Main Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Other Cast : Exo
Disclaimer: Cerita ini milik Gloomy Rosemary (Cupid Kyumin)
.
.
.
Previous Chapter
"Aku rasa anak ini sangat berharga untuk Chanyeol, kita bisa menjadikannya umpan."
"Awesome! Aku tak sabar menjadikan perusahaan itu milikku Top!"
Namja kekar itu mengecup kening Jiyong sekilas, lalu terkekeh pelan. "Kita bergerak esok hari, semua akan menjadi milikmu."
.
.
...
CHANBAEK
YAOI
FANFICTION
Gloomy Rosemary
Silent Regrets
Chapter 4
...
"Aishh! aku bisa gila!" pemuda itu kembali merutuk diri. "Jadi apa maksudnya semua ini hah?!" Serunya lagi, semakin gusar kala menelisik semua berkas usang di hadapannya. berkali-kali pena hitamnya bergerak random, menghubungkan tiap objek dari berkas dan potret itu. Terlalu mustahil menguak misteri kematian bertahun-tahun silam, terlebih tak ada spesifikasi jelas mengenai pihak pembunuh dalam kasus ini. Dan lagi... kasusnya sudah ditutup
"Tck! Ahjusii! Bagaimana mungkin kau memberiku bukti tak jelas seperti ini?! Siapa T.O.P? Siapa Choi Seunghyun? Dibandingkan ini, seharusnya kau memberiku wasiat untuk menikahi Baekhyun saja" Racaunya lagi seraya menatap siluet kekar dalam frame foto di sampingnya, Byun Yunho.
Apa yang kini dalam genggamannya bukanlah sesuatu yang sebenarnya patut untuk diabaikan, karna keadilan seseorang tengah dipertaruhkan di sini.
Flash Back On
"Ahjussi, bukankah hampir enam bulan setelah presdir Park terbunuh, seluruh aset perusahaannya jatuh ke tangan Kwon Jiyong? Aku yakin orang itu di balik pembunuhan ini"
Yunho tersenyum, lalu setelahnya menepuk telak kepala Kai dan tertawa keras begitu mendengar pemuda itu meraung kesakitan.
"Semula memang semua bukti mengarah pada Kurator Kwon, tapi setelah muncul orang ini—" Yunho mengetuk-ngetukkan jarinya pada sebuah potret seseorang. "Bukan Kwon Jiyong pelakunya, dan satu hal lagi...kemana perginya Taemin dan Chanyeol, mereka menghilang begitu saja setelah rumah itu disita perusahaan... aku benar-benar mencemaskan keduanya"
Kai terbelalak, cepat-cepat Ia meraih potret itu dari tangan Yunho lalu menantapnya lekat.
"Whoa...Siapa orang ini? apa dia Yakuza?" Celetuk Kai tiba-tiba, Sama sekali tak mengindahkan Yunho. Membuat Pria kekar itu kembali memukul keras kepalanya dengan sebuah pena.
'CTAK'
"A-Aiyy! Ahjushii!."
"Bersama Bocah tengik sepertimu hanya membuang-buang waktuku aisshhh!"
"Apa yang salah denganku, lihat luka gores di wajahnya...orang ini seperti Yakuza, siapa dia?" gumam Kai setelahnya.
"Dalam penampilan seperti ini, dia T.O.P." Ujar Yunho sembari menunjuk satu foto."Lalu jika dalam penampilan seperti ini, Dia... Choi Sunghyun" Jelas Yunho lagi, menunjukkan foto lain dari seorang yang berbeda penampilan.
Kai makin mengerutkan dahi, tak mengerti. Menerka apa hubungan Pria dalam foto itu dengan kematian Presdir ternama itu.
"Tsk! Pulanglah... untuk apa selarut ini di kantorku hm? bocah sepertimu tak mungkin mengerti hal semacam ini"
"Yya! memang sudah seharusnya aku di sini" Sungut Kai sembari memaksa, meraih berkas di sisi Yunho.
Yunho menggeleng pelan, tak habis pikir bagaimana anak itu tak memiliki rasa takut sedikitpun dengannya lalu terkekeh pelan begitu menyadari kesungguhan dari sorot mata elang Kai
Sementara Kai hanya menyengir lebar, tentu saja semua ia lakukan demi Baekhyun.
"Kau tak menemui Putraku?" tanya Yunho tiba-tiba.
"Aihh.. seperti kau mengizinkannya saja Ahjussi" Ujar Kai malu-malu sambil mendorong lengan Yunho.
"Haha... jadilah seperti diriku jika kau ingin bersamanya"
"Ooh! Tentu saja Ahjussi!"
"Kau pikir kau mampu melakukannya, sangat mustahil"
"Akan kubuktikan!"
Kepala polisi itu terdiam, sedetik kemudian ia menghela nafas dan menyesap kopi hitam dalam cangkirnya. "Selesaikan akademimu"
"Sedang proses" Singkat Kai.
.
.
Suasana seketika hening, hanya terdengar decakkan dan gumaman halus dari Kai yang begitu seksama mengamati setiap potret di meja Yunho.
"Aku rasa sisa waktuku hampir habis"
Kai mengangkat kepala untuk menatap pria kekar itu. "Yya! Apa maksudmu bicara seperti itu?! Tck menyebalkan mendengarnya"
"Jika memang tiba waktunya, kuserahkan semua kasus ini padamu"
"Aissh! bicara omong kosong apa itu?! berhentilah"
.
.
.
Beberapa Hari Kemudian...
Kai tersentak kala ponsel dalam sakunya bergetar keras, dan makin terbelalak begitu melihat nama yang tertera dalam gadget hitam itu. cepat-cepat ia berlari ke toilet, bisa celaka jika kepala asrama polisi itu mengetahui dirinya membawa ponsel saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
"Yeobbse—
"Ah, Kai! .bisakah kau menjemput Baekhyun hari ini?"
"Ahjussi apa kau mabuk? aku di asrama! tentu saja—
"Jangan biarkan Putraku menunggu lama arrasseo? Ah...aku berhasil melacak jejak Choi Seunghyun"
Kai mengernyit mendengar sahutan line telfon tersebut, dari suara bising yang terdengar ia yakin betul Yunho tengah mengemudi dengan kecepatan tak wajar
"C-choi Seunghyun? Siapa—
"Kau ingat T.O.P? Dia—~ BRAAAAKKKK
Tuuut tuuuut...tuuut
"A—Ahjjussi? Yya! Kau masih di sana? AHJUSSI!"
.
.
.
Flash Back End.
"Hhh...bagaimana bisa semua ini terjadi?" Keluhnya seraya memijit kening.
"Ahjushii...apa kau sakit?"
"G-GYAAAA!" BRAAKKKK
Kai mendadak terjungkal ke belakang, begitu sesosok kepala muncul dari bawah mejanya.
"Aku mengejutkanmu?" Sosok mungil itu beranjak berdiri lalu berlari kecil menghampiri Kai dan membantunya duduk dengan benar.
"B-bagaimana bisa kau masuk rumahku?"
"Ibumu yang membiarkanku masu."
"Tsk! Bukan itu maksudku...kau—bagaimana bisa kau tau rumah ini?"
Bocah itu terkikik kecil, lalu mengecup pipi Kai
'Chup'
"Ra-ha-sia" Ujarnya riang, sambil mengingat kembali betapa hebat dirinya kala mengikuti Kai secara diam-diam.
Kai masih mematung tak biasa menerima kecupan lembiut itu, bahkan hingga membuat seluruh bulunya meremang, tanpa Ia ketahui bagaimana pula wajahnya terasa panas
"O..o, siapa Ahjussi ini?" Tanya Kyungsoo tiba-tiba begitu melihat beberapa foto yang tersebar di meja Kai.
"Tck! Bukan urusanmu!"
Kyungsoo mendelik.
"Ahjushii...wajahmu memerah?"
"Tsk! Berisik!" Kai beralih bangkit untuk menyambar cepat kunci mobilnya.
"kemana huh?"
"Menemui Baekhyun"
Kyungsoo beralih menggandeng cepat lengan Kai, tak peduli polisi itu kembali berteriak risih. "Y-YAAA!"
"Aku ikut!"
"Aissshhh"
.
.
.
#####
Sesekali ia bersenandung lirih sembari memainkan jemari panjangnya pada stir kemudi itu. Jalanan seoul memang padat malam ini, tapi rasanya semua jerit klakson itu sama sekali tak mengusik dirinya. Seharusnya emosinya turut memuncak dengan suasana tersebut, namun yang terlihat ... pria itu terlihat begitu tenang bahkan sesekali mencuri senyum.
Semua kian beralasan jika itu tentang Baekhyun. rasa manis dari bibir mungil itu ...masih lekat ia rasakan, dan entah mengapa... membuat hatinya terasa ringan sepanjang hari ini
Chanyeol beralih menatap boneka bunny putih yang terduduk polos di sisinya, benda yang 15 menit lalu ia beli begitu melintasi pusat perbelanjaan.
Mendadak Ia ingin tau, apa yang kelak Baekhyun katakan jika bocah itu melihat benda berbulu halus itu
sadar dirinya yang lepas tersenyum seorang diri itu, Chanyeol beralih meraih ponselnya, sebelum melakukan hal bodoh yang lain... tapi hanya hela nafas yang terdengar kala tak ada satupun kontak atau bahkan pesan yang masuk. Dan ia benar-benar merasa kesepian saat ini.
Mungkin ada baiknya, jika membelikan Baekhyun sebuah ponsel. Tak buruk mendengar suara halus anak itu, ah... atau mungkin rengekan manjanya.
"Haruskah kubeli sekarang?" Gumam Chanyeol seraya melirik bunny putih itu
TIIIIIIINNN...TIIIIIINNNN
Bunyi klakson di belakang, benar-benar menyentaknya. Namun lagi-lagi Ia hanya berdecak pelan, sadar sepertinya memang ada yang salah dengan dirinya kali ini
"Bodoh" Ujarnya sembari meraih bunny putih itu lalu meletakkannya dipangkuannya.
.
.
.
Langkahnya begitu ringan kala menapaki satu persatu anak tangga miliknya, boneka bunny itu pun tampak tersembunyi manis di belakang punggungnya. Rasanya semakin tak sabar melihat raut bocah itu saat ia memberikan gumpalan putih tersebut untuknya.
Namun Tatapan itu mendadak redup begitu membuka pintu kamar dan melihat Baekhyun tampak termenung memandangi objek di luar jendela. Memang terbesit rasa ingin merengkuhnya dari belakang... tapi pemikiran tak sejalan dengan hatinya. Ego itu sepertinya masih enggan merelakan dirinya melangkah sedikit lebih dekat. hingga dirinya lebih memilih meletakkan boneka bunny itu di samping pintu kamarnya.
Tiba-tiba saja Ia melihat tubuh Baekhyun limbung, membuatnya berlari cepat untuk menangkapnya sebelum membentur dinding.
"Mengapa tak mengenakan pakaian hangat?" bisiknya kemudian, begitu merasa tubuh Baekhyun sangatlah dingin
"..."
Tapi tak ada jawaban selain wajah tertunduk pasi
"Kau tak menghabiskan sarapanmu?"
Chanyeol menghela nafas pelan, begitu melihat ke bawah dan di sanalah genangan sup dan beberapa hidangan memberinya jawaban
"..."
Baekhyun yang enggan untuk membuka suara itu, hanya membawa pandangan kembali ke luar jendela besar di sebrangnya. Tak peduli jika sebenarnya sikapnya membuat Chanyeol kembali menelan rasa acuh itu seorang diri
"kau ingin memakan sesuatu?"
Baekhyun memandang Chanyeol sesaat, lalu setelahnya tersenyum getir
"Manusia macam apa dirimu sebenarnya?" Desis Baekhyun tiba-tiba, sebelum akhirnya mendorong paksa dada Chanyeol, hingga rengkuhannya terlepas.
Meski berjalan terhuyung-huyung, bocah mungil itu tetap bersi keras menjauhi Chanyeol dengan berpegang pada jendela.
"Jangan keras kepala, tubuhmu lemah—
"Bukankah aku satu-satunya orang yang kau benci...bodoh sekali jika kau memperhatikanku!"
"Aku tak ingin berbicara tentang ini"
"Wae? Apa kau tak cukup puas membalas dendammu padaku?"
Chanyeol berdecak keras, meski nyatanya Pria itu terlihat frustasi. Mengapa Baekhyun harus memaksa bersikap demikian, jika tubuhnya semakin gemetar seperti itu
"A-aku tak tau salah yang perbuat padamu! Tapi Kau—uhmph" Baekhyun tiba-tiba saja merosot jatuh, tapi ia berusaha kembali bangkit dengan merambati teralis jendela.
"K-kau tau? semua meninggalkanku...mereka membenciku! Ayah—."
Satu bulir air mata lolos cepat dari pelupuknya, membuat setiap kata yang ingin terucap, seakan menyedaknya begitu saja.
"Ayah pergi tanpa tau a—ku tersiksa di tempat ini, Ibuku membiarkanku dijual pada manusia biadab sepertimu! Mereka membenciku... semua membenciku! " Isaknya sambil berusaha berdiri dengan benar, meski nyatanya tubuhnya tetap saja jatuh terduduk di lantai.
"Mengapa... aku harus memiliki tubuh ini" Lirih Baekhyun sembari mengusap samar perutnya, tepat di mana rahim itu bersemayam dalam tubuhnya. Jika saja Chanyeol tau, dirinya yang memiliki cacat itu... mungkin dirinya akan semakin dihina
Chanyeol tertegun sesak. Perasaan tak biasa itu kembali muncul melihat Baekhyun kembali menangis di hadapannya
Semestinya ia tak berjalan mendekat, tapi entahlah... Ia tetap melangkah, memeluk tubuh ringkih itu hingga dipastikan Bakehyun bersandar nyaman dalam dekapannya.
Tak pelak apa yang dilakukannya, membuat bocah itu meronta tak terima. Bahkan berteriak keras... sama sekali muak dengan perlakuan Chanyeol kali ini.
"Jangan memelukku! Lepaskan aku!"
Chanyeol tak bergeming, semakin mendekap erat tubuh kurus itu. Tak peduli, berulang kali mendapat pukulan keras di dada dan bahunya
"LEPAS—
"Dengarkan aku..."
Baekhyun menggeleng kasar,tetap bersikeras meronta ingin lepas. Tentu saja Baekhyun tak berharap mendapat perlakuan yang sama dari Pria itu. Mendadak berlaku lembut tapi setelahnya umpatan dan perlakuan kasar kembali disentak untuknya, itu benar-benar membuatnya muak
"Kau selalu seperti ini! Kau selalu menyiksaku!"
Anak itu kembali menjerit, semakin Ia mencoba menenangkannya... semakin histeris pula bocah itu meronta padanya. Membuatnya memaksa menangkup wajah pias itu lalu menatap kedua matanya lekat-lekat.
"Baekhyun—PLAKKK
Sebuah tamparan mengenai sisi wajahnya. Chanyeol sempat mengernyit, tapi setelahnya kembali memandang Baekhyun lekat.
"Memuakkan!" Lirih Baekhyun di sela-sela isakkannya, untuk apa memanggil dan bersikap demikian, jika hanya untuk memberinya harapan lalu memupuskannya lagi
Terlalu lama Ia memandang lekat kedua mata anak itu, Ia tau begitu banyak kata yang tak terungkap saat ini. Karna sungguh Chanyeol tak berharap ucapannya tak sejalan dengan hatinya dan berakhir dengan ucapan kasar darinya
"Bisakah kita sedikit... berbicara?" Ujar Chanyeol sepelan mungkin.
Baekhyun memalingkan wajah, tak berniat sedikitpun menatap mata yang tiba-tiba saja terlihat teduh di hadapannya.
"..."
"Tatap mataku jika aku berbicara denganmu" Tekan Chanyeol seraya memalingkan wajah Baekhyun menghadapnya, tapi anak itu tetap bersi keras menghindar dan mendorong kasar tubuhnya.
"Baekhyun!"
"Cukup—akhh!"
Teriakkannya tersendat begitu Chanyeol menarik kuat pergelangan tangannya hingga membuatnya jatuh ke dalam pelukan Pria itu.
Tak banyak yang Ia lakukan selain mendekap erat tubuh mungil itu, sesekali mengecup tengkuknya… berusha menghirup dalam-dalam aroma tubuh Baekhyun. hingga bocah itu sedikit tenang karenanya
"Bisakah kau memahamiku? hatiku yang sulit ini… bisakah kau mencoba memahaminya?" Bisik Chanyeol setelahnya, seraya mengusap punggung Baekhyun.
Baekhyun terbelalak, sempat tak percaya dengan bisikkan lirih itu, tapi belaian di punggung dan kepalanya benar-benar nyata Baekhyun rasakan.
"Aku memang hanya berkata kasar padamu, tapi dengan ini—
Baekhyun semakin membulatkan mata, begitu Chanyeol mendekatkan wajahnya. Satu kedipan mata... bibir tebal yang hangat itu benar-benar melumat bibirnya dengan lembut.
"Hmpfthh~"
Bocah yang masih menyangkal tak percaya itu, berusaha mendorong dada Chanyeol, tapi pria itu rasanya lebih cepat menggenggam dan menahan tangannya hingga membuatnya pasif.
"Mnh! Nghh!"
.
.
.
.
"Apa itu sampai padamu?" Bisik Chanyeol usai melepas pagutan bibirnya. Ia berdecak lirih melihat Baekhyun terengah payah, dengan wajah penuh dengan semburat merah.
"Apa kau mengerti dengan apa yang kulakukan padamu ini?"
Baekhyun membawa pandangannya ke lain arah asal bukan menatap Chanyeol, tapi seeprsekian detik kemudian dirinya kembali dibuat berdebar, begitu Chanyeol membawa kepalanya agar bersandar di dada bidang itu
"Jangan memberiku wajah seperti itu"
Baekhyun memejamkan mata panik. "Ugh!"
Membuat Pria itu kembali mengulas senyum tipis. ini memang gila untuknya, jatuh pada sesuatu yang semestinya Ia hancurkan. Tapi Ia cukup tak bernyali untuk menyentak hatinya yang sulit itu… hinga menjadikan Baekhyun satu-satunya yang membuatnya bersimpuh
.
.
"K-kumohon jangan membenci A-yahku"
Chanyeol tak menjawab gumaman kecil itu hanya diam, memeluk tubuh mungil itu hingga Ia merasa nyaman dan hangat.
.
.
Tapi Ia mendadak terkejut, begitu tubuh ringkih itu lunglai dengan nafas halusnya. Tampaknya bocah itu memang tak mendapat tidur yang cukup dan membuatnya selelah ini
"Keras kepala" kekeh Chanyeol sembari mencium kening Baekhyun, perlahan ia mengangkat bridal tubuh mungil itu dan membaringkannya dengan benar di ranjang king size miliknya. Kembali Ia sadari perasaan yang lain kala itu melihatnya terlelap setenang ini.
Pria itu beralih beranjak mengambil boneka bunny yang tergeletak di luar kamarnya.
"Ku harap kau menyukainya" Gumamnya, sedikit antusias saat meletakkan benda itu di sisi Baekhyun.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain..
"Apa kau benar-benar tak mengetahuinya, keluarga itu telah menjual Putra Sulungnya pada pengusaha kaya? Ohhh uri Baekhyunnie... anak itu benar-benar menderita semenjak kematian Ayahnya"
"A-apa?Bibi Song! Bagaimana mungkin Baek—
"Baekhyun sudah tidak tinggal di sini, kata Sehun Hyung.. Baekhyun tinggal bersama Presdir Park, Ehm! Kau tau? Aku memiliki fotonya!" Serunya riang sembari mengeluarkan gadget terbaru pemberian Sehun.
"ARGH! KAU!"
"Ahjjussi! mengapa mendorong jidatku?!" Seru Kyungsoo tak terima
"Mengapa kau tak mengatakannya dari tadi?! Hah!"
"Kau yang tak bertanya!"
"ACK!KAU MEMBUATKU GILA!"
.
.
.
.
"Hei Kau Park Chanyeol! Keluarrr!"
"Mungkin presdir Park sedang tidur"
Kai mengernyit sesaat sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu. Ada benarnya juga yang dikatakan bocah itu, mengingat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Brengsek itu, benar-benar membawa kabur calon istriku"
"Apa?" Seru Kyungsoo, dengan mata membulat lebar.
"Tidak" Dengusnya. mengalihkan pembicaraan lalu memandang lantai paling atas rumah megah itu, masih tak terima jika ia tak melihat Baekhyun cantiknya
"Kajja pulang saja Ahjussi"
"Aku memiliki cara untuk memancingnya keluar!" Kai berlari cepat ke dalam mobilnya, dan terkekeh keras begitu menekan tombol sirinemilik mesin berat itu.
Tak ayal...sirine rusuh itupun melengking, memekakkan telinga.
"PARK CHANYEOL...KELUAAARR KAU!" Teriaknya dengan microphone diiringi sirine milkinya.
.
.
.
"PARK CHANYEOL...KELUAAARR KAU!"
Chanyeol terbangun dan mengumpat keras begitu mendengar suara gaduh diluar rumahnya, dengan gusar ia beranjak dari ranjang dan menyibak kasar tirainya.
"Oh Shit! Untuk apa polisi itu kemari" Gumamnya setengah terpejam
Ia lekas menyambar ponselnya dan menghubungi anak buahnya, sebelum suara bising itu membangunkan Baekhyun nantinya
("Bos?")
"Bagaimana bisa kau membiarkan manusia bodoh itu mengganggu tidurku?!"
("Maaf Bos, kami akan segera menyingkirkannya")
"Siram dengan air! dan pastikan benda bodoh itu benar-benar mati"
("Baik Bos")
PIP
Chanyeol melempar asal ponselnya dan kembali menghempaskan diri di ranjang, mendekap tubuh mungil itu demi menghirup dalam-dalam aroma tubuh Baekhyun
"Mmh" Gumamnya sebelum benar-benar jatuh tertidur.
.
.
..
" APA KAU TULI? PARK CHAN—BYUUURRRR
Kai menganga lebar, begitu 5 orang Pria berotot menyiramnya dengan air dingin secara bersamaan. Membuatnya kebas total. Microphone di tangannyapun kongslet dan mati mendadak
"YACKKK! IGE MWO—
PRAK...BRUGH BRUGH!
Teriakan geramnya kembali kandas , begitu melihat salah seorang Pria kekar itu merangkak naik ke atas mobilnya dan menginjak-injak sirine hingga ringsek total.
"Pak Polisi, aku tidak sengaja" Ujar namja berotot itu begitu usai menyelesaikan misinya.
Kai semakin naik pitam di buatnya, jelas-jelas itu perbuatan disengaja. Ia memang berhasrat menghabisi semuanya bahkan menjeratnya dengan pasal berlapis. tapi… Dirinya hanya seorang diri
Sebelum mati percuma, Kai lebih memilih masuk ke dalam mobil ringseknya lalu pergi begitu saja.
.
.
.
"Ahjushiiii! Ini semua salahmu! Bajuku basah!" Jerit Kyungsoo.
"AIISHHH!"
.
.
Tak biasanya sebuah senyum mengawali pagi kali ini, bahkan rasanya Ia tak pernah jemu memandangi wajah baby face yang masih terpejam itu.
Semakin mempesona saja, begitu bias mentari mulai menelusup dan menyeka paras manisnya.
"Bangunlah" Bisik Chanyeol seraya menyentuh pipi itu dengan jemari panjangnya.
Ia nyaris terkekeh pelan, melihat Baekhyun terlihat mengernyit tak suka lalu berguling ke sisi ranjang yang lain
"Ngh! Per—gi!" Rengeknya tak ingin diusik
"Jangan melewatkan makan pagimu"
"Ugh!" Dengus Baekhyun seraya menyembunyikan rapat-rapat tubuhnya dalam selimut tebal itu, tanpa sadar sosok yang tengah membangunkannya adalah Chanyeol.
Pria itu hanya memandanginya sambil menyilangkan kaki jenjangnya, ia tak pernah menemukan Baekhyun seperti ini sebelumnya. Semua karna rasa lelah ataukah memang seperti ini sifat Baekhyun sebenarnya. 'menggemaskan sekali' pikirnya.
"Kepalamu akan pening jika kau terlalu banyak tidur"
Merasa pecuma ia beralih menyibak selimut tebal itu dan mendekati telinga Baekhyun.
"Baekhyun~ah" panggilnya sedikit meniup lubang telinga Baekhyun.
Bocah itu mengerjap beberapa kali, tapi setelahnya ia terbelalak lebar begitu mencium aroma maskulin milik Chanyeol. Cepat-cepat ia bangkit sebelum pria itu kesal lalu menyentaknya
"M-maaf Tuan" Baekhyun melompat turun dari ranjang dan berlari kalut menuju kamar mandi.
"Yya! Mau kemana kau?" Teriaknya heran, lalu beranjak demi mengejar bocah itu. Bagaimana mungkin membiarkannya berlari seperti itu, sementara ia tau, tubuh kecil itu masih terlalu lemah, mengingat tak ada asupan makanan dan obat yang masuk ke dalam perutnya semenjak kemarin.
Setakut itukah Baekhyun padanya, kemarin saja… anak itu berteriak-teriak rusuh bahkan hingga bernyali menamparnya bukan?
"Baek—
Chanyeol terbelalak lebar, begitu melangkah ke dapur dan melihat bocah itu terjerembab di lantai.
"Kau baik-baik saja?" cemasnya, sembari membantu membangunkan bocah itu, dan berdecak melihat luka lebam di siku dan lututnya.
"M-maaf,aku tak bisa membuatkan makan pagi untuk—
Chanyeol menghela nafas berat, membuat bocah itu tertunduk dalam. takut kalau-kalau Chanyeol kecewa dengannya.
"Aku tak memintamu untuk melakukan semua itu"
"Tapi—
GREBB
Baekhyun terbelalak lebar, begitu tubuhnya di angkat bridal begitu saja. Membuatnya reflek merangkul erat leher Chanyeol. Dan pasrah, Pria itu kembali membawanya ke dalam kamar.
"Tetaplah di sini,dan jangan kemanpun jika tubuhmu masih selemah ini" Ujar Chanyeol , semakin cemas dengan wajah yang pucat itu, semacam… baekhyun memiliki anemia saja.
Bocah itu hanya memandangnya sekilas, lalu meremas-remas jemarinya sendiri karena sungkan. Hingga.. siku itu tanpa sengaja menyentuh sebuah gumpalan lembut di sisinya
dan begitu menoleh ke samping..
Baekhyun benar-benar membulatkan mata terkejut
Sejak kapan kelinci mungil itu tergeletak di sisinya? Ia benar-benar tak melihatnya sebelumnya.
"Untukmu" Singkat Chanyeol sembari mengusap perlahan lengan Baekhyun, menyadari tubuh mungil itu begitu dingin...Chanyeol lekas menarik selimut dan menggunakannya untuk menutupi sebagian bahu dan punggung Baekhyun
"Untukku?" Gumam Baekhyun tak percaya. "Untuk apa Tuan memberiku ini?" Tanya lagi, terlihat mnegerjap antusias kala mengambil benda itu
Chanyeol hanya memandanginya, lalu terkekeh pelan. "Kau tak menyukainya?
Membuat bocah itu berjengit, lalu memeluk bunnynya erat. "A-aku menyukainya" Lirihnya
.
.
"Tapi Tuan, mengapa anda bersikap seperti ini?"
Chanyeol terkekeh pelan mendengarnya, ia menengadahkan kepala dan menatap jauh ke luar jendelanya. "Bukankah aku sudah mengatakannya kemarin?"
Kedua manik caramel itu kembali mengerjap. 'Kemarin?'
Apa yang dikatakan Chanyeol kemarin? Ah! Mengapa Ia tak bisa memahaminya, mungkinkah pening itu yang mengacaukan semuanya? apa yang dikatakan Chanyeol kemarin? Mungkinkah Chanyeol berubah? ataukah Pria itu menyimpan maksud tersembunyi padanya
Berulang kali Baekhyun menduga seorang diri, namun Ia tak tau… kerjapan mata dan raut yang polos darinya itu membuat Chanyeol menginginkan sesuatu yang lebih darinya.
Bahkan tanpa terduga, Pria itu mendadak mendorongnya hingga terhempas di ranjang lalu—
"Mpfth! Mmnnh"
Baekhyun meronta, tapi terasa payah dengan tubuh yang lemas itu… membuatnya pasrah terengah, menerima lidah Pria itu perlahan mengklaim isi dalam mulutnya
"Ah~hanggh"
"Kau demam.." Bisik Chanyeol, sedikit mengernyit merasakan suhu yang panas dari pagutan itu. memaksanya lekas menyudahi ciuman itu dan menggantinya dengan kecupan lembut di dagu bocah yang masih terengah-engah itu.
Baekhyun masih terengah, sesekali mencoba menutup wajah merahnya… merasa tak tahan Ia memilih menggunakan Bunny itu untuk menyembunyikan wajahnya.
Tentu membuat Chanyeol yang melihat, merasa cemas karenanya.
"Kau merasa pusing?"
Baekhyun menggeleng, masih bersikeras bersembunyi di balik boneka putih itu
"lalu mengapa menutup wajahmu?"
"…."
"Atau kau memang membenci ciuman dariku?"
Baekhyun terbelalak, lalu menyingkirkan Bunny itu untuk menatap Chanyeol. "Suka.." Lirihnya
"Hn?"
BLUSH
Baekhyun lekas tersadar, lalu kembali menyembunyikan wajahnya yang tersipu.
Hingga membuat Pria itu terkekeh dan mengacak gemas surai kecoklatan milik Baekhyun
DRRT…DRRRT
Chanyeol mengerang tak suka, ponselnya mendadak bergetar keras di atas meja nakas, Ia beralih menyambar kasar smartphone hitam itu bahkan semakin berdecak keras begitu tau siapa yang menelfon.
"Hn?" Singkatnya
"Kurator Kwon ingin bertemu denganmu sekarang"
"Shit! Bedebah itu benar-benar tak tau waktu"
"Yeol... dia memiliki saham besar dalam perusahaan, jika kau—
"Tch!" Decih Chanyeol sebelum akhirhya benar-benar menutup panggilan itu
Chanyeol kembali mengumpat keras, menerka segala rencana licik dari pria berpenampilan tak biasa itu. "Kau benar-benar bernafsu dengan perusahaan inu rupanya"
Chanyeol bergegas cepat merapikan diri kemudian kembali memandangi Baekhyun dengan lekat.
'Chup
"Aku akan pergi setelah ini, jangan membuka pintu untuk siapapun... mengerti?"
Pesan Chanyeol begitu mencuri kecupan kecil di bibir baekhyun
"U-uhm"
Ia kembali dibuat terpana melihat baekhyun mengangguk malu-malu dengan wajah merona seperti itu.
Ah! mengapa semanis ini…
"Semua orangku akan menjagamu. Panggil mereka jika kau menginginkan sesuatu"
"Uhum.."
.
.
Chanyeol mencoba membawa langkahnya untuk pergi, namun sepersekian detik berikutnya Pria itu kembali memutar haluan lalu menerjang Baekhyun.
"Biarkan aku melakukan ini sekali saja" Gumamnya seraya menarik piyama Baekhyun ke atas, memperlihatkan dada dan perut mulusnya
Sontak Baekhyun membulatkan mata terkejut, tak sempat untuk memohon… Pria itu terlanjur membuatnya menjerit
begitu menghujaninya dengan hisapan dan gigitan kecil di bagian perutnya.
"Ah!"
"Bahkan perutmupun terasa sepanas ini"
"Nnn~ ACKH! hahh T-tuan!"
'Chup'
"Anh!"
.
.
.
.
Baekhyun menghela nafas pelan, begitu pria tinggi itu mulai menghilang dari balik pintu. Lama Ia bertahan demikian, hingga bocah itu mendadak melompat ke atas ranjang lalu berguling ke kanan dan ke kiri, bahkan tak jarang pula Ia mengecupi Bunny pemberian Chanyeol.
Baekhyun hanya tau…. Dirinya terlalu senang saat ini
"Cepatlah pulang"
.
.
.
.
.
"Kau akan menyesalinya jika membatalkan kerja sama ini"
Chanyeol menyeringai sesaat, rasanya begitu menyenangkan manarik ulur suasana hati sosok di hadapannya kali ini. Seakan Dengan berbekal tatapan dingin dan lidah tajamnya, ia kembali menyentak harga diri Pria bernama Kwon Jiyong itu.
"Apa semua besi aneh di telingamu iitu membuat pendengaranmu sedikit bermasalah" Kekeh Chanyeol berpura polos sambil menunjuk telinganya sendiri
"A-Apa?!" Seru Jiyong seraya memegangi beberapa ring kecil di cuping telinganya.
"Tck! Aku tak akan mengambilnya, untuk sebuah jebakan. Pulanglah… kami tak membutuhkannya. Dan aku tak peduli meski kau menarik semua uangmu dari perusahaan ini, silahkan... itu benar-benar tak seberapa dari uang yang kumiliki"
"K-kau—
Chanyeol mendadak mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri. "Kau sengaja mengenakan parfum semacam ini" Desahnya, seraya mendekat dan menatap dengan sensual.
"Seperti— Pria itu beralih mendekati telinga Jiyong. Mengulas semirk sebelum akhirinya…
"Jalang"
"Y—YACKKK! K-kau akan menyesal seumur hidupmu Bocah brengsek!" BRAKKK
Chanyeol tertawa keras melihat Pria itu, memilih menghentak kaki meninggalkan ruangannya.
.
Sementara itu…
Baekhyun mempoutkan bibir kesal begitu menatap jam dinding , Lebih dari 7 jam lamanya Chanyeol pergi meninggalkannya. Dan hingga detik ini, ia sama sekali tak melihat tanda-tanda Chanyeol akan kembali.
"mengapa lama sekali?" gumamnya seraya mengayun-ayunkan kedua kakinya di tepian ranjang.
Tiba-tiba saja Baekhyun mengernyit begitu merasa sesuatu dalam perutnya serasa diremas-remas, membuatnya mual.
"Uhmp~" Sedaknya sembari membekap bibir, Baekhyun memang bersiap berlari menuju wastafel tapi mendadak rasa mual itu berangsur reda.
Apa yang salah dengan tubuhnya? Baekhyun rasa Ia tak salah makan hari ini. Tapi mengapa merasa mual?
"M-mungkin aku belum minum" Gumam Baekhyun pada dirinya sendiri. Ia beralih beringsut turun dari ranjang untuk mengambil segelas air mineral yang memang disiapkan untuknya
'RRIIIINGG...RRRIIING'
Baekhyun nyaris tersedak minumannya kala mendengar telefon rumah Chanyeol berdering keras, cepat-cepat ia berlari keluar demi mengangkat panggilan tersebut. Barang kali Chanyeol yang menelfon
"Yeobbsse—MPH! MMPH!"
Tiba-tiba saja seseorang menerjangnya dari belakang dan membekap bibirnya dengan sebuah kain
Baekhyun meronta, berusaha menggapai-gapai sosok tinggi dibelakangnya, namun aroma menusuk dari kain itu, membuatnya lunglai… sempat Ia mendengar tawa ringan dari sosok asing itu. tapi detik berikutnya segala yang dilihatnya hanya fraksi hitam lalu Baekhyun benar-benar jatuh tak sadarkan diri
.
.
.
Chanyeol terperanjat begitu melihat Pintu utama rumahnya tampak terbuka lebar. Ia ingat benar… telah berpesan pada Baekhyun tak membuka pintu untuk siapapun. Mungkinkah Baekhyun melarikan diri? Mustahil… Bodyguardnya tak akan membiarkan itu terjadi, tapi kemana perginya semua pria itu?
Chanyeol kembali terbelalak lebar begitu menyadari sesuatu
"Baekhyun!" Ia berlari panik keluar dari mobil, tak berharap sesuatu yang buruk itu benar-benar terjadi
"Baekhyun! di mana kau?!" Teriak Chanyeol gusar begitu tak menemukan Baekhyun di kamarnya, dan di setiap ruang dalam rumahnya
"BAEKHYUN!"
DRRTTT...DRRTTT
Chanyeol kembali tersentak, siapa yang bernyali menghubunginya di saat seperti mengangkat kasar panggilan tersebut berharap...nomor yang tak dikenal itu adalah Baekhyun.
"B-baek di mana kau? apa kau tersesat? Katakan di mana—
"Park Chanyeol...apa kau mengenal suaraku?"
Chanyeol terbelalak lebar. "Siapa Kau?!"
"Sepertinya kau telah melupakan suaraku... itu bagus, ah! bagaimana jika dengan suara ini..."
"A—ahh! H-hentikanh! Ackh!"
Wajah stoic itu seketika mengeras. "FUCK! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA!? BERANI KAU MENYENTUH UJUNG RAMBUTNYA… KUBUNUH KAU BRENGSEK!"
"Tsk! tak kusangka kau memiliki selera tinggi seperti ini huh? Tubuh kekasihmu benar-benar menggoda ...ahh bagaimana jika aku ingin menikmatinya? Apa kau mengizinkannya?"
"ARGHHt! SHIT! SINGKIRKAN TANGANMU DARI—
Chanyeol mengumpat keras, begitu sosok asing itu memutus sambungan telfonnya. Berulang kali mencoba menghubunginya, tapi sialnya Pria itu sepertinya telah membuang nomornya
"ARGHH! BRENGSEK!"
.
.
.
"Uhn... h-hentikan hks!" Bocah itu makin terisak, begitu Pria dengan luka gores di wajah itu membuka lebar pahanya. Tubuhnya tak bebekalkan apapun kali ini, seluruhnya polos bahkan tak bisa melakukan gerakan sedikitpun dengan tangan diikat di sebuah tiang besi
"Semua tanda di tubuhmu ... membuatku yakin kau benar-benar berharga untuknya" Ujar T.O.P sembari meraba bekas hickey di perut Baekhyun.
Dan makin menyeringai tajam melihat namja mungil menggigil gemetar di hadapannya.
"Jangan takut" kekehnya sembari membelai wajah baekhyun "Aku akan memuaskanmu terlebih dahulu... sebelum kau melihat kekasihmu mati, sayang" Bisik T.O.P sembari menjilat bibir bawahnnya sendiru.
Baekhyun terbelalak lebar, apa maksud pria asing itu?Mungkinkah Chanyeol akan di bunuh?
"Apa m-maksudmu? kau—Aaaht!"
Baekhyun menjerit keras kala pria kekar itu melesakkan benda asing semacam kapsul ke dalam rektumnya.
"Sssh… nikmati saat benda ini melebur di dalam tubuhmu" Desisinya seraya mendorong lebih jauh obat perangsang itu ke dalam tubuh Baekhyun.
"A—Aghhtt! AH! Hks.. T-Tuan!"
.
.
.
.
.
.
To Be Coont
Aloohaaa jumpa dengan Gloomy, bawa ch 5 nya neeh
fast up kan, kalau respondnya banyak...
FF yang lain juga gitu, bakalan di Fast Up kalau banyak yang memberi respond
Hayo mau Gloomy update cepet lagi tidak, masih ada
-LOVE SICK
-BLOOD ON A WHITE ROSE
- LOVE OF FALLEN LEAVES SEASON 2
- HEART ATTACK!
Dan tentunya FF ini, SILENT REGRETS
Yaps, jangan lupa tinggalkan review jika teman-teman masih menyayangi kami menulis di sini
neniFanadicky, chanbaek92, LHR Official Couple Shipper, restikadena90 , 90rahmayani, buny puppy, byunnami, Marshsamallow614 , khakikira , ctbisreal, RurohFujoCbHs, hulas99, fintowikson, Lussia Archery , kimkad , YaharS , Aisyah1, LyWoo, Byun soo byung, Yana Sehunn, baekkachu09 , Poppy20 , baekxylem , selepy , byunnami , Lusianabaconcy0461, bbhunyue, chanbaekis , mawar biru, love Elan , thevEXO, WinterJun09, tkxcxmrhmh , mii-chan07 , vryeol , Dodio347, baekby aeri04 , ChanBaekGAY , EyiLy , metroxylon, Fiyaa04, baby baek , Deliscius, Wahidah Putri Utami , chalienBee04, xiluhan74 , cbforever00, Yeolliebee , PinkuBlue614 , rimaa , kimi2266, YaharS , baekchann18, Avisyell756 , AuliyaRchy , byunlovely, ruukochan137, veraparkhyun , park chan2 , baeeki6104, chanbaek1597, byunlovely , bbhunyue, kkaiii, Hyo luv ChanBaek, Siapa Hayo, myliveyou, LightPhoenix614, Chanbaeknaena, Asandra735 , tyas 614, AnggunBBH06, AmyGAHF, Merina, dwi yuliantipcy , Shengmin137, kitukie, shereen park, yiamff , jempolnya pcy , Hyera832, Riinnchan, Ricon65 , BambiLuhan , Byunexo, SMLming , babyyh , chayeonlee , Sitachaan, Ziiwandha, hananachan, bbyLyi , hosh10 , hunhanshin, Loey761,dan all Guest
Terima kasih atas review sebelumnya,
Jangan lupa review lagi
Happy New Year
Saraaanghaaaaaeeee
