Aku harus pergi keluar, mencari bahan makanan lagi, sekaligus melihat kamar pria penyelamatku. Aku harus segera bergerak, kuharap tindakan yang kuambil merupakan tindakan benar, ya benar.
Saviors
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter Two
-Normal POV
Tubuhnya menggeliat di atas ranjang miliknya. Walaupun cahaya mentari pagi sudah mulai masuk ke kamarnya, burung-burung juga sudah mulai bernyanyi, ia masih saja tak beranjak dari posisinya. Surai pirangnya seakan akan melindungi wajahnya saat ada cahaya yang akan mengenainya wajahnya.
"NARUTOOOO"
"Hah"
Naruto terbangun, dalam keadaan bermimpi buruk lagi. Setelah sekian banyak kejadian yang menimpanya, ia terus saja bermimpi buruk untuk beberapa hari terakhir ini. Kepalanya pusing, setelah bangun secara tiba-tiba dengan tidak elitnya.
Hari ini, tepat hari keempat setelah wabah virus mulai menyerbak, hampir ke seluruh negeri. Kemarin, berita dari televisi mengatakan bahwa pemerintah akan menghentikan pasokan gas dan listrik ke seluruh negeri ini, dengan pernyataan tersebut, otomatis suplai listrik yang diberikan langsung dihentikan hanya selang dua sampai tiga menit setelah diberikannya pernyataan itu. Namun karena apartementnya memiliki cadangan genset, jadi apartementnya kembali menyala dan bisa bertahan hingga beberapa hari kedepan.
Kini, ia sedang bimbang, akan keluar kamarnya, atau tetap bertahan di dalam kamarnya, menunggu bantuan datang.
"Bagaimana ini." ujarnya sambil mengacak-acak rambut pirangnya. Mungkin ia bisa gila bila terlalu lama dalam keadaan seperti ini.
Perutnya mulai bernyanyi, lagi. Ia sudah kehabisan makanan, setelah semalam, makanan terakhirnya, satu ramen instant yang menjadi makanan terakhir terlezat yang ia makan.
Ia mengingat kembali perkataan pria berjas yang ditemuinya tempo hari, mungkin pria tersebut memiliki benda berharga yang harus diselamatkan, atau ia memiliki anggota keluarga yang ditinggalkannya sendiri.
'Sepertinya aku terpaksa melakukan ini' batinnya. Ia harus ke kamar pria berjas kemarin. Walaupun pikirannya menolak, tapi batinnya berkata lain, seolah-olah ada hal penting di dalam sana.
Ia mulai membuka laptopnya. Mencari file, film atau apapun yang berkaitan dengan virus. Menurut pandangannya, virus itu lebih seperti virus-virus yang terdapat dalam film zombie, dimana korbannya dapat bertindak melebihi batas wajar manusia, tak sadarkan diri, tak merasakan sakit, intinya seperti itu.
Ia teringat, kalau ia mempunyai koleksi film dari TV series The Walking Dead. Ia membuka lalu menontonnya. Ia memperhatikan bagaimana cara tokoh-tokoh dalam film membunuh atau melemahkan zombie. Ada banyak cara, tapi yang paling sering diperlihatkan adalah dengan menusuk kepala dari zombie.
Setelah urusan dengan laptopnya selesai, kini saatnya ia untuk mempersiapkan diri. Ia hanya memakai celana kargo pendek dengan kaos oblong sebagai atasannya. Ia lalu menuju dapur mengambil pisau untuk membantu ia mempertahankan dirinya, tak lupa juga ia membawa kunci pemberian pria berjas.
"Sudah saatnya" ucapnya. Ia melihat dari lubang di pintu, apakah zombie yang kemarin mengejarnya masih ada di depan kamarnya, atau sudah pergi. Zombienya tak nampak dalam lubang.
"Mungkin sudah pergi" pikirnya. Ia langsung membuka pintu dengan perlahan. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Cahaya lorong depan kamarnya terlihat remang-remang, agak sulit untuk melihat jalan, ada lampu yang mati, ada juga yang tidak konsisten, iyaa hidup mati terus.
Ia mengeluarkan smartphonenya. Kemudia menyalakan flash untuk membantunya menerangi jalan. Saat sedang melangkahkan kakinya, ia merasa menginjak sesuatu. Ternyata itu adalah pecahan kaca, ia menghindari pecahan kaca itu, tetapi badannya tak seimbang, ia akhirnya seperti hampir terjatuh, untung ada meja di lorong, ia jadi berpegangan pada meja. Guci yang berada di atas meja tersenggol oleh tangannya. Guci itu jatuh, dan pecah. Suaranya nyaring menggema di sepanjang lorong.
Tap
Tap
Terdengar suara derap langkah kaki, Naruto pikir ada orang lain selain dirinya di apartement itu. Ia merasa beruntung, lalu beranjak dari posisinya untuk menyambut orang itu.
Tap Tap Tap Tap
Tab Tab Tab Tab Tab
Deb Deb Deb Deb Deb Deb
Aneh, suara langkah kakinya mendekat, tapi juga semakin cepat. Lampu diujung lorong, lampu yang tak konsisten hidup kembali. Namun sesuatu yang lampu itu terangi membuat Naruto terperanjat.
"Shit" ucapnya hingga air liurnya keluar. Ternyata itu adalah zombie yang kemarin mengejarnya. Ia lari menjauhi zombie itu, namun zombienya lebih cepat, alhasil Naruto berhasil di tubruk oleh zombie itu.
Naruto kembali beranjak lalu berusaha melarikan diri, namun kakinya dipegangi oleh zombie itu. Ia lalu mengambil pisau dapurnya, lalu berusaha untuk menusuk-nusuk tangan dari zombie itu. Pegangan terhadap kakinya terlalu kuat, ia berpikir harus memotong tangan zombienya. Beruntung, ia juga membawa pisau daging, ia lalu langsung mengeluarkannya dari sarung pisau di pinggangnya lalu memotong lengan zombie dengan sekali tebasan.
Naruto terbebas, ia sudah mulai bisa menguasai keadaan. Ia tetap bergeming di tempatnya saat zombie itu bangkit dan menubruknya kembali. Ia jatuh bersama zombie itu dengan posisi zombie menindih tubuh Naruto.
"Arggh" erang Naruto saat menahan tangan serta kepala zombie yang hendak menyerangnya. Ia berusaha menggapai pisau yang terjatuh di sampingnya, lalu dengan segera menusuk belakang kepala dari zombie itu.
"Hahh, hah, hah" desahnya dengan terengah-engah. Zombienya sudah mati dengan tusukan di bagian belakang kepalanya. Naruto kemudian berusaha bergerak menuju dinding, lalu bersandar.
"Benar-benar hari yang buruk." Ucapnya. Ia benar-benar lelah sekaligus lapar. Ia harus melanjutkan perjalanannya untuk menuju kamar pria pemberi kunci kepadanya.
"76" ucapnya sambil membaca angka yang ada di kunci itu. Ia kemudian bangkit dari duduknya, dan langsung berusaha untuk mencari kamar pria pemberi kunci. Di ujung lorong, terdapat tulisan 'Nomor 50-70', kebetulan apartement milik Naruto bernomor 57, jadi, kamar milik pria berjas itu berada di lantai atas kamar miliknya. Ia kemudian menaiki anak tangga yang ada, hingga tiba di lantai atas. Setelah mencari cari lagi. Akhirnya ketemu kamarnya.
"Bingo" ucapnya senang. Ia lalu dengan cepat menuju pintu, lalu berusaha membuka kunci kamar. Setelah terbuka, dengan ragu-ragu, ia masuk kedalam kamar itu.
Keadaan kamar terlihat rapih. Tak terlihat adanya kekacauan seperti keadaan di luar apartement.
"Pria itu memang rajin" gumam Naruto. Ia melihat lihat sekitar keadaan kamar. Ia pergi menelusuri kamar, mencari sesuatu yang perlu diselamatkan, sesuai instruksi pria yang memberi ia kunci. Ia kemudian melihat ada rak buku di ujung ruangan, ia menghampiri lalu melihat-lihat buku yang ada. Banyak sekali buku, mulai dari buku umum seperti ensiklopedia, hingga buku tentang medis. Ia melihat ada buku berjudul "Chakra" dengan gambar cover seperti bentuk astral tubuh manusia, ia berusaha menggapainya di bagian teratas rak buku. Ketika ia menarik bukunya, buku itu tak mau lepas dari rak, Naruto yang bingung kemudian berusaha menarik kembali.
Cklek
Kemudian terdengar suara dari rak, seketika rak buku tadi bergetar, lalu membelah menjadi dua bagian disertai dengan kepulan asap.
"Aduh, apa ini?" Tanyanya pada dirinya sendiri. Setelah kepulan asap dari rak buku tadi benar-benar hilang, baru terlihat adanya pintu dibalik rak buku tadi. Pintu itu terlihat tertutup dengan tak adanya lubang kunci, namun ada tempat kotak, seperti bentuk kunci. Naruto teringat pada kunci yang diberikan pria itu. Ia kemudian kembali ke pintu depan kamar, lalu mengambil kuncinya. Ia langsung kembali ke pintu dibalik rak buku dan segera menempelkan kunci ke dalam kotak.
Access Accept
Setelah terdengar suara itu, tiba-tiba pintu itu terbuka. Dari posisi Naruto, ia melihat satu ruangan yang gelap, tak terlihat apapun karena tak adanya penerangan. Namun, tiba-tiba satu persatu lampu di ruangan mulai menyala, memperlihatkan tiap sudut ruangan yang telihat seperti ruang kerja, juga terlihat ada tabung-tabung besar berisi cairan aneh, namun hanya ada cairan, tak ada hal lain.
Naruto kemudian menelusuri tempat yang terlihat seperti ruang kerja itu. Ia melihat lihat hal-hal yang ada. Lalu ia mendekati meja kerja, tak terlihat apapun yang mencurigakan. Ia mulai memutari meja, lalu duduk di kursi dibalik meja. Terdapat kamera pocket yang tergeletak di atas meja. Yang menarik perhatiannya bukan tentang bagusnya, atau perkiraan harga dari kamera tersebut, tetapi adalah tulisan 'Perekaman Selesai' yang terdapat pada layar kamera itu. Karena rasa penasaran yang tinggi, ia kemudian mengambil, lalu memutar rekaman video di kamera itu. Video diawali dengan tangan berada di dekat kamera lalu menjauh, memperlihatkan wajah pria yang ia temui tempo hari.
"Halo, Namaku Kizashi. Jika kau melihat rekaman ini, berarti sesuatu yang genting telah terjadi."
"Aku adalah seorang peneliti di Chakra Corporation. Disini kami meneliti banyak hal, dan juga melakukan bermacam eksperimen. Namun, beberapa bulan terakhir ini, semuanya telah berubah."
"Sebelumnya, penelitian kami berguna untuk kepentingan umum, seperti mencari dan menemukan obat, dan lain-lain. Tetapi, semenjak direktur utama disini berganti dengan yang baru, semua percobaan dan eksperimen disini menjadi penelitian untuk kepetingan militer."
"Contoh yang paling baru adalah, Eksperimen Senjata Biologis."
"Eksperimen itu, melibatkan banyak elemen eksperimen, termasuk manusia."
"Banyak orang, yang tidak diketahui asalnya, entah sukarela atau dipaksa, untuk menjadi bahan uji coba dalam eksperimen ini."
"Manusia sebagai bahan uji berguna untuk mengetahui, bagaimana kondisi manusia jika sedang di bawah tekanan yang berat, contohnya di bawah pengaruh senjata biologis yang sedang kami kembangkan."
"Kami sebagai peneliti hanya bisa mengikuti perintah dari orang yang berada diatas kami. Pemerintah juga rupanya turut andil dalam eksperimen ini."
"Semua eksperimen ini dilakukan untuk-"
Rekaman video itu berakhir karena kamera kehabisan baterai. Naruto yang melihat hal itu kemudian segera mencari charger kamera. Ia mencari-cari dengan membuka semua laci di meja itu. Ia juga mengedarkan pendangannya ke segala penjuru ruangan, mencari benda yang berbentuk, seperti charger.
"Arghh, sialan" erang Naruto. Ia mengacak-acak rambutnya kesal karena tak berhasil menemukan charger kamera itu. Ia kemudian duduk kembali. Pantatnya merasakan sesuatu yang keras tengah didudukinya. Ia kemudian bangkit kembali untuk melihat apa yang telah ia duduki.
"Ternyata kau disini" ucapnya pada benda yang ia duduki. Ternyata itu adalah charger kamera yang telah ia cari-cari. Mungkin tadi saat ia duduk tak menyadari ada charger di atas kursi yang ia duduki. Ia lalu segera mengambilnya dan mencari stopkontak. Terdapat stopkontak di bawah meja, ia lalu mengecas kamera tersebut.
"Ini pasti akan memakan waktu lama" ucapnya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya menyapu meja. Terlihat seperti meja kerja biasa, bersih dan rapih, seperti kebanyakan meja kerja pada umumnya. Ia kemudian melihat ada buku, tetapi seperti menimpa sesuatu. Ia mengambil buku itu untuk melihat ada apa dibawahnya. Ternyata ada satu buah flashdisk. Ia mengambil flashdisk itu. Flashdisknya tipis dan berbentuk seperti kunci. Ia kemudian membalik benda itu. Ternyata dibaliknya ada label bertuliskan 'Ex Human'. Karena penasaran dengan isinya, Naruto mengambil flashdisk itu dan ingin membuka isinya. Ia kemudian menyalakan komputer yang ada di atas meja kerja itu. Setelah monitor dari komputer menyala, muncul opsi untuk memasukan Kata Sandi (Bukan kata Anies, atau kata Ahok). Ia mengurungkan niatnya karena komputernya ter-password. Jadi ia simpan dulu flashdisknya untuk dibuka di apartementnya nanti.
Perutnya mulai berbunyi kembali. Sial, sepertinya ia harus mulai mencari makan. Naruto langsung beranjak meninggalkan ruangan kerja tadi. Ia lupa dengan kameranya, lalu ia kembali masuk untuk mengambil kameranya. Ia keluar lagi, lalu menuju dapur milik pria bernama Kizashi itu. Ia terlihat sedang mencari makanan dimana-mana. Mulai dari kulkas, membuka tudung saji, hingga rak-rak yang ada di dapur. Beruntung, ia menemukan beberapa mie instant dan juga sarden. Ia kemudian mengangkut beberapa makanan lain ke dalam kantong belanja yang ia temukan di dapur.
"Kyaaaa, apa yang kauu lakukannn disiniiiii?" Terdengar teriakan nyaring yang memekikan telinganya.
Naruto yang kaget segera mengarahkan perhatiannya ke arah sumber suara. Terlihat ada dua wanita, yang satu berambut pirang dengan kucir kuda di belakang kepalanya, yang satunya lagi, yang baru saja berteriak, wanita berambut pink, seperti bunga sakura, atau mungkin seperti permen kapas. Ada lagi, satu laki-laki berambut seperti nanas dibelakang mereka.
"Minggir Sakura." Ucap pria berambut nanas itu kepada perempuan berambut pink yang kini Naruto ketahui namanya adalah Sakura.
"Hei, kau." ucap pria berambut nanas.
"Hah? Aku?" Balas Naruto sengaja seperti orang bingung, lalu menoleh ke belakang, lalu ia menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kau, sedang apa disini?" Lanjut lelaki tadi dengan wajah seperti pura-pura garang yang menurut Naruto tak sesuai dengan wajah aslinya tadi. Dengan adanya kantung mata, serta bekas aliran air liur di sepanjang pipinya menandakan ia baru bangun tidur. Sebentar, bangun tidur? Berpikir tentang bangun tidur, rupannya Naruto seperti mengenali ciri-ciri orang ini. Lebih tepatnya seperti teringat akan kenangan masa kecilnya.
"Eh, sebentar." Balas Naruto. Ia mulai mendekati lelaki tadi. Lelaki yang didekatinya pun ikut memperhatikan Naruto dengan was-was. Ia kemudian mengambil kayu yang tergeletak di dekat pintu lalu mengarahkan ke Naruto.
"Jangan mendekat!" Bentak pria tadi. Ia melihat Naruto jalan mendekat ke arahnya. Wajah Naruto yang tadinya samar, kini mulai makin terlihat jelas saat mulai berada di dekatnya. Tiga kumis kucing? Rupanya pria ini juga sepertinya mengenali Naruto. Sama persis seperti Naruto mengenali pria yang satu ini.
"Narutooo"
"Shikamitzuu"
Keduanya saling memanggil nama satu sama lain dengan keras, seperti orang desa.
"Aku Shikamaru bodoh." Balas pria berambut nanas yang kini diketahui bernama Shikamaru itu dengan malas.
"Oh iya hehe." Ucap Naruto kikuk sambil menggaruk belakang kepalanya. Keduanya lalu mendekat, dan berjabat tangan, kemudian berpelukan layaknya seorang pria.
Dua perempuan yang dibelakang mereka terdiam. Seperti menyaksikan drama persahabatan, seperti yang biasa mereka tonton di televisi, tetapi yang satu ini live.
"Ekhem" kedua perempuan tadi berdehem sebagai kode mereka, agar diperhatikan. Perempuan memang banyak kode. Shikamaru yang menyadari kode 'keras' dari kedua temannya segera melepaskan pelukan dengan sahabatnya. Ia lalu membalikan badan dan memulai percakapan.
"Perkenalkan, ini Naruto." Ucap Shikamaru kepada kedua perempuan tadi sambil menunjuk Naruto.
"Dia ini, teman masa kecilku, sewaktu di Sekolah Dasar." Sambung Shikamaru. Kedua wanita tadi hanya membentuk huruf O pada mulut masing-masing.
"Dan Naruto, yang berambut kuning dengan kucir seperti ekor kuda itu adalah Ino, dan yang berjidat lebar, dengan rambut berwarna merah muda itu adalah Sakura." Jelas Shikamaru kepada Naruto. Shikamaru pun mendapat deathglare dari Sakura karena ia menyebut Sakura berjidat lebar.
"Sudah selesai perkenalannya? Sekarang, coba jelaskan, bagaimana caramu untuk masuk ke dalam sini?" Tanya Sakura kepada Naruto.
"Ceritanya panjang." Ucap Naruto agak murung.
"Sebaiknya kita duduk." Sela Shikamaru sambil menyuruh duduk. Keempatnya pun duduk di kursi yang ada di ruang tamu apartement itu.
"Aku bikin minuman ya, Sakura." Ucap Ino sambil beranjak dari tempat duduknya. Sakura pun hanya memberi anggukan kepada Ino. Setelah Ino pergi ke dapur. Sakura kembali menagih jawaban dari pertanyaannya yang tadi tertunda.
"Jadi begini ceritanya." Ucap Naruto untuk mengawali kisahnya, tempo hari.
Sakura dan Shikamaru mendengar dengan seksama kisah yang Naruto ceritakan kepada mereka. Shikamaru tak sengaja melirik ke arah Sakura yang terlihat menitikan air matanya, tepat saat Naruto menceritakan, bagaimana pria berjas, atau yang biasa ia kenal sebagai Paman Kizashi yang sekaligus menjadi seorang ayah Sakura, tewas mengenaskan akibat serangan orang-orang yang telah terinfeksi.
"Jadi begitu ceritanya." Ucap Naruto untuk mengakhiri ceritanya. Sakura terlihat menangis sesenggukan dengan kedua tangannya menutupi hampir seluruh wajahnya. Ino yang tadi sudah kembali dari dapur, dan sempat mendengar cerita Naruto pun terlihat sedih.
"Sudah Sakura. Jangan menangis, aku tahu rasanya ditinggal oleh orang yang paling kau sayangi." Ucap Ino sambil menenangkan Sakura.
"Ingat kan? Bagaimana ibuku meninggal? Disaat kita sedang berbelanja bersama di pasar. Kala itu ada seorang copet yang mencuri tas ibuku. Ibuku menyadari lalu mengejar copet itu. Ibuku berhasil mengejarnya." Lanjut Ino dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Ino." Ucap Sakura yang tangisnya sudah mereda kepada Ino. Ia merasa tak enak hati, jika sahabatnya mulai menangis.
"Tetapi, pencopet itu kemudian mengeluarkan pisaunya dari balik tubuhnya, lalu-"
"Menusuk ibuku." Tangis Ino pun pecah akibat menceritakan kisah pilu yang ia alami. Sebuah tragedi yang menjadi mimpi buruknya. Suatu kejadian yang tak akan pernah ia lupakan, sepanjang hidupnya.
"Sudah Ino, maafkan aku." Ucap Sakura yang kini bergantian menenangkan Ino. Naruto dan Shikamaru hanya bisa melihat mereka berdua saling manangis, mengingat kejadian yang telah mereka alami.
"Sudahlah. Semua kejadian yang kalian alami, anggaplah sebuah pelajaran. Kita tak boleh tetap berada di masa lalu. Kita harus bergerak maju, tak peduli apa saja yang akan datang di masa depan, kita harus menghadapinya dengan segenap keteguhan hati."
"Kita boleh melihat masa lalu, untuk belajar. Namun, bukan untuk kembali." Lanjut Shikamaru. Mendengar Shikamaru berkata panjang lebar serta memberi quotes yang begitu bermakna membuat kedua gadis itu terdiam. Karena tak biasanya Shikamaru berkata panjang lebar. Namun karena mereka telah terbawa suasana. Mereka hanya bisa menerima nasehat tanpa bisa meng-kritik perkataan Shikamaru.
"Ternyata kau telah banyak berubah, Shika." Ucap Naruto sambil menyunggingkan sedikit senyuman kepada Shikamaru. Jujur, ini adalah senyum pertamanya setelah mengalami hari-hari berat akhir-akhir ini.
"Kau juga Naruto." Balas Shikamaru sambil membalas senyuman Naruto.
"Bagaimana keadaan di luar sana?" Tanya Ino sambil menyeka air matanya. Sakura juga terlihat menyeka air matanya.
"Iya begitulah, seperti yang aku ceritakan." Jawab Naruto seadanya.
"Lalu, kenapa kau tak berada disini, malah berada di luar apartement ini, Sakura-chan?" Tanya Naruto sambil menambahkan suffix-chan kepada Sakura. Mendengar penggilan yang ditujukan kepadanya, Sakura merasa Naruto sedikit kurang ajar, mungkin karena mereka saling mengenal baru beberapa menit, belum ada satu jam.
"Kemarin, saat penyebaran dimulai, aku sedang berada di apartement milik Ino. Kebetulan kami sedang menyuruh Shika ini untuk membeli pizza di dekat sini. Saat shika datang, ada berita tentang virus ini yang juga memperingatkan agar tak meninggalkan rumah masing-masing sampai menunggu instruksi lebih lanjut." Shikamaru terlihat sedikit kesal karena mendengar perkataan Sakura menyuruhnya. Ia merasa menjadi seperti pesuruh.
"Disaat itu juga, terjadi keributan di lorong apartement ini, dan ternyata itu kau sedang dikejar zombie itu kesini. Karena itu, kita bertiga tak berani keluar kamar, sampai tadi, kau membuat keributan lagi, hingga membunuh zombie itu." Lanjut Sakura.
"Ooh, jadi seperti itu." Balas Naruto sambil mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
"Apa kalian ada rencana untuk keluar dari sini?" Tanya Ino kepada Shikamaru dan Naruto. Yang ditanya pun hanya saling bertatapan dan menggelengkan kepala masing masing. Tiba-tiba Naruto teringat akan penemuannya di ruangan kerja tadi.
"Oh iya, tadi aku sempat masuk, dan membuka ruangan itu." Ucap Naruto sambil menunjuk ke arah rak buku yang telah terbelah menjadi dua.
"Loh, aku baru tahu ada ruangan disitu." Balas Sakura.
Mereka kemudian beranjak dari kursi, lalu masuk ke dalam ruangan kerja Kizashi. Sakura yang baru tahu ada ruangan disitu memasang ekspresi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ino dan Shikamaru juga sama demikian. Mereka melihat hal-hal seperti yang Naruto lihat sebelumnya.
"Lalu bagaimana kau bisa masuk kesini?" Tanya Shikamaru.
"Aku hanya menempelkan kunci apartemebt ke kotak yang menempel di pintu tadi." Jawab Naruto.
Mereka melihat-lihat seisi ruangan. Ino melihat papan tulis yang terpajang di dinding ruangan. Terdapat kertas, bukan, itu sebuah peta. Ia kemudian mengambilnya lalu melihat isi dari peta itu.
"Lihat teman-teman." Ucap Ino memanggil kawannya. Mendengar panggilan Ino, mereka yang tadinya berpencar, kemudian berkumpul kembali untuk melihat hal yang telah Ino temukan.
"Aku sepertinya pernah melihat peta ini." Ucap Ino kepada yang lain.
"Oh iya, kemarin, ada siaran berita, bahwa ada camp pengungsian di... sini, iyap disini." Lanjut Ino sambil menunjuk tempat yang ada di peta.
"Mungkin kita harus kesana." Ucap Sakura.
"Kau yakin? Jaraknya lumayan jauh dari sini. Kalau kita pakai mobil, bisa memancing lebih banyak zombie berdatangan. Jalanan juga sepertinya sudah dipenuhi oleh zombie." Balas Naruto.
"Iya setidaknya aku menyarankan suatu rencana. Sekarang aku ingin dengar, apakah kau memiliki rencana, baka?" Balas Sakura dengan kesal.
"Sudahlah kalian ini." Lerai Shikamaru.
"Sepertinya kita perlu mencoba rencana Sakura." Lanjut Shikamaru.
Sakura yang mendengarnya senang, lalu menjulurkan lidahnya untuk mengejek Naruto. Naruto hanya memutar bola matanya kesal.
"Oke, aku kalah." Ucap Naruto kepada Sakura.
"Baiklah, sebaiknya kita bersiap-siap. Kita berkumpul satu jam lagi di apartement Naruto."
"Oh iya, kamarmu nomor berapa?" Lanjut Shikamaru
"Nomor 57." Jawab Naruto.
"Baiklah, sebaiknya kita bergegas." Ucap Shikamaru.
Mereka kemudian kembali ke kamar masing-masing. Kini, ada sedikit harapan bagi mereka untuk keluar dari tempat ini. Setidaknya, mereka menemukan suatu cara dan menemukan tempat tujuan saat berhasil keluar dari sini. Persiapan dalam satu jam merupakan waktu singkat bagi mereka, karena perlu mempersiapkan dengan matang, hal apa saja yang perlu dibawa. Akankah mereka berhasil melewati semua rintangan, atau malah tertahan dan terjebak di rintangan itu sendiri?
TBC
Review Please
Terimakasih sebelumnya buat yang sudah review fic ini . Fic ini juga sudah kuusahakan lebih panjang sedikit dari pendahulunya. Jujur, buat fic pertama ini, dapet review 10 aja udah seneng banget. Terimakasih juga buat yang udah kasih saran, sangat membantu. Oh iya, penjelasan tentang virus ini juga nanti akan dijelaskan perlahan, menyesuaikan alur cerita yang ada. Untuk reader AnnaNARUSAKU fic ini bukan terinspirasi dari train to busan, saya sendiri malah belum nonton XD, mungkin lebih terinspirasi dari webtoon Dead Days. Mungkin sekian catatan dari author. See u next chapter. Dan jangan lupa review .
