Main Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Other Cast : Kai, Sehun, Luhan, Kyungsoo, V
Disclaimer: Cerita ini milik GLOOMY ROSEMARY/ saya juga CupidKyumin
.
.
.
Previous Chapter
"Aku tau...kau sedang merencanakan sesuatu dengannya!"
Baekhyun menggeleng, ia tau pertemuannya dengan Kai Pria itu menaruh prasangka terhadapnya. Berulang kali Baekhyun meremas tangan Chanyeol agar melepaskan cengkeramannya, namun Pria itu tak bergeming dan makin kuat membuatnya menengadah
"Ti—dak." Rintih Baekhyun lirih.
"Byun Baekhyun, kau tau? dengan tangan ini.. aku bisa melenyapkan seseorang?"
Baekhyun meneguk ludah payah begitu melihat tangan terkepal itu, ia mengangguk seraya memejamkan mata erat ... takut Chanyeolsemakin berlaku kasar
"Dan akan berlaku untuk polisi itu bahkan—
Pria itu mulai mengendus telinga kanan Baekhyun dan menjilatnya sensual. "Dirimu.. " Lanjutnya lagi. Ia menyeringai tajam, lalu membuang kasar wajah pias itu.
.
.
.
CHANBAEK
YAOI
FANFICTION
Gloomy Rosemary
Silent Regrets
Chapter 3
.
.
Kedua mata terpejam.. seakan menduga... tangan terkepal itu, siap menghantam tubuh ringkihnya. Apa yang bisa dilakukannya kini selain diam, jika setiap kata yang terucap hanya akan berbuah bentakan atau bahkan perlakuan semakin kasar.
"..."
Sejenak, waktu yang tersita. Baekhyun lebih memilih menyandarkan tubuh, meringkuk menghadap jendela, tanpa sedikitpun berniat membuka mata. Setidaknya, ada waktu tenang yang tersisa.
Nyaris 20 menit terlewat, Pria itu tetap diam... menatap dingin pada jalanan yang kini dilaluinya. Terlalu hening... mungkin hanya pegerakan gusar Baekhyun yang terdengar mengusik. Bahkan Berkali-kali bocah itu menggeser posisinya, karna pegal,
namun seketika Ia berjengit kala sesuatu menyentuh punggungnya. Membuat Baekhyun menoleh ke belakang, dan detik itu pula sorot matanya berubah , Baekhyun tau...
semua pakaian itu, Chanyeol beli untuk dirinya.
Tapi untuk apa?
Jika nyatanya Pria itu selalu memandangnya rendah
"Sssh" Desis Baekhyun bosan. Merasa tak nyaman terjebak dalam situasi semacam ini, karna Ia benar-benar tak mengenal pribadi Chanyeol.
Mendadak Ia merasa ingin tau tentang diri Chanyeol. Tidakkah Pria itu terlalu muda untuk memiliki segalanya? Ataukah mungkin Dia memiliki pekerjaan terlarang,
Jika tidak, tak mungkin Pria itu membelinya untuk dijadikan budak sex.
"Memandangku menjadi kesenangan untukmu?!" Decih Chanyeol tiba-tiba, membuat Baekhyun mengalihkan pandangan cepat. Tak menduga... Pria itu akan menyadari dirinya sedang dipandang demikian.
Baekhyun kembali bergerak kikuk menatap jendela mobil dan memejamkan matanya, mungkin memilih tidur lebih baik dibanding menyulut amarah Pria itu .
.
.
"Aku akan berhenti untuk makan siang setelah ini" Ujar Chanyeol, begitu melihat rambu merah di depannya.
"..."
Tapi tak mendapat sahutan dari bocah itu, membuatnya berdecak lalu..
"Baek—
"Unnh~"
Chanyeol menoleh cepat ke samping, saat mendengar igauan lirih itu. Ia tersenyum begitu saja melihat Baekhyun beralih posisi menghadapnya. Bocah itu terlihat teridur meringkuk dengan memeluk kedua kakinya, terlebih helaian rambut yang jatuh menjuntai dan menutupi sebagian matanya, entah mengapa.. membuat Baekhyun terlihat menggemaskan.
Sesaat Chanyeol menghela nafas, kemudian menepikan mobil untul kembali menatap bocah yang kini tertidur pulas di sisinya.
"Beraninya kau tertidur di hadapanku seperti ini" Bisiknya lirih sembari merebahkan posisi Baekhyun. Lalu menurunkan kaki yang masih tertekuk, Membuat bocah itu benar-benar terlelap nyaman di joknya kali ini.
Dirasa cukup, Ia kembali melajukan mobilnya. Sesekali mengawasi Baekhyun, kalau-kalau bocah itu terantuk jendela mobilnya, tanpa menyadari... sedikit perlakuan itu. Memberi isyarat... ada perhatian dalam dirinya.
.
.
#######
"Apa kalian tak melihat siapa diriku!" Sentak Kai setelah dua pria besar itu melepaskan dirinya. Bahkan makin berang, melihat body guard tersebut hanya memandang remeh padanya, membuatnya menunjukkan lencananya tinggi-tinggi...bermaksud menciutkan nyali dua pria berotot itu. Namun mereka hanya berdecih lalu melangkah angkuh meninggalkannya.
"Aissh! AKU POLISI! KALIAN HARUS TAU ITU!"
"HHAHAHAHAHAHA!" Hanya tawa remeh itu yang terdengar, membuatnya semakin geram menendang udara kosong di hadapannya
"Tck! ini membuatku gila!"Decaknya, seraya merapikan kemejanya... lalu melangkah tegap seakan mengabaikan tatapan minus dari beberapa pengunjung pusat perbelanjaan itu.
.
.
.
"Hyung, ini terlalu mengerikan" Bisik Taehyung, begitu Kyungsoo menariknya untuk bersembunyi di balik jajaran display pakaian dalam. Berulang kali Taehyung mengedarkan pandangan was-was, takut... polisi itu menangkapnya. Namun apa yang ia lihat hanya ratusan bahkan ribuan pakaian dalam wanita yang tergantung di sekelilingnya.
"Ini tempat yang aman...polisi itu tidak akan menemukan kita di dalam sini" Ujar Kyungsoo santai sambil terkikik kecil, dan makin beringsut ke dalam kolong display itu
"Tapi dua ahjjushi besar itu sudah menahannya Hyung, sebaiknya kita pulang saja"
"Yah! belum tentu keadaan aman. Nikmati saja, kau tidak pernah melihat semua pemandangan ini bukan? ah! tapi bagaimana dengan Baekhyun? Dua minggu lebih aku tak melihatnya masuk sekolah" Gumam Kyungsoo sembari memainkan bra di sisinya.
"Kudengar... Baekhyun memiliki Ayah tiri. Mungkin saja Dia pindah rumah " Riang Taehyung sambil terkikik kecil kemudian mengikuti apa yang namja ulzzang itu lakukan, menarik ulur bra tersebut dengan rusuh.
.
.
"Woooh! Pororo!" Pekik Taehyung tiba-tiba begitu melihat bra bergambar tokoh kartun favoritnya, lalu meraihnya dengan menggebu "Hyung aku ingin memakainya!"
"Pabbo! Memangnya kau memiliki dada sebesar itu?!"
Taehyung terkikik keras, bahkan semakin antusias meremas-remas benda itu di depan Kyungsoo.
Namun dua bocah itu tak menyadari seorang pelanggan wanita tengah memilah-milah bikin, tak jauh darinya. Hingga—
"Ommo!" Pekik wanita itu terkejut, melihat sesuatu yang hitam menyembul dari balik pakaian dalam tersebut. Kedua matanyanya makin membulat lebar, begitu sadar benda hitam itu kepala manusia. "KYAAAAAA!" Jeritnya histeris.
Dua anak itu seketika berdiri karna terkejut, membuat beberapa potong bikini dan celana dalam tersangkut di kepalanya. Tak pelak, membuat wanita itu makin menggila menjerit. hingga menarik perhatian seluruh pengunjung stand pakaian dalam itu,
semakin parah... kala semua gadis itu turut menjerit histeris.
"H-hyung B-bagaimana ini?" Panik Taehyung.
Kyungsoo kebas, melirik panik pada kepungan wanita itu. dan Ia tak berharap, tubuhnya lebam karena lemparan atau bahkan pukulan ratusan heels itu.
"Lari! V!" Serunya sambil menyeret Taehyung keluar. Namun tiba-tiba alarm berbunyi keras, begitu keduanya merangsak mesin detector, karena memang...bikini itu masih tersangkut di atas kepala mereka.
.
.
"V! Ppaliyaaa!" Teriak Kyungsoo panik, langkahnya makin oleng karna berlari tak tentu arah, membuat bra di kepalanya terkibas-kibas
"Aishhh! semuanya hitam! Mataku tak bisa melihat apapun Hyung!" Gumam Taehyung, begitu bra itu tiba-tiba merosot turun dari kepalanya, membuat dua cupnya menutupi mata namja ulzzang itu. Tapi ia tetap berlari tersendat-sendat berusaha mengimbangi langkah Kyungsoo.
"YACK!Berhenti kalian!" Teriak beberapa orang security. semakin jengkel melihat bocah itu merangsak ratusan pengunjung, dengan bra yang belum di bayar itu.
Keduanya makin ketakutan, namun sedetik kemudian Kyungsoo tersenyum lebar begitu melihat seseorang berdiri tak jauh di hadapannya. Ia mempercepat langkahnya lalu bersembunyi di balik tubuh kekar Pria itu .
"Y-Yya!Kalian—
"Aku tidak salah" Ucap Kyungsoo sembari mencengkeram kuat-kuat kaki kanan Kai. Taehyung pun melakukan hal yang sama, memeluk erat kaki kiri polisi itu
"Permisi Tuan, apa anda wali dari anak-anak ini?" Ujar seorang security
"Apa? Wali? Mereka?" Tunjuk Kai pada dua namja yang masih menggelayut erat di kakinya, detiki itu pula Ia terbelalak lebar. Begitu menyadari kedua bocah tersebut berpenampilan tak lazim. Seorang Namja mungil bertopikan sebuah bra merah marun, sementara satunya mengenakannya sebagai kaca mata.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH!" Teriaknyaa seraya menhentak kaki, membuat tubuh dua bocah itu terguncang.
"Ahjusshii~...Help me please!" Ujar Kyungsoo, sambil mengerjapkan mata
"Appa~" Rengek V tiba-tiba
"Anda bisa menjelaskannya di pos kami, untuk mempertanggung jawabkan perbuatan anak anda"
"KALIAN GILA! Mereka bukan anakku!"
"Appaaa~..."
"Ahjushiii~"
"Mari tuan..."
"YACKK! BOCAH TENGIK!"
.
.
.
"Mmhh" Gumamnya lirih, perlahan ia membuka mata dan mengerjap beberapa kali, namun tiba-tiba saja kedua manik caramel itu membulat lebar begitu melihat langit-langit kamar yang dikenalnya. Seingatnya ia tertidur di dalam mobil...dan kini tubuhnya telah terbaring nyaman di ranjang besar milik Pria pemarah itu
"Ah... T-tidak! Apa yang telah kulakukan?" Ucapnya panik, Cepat-cepat Baekhyun bangkit dan berlari keluar demi menemukan Chanyeol. merasa harus segera mungkin meminta maaf, sebelum Pria itu geram dan makin muak karna sikap lalainya.
.
.
Baekhyun melangkah pelan sambil mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah mewah itu. Tak jarang ia memeluk lengan dan mengusapnya, merasa kedinginan.
sweater baby blue yang ia kenakan tampaknya tak cukup menghangatkan tubuhnya dari suhu dingin di malam itu.
"Rumah ini besar sekali" Gumamnya masih dengan berjalan tanpa arah, namun mendadak langkahnya terhenti saat melihat sebuah ruangan tampak terbiaskan cahaya. Mungkin pemilik rumah itu, memang berada di dalamnya.
Perlahan ia benar-benar berjalan mendekat, dan sedikit mengintip ke dalam dari celah pintu yang terbuka.
Dan benar saja...
Baekhyun tersenyum manis begitu melihat di dalam sana, ah! bahkan mungkin Baekhyun sanggup berdiri berjam-jam dari balik celah pintu, demi melihat siluet di dalamnya. Seorang Pria tengah berkutat dengan buku tebalnya, dan lagi... kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya. Membuatnya semakin terlihat tampan
"Tuan..." Bisiknya lirih, tanpa sedikitpun mengerjap. Namun tiba-tiba ia terbelalak lebar, begitu menyadari Chanyeol tengah menatap pintu. Dengan panik Baekhyun beringsut duduk,dan menyandarkan tubuhnya di dinding.
.
.
Sesekali namja mungil itu menggigiti kukunya sembari menajamkan pendengarannya. Takut jika Chanyeol benar-benar menyadari perbuatannya. Namun tak ada langkah mendekat, sepertinya... Ia aman.
Masih dengan tatapan resah, Baekhyun menekuk kedua kaki lalu memeluknya erat, mencoba meleburkan suhu dingin dengan panas tubuhnya. Tak jarang bocah manis itu menggigit bibir bawahnya kala menatap langit-langit rumah Chanyeol, ia tau jantungnya tengah berdebar kencang saat ini.
dalam diam, Ia berharap besar.. pria dengan aksen dingin itu bersedia melindunginya bahkan sedikit memberi sekat untuknya. Entahlah Baekhyun merasa... sorot mata Chanyeol, terkadang sehangat milik mendiang Ayahnya
"Apa kau kemari untuk memuaskanku... hn"
'DEG'
Baekhyun berjengit terkejut, dengan takut-takut ia menoleh ke atas, dan benar saja...Chanyeol memang berdiri tegap sambil bersidekap angkuh.
Bocah itu menggeleng kasar lalu bangkit berniat meninggalkan Chanyeol, tapi belum sempat mengambil langkah... Pria itu lebih dulu mencekal pergelangan tangannya, dan memaksanya masuk ke dalam ruangan miliknya
.
.
'CKLEK'
"T-tidak... Tuan" Mohon Baekhyun sambil melangkah takut kebelakang, begitu menyadari Chanyeol mengunci pintu dan membuang asal benda itu.
Namun Chanyeol hanya menyeringai sinis, membuatnya panik meraba-raba meja di belakangnya, hingga beberapa dokumen penting milik Chanyeol berjatuhan, Baekhyun berusaha sebisa mungkin menghindari Pria itu , walau nyatanya semua akan tetap sia-sia.
"Buka bajumu" Titah Chanyeol telak.
Baekhyun membulatkan mata lebar, ia meremas tangan kuat-kuat dan memalingkan wajah. "Aku bukan pelacur "
"Tch!" Decih Chanyeol, Pria tu beralih melenggang ke sofanya dan duduk menyilangkan kaki dengan santai. Masih dengan memasang wajah stoic itu, ia membenarkan letak kaca mata dan menatap Baekhyun... tajam
"Sepertinya kau lebih memilih cara kasar hn?"
Ia tercekat, seakan kilat tajam dari lensa minus itu benar-benar membuatnya gemetar. Kendati demikian, Baekhyun tetap bergerak ke belakang menghindari Chanyeol.
Merasa apa yang dihadapinya hanya menyita waktu, Pria itu beralih bangkit dan melangkah mendekati Baekhyun, bahkan semakin menyeringai puas melihat bibir cherry itu tampak bergetar dan terus menerus digigit kuat.
"Apa kau takut?" Bisiknya tanpa melepas seringai dari bibir merahnya.
Baekhyun tak menjawab, terus memalingkan wajah ... hingga mungkin nanti Ia menemukan celah untuk melarikan diri
"Tck! Tatap mataku saat aku berbicara denganmu!" Sentak Chanyeol seraya memalingkan wajah Baekhyun menghadapnya.
"Kkhh~" Berulang kali Baekhyun mencakar tangan besar yang mencengkeram lehernya, namun semakin ia berontak semakin kuat Chanyeol mencekiknya, tak hanya itu... Tubuhnyapun turut dihempas di atas meja kerja itu. membuatnya memekik nyeri, karna kerasnya benturan
"Le—phas!...a-aku khhh~!"
"Menangislah...karena itu yang ku inginkan Bitch!"
Dendam kembali menutup mata hatinya, wajah itu benar-benar mengingatkannya pada pembunuh ayahnya. Chanyeol makin meradang mencekik Baekhyun, bagaimanapun namja mungil itu memang harus menderita di tangannya.
Baekhyun menggeleng lemah, ia tak berharap Chanyeol kembali merubah perangai. Tapi semua perlakuan kasar itu, semakin nyata... tak ada iba untuk dirinya
"Nnhh kkh~"
'Aku tak kan membiarkan putramu bahagia...Keparat!' Umpat Chanyeol dalam hati.
"Puaskan aku" Ucapnya seraya melepas cengkeramannya.
Namja mungil itu menatap berang."TIDAK!" jeritnya, tak ingin diperlakukan serendah itu
Baekhyun kembali berusaha bangkit, namun tiba-tiba...
'CKLAK'
Hanya dalam hitungan detik, sebuah borgol memasung pergelangan tangannya
"J-jangan melakukannya lagi!" Baekhyun memekik panik, menyadari Chanyeol melucuti seluruh pakaiannya hingga polos seutuhnya, dan hanya menyisakan sweater baby blue yang tersangkut di lengannya.
Alih-alih mendengarnya, Chanyeol lebih memilih meraih sesuatu dari balik mejanya. Benda yang jauh-jauh hari telah ia persiapkan untuk kondisi semacam ini.
"Ku mohon Tuan! Tidak! Jangan lakukan ini!" Pinta Baekhyun lagi, ia kembali menggeleng melihat semua benda-benda hitam di tangan Chanyeol. meski tak paham dan memang tak mengetahuinya, Tapi Baekhyun tau pasti semua benda asing itu... bukanlah selayaknya yang harus diterima oleh tubuhnya
"A-pa salahku?! hingga kau memperlakukan~Akhh!"
Tubuhnya melengkung ke atas, begitu sesuatu yang dingin dan bergetar keras dilesakkan ke dalam rektumnya dengan sekali hentak.
"Henti~ Ahnn~"
Chanyeol makin menyeringai puas, melihat Baekhyun melengking keras ketika ia menambah intensitas vibratornya menjadi maksimum.
"AH!" Baekhyun mendongak hebat, merasakan benda asing itu melesak semakin dalam dan mengorek prostatnya dengan kasar, membuat kedua kakinya secara reflek mengangkang lebar.
"Kau tidak puas hn?" Bisik Chanyeol tepat di telinga Baekhyun. Ia mengambil anal beads di sisinya, menimang-nimangnya sesaat tanpa melepas tatapan intensnya dari wajah penuh siksaan nikmat itu.
"Ssshh.. " Desisnya seraya melesakkan satu beads berukuran sedang itu kedalam rektum Baekhyun, membuat Baekhyun terbelalak nanar, bahkan makin menggelinjang di bawahnya
Seolah tak puas dengan reaksi itu , Chanyeol kembali melesakkan 4 beads di tangannya tanpa jeda. Membuat Baekhyun menjerit keras. Getaran membentur lima bola keras di dalam lubang analnya membuat perutnya semakin sesak, tapi Ia tak bisa mengelak... jika tekanan itu, mengalirkan kejut yang lain... hingga perlahan precum mulai merembas deras dari ujung genital mungil itu.
"NNN~ AHH!"
.
.
"Aaanghhh~... ah! ahhh! HENTIKANH!" Meski berontak, namun tubuh mungilnya tetap menggigil dan menggeliat nikmat. Baekhyun ingin menangis... tapi nyatanya hanya jeritan binal itu yang mengalun dari bibirnya
"Ku mo—hon~ nghah! Tuan—angh!" Baekhyun mengangkat kedua tangannya, menatap pias Pria itu... seakan memohon agar Chanyeol memeluk dan merengkuh tubuhnya.
"Semudah itu kah kau mengemis padaku Byun Baekhyun?"
"Hks..." baekhyun mencelos sakit. Lalu beralih menurunkan tangannya, dan meremasnya sendiri. Membiarkan rangsangan tanpa sentuh itu... semakin membuat tubuhnya menggila.
"K—keluarkan! ngh! aaahh!" Lirihnya sembari kembali menggeleng lemah. "Keluarkanh—Aghh!" Baekhyun kembali menatap pias Chanyeol, berharap Pria itu mengeluarkan semua benda asing dalam tubuhnya. Tubuhnya tak mampu lagi, semua kejut nikmat itu terlalu berlebih untuknya. Bahkan tak terhitung berapa kali Ia menyentak klimaks
"Jika itu maumu" Singkat Chanyeol, seraya menarik kasar anal beads tersebut, dan detik itu pula...
"AAAHHHH!" Baekhyun menjerit dengan tubuh melengkung hebat. Begitu klimaks kembali menyeruak menyertai tarikan kasar semua anal beads itu dari rektumnya.
.
.
"Kau tidak mengemis padaku lagi hn?"
"Hhh...hhh Breng—sek!"
"Ah! Kau mulai mengumpat padaku lagi? lalu, kemana perginya sikap lemahmu hn? Atau haruskah kita bercinta, agar kau tunduk padaku?"
Baekhyun menatap nanar , berharap lebih pada Chanyeol rupanya tak memberinya sekat apapun. Ia tetap berakhir seperti ini, tanpa iba... bahkan terlihat tak puas sebelum tubuhnya benar-benar melunglai payah.
"Bu-nuh aku! jika kau~ ARRGHT!"
"Tutup mulutmu Byun Baekhyun!" Geram Chanyeol sembari mendorong kasar penisnya, ke dalam lubang anal yang telah basah itu.
Seakan emosi itu, tersulut begitu saja.. mendengar Baekhyun bicara demikian.
.
"Mhmfgh~ahh! Akh! Hen-ti! akk~" Meski bibirnya telah ia gigit kuat, bahkan hingga berdarah. sentakan itu tetap saja menyedak rektumnya.
Membuatnya terlonjak kasar, tanpa bisa berpegang pada apapun selain lengan kekar Chanyeol
Berulang kali kepalanya menggeleng, ia tak menginginkan semua ini. karna ... Chanyeol tak mencintainya, Pria itu hanya ingin menghancurkan hidupnya dengan semua perlakuan rendah itu.
"B-berhenti! Akhh...ahnnn~ Ahh!"
"Nikmati saja... bukankah kau menyukai semua ini? Menangis dan mengemislah padaku" Chanyeol menekuk kaki Baekhyun ke atas hingga menyentuh dada, kemudian kembali menghentakkan penisnya lebih kuat.
"Karena itu yang seharusnya kau lakukan untukku!" Desis Chanyeol lagi.
Sebentuk hati kembali remuk
Baekhyun tak tau, kapan semua ini berakhir dan dipaksa membiarkan Chanyeol menggunakan tubuhnya hanya sebagai pelampiasan nafsu. Pria itu sama sekali tak ingin memeluknya bahkan memberinya ciuman sebagaimana mestinyapun tidak,
Ah! Ya...
Ayah tirinyanya telah menjualnya pada orang seperti ini..
Bagaimana jika Ibunya melihat semua ini?
Merasa tak tahan dengan luka batin itu, Baekhyun mengangkat kepalanya lalu—
BRAKKK
Ia membenturkannya sekeras mungkin ke meja. "Ahh~" Segalanya tampak berbayang, meskipun kepalanya berdenyut hebat, tapi semua ini yang diinginkannya, tenggelam dalam fraksi berbayang tanpa merasakan hentakkan kasar pria itu.
Baekhyun mengulas senyum getir...sebelum ia benar-benar jatuh pingsan.
"B-Baekhyun..." Chanyeol tersentak, tak menduga bocah itu akan berbuat sejauh ini. Ia terlalu dibuai nafsu, hingga tak menyadari Baekhyun menghempas kepalanya seperti itu.
Membuatnya beralih cepat mengeluarkan genitalnya beserta vibrator itu dari dalam rektum Baekhyun,
"Apa kau gila?!" Serunya setelah menaikkan zipper celana. Chanyeol bergerak cepat mengangkat tubuh mungil itu, namun belum sempat ia melakukannya.. kedua matanya kembali terbelalak lebar, menyadari sesuatu merembas dari kepala Baekhyun.
Semuanya terlihat pekat.
Telapak tangan itu benar-benar dipenuhi rembasan darah segar. Apa yang dipikirkan Baekhyun sebenarnya, begitu mudah berbuat senekat itu melukai dirinya sendiri.
"H—hei!" Panggilnya seraya menangkup wajah pasi itu.
Tapi bocah itu telah lunglai, bahkan semakin pucat... membuatnya bergerak kalut, mendekap kepala Baekhyun berusaha menghentikan rembasan darahnya. tak peduli kemeja putihnya telah penuh dengan noda darah
Masih dengan sorot mata tak tentu arah, Chanyeol meraih gadget hitam demi menghubungi dokter pribadinya.
.
.
.
.
"Bagaimana kondisinya?" Sergah Chanyeol merasa jengah, lebih dari dua jam lamanya Dokter itu menangani Baekhyun.
"Apa anak itu terjatuh?"
Chanyeol mendesah berat, bukan pertanyaan bodoh itu yang diharapkannya melainkan kondisi Baekhyun sendiri. Dengan gusar ia melangkah hendak memasuki kamarnya, namun tiba-tiba dokter muda itu menahan tangannya.
"Baekhyun baik-baik saja, luka di kepalanya akan sembuh untuk beberapa hari ini. Hanya saja, emosi anak itu tak stabil Yeol, aku tak tau, apa yang kau lakukan padanya selain memperkosanya seperti itu. Tapi ku harap, segera hentikan semua ini, atau kau akan menyesalinya" Tegas Luhan meyakinkan. Namun melihat wajah pria itu mengeras membuatnya lekas memutar tubuh dan mengemas semua peralatan medisnya, ia tau... percuma berbicara dengan pria tempramen seperti Chanyeol.
"Dia masih kecil... di mana perasaanmu sebenarnya? bar-bar" Ucapnya masih dengan mengemas semua benda medis miliknya
"Kau—
"Aha! aku tau kau memang Tuan pemilik segalanya, tapi ingatlah... aku yang menjaga si kecil Chanyeol. Bahkan Dia selalu memanggilku Hyung~ie... apa kau lupa?" Tekannya seraya mengerjapkan mata.
"..."
Dirasa, Pria itu hanya diam... Luhan beralih meraih jas medis di atas sofa. "cha, sebaiknya aku pergi... perhatikan sikapmu kali ini Yeollie" Pria cantik itu terkikik kecil, sebelum benar-benar melenyapkan diri ke dalam mobil silvernya.
Chanyeol mengumpat lirih, namun tetap saja merasa tak bisa menyentak Luhan. Ia tumbuh bersama sosok yang kini menjadi Dokter itu. Dan masa lalu itu.. tentu tak terlepas dari hidupnya. Sejujurnya Ia berhutang banyak pada sosok bernama Luhan.
Sejenak melihat kepergian Luhan dari balik teralis jendelanya, lalu setelahnya ia melangkah memasuki kamarnya. Dan di sanalah Ia melihat Baekhyun terbaring pasi denga lilitan perban di kepalanya.
membujuknya berjalan mendekati Baekhyun dan mendudukkan diri di sebuah kursi, tepat di samping Namja mungil itu terbaring.
Chanyeol terdiam dan hanya mengamati lekat paras anak itu, namun mendadak Ia merasa terusik kala melihat jejak-jejak air mata yang belum sepenuhnya mengering.
Membuatnya kembali mengingat bagaimana Baekhyun melukainya kepalanya. Tak hanya kali ini saja Baekhyun berbuat sejauh itu, sebelumnya ia melihat Baekhyun pernah menegak seluruh obat pemberiannya, tanpa sisa.
"Aku membelimu bukan untuk melihat dirimu yang serapuh ini"
.
.
.
Esoknya...
"Ukh..." Rintih Baekhyun saat berusaha membuka matanya, semakin payah dan teruhyung begitu nyeri itu semakin berdenyut parah
"Kau bisa bangun?"
Baekhyun membuka mata lebar begitu mendengar suara familiar itu, ia menggigit bibir berusaha kuat untuk bangkit untuk mendudukkan dirinya sendiri
"Berbaringlah saja jika—
"Tak perlu" Singkat Baekhyun seraya menyentak tangan Chanyeol yang berniat meraih tubuhnya.
Chanyeol berdecih lirih, tapi setelahnya ia mengambil sebuah nampan berisi sup dan segelas air putih, lalu diletakkanya di samping Baekhyun.
"Habiskan sup ini... lalu minum obatmu"
Kedua manik caramel itu melirik sesaat, kemudian kembali menatap kosong lantai marmer di bawahnya. "Aku tak butuh makanan itu" Lirihnya.
"Apa kau ingin selemah ini? Cepat—
'PRANK'
Baekhyun menghempas kasar nampan itu dari tangan Chanyeol, membuat sup itu terbuang percuma bersama pecahan gelas disekitarnya.
Tak ada reaksi apapun dari Chanyeo, wajah itu sepenuhnya datar. Tanpa suara... Pria itu melangkah pergi menuju pantry, meninggalkan Baekhyun yang masih menunduk dengan tatapan piasnya.
.
.
Hingga beberapa menit setelahnya..
"Makanlah " Ujar Chanyeol setelah mengambil sup hangat untuk Baekhyun. Ia tau benar, bocah itu selama 1 hari lebih, tak menyantap apapun.
Tapi yang terlihat, Baekhyun tetap saja diam tertunduk... sama sekali tak ingin menatapnya
Merasa jengah, Chanyeol menyentuh dagu Baekhyun dan membuatnya menatap padanya. "Jangan merepotkanku! cepat habiskan makanan ini"
"Aku hanya pelacur... tak perlu kau beri makan, bukankah kau hanya membutuhkan tubuhku, setelah aku mati! kau bisa mencari tubuh yang lain!"
Chanyeol terhenyak, sepersekain detik... Ia merasa dadanya mendadak sesak. Seakan tak merelakan Baekhyun mengungkapkan semua kalimat itu.
"Baekhyun!" Bentaknya sembari memegang kedua bahu Namja mungil itu.
Baekhyun menatapnya sesaat, tapi setelahnya...ia menepis tangan Chanyeol ,dan beringsut menuruni ranjang. "Aku akan membersihkan rumah ini" Ucapnya lirih.
Baekhyun begitu tertatih menyeret langkahnya, tak peduli darah merembas dari kakinya yang menginjak pecahan gelas. "Tubuh yang kau beli ini, tak seharusnya berbaring di ranjangmu bukan?!"
Membauat Chanyeol gusar, memaksanya mengangkat bridal tubuh ringkih itu dan kembali membaringkannya di ranjang.
"Jangan keras kepala!"
"Jika kau ingin aku mati! mengapa tak membunuh—
"BAEKHYUN!"
.
.
.
Kedua mata itu terpejam erat, saat Pria itu menyeka dan mengobati luka di kakinya. Ia tak mengerti untuk apa Chanyeol sebaik ini terhadapnya, mungkinkah telah berubah? Ataukah hanya saat dirinya sakit, Pria itu bersedia bersikap lembut terhadapnya.
Baekhyun terseyum getir, terlalu mustahil mengira pria itu telah berubah. Bukankah Chanyeol selalu menganggapnya pelacur... seseorang yang mengemis pada Pria seagung dia. Sebesar apapun perasaannya untuk sosok itu. Chanyeol...,tetap akan bersikap kasar padanya
.
.
"Aku harus pergi, habiskan sarapanmu" Ujar Chanyeol pelan
Namja mungil itu membuka matanya, lalu memandang Chanyeol lekat.
"Apa semua ini... karna aku sakit?"
"Apa maksudmu?"
"Kau, bersikap baik seperti ini, apa karna diriku sakit?...jika benar begitu, aku tak ingin sembuh"
Chanyeol berdecak keras, tak pernah menduga... Baekhyun begitu kekanakan dan keras kepala.
"itu yang kau harapkan? Denga.. aku tak akan pernah berbaik hati padamu, meskipun kau mati sekalipun!" Ucapnya sarkatis.
"Aku tau" Lirih Baekhyun, seraya memutar tubuh membelakangi Chanyeol dan memejamkan matanya. membiarkan sesuatu yang berdenyut ngilu itu... teredam dalam batinnya sendiri.
Chanyeol menghela nafas berat, merasa frustasi...
kata-kata itu terlontar bukan atas keinginannya. Keangkuhan yang dimilikinya, membuat pribadinya begitu keras dan mungkin arogan.
Pria itu bergerak ragu hendak menyentuh kepala Baekhyun, namun ia urungkan niat tersebut. Dan memilih melangkah menjauh secara perlahan.
"Aku akan pulang sedikit lebih malam" Ucapnya di ambang pintu sembari menatap punggung sempit itu. Senyumnya terulas begitu saja, menyadari Baekhyun mengangguk pelan.
"Aku pergi" Ucapnya lagi, lalu melesat cepat menuju mobilnya.
.
.
.
######
"Bukankah dendammu telah terbalaskan dengan menyakiti anak itu?"
Chanyeol hanya diam, kedua matanya tetap fokus menelisik dokumen-dokumen penting di tangannya.
"Dia hanya seorang bocah"
".."
Sehun mendengus jengah, menyadari racauannya berbuah percuma. Dengan kesal ia menduduki meja Chanyeol dan menatapnya tajam.
"Luhan bilang, Kau juga memperkosanya!Apa kau seorang maniak?" Bisiknya seraya menepuk-nepuk pundak Chanyeol.
"Sehun-shi!"
Chanyeol menggebrak meja geram, membuat Sehun menuruni meja itu sembari terkekeh pelan.
"Aku hanya memperingatkanmu, apa kau sudah selesai dengan semua dokumen itu?"
Tanpa menatap lawan bicaranya, Chanyeol berdehem seraya menautkan jemari di depan keningnya.
"Baiklah...aku pergi, Ah! 1 jam lagi kau ada pertemuan penting dengan Tuan Kwon ... ingat, Pria aneh itu sudah membuat janji denganmu"
"Hn..."
.
.
.
.
Tak seperti yang Ia janjikan sebelumnya, pada Baekhyun
Dirinya kali ini benar-benar pulang terlalu larut..
Chanyeol melangkah gontai memasuki kediaman mewahnya, dengan malas ia melonggarkan ikatan dasi lalu melempar jasnya kesembarang arah.
"Aku sudah menyiapkan makan malammu."
Langkahnya terhenti begitu mendengar suara lembut itu, ia menoleh ke samping dan berdehem kikuk melihat Namja mungil itu memungut dan melipat jasnya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Chanyeol kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Baekhyun yang tampak kecewa akan sikapnya.
.
.
.
"Kau yang membuat semua ini?"
"Ya"
Chanyeol tampak mengangguk sesaat. "Tidak ada racun yang kau letakkan di dalam makanan ini bukan?"
Baekhyun menunduk, tersenyum kecut... sada semua ketulusannya hanya berbuah prasangka. Perlahan namun pasti ia mendekat, dan mengambil satu-persatu hidangan di hadapan Chanyeol.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Chanyeol heran.
"Membuangnya"
"Apa?"
"Aku tak ingin kau sakit karena memakan masakanku... Tuan"
Chanyeol berdecak keras, dengan gusar ia kembali merampas semua hidangan itu dari tangan Baekhyun, dan menyantapnya dengan lahap.
"Kau pikir...semua bahan makanan ini, tak ku beli dengan uang?! Seenaknya saja kau~ Uhuukk~!" Chanyeol mendadak tersedak dan terbatuk payah.
"Pelan-pelan" Bisik Baekhyun lirih, sembari membantu meminumkan segelas air mineral untuk Chanyeol. Meski cara bicaranya tetap kasar... tapi setidaknya Pria itu bersedia menatap matanya
.
.
"Terima kasih"
"Untuk apa?"
"Kau sudah bersedia memakan semua ini" Ucap Baekhyun seraya merapikan peralatan makan tersebut.
Chanyeol berdehem gugup sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah, asal bukan Baekhyun.
"Semua makanan yang kau buat, menggunakan uangku. Aku hanya tak ingin menghamburkan uangku"
Namja mungil itu mengangguk dengan senyum manisnya, biarlah seperti ini, asal Chanyeol tak memperlakukannya kasar seperti beberapa hari lalu.
.
.
Sesekali ia menguap seraya memijat tengkuknya yang pegal, berkutat selama lebih dari 3 jam di ruang kerjanya, sepertinya makin merabunkan matanya. Chanyeol beralih melepas kaca mata minusnya, dan melirik arlojinya.
"Hhhh" Desahnya pelan. Kala melihat jam telah menunjukkan pukul 12 malam, ia bangkit namun tiba-tiba mengernyit begitu melihat secangkir teh yang telah mendingin di sisinya.
Flash Back On
.
"Masuklah!" serunya, saat melihat Baekhyun sedari tadi bergerak gusar di ambang pintunya. Ia tau Baekhyun tengah ragu... tapi itu sangat mengusik konsentrasinya.
Baekhyun tersentak, dengan takut-takut namja mungil itu melangkah kecil memasuki ruangannya.
"Aku membuatkan minuman hangat untukmu" Ucapnya sembari meletakkan teh di sisi Chanyeol. Ia meremas ujung bajunya kuat-kuat, kala Pria itu tak sekalipun berniat memberi jawab nampaknya... semua dokumen itu lebih berharga dari apapun.
"A-aku pergi" Ucap Baekhyun lagi sembari memeluk nampannya, dan berjalan keluar. walau terkadang ia menoleh ke belakang...berharap Chanyeol menyentuh tehnya. Tapi tetap saja Pria itu masih terlihat sibuk dengan semua dokumennya.
.
.
Flash Back Off
"Kau mencoba membuatku luluh? Tsk" Decih Chanyeol sembari menegak teh yang telah mendingin tersebut, hingga tak bersisa.
.
.
.
Terlalu lama untuk meregang rasa kantuk itu, dan tak seperti biasanya Ia terjaga selarut ini. Tentu bukan main lagi, betapa lelah dirinya kali ini. Chanyeol beralih menuju kamarnya, lalu memejamkan mata cepat begitu membaringkan tubuhnya di ranjang king size itu, namun tiba-tiba ia membuka mata gusar... saat menyadari Baekhyun tak di sinya.
Dengan kasar ia menyibak selimut, dan melesat cepat menemukan Namja mungil itu.
.
.
"Tck!" Chanyeol berdecak lidah, melihat Baekhyun tidur meringkuk di sofa ruang tamu miliknya. Perlahan Ia mendekat lalu mengangkat bridal tubuh mungil itu untuk di bawanya ke dalam kamarnya
Sesuatu kembali membuathya merasa sesak, begitu menatap lilitan perban putih di kepala Baekhyun. Chanyeol sepenuhnya tau semua karna dirinya. Tapi bagaimana mungkin bocah itu tak menaruh sedikit pun rasa benci terhadapnya, bahkan selalu bersikap penuh perhatian.
'Mengapa kau sebodoh ini' Gumamnya dalam hati sembari mengulas senyuman hangat.
"Nnh" Baekhyun terbangun dan membuka mata karena terusik. Namun seketika itu membulatkan mata lebar begitu menyadari Chanyeol tengah menggendongnya bridal.
".."
Tak ada sepatah katapun. Chanyeol hanya diam, sama sekali tak menghiraukan raut kalut bocah dalam rengkuhan tangannya. Dan berjalan setenang mungkin memasuki kamarnya.
.
.
"Tidur" Tegasnya, sembari membaringkan tubuh mungil Baekhyun di ranjangnya.
"B-biarkan aku tidur di luar saja... aku tak ingin mengganggu tidurmu Tuan"
"Tidur! Dan jangan melawanku!" Seru Chanyeol keras, membuat Baekhyun cepat-cepat beringsut ke dalam selimut dan memejamkan mata erat. Nyalinya terlalu ciut melihat Chanyeol membentaknya demikian.
Chanyeol tersenyum kecut melihatnya, sekali lagi... semua ucapan kasar itu bukan atas keinginan hatinya.
Tangan kanannya terangkat... ingin menyentuh namja mungil itu. dan menyeringai tipis kala menepuk pelan kepala Baekhyun yang terbungkus selimut tebal miliknya.
"M-maaf" Cicit Baekhyun lirih.
"Kau tak memiliki pilihan lain selain tunduk padaku.."
.
.
Sementara itu di tempat lain...
.
.
"Sial! Bedebah itu sulit ditaklukkan!"
'BRAKKK'.
Gebrakkan meja itu menggema mengiringi hembusan nafas geram seorang pria berpenampilan eksentrik.
"Haruskah aku membunuhnya, seperti yang pernah kulakukan pada Ayahnya dulu... Babe?"
Kwon Jiyong terkekeh licik seraya mengecupi buah cherry di tangannya.
"Jika itu bisa membuatku merebut perusahaanya" Ia mengunyah angkuh buah cherry tersebut, hingga cairan merah itu meleleh keluar dari sela-sela bibirnya.
"Bunuh Park Chanyeol ...untukku, Top" Lanjutnya dengan menyeringai tajam.
.
.
.
.
.
To Be Cont...
Haiiiii Annyeong ... Gloomy hadir nih bawa chapter 3 nya,
Kemarin, Heart Attack sudah update yaa :)
Selanjutnya mungkin (...)
Hayo diisi apaaaa?
Review Jusseyoo, jika ingin kami update terus...
IG : gloomy_rosemary
dan untuk:
Ninis , neniFanadicky, chanbaek92, LHR Official Couple Shipper, restikadena90 , 90rahmayani, buny puppy, byunnami, Marshsamallow614 , khakikira , ctbisreal, RurohFujoCbHs, hulas99, fintowikson, Lussia Archery , kimkad , YaharS , Aisyah1, LyWoo, Byun soo byung, Yana Sehunn, baekkachu09 , Poppy20 , baekxylem , selepy , byunnami , Lusianabaconcy0461, bbhunyue, chanbaekis , mawar biru, love Elan , thevEXO, WinterJun09, tkxcxmrhmh , mii-chan07 , vryeol , Dodio347, baekby aeri04 , ChanBaekGAY , EyiLy , metroxylon, Fiyaa04, baby baek , Deliscius, Wahidah Putri Utami , chalienBee04, xiluhan74 , cbforever00, Yeolliebee , PinkuBlue614 , rimaa , kimi2266, YaharS , baekchann18, Avisyell756 , AuliyaRchy , byunlovely, ruukochan137, veraparkhyun , park chan2 , baeeki6104, chanbaek1597, byunlovely , bbhunyue, kkaiii, Hyo luv ChanBaek, Siapa Hayo, myliveyou, LightPhoenix614, Chanbaeknaena, Asandra735 , tyas 614, AnggunBBH06, AmyGAHF, Merina, dwi yuliantipcy , Shengmin137, kitukie, shereen park, yiamff , jempolnya pcy , Hyera832, Riinnchan, Ricon65 , BambiLuhan , Byunexo, SMLming , babyyh , chayeonlee , Sitachaan, Ziiwandha, hananachan, bbyLyi , hosh10 , hunhanshin, Loey761,dan all Guest
Terima kasih banyak sudah mereview di chapter sebelumnya
Jangan lupa review lagi
Annnyeeeeeeeooong
SARANGHAAAEEEEEEEEEEEEEEE
