerr?!" Jean mulai emosi.

"YA KALO LO TAU GA NGEFEK DONG GOBLO?!"

.

.

.

Kalau ada satu hal yang menghambat –

Eren menggigit kukunya gemas.

Kalau itu sungguhan menjadi persyaratan dan Eren terus begini –

Manik zambrud itu melirik Jean yang duduk dengan tangan terlipat di depan dada. Jelas kesal.

Maka Eren tidak akan selamat –

Batin Eren menjerit frustasi, 'GUA LEBIH IKHLAS DISURUH MINUM SPANDEXNYA LEVI BENERAN?!'

.

.

.

Eren masih sibuk berjalan bolak-balik bagai gosokan sambil menggigit kuku jempol. Tampang cantiknya kusut efek panik campur ketakutan. Jean diam saja melihat kelakuan Eren, duduk anteng di sofa. Masih kesal. 'Tapi, kalo dia ga selamat bahaya juga. Ck!' batinnya ngedumel sendiri.

Sampai akhirnya Eren tiba-tiba menghampiri Jean dengan langkah lebar. Alis tebal Eren terlihat menukik super tajam, berbeda dengan alis tipis Jean yang terangkat tinggi.

"Santai aja dong mukanya!" protes Jean.

"Bacot!" lalu Eren menarik kepala Jean supaya wajahnya berdekatan, lantas mengunci bibir Jean dengan bibirnya sendiri. Singkat kata, ciuman paksa.

'FAK –'

.

.

.

"EREN!"

Sosok perempuan brunette itu masih tidak merespon. Jean menggeram frustasi, kebingungan. Baru tadi sore si tukang cari mati ini kegirangan setelah jalan-jalan, terus panik, TERUS MERENGGUT KESUCIAN BIBIR JEAN – sumpah, Jean masih kaget – tapi, akhirnya Eren justru pingsan seketika.

YA KALI BIBIR JEAN ADA RACUNNYA?!

"Bangun, ren! Anjer, ngapa sih lo?!"

"..."

"HAISSH! GUA MESTI GIMANAA?!"

"Kalo kamu mau menyelamatkan dia, caranya dicium."

"AAAARGH –" Jean nyaris terjungkal ke belakang mendapati sosok Nenek kotak gokil. "ASTAGA! SIAPA KAMU?! PENUNGGU RUMAH INI YA?!"

"Tenang, Jean. Nenek ini dari Kotak GOKIL." Si Nenek tersenyum kalem. "Jadi gimana?"

Masih dengan wajah pucat Jean balik bertanya, "Hah? Gimana apanya?"

"Kamu mau bantu temen kamu ini dengan cara dicium apa enggak?" Si Nenek lebih sabar dan sayang dengan Jean sepertinya. "Terserah kamu, Nak. Cuma itu caranya. Kalo gak mau, biar saya bawa bocah tengik ini – "

"Sebentar! Jangan dulu, Nek!" tahan Jean. Dia melirik jam dinding, 'Sial! Udah jam dua belas!?' batinnya bergejolak antara ingin membantu atau tidak – tapi, rasanya Jean bakal merasa bersalah kalau akhirnya Eren ditarik lagi ke dalam kotak. Otak Jean berpikir keras.

"Tapi, bukannya tadi dia udah cium saya juga? Seharusnya Nenek bisa balikin dia!"

Si Nenek menggeleng, "Gak bisa, itu namanya paksaan. Persyaratan tetap harus terpenuhi kalo kamu mau menyelamatkan teman kamu itu."

Alamak! Macam mana pula ciuman bisa jadi syarat?!

.

.

.

Wajah Jean memerah begitu mengakhiri ciumannya pada Eren yang masih pingsan. Rasanya – kok ena? Jean mengumpat dalam hati. Menatap bibir Eren yang masih sedikit terbuka dan terlihat basah. Disamping itu.. MANA TAU DIA KALO LIPTINT YANG DIPAKEIN KE EREN ADA RASA STROBERINYA?! Aduh, cowok mana yang gak mabok khilaf sendiri kalo udah keenakan gitu. Smoothy banget pula itu bibir!

'SIAL–'

"Udah pantes juga kamu cium bibir cewek?" Si Nenek malah asik cekikikan nonton adegan fanservice.

Jean sontak menutupi bibirnya, "BALIKIN AJA CEPET!"

"Yakin? Ga mau lagi?"

'ANJU –'

Si Nenek ambil posisi di samping tubuh Eren yang masih dalam versi putri tidur. Mata Jean mengekori dari balik punggung sosok ajaib dari Kotak Gokil itu. Menatap lekat-lekat bagaimana mantra kutukan diangkat secara bertahap. Berawal dari kaki hingga kepala. Rambut panjang cantik dengan kepangan ala Jean, pipi chubby, dan bibir mungil seketika berubah kembali ke wujud semula.

Bener kata Eren, hanya alisnya yang tetap sama.

"Oke selesai. Sampai permintaan selanjutnya!" Nenek mengedipkan sebelah matanya pada Jean. Kalau bukan titan, mungkin nenek centil yang mau sama Jean.

.

.

.

Sebulan kemudian.

Setelah kejadian itu, Jean langsung menyembunyikan Kotak Gokil itu di dalam gudang rumahnya. Tapi, kemarin sore secara misterius kotanya menghilang entah kemana. Yah, sebenarnya tujuan Jean bukan untuk menyudahi permintaan dengan menyimpan di gudang. Malah, dia pengen minta uang kuno lagi. Lumayan, kemarin dia bisa beli AiPon baru berkat jual uang lama dengan nominal lima ribu itu.

"Jan.."

Jean mendengus begitu mengetahui Eren Jaeger yang mengajaknya bicara. Si Tukang Cari Mati Super Kampret. "Apa lo?" balasnya ketus.

"Eh, gua mau tanya serius.."

"YAELAH serius apanya sih kalo elu –"

Eren membungkam mulut Jean seketika, "Jangan keras-keras, Bego!" bisiknya dengan raut wajah panik, "Ini soal kotaknya –"

"Oh, kenapa?" Jean akhirnya ikut memelankan suara. Sebelumnya mereka telah sepakat untuk merahasiakan kotak ajaib itu berdua. Tidak ada yang boleh tau. "Sekarang ada di rumah lo, jangan-jangan?"

"Enggak. Itu.. Err, cuma kayak mimpi sih tapi –" tiba-tiba warna wajah Eren berubah menjadi kemerahan, "Lo kemaren... enggak beneran cium gue kan?"

"..."

"Ga tau kenapa gue kok semalem mimpi gitu ya, kayak kejadian nyata. Mirip misal baru inget ada yang ketinggalan gitu. Jadi, kayak gua bisa balik lagi gara-gara bantuan lo.. akhirnya mau menuhin syarat yang itu.. Err – "

"..."

"LUPAIN AJA DEH, SIALAN! CRINGE BENER ITU MIMPI!"

Jean dengan raut wajah yang sulit diartikan mengangguk, "Setuju, lupain aja."

.

.

.

Thanks, Eren. Jean jadi inget lagi rasanya ciuman ena demi penyelamatan itu setelah sebulan berlalu..

Jean menggigit bibirnya sendiri. 'GUA HARUS LUPA GUA HARUS LUPA LUPA LUPA LUPA LUPA – '

FIN

A/N : Iya, gitulah. Daripada ff ini ga kelar – Err.. Jadi, makasih sudah mampir baca dan terima kasih! HEHEHE. Maap dibikin nunggu lamaa! Maaf beneraan! Maaf juga jadi kesannya ngebut plus males ngedit! MAAF DAN TERIMA KASIIH! AAAA –

See you! *lalungibritkabur*