Main Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Other Cast :HunHan, Kaisoo, Jaejong
Disclaimer: Cerita ini hanya milik Cupid dan Gloomy
.
.
Previous Chapter
.
.
.
Chapter 7
Silent Regrets
YAOI
Rate M
Gloomy Rosemary
.
.
.
Ada yang berbeda di pagi ini..
Semula yang Ia tau, bias mentari selalu terasa hampa. Tapi kini, tanpa tau sebabnya semua terasa hangat untuknya.
Semenjak..
Sosok mungil yang kini bergelung di bawah selimut itu, menyita sadarnya.
Membuat, sebagian dari dirinya serasa berkelakar, kala melihat semburat kemerahan di wajah anak itu.
Apa yang salah?
Mengapa Baekhyun terlihat semanis ini, meski dalam kondisi tidur seperti itu.
Chanyeol... tanpa sadar mengulas senyum... menyilangkan kaki di sofa, sebelum akhirnya menyesap kopi hitam dalam cangkirnya.
Paduan yang hangat untuknya...
Secangkir kopi nikmat dan manisnya paras bocah belia di hadapannya.
Terlebih...
Masih lekat dalam ingatannya,
Bagaimana semalam, anak itu menjerit payah dan mendesah nikmat di bawah kuasanya.
Bahkan aroma tubuhnya pun masih menguar jelas di dalam kamar ini.
Tapi rasanya, ini terlalu lama untuk menunggu kedua mata itu terbuka. Hingga Ia putuskan meletakkan cangkirnya, lalu beringsut mendekati Baekhyun.
"Bangun... atau—
Chanyeol beralih mendekati telinga Baekhyun. "Ku cium" Bisiknya setengah mendesah.
Sedikit sentuhan halus dan tiupan hangat itu, membuat Baekhyun reflek mengerjapkan kedua matanya.
Terlalu samar Ia sadari, begitu sosok berbayang... berada tepat di atas wajahnya.
Ia tak ingin salah menerka. "Tuan—
Chupp
Tapi.. .
Sentuhan yang lain membuatnya terbelalak lebar, Baekhyun berdebar... seiring dengan bagaimana Pria itu membawanya ke dalam sebuah lumatan lembut.
"Nn~ hh"
Baekhyun mengerjap panik, bahkan tak tau di mana Ia harus meletakkan tangannya. Namun Pria itu beralih cepat menggenggam keduanya, hingga Baekhyun memilih memejamkan mata nyaman, dan membiarkan pagutan itu mengalir begitu saja.
"Hhh...hh" Baekhyun terengah, menatap sayu ke atas.. begitu ciuman itu terlepas
"Pagi.. " Bisik Chanyeol seraya menjauhkan bibirnya dari paras baby face itu.
'Blush'
Baekhyun memalingkan wajah tersipu, berharap Chanyeol tak melihatnya, semakin Ia mencoba untuk menyembunyikannya semakin memerah pula kedua pipinya.
Chanyeol hanya terkekeh pelan melihat namja mungil itu berulang kali meremas selimutnya, ia beralih peralahan menduduki tepian ranjang lalu menyentuh dagu Baekhyun untuk menatapnya. "Why?"
Sepersekian detik, Baekhyun tertegun. Sadari jantung itu semakin berdebar gila di dalam sana. Mengapa tatapan dan senyum Pria itu membuatnya bernafas sekacau ini. Ah! Semalam... keduanya melakukannya. Tepat di kamar ini... tepat di ranjang ini.
Baekhyun rasanya tak bisa menahan malu, hingga reflek menutup wajah dengan kesepuluh jarinya.
Tak banyak yang Chanyeol tau tentang pribadi bocah itu, tapi melihat nya kini, itu bukan semacam raut merasa takut bukan?
Tak mungkin menahan senyum dengan menggigit bibir bawahnya jika anak itu merasa ciut.
"Kau tak menjawabku?" Ujar Chanyeol seraya menjauhkan tangan Baekhyun dari wajahnya dan menggenggamnya perlahan. Ia kembali mengulas senyum hangat begitu bocah itu tampak gelisah memandangnya.
"Tuan—"
"Hn?" Chanyeol sedikit mendekatkan wajahnya demi mendengarkan lebih jelas gumaman bocah itu. Tapi Baekhyun kembali tertunduk. Membuatnya tau , Baekhyun sepertinya belum terbiasa dengan perubahan sikapnya.
Bermaksud ingin menggoda, Chanyeol mendadak memerangkap tubuh mungil itu hingga kembali berbaring, tak pelak membuat bocah itu meremas kuat selimutnya karna panik.
"Nnh~" Baekhyun memejamkam mata erat begitu Chanyeol mengangkat tengkuknya, meski tak sepenuhnya menerka, tapi Ia tau Chanyeol ingin mencium bibirnya setelah ini
"Like a candy"
'Chup'
Baekhyun mengerjap tertegun, bukan ciuman di bibir melainkan keningnya."Tuan .. i—ini" Lirih Baekhyun sambil memegangi keningnya, tepat pada di mana Pria itu menciumnya
Semakin menarik untuknya, ekspresi tak tentu anak itu... menyisakan debaran berbeda untuknya. Hingga reflek, Ia memeluk erat tubuh mungil itu
"Berhentilah memanggilku seperti itu" Bisik Chanyeol sambil sesekali menghirup dalam-dalam aroma tubuh Baekhyun dari ceruk lehernya. "Setidaknya .. panggilah namaku"
Baekhyun terdiam. Mustahil memanggil Chanyeol dengan hanya namanya. Dia seorang pria yang berkuasa.
Dan Baekhyun lebih memilih menggelengkan kepala, sungkan.
"Tck.." Decak Chanyeol, sedikit mengangkat tubuh anak itu sebelum akhirnya menggigigit gemas puncak hidung Baekhyun.
"Mengapa kau seperti ini..." Desah Chanyeol, lebih ingin mengartikan betapa menggemaskan bocah itu, hingga rasanya tak pernah jemu untuknya menggoda atau bahkan memeluknya seperti ini.
Bocah mungil itu hanya diam dan lebih memilih menikmati pelukan hangat Chanyeol, meski nyatanya hampir seluruh wajahnya terbenam di balik bahu kekar itu, hanya menyisakan sebatas matanya. Baekhyun menyukainya, terlebih cara bicara Pria itu benar-benar terdengar manis.
Tapi sedetik kemudian ia memekik terkejut, begitu tubuhnya mendadak ditarik hingga terduduk.
"Ah!"
"Ingin mandi bersama?" Bisik Chanyeol seduktif, seraya melepas satu persatu kancing kemeja hitamnya. Memperlihatkan tubuh ber abs miliknya
"T—Tuan" Baekhyun membulatkan mata lebar, ini terlalu mendadak untuknya. Bisikan dan bagaimana cara Pria itu menatapnya tajam... membuatnya tak tau lagi kemana Ia harus menahan nafasnya.
Baekhyun bergerak resah ingin melepaskan diri dari rengkuhan lengan kokoh tersebut...namun rasanya percuma, Chanyeol telah lebih dulu melepas lilitan selimutnya, membuat tubuh putih penuh hickey itu terekspose sempurna.
"Menggoda.." Bisik Chanyeol seduktif, sembari mengangkat Baekhyun dalam sekali gerakan.
.
.
Tak sepatah katapun terucap dari bibir mungilnya, Baekhyun hanya menundukkan wajah dengan menggigit kuat bibir bawahnya kala Chanyeol membawa dirinya ke dalam ruangan lembab itu. Suhu tubuhnya kian memanas berbaur cepat dengan uap hangat di sekitarnya,
Masih saja...
Ia terlihat sungkan untuk sekedar mengangkat wajahnya, karena Baekhyun tau.. Chanyeol kini tengah memandanginya.
"J—jangan memandangku seperti itu Tuan" Lirih Baekhyun kembali memalingkan wajahnya. terlalu gugup untuk bersikap pada Pria yang masih membawa bridal tubuhnya.
Chanyeol hanya mengulas smirk tipis, sekilas mencium puncak kepala Baekhyun, sebelum akhirnya membawa tubuh keduanya memasuki bath up besar berisi penuh dengan air hangat.
.
.
.
"Akh!" Pekik Baekhyun tiba-tiba, begitu air hangat bath up menyentuh rektumnya. Seiring dengannya, wajah anak itu kembali memerah... mengingat,bagaimana Chanyeol menyetubuhi dirinya semalam.
"Kau baik-baik saja?" Bisik Chanyeol, terlihat cemas... melihat Baekhyun meremas kedua lengan kekarnya sebagai pegangan. Membuatnya beralih memutar tubuh anak itu, hingga membelakanginya dan membuatnya bersandar nyaman di dadanya.
Bocah itu hanya mengangguk pelan. Tetap berpegang pada lengan Chanyeol hingga Ia terbiasa dengan air yang kini merendam setengah dari tubuhnya.
.
.
.
.
"Tuan ti—dak ke kantor ha—hari ini? Ahn~" Baekhyun memiringkan kepala dengan mata terpejam, begitu Chanyeol beralih menjilati garis lehernya.
"Tidak.." Singkat Chanyeol di sela-sela jilatannya. Tak ingin melugaskan, jika sebenarnya Ia ingin menghabiskan waktu seharian ini dengan bocah berparas manis itu.
Desahan Baekhyun membuat sesuatu dalam darahnya berdesir hebat, terlebih rasa manis yang tercecap dari tubuh anak itu, sepertinya terlanjur menyulut hasrat untuk berbuat lebih.
Chanyeol merengkuh cepat perut Baekhyun, membuat namja mungil itu memekik terkejut .. merasakan benda keras milik Chanyeol menekan buttnya.
"T—Tuan" Gugup Baekhyun
"Tak masalah, jika aku menginginkannya pagi ini?" Desah Chanyeol seraya menjilat bagian belakang telinga Baekhyun
Kedua manik caramel itu kembali terbelalak lebar, tubuhnya yang letih tentu tak mampu mengimbangi nafsu Chanyeol. Baekhyun memaksa memutar tubuh, berniat menolak
Tapi Ia mendadak lemas, begitu melihat Pria itu meraih jemarinya dan mencium punggung tangannya.. lama
"Aku menginginkanmu" Ucap Chanyeol lagi, begitu menyadari bocah mungil itu hanya diam memandanginya.
"Kau mendengarku?" Chanyeol menyentuh dagu Baekhyun. Dan begitu Baekhyun menatapnya. "Aku menginginkanmu.." Ia kembali melugaskan maksudnya pada bocah itu.
.
.
Baekhyun terlalu lugu, untuk mengatakan kata tidak. Karna Ia tak pernah melihat Chanyeol selembut ini sebelumnya. Hingga anggukan kecil itu, menjadi satu-satunya isyarat darinya.
Seakan mendapat semua yang diinginkannya, Pria itu beralih menarik tengkuk Baekhyun lalu menyergap cepat bibir mungilnya.
Tak sekedar melumat... Bahkan terlihat berulang kali Chanyeol menghisap dan menarik sensual bibir bawah anak itu.
"Mm—uhmp"
.
.
.
"Aangh~" Lenguh Baekhyun begitu Chanyeol menyusupkan lidah dan membelai langit-langit mulutnya, jemarinya terlihat meremas surai hitam Pria itu, setelah sebelumnya Chanyeol membimbing tangannya untuk merangkul lehernya.
Sebelah tangan Pria kekar itu tampak tergerak untuk membelai genital mungil Baekhyun di dalam air, sedikit memijatnya dan meremasnya intens, hingga desahan Baekhyun makin mengalun sensual di sela-sela ciumannya.
"Nghh! ahn... AH!"
Baekhyun terlonjak dan reflek memeluk erat Chanyeol, kala dua jari panjang itu melesak cepat ke dalam rektumnya.
Satu sentakan kuat jari itu, membuat Baekhyun mendongakkan kepala. seakan ujung jari Chanyeol menekan kuat titik kejutnya di dalam sana
"Ahh~...akh! Tua—nn!" Pekik Baekhyun, kakinya semakin kuat memeluk pinggang Chanyeol, sadari kedua jari itu bergerak cepat keluar masuk, membuat air bath up turut menyusup masuk ke dalam rektumnya. Terlebih kecupan-kecupan basah di seluruh wajahnya, kian membuat lengkingannya menggema memenuhi ruangan lembab itu.
.
.
.
.
"Akhh! Aack!... Aaaa—" Baekhyun merengek kecewa, begitu Chanyeol menghentikan gerakan jarinya, dan mulai menatap Pria itu sendu.
Chanyeol mengulas smirk tajam, tak melanjutkan sentakan jarinya dan lebih memilih melumat bibir tipis itu dengan perlahan
.
"Uhmp!" Baekhyun menahan nafas begitu Chanyeol menggesekan penis besar itu di bibir rektumnya.
Hingga—
"A—arghht... pe—lan!" Rintih Baekhyun sembari berpegang kuat pada tepian bath up, merasa perih sekaligus panas, saat penis itu benar-benar didorong masuk
"Ssh" Desis Pria itu nikmat
"AAHHH!" Baekhyun menjerit keras, nyaris tersedak kala Chanyeol memeluk erat perutnya, dan membiarkan genital besar itu menyeruak semakin dalam, mengisi rektumnya.
Chanyeol menyeringai puas, sejenak memberinya jeda sebelum akhirnya menjilat garis punggung Baekhyun. Menunggu... hingga Baekhyun terbiasa dengan ukuran penisnya. Sesekali Pria itu mendesis pelan, merasakan panas tubuh Baekhyun mengalir cepat dari tautan tubuh keduanya, terlebih air yang telah mendingin membuat rektum Baekhyun semakin ketat menjepit miliknya.
Chanyeol kembali merengkuh perut Baekhyun, membuat punggung namja mungil itu berhimpitan erat dengan dadanya. Peralahan namun pasti ia mulai menggerakkan pinggulnya keluar masuk, membuat desahan lembut perlahan mengalun sensual dari bibir kecil itu.
"Ahh! Aah! Tuan!... nnaahh~ Aackk!" Baekhyun meraba-raba lengan kokoh Chanyeol. Meremasnya kuat, berusaha berpegang erat kala tubuhnya dihentak dari belakang.
"Ahh! aaa~"
.
.
.
Terlihat berulang kali bocah itu menggeleng kasar, meminta Chanyeol untuk berhenti, tapi... semakin Ia meronta, semakin hebat pula hentakkan penis itu membuatnya menjerit histeris.
Sementara Pria kembali itu mengulas seringai tajam,memutar tubuh anak itu hingga menghadap padanya. Lalu menarik kedua kaki Baekhyun hingga tertahan di setiap sisi bath up itu.
Sejenak mengamati paras terpejam dengan bibir terbuka karena terengah itu, semakin Ia menatapnya semakin tergoda pula dirinya mencumbu bibir mungil itu.
"Mh—mpfthh! MHHMM!"
Hingga membujuknya kembali memagut bibir Baekhyun tanpa menghentikan gerakkan pinggulnya keluar masuk, menciptakan erangan dan kecipak erotis dari tautan tubuh keduanya.
.
.
.
.
.
"Nnn~ hks! A—Ahnn!" bocah mungil itu kembali merintih lemah, begitu Chanyeol berulang kali menyentak klimaks dalam perutnya. Lama Ia mencoba untuk bertahan, tapi letih yang hebat itu membuatnya lemas... hingga kedua lengan kurusnya lunglai di tepian bath up.
Namun tak sempat untuknya memejamkan mata, tubuhnya tiba-tiba ditarik dan terakhir ... Baekhyun hanya tau, Pria itu mendekapnya erat.
"Maafkan aku" Bisik Chanyeol setelahnya
Semula, Baekhyun tak tau... maksud dari kata sesal itu. tubuhnya yang teralu payah.. memaksanya untuk terpejam dan mungkin hanya sekedar menganggukkan kepala lemah, setidaknya... Chanyeol bersedia merengkuhnya hangat seperti ini.
"Jangan tertidur.." Bisik Chanyeol sambil mengatur suhu bath up miliknya, hingga buih hangat itu perlahan mengalir dan merendam tubuh keduanya
Bocah itu diam, namun membuka mata dan mengerjap berkali-kali
"Semua yang kulakukan padamu"
Chanyeol menjeda ucapannya untuk merunduk, demi menatap wajah Baekhyun yang kini memandanginya.
"Apa kau membenci—
Baekhyun mendadak bangkit, lalu memeluk Chanyeol. Membuat kepala pria itu bersandar di pundak sempitnya.
Tak peduli tubuhnya yang telanjang, hanya tertutup buih putih.
"Aku selalu menyukaimu" Lirih Baekhyun
"Kau sehangat Appa... aku selalu menyukaimu Tuan" Gumam Baekhyun lagi, kali ini memberanikan diri mencium kening Pria itu
"Tsk.." Chanyeol mengulas senyum tipis. Tidakkah Waktu seakan memihaknya, sentuhan hangat dan bisikkan lembut sosok mungil itu, seakan mampu menawar resah dalam batinnya. Hingga hanya tersisa kata betapa beruntung Ia memiliki Baekhyun.
'Dan, aku mencintaimu..' ungkap Chanyeol dalam hati. Tak ingin melugaskannya, setidaknya.. anak itu akan tau dengan setiap sentuhan dan sikap yang ia berikan saat ini.
.
.
.
Lebih dari dua jam lamanya, bocah itu berendam di dalam air. Tak terlihat raut menggigil, sebaliknya.. Baekhyun begitu antusias memainkan busa tebal di sekitar tubuhnya... sesekali ia meniup gumpalan buih itu hingga sebagian melayang dan hinggap di kepala Chanyeol.
Ah! benar-benar membuat bocah itu tertawa lepas.
Sementara Pria yang masih bersandar gagah di tepian bath up itu, hanya melempar senyum tiap kali bocah itu mencuri pandang dengannya. Ia tak pernah melihat Baekhyun kekanakan seperti ini sebelumnya.'Menggemaskan sekali' batinnya.
.
.
"Setelah ini ikutlah denganku" Ujar Chanyeol tiba-tiba, membuat Baekhyun menoleh dan menatap polos padanya.
"Pergi bersama Tuan?"
"Kau akan melihatnya setelah ini"
HUPP
Chanyeol mengangkat cepat, tubuh mungil itu keluar dari bath up.
Lagi, Ia hanya melihat wajah tertunduk bocah itu, menggodanya untuk sesekali mencuri ciuman dari bibir kecilnya. Tak peduli Baekhyun kembali panik menyembunyikan wajahnya, bahkan terlihat gugup menutup bibirnya.
"Tuan, Hentikan.."
.
.
.
Sementara itu di tempat lain
'KLANK'
Lagi, namja garang itu melempar asal benda di tangannya... menciptakan suara gaduh di tengah jalanan Namsan itu, dan ini merupakan kaleng ke limanya, dari kopi yang diteguknya. lalu lalang warga sipil dan taburan kelopak sakura di sekelilingya nampaknya tak sekalipun menyurutkan wajah tertekuk itu.
"Kemana perginya Bibi Jae sebenarnya.." Gumamnya, merasa minus dengan pemikirannya kali ini.
Lepas dari kasus yang usai Ia pecahkan itu, sepertinya masih ada yang mengusiknya tentang bagaimana Baekhyun bisa berada di bawah kuasa Chanyeol.
Dijual oleh keluarganya?
Mustahil jika harus percaya pada ucapan semua orang itu
Ia tau benar... pribadi keluarga Byun.
Tak hanya Yunho, ... Jaejong pun begitu menyayangi Baekhyun, tak mungkin wanita itu sampai hati menjual putranya sendiri.
Kai menghela nafas berat, dan menatap malas kesekitar...seharusnya ia bertugas hari ini, namun hati kecil yang kian mengeruh memaksanya menyendiri...dan termenung di sebuah tempat penuh dengan taburan bunga itu. Terlebih melihat beberapa pasangan saling memadu kasih, membuat dunianya semakin suram.
"Jika saja aku bisa mengajakmu ke sini, menggenggam tanganmu, memelukmu dan mencium ah~" Kai mengacak si surai brunettenya, frustasi.
"Aissh! ini Gila—
"Ahjusshiii~"
Kedua mata elangnya mendadak terbelalak lebar. Berharap dirinya tak sedang bermimpi mendengar suara kecil itu
"Haha mustahil anak itu mengikutiku hingga kemari"
"Ahjuussiiii~"
Lagi, suara itu kembali mengejutkannya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar mencoba memastikan. Dan benar saja tak jauh dari tempatnya berpijak, tepat di sebuah pohon maple ... tangan mungil bocah itu melambai-lambai padanya. Sontak Kai terperanjat dan melompat turun dari bump mobilnya.
"Tck! Kyungsoo? Dia benar-benar Kyungsoo?"
"AAHJUSHIIIII!" Teriak Kyungsoo tiba-tiba. Membuat polisi itu berjengit
"APA HAH?!" Balas Kai jengkel.
Kyungsoo makin mengacak rambut kesal, dan tak lama berselang tangisan bocah itu pecah. "Aku berulangkali memanggilmu!Tapi kau tak mendekat! Apa kau sedang mengabaikanku!" Jerit Kyungsoo dari balik pohon.
"YA!YA!YA! Kau memiliki dua kaki bukan? Apa susahnya berjalan ke sini?!"
"HIKSS!" Isak Kyungsoo lebih keras, memaksa pria muda itu berjalan gusar ke arahnya.
.
.
"Wae?! Wae?! Wa—
Kai terdiam begitu saja, kala melihat kondisi Kyungsoo saat ini, tampak darah merembas dari lutut sebelah kirinya.
"Apa yang terjadi hah?" Tanya nya cemas, sambil merunduk mengamati luka itu, Tapi yang terlihat bocah itu makin menangis keras, bahkan merengek memenita pelukan.
"Yya! Berhentilah menangis, seorang namja tak pernah menangis" Bisik Kai terdengar menyentak, mesti nyatanya Pria itu terlihat memanjakan Kyungsoo dengan menepuk punggug dan membelai kepalanya
"A—aku terjatuh sa—at di ja—lan itu, Sakit! Ahjuss—hiks" Lirih Kyungsoo tersendat-sendat karena menangis
"Apa kau mengikutiku?" Tanya Kai begitu melihat sebuah sepeda di sisi Kyungsoo, kondisi benda itu tak jauh berberda dengan pemiliknya, ban bagian depannya tampak ringsek total, membuatnya yakin Bocah manis itu baru saja terbanting dari sepedanya
Kyungsoo hanya mengangguk pelan dan makin menyusupkan kepalanya ke dalam dada bidang itu.
"Bukankah berulang kali kukatakan, jangan mengikutiku secara diam-diam. Lihat.. kau sendiri yang celaka!" Gusar Kai, seraya mengangkat tubuh kecil itu.
Sementara bocah itu hanya diam dan menggelayut erat di balik punggung Kai. Bahkan sesekali pula ia menyeka ingusnya di pundak Pria tinggi itu.
"Sa—kit Ahjjussi"
"Aku akan membawamu ke rumah sakit"
Kyungsoo berjengit dengan mata membulat lebar. "Tidak mau! Aku benci rumah sakit!" Serunya keras, berulang kali ia mengibaskan tangan tak suka
"Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan kakimu"
"Tidak mau! Ahjuss—
"Yya! Kyungsoo~ah"
Kyungsoo mengerjap polos mendengar Pria garang itu memanggilnya demikian, itu sangatlah manis baginya,...ia merangkul cepat tengkuk Kai, membuatnya menoleh ke belakang dan—
Chupp
"Mpfthh~ AH!" Kai terperanjat hingga nyaris limbung begitu ciuman lembut itu terlepas, berulang kali ia menyentuh bibirnya yang sedikit basah,
"Ahjushiii... I love You "
"WHAT?!" Belum usai jantungnya berpacu liar akibat ciuman itu, Kai kembali dibuat terperangah dengan bisikan bocah itu. ini mengerikan...
Ia tak pernah merasa gila seperti ini. Dan bocah itu teralu bernyali membuatnya gemetar seperti ini.
Kyungsoo terkikik menyadari debaran jantung pria itu seakan menembus punggungnya, membujuknya kembali mendekati pipi Kai
"Ahjjus—
"BERHENTI!" teriak Kai gusar, membuat Kyungsoo reflek menjauhkan wajahnya.
"Jangan bercanda! Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang!" Ujarnya sembari melanjutkan langkah yang sempat tertunda, sementara tangan kanannya tampak membawa sepeda Kyungsoo.
.
.
.
"Kau tau? itu ciuman pertamaku" Gumam Kyungsoo begitu Kai mendudukkannya dengan hati-hati di jok mobilnya.
Kai menatap Kyungsoo sesaat dan tersenyum tipis. 'itu ciuman keduamu bocah tengik' Batinnya. kembali mengingat bagaimana dirinya memberi nafas buatan untuk bocah itu di tengah kepungan ikan.
"Ahjusshi panggil aku dar—ling"
"YACK!"
.
.
.
#######
"Sematkan kancing kemejamu dengan benar" ucap Chanyeol begitu melihat bocah mungil itu keluar dari kamarnya, Ia beralih mendekat... lalu menutup rapat kemeja soft blue itu dengan benar.
Membuat Baekhyun yang melihat hanya menggigit bibir bawahnya sungkan, masih tak terbiasa untuk membalas semua sikap itu.
"Ada apa?" Tanya Chanyeol, beralih merunduk untuk melihat paras merona itu. "Kau sakit?"
"T-tidak Tuan" Lirih Baekhyun, seraya menjauhkan wajahnya dari tangan Chanyeol.
Pria itu tersenyum tipis, lama memandanginya... dan satu yang Ia tau. Baekhyun benar-benar memiliki bibir kecil yang manis, dan lagi... poni terikat ke atas seperti buah apel itu, benar-benar membuat anak itu semakin menggemaskan untuknya.
"Can—dy" Eja Chanyeol, sambil meraih jemari lentik itu untuk di genggamnya erat.
Baekhyun terhenyak, sejenak menatap ke atas. Dan senyum menawan Pria itu kembali membuatnya berdebar. hingga membuatnya patuh, kala Chanyeol membimbingnya keluar menuju sebuah mobil audi.
.
.
.
"Baek—hyun"Ia kembali tergugu dalam isaknya, menyeka linang air mata di pipi dan pelupuk matanya dengan tisu yang sebenarnya telah banyak tersebar di bawah kakinya. Semakin Ia mengingat paras manis Putranya, semakin sesak pula Ia menyesali dirinya, Tak berdaya kala seseorang mencoba memisahkan dirinya dan Baekhyun secara paksa. Terlebih, Ia nyata tau buah hatinya diperbudak orang lain.
Ia telah melangkah sejauh ini, menentang apa yang seharusnya masih menjadi ikatan untuknya. Dan membawa lari Putra keduanya, hanya demi mencari Baekhyun.
Berharap, usahanya kali ini tak akan berbuah percuma.
"Eomma tak pernah meninggalkanmu sayang" Isaknya lagi seraya meremas kuat-kuat ujung blazernya. Semakin sesak, begitu teriakan Baekhyun kala itu hanya terabai olehnya. Sementara Ia tau benar, Baekhyun tak pernah bisa jauh darinya. Anak itu selalu bergantung padanya.
"Nyonya ... kita sudah sampai di tempat tujuan anda"
Jaejong menyeka cepat air matanya, begitu sopir taxi itu menyadarkan dirinya, dan benar saja.. tak jauh darinya terlihat kediaman mewah yang tertutup gerbang besar dengan tanaman hias di setiap sudutnya.
Tapi beruntung, seorang penjaga membuka gerbangnya... Hingga Ia bisa melihat ke dalam.
Dan di sanalah Jaejong membulatkan mata penuh binar, kala melihat putra kecilnya melangkah keluar dari kediaman mewah itu.
Membuatnya tergesa ingin turun dari Taxi.
Namun—
Mendadak Ia urungkan niat tersebut, begitu sadar... Baekhyun terlanjur memasuki mobil bersama seorang Pria.
"Ah! kumohon! ikuti mobil itu Pak!"
"B-baiklah Nyonya.."
.
.
.
####
Langkahnya sedikit tersendat, lalu lalang di pusat perbelanjaan besar itu, semakin membuatnya pening. Memang tak terlalu riuh, tapi entahlah, Ia tak nyaman dengan tempat ini. Dan Baekhyun benar-benar tak menduga, Chanyeol akan membawanya kemari.. bahkan membeli semua benda yang sebenarnya tak terlalu Ia inginkan.
"Ugh.." Dirinya limbung, tapi—
GREB
Beruntung, tangan kekar itu menangkap tubuhnya.
"Kau lelah?" Bisik Chanyeol, begitu menarik tubuh Baekhyun hingga bersandar di dadanya, tak peduli beberapa yang melintas menatap lekat keduanya.
"M-maaf Tuan, aku hanya sedikit pusing melihat orang-orang di sini" Gumam Baekhyun, mencoba menyentuh pelipisnya sendiri.
Sejenak Chanyeol mengedarkan pandangan ke sekitar, sebelum akhirnya melihat sebuah kafe... lalu membimbing Baekhyun menuju tempat itu. Barangkali Baekhyun merasa nyaman di dalam sana.
.
.
.
"Pesanlah sesuatu" Chanyeol mencoba mendekat, tapi anak itu hanya termenung .. mengamati menu di tangannya tanpa sedikitpun memilih.
"..."
"Tak ada yang menarik untukmu?" Bujuk Chanyeol lagi. Dan Baekhyun tetap menggelengkan kepala pelan,
"Baiklah.. akan kupesankan sesuatu yang hangat untukmu" Chanyeol memilih memanggil seorang pelayan kafe, untuk memesan beberapa hidangan yang dirasa sesuai untuk Baekhyun.
.
.
"Kau tak menyukai tempat ini rupanya" kekeh Chanyeol, sambil menyeka keringat di sekitar pelipis Baekhyun.
Baekhyun tertunduk. "Maaf Tuan, aku tak bermaksud—
"Tak apa, tujuanku kemari.. memang untuk dirimu"
Baekhyun tertegun, memandang sendu pada puluhan paper bag yang baru saja diletakkan bodyguard Chanyeol di sisi meja keduanya.
Untuk apa semua benda itu..
Tidakkah itu terlalu banyak, jika hanya pakaian untuk dirinya saja.
"Ah—
Chanyeol terlihat beranjak dari duduknya, lalu mengambil salah satu paper bag berwarna hitam.
Sejenak Pria itu terlihat antusias berkutat dengan box di dalamnya,membukanya lalu—
"Ini milikmu.."
Sebuah smartphone putih, Chanyeol letakkan dalam genggaman tangannya.
"T—tuan" Baekhyun memandang Smartphone dan Pria itu bergantian. merasa ini terlalu berlebih, dan Chanyeol tak harus melakukan semua ini untuknya.
"Hn.."
"Tuan tak perlu—
"Aku yang tak bisa menghubungimu saat di luar, itu benar-benar membuatku gila"
"..." Baekhyun terdiam.
"Setidaknya—
Chanyeol beralih meraih jemari lentik Baekhyun untuk digenggamnya. "Biarkan aku mendengar suaramu, saat kau jauh dariku" Lanjutnya lagi, seraya menatap lekat kedua mata coklat itu.
Seakan menjadi magis tersendiri untuknya, ucapan Pria itu reflek membuatnya meremas erat ponsel putih itu. Kembali tertunduk... meski sebenarnya isyarat, Jika Baekhyun memang sepenuhnya menerimanya.
chanyeol kembali tersenyum tipis, tak pernah Ia rasakan sebelumnya, lantunan musik dalam kafe akan terdengar setenang ini. Bahkan kopi dan beberapa cake yang tersaji di dahadapannya akan sesedap ini. seolah, Ia benar-benar baru menyadarinya saat bersama Baekhyun.
Namun mendadak, ponsel Chanyeol berdering.
Memaksa Pria itu lekas beranjak untuk mengangkat panggilan tersebut begitu tau, salah seorang dari perusahaannya yang menelfon.
"Tunggulah di sini, aku hanya menjawab panggilan ini"
Bocah mungil itu mengangguk sambil tersenyum manis, meringankan langkah Chanyeol untuk keluar dari pintu kafe. Sejenak meninggalkannya di sana, Ia tak bisa mendengar panggilan itu dengan jelas karna kerasnya musik dalam kafe.
.
.
.
.
Lebih dari 15 menit lamanya Ia menunggu,
berulang kali Baekhyun menyesap coklat hangat miliknya, lalu sesekali memainkan ponsel barunya. Tapi tetap saja, tak menawar rasa bosannya.
Hingga tiba-tiba saja—
"Uhmp"
Baekhyun membekap cepat bibirnya begitu merasakan rasa mual yang berbeda, ia mengedarkan pandangan panik ke sekitar, Dan membulatkan mata lebar kala melihat toilet di ujung ruangan.
"Ugh! hmp!"
Semakin menyedaknya, Ia berlari kalut... tak peduli langkahnya yang kacau kala itu membuat beberapa pengunjung nyaris tertabrak olehnya.
.
.
"Maaf, membuatmu menunggu terlalu—
Chanyeol terbelalak, begitu mendapati meja Baekhyun kosong.
"Shit!"
.
.
.
.
Wajahnya semakin memucat pasi, Baekhyun memutar kran air menjadi maksimum demi menyamarkan suaranya. Dan meremas kuat-kuat tepian wastafel begitu sesuatu dalam perutnya kembali menyentak keluar.
"Uhmp! Hoeekkh!... hhh... hhh!"
Baekhyun semakin merunduk lemah, dan kembali terengah . Tapi meski demikian, mual itu berulang kali memaksanya untuk terbatuk payah.
"Ughh! .. Hoekhh! Nnh~. Kepalanya menggeleng tak mampu, sadari setiap sendinya serasa lemas. Baekhyun sama sekali tak mengerti dengan tubuhnya kali ini, bagaimana mungkin dirinya tiba-tiba sakit dan merasa mual seperti ini, meski nyatanya hanya cairan bening yang berhasil dikeluarkannya.
"Hmph! Hks! Ber—henti! Hoekhh! ahh hhh" Ia menangis..
Merasa takut, namun tak bisa berbuat lebih selain kembali menyedak keluar cairan dalam tubuhnya
"Uhn~ Uhmpph"
.
.
.
.
"Baekhyun!" Kedua obsidian itu menatap nyalang ke sekitar, terlalu geram, Ia bisa selengah ini membiarkan baekhyun pergi darinya.
tapi mengapa Baekhyun melakukannya?
Ataukah seseorang menculik anak itu darinya?
Bagaimana jika semua hal buruk itu terjadi
"Baekhyun!" Panggilnya lagi, semakin kalut berlari di tengah lalu lalang pengunjung mall yang sebenarnya salah satu asset miliknya
Jika saja Ia tak meminta bodyguardnya mendampinginya, tentu Ia tak akan kehilangan Baekhyun seperti ini. Rutuknya dalam hati.
"CARI DIA SAMPAI KALIAN MENEMUKANNYA!" teriaknya lagi pada beberapa Pria kekar miliknya, tak peduli pengunjung mall itu menatapnya gila.
.
.
Hingga langkahnya tiba-tiba terhenti , begitu obsidiannya menangkap siluet seorang namja mungil. Membuatnya berlari gusar untuk mendekat, masih tak bisa terima Baekhyun pergi begitu saja tanpa seizin darinya.
"Darimana saja hah?! seharusnya kau tak pergi begitu saja tanpa sepengetahuanku! Aku benar-benar marah jika seperti ini! Apa kau tau aku—
"T—Tuan.. nghh"
BRUGHH.
Tak pelak membuatnya terperanjat hebat, lalu bersimpuh cepat demi merengkuh tubuh ringkih itu.
Ada yang berbeda..
tubuh Baekhyun terasa dingin, tapi mengapa berkeringat sebanyak ini.
"Baekhyun?" Panggilnya panik, masih mengguncang tubuh kecil itu berusaha menyadarkannya
.
.
"BAEKHYUN!"
Namun, Seseorang tiba-tiba menjerit keras
Membuat Chanyeol terhenyak, begitu melihat dengan jelas siapa pemilik derap langkah dan jerit memekakkan itu.
Ia benar-benar mengenalnya...
"Apa yang kau lakukan pada Putraku?! MENYINGKIR DARINYA!JANGAN SENTUH PUTRAKU!" Racau wanita itu histeris, berulang kali ia mendorong dada Chanyeol dan memaksa mengambil alih tubuh Baekhyun dari pria muda itu
"Tenanglah" Bujuk Chanyeol, berusaha mendekap Baekhyun,tapi rasanya wanita itu sama sekali tak ingin mendengrnya, tetap bersi keras memaksa Chanyeol menjauhi Baekhyun
"Kau yang membuatnya seperti ini, bukan?! KAU MENYAKITI PUTRAKU! BRENGSEK!"
Chanyeol berdecak keras, tak mungkin membiarkan Baekhyun semakin lemas hanya karena keributan itu, Ia putuskan mengangkat bridal tubuh Baekhyun dan membawanya berlari meninggalkan tempat itu. Tanpa menghiraukan racauan Jaejong, yang masih mengumpat keras padanya.
"TIDAK! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Pekik Jaejong, berlari kalut mengejar langkah jenjang yang telah jauh meninggalkannya, bahkan semakin menjerit histeris saat mengetahui Pria itu hendak membawa Baekhyun ke dalam mobilnya.
.
.
"Jangan sentuh putraku! lepaskan putraku! Aku tak—
Wanita itu berhenti meracau begitu Chanyeol memaksa mendorongnya masuk ke dalam mobilnya. Jaejong ingin berontak dan kembali berteriak geram. Namun Chanyeol telah lebih dahulu mengunci pintu dan berlari ke depan memposisikan diri pada kemudinya.
Jaejong masih menatap sengit pemuda yang dianggapnya asing itu, tapi..
Ia mendadak terhenyak, bahkan membulatkan mata lebar kala melihat Pria itu tampak merengkuh tubuh Baekhyun dan membuatnya bersandar di dadanya. Samar-samar ia pun mendengar pria itu membisikkan kata menenangkan untuk putranya. Membuatnya berulang kali menerka... Siapa pemuda itu sebenarnya?
.
.
sementara itu...
"AKU TIDAK MAU! A—AAAHHHH!"
Kyungsoo terlihat menangis histeris, bahkan mengglayut erat di leher polisi itu, kala beberapa tenaga medis mencoba menyeka lukanya dengan cairan antiseptik.
"Tenanglah.. ini tidak akan sakit" Bujuk seorang suster.
"Jauhkan jarum itu dariku!" Kyungsoo menyalak dan berusaha menendang perawat yang lain.
"Yya! Biarkan mereka mengobati lukamu.." Ujar Kai, berusaha melepas rangkulan anak itu
"TIDAK MAU!"
"Adik kecil... lukamu harus mendapat jahitan jika tidak—
"AAAAHHH! TIDAK MAU!" Kyungsoo semakin menjerit keras, tak peduli seberapa kekeuh Kai bekerja sama dengan semua suster dan dokter itu. Ia tetap tak ingin, benda tajam itu menyentuh tubuhnya.
"Tahan tangan dan kakinya" Titah seorang dokter, membuat Kyungsoo melonjak terkejut dari gendongan Kai, ingin melarikan diri.
"A—AAAAAAAAHHHH!"
"Aisshh... merepotkan!" Decak Kai gusar
Namun ditengah gaduh itu, kedua matanya mendadak terbelalak begitu melihat Chanyeol setengah berlari dan sesosok bocah berparas manis terbaring tak sadarkan diri. Itu Baekhyun! tapi Ia kembali dikejutkan dengan sosok wanita di belakang Chanyeol...Bukankah wanita itu...
"Bibi Jae?!" Panggilnya, seraya beranjak ingin mengejar.
Tapi langkahnya tersendat, begitu sepasang lengat menggelayut erat... seakan ingin mencekiknya.
"AHJJUSSII AKU TAKUT! AHHH!"
"Argk~ le—pas!"
.
.
.
.
####
"Maaf... anda tidak diperkenankan masuk Tuan" Larang seorang suster, begitu melihat Chanyeol ingin menerobos masuk ke dalam.
Chanyeol mendesah berat dan terpaksa memenuhi permintaan suster itu, tak ada yang bisa Ia lakukan selain menunggu di depan pintu yang kini benar-benar tertutup rapat.
Apa yang salah sebenarnya?
Ia memang mendengar, Baekhyun sempat mengeluh pusing sebelumnya. Tapi Ia tak pernah menduga akan berakibat seperti ini.
Sementara, Jaejong hanya mengusap pelan air matanya, sesekali ia melirik Chanyeol, dan mengepalkan tangan erat. Merutuk geram, jika apa yang terjadi pada Baekhyun kali ini karna ulah Pria itu.
Masih lekat dalam ingatannya bagai mana Chanyeol menyeret paksa putranya yang tak sadarkan diri menjauh dari pelukannya. Dan Ia yakin, Pria itu pasti telah menyiksa Baekhyun.
Jaejong sepenuhnya tau, betapa ringkih tubuh Baekhyun, terlebih organ asing yang tumbuh di dalam perutnya, tentu mengharuskan dirinya menjaga Baekhyun sepenuhnya, namun niatan itu kandas begitu Yoochun memaksa menjual Baekhyun pada Pria itu.
"Jangan sentuh Putraku lagi, lepaskan Baekhyun" Lirih Jaejong , menatap Chanyeol dingin.
Pria itu hanya memandang Jaejong sendu. Sesungguhnya, Chanyeol tak pernah merasa sesesak ini.. saat bicara dengan wanita manapun.
Tapi mendengar Jaejong mencoba memberi sekat untuknya menjauhi Baekhyun, entahlah... Ia benar-benar tak menyukainya.
Tak satupun kata terucap darinya, Chanyeol lebih memilih bersandar di dinding dan memijit keningnya yang mulai berdenyut pening.
"Maaf "Bisiknya lirih
.
.
.
Lebih dari satu jam berselang, pintu yang sedari tadi tertutup rapat itu.. kini mulai memberi celah.
Membuat dua sosok yang sedari tadi menunggu itu, beranjak cepat untuk menghampiri seorang Dokter muda.
"Apa yang terjadi padanya?" Sergah Chanyeol cepat, merasa tak sungkan karna memang ia mengenal baik sosok dokter itu.
"Tenanglah, kondisi Baekhyun mulai stabil, hanya saja—"
Luhan menjeda ucapannya, dan manatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hanya saja?!"
"Sebelumnya aku tak yakin dengan apa yang kami lihat. Tapi... itu benar-benar nyata"
"Apa maksudmu sebenarnya?" Chanyeol nyaris lepas kendali, merasa Dokter itu hanya mengulur waktunya.
"Sebaiknya kita bicarakan di dalam" Bujuk Luhan setelahnya.
"Tunggu!" Tapi Keduanya dibuat terhenyak, mendengar gertakan geram seorang wanita, bahkan terlihat wanita itu mencoba mencengkeram jas medis Luhan dan mengguncangnya kasar.
"Bagaimana mungkin kau membiarkan Pria biadab ini masuk! Aku ibunya, dan aku yang berhak menemui Putraku!."
"I—Ibunya?" Luhan membulatkan mata lebar, memandangi Chanyeol dan Jaejong bergantian, tak ingin menerka lebih jauh. Tapi melihat raut Jaejong saat ini, Ia tau benar... wanita itu benar-benar murka
Luhan tersenyum ramah. "Baiklah, anda bisa masuk ke dalam" Ujarnya kemudian seraya membimbing Jaejong untuk mengikutinya ke dalam.
.
.
.
"Baekhyun "Jaejong berlari menghambur, dan mendekap erat namja mungil yang kini bersandar di kepala ranjang itu, berulang kali ia mencium puncak kepala Baekhyun. Ah! Ia benar-benar merindukan putra kecilnya.
Baekhyun yang kala itu terpejam, merasa terusik dengan pelukan yang membuat sesak. Hingga membuatnya terbangun.
Lama Ia mengerjap, mencoba membiasakan diri dengan sinar yang cukup terang itu. Namun—
"Baekhyun... Eomma di sini sayang"
Suara yang benar-benar dirindukannya itu serasa memanggil. Nyatakah ini.. ataukah Ia sedang dibuai mimpi.
"Baekhyun.."
"Eom—ma.."
"Benar.. ini Eomma" bisik Jaejong seraya menangkup wajah tirus itu.
"Eomma.." Panggil Baekhyun lagi, mencoba memastikan
Sempat merasa mustahil, tapi belaian dan dekapan hangat itu memang nyata untuknya, Baekhyun bangkit dan memeluk erat tubuh wanita itu. meski samar terdengar isak lirih darinya.
"Mengapa Eomma meninggalkan Baekhyun sendiri?" Isak Baekhyun sambil menyerukkan kepalanya dalam dekapan wanita itu.
"Maaf Baekhyun ... Maafkan Eomma"
.
.
.
Di sudut ruangan itu, Chanyeol hanya memejamkan mata. Mencoba merenungi.. rasa sesal yang sempat mengusik di sini. Ia sepenuhnya tau, dirinya sebenarnya terlibat memisahkan Baekhyun dari wanita itu. Tapi sebenearnya ia lebih merasa resah, jika menduga kemungkinan terburuk. wanita itu sudah pasti sangat membencinya, dan Ia benar-benar tak berharap Dia membawa pergi Baekhyun darinya
"Tuan"
Panggilan halus itu lekas membuatnya tersadar, Chanyeol tersenyum lalu berjalan menghampiri bocah yang kini bersandar lemas di ranjangnya.
"Hn.." gumam Chanyeol sembari meraih jemari mungil itu, tak peduli wanita di sisinya masih memandangnya muak.
"Maaf membuat Tuan marah" Baekhyun balas menggenggam tangan besar itu, lalu memandangnya sayu.
"Pergi kemana kau sebenarnya, hingga—
"A-aku hanya pergi mencari toilet kafe itu, k-karena merasa mual. Maaf Tuan"
Baik Chanyeol maupun Jaejong, tampak berjengit mendengarnya.
"Mual?" Tanya keduanya bersamaan.
"Ah! aku sebenarnya cukup riskan untuk menjelaskan semua ini" Dokter muda yang sedari tadi terdiam memberi jeda untuk ketiga sosok itu, mulai membuka suara.
"Karena seperti yang kalian tau... Baekhyun seorang namja. Tapi—
Luhan menatap Chanyeol lekat. "Baekhyun benar-benar memilikinya di dalam tubuhnya"
Jaejong terlihat goyah, tak ingin menduga apapun di sini. Tapi Dokter itu terus menerus melanjutkan setiap kata darinya.
"J-jangan... jangan lanjutkan" Lirih Jaejong nyaris tak terdengar.
"Baekhyun memiliki rahim"
Chanyeol terbelalak lebar, bahkan terlihat stagnan dalam posisinya.
"Dan Dia tengah mengandung... kemungkinan anakmu" Lanjut Luhan lagi, sedikit mengulas senyum. Merasa.. ini mungkin suatu kabar yang baik untuk Pria, yang ia ketahui mencintai bocah itu.
"A-apa?"
.
.
.
"TIDAK! Aku tak akan membiarkanmu menyentuh Baekhyun! Dia tak pernah mengandung anakmu! Dan aku akan membawa Putraku pergi bersamaku! Camkan itu!"
"E—Eomma"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Next Chapt
.
Baekhyun tetap mencoba menggenggam tangan kokoh itu, tak berharap semua ini nyata untuknya.
Tapi-
"Maaf... lepaskan tanganku"
.
This is our project...
Review Jusseyo...
And Please Love Gloomy Rosemary
.
.
IG: Gloomy_Rosemary
,
neniFanadicky, chanbaek92, LHR Official Couple Shipper, restikadena90 , buny puppy, byunnami, Marshsamallow614 , khakikira , ctbisreal, RurohFujoCbHs, hulas99, fintowikson, Lussia Archery , kimkad , YaharS , Aisyah1, LyWoo, Byun soo byung, Yana Sehunn, baekkachu09 , Poppy20 , baekxylem , selepy , byunnami , Lusianabaconcy0461, bbhunyue, chanbaekis , mawar biru, love Elan , thevEXO, WinterJun09, tkxcxmrhmh , mii-chan07 , vryeol , Dodio347, baekby aeri04 , ChanBaekGAY , EyiLy , metroxylon, Fiyaa04, baby baek , Deliscius, Wahidah Putri Utami , chalienBee04, xiluhan74 , cbforever00, Yeolliebee , PinkuBlue614 , rimaa , kimi2266, YaharS , baekchann18, Avisyell756 , AuliyaRchy , byunlovely, ruukochan137, veraparkhyun , park chan2 , baeeki6104, chanbaek1597, byunlovely , bbhunyue, kkaiii, Hyo luv ChanBaek, Siapa Hayo, myliveyou, LightPhoenix614, Chanbaeknaena, Asandra735 , tyas 614, AnggunBBH06, AmyGAHF, Merina, dwi yuliantipcy , Shengmin137, kitukie, shereen park, yiamff , jempolnya pcy , Hyera832, Riinnchan, Ricon65 , BambiLuhan , Byunexo, SMLming , babyyh , chayeonlee , Sitachaan, Ziiwandha, hananachan, bbyLyi , hosh10 , hunhanshin, Loey761,dan all Guest
Thankyou :)
Review again and again... and love me
