Main Cast : Chanyeol x Baekhyun

Other Cast : Kai, Kyungsoo, Sehun, Luhan

Disclaimer: Cerita ini milik Gloomy Rosemary dan CupidKyumin. Elan: Gloomy, Putr: cupid

.

.

Previous Chapter

"Ini akan membantumu menikmati malam panjang kita sayang." Desisinya seraya mendorong lebih jauh obat perangsang itu ke dalam tubuh Baekhyun.

"A—AAAHTTTT!"

" Hks! .. TUANN!"

.

.

.


Silent Regrets

CHANBAEK

YAOI

FANFICTION

Gloomy Rosemary

Silent Regrets

Chapter 6


.

.

.

"Kurasa Dia terlibat jaringan Macau"

Beberapa potret tersemat jelas di layar, menyita perhatian beberapa sosok kekar berlencana dalam ruangan itu, tak terkecuali seorang pemuda di seberangnya.

Kai terlihat menyipitkan mata, menyentak arti lain dari pandangan yang sebenarnya ia tajamkan.

"Lebih dari tiga tahun ini, kita mencoba menyelidiki latar belakangnya... tapi tak satupun bukti mengarah padanya" Ujar Seorang pemuka detektif.

"Jika Dia terlibat jaringan Macau, sudah pasti Choi Seunghyu—

"TOP!"

Tiba-tiba, Kai berdiri dan menunjuk beberapa potret dalam layar itu.

"Dalam penampilan itu" Kai beralih menunjuk satu potret Pria berpotongan rambut spike metalik. "Dia TOP, dalang di balik pembunuhan Park Minho beberapa tahun silam" Ungkapnya pasti, tak peduli beberapa senior itu terlihat menatapnya tak mengerti dengan apa yang diucapkannya.

"Yya! Bocah Tengik! lelucon apa yang kau bicarakan sebenarnya?! pria yang kita selidiki kali ini seorang yang terlibat jaringan narkoba besar, berhentilah berkhayal dan pasang telingamu!" Sentak detektif bertubuh tambun itu.

"Tch! pembunuhan dia bilang...hahaha" Remehnya, sambil melempar puntung rokoknya

Membuat Kai hanya bisa berdecak, merasa tak cukup bukti untuk melugaskan semuanya pada senior itu. Tapi sesungguhnya... Ia menyimpan beberapa catatan merah dari Yunho. Bahkan tanpa sepengetahuan semua tim itu, diam-diam Kai melakukan penyelidikannya sendiri... tentunya dengan bukti yang sempat Yunho dapatkan sebelumnya.

"Ketua Kim!" teriak seorang pemuda tiba-tiba, sedikit melirik kumpulan orang itu, sementara jemarinya tetap bergerak aktif dengan keyboardnya

"Kau menemukan petunjuk?"

"Ah! Nde..."

"Perbesar gambarnya..."

.

.

Kai pasrah mendudukkan dirinya, kembali Ia sadari... tak akan berguna menyentak urat jika dirinya hanya seorang pemuda pemula di tempat ini. hanya diam, mengamati semua pria bertitle petugas keadilan itu mencari celah dari pergerakan seorang mafia narkoba besar...

"Akan kubuktikan, jika ucapan ini... sesuatu yang patut kalian perhitungkan" Gumamnya dan hanya terdengar olehnya sendiri.

Hingga tiba-tiba-

PIP...PIPPPPP

Perhatiannya sedikit terusik, mendengar nada pesan masuk.

Dan begitu membukanya...

('Ahjjussi!')

("Ahjjussi! aku tidak masuk sekolah hari ini... dan bertemu dengan Baekhyun! Bye!")

Terpampang foto seorang remaja tengah berdiri di tepian danau, sambil menujukkan pose v sign padanya.

"Tck!" Decaknya, malas... memilih untuk menyimpan ponselnya dan kembali fokus pada timnya kali ini

Tapi... berselang tiga puluh menit setelahnya

Ponsel itu kembali berbunyi, berkali-kali.. .dan terdengar mengganggu kala semua rekan kerja nya turut menatapnya karna terusik.

Membuatnya tak memiiki opsi lain, selain beranjak pergi dari ruangan demi sang penelfon itu

"Wae?!" Gertaknya begitu mengangkat panggilan telfon bocah itu. "Aku sedang bekerja! berhenti menhubungiku jika—

("A—ahjjussi... aku takut")

Samar terdengar, Kyungsoo berbisik lirih.

Tak pelak, membuat Polisi muda itu mengernyit curiga. "Apa yang terjadi... di mana ka—

("S-siapa mereka Ahjjussi? m-mereka berkelahi... ")

Kai terbelalak lebar, mendengar bocah itu bicara layaknya tengah mendiskripsikan sesuatu.

"Ya! Dimana kau sebenarnya hah?"

("R-rumah Presdir Park... semua orang itu di dalam sana Ahjjusii")

Kai mendadak terdiam, mengambil kesimpulan lain di sini. Bocah itu sepertinya berbicara yang sebenarnya dan mungkin memang terjebak dalam situasi yang genting.

( "Mereka banyak sekali Ahjussi") masih saja Kyungsoo berbisik, mengulas setiap hal yang dilihatnya kali ini.

("Ah—Ahjjussi... mereka membawa Baek—hyun")Lirihnya tergagap, terdengar suara bergemrisik di sana, yakin.. Kyungsoo tengah bersembunyi di suatu tempat.

"Baekhyun? Di mana Chanyeol?! Mengapa mereka membawa Baekhyun?! Siapa mereka hah?!" Kai mulai terperanjat panik, tak bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi pada bocah di balik sambungan telfonnya itu

("Ah! mollayoo!mengapa kau membentakku! bagaimana aku bisa tau semua orang itu!") Protes Kyungsoo kesal.

("Mereka membawa Baekhyun ke dalam mobil! Ommo! Baekhyun di culik! Ahjjussi Ppaliii") Bocah itu nyaris menjerit karna takut, bahkan berulangkali terdengar debaman dari siku dan lutut Kyungsoo yang berusaha bersembunyi itu

"Sshh! Pelankan suaramu.. dan tetaplah bersembunyi... jangan biarkan mereka melihatmu" Bisik Kai, sembari beranjak .

("Tapi... Ahjussi")

"Tetaplah bicara... kami akan melacak lokasimu, dan kupastikan posisimu aman Kyungsoo~ah"

Lugas Kai lagi, kala beralih mendekati ketua detektif yang sedari tadi memandangnya curiga.

.

.

.

"Ada apa?"

"Ketua... seorang saksi melapor tengah terjadi penculikan di perfektur barat, saya masih terhubung dengan saksi tersebut"

"Apa?! Joon! cepat lacak lokasi penelfon itu!" Titah Pria dewasa itu mengambil alih ponsel Kai,

"Baik Hyung!"

.

.

.

.


Sementara itu...

"Ah! Bagaimana ini... " Lirih Kyungsoo semakin tak tenang, meski seseorang yang mengaku sebagai polisi masih intens berbicara dengannya, tapi tetap saja... Ia merasa cekam.

Mengapa Baekhyun tak sedikitpun bergerak? mungkinkah mereka membunuhnya?

"Yyaa... Baekhyun~ah" Panggilnya lirih, sembari menenggelamkan diri balik semak lebat itu. Mengamati dengan gemetar... beberapa sosok yang masih menguasai rumah megah itu.

.

.

Flash Back On

"Ahjusiii! ... aku ingin bertemu Baekhyun!" seru Kyungsoo memaksa menerobos tiga penghadang kekar di hadapannya.

"Bukankah kau anak yang bersama polisi itu kemarin malam? Untuk apa kemari lagi hah?" Salah seorang bodyguard itu mendorong jidat Kyungsoo dengan telunjuknya. "Jika Bos melihatmu... Dia akan marah besar, pergilah!"

"Aku teman Baekhyun! Biarkan aku masuk Ahjussi!"

"Tidak bisa, kau bukan seseorang yang dikenal Bos, sebaiknya pergi saja dan temui Baekhyun nanti setelah Bos pulang" Ungkap salah seorang pria yang lain, berusaha sebisa mungkin bersikap lembut pada bocah ulzzang itu, bagaimanapun Kyungsoo masih bocah di bawah umur... akan menjadi cerita lain jika ia menghajarnya kali ini

"Yya! kalian mengenal Hyungku! OH SEHUN! sudah pasti Hyungku memiliki hubungan penting dengan Presdir Park! jadi biarkan aku masuk dan bertemu Baekhyun!" Jerit Kyungsoo angkuh, tapi percuma ... pria berotot itu tetap kekeuh berdiri tak memberinya sekat untuk menerobos masuk.

Membuat Kyungsoo menghentak kaki jengkel, tapi setelahnya ia sedikit mundur kebelakang untuk menatap balkon bangunan mewah itu, barang kali jika ia berteriak... Baekhyun akan mendengarnya.

"BAEKHYUN!" Teriaknya lantang.

"BAEKHYUN KAU DI DALAM?! AKU KYUNGSOOO! KELUARLAH!"

Tak pelak membuat semua bodyguard itu, berdecak jengkel karenanya. "Yya! Yyya! mengapa kau nakal sekali... pulanglah, sebelum kami memukulmu!"

"BAEKHYUN!"

"BAEK—Mmmpphh!" Kyungsoo meronta, dan memukul-mukul lengan bodyguard itu... begitu bibirnya dibekap erat, dan dipaksa menjauhi halaman rumah Chanyeol.

"AHJJUSSII!" teriaknya kesal.

"Jangan membuat onar di sini! Pulanglah"

"Tidak mau! aku ingin bertemu dengan Baekhyun!"

"Bukankah sudah kukatakan, kembalilah lagi jika Bos sudah pulang... karna Bos yang akan mengizinkanmu bisa bertemu dengan Baekhyun atau tidak"

Kyungsoo bersungut lalu bersidekap kesal. "Aku akan menghubungi bos kalian!" Ancamnya, dengan tatapan tak suka.

"Lakukan saja"

Kyungsoo membuang muka, berjalan menghentak.. sambil sesekali melirik kebelakang. "Tunggu, Presdir Park menghukum kalian!" Ancamnya lagi, masih berlari ke suatu tempat.

.

.

"Aissh menyebalkan sekali!" Gerutu Kyungsoo seraya menendang batuan krikil di hadapannya, lalu menegak habis air mineral yang sempat di belinya, sebelum akhirnya beralih menghubungi Sehun.

Nada tersambung, menarik senyum lebar dari bocah berusia belum genap 17 tahun itu.

"Sehun Hyung! ... Aku—

("Aku sedang bekerja... hubungi nanti saja")

Kyungsoo menatap geram ponselnya. Ia belum mengatakan apapun, namun sudah mendapat sergah semacam itu. Membuatnya kembali membenarkan letak ranselnya, lalu kembali melangkah menuju kediaman Chanyeol.

berapa lama lagi Ia merenggang waktu menunggu Presdir park pulang, hanya untuk menemui Baekhyun. Bagaimana jika Presdir Park itu, pulang terlalu larut. Sedang... ia benar-benar ingin bertemu dengan Baekhyun kali ini

Namun...

Mendadak bocah itu menghentikan langkahnya, begitu melihat beberapa sosok mengepung rumah Chanyeol

Dan di sanalah ia melihat beberapa Pria tengah melumpuhkan bodyguard Chanyeol , sempat Ia mendengar suara gaduh di dalam. Entah bagaimana ini terjadi, Kyungsoo hanya melihat semua Pria asing bersenjata api itu... melempar gas misterius hingga semua bodyguard terkapar begitu saja.

cepat-cepat Ia merunduk dan menyembunyikan tubuhnya di balik semak-semak. lalu mencoba menghubungi seseorang meski nyatanya, kedua tangan itu terlihat gemetar.

"Kai Ahjussi! Ahjjussii! angkat telfonnya.. kumohon!" Bisiknya panik, sambil menggigiti jemarinya

("Wae!")

"A—ahjjussii... aku takut"

Flash Back Off

.

.


Sementara itu di tempat lain

.

Bibir tipis itu tampak mendesis tak senang, berulang kali ia menendang dinding pembatas basement di sisinya. Merasa gerah dengan sikap seorang pemuda. "Kau benar-benar dengan sengaja merendahkanku"

"BRENGSEK!" Umpatnya lagi seraya menggebrak keras-keras jendela mobilnya. Pria berpenampilan eksentrik itu beralih mengambil gadget putihnya, berniat menghubungi seseorang.

("Yes... Babe")terdengar kekehan berat dari dalam sambungan telfon itu, membuat Jiyong berdecih... mencoba menahan geramnya di sini

"Kau bersama anak itu?"

("Tentu saja, semua kulakukan sesuai keinginanmu Babe")

Satu jawaban Pria dalam telfon itu, berhasil mengukir senyum tajam miliknya.

"Bagus! buat perhitungan dengan Chanyeol.. .pastikan dia menyesali keputusannya dan berakhir menyerahkan semua sahamnya padaku. Jangan lakukan apapun pada anak itu sebelum aku memberimu petunjuk untuk bergerak... ingat anak itu hanya umpan"

("Hmmm")

"Aku akan ke sana secepatnya... tunggu—

"Datanglah esok hari saja"

Jiyong mengernyit curiga. "Apa?!

"Waspadai sekelilingmu, mungkin seseorang tengah mencurigai dan mengikutimu saat ini"

Jiyong terdiam, menimang kembali .. ada benarnya dugaan kekasihnya itu selepas TOP menculik bocah bernama Baekhyun itu, mungkin saja Chanyeol beralih menaruh curiga padanya " Baiklah, aku mendengarmu"

("Love You Babe...")


...

.

Lebih dari satu jam berselang, bocah itu menahan luka gores di sekitar siku dan lututnya akibat bersembunyi di balik semak. Hingga ia sadari semua sosok asing itu pergi, barulah Kyungsoo bernyali bangkit.

Meski nyatanya,bocah itu menangis gemetar... tak bisa menghubungi Sehun, dan hanya bisa bergantung pada Kai saat ini.

"Baekhyun! mereka membawa Baekhyun!" gagapnya, masih terus memeluk lututnya sendiri di balik semak itu, takut kalau-kalau semua penculik itu kembali... lalu mengancamnya

Hingga berselang waktu beberapa menit setelahnya, Kyungsoo sadari sebuah audi silver berhenti tepat di depan kediaman mewah itu.

Ia diam sejenak untuk mengamati, dan membulatkan mata lebar begitu tau... Chanyeol turun dari audi silver itu

.

.

"Apa ini?" Gumamnya menyadari betapa tak biasa kondisi rumahnya saat ini

Pintu utama rumah tampak terbuka lebar. Chanyeol ingat benar… telah berpesan pada Baekhyun tak membuka pintu untuk siapapun. Mungkinkah Baekhyun melarikan diri? Mustahil… Bodyguardnya tak akan membiarkan itu terjadi, tapi kemana perginya semua pria itu?

Chanyeol tersentak begitu menyadari satu hal...

"Baekhyun!" Ia benar-benar berlari panik ke dalam kali ini

"Baekhyun! di mana kau?!" Teriak Chanyeol gusar begitu tak menemukan Baekhyun di kamarnya, dan bahkan di setiap ruang dalam rumahnya

"BAEKHYUN!"

"A-ahjjussi.."

Dirinya yang masih terengah itu, dibuat terhenyak kala mendengar suara seorang bocah... membuatnya lekas berbalik untuk melihat. tapi mendadak sesak kala pemilik suara itu bukan Baekhyun.

"Kau—" Chanyeol mengernyit, sempat mendelik curiga pada penampilan bocah yang terlihat acak dengan tubuh penuh luka gores itu, tapi Ia mengenal anak itu. si bungsu dari keluarga Oh. tentunya adik Sehun.

Dengan tergagap dan sesekali mengucek mata penuh air mata itu, Kyungsoo mulai memberanikan diri menatap Chanyeol.

"B-baekhyun—" Gumamnya tersedak, masih gemetar

"Ada apa?! Kau melihat Baekhyun?! Dimana Baekhyun hah?!" Gertaknya tak sabar, bahkan dengan meremas kedua bahu anak itu. Tak peduli, jika itu menyakitinya... Ia hanya yakin satu nama yang disebut Kyungsoo tentu tersirat arti yang lain di sini.

Kyungsoo meneguk ludah payah, meski demikian Ia tetap memberanikan diri menatap Pria tinggi itu. "S-semua orang i—itu, memba—wa Baekhyun" Ucapnya terbata.

Semakin membuat Chanyeol menatap berang, berharap bocah itu hanya mengatakan lelucon padanya

"Jangan bercanda denganku!"

"Ahjjussi! kumohon percayalah! Baekhyun tak sadarkan diri dan mereka membawanya ke dalam mobil!" Pekik Kyungsoo, merasa jika tak banyak waktu tersisa untuk menyelamatkan Baekhyun.

"Se-semua Ahjjusi berotot besar di rumah ini ada di sana" Kyungsoo menunjuk jendela, bermaksud menunjukkan lokasi semua bodyguard Chanyeol dilumpuhkan dan terkapar di sisi halaman.

Tapi ...

DRRTTT...DRRTTT

Chanyeol kembali dibuat tersentak, siapa yang bernyali menghubunginya di saat seperti ini. Ia mengangkat cepat panggilan tersebut berharap...nomor yang tak dikenal itu adalah Baekhyun.

"B-baek di mana kau? apa kau tersesat? Katakan di mana—

("Park Chanyeol...kau masih mengingat suaraku?")

Chanyeol terbelalak lebar. "Siapa Kau?!"

("Hahah kau benar-benar melupakanku... itu bagus, ah! bagaimana jika dengan suara ini...")

("A—ahh! H-hentikanh! Ackh!")

Wajah stoic itu seketika mengeras. "FUCK! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA!? BERANI KAU MENYENTUH UJUNG RAMBUTNYA… KUBUNUH KAU BRENGSEK!"

"Tsk! tak kusangka kau memiliki selera tinggi seperti ini huh? Tubuh kekasihmu benar-benar menggoda ...ahh bagaimana jika aku ingin menikmatinya? Apa kau mengizinkannya?"

"ARGHHt! SHIT! SINGKIRKAN TANGANMU DARINYA—

Chanyeol mengumpat keras, begitu sosok asing itu memutus sambungan telfonnya. Berulang kali mencoba menghubunginya, tapi sialnya Pria itu sepertinya telah membuang nomornya

"ARGHH! BRENGSEK!"

.

.

.

"KAU! PERGI BERSAMAKU!"

Chanyeol beralih mencengkeram tangan Kyungsoo dan menyeretnya menuju mobilnya, tak peduli bocah itu berulang kali menjerit kesakitan. ia tetap memaksanya agar terus mengikutinya, bagaimanapun Kyungsoo satu-satunya yang melihat bagaimana semua pria tak dikenal itu membawa baekhyun.

"Katakan padaku semua yang kau lihat!" Sentaknya, sambil membuka pintu mobil

"Ugh! S-sakit! Lepaskan tanganku!" rintih Kyungsoo.

Chanyeol tau, Ia diluar kendali kali ini... tapi semua yang Ia pikirkan hanya tentang Baekhyun, tak peduli bagaimana caranya... Baekhyun harus kembali padanya.

"ARGHH! SHIT!" Gusarnya lagi, sambil menendang pintu mobil, membuat seorang bocah yang sedari tadi di seretnya itu reflek terduduk sambil memegangi kepalanya.

"Hks..Hyung! Sehun Hyuuung" Isak Kyungsoo pada akhirnya, menangis sambil memanggil Sehun. Namun detik itu pula, Chanyeol stagnan sempat menyadari satu hal yang menurutnya minus di sini.

Hilangnya Baekhyun selepas Ia menolak semua penawaran Jiyong bukan?

Mungkinkah ada kaitannya? mengingat Pria itu dikenal memiliki pribadi yang licik?

Chanyeol beralih meraih cepat ponselnya lalu menghubungi seseorang.

.

.

("Yeol?") terdengar suara Sehun menyapa dari dalamnya

"Kwon Jiyong. Pria itu masih di sana?"

("Ah... ya, baru beberapa menit yang lalu Dia bertemu dengan Manager Lee. Kurasa saat ini Dia masih di basement")

"Temukan... dan tahan bedebah itu"

"Apa?"

"Hubungi aku jika kau menemukannya"

("Ap—)

PIP

Chanyeol menutup kasar panggilan itu, sebelum akhirnya kembali menyeret Kyungsoo untuk lekas duduk di mobilnya.

Akan lebih mudah jika Ia menyematkan benda pelacak di tubuh Baekhyun, tapi rasanya ia terlalu ceroboh hingga semua ini terjadi pada sosok mungil itu.

Jika semua ini terkait dengan perusahaan hingga melibatkan keselamatan Baekhyun, tentu tak akan segan untuknya melenyapkan nyawa seseorang di sana.

"A—ahjussi... buka pintunya" Rengek Kyungsoo tiba-tiba, memaksa Chanyeol lekas membuka pintu mobil itu.

Namun yang terlihat, Chanyeol seakan tak menaruh hirau dan lebih memilih mengeratkan sabuk pengamannya.

"Ahjjussi... polisi di sini. Buka pintunya" Mohon Kyungsoo lagi, bertepatan dengan seorang petugas polisi yang mengetuk kaca mobilnya.

entah sejak kapan semua polisi itu di sini, tampaknya... rasa panik itu sedikit banyak mengacaukan konsentrasinya.

Tapi Chanyeol hanya merasa kedatangan semua polisi itu hanya menghambat waktu yang tersisa, Ia hanya mergang kesempatan untuk mencari Baekhyun jika semua pria bodoh itu di sini, Presdir Park itu putuskan untuk melajukan mobilnya, tanpa menghiraukan beberapa polisi yang menghampirinya.

Namun...

TIIIIIIIINNNNNNNNNNNNN

Mendadak Chanyeol menahan laju mobilnya, bahkan hingga membunyikan lantang klakson miliknya kala seorang pria berpostur tinggi berdiri menghadangnya.

TIIIIINNNNNNNN

Pria itu –Kai- hanya menghela nafas berat. melihat pemilik mobil itu kembali bersikap arogan, membuatnya beralih melangkah mendekat... lalu mengetuk jendela audi itu.

"Tuan Park... kau berniat menculik anak itu?" Ujar Kai begitu jendela mobil terbuka, lalu meraih kunci mobil Chanyeol hanya dalam kedipan mata. Sempat Ia melirik Kyungsoo yang ketakutan di sana... namun cukup mengerti betapa tak tenang raut Chanyeol saat ini.

"Kami ingin meminta waktumu sebentar... jadi keluarlah"

Chanyeol mengepalkan tangan berang. "BERHENTI MEMBUAL DAN MENYINGKIR DARI HADAPANKU!"

Polisi muda itu kembali mencoba mengambil situasi. "Aku tau... kau mencemaskannya. tapi bocah di sampingmu itu... bukan petunjuk yang kau perlukan untuk mencari Baekhyun" Lugas Kai, kembali melirik Kyungsoo... mencoba menenangkan anak itu dari tatapan matanya.

"Berdasarkan informasi dari seorang saksi" Kai menatap lekat Kyungsoo. "Kami berhasil menghimpun informasi. tiga mobil hitam yang dicurigai membawa Baekhyun, melintasi apgeudong... Tim masih memeriksa seluruh rekaman sisi tv di sepanjang jalan yang mungkin merea lewati" Lanjutnya lagi, kali ini menatap lekat Chanyeol.

"Mereka menculik Baekhyun darimu, tentu untuk sesuatu yang harus kau bayar. Dan mungkin saja satu dari pelaku itu menghubungimu untuk tebusan. Bekerja samalah dengan kami, jika semua yang kukatakan ini benar. kami bisa melacak –

Kai reflek menangkap sebuah Smartphone hitam, begitu Chanyeol melemparkan benda itu padanya.

"I-ini?"

"Dia memang menghubungiku.." Singkatnya, sebelum akhirnya merampas kembali kunci mobilnya sembari mengambil smartphone Kai di saku Polisi itu. Memliih bertukar ponsel.

sesaat menatap Kyungsoo, lalu mendepaknya keluar dari dalam mobil.

"Sesuatu harus kupastikan. Hubungi ponsel ini" Ujarnya sambil menunjukkan ponsel Kai. "Jika kau menemukan posisi penelfon itu" Lanjutnya lagi, sebelum akhirnya benar-benar melajukan audi itu meninggalkan Kai dan Kyungsoo di sana.

"Y—YACK! PARK CHANYEOL!" teriak Kai sambil memandangi mobil Chanyeol dan Smartphone hitam itu bergantian.

Tapi Presdir Park itu benar-benar pergi seakan dengan kecepatan angin, membuatnya berdecak keras... tak habis pikir Pria itu bisa meremehkannya seperti ini. meski merasa demikian, detektif muda itu tetap mengikuti jalan pikirnya. Mungkin memang menangkap maksud Chanyeol di sini.

Mencari-cari penelfon terakhir dari gadget itu, dan melacak... nomor yang mungkin mencurigakan untuknya.

Satu penelfon terakhir tanpa nama...

.

"A—ahjussiii"

Kai mengernyit heran, begitu dua lengan kecil merangkul erat perutnya.

"Wae?" Ujarnya sambil menepuk kepala Kyungsoo. "Kau takut?" Lanjutnya lagi, sedikit merunduk untuk melihat wajah anak itu.

"Ahjussi... aku juga melihat pria itu di sana ..." Kyungsoo menengadah "Bersama para penculik" Lanjutnya sambil menenggelamkan kepala di balik jaket Kai.

"Pria itu? apa maksudmu?"

"Pria bertato... yang kulihat di tempat Kai Ahjjussi" Gumam Kyungsoo.

Membuat Kai terbelalak, lalu secepat mungkin mengeluarkan potret dari balik sakunya.

"Pria ini yang kau maksud?" tanya Kai penuh selidik, kala menunjukkan potret itu

"Uhm! benar Ahjjussi... Pria ini yang kulihat. Dia yang membawa Baekhyun ke dalam mobil"

"Choi Seunghyun... siapa kau sebenarya" Desis Kai sambil meremas potret itu hingga kusut dalam cengkeramannya.

.

.

"Ketua! Penculik itu... mafia narkoba yang kita cari selama ini" Seru Kai, begitu tersambung dalam panggilan telefonnya.

("Hah?! Bicara apa kau sebenarnya?")

"Kumohon lakukan pelacakan pada nomor yang kukirim ini"

("Omong kosong macam apa ini hah! Beraninya kau memberiku perintah!")

"Percayalah padaku... Kita memburu rubah yang sama"

("YACK! KIM JONGIN!)

PIP

Ia menyeringai puas, kala menutup panggilan itu.

.

.

"Jika yang kau katakan ini benar... aku akan mewujudkan harapan seseorang Kyungsoo~ah" Bisik kai, sambil menggenggam tangan Kyungsoo lalu menariknya menuju mobilnya.

"Seseorang? Nuguya?" Tanya Kyungsoo sambil mengerjap tak mengerti.

Kai hanya tersenyum, lalu beralih memandangi langit biru di atas.

"Jika semua ini benar... aku akan menangkap TOP... kau dengar itu Yunho Ahjjussi?"

.

.

.

.


Sementara itu...

"Jadi... apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Jiyoung mengerlingkan mata sembari mengikis jarak melampaui meja kafe itu, menyentuh dasi Sehun... sebelum akhirnya menariknya mendekat. "Tuan Oh Sehun" Bisiknya nyaris mendesah.

Sedikit yang Ia tau tentang pribadi Kwon Jiyong, dari bahasa tubuh seperti ini... mungkin Dia memang tipe penggoda. Tapi apa maksud Chanyeol sebenarnya, memintanya mengulur waktu seperti ini dengan Jiyong.

"Tentang bisnis... ataukah seseuatu yang lain" Jiyong kembali mengerling, kali ini lebih menggoda... dengan bibir bawah yang digigit itu.

Sehun mengerjap sambil meneguk ludah payah. Ah! Sial... mengapa harus terjebak dalam situasi semacam ini. Terlalu frontal... dan Ia yakin Jiyong ingin menariknya dalam perangkap manis di sini.

"Haha Kurator Kwon, anda benar-benar memiliki pribadi yang menarik. Selain megesankan dalam hal bisnis"

Jiyong mulai menatap lekat cara bicara Sehun. lalu setelahnya terkekeh pelan. "Mengapa kau sekaku ini eum?" Ia beralih menyentuh bahu Sehun, memijitnya pelan sambil sesekali mencuri pandang dengan wajah pemuda itu. "Lemaskan tubuhmu, saat bicara denganku" Lanjut Jiyong lagi.

Sehun mengepalkan tangannya sendiri, semakin parah ia sadari Pria itu memberi isyarat padanya. Kemana perginya Chanyeol? Mungkinkah Pria itu benar-benar menjadikannya umpan untuk Jiyong?

"Kurasa bukan tentang bisnis, hingga kau membawaku kemari" Jemari lentik itu mulai meraba lengan Sehun, menyusurinya kebawah hingga menyentuh punggung tangan Sehun.

"Tuan Oh—

"Memang bukan tentang bisnis"

Keduanya mendadak terhenyak begitu suara bass seseorang datang menginterupsi.

"P—park Chanyeol" Gagap Jiyong, terguncang di kursinya.

Bahkan semakin gugup, menyadari kemana kedua mata tajam itu menelisik dirinya.

"Ah... mengapa tiba-tiba kau sepucat ini? mungkinah kedatanganku membuatmu takut?" Chanyeol terkekeh pelan kala menyentuh dagu Jiyong hingga menengadah ke arahnya.

"Tch!" Jiyong menyentak tangan Chanyeol, mendelik tajam padanya. "Apa kau ingin menarik kembali penawaran dariku? hingga bersusah payah kemari mencariku"

Sejenak, Chanyeol menatap keramaian di dalam kafe itu... sebelum akhirnya kembali mengikis jarak mendekati telinga Jiyong.

"Sayangnya... bukan itu juga, yang membawaku kemari" Bisiknya

Sementara Sehun yang melihat keduanya, hanya mengerjap tak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi di sini. Dan Ia hanya merasa... ada amarah yang tersulut dari dalam diri Chanyeol.

"kau melakukan sesuatu yang lain di belakangku... Kwon Jiyong" Desah Chanyeol, terdengar menusuk bahkan penuh penekanan.

Tak pelak, membuat Pria ramping itu terbelalak... nyaris tak bisa menyembunyikan gugupnya.

"A—apa maksudmu?!"

"Ah... mengapa aku merasa raut ini, mengisyaratkan ucapanku benar" Desis Chanyeol sembari memalingkan wajah Jiyong ke arahnya.

Hingga getaran ponsel dalam sakunya, memberi jeda untuk tatapan penuh intimidasi itu.

Seseorang menghubungi Ponsel kai, berasal dari nomornya... tak salah lagi. Polisi itu sepertinya menemukan petunjuk yang lain..

"Kawasan Gwanghwamun ..." Ejanya, menirukan ucapan kai dalam telfon, sambil melirik Jiyong yang mulai gemetar. "Apartmen? kurasa... seseorang yang kukenal memilikinya. Bukankah benar... Tuan Kwon Jiyong?"

Detik itu pula, Jiyong beranjak cepat dari kursinya berniat untuk lari.

Tapi...

GREBBB

Tertahan, begitu Chanyeol mencengkeram kuat lengannya. "Mengapa pergi secepat ini? kita belum bersenang-senang"

Chanyeol kembali melempar tubuh kurus itu hingga terduduk kasar di kursinya. "Aku memang tak tau apapun tentang apartmen itu. tapi sikap yang kau tunjukkan ini... membuatku yakin, kau di balik semua ini"

"B-bukan aku! A-apa yang kau katakan! Aku t-tidak menculiknya!" Jiyong terbelalak, mengapa seceroboh ini? Mengapa harus kata itu yang terucap darinya?

"Argh!" Jiyong mendadak terangkat dari kursinya, begitu Chanyeol benar-benar mencengkeram kasar kerahnya.

"Keparat! Jika orang itu menyentuhnya... Kubunuh Kau!" ancamnya, sebelum akhirnya menyeret kasar tubuh jiyong dari kawasan kafe itu.

"A-apa yang terjadi sebenarnya?" panik Sehun, sambil mengekor langkah Chanyeol

"Siapkan tali dan koper besar untukku"

"Apa?"

.

.

.

"Yya! Mengapa aku mengikatnya seperti itu?" Gumam Sehun tak tega, kala melirik ke jok belakang... dan di sanalah Kurator Kwon itu meringkuk dengan tangan dan kaki terikat kuat, bahkan dengan mulut terbekap sebuah kain.

Sementara Chanyeol yang sedari mengambil ponsel Jiyong itu seakan tak mendengar dan lebih memilih menelisik ke dalam smartphone putih itu, barang kali... ia menemukan petunjuk lain di dalamnya. Ah! Ia hampir putus asa.. apa yang terjadi pada Baekhyun?

sedang hingga detik ini, Ia tak tau bagaimana dan dimana anak itu sebenarnya. Bahkan meskipun memaksa dengan kekerasan, Jiyong sama sekali tak mengakui apapun padanya.

Ia beralih menatap Jiyong, lalu membuka kasar kain penutup bibir Pria yang penuh luka lebam itu.

"DIMANA KEPARAT ITU MEMBAWANYA HAH?!" teriaknya kalap sambil menarik kasar surai metalik itu.

"Ark! A-akhu tak tau—

BUAGHHH

Satu pukulan telak kembali mengenai wajah putih itu, membuat Jiyong merintih dengan darah merembas di sudut bibirnya.

"NGH! ARGHH! Hhhah...hhhh"

"Y—yeol! Hentikan... k-kau bisa membunuhnya! Apa yang terjadi padamu sebenarnya?! Mengaapa kau menyiksa—

"KATAKAN DIMANA DIA MENCULIK BAEKHYUN?!" Chanyeol menghiraukannya dan lebih memilih mencekik Jiyong. Tak pelak membuat Sehun terbelalak mendengarnya. Apa maksudnya menculik? bagaimana mungkin Baekhyun menjadi target?

BUAGHHH

"Arghh!"

"YACK! Dia bisa mati Yeol!"

.

.

"Aku bisa membunuhmu jika kau tak mengatakan—

DRRTTT...DRTTTTTT

"FUCK!"

Chanyeol mengumpat keras, begitu ponsel Kai kembali bergetar. Meski merutuk, tapi Ia memang sepenuhnya tau... panggilan polisi itu berharga untuknya.

"Wae?"

("Aku tak berhak bicara apapun karna memang ini ponselmu, dengarkan baik-baik, orang itu kembali menghubungmu. Dan kami sempat merekamnya untukmu-

("Park...Chanyeol, Kau tentu bertanya-tanya di mana kekasih kecilmu saat ini, Gwanghwamun 169. aku memiliki perhitungan untukmu dan akan kutunjukkan sesuatu yang menarik ... datanglah seorang diri, atau kau hanya akan melihat mayat bocah manis ini")

("Seperti lokasi pelacakan terakhir kami. Posisi penelfon itu benar di kawasan apartemen Gwanghwamun. kami secara diam-diam telah mengirim tim ke sana, untuk mendampingimu tapi tetaplah berhati-hati") Pesan Kai sebelum akhirnya mengakhiri panggilan itu.

"Y—ya, siapa yang menelfon tadi?" Gumam Sehun, masih berusaha menyambung benang merah untuk dugaanya di sini. "Baekhyun benar diculik?"

Tapi alih-alih mendengar Sehun, Presdir itu lebih memiilh menyumpal mulut Jiyong lalu melajukan mobil audi itu ke suatu tempat.

"Lihat siapa yang akan mayat sebenarnya" Desisnya, seraya mengulas smirk tajam.

"Urmhh! Mrhh!" Jiyong menggeleng kasar, bahkan berulang kali mencoba menggeliat untuk melepaskan diri.

"DIAM KAU!"

.

.


"Bagaimana mungkin, Aku menyiakan kesempatan seperti ini Kwon Jiyong" Desisnya tajam, ia berjalan perlahan mendekati Baekhyun. membelai paha yang terbuka itu bahkan mulai menyeringai puas begitu melihat cairan hangat mengalir dari rektum namja mungil itu.

"Kau lihat?... tubuhmu menginginkan sentuhanku Sayang" Ucapnya sembari mengendus leher Baekhyun.

"L-lepaskan! Enghh~ " Baekhyun membuang wajah, peluh kembali menetes menciptakan kilap lembab dari tubuhnya yang kian memanas. Terlebih pria asing itu mulai mengecupi garis leher dan bahunya. Membuat Baekhyun menggigit kuat bibir bawahnya, berusaha menahan suaranya sendiri, Tak peduli jika itu membuat darah merembas dari bibir yang tergigit itu. "Hks!"

"Hmm... reaksimu benar-benar polos hahaha, apa ini pertama kalinya seseorang menyentuhmu selain Park Chanyeol ?" Ucap TOP sedikit mendesah. Tangan kananya mulai meraba menyusuri perut Baekhyun dan berakhir meremas-remas genital Baekhyun

"H—ahh... Nnh!"

Baekhyun menggeleng kasar. Mungkin benar... Pria itu menyentuhnya dengan cara sama seperti yang Chanyeol lakukan padanya. tapi—

Semua terasa menjijikkan untuknya. Baekhyun membencinya...

Dan terakhir Ia mencoba untuk melepaskan diri, Pria itu lebih cepat memalingkan wajahnya bahkan benar-benar ingin mencium bibirnya.

"KAU MENJIJIKKAN!" Jerit Baekhyun, tepat sebelum TOP menyesap bibirnya.

membuat Pria itu stagnan, lalu terkekeh keras melihat namja mungil di hadapannya tampak gemetar dengan linangan air mata di wajah sembabnya.

"Kau benar-benar tak tau diri!"

PLAKKK

"Ah!" Baekhyun menrintih dan makin terisak begitu TOP menamparnya keras, menyisakan luka lebam di sudut bibirnya

"Sepertinya obat yang kuberi tak cukup membuatmu menikmati permainan ini hm?"

TOP melepas utas tali yang mengikat tangan Baekhyun di tiang besinya, lalu memutar tubuh anak itu hingga menungging.

"Kau pantas dihukum bukan?" Bisiknya sebelum akhirnya kembali mengikat kedua pergelangan tangan Baekhyun di belakang punggungnya

"Aku akan menguasai tubuhmu dengan ini manis... hahahahaha" TOP kembali melesakkan satu butir kapsul kedalam rektum Baekhyun, mendorongnya lebih kasar hingga berbaur dengan kapsul lainnya yang hampir meleleh di dalamnya.

"Nnh~ Ti—dak! Apa yang kau anhh~ masukkan!?"

Meski menjerit bahkan menggeliat ingin lepas, Pria itu terlampau kuat memasung dirinya. Hingga Baekhyun menengadah hebat, menyadari tubuhnya makin memanas dan berbeda ... berulang kali ia berusaha berontak...tapi percuma, dengan tangan terikat di balik punggungnya. Terlebih TOP terlalu kuat melesakkan jari tengahnya, menahan obat perangsan itu hingga menyatu dengan tubuhnya.

"ini pertama kalinya kau menggunakan obat seperti ini bukan? Tck... ini akan membuatmu menikmati segalanya"

Sementara itu 5 orang penjaga kekar miliknya, tampak meneguk ludah payah menyaksikan dengan seksama ... pemuka mafia itu begitu menikmati kegiatannya meraba tubuh bocah di hadapannya. Terlebih suara erangan dan lengkingan Baekhyun semakin membuat sesuatu di tengah selangkangan kelimanya tampak membengkak keras.

.

.

Hingga tiba-tiba seorang pria kekar yang lain memaksa merangsak masuk... mengganggu kesenangan TOP yang masih mencumbu tubuh mulus tanpa sela itu.

"Maaf Tuan... Pria itu telah datang"

TOP beranjak, dan menyeringai sesaat. "Dia sendiri?" Ujarnya kemudian.

"Seorang bersamanya"

"Tsk! ... Dia mengingkari ucapanku rupanya. Biarkan mereka masuk" Titah TOP setelahnya. Iia kembali mendekati Baekhyun dan membuat bocah yang terengah payah itu telentang dengan kaki mengangkang lebar.

.

,

,

Tak berselang lama, TOP kembali mengukir seringai lebar begitu melihat Chanyeol dan seorang lainnya memasuki ruangan miliknya, namun satu hal yang membuat alisnya bertaut heran... kala melihat sebuah koper besar berada di antara keduanya. tak biasa sekali, bukankah ia tak meminta tebusan apapun.

Lalu untuk apa Chanyeol membawa benda sebesar itu.

Sementara Chanyeol tampak mengeratkan gigi kuat melihat kondisi Baekhyun saat ini, kedua kaki terbuka lebar, memperlihatkan bagian intimnya bahkan dengan nafas terengah-tengah seperti itu.

tak cukup dengan semua itu, luka lebam dan bercak darah di sudut bibir Baekhyun semakin menggelapkan matanya ingin segera membunuh Pria itu.

Chanyeol tak pernah merelakan seseorang menyakiti Baekhyun bahkan menyentuhnya seujung rambutpun.

"Kau—

"Yeol ...perhatikan pergerakanmu, jangan gegabah. Senjata tajam di tangannya... bisa saja Baekhyun terancam di sini" Sehun kembali menahannya, dan memaksanya bersikap lebih tenang. Bagaimanapun keduanya kini kalah jumlah.

Chanyeol terlihat luruh dan mengedarkan pandangan ke sekitar... benar saja, tujuh pria tengah mengepung keduanya.

.

.

"Park Chanyeol... tidakkah kau mengingat siapa diriku?"

Chanyeol menajamkan mata, memaksa menguak ingatan akan visual Pria kekar di hadapannya... wajah itu memang tak terlalu asing, tapi sungguh ia sama sekali tak mengingat apapun tentangnya.

"Hhh! baiklah, karena ini sisa hidupmu... akan kuberi segala kejutan untukmu" Desis TOP seraya mengangkat wajah pias Baekhyun dan menjilat pipi kanannya. Membuat Chanyeol makin mengepalkan tangan kuat. Namun percuma...sekalipun ia bertindak satu langkah saja, senjata api disekelilingnya sudah pasti menembusnya dengan timah panas.

"Aku tau semua tentangmu Park Chanyeol, kau menaruh dendam pada anak ini karena Ayahnya bukan... hahahah tapi tak ku sangka kau jatuh cinta padanya"

Chanyeol terbelalak lebar"Siapa kau sebenarnya...?!."

TOP terkekeh pelan. "Akulah pembunuh Ayahmu... tapi kau begitu mudah terlarut dalam permainan yang kubuat hnn, dan aku juga yang membuat anak ini kehilangan Ayah tercintanya"

Mendadak semua terdengar hening...

Baik Chanyeol maupun Baekhyun tampak terperanjat... mendengar dengan pasti semua terungkap dari pria itu.

Sekelebat visual mulai terbayang. Chanyeol mengingatnya pria di hadapannya itu.. Pria yang mendekati dan memberinya semua bukti kebenaran akan kematian Ayahnya, Tapi mengapa?

Mengapa Ia sebodoh ini...

Mengapa dendam itu membutakan segalanya... hingga tanpa tersadar musuh datang dan begitu mudah mengelabui

"A-Ayah? Hks! K-kau membunuh Ayah? TIDAAK! MENGAPA KAU MEMBUNUH AYAHKU! MENGAOA KAU LAKUKAAN ITU?! AAAHHHH!" Baekhyun menjerit histeris, menangis hebat... di sela tubuhnya yang menggigil akibat obat perangsang itu.

"Diam!" Gertak TOP, sambil mencengkeram dagu Baekhyun. " Seseorang yang telah meninggalkan cacat di wajahku...harus membayarnya dengan nyawa Hahahha!" TOP beralih menarik kuat surai hitam Baekhyun, memaksa namja cantik itu menatap luka gores di wajah kirinya.

Sementara Chanyeol tampak jatuh bersimpuh dengan obsidian terbelalak nanar... meski ucapan TOP menghalau jauh dari fakta yang diyakininya selama ini, namun sungguh sesuatu seakan meremas dadanya... mendadak rasa sesak itu membuatnya menahan sesal. Bukan karena kenyataan pembunuh Ayahnya, tapi lebih karena...semua perlakuannya pada Baekhyun . Semua ucapan dan perbuatan tak terpujinya? Bahkan Chanyeol tak tau...masih pantaskah dirinya menatap mata indah itu.

Menyesal...

"Apa yang kau lakukan? berdiri dan selamatkan anak itu" Lirih Sehun seraya memegang pundak Chanyeol. memaksa Pria itu lekas bangkit dan berpegang pada rencana awal.

"Mengapa menangis? Ayahmu memang pantas mati" Bisik TOP, kembali mendekati bocah yang meringkuk tersengal-sengal itu.

Lalu mencumbu wajahnya, menjilat air mata yang berlinang sebelum akhirnya mengecupi leher... hingga mencapai dagu Baekhyun. Siap mencuumbu bibirnya.

"Ngh! Hks! T-tidak! T—Tuann!"

"Diamlah...biarkan dia melihatnya"

'Chupp'

"C-Chanyeol! CHANYEOOL!"

Wajah itu kian mengeras melihat TOP memaksa mencumbu dan membuat Baekhyun menangis seperti ini.

"Sebelum kau menikmati anak itu, akupun memiliki kejutan besar yang harus kutunjukkan untukmu" Desis Chanyeol tajam, membuat TOP menghentikan cumbuannya dan menoleh menatap lawan bicaranya tersebut, tentunya tanpa beranjak dari tubuh Baekhyun.

TOP berdecih dan terkekeh meremehkan, lelucon macam apa yang bisa dilakukan Pemuda seperti Chanyeol. "Sepertinya...aku tak meminta tebusan darimu .. tapi, aku cukup tertarik dengan—

CKLEK

BRAKK

"Uhmmp...mmmh! Mmppph!"

TOP membisu, seakan tertelan begitu saja kala melihat seseorang terlempar kasar dari dalam koper besar itu.

"J-jiyong~ah...KEPARAT! Apa yang kalian lakukan padanya!? BUNUH DIA!"

Chanyeol menyeringai tajam, pandangan penuh was-was...ia bergerak cepat menengadahkan kepala Jiyong dan menghunuskan belati tajam dileher putih itu, sebelum semua Pria itu membidik dirinya

"Turunakan senjata kalian, atau kutebas lehernya" Desis Chanyeol.

"T-turunkan" Gagap TOP, panik melihat mata pisau itu bisa kapanpun menyayat leher kekasihnya.

"Buat mereka tiarap!" gertak Chanyeol lagi, sembari menekan lebih kuat pisaunya pada leher Jiyong. memaksa TOP melakukan apapun yang Ia inginkan.

"T-tiarap...cepat lakukan!" Teriak TOP semakin Gugup.

Chanyeol menyeringai menang, puas... semua berjalan di bawah kendalinya. Berulang kali Chanyeol menguatkan tarikannya di kepala Jiyong, membuat rintihan lemah kembali mengalun dari bibir pria ramping itu.

"Kau lihat Tuan Kwon... apa yang dilakukan kekasihmu? Dia mengkhianatimu bukan?" Chanyeol makin menarik kasar surai Jiyong, memaksa namja itu melihat lurus kedepan...seketika itu pula, air mata lolos begitu saja dari pelupuknya, kala melihat TOP tampak menduduki perut seorang anak tanpa sehelai benang pun, tak perlu dijelaskanpun...ia tau apa yang telah diperbuat kekasihnya pada anak yang diyakininya bernama Baekhyun itu.

TOP beranjak cepat dari tubuh Baekhyun, dan menatap penuh harap pada sosok dalam cengkeraman Chanyeol. "B—babe...semua ini tak seperti yang kau pikirkan, aku bisa jelaskan apa—

"Mhhmmpp!" Seru Jiyong tertahan

"L-lepaskan...jangan menyakitinya!kumohon lepaskan Jiyong"

"Semudah itu kau memohon?!" Chanyeol nyaris kalap, menusuk leher Jiyoung... bahkan samar terlihat mata pisau itu mulai menggores kulitnya.

"PADA SIAPA KAU MENCARI MASALAH SEBENARNYA!"

"K-ku mohon! Jiyong tak memiliki salah apapun, kau tak berhak menyakitinya ... lepaskan Jiyong!."

Chanyeol menyipitkan mata, terlihat jelas kilat amarah terbias dari sudut obsidiannya. "Hn? Aku tak berhak? Katakan padaku! Siapa yang pertama kali melibatkan seorang tak memiliki salah apapun di sini! Katakan padaku Brengsek!"

TOP membisu dengan wajah tertunduk...ia hanya tak ingin melihat Jiyong terluka

"SERAHKAN DIRI KALIAN! POLISI TELAH MENGEPUNG!" Terdengar teriakan lantang dari pengeras suara, bersamaan dengannya beberapa polisi bersenjata api merangsak masuk dan membidik TOP beserta anak buahnya.

Melihat TOP lengah, Chanyeol memberi isyarat pada Sehun untuk bergerak sigap ke belakang Pria itu. Dan—

'BUAGH'

"Arghtt!"

Hanya dengan satu tendangan...TOP jatuh tersungkur ke depan, Sehun tak menyiakan kesempatan...ia meraih cepat tubuh Baekhyun, menggendongnya bridal dan membawanya ke sisi Chanyeol.

"Kau baik-baik saja?" Bisik Sehun sembari mengenakan jas panjang milik Chanyeol, pada tubuh polos itu.

"U-uhm"

Baekhyun hanya mampu mengangguk lemah dengan wajah tertunduk. Sesungguhnya ...saat ini ia tak mampu berfikir dengan benar...bahkan tubuhnya pun terasa begitu panas dan lemah, hingga ia pasrah bersandar dalam pelukan Sehun.

"K—kau sudah mendapatkan anak itu, jadi lepaskan Jiyong!" Ujar Top tertatih, kala polisi memaksa menekuk tangannya ke belakang. tak habis pikir, bagaimana bisa Chanyeol bersama dengan polisi itu,,, bahkan mereka menggunakan Jiyong sebagai sandra

"Tch! Aku hanya ingin tau—" Chanyeol mentap Baekhyun, dan mengepalkan tangan erat begitu melihat luka lebam di sudut bibir anak itu. "Baekhyun" Panggilnya kemudian.

Membuat Baekhyun dalam gendongan Sehun itu, beralih menatapnya lemah

"Siapa yang memukulmu?"

Baekhyun menatap Chanyeol dengan tubuh gemetar, benar...sudut bibirnya memang terasa ngilu, ia tau rasa anyir yang tercecap menunjukkan... tamparan beberapa waktu lalu benar-benar keras. Baekhyun memaksa turun dari gendongan Sehun, lalu mendekati Chanyeol.

"I-ini tidak sakit. A-ku baik-baik saja" Lirih Baekhyun, seraya mengangkat kepala dan menatap Chanyeol lembut. Membuat TOP dan Jiyong semakin terperangah mendengarnya, mereka tak pernah menduga...namja mungil itu memiliki sisi hati yang begitu putih tanpa cacat.

Tapi tampaknya Chanyeol tak bisa terima begitu saja, Terlihat Pria itu begitu gelap mata mengangkat tangan terkepalnya siap menghantam wajah pias Jiyong,

"Dia juga harus merasakan hal yang sama dengan Baekhyun!"

Nyaris pukulan itu menghantam wajah Jiyong, tapi—

"Ku mohon hentikan!" Pekik Baekhyun, seraya memeluk tangan kekar itu dengan nafas terengah

"K—kau tak harus melakukan semua ini padanya, dia t—tidak menyakitiku" Ucap Baekhyun pelan, ia menatap Jiyong sesaat...begitu iba melihat sebuah kain membekap bibirnya. "Henti—kan Tuan~." Pinta Baekhyun lagi, kali ini dengan tatapan penuh harap

"Aku hanya ingin membuat orang itu, merasakan sakit yang sama denganku. Lihat luka ini... Keparat itu memberimu luka ini!"

"Tapi itu tidak berarti—

Chanyeol melepas kasar pelukan Baekhyun di tangannya. "Apa kau lupa?! Apa yang telah keparat itu perbuat padamu! Jika aku datang terlambat... hal menjijikkkan macam apa yang terjadi pada dirimu Hah?!"

Baekhyun berjalan tertatih kebelakang dan jatuh terduduk, ia memeluk erat-erat tubuhnya dengan meremas jas Chanyeol. "I—itu." Ucapannya terhenti, Baekhyun ingat betul semua perlakuan menjijikkan TOP terhadapnya, melesakkan benda asing ke dalam tubuhnya dan hampir memperkosanya...bahkan efek dari benda asing tersebut masih begitu kental ia rasakan.

"Tapi Dia tidak bersalah" Masih saja Baekhyun menatap lembut Jiyong dan melepaskan ikatan kain yang membekap bibirnya, membuat Jiyong tertunduk dengan tubuh gemetar...ia benar-benar tak memiliki muka lagi. Mengapa anak itu besrsikap seperto ini? jelas-jelas ia bersalah, dirinya pun terlibat dalam kejahatan tak berdasar ini. Bahkan begitu sampai hati ingin melenyapkan Baekhyun.

Baekhyun menyeka pelan peluh di kening Jiyong, dan mengulas senyuman lembut. "Apa kau takut?" Bisiknya kemudian. "Tuan tidak bermaksud memukulmu"

Jiyong menatap nanar namja mungil itu. Betapa memalukannya dirinya kini...Jiyong begitu ingin memeluk anak manis di hadapannya, namun penyesalan itu memaksa tubuhnya mematung tak berkutik sedikitpun.

"Tuan ku mohon—

Baekhyun terbelalak, melihat TOP yang kala itu telah terborgol.. memaksa melawan polisi, dan mengambil pistol yang tergeletak di lantai

"Aku tak akan membiarkan Bocah tengik sepertimu mengalahkanku, dan aku lebih berkuasa dari—

DORRRR

"AARGH! GHHAH!"

Sebuah timah panas melesat cepat dan menembus tangan kanan TOP, membuat pistol itu jatuh bersama cipratan darah, sebelum pelatuk senjata api itu membidik Chanyeol.

"Whoooaa Ahjushiii! Daebaaakkk!" Terdengar pekikkan antusias dari seorang anak

"Kungsoo!" Sehun membulatkan mata lebar begitu melihat Dongsaeng kecilnya berteriak rusuh jauh dibelakangnya. Bagaimana mungkin Kyungsoo berada di tempat seperti ini?

.

.

.

"Dia baik-baik saja?" Ujar Kai memandang sendu Baekhyun yang kini meringkuk di dalam gendongan bridal Presdir muda itu

"Hn..."

Kai mengangguk pasti mendengar gumaman singkat tersebut, seteahnya Ia bergerak sigap meringkus TOP beserta pengikutnya, tak terkecuali seorang kurator yang masih tergugu lemah di lantai itu

.

.

"A-ayah..." Lirih Baekhyun, kembali tersdak isakannya sendiri. Membuat Chanyeol menghela nafas pelan. Sesaat mencium puncak kepala Baekhyun, sebelum akhirnya membawa tubuh ringkih itu secepat mungkin ke dalam audinya

.

.


Lebih dari tiga puluh menit terlampaui, hingga audi silver itu benar-benar menempi tepat di depan sebuah kediaman megah.

Tapi di sanalah, Baekhyun menutup dirinya...

meringkuk tak nyaman dengan tubuh menggigil penuh dengan keringat

'Nghh~ apa yang terjadi? .tubuhku seperti terbakar'. Gumam Baekhyun dalam hati.

"Baekhyun"

'Ah Suara ini...apa Chanyeol memanggilku?'

"Baekhyun~ah"

Kedua caramel eyes itu mengerjap, terbangun dari lelapnya.

Chanyeol begitu cemas melihat Baekhyun semakin menggigil, namja mungil itu terduduk lemas di dengan nafas makin tersengal-sengal, mungkinkah Baekhyun sakit? Ia benar-benar tak mengerti mengapa Baekhyun tersengal payah seperti itu

"Kau baik-baik saja? Kita sudah sampai di rumah" Bisik Chanyeol pelan, semakin menatap teduh kala melihat bocah itu mengerjap berulang-ulang

"Hhh... hhh" Baekhyun terengah.

"A...a—ku baik-baik saja, Tuan" gumamnya lirih, kembali memejamkan matanya dan menyandarkan kepala di jok mobil, sadari rasa panas yang berbeda itu sepertinya kian parah

Sebaliknya,

Chanyeol mencemasknnya , membuat Pria itu beralih memegang tangan Baekhyun, namun tiba-tiba...

"Ah~ PLAKK

Baekhyun reflek menyentak tangannya, anak itu tak tau, mengapa tubuhnya tiba-tiba saja seperti tersengat dan membuat darahnya berdesir cepat kala Chanyeol menyentuh tangannya.

Sementara Chanyeol tampak tertegun sesak menerima penolakan tersebut, ia hanya ingin mengangkat tubuh Baekhyun dan membawanya masuk ke rumah tak lebih.

"M—maaf Tuan" Lirih Baekhyun sembari memeluk tubuh gemetarnya sendiri.

"Jadi... kau benar-benar benci, seorang sepertiku menyentuhmu? Tentang dendam itu, aku— " Chanyeol menatap lekat wajah tertunduk itu

"Aku benar-benar menyesalinya, kau berhak membenciku"

Baekhyun membulatkan mata lebar, bukan! Bukan itu yang membuatnya seperti ini. Baekhyun bahkan tak ingin menguak semua masa lalu itu. Sekali lagi, anak itu tak tau bagaimana bisa tubuhnya menjadi demikian

"Baiklah "

"T-tidak Tuan! Ngh~ !" Panik Baekhyun, masih dengan nafas terengah-engah.

"Jika kau memang membencinya, aku tak akan menyentuhmu lagi. Tapi ku mohon bertahanlah saat aku membawamu sampai di kamar, okay?" Chanyeol menatap Baekhyun lembut, mencoba meyakinkanya .

"Uhn~" Baekhyun hanya sanggup mengerjap pelan, meski sebenarnya Ia tertegun ... mendengar Chanyeol bicara selembut itu padanya. Nyatakah? ataukah efek obat itu yang membuatnya berdelusi seperti ini.

Merasa anak itu memberinya isyarat, Chanyeol lekas menyusupkan kedua tangannya di tengkuk dan paha Baekhyun lalu mengangkatnya bridal... tanpa suara ia melangkah.

Kembali Ia sadari sesuatu yang salah pada anak itu, tubuhnya yang panas itu semakin menggigil dalam rengkuhannya. Setakut itukah Baekhyun padanya?

"Hhh! ahh.. ngh~ mmh" Baekhyun kian terkulai, seakan tubuh itu tak bisa dikuasainya lagi, semakin menggigil resah begitu panas tubuh Chanyeol berbaur dengan panas tubuhnya. Bahkan desahan tiba-tiba lolos dari bibirnya. membuat anak itu membekap cepat bibirnya sendiru. Tak berharap Chanyeol melihat kondisinya yang seperti ini.

'Nghh~ H—haruskah mengatakan yang sebenarnya' Ungkap Baekhyun dalam hati. Tapi yang terlihat tak satupun terucap darinya. dan hanya bisa rasakan panas yang berbeda itu, semakin menjalar di sekujur sendinya

Tapi Baekhyun tak pernah tau, sikap menahan diri itu... memberi isyarat yang lain untuk Pria yang kini merengkuhnya. Seakan menyimpan takut, atau bahkan muak ... hingga membuat Pria itu benar-benar menyudutkan diri, berusaha sebisa mungkin tak membuat Baekhyun takut padanya.

.

.

Selangkah demi selangkah, Ia meniti anak tangga itu... tak pernah Ia merasa waktu berdetak selama ini.. Mungkin memang, Ia yang terlalu berhati-hati membawa tubuh mungil itu ke dalam kamarnya.

"Apa kau ingin minum? Atau memakan sesuatu?" Tanya Chanyeol usai membaringkan tubuh Baekhyun

"..." Tak ada jawaban, hanya gemertak gigi dan tubuh menggigil yang dilihatnya...dan itu semakin membuatnya jatuh tersudut, Ia tak menginginkan namja cantiknya menaruh benci begitu dalam padanya.

"Baiklah...aku pergi. Tidurlah"

Baekhyun meremas kuat-kuat cover bed di bawahnya, tak taukah Chanyeol dirinya kini tengah menahan panas yang berbeda dalam tubuhnya. Baekhyun berusaha keras mengatupkan gigi agar desahannya tak mengalun begitu saja.

" Panggil aku jika—

"Nghhh!" Anak itu melenguh lebih keras, membuat Priaitu mengernyit dan bergerak panik mendekatinya.

"Apa kau mengatakan sesuatu? Tubuhmu terasa sakit? Atau—

GREBBB

Chanyeol benar-benar terhenyak, melihat betapa erat bocah memeluk lehernya, bahkan menariknya lebih dekat hingga menindih tubuh mungil itu.

"Hhh.. haah! j—jangan per—gi" Baekhyun tersengal payah

"Nghh...Tuan ackk—aahh~"

Kedua obsidian itu mendadak terbelalak lebar. menyadari Baekhyun melenguh keras sambil menjilat dan mengulum telinganya ... frustasi.

Bahkan Baekhyunpun tak percaya dirinya bisa melakukan hal seliar itu.

Chanyeol meraih cepat pergelangan tangan lentik itu, menimangnya sesaat sebelum dikecupnya lama.

"Semua ini, karena obat itu hn?" Gumam Chanyeol seraya menyeka keringat dingin di pelipis Baekhyun

Baekhyun menatap Chanyeol nanar. "Hhh...hh...nnh~ O—obat?"

SRETTT

Cepat-cepat Baekhyun menarik ke atas selimutnya, menutupi seluruh wajah penuh semburat kemerahan itu dari Chanyeol. Ini terlalu memalukan untuknya dan sungguh Baekhyun merasa kbukan dirinya jika seperti ini.

"Ahn~ M-maaf Tuan...a—ku bersikap aneh di hadapan—mu ...nghh"

Chanyeol hanya tersenyum melihatnya, ia beralih menyibak selimut anak kitu dan kembali membelai wajah yang terpejam erat hingga kembali menatapnya.

"Dengar, kau dibawah pengaruh obat itu. Tak perlu merasa bersalah seperti ini ... tak ada yang buruk dari sikap dan ucapanmu" Ujarnya, menatap lekat kedua manik pias itu, bahkan sesekali menyeka bibir basah Baekhyun.

"Biarkan aku menghilangkan pengaruh obatnya" Lanjutnya kemudian.

Sementara Baekhyun hanya diam mendengarkan dengan mata mengerjap, membiarkan bulir bening itu menetes lebih cepat dari pelupuknya. Bahkan ketika Chanyeol beralih membaringkan dan melucuti jas yang membungkus tubuhnyapun, bocah itu tetap diam dengan nafas terengah.

.

.

.

"Percayalah padaku..."

"Uhnn! A—ahhh!" Desah Baekhyun kala Chanyeol menjilat garis lehernya. Ia meremas kuat kepala ranjang. Entah apa yang terjadi, Baekhyun merasa sesuatu yang hebat pada tubuhnya, seakan setiap kecupan bibir tebal itu memberinya sengatan kejut, hingga membuatnya menggelinjang tak terkendali.

"Hk~ Angh"

"Cantik..." Desah Chanyeol tepat di atas nipple ranum itu, satu jilatan penuh sebelum akhirnya menyesapnya kuat. Kembali membuat tubuh mungil itu menggila, di bawah kungkungannya

"Annh~ Aaaaahh"

Chanyeol menyeringai puas mendengarnya,tidakkah lengkingan itu begitu nyata memacu detak jantungnya. Ia tak pernah merasa sehebat ini sebelumnya.

Priaitu beralih cepat ke atas, dan menautkan jemari keduanya. menatap intens, bagaimana namja mungil itu terengah payah.. menanti cumbuan lain darinya, bahkan berulang kali Ia melihat Baekhyun membuka lebar kedua kakinya, hingga terlihat jelas cairan hasrat itu meleleh dari rektumnya.

Chanyeol sedikit menaikkan dagu Baekhyun, sebelum akhirnya… memiringkan kepala lalu menyesap pelan bibir yang sedari tadi terbuka karna terengah itu.

"Mfhhmm"

.

.

"A~hmff! Mmhh!" Baekhyun berusaha mendorong dada bidang itu.

Begitu pagutan itu terlepas, ia memandang Pria itu penuh harap, ciuman saja tak cukup untuknya. Baekhyun menginginkan yang lebih dari sekedar menyesap bibir.

Tubuhnya yang panas itu... seakan haus dengan hasrat yang lain.

tanpa Baekhyun sadari, Ia menekuk kakinya sendiri.. menahannya hingga rektum itu benar-benar terekspose, memperlihatkan lubang sempit yang terlihat berkedut basah.

"T-tuan...ahn.. ngh!"

Tak sebanding dengan wajah tersipu merona itu, Baekhyun benar-benar binal kali ini. Kedua mata tertutup namun membuka diri dengan menunjukkan seluruh tubuh untuknya.

Ada bagian dari dirinya yang berdesir

Nafsu.. dan mungkin perasaan untuk anak itu, mulai melebur dalam dirinya.

membujuknya untuk merengkuh tubuh tertekuk itu, lalu menjilat sensual rektum ranum itu.

"A—AAAHHH!"

Tak pelak, membuat Baekhyun berjengit dengan perut menengang. Merasakan bibir basah itu menghisap analnya, bahkan berulang kali Baekhyun rasakan lidah Pria itu menusuk masuk.

"NGAH! AHN!"

Slurp

Baekhyun lemas..

Kedua tangan yang sebelumnya menahan pahanya kini hanya bisa terkulai lemah di kedua sisi kepalanya, membiarkan dadanya kembang kempis... menerima hisapan kuat dan bahkan sesekali tusukan jari dalam rektumnya.

"AHHAAHH!" Caramel eyesitu kembali membulat lebar, begitu lidah itu... dari rektum merambat naik.. mengulum genitalnya dan menhisapnya tanpa jeda...seolah Chanyeol tengah menarik ulur kesadarannya dari pusat vital itu.

"ANGH! AHH!NNH!" Baekhyun menggeleng resah, meremas surai coklatnya sendiri dengan tubuh menggigil.

Hingga semuanya tampak memutih, dan terakhir... Baekhyun hanya mendengar jeritan klimaksnya menggema memenuhi ruangan penuh dengan aroma tubuh keduanya

"AAAAHHHHHH! NNN~AHHH!"

.

.

Pria itu tampak tertegun, kala membiarkan namja cantik itu mengangkat pinggul... melepaskan klimaks pertamanya.

Ia menangkap cepat tubuh ringkih itu, sebelum baekhyun menghempas tubuhnya sendiri ke ranjang. Meraba perlahan pinggulnya yang masih terasa panas.

Meski anak itu masih tersengal, Ia tetap mencoba menarik kedua paha Baekhyun. Lalu meletakan beberapa bantal di bawah perutnya.

Sejenak mengamati rektum yang masuh berkedut intens itu, satu klimaks saja sepertinya tak akan cukup menghilangkan pengaruh obat itu.

Chanyeol beralih membuka pengait celananya, mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi memang menengang sempurna.

"Nnh~" Namun Baekhyun yang menyadarinya, tampak menggeleng.

Membuat Chanyeol kembali merunduk lalu mencium lembut bibir tipis itu.

"Aku hanya ingin menghilangkan efek obat itu" Bisiknya

Tapi anak itu kembali menggeleng, seakan menolak. "T-tidak. Tuan t-tak perlu sejauh itu h-hanya untuk—

Baekhyun terdiam, begitu pria itu kembali menautkan jari keduanya dan menggenggamnya erat.

"Biarkan aku melakukannya..." Ujarnya sembari menatap kedua mata penuh air mata itu.

"Karena aku mencintaimu..." Lanjutnya lagi, semakin menatap lekat. "Kau percaya padaku?"

"..."

Tak menjawab, anak itu hanya menggeleng, dengan mata mengerjap berkali-kali.

Membuatnya tak tahan, untuk kembali melumat bibir bocah itu. Menyesapnya bergantian, tak menuntut... hanya hisapan lembut. Hingga Baekhyun sadari perasaannya di sini.

"Aku mencintaimu..." Ulangnya lagi, begitu melepas ciuman itu.

"..." tapi anak itu masih mengerjap tanpa suara.

"Mata..."Chanyeol mengecup pelan kelopak mata Baekhyun. "Hidung..." beralih mencium hidungnya.

"lalu bibir kecil ini... " Chup

Pria itu memberi kecupan lama di bibir Baekhhyun. "Selalu ku kecup seperti ini, karena aku mencintai pemiliknya" Ungkapnya, tapi masih saja Baekhyun mengerjapkan mata tak percaya. 'menggemaskan sekali' batinnya.

"Belum cukup untuk membuatmu percaya? Atau— Chanyeol beralih menatap sendu paras Baekhyun.

"karena kau membenciku? dan kau tak memiliki perasaan yang sama pada—

GREBB

"T-Tuan"

Chanyeol tersentak, begitu Baekhyun bangkit dan merangkul erat lehernya.

"A-aku tak bermimpi Tuan me-mengatakannya?"

Chanyeol terdiam, lalu setelahnya menyusupkan kepala di ceruk leher Baekhyun, lalu menghisapnya kuat.

"Unnh!" Lenguh Baekhyun nyeri.

"Apa cumbuan dariku ini, tak cukup nyata untukmu?" Bisiknya sambil memandangi bekas hickey di leher Baekhyun. "Percayalah padaku"

Anak itu memberanikan diri mengangkat kepala, demi menatap Chanyeol. Lalu menangguk pelan. "A-aku selalu m-menyukai Tuan"

"Tsk! mengapa menatapku dengan wajah seperti ini? " Gusar Chanyeol, kembali dibuat tak tahan dengan paras baby face yang tersipu itu

Ia beralih menghempas tubuh Baekhyun, ke ranjang lalu menyergap bibir tipisnya. Tak peduli seberapa brutal ciumannya kali ini.

Ia hanya merasa, anak itu miliknya seorang.

"Mmh~! Mnnh"

"Katakan... Keparat itu tak menciummu bukan?" Tiba-tiba Chanyeol melepas ciumannya dan menatap Baekhyun penuh selidik.

Bocah itu mengerjap, lalu setelahnya menggeleng pelan.

"Bagus..." Ujarnya, kembali menyambung pagutan basahnya.

"Aku bisa rasakan... Dia hanya meraba tubuhmu" Gumam Chanyeol di sela-sela cumbuannya.

"Mfthhh~ Mnn"

..

"Nn~" Baekhyun menatap panik kebawah, begitu pria itu perlahan memposisikan penisnya tepat di bibir rektumnya.

"Kau takut?" kekeh Chanyeol, sambil mengocok genital besar itu... hingga terlihat urat yang menyeruak darinya.

"S-saat Tuan melakuannya, i-itu sakit" Lirih Baekhyun malu-malu, walau nyatanya Baekhyun terlihat terengah payah

Lekas membuat Chanyeol tersadar, sikap kasarnya kala itu. Tentu meninggalkan ingatan pedih untuk anak itu.

Kali ini, tentu Ia tak berharap menyakiti Baekhyun kecilnya.

"Pejamkan matamu " Bisik Chanyeol seraya menekan kepala penisnya, hingga nyaris membelah rektum Baekhyun.

benar saja, anak itu terlihat memejamkan mata erat sambil mencengkeram ujung bantalnya. terlalu manis... terlalu berharga... terlalu menggemaskan,

hingga mungkin dirinya benar-benar jatuh terpana, dengan hanya melihat kerjapan polosnya.

"AA—" Baekhyun menahan nafas, merasakan kepala penis itu perlahan menerobos masuk.

Tak ada jeritan sakit yang tedengar, sepertinya efek obat itu benar-benar membuai Baekhyun. Meyakinkan dirinya untuk bergerak lebih, mendorong sisa penisnya hingga terbenam jauh di dalam tubuh mungil itu.

Mendesak sweetspot di dalam, hingga hanya dengan satu hentakan saja. Bocah itu kembali menjerit nikmat di bawah kuasanya.

.

.

"AHH!... ACKHH! AAAAHH!MMNAHH!" Tubuh mungil itu kembali terhentak kasar. Baekhyun menggeleng frustasi. Ia meraih cepat tengkuk Chanyeol lalu melumat bibir merah itu dengan rakus, mencoba melampiaskan birahinya, kala penis besar itu berulang kali memompa rongga tubuhnya, bahkan sama sekali tak memberinya jeda untuk sekedar menghela nafas.

.

.

Suhu malam seakan beku… merasuk tulang, kala sepoi angin berangsur menjadi butiran salju yang pekat, namun tampaknya dinginnya malam, tak cukup membuat luruh hasrat seorang Pria, yang kini begitu terlena menikamti tubuh kecil di bawahnya.

"Ahhn!... aahh! Ngaah!"

Decitan terdengar nyaring, mengiring desahan dan kecipak tautan tubuh keduanya. Chanyeol yang dimabuk nafsu itu, beralih menekuk kaki Baekhyun ke atas, hingga menyentuh kepalanya... sedikit meremas pangkal paha Baekhyun, lalu—

BLESSHH

"AAHTT!" Baekhyun menjerit keras, begitu penis itu kembali dileksakkan sekali hentak. terlalu dalam... hingga mungkin membuat bocah mungil itu merasakan perutnya di sedak kuat.

.

.

"MMH! Nnnahh... ahhh" Masih saja, bocah itu menggeliat tak nyaman di bawahnya.

Sesekali menengadah, memperlihatkan garis lehernya. Tangan kanannya tampak menyusup turun ingin meremas miliknya, namun Chanyeol menyentakya cepat...dan kembali menautkan tangan keduanya.

"T—Tuan!Hks... nnnhaah" Rengek Baekhyun, berusaha bangkit demi meraup bibir tebal itu. tapi rasanya kembali tak tersambut, begitu Pria itu hanya memandanginya dan menyungging senyum di sudut bibirnya,

Baekhyun tak bisa seperti ini...

Tubuhnya semakin tergerak bukan atas dirinya, jika Ia tak lekas mendapat klimaks.

"B—bergeraklah... k-ku mohon" Pinta Baekhyun terbata.

Satu kecupan pelan, mendarat mesra di pipinya...

'Chupp'

Selembut apapun sentuhan itu, sepertinya... Baekhyun tak mengharapkannya kali ini.

Tubuhnya hanya butuh sentakkan kasar... hingga panas birahi itu menyeruak keluar bersama klimaksnya. ya... Baekhyun hanya ingin itu.

"Sadari tubuhmu... kau menginginkanku" Desis Chanyeol, sebelum akhirnya kembali menghentak miliknya lebih cepat, menariknya keluar menyisakan kepala penisnya... lalu membenamkannya kembali ke dalam, hingga Baekhyun hanya bisa membuka bibir dengan nafas tersengal berat.

Tak cukup itu... sebelah tangannya meremas-remas genital mungil itu dan menggunakan kuku panjangnya untuk menguak lubang kecil di ujung genitalnya, tak ayal, namja mungil itupun menjerit histeris. dengan tubuh menggelepar liar di bawahnya.

.

.

.

"NGHH! T-TUAN! HAA—AAAHHHHH!" Semua kembali memutih untuknya. Visual Chanyeol perlahan berbayang. Baekhhyun rasakan tubuhnya seakan melayang, kala menyentak klimaks itu berkali-kali, bahkan hingga sebagian menciprat mengenai wajahnya.

Dan terakhir Ia rasakan, tubuhnya hangat... begitu Chanyeol mendekapnya. Membiarkan dirinya menggigil mendapat puncaknya, dalam pelukan Pria itu.

"Ngh~ nnhh" Rintih Baekhyun lemas, meski demikian, Chanyeol rupanya kembali menymbung sedakkan penisnya. Membuat tubuh lemas itu terhentak-hentak , hingga... Baekhyun keembali membulatkan mata lebar...begitu sesuatu yang panas seakan menyembur kuat ke dalam rongga perutnya.

"Baek—hh" Lenguh Canyeol, mencengkeram kuat paha Baekhyun. Berulang kali menghela nafas berat... kala

"U-uhnn~" Membuat bocah mungil itu hanya bisa merintih kecil, dengan mata terpejam. Dan membiarkan Chanyeol kembali mengecupi tubuhnya yang payah kala itu

Perlahan Chanyeol bangkit dan menatap teduh mata terpejam itu, menyibak surai basahnya ke atas... lalu mencium keningnya lama

'Chup'

"Mnh.." baekhyun terlalu lelah untuk sekedar, membuka mata. Tak sempat berbisik apapun... Ia hanya ingin jatuh tidur kali ini.

Lama... Pria itu memandangi wajah lelapnya. satu atau dua kecupan yang Ia beri... sepertinya tak akan cukup membuatnya puas. Biarlah Ia mencuri kecupan di bibir manis itu...

Semakin membuatnya berdesir, tiap kali mengingat jeritan menggoda dan rengekan manja itu berulang kali mengalun dari bibir kecilnya.

Ia kembali tertegun, melihat anak itu semakin meringkuk dalam dekapannya. Sesekali terdengar igauan lirih. memanggil namanya

Bahkan semakin terlihat menggemaskan, dengan telunjuk yang reflek digigitnya sendiri.

"Jika tidur... tidurlah saja, jangan menggodaku seperti itu"

.

.

.

.

.

.

.

.

TeBeCe

.

Next Chap/Chapter Berikutnya...

..

"Ugh!"

Baekhyun mendadak terbelalak lebar, dan reflek memegangi bibirnya.

Tapi rasanya, semakin lama semakin menyedaknya. membuatnya cepat-cepat bangkit terduduk, dan Ia hanya melihat Chanyeol masih terlelep di sisinya.

"Uhmmp!" Sedaknya lagi, semakin merasa mual.

Baekhyun semakin panik, mengapa perutnya seakan diremas dan merasa mual yang hebat seperti ini.

Ia melompat dari ranjang, dan berlari secepat mungkin menuju wastafel.

.

.

"Ugh! Umpp—Hoekkk"

.

"Baekhyun?"

,

,


Yohoo Gloomy kembali..

yang perkosa Baek tetep Chanyeol Hehe

ini belum akhir, chapter depan masih ada problem dan apa yang tejadi sma Baek di ch depan?

Review... Reviewww jusseyoo, Chapter 7 sudah ada.

Jika ingin di post cepat, jangan lupa tinggalkan review :)

Untuk:

neniFanadicky, chanbaek92, LHR Official Couple Shipper, restikadena90 , buny puppy, byunnami, Marshsamallow614 , khakikira , ctbisreal, RurohFujoCbHs, hulas99, fintowikson, Lussia Archery , kimkad , YaharS , Aisyah1, LyWoo, Byun soo byung, Yana Sehunn, baekkachu09 , Poppy20 , baekxylem , selepy , byunnami , Lusianabaconcy0461, bbhunyue, chanbaekis , mawar biru, love Elan , thevEXO, WinterJun09, tkxcxmrhmh , mii-chan07 , vryeol , Dodio347, baekby aeri04 , ChanBaekGAY , EyiLy , metroxylon, Fiyaa04, baby baek , Deliscius, Wahidah Putri Utami , chalienBee04, xiluhan74 , cbforever00, Yeolliebee , PinkuBlue614 , rimaa , kimi2266, YaharS , baekchann18, Avisyell756 , AuliyaRchy , byunlovely, ruukochan137, veraparkhyun , park chan2 , baeeki6104, chanbaek1597, byunlovely , bbhunyue, kkaiii, Hyo luv ChanBaek, Siapa Hayo, myliveyou, LightPhoenix614, Chanbaeknaena, Asandra735 , tyas 614, AnggunBBH06, AmyGAHF, Merina, dwi yuliantipcy , Shengmin137, kitukie, shereen park, yiamff , jempolnya pcy , Hyera832, Riinnchan, Ricon65 , BambiLuhan , Byunexo, SMLming , babyyh , chayeonlee , Sitachaan, Ziiwandha, hananachan, bbyLyi , hosh10 , hunhanshin, Loey761,dan all Guest

Terima kasih sudah mereview chapter sebelumnya,

jangan lupa review lagii...

Aaannyeoooong

Saaaraanghaaaaeeeeeeeee