Main Cast : Chanyeol x Baekhyun

Other Cast : Temukan di dalamnya

Disclaimer: Fict ini pure milik Gloomy Rosemary alias CupidKyumin

.

CHANBAEK

YAOI

FANFICTION

Gloomy Rosemary

Silent Regrets

Chapter 2

.


...

Sesak, hanya itu yang tersisa. Kala seseorang dengan segala keangkuhannya, memaksa menebas habis harga dirinya. Berulang kali Baekhyun berpaling mencoba menghindar, namun seolah percuma...cumbuan paksa itu membuatnya melemas pasrah. Terlebih pening kepalanya tak sedikitpun memberinya kesempatan untuk bergerak lebih.

.

.

"Menjeritlah... haha"

Pekatnya salju tak kunjung reda, bahkan kian membekukan setiap hal yang diterpanya. Sebeku hati Pria itu Dirinya tak sehangat dulu, sebelum kebahagiaan itu terampas karna kematian Ayahnya. Chanyeol tak melupakannya. Perjuangannya bertahan hidup, dan semua rasa sakit itu, Sungguh tak sekalipun ia melupakannya.

Tapi sayangnya, saat kekuasaan itu ditangannya, waktu seakan tak berpihak padanya untuk membalas dendam itu. Byun Yunho sepertinya telah lama mati... dan hanya menyisakan bocah ringkih serapuh ini.

Tak Apa, selama Ia bisa bersenang-senang di sini.

"Ughh...Le—phas!" Baekhyun kembali berontak, berusaha menyentak tangannya. Namun semakin ia mencoba semakin kasar pemuda itu menghisap lehernya. Meninggalkan bekas hickey yang mungkin telah berdarah.

"Nnh~ k—kau AH! BRENGSEK!" Umpat Baekhyun untuk ke sekian kalinya, ia menendang kuat perut Chanyeol. Tak peduli Chanyeol mungkin akan membunuhnya detik itu juga. Jalannya buntu, dan hanya perlawanan kecil itu yang mungkin bisa Baekhyun lakukan untuk menyelamatkan diri

"Tch! "Chanyeol berdecih, lalu menyeringai kala menatap mata Baekhyun

Ia kembali mendekat, mencengkeram kerah Baekhyun hingga tubuh mungil itu turut terangkat dari atas ranjang. Tatapannya kian menajam, seolah menunjukkan Ia geram dengan semua umpatan dan sikap membangkang itu. Tak seorangpun berani merendahkannya demikian, tapi bocah tak tau diri itu—

Chanyeoli menghempas kasar tubuh Baekhyun di ranjang. Menciptakan suara debam yang cukup keras.

"Akh!" Pekik Baekhyun, kepalanya semakin berdenyut pening mendapat hempasan kasar itu. Berkali-kali ia memanggil Ibunya, berharap Jaejong datang mendekapnya dan membawanya lari dari tempat terkutuk itu.

.

.
"Eomma~"Baekhyun memilih meringkuk dan memejamkan mata, masih berusaha bertahan dengan pening itu. Namun belum sempat kedua matanya terpejam, sebuah tarikan kasar menyentak celananya hingga polos seutuhnya.

"AHHH! ANDWAEE!" Jerit Baekhyun panik, ia memaksa bangkit dan menangkup erat genitalnya. tapi naas, Pria itu menahannya lalu mengikatnya kuat di atas kepalanya.

tak pelak, bocah itu semakin hebat menangis... meski tak sepenuhnya menerka, tapi Baekhyun tau kemana arah seringai itu membawa nasibnya setelah ini.

"Berhenti berteriak percuma.." kekeh Chanyeol seraya mengikat sebuah kain di sela bibir Baekhyun, hingga dipastikan namja mungil itu tak lagi bisa berteriak,

"Ammhh! MMMHHH!"

"Tidakkah kau mengerti apa yang terjadi setelah ini?" Bisiknya seraya menjilat telinga Baekhyun. "Aku ingin menikmati apa yang telah menjadi milikku"Desisnya lagi sembari melepas satu-persatu kancing kemejanya. Memperlihatkan garis tubuh ber-abs kokoh itu.

Baekhyun menggeleng kasar, sambil menangis tergugu. Kini ia tau...untuk apa pria itu membelinya. Tak lebih dari sekedar menghina dan membuatnya hancur melalui tubuhnya.

"HKS! MMHHAMMM!"

"Kau pikir aku peduli? salahkan Ayahmu! jika kau merutuk nasibmu!" Ia kembali menyeringai puas, Keparat itu harus menerima dendamnya, meski dari putra kecilnya sekalipun. Dengan begitu...semua akan terbayarkan, seperti yang diyakininya selama ini.

"Byun Yunho... apa kau melihatnya dari neraka? bagaiman semua bagian ini terlihat menggiurkan untuk dimaninkan hahaha!" Tawanya, bak seorang maniak. tak peduli bocah dalam tawanannya itu menggigil ketakutan, Ia lebih memilih bersenang –senang dengan fantasi dan libido nya sendiri.

Menarik sebelah kaki terikat Baekhyun, lalu menusuk paksa rektum kecil itu dengan telunjuknya

"MMHM! URMMHHHH!"

Baekhyun menjerit tertahan, tapi tubuhnya yang kecil... tak bisa menyenyak apapun, selain meraung dan menangis ketakutan.

Lemah, Ya...dirinya memang selalu lemah bahkan baginya ia begitu rendah.

.

.

"ARRMMMMHHHH!" Jeritnya lagi, begitu Chanyeol membuka paksa kakinya, berlawanan arah hingga rektum ranum itu terekspose sempurna.

"Kau masih bersih Hn?" Chanyeol menggesek rektum merah itu dengan ibu jarinya, begitu sempit dan panas. Ia terkekeh meremehkan begitu melihat lubang anal itu tampak berkedut karna sentuhannya

"HKS! MMHHH!" Baekhyun menggeleng kasar, Ia menatap pias Pria kekar itu.. berharap sedikit mendapat iba darinya.

"Ahh.. kasian sekali, kau ingin aku melepasmu?" Tawar Chanyeol sambil memijit nipple Baekhyun.

Bocah mungil itu menggelinjang perih, namun tetap mengangguk... untuk memohon.

"Baiklah... aku melepasnya" kekeh Pria itu, lalu—

SRATTT

"Hanya kain ini saja yang kulepas, berteriaklah sepuasmu, tak ada satupun mendengarmu di tempat ini" Kekehnya sambil menyeringai tajam melihat bocah itu semakin payah menahan takut dan tangisnya. Perlahan namun pasti jemari panjangnya menarik turun zipper celananya. Membuat Baekhyun terbelalak lebar, menangis keras.

Tapi meski air matanya kering sekalipun, ia tak bisa melawan dengan semua tangan dan kaki yang terikat. kecuali, Tuhan memang berbaik hati dan memberinya keajaiban di sini.

"TIDAK! HKS! TIDAK! JANGAN TUAN! KU MOHON! TIDA—

'JLEB'

Kedua matanya terbelalak lebar, dengan tubuh melengkung ke atas kala penis besar itu menusuk paksa rektumnya dalam sekali hentak.

"A—AAAA! HK!S! AARGHHTT!"

Sakit, bahkan terlalu sakit, bahkan Baekhyu merasa... sesuatu benar-benar menyayat anusnya. Baekhyun menggeleng kasar, tak menginginkan lebin selain berharap benda itu tak bergerak sedikitpun dalam rongga tubuhnya.

Chanyeol menyeringai tajam, terlalu puas melihat darah segar mengalir turun hingga menetes dari penisnya.

"Sakit hn? Nikmati saja sayang" Ucapnya datar seraya menarik keluar penisnya, hingga sebatas kepalanya. lalu kembali menghujamnya kasar. Membuat jerit anak itu semakin melengking memenuhi ruangan kedap suara miliknya.

"AAHT! HKS!...SAKIT! AHHHTTT! ARHHMPFTH!"

.

.

.

.

Tubuh kecilnya berulang kali terhentak, mengikuti sentakan kasar pria kekar atasnya. Ia menangis tanpa suara. Karna memang, Baekhyun tak memiliki tenaga lagi untuk sekedar terisak. Merelakan paksa tubuhnya yang pasi kala itu, dinikmati tanpa hati.. bahkan tanpa pelumas sedikitpun.

Hingga darah segar itu, terus merembas mengotori cover bed di bawahnya

"Agh!...AKKH!"

Chanyeol sama sekali tak peduli, ia hanya butuh pelampiasan nafsu. Semua tangis dan rintihan pilu anak itu sama sekali tak berarti apapun untuknya.

.

.

"S—sakit..." Ditengah hentakan itu, Baekhyun merintih serak. Masih mencoba memohon iba dari Pria yang tak Ia ketahui namanya.

.

Tanpa ciuman,tanpa pelukan...hanya gerakan kasar penuh paksa. Terus berulang, dan membiarkan tangis bocah itu menggema dalam kepalanya. Hingga mendadak Ia mendesis nikmat kala anus itu serasa menjepit ketat miliknya.

Baekhyun mencengkeram kuat-kuat jeratan tali itu begitu tubuhnya mengejang hebat, tampak ruas-ruas jarinya memutih pasi. Dan sedetik kemudian cairan kental menciprat cepat dari genitalnya, mengotori perut Chanyeol dan dirinya. Segalanya terasa berbayang, ia semakin tak mampu bertahan bahkan untuk sekedar membuka matanya. Baekhyun tau...demam tubuhnya makin menjadi.

Meski demikian Pria itu sepertinya tak sekalipun berbelas kasih menghentikan segalanya. Nafsu itu telah tersulut, sangat mustahil menghentikan segalanya dan lagi...dendam yang sebenarnya mendasari pergerakan Chanyeol.

"Agh! Shit! Anak ini—ssshh" Chanyeol menyeringai di tengah sentakan pinggulnya. Seolah takjub dengan sensasi yang ia rasakan . Anus itu kian menyempit, terlebih panas tubuh anak itu pun kian memikatnya untuk menyetubuhinya lagi dan lagi.

"Sa—kit..."

.

.

.

"Nnhh~" Tubuh mungil itu kembali berjengit, begitu sesuatu yang panas menyeruak, memenuhi perutnya, Sebagian besar menetes keluar dari pusat tautan intim itu, menambah kebas yang lain di bawah keduanya

"Sshh!" Desis Chanyeol nikmat kala melesakkan jutaan benihnya ke dalam rongga tubuh Baekhyun. Tak berselang lama...Ia kembali menggerakkan penisnya keluar masuk, meraup himpitan dan pijatan lembut dari rektum yang telah terkoyak itu.

Tanpa jeda, menciptakan kecipak erotis dari tumbukkan penis dan anus basah itu. Tak peduli namja mungil yang digagahinya kini tak lagi menjerit bahkan menangis, karna memang, Baekhyun telah jatuh tak sadarkan diri.

.

.

"Hhh...Ssshh!" Chanyeol memejamkan mata, sembari membenamkan dalam-dalam penisnya saat menyentak sperma untuk ke sekian kalinya.

Ia menyeringai puas, lalu menarik keluar genitalnya dan tersenyum getir begitu melihat sperma yang telah bercampur dengan darah... tercecer di pangkal paha Baekhyun dan ranjangnya.

Ia beralih mengambil tisu, menggunakannya untuk menyeka lelehan darah dan sperma di penisnya. Kemudian melenggang santai menuju kamar mandi, untuk sekedar membersihkan tubuh.

Meninggalkan Baekhyun kecil itu di kamarnya begitu saja.

.

.

Esoknya

.

.

'SRAKK'

Sesosok namja tinggi menyambar dan menyibak kasar tirai besar kamar itu, membuat bias-bias mentari menerobos kilat ke dalamnya.

"Ngh~" Baekhyun mengernyit silau. Sungguh, itu benar-benar sangat mengusik tidurnya. Seluruh persendiannya terasa ngilu, terlebih bagian selatan tubuhnya pun kian berdenyut perih.

"Tch! aku tak pernah menduga, kau semalas ini Byun Baekhyun" Chanyeol mengikis jarak, hingga membuat bocah itu kembali berjengit ketakutan.

"Hn, mungkin memang sebaiknya kau mendapat hukuman kecil bukan?"

Seolah menerka, Baekhyun kembali menggeleng kasar... dan beringsut-ingsut menjauh.

Tapi gerakannya tak sepenuhnya benar, hingga memudahkan Pria itu menangkap kakinya, lalu membukanya lebar.

"T-TIDAK!"

"Ah~ bagian ini sepertinya sangat sakit hn?" Kekeh Chanyeol sambil menekan rektum baekhyun, detik itu pula.. sperma yang masih tertelan di dalam ... meleleh keluar dari rektum itu

"Nnn~Ahh"

"Benda ini akan membuatnya bersi" Desis Chanyeol seraya menunjukkan sebuah benda bulat dengan kabel di ujungnya.

Baekhyun tak tau benda macam apa itu, tapi Ia yakin, itu akan mengancam dan menyiksanya.

"Hks! L—lepaskan aku! Apa salahku hingga—AGHH!"

kedua kakinya kembali tertekuk ke atas, dipaksa memperlihatkan rektum miliknya yang masih membengkak merah itu.

"Ssshh.. aku hanya ingin membantumu, kau lihat... kau tak bisa membersihkan semua ini seorang diri" kekehnya, serya menggesek benda bulat itu di rektum Baekhyun. Lalu—

'SLIP'

"A—aht! apa yang masuk—

DRRRRRRR

Baekhyun terbelalak lebar, bahkan tubunnya mendadak mengglepar... begitu sesuatu yang tertanam di dalam rektumnya bergetar maksimum.

"A—AAAA!"

"Hhaha... lihat, seperti yang kukatakan... semua sperma itu benar-benar meleleh keluar " Gelaknya sambil memanangi, lelehan sperma miliknya yang perlahan menyeruak keluar dari dalam tubuh Baekhyun.

.

"AGHHTTTT!" Tubuh mungil itu mengejang,

entah berapa kali ia menyentak klimaks, dan entah berapa kali Ia menjerit untuk melepaskan diiri.

tapi nyatanya, hanya fraksi hitam yang Ia lihat... hingga mungkin, Ia tak lagi mendengar rintihannya sendri.

.

.

"Tck! Mengapa kau lemah sekali" decak Chanyeol, begitu kembali ke dalam kamarnya dan melihat bocah itu kembali tak sadarkan diri, sementara vibrator itu masih bergetar maksimum dalam tubuhnya.

ia beranjak mendekat, berniat untuk menarik keluar benda nirkabel itu. Tapi mendadak Ia terbelalak lebar, begitu menyadari panas yang tinggi dari tubuh anak itu.

"Sial! Dia demam.."

Gumamnya, sebelum akhirnya mengangkat tubuh Baekhyun... berniat membersihkan kekacauan yang Ia timbulkan di sini.

.

.

.

Beberapa Jam Kemudian

"Nnh~"

Baekhyun merintih lirih.

Membuat Pria yang sedari tadi menunggu itu, mulai terhenyak dan bangkit mendekatinya

"Bangun dan minum obatmu" Ucap Chanyeol seraya meletakkan beberapa tablet obat di sisi Baekhyun . Beberapa saat lalu ia memanggil Dokter pribadinya demi memastikan kondisi namja manis itu.

Baekhyun terbelalak lebar melihat Chanyeol tampak berdiri tegap di seberang ranjangnya, bulir bening itu kembali merembas kala mengingat semua perlakuan rendah Chanyeol terhadapnya. Ia beralih memutar tubuh membelakangi Chanyeol. Tak berniat sedikitpun memandang sosok biadab itu.

"Minum obatmu, karena aku harus pergi" Ucap Chanyeol dingin, sikap diam Baekhyun benar-benar membuatnya muak. Bagaimanapun ia tak bisa membiarkan Baekhyun jatuh sakit, karena itu masalah untuknya.

Baekhyun tertunduk, sambil meremas kuat-kuat selimutnya, ia memang tak menangis. Namun raut pedih itu, cukup menunjukkan betapa remuk hati bocah itu saat ini.

Membuat Chanyeol menggeram dan berdecak jengah. Pria itu mengambil langkah mendekat dan menyibak paksa selimut Baekhyun.

"Kau tak mendengarku?! Cepat minum—

"Akhh!"

Cengkeraman lengan itu terlepas begitu mendengar pekikkan lemah Baekhyun, sedikit tersentak ketika menyadari paras babyface itu tampak pias karna menangis

"Berhenti menangis! Bocah lemah sepertimu benar-benar tak berguna untukku!"

Baekhyun menggigit kuat bibir bawahnya, gertakan itu membuatnya menciut takut. Mungkinkah dirinya tak lebih dari sekedar budak rendah di sini, tak ada satupun yang melindungi lagi. Bahkan Ibu yang selalu menjadi bayangpun, tak datang mendekapnya kala ia mencarinya.

Meski merintih nyeri, Baekhyun tetap berusaha bangkit seorang diri kemudian meraih obat di sampingnya. Ia merobek kasar tablet obatnya dan memasukkan beberapa butir pil itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan tergugu.

Pahit! obat itu benar-benar menyedaknya. Hingga mungkin karna terlalu pahit...lidahnya mati rasa. Namun tidakkah rasa basa itu tak sebanding dengan tubuh dan harga dirinya yang direnggut paksa. Ia tak lagi berharga di sini, lantas untuk apa hidup. Bukankah lebih baik, ia mati dengan menegak semua obat itu.

Chanyeol tersentak tak percaya, Ia sempat mengira Baekhyun gila, menelan semua pil itu tanpa dosis dan tanpa air pula. "Kau—

"Bukankah ini yang kau inginkan?! apa kau puas!"

Chanyeol terkekeh meremahkan, ia mendekatkan wajah dan membelai pelan pipi halus Baekhyun.

"Apa kau tau? kau bisa membunuh dirimu sendiri"

"LEBIH BAIK MATI! DIBANDINGKAN MELIHAT MANUISA BIADAB SEPERTIMU!"

Kedua obsidian itu mendelik tajam, tak dipungkiri emosinya kembali tersulut. Ia mencengkeram kuat dagu Baekhyun, hingga membuat namja cantik itu menengadah kasar

"Dengan senang hati menerima keputusanmu! dengan begitu aku tak perlu mengotori tanganku hanya untuk membunuhmu" Desisnya sembari membuang kasar dagu Baekhyun. Ia menatap angkuh namja mungil itu lalu beranjak dan membanting keras pintu kamarnya, menyisakan Baekhyun yang tertunduk lemah di ranjangnya.

"E-Eomma"

.

.

.

Segalanya terasa hening, lebih dari setengah hari ini ia berbaring di ranjang king size itu. Semenjak kepergian Chanyeol. Baekhyun tak sekalipun berniat merubah posisinya, tetap meringkuk dan bersembunyi di balik selimut tebalnya.

Namun dalam diam, Ia mulai menerka peruntungan di sini.

"Tak ada seorangpun di sini bukan? mungkin ada celah untuk lari" Gumamnya lirih

Dengan tertatih Bakehyun mencoba beringsut turun, dan meraba-raba dinding sebagai tumpuan tubuhnya.

"Akh!" Pekiknya begitu rektumnya kembali berdenyut nyeri. Tubuhnya nyaris merosot karna tak mampu menahan berat badannya sendiri. Namun, begitu menapak tangga dasar... Ia mendadak terhenyak, mengapa semua ornament dan furniture yang tertata di setiap sudut ruangan itu, benar -benar mewah dan menakjubkan.

.

.

"Dia hanya tinggal seorang diri?" Lirihnya lagi, masih mengamati ruangan di sekitarnya.

"Ah itu.." Kedua manik caramel itu seketika mengerjap, kala melihat sebuah frame besar berisikan tiga siluet yang terpajang di dinding. Perlahan Ia melangkah mendekat dan mengamatinya dengan lekat. Baekhyun rasa, itu memang potret keluarga. Namun hanya satu orang yang menyita perhatiannya, seorang remaja tampak bahagia dalam pelukan kedua orang tuanya. Terlihat ceria, hingga mampu membuatnya tersenyum

Namun semua itu tak berlangsung lama, Baekhyun kembali tertunduk menyadari satu hal, namja dalam itu adalah pria yang memisahkan dirinya dengan sang Ibu dan merenggut semua kebahagiaannya.

"Park Chan—Yeol " Ejanya begitu melihat name tag namja yang masih mengenakn seragam sekolah

"Apa salahku?" Ujarnya sambil memandang potret besar itu.

Hingga sebuah jendela besar di ujung ruangan itu kembali menyita perhatiannya. Baekhyun tersenyum .. Ia tau, dirinya bisa melarikan diri jika menghancurkan jendela itu.

.

.

Sebuah Vas besar terangkat, sedikit goyah begitu bocah itu tampak payah membawanya.

Satu gerakan, dan—

"Apa yang kau lakukan?!"

PRANKKKK

Baekhyun terkejut, kala seseorang mendadak muncul di belakangnya. Hingga membuat vas itu terjatuh begitu saja dari tangannya.

"A—aku... aku—

"Bos bisa marah jika kau berniat melarikan diri" Ujar sosok kekar itu, seraya berjalan mendekati Baekhyun.

"K—ku mohon, biarkan aku pergi" pinta Baekhyun sambil mengatupkan kedua tangannya.

Tapi yang terlihat, Bodyguard itu tetap berjalan mendekatinya... lalu memanggul tubuhnya dalam sekali angkat.

"Katakan itu pada Bos" Ujar Pria itu sambil melangkah menapaki anak tangga.

Dan Baekhyun hanya bisa tergugu, merutuk akan dirinya yang lemah. Dalam kungkungan rumah mewah ini.

Bahkan hingga Bodyguard itu menurunkannya dirinya di dalam kamar, Baekhyun tetap menunduk... menyembunyikan wajah di balik lippatan lengan dan lututnya.

Tapi beruntung, Pria itu masih memberinya iba... tak mengunci kamar itu.

"Hei dengar, Bos mengizinkamu berjalan leluasa di dalam rumah ini"

"..." Baekhyun memilih memejamkan matanya.

"Kau lapar? aku bisa membawakan makananmu kemari"

"..." masih tak ada jawaban, anak itu tetap meringkuk melipat lututnya sendiri.

Membuat Pria kekar itu hanya menghela nafas. Sungguh bocah yang malang, Ia memang tak tau banyak tentangnya. Tapi yang jelas, Chanyeol memang membelinya sebagai budak untuk balas dendam.

"Kau bisa ke dapur rumah ini, jika kau ingin makan sesuatu. Tapi jangan pernah mencoba untuk melarikan diri" Pesan Pria itu, sebelum akhirnya menutup pintu dan membiarkan Baekhyun seorang diri dalam kamar itu.

.

.

.


Petang menjelang,

Baekhyun merasa, waktu memang berdetak terlalu lama. dan Ia merasa dingin di sini.

CKLEK

Hingga tiba-tiba, Ia reflek beringsut menjauh begitu seseorang membuka pintu... dan gelapnya ruangan, sama sekali tak menyamarkan siluet sosok itu.

Baekhyun tau, Chanyeol mulai berjalan mendekat.

"Kau tak menyentuh makananmu?" Ujar Pria itu datar, sambil berjongkok mendekati bocah yang masih menyembunyikan wajahnya.

"Tck!" Chanyeol berdecak sambil membuang muka.

"Bawa semua makanan itu ke meja.." Titah Chanyeol pada beberapa pelayan yang memang sedari tadi menunggu di luar. dan sesuai perintah, semua pelayan itu mulai menghambur masuk... meletakkan satu persatu hidangan hangat di atas meja dalam kamar megah itu.

"Makanlah"

Masih saja, cara bicara itu terpaut dingin.

"..."

Baekhyun tetap diam dalam posisinya, apa gunanya semua itu... jika pada akhirnya tubuhnya hanya untuk dilecehkan.

"Kau pikir semua ini lelucon?!"

"..." Baekhyun mulai mengangkat wajah, lalu menatap lekat mata Pria itu. Sepersekian detik, Ia kembali mengingat, senyum namja dalam potret besar itu. Tapi mengapa, wajah itu mendadak menjadi Pria yang bengis seperti ini.

"Tch! Kau bermain-main denganku rupanya!"

Chanyeol berdengus jengah melihatnya, ia bergerak cepat menarik lengan Baekhyun dan menghempasnya kasar di meja makan. Debaman itu terdengar keras, mengiringi bunyi pecahan dari hidangan yang berjatuhan di atas lantai.

"Aht! sakit!"Pekik Baekhyun, seraya meremas kuat tangan Chanyeol yang kini mencengkeramnya. Rektumnya semakin berkedut nyeri karna hempasan kasar itu. Ia berusaha bangkit seraya menjerit keras, namun tangan besar Chanyeol tiba-tiba menarik turun celananya bahkan membuka paksa kedua kakinya.

"Ini yang seharusnya kau lakukan untukku! Aku benar-benar puas melihatmu hancur seperti ini... manis!"

"AARGHHHTT!"

Tak peduli pada jeritan dan tangsian itu, Chanyeol bergerak kasar melesakkan penis besarnya ke dalam rektum Baekhyun. membuat darah segar kembali menetes dari luka yang kembali terbuka

"Ackh~ Henti—akkhh! Ah! AHH! SAKIT! hiks"

Lagi...

Bocah itu kembali menjerit pilu. Meski berulang kali memohon untuk menghentikan hujamannya, namun segalanya tetaplah berbuah percuma. Pria itu tetap menyetubuhinya, bahkan makin kasar dan brutal.

.

.

.

"Akhh...ah! ...AHH!" Baekhyun mencengkeram kuat tepian meja makan, begitu sentakan sperma kembali memenuhi perutnya seiring dengan klimaksnya. Ia masih menangis, namun sama sekali tak membuat Pria itu memberinya sedikit iba.

"Kau menikmatinya! sshh... lihat bagaimana milikmu menghisap diriku haha" Gelak Chanyeol sambil menghentak pinggulnya

"Nnhh~" Rintih Baekhyun saat Chanyeol menarik kasar kejantananya keluar, perlahan kedua manik caramelnya terbuka dan menatap sayu Pria di atasnya.

Bibir pucatnya tampak bergetar lemah, banyak tanya yang ingin terucap dari bibir tipis itu. Namun melihat tatapan angkuh Chanyeol membuatnya sesuatu dalam hatinya kembali menciut sesak. Haruskah tatapan sedingin itu yang didapatnya, setelah tubuhnya dinikmati seperti itu.

"Apa kau men—cintaiku T—tuan?" Lirihnya tergagap. "K-kau membiarkanku hidup di sini, apa kau mencintaiku Tuan?" Baekhyun mengangkat tangan lemasnya dan menyentuh pelan lengan kokoh Chanyeol. Tak ada satupun yang diharapkan selain kasih sayang dan perlindungan, sama seperti yang selalu orang tuanya berikan untuknya. Dan sungguh...Baekhyun berharap besar dapat menemukan sosok pelindung itu dalam diri Chanyeol.

"Mencintaimu? apa kau bermimpi?!" Chanyeol beraling bangkit dari tubuh ringkih itu.

"Bersihkan semua kekacauan ini, aku lelah!" Sentak Chanyeol sembari menaikkan zippernya. Kemudian pergi dari ruangan itu, meninggalkan bocah mungil yang tergletak di atas meja makan dengan ceceran sperma bercampur darah dan pecahan keramik disekitarnya.

"Ku mohon Tuhan" Lirih Baekhyun, sambil menutup matanya.

.

.

.


.

"Apa kau men—cintaiku T—tuan?".

'BUAGH'

Chanyeol menghantam telak dinding di hadapannya, begitu kalimat itu kembali lekat dalam benaknya. Mengapa mendadak Ia merasa terusik seperti ini? Bukankah melihat Baekhyun menderita adalah satu-satu keinginannya. Tapi kalimat itu...

"Argh! Shit!" Geramnya sembari mengacak kasar surai coklatnya.

.

.

Flash Back On

"AYAH!"Teriakan boah itu kembali menggema membelah duka yang menyelimuti kediaman mewahnya.. Berkali-kali ia memanggil dan berusaha meraih tubuh ayahnya. Namun pria itu tetap saja terbujur kaku tanpa gerak dan suara.

.

.

Hari demi hari, berselang semenjak kepergian Presdir Park, barulah semua terungkap nyata.. musuh dalam selimut itu makin menampakkan jati dirinya, mendekat dengan perlahan dan merampas paksa perusahaan milik keluarga Park. Bahkan seluruh aset keluarganya turut terampas tanpa terkecuali

Tak ada satupun yang dapat dilakukannya. Chanyeol hanyalah seorang namja berusia 13 tahun, terlalu lemah untuk merampas kembali apa yang menjadi miliknya.

Ia tak memiliki apapun selain ibunya kala itu, Hidup bertumpu pada belas kasih orang lain, tanpa derajat dan kerap di pandang sebelah mata. Namun Chanyeol tetap bertahan demi ibunya. Meski seluruh keringat ia peras, dari pagi dan malam tanpa jeda. Bahkan, sekolahpun harus Ia tinggalkan

Walau berjuang sekuat apapun untuk bertahan hidup, angin hitam itu kembali berhembus...menghempas seluruh harapan hidupnya, kala ibunya jatuh sakit. Uang, memang tak berpihak padanya... Hingga, kematian itu kembali merenggut satu-satunya miliknya yang berharga.

.

.

"Ayah! Ibu!"

Ia hancur, berjalan gontai meniti kerasnya hidup seorang diri

.

.

Namun di balik semua itu Tuhan memang masih memberinya kasih

kejeniusan anak itu, rupanya memang di atas rata-rata. Kemampuan dan potensinya mampu membuat setiap orang takjub. hingga mampu, menarik hati seorang pendidik.

"Haha lihat, kau tak mengecewakan Chanyeol~ah"

"Terima kasih, seonsaengnim"

.

Bahkan Chanyeol mampu menyelesaikan jenjang pendidikan itu walau masih menginjak usia 16 tahun.

Meski demikian, Luka batin itu telah merombak seluruh pribadinya. Chanyeol bukan lagi sosok yang ceria dan hangay. Keangkuhan dan ambisi kuat itu sepertinya telah lekat menutup mata hatinya.

Ia hanya mengejar ambisinya selama ini, menutut balas pada semua musuh itu. Terutama Byun Yunho, satu-satunya Pria di balik keterpurukan keluarganya. Pria itu – Pembunuh sang Ayah

Waktu semakin berpihak padanya. Bocah itu telah berubah menjadi seorang Almighty Park.

Chanyeol mengendap perlahan, dan menyusup lihai penuh perhitungan. Tak satupun pergerakannya yang cacat. Seluruhnya sempurna, hingga perusahaan dan seluruh aset keluarganya berhasil ia dekap kembali. Bahkan satu persatu pengkhianat itu mampu Ia singkirkan dengan tangannya sendiri. Tak ada satupun yang dapat membaca semua rencananya. Chanyeol terlampau kuat dan jenius untuk diterka, bagai Leopard yang mengincar dan menebas hidup mangsanya dengan segala keangkuhan yang Ia miliki.

Flash Back Off

"Akh!" Pekiknya nyeri, kala tangan mungil itu menekan sebuah kain hangat untuk rektumnya. Bagian itu terluka, tentu semakin sensitif dan membuat apapun yang menyentuh terasa menyakitkan. Terlihat lingkar rektum itu tampak semakin bengkak dengan bercak darah di sekitarnya. Meski demikian Baekhyun tetap bertahan, berusaha menyeka lukanya sendiri, karna hanya ini yang dapat ia lakukan untuk membuatnya lebih baik.

BRAK

Namun tiba-tiba seseorang mendobrak pintu ruangan tersebut, membuat Baekhyun berjengit kalut melihatnya. Posisinya saat ini tengah mengangkang lebar...dan kehadiran Chanyeol tentu saja membuat dirinya terlihat sangat memalukan. Meski nyatanya Pria itu telah melihat bagian intimnya saat menyetubuhinya.

"U—Ugh!" Baekhyun cepat-cepat menutup kakinya, dan mengenakan underwearnya secara serampangan.

"Siapa yang mengizinkanmu memasuki kamar ini?"

"Jika tidak di sini...di mana aku harus tidur?"

Chanyeol mengumpat keras, dengan kasar ia menarik lengan Baekhyun dan meyeretnya keluar. "A—akh Sakit!"

.

.

.

"Di sini!" Sentak Chanyeol tiba-tiba, membuat Baekhyun terhuyung ke depan.

"T-tapi ini kamarmu Tuan".

"Kau melawanku?!"

Wajahnya seketika tertunduk, Baekhyun tak memiliki nyali untuk sekedar menatap obsdian yang berkilat geram itu.

Tanpa berucap sepatah katapun, Baekhyun mengangguk patuh dan mendudukkan tubuhnya di ranjang king size Chanyeol. jika tak ingin, Pria itu kembali geram dan menyetubuhinya lagi.

Chanyeol mendesah berat, entahlah...kepalanya benar-benar terasa meledak. Kala membuka mata dan tak menemukan Baekhyun di manapun. Ia menatap lekat bocah yang tertunduk itu... lalu setelahnya membawa langkahnya pergi. Namun tiba-tiba gerakannya terhenti saat jemarinya di genggam erat.

"Kau mengizinkanku tidur di sini, di kamarmu... apa itu berati kau menyukaiku Tuan?" Tanyanya polos

Kedua manik obsidian itu terbuka lebar, tak dipungkirinya kalimat Baekhyun membuatnya terperangah hebat.

"Berhenti bicara tak berguna di hadapanku! kau hanya budak yang kubeli untuk kepuasanku"

"..." Baekhyun hanya menundukkan kepala. kembali menelan harapannya

.

.

.

'Cklek'

Pintu itu kembali terbuka, tapi Baekhyun sepertinya tak ingin peduli...karena Ia tau itu Chanyeol yang mungkin datang untuk memakinya atau bahkan menyetubuhinya lagi.

"Bangun"

"..."

Baekhyun diam dan makin menyembunyikan tubuhnya di balik selimut, tak berniat menjawabnya

"Apa kau tuli?!"

Kedua matanya terpejam erat, umpatan itu telak menusuk hatinya. Tak ada pilihan lain selain bangkit terduduk, meski dengan wajah tertunduk

Tanpa membuang waktu banyak, Chanyeol bergerak cepat, mendekat dan melucuti paksa kemeja yang melekat di tubuh Baekhyun, menyisakan celana dalamnya saja.

Baekhyun sempat memekik terkejut, tapi setelahnya ia menatap heran begitu menyadari Chanyeol tengah memakaikan sebuah sweater dan juga celana jeans untuknya. "ini milik siapa Tuan?" Tanyanya kemudian, sudah pasti bukan milik Chanyeol, sebab sweater baby blue itu begitu pas dengan tubuh mungilnya.

Pria itu hanya menatap angkuh, Chanyeol sama sekali tak menjawab danlebih memilih menariknya keluar. memasuki sebuah audi hitam.

.

.

"Tuan kita akan pergi kemana?"

"Tutup mulutmu!"

.

.

.

Baekhyun terlihat ragu-ragu kala mengikuti langkah Pria itu, apa maksudnya ini... mengapa Chanyeol membawanya di antara hiruk pikuk pusat perbelanjaan seperti ini?

dan lagi, untuk apa semua pakaian yang di bawa Pria tinggi itu?

Berulang kali kedua matanya mengerjap polos kala Chanyeol dengan raut fokusnya mematut berbagai t-shirt dan kemeja untuk tubuhnya.

"Tunggulah di sini" Tekan Chanyeol.

Baekhyun hanya mengangguk pelan, dan kembali mengerjap melihat punggung lebar itu semakin hilang dari pandangannya.

.

.

.


"Hyung! Hyung! Hyuuung!"

"Aissh! wae" Namja manis itu memutar kasar tubuhnya, menghadap seseorang yang sedari tadi memanggilnya tanpa henti.

"Hhh! hhh! pelankan langkahmu! Aku lelah"

Kyungsoo kembali berdecak kesal, ia beralih cepat menarik tas punggung namja kecil itu dan meyeretnya, agar berjalan lebih cepat.

"Tck! Polisi gila itu akan menemukan kita jika kau selamban ini!" ujarnya masih dengan menyeret Taehyung.

"Aku tak ingin menjadi tikus seperti ini Hyung, cepat kembalikan saja dompetnya"

"Kau gila?! Uangnya sudah kita habiskan kemarin...orang itu sudah pasti tak akan melepaskan kita"

"Tapi aku ingin sekolah Hyung!"

Kyungsoo mendengus jengah, rupanya dongsaengnya tak menangkap dengan baik maksud dari ucapannya.

keduanya baru saja melarikan diri dari sekolah dan berakhir di pusat perbelanjaan terbesar di kota seoul, Kyungsoo panik bukan kepalang menyadari pemilik Dompet yang dicurinya mampu melacaknya...tapi sungguh Kyungsoo tak pernah tau jika orang tersebut adalah seorang polisi. Lagi pula Ia sama sekali tak berniat mencuri...semua itu karena keadaan yang memaksa.

"Hyung! Appa akan marah jika mengetahui aku meninggalkan pelajaran di kelas"

"yya! Melarikan diri terlebih dahulu...lalu kembali ke sekolah!"

"H-hyung bukankah itu Baekhyun?"

Kyungsoo seketika menghentikan langkahnya begitu mendengar nama Baekhyun, cepat-cepat ia mengikuti arah telunjuk Taehyung. Dan benar saja namja cantik itu berdiri tak jauh dari tempatnya berpijak.

"BAEKHYUNNNIEEE!" Kyungsoo berlari cepat, terdengar rusuh kala bocah itu kembali berteriak memaggil-manggil Baekhyun

Namun belum sempat tangannya meraih Baekhyun...

"Kau ditangkap!"

"U-UWAAHH! V!Polisi gila itu di sini!" Ronta Kyungsoo ketika borgol itu memasung kuat pergelangan tangan kirinya. Berkali-kali ia bergerak brutal, menendang dan mencakar apapun yang dapat di raihnya hingga kancing seragam milik namja berpawakan kekar itu terpental entah kemana.

"Y-YACKK! Aku baru saja mendapat seragam ini 5 hari lalu! Dan kau merusaknya!"

"Jadi kau Polisi amatir?"

"APA KATAMU?!" Pria itu makin naik pitam, nampaknya Kyungsoo tak ingin berhenti berurusan dengannya setelah mencuri uangnya. Ia beralih memelintir lengan bocah itu hendak membekuknya.

"Kai Hyung"

"B—Baekhyun?" Gagap Pria itu, sekapan pada tubuh Kyungsoo pun terlepas, tak peduli Kyungsoo berteriak kesakitan.

Pandangannya seolah terjerat begitu saja kala Baekhyun berdiri tepat di hadapannya. Tanpa berkedip, Kai berjalan mendekat, berkali-kali pula ia berdecak kagum. Namja mungil itu telah tumbuh menjadi sosok yang memepesona seperti ini.

Hingga tak sadar, dua bocah yang sedari dikejarnya itu kembali melarikan diri entah kemana. Setidaknya Baekhyun benar-benar penyelamat untuknya.

"Haha! Kau sudah tumbuh sebesar ini Baekhyun" Ucapnya seraya mengacak surai hitam Baekhyun

"Kau yang terlalu lama menghilang Hyung"

"A-aniyaa, aku pergi untuk sesuatu yang hebat. Lihat apa yang kudapatkan sekarang" Tukas Kai sembari menunjukkan seragam kebanggaannya.

Baekhyun terkikik kecil dan mengangguk cepat. "Kau seperti Appa... Hyung"

Jantungnya mendadak berdebar gila, melihat senyuman riang itu. Senyuman yang tak pernah berubah, tetap manis dan menawan...meski 8 tahun telah berlalu. tentu saja, ia menghilang karna ingin menjadi seperti Yunho.

"Pulang..." Seseorang tiba-tiba berbicara dingin, membuatnya mengernyit heran dan makin mengerjap tak terima melihat seorang Pria tinggi benar-benar menarik Baekhyun darinya.

"Baekhyun!" Panggil Kai gusar sembari mengejar langkah Chanyeol

"Siapa kau hah!? apa hubunganmu dengan Baekhyun?!" Ujarnya seraya membentangkan tangan tepat di hadapan pria tinggi itu.

Chanyeol hanya mengulas seringaian tipis. "Menyingkir dari hadapanku"

"Hei Tuan kaya! Aku bertanya padamu! Kau—

Hardikkannya tersedak seketika, begitu dua orang pria besar membekuk kuat lengannya ke belakang. Tak memberinya kesempatan untuk bergerak lebih. "YACK! Apa-apaan ini!" Teriaknya geram.

"Sebaiknya kau tak berurusan denganku Kim Jongin—ssi" Tukas Chanyeol setelah membaca name tag di dada Kai.

"Lepaskan Dia... Tuan" Mohon Baekhyun lirih, berkali-kali ia menoleh ke belakang demi melihat kondisi Kai, tapi cengkraman tangan Chanyeol di lengannya terlalu kuat memaksanya agar terus berjalan.

"Apa kau memiliki hubungan dengannya?" sentak Chanyeol tak suka

Baekhyun menunduk, tak ingin mendapat perlakuan kasar dari Pria itu

"T—Tidak"

"Hn Bagus..."

"Pastikan dia tak menghambatku" Desis Chanyeol lagi pada seorang bodyguard miliknya, dan berlalu dengan tenang.

Sementara, Baekhyun hanya diam kala Pria itu menggenggam tangannya dan manariknya agar terus berjalan. Nyalinya terlalu ciut melihat beberapa pria kekar berjas hitam tiba-tiba saja muncul di sekeliling keduanya.

.

.

.

.

"Akh!"

Baekhyun memekik sakit ketika Chanyeol mendorongnya kasar ke dalam mobil, belum sempat ia memposisikan tubuhnya. Namja tinggi itu tiba-tiba mencengkeram dagunya, hingga ia menengadah pasrah.

"Dengar! Kau tak memiliki alasan untuk lari dariku!"

"Kkh! Apa mak-sudmu? Aku tidak lari—

"Aku tau...kau sedang merencanakan sesuatu dengannya!"

Baekhyun menggeleng, ia tau pertemuannya dengan Kai Pria itu menaruh prasangka terhadapnya. Berulang kali Baekhyun meremas tangan Chanyeol agar melepaskan cengkeramannya, namun Pria itu tak bergeming dan makin kuat membuatnya menengadah

"Ti—dak." Rintih Baekhyun lirih.

"Byun Baekhyun, kau tau? dengan tangan ini.. aku bisa melenyapkan seseorang?"

Baekhyun meneguk ludah payah begitu melihat tangan terkepal itu, ia mengangguk seraya memejamkan mata erat ... takut Chanyeolsemakin berlaku kasar

"Dan akan berlaku untuk polisi itu bahkan—

Pria itu mulai mengendus telinga kanan Baekhyun dan menjilatnya sensual. "Dirimu.. " Lanjutnya lagi. Ia menyeringai tajam, lalu membuang kasar wajah pias itu.

.

.

.

.

.

To Be Cont...

Haiiiii Annyeong ... Gloomy hadir nih bawa chapter 2 nya, hayoo gimana

tema BDSM, so tabahkan hati.

Kemarin, Take Care Of My Boyfriend sudah update yah..

Selanjutnya mungkin Love Sick :)

Review Jusseyoo, jika ingin kami update terus...

IG : gloomy_rosemary

dan untuk:

Ninis , neniFanadicky, chanbaek92, LHR Official Couple Shipper, restikadena90 , 90rahmayani, buny puppy, byunnami, Marshsamallow614 , khakikira , ctbisreal, RurohFujoCbHs, hulas99, fintowikson, Lussia Archery , kimkad , YaharS , Aisyah1, LyWoo, Byun soo byung, Yana Sehunn, baekkachu09 , Poppy20 , baekxylem , selepy , byunnami , Lusianabaconcy0461, bbhunyue, chanbaekis , mawar biru, love Elan , thevEXO, WinterJun09, tkxcxmrhmh , mii-chan07 , vryeol , Dodio347, baekby aeri04 , ChanBaekGAY , EyiLy , metroxylon, Fiyaa04, baby baek , Deliscius, Wahidah Putri Utami , chalienBee04, xiluhan74 , cbforever00, Yeolliebee , PinkuBlue614 , rimaa , kimi2266, YaharS , baekchann18, Avisyell756 , AuliyaRchy , byunlovely, ruukochan137, veraparkhyun , park chan2 , baeeki6104, chanbaek1597, byunlovely , bbhunyue, kkaiii, Hyo luv ChanBaek, Siapa Hayo, myliveyou, LightPhoenix614, Chanbaeknaena, Asandra735 , tyas 614, AnggunBBH06, AmyGAHF, Merina, dwi yuliantipcy , Shengmin137, kitukie, shereen park, yiamff , jempolnya pcy , Hyera832, Riinnchan, Ricon65 , BambiLuhan , Byunexo, SMLming , babyyh , chayeonlee , Sitachaan, Ziiwandha, hananachan, bbyLyi , hosh10 , hunhanshin, Loey761,dan all Guest

Terima kasih banyak sudah mereview di chapter sebelumnya

Jangan lupa review lagi

Annnyeeeeeeeooong

Saraaaanghaaaaaaaaeeeeee