Main Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Other Cast :HunHan, KaiSoo, Jaejong
Disclaimer: Milik GLOOMY ROSEMARY & CUPID
.
.
.
.
Previous Chapter
Chanyeol terbelalak lebar, bahkan terlihat stagnan dalam posisinya.
"Dan Dia tengah mengandung... kemungkinan anakmu" Lanjut Luhan lagi, sedikit mengulas senyum. Merasa.. ini mungkin suatu kabar yang baik untuk Pria, yang ia ketahui mencintai bocah itu.
"A-apa?"
.
.
.
"TIDAK! Aku tak akan membiarkanmu menyentuh Baekhyun! Dia tak pernah mengandung anakmu! Dan aku akan membawa Putraku pergi bersamaku! Camkan itu!"
"E—Eomma"
.
Chapter 8
Silent Regrets
YAOI
Rate M
Gloomy Rosemary
.
.
Pria itu tertunduk..
Bahkan hingga Jaejong kembali berteriak dan mengumpat keras padanya, Ia tetap tertunduk..
Bagaimana Ia bisa menepikan sebagian hatinya? jangankan untuk sekedar menatap baekhyun di sisinya.. Ia merasa tak mampu, kala ucapan Luhan terus menerus membuat gema dalam benaknya.
'Mengandung'
Benarkah semua itu? nyatakah?
Bagaimana mungkin... hal semacam itu bisa terjadi?
"Tuan.."
Namun panggilan lirih itu, perlahan menarik sadarnya... membuatnya lekas membuka mata dan melihat...
Sosok mungil itu benar-benar menatapnya penuh harap.
tak bisa menyangkal... makna terjerat dalam pandangannya. Ia hanya mengikuti langkah miliknya, mendekat... dan menyambut jemari mungil di atas perut itu.
"Hn..." gumamnya, balas menatap lekat sambil sesekali meremas jemari kecil Baekhyun.
Bocah itu merubah raut... dengan senyum kecilnya
Sesuatu yang Baekhyun takutkan seakan pupus kala melihat bagaimana Pria itu memandangnya seteduh ini. berharap Chanyeol benar-benar bahagia mendengar semua ini. "T—tuan, di dalam perutku—
"Aku tau" Sergah Chanyeol.
Ia masih tak terbiasa dengan kenyataan ini... tapi tentu tak bisa mengungkapkannya begitu saja pada bocah laki-laki itu.
Baekhyun mengerjap, masih berharap... Pria itu benar-benar meyakinkan dirinya. "Tuan m-menerima diriku yang—
"APA YANG KAU KATAKAN BAEKHYUN!"
Tiba-tiba, Jaejong menyentak genggaman tangan keduanya... bahkan memaksa Chanyeol menjauhi ranjangnya. "JAUHI PUTRAKU!" Teriaknya lagi
"E—eomma... jangan s-seperti ini"
Chanyeol tertegun, mungkin Ia pantas mendapat sentakan semacam ini.
Tapi... ia pun merasa tak bisa jika bocah itu hilang dari pandangannya, terlebih... tanpa tersadar olehnya, Ia telah merubah hidup baekhyun.
"Berapa kali ku katakan! Jangan mendekati Putraku lagi! Dokter! aku akan membawa Baekhyun pergi dari sini, biar aku yang merawatnya sendiri!" Jaejong beralih cepat membangunkan Baekhyun, berniat secepat mungkin membawa pergi Putranya, dan Chanyeol lekas enyah dari pandangannya.
Chanyeol mendadak berjengit, melihat wanita itu begitu keras kepala menarik tubuh Baekhyun "Dengar... bukankah lebih baik kau membiarkannya berbaring—
"DIAM KAU! Baekhyun Putraku... dan aku yang berhak merawatnya seorang diri!"
"Tunggu! kau tak bisa membawanya dalam kondisi selemah itu" Chanyeol kembali menahannya, tapi yang terlihat wanita itu semakin menggila dengan emosinya.
"ENYAH DARI HADAPANKU!" Jerit Jaejong histeris.
"Aku tetap tak akan membiarkanmu membawanya dalam kondisi seperti itu" tekan Chanyeol, tak berharap dirinya lepas kendali, dan melakukan hal kasar pada wanita itu.
"Tak cukupkah kau membuat kami menderita?" Jaejong berdecih muak. "Lepaskan Baekhyun! dan biarkan kami hidup bahagia!"
Chanyeol memijit pelipisnya pening. "Baekhyun mengandung anakku, kau tak bisa jika—
"AKU BISA!" Teriak jaejong semakin geram.
"AKU BISA MELAKUKAN APAPUN DEMI PUTRAKU!" Lanjutnya lagi, sambil menarik Bakehyun dan merengkuh lengannya.
.
.
Luhan yang memang sedari tadi diam, kini beralih beranjak... merasa iba dengan situasi semacam ini, sementara bocah itu semakin pucat.
"Nyonya, tapi sebaiknya anda—
BRUGH
Terlambat...
tak sempat mengusaikan ucapannya, bocah yang menjadi perhatiannya itu... mendadak lunglai begitu saja.
Tak pelak membuat Jaejong kembali menjerit histeris.
"BAEKHYUN!"
.
.
.
"Kondisinya terlalu lemah, sebaiknya biarkan Baekhyun mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit ini" Lugas Luhan, berharap jaejong benar-benar mengerti posisinya di sini.
Wanita itu hanya menundukkan kepala, meremas jemari lentik miliknya dan membiarkan air mata itu lolos dari pelupuknya.
Bahkan hingga Luhan pergi dan hanya menyisakan dirinya dan Chanyeol di ruangan itu, Jaejong tetap menundukkan kepala.
"Kau membuatnya menderita" Lirihnya, membuat Pria yang sedari tadi berdiri di sisi Baekhyun lekas menatapnya terkejut.
"Kau lihat... apa yang telah kau lakukan pada Baekhyun!"
Chanyeol kembali menghela nafas, sejujurnya Ia sosok yang keras... bahkan terlalu mudah menyentak siapapun yang dirasa mengganggu. tapi wanita itu—
Entahlah, Ia merasa... tak pernah selemah ini sebelumnya.
Baekhyun mencintai wanita itu...
"Aku akan bertanggung jawab" Gumam Chanyeol, seraya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian mata Baekhyun.
"Tch!"
tapi rupanya, Jaejong tak bisa menerima jawaban semacam itu.
terlihat wanita itu bangkiit berdiri dan kembali menatapnya muak.
"Hentikan omong kosong ini! Kau membuatnya menderita... sampai kapapun manusia sepertimu hanya akan menghancurkan dirinya!"
"..."
Chanyeol memilih diam, apapun yang akan terucap... rasanya akan percuma jika wanita itu terlanjur diliputi amarah
"Biarkan aku pergi membawanya"
Pria itu mengepalkan tangan kuat. "Tidak.." Tegasnya
"Aku tak pernah bermain dengan ucapanku. Biarkan kami pergi... atau jika kau tetap keras kepala menahanku, aku akan menggugurkan janin itu"
Chanyeol terbelalak lebar. "Apa kau gila?!"
"Aku yang lebih tau kebahagiaan putraku! CAMKAN SETIAP UCAPANKU!"
"..."
.
.
.
lebih dari lima jam berselang...
Tanpa sepengetahuan Dokter atau bahkan perawat lainnya, wanita itu mencoba membimbing putranya yang telah tersadar untuk lekas bangkit dan keluar dari ruang rawat itu secara diam-diam.
"Perhatikan langkahmu sayang" bisik wanita yang sedari tadi memaksanya untuk lekas bangkit.
Bocah mungil itu memejamkan mata pening. "D-Dimana Tuan—
"Jangan memanggilnya!" Gertak Jaejong, tak peduli putranya berjengit terkejut.
.
.
Baekhyun sesekali menggeleng kasar sambil merintih, meski tertatih dipaksa berdiri... Ia tetap menatap nanar wanita cantik itu...ini bukan pribadi Jaejong. Ibunya tak pernah berbicara keras bahkan kasar pada siapapun. " E—eomma... aku tak ingin pergi" Lirih Baekhyun setelahnya.
" Eomma akan tetap membawamu pergi... kita akan bersama-sama lagi. Bahagia seperti dulu Sayang" Bisik Jaejong lembut seraya membelai surai Baekhyun.
"Ti—dak ... ku mohon jangan seperti ini. Biarkan Baekhyun bicara dengannya.. Eomma"
Sejatinya tak ada satupun yang bisa meluruhkan hatinya selain tatapan dan ucapan polos buah cintanya bersama Yunho itu.
Bahkan ini terlalu membuatnya sesak, melihat betapa rapuh Putra kecilnya saat ini, meski demikian ia tetap tak bisa mendengar permintaan itu.
Bahkan terlalu mustahil baginya membiarkan Pria bernama Chanyeol itu menyentuh Baekhyun lebih lagi tinggal bersamanya. Tidak untuk semua perlakuan rendahnya kala itu, Ia masih mengingatnya dengan baik, bagaimana Pria itu membutakan segalanya dengan uang miliknya.
"Tidak! jangan pernah bicara tentangnya! " Bentak Jaejong masih begitu kekeuh menarik tangan Baekhyun dan merengkuh tubuhnya, untuk segera keluar dari tempat itu.
"Tuan..."
Tapi mendadak ia berjengit terkejut, begitu Baekhyun memanggil seseorang, dan benar saja.. tepat di ujung loby itu, seorang pria berdiri bersandar di pintu mobilnya.
Cepat-cepat Baekhyun melepaskan rengkuhan tangan Ibunya, dan berlari tertatih demi meraih sosok pria itu.
"A—aku mencari Tuan" Gumam Baekhyun antusias, sambil merangkul lengan kekar itu. Berharap... Chanyeol menatapnya teduh seperti sebelumya, atau bahkan memberi belaian lembut untuknya.
"..."
Tapi... meski Ia memeluknya demikian, Pria itu hanya diam... bahkan tak sekalipun merunduk untuk sekedar balas menatapnya. ini tak seperti biasanya..
"Tuan.." Panggilnya panik, seraya memeluk lebih erat lengan kekar itu.
"Tuan... mengapa Tuan diam saja?" Baekhyun menengadah, mencoba memandang wajah tegas itu, barangkali Chanyeol tak baik-baik saja, hingga Dia bersikap sedingin ini.
"Baekhyun lepaskan tanganmu!" Gertak Jaejong, begitu menyadari Putranya menautkan jemarinya dengan Chanyeol bahkan berjinjit demi menatap wajah pria itu.
"Baekhyun! Kau tak mendengar—
"Aku mencintainya! Aku ingin bersamanya! aku mencintai Tuan Chanyeol ... Eomma!" Racau Baekhyun tiba-tiba, membuat wanita cantik itu membulatkan mata geram.
"Apa?" Jaejong mengeras, kembali memandang muak pria yang sebenarnya sama sekali tak menatapnya kali ini. "Bagaimana bisa kau bersikap seperti ini di depan Eomma?"
Baekhyun menundukkan kepala, namun kedua tangan itu tetap merangkuk lengan Chanyeol bahkan memeluknya lebih erat, berharap mendapat perlindungan.
"Pria itu tak menginginkanmu Baekhyun.." Ujar Jaejong, menatap tajam Chanyeol. seakan memberi isyarat pada Pria itu untuk tak membuka suara.
Namja mungil itu menggelengkan kepala kasar, masih menerka... Mungkin Chanyeol tengah suntuk, dan enggan untuk bicara.
"Kau masih tak percaya pada Eomma? Pria itu ingin kita pergi! Lepaskan tanganmu darinya!" Tekan Jaejong, memaksa menarik tubuhnya
Baekhyun tetap mencoba menggenggam tangan kokoh itu, tak berharap semua ini nyata untuknya.
Tapi-
"Maaf... lepaskan tanganku"
DEG
Baekhyun menatap nanar ke atas, masih menyangkal apa yang baru saja di dengarnya. 'maaf'? ah! mungkin Ia salah dengar bukan, Chanyeol tak pernah melepas tangannya.
Ya! barangkali ia memang salah mendengar kali ini.
Namja kecil itu, mengulas senyum getir. "Tuan ingin membawaku pulang?" Lirihnya, masih berharap tangan yang sedari tadi dipeluknya itu beralih merengkuh tubuh gemetarnya.
Namun yang terlihat..
Chanyeol nyata, melepas paksa rangkulan tangannya... membuatnya terbelalak namun pasrah melihat bagaimana Pria itu menepis genggamannya.
"Ibumu benar..."
Satu kalimat yang terdengar, lekas membuat hati itu berdesir sesak. Semula Ia tak ingin percaya, tapi melihat wajah itu berpaling darinya, membuatnya hanya bisa tertunduk.. tak sanggup berharap lebih.
"Kau dengar?!Eomma tau... Dia bukan pria yang baik!" Jaejong kembali merengkuh tubuh letihnya, membawanya kembali melangkah menjauhi Pria itu,
Tapi Baekhyun berulang kali mencoba menoleh ke belakang, sadari... dirinya yang masih berharap Chanyeol menahannya.
Bagaimana dengan dirinya kelak, jika Pria itu membiarkannya pergi begitu saja?
Bagaimana dengan perasaannya? bahkan Pria itu tau... betapa tulus Ia memberikan cintanya.
Dan bagaimana dengan janin yang kini dikandungnya?
Lalu taxi yang menepi...
Menjadi pungkas, dari harapan miliknya... hingga mobil itu melaju, Chanyeol tetap acuh... tak bergeming selain berdiri dengan wajah tertunduk.
.
.
.
.
.
"AARGGGHH!"
Chanyeol berteriak keras, seraya menendang kasar ban mobilnya. Begitu taxi itu benar-benar lenyap dari pandangannya.
Mengutuk keras akan sikapnya, sementara Ia terpaksa melakukannya demi Baekhyun dan janin dalam kandungan anak itu.
masih dengan nafas memburu, Ia mulai mendial nomor seseorang. Sebelum asanya terlambat dan semua menjadi penyesalan untuknya
"Ikuti Taxi yang membawanya"
("Baik ... Boss")
Pria itu beralih cepat memasuki mobilnya, kembali berteriak geram sebelum akhirnya menghantam kemudi miliknya.
"Bisakah kau menungguku... Baekhyun"
Sesekali kedua mata itu mengerjap dengan bibir bergetar... tatkala suhu dingin perlahan berhembus dari jendela yang dibukanya
Baekhyun memang tak sedang melakukan apapun, ia hanya duduk termenung di atas sofa.. memandang sendu pada gemerlap kota seoul di balik jendela. sadari kesendiriannya tanpa Pria itu, tapi mengapa.. Chanyeol berubah begitu cepat?
Tak bisakah Pria itu membaca hatinya di sini?
Ataukah, semua sikap penuh kasih yang sempat dilihatnya kala itu... hanya sebatas delusi miliknya?
Baekhyun kembali membenamkan kepala di balik rengkuhan lengan, dan kaki yang tertekuk itu... membiarkan sepoi angin membawa percikan salju. Tak peduli betapa dingin suhu itu.. Ia hanya ingin dinginnya salju lekas membawa bayang Chanyeol malam ini
"Mengapa Tuan bicara seperti itu" Lirihnya, sembari mengeratkan dekapan lengannya dengan mata terpejam..
.
.
"Astaga Baekhyun! Kau bisa sakit jika seperti ini!" Jaejong berlari dan menutup cepat jendela yang terbuka lebar itu, sebelum semua salju masuk ke dalam dan membekukkan tubuh mungil Putranya. menyesal Ia meninggalkkan Baekhyun sendiri, jika anak itu berlaku seceroboh ini.
Ia beranjak menyambar selimut tebal dan melilitkannya di tubuh Baekhyun. "Jangan melakukan hal ini lagi Baekhyun!" Ucap Jaejong setengah membentak, lalu menangkup wajah pasinya. "Apa yang kau pikirkan sebenarnya? salju di luar sangat lebat sayang!"
"..." Anak itu hanya mengalihkan pandangan ke lain arah, lalu memejamkan mata
membuat Jaejong lekas menatap redup, lebih dari 5 jam lamanya Ia tiba di apartemen ini, dan selama itu pula Baekhyun menutup diri, sama sekali tak menyentuh minuman hangatnya lebih-lebih menyantap sup yang beberapa saat lalu ia buat untuk anak itu.
"Kau belum makan apapun sedari tadi" Jaejong beralih meraih Sup yang hampir mendingin di atas meja.
"Makanlah sedikit saja, mengerti?" Bujuknya, sembari mengambil satu suapan untuk Baekhyun
Tapi Baekhyun menggeleng pelan, dan lebih memilih menjauhkan suapan Ibunya. "Aku tidak lapar ... Eomma"
"Eomma tak ingin melihatmu seperti ini, makanlah sedikit saja"
Dibandingkan menjawab racauan cemas itu, Baekhyun lebih memilih tersenyum, mengecup cepat pipi Jaejong lalu berjalan tertatih mendekati ranjang... sekedar berbaring dan memejamkan mata letihnya.
Sementara Jaejong tampak menatap resah sup di tangannya dan Baekhyun bergantian. Meski ia tak menginginkan kehadiran janin itu, tapi jika harus jujur Ia begitu mencemaskan Baekhyun dan tentu saja makhluk mungil yang tumbuh di dalam perutnya.
Perlahan ia beranjak dan duduk di sisi ranjang Baekhyun, lalu membelai lembut surai cokelatnya.
"Maaf... Eomma hanya ingin membuatmu bahagia sayang" Bisiknya lirih, Baekhyun yang mendengarnya hanya tersenyum tipis, dan meraih tangan Jaejong untuk di dekapnya erat.
Lama ia memandangi anak itu, merasa iba dengan bagaimana anak itu mencoba tegar. Tapi.. mengapa putranya harus jatuh dengan perasaan itu, tidakkah baekhyun tau... Pria itu tak pantas menerima sedikitpun kasih darinya. Chanyeol menghancurkannya.. itu yang harus Baekhyun ingat.
"ini hanya sementara, Kau akan lekas melupakannya Baekhyun" Bisiknya, masih setia membelai kepala Baekhyun. Hingga Ia sadari... nafas anak itu mulai terdengar teratur
.
.
Pekatnya malam... terlihat kontras begitu salju di malam itu turun dengan lebatnya, Tapi sepertinya sama sekali tak membuat seorang Pria jengah untuk menungguh. Tetap memandang redup ke atas... tepat pada sebuah jendela apartemen yang masih berpendarkan cahaya terang. Ia tau, Baekhyun di dalam sana , rasakan hal yang sama seperti dirinya saat ini
"Aku merindukanmu" Gumamnya lirih
Jika saja Ia bisa berlari ke dalam, mendobrak paksa pintu apartemen dan memeluk Bocah itu, seperti yang kerap Ia lakukan sebelumnya. Tapi Ia terlanjur membuat luka, sebelum bisa mengungkap betapa menginginkan dirinya akan kehadiran janin itu.
Baekhyun... dan buah hatinya..
Ia benar-benar menginginkannya...
.
.
Pria itu berulang kali mengusap kedua telapak tangannya dan meniupnya sesaat,barangkali dengan memanaskan tubuh seperti ini dapat sedikit membuatnya merasa tenang. Tapi rasanya percuma, Chanyeol tak bisa menahannya lagi... terlebih Ia telah membuat Baekhyun menyimpan prasngaka yang lain akan dirinya. Anak itu sudah pasti mengira dirinya telah meninggalkannya, tanpa tau isi hati sebenarnya.
Chanyeol berlari cepat ke dalam, mencari-cari nomor Apartmen yang diyakini Jaejong membawa Baekhyun di dalamnya. Persetan jika wanita itu kembali menggila jika melihatnya, setidaknya Ia hanya ingin anak itu mengerti dirinyapun menginginkannya.
.
.
.
"Tuan.."
Jaejong terhenyak mendengar Baekhyun kembali mengigau, membuatnya lekas meletakkan blanket di tangannya demi mendekati Baekhyun.
Sedikit berdecak cemas, begitu menyadari suhu tubuh anak itu mulai terasa panas.
"Mengapa kau mendadak demam seperti ini" Sesalnya, lalu beranjak untuk mengambil kompres
Namun tiba-tiba, seseorang sepertinya datang...
DINGGGG
Wanita itu mengernyit heran, bukankah dirinya penghuni baru? tak ada satupun yang dikenalnya di sini, terlebih ini terlalu larut malam. Tak biasa sekali jika ada yang bertamu... ataukah mungkin penjaga gedung apartemen?
Jaejong menghela nafas pelan, beranjak mendekati pintu lalu membukanya tanpa sedikitpun menaruh curiga.
"Siapa—
Jaejong mendadak terperanjat begitu melihat Chanyeol benar-benar berdiri tegap di hadapannya, bagaimana mungkin Pria itu bisa mengetahui apartemennnya?
"Untuk apa kau kemari!" Ia secepat mungkin menutup pintunya
"Tunggu! Aku hanya ingin melihatnya" Seru Chanyeol sembari menahan pintu itu dengan kedua tangannya
"PERGI! " Teriak Jaaejong, tetap bersikeras menutup pintu itu. "Baekhyun sama sekali tak mencarimu! PERGI DARI SINI!" Jeritnya kemudian
Tapi alih-alih mendengar, Pria itu tetap memaksa membuka celah lebih lebar... sebanding dengan kekuatannya yang lebih besar. "Dengar... beri aku kesempatan sekali ini saja, aku hanya—
"NNHH!"
'B—Baekhyun?" Panik jaejong begitu mendengar Baekhyun mengerang, Ia berlari cepat ke dalam, tak peduli Chanyeol merangsak pintunya, bahkan berlari mendahuluinya demi mencari Baekhyun.
.
.
"Nnhh~"
Benar saja...
Bocah itu benar-benar menggigil hebat, bahkan hingga dirinya bisa merengkuh dan mendekap erat bocah itu... Baekhyun tetap menggigil kedinginan.
"Baekhyun.." Bisiknya seraya menyeka keringat dingin yang merembas di kening anak itu.
"Nnh~ hks..." tubuhnya meremang, mendapat sentuhan hangat itu, meski tak sadar... namun kedua tangan itu reflek mencengkeram mantel Chanyeol, beringsut demi mencari hangat tubuh yang lebih.
"T—Tuan" Gumamnya lirih,
Jaejong hanya menutup bibir, mendadak gemetar melihat putranya tiba-tiba berangsur collapse seperti ini, berulang kali Ia mendekat.
tapi...
Mendadak stagnan, tiap kali melihat Baekhyun memanggil-manggil Pria itu.
"R—Rumah sakit! Bawa Putraku kerumah sakit!" Paniknya... takut, jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi, mengingat... anak itu tengah mengandung. Bukan tidak mungkin jika kondisinya kelak memburuk.
"Tidak..." Singkat Chanyol, membuat wanita itu membulatkan mata terkejut. "Di luar... salju cukup lebat, kurasa malam ini akan terjadi badai salju" Lanjutnya lagi, sambil membuka satu persatu kancing kemeja Baekhyun, terlihat kebas begitu anak itu berkeringat sangat banyak.
"Bawakan aku air hangat, dan sehelai kain" Lugasnya kemudian, Jaejong pun berlari cepat... mencari apa yang dibutuhkan. sejenak melupakan emosinya untuk Pria itu, sadar... saat ini Ia benar-benar membutuhkan bantuan.
.
.
"Sssh..." Desisnya menenangkan, sambil sesekali membelai punggung sempit itu. Membiarkan Baekhyun mencengkeram kuat pakaiannya, bahkan tak masalah dengan kemejanya kebas akibat keringat dan air mata namja mungil itu.
"Tu—an.." Bocah itu kembali memanggil dalam tidurnya.
"Buka matamu, aku di sini" Bisiknya, mencoba membangunkan bocahh itu. Tapi panas tubuhnya bukan main lagi, dan mungkin akan sulit untuk Baekhyun terbangun dari tidurnya.
Hingga Jaejong kembali dengan kain dan air hangat untuknya...
..
"..."
Jaejong terdiam, memandang sendu... dengan bagaimana cara Pria itu menyeka leher dan dada Baekhyun dengan kain hangat itu. Lebih lagi, Baekhyun sama sekali tak melepas genggaman tangannya pada pria itu.
Ia Ibunya, tapi mengapa merasa sepayah ini bahkan di saat dirinya seharusnya merawat Baekhyun seperti yang Pria itu lakukan.
"Jangan terlalu cemas... " Gumam Chanyeol. seakan membaca pikiran Jaejong.
"Dia hanya sedikit demam" Lanjutnya seraya meletakkan kain hangat itu di dahi Baekhyun.
Wanita itu kembali tertunduk... sadari dirinya yang tak bisa menepikan benci dan rasa takut itu.
.
.
.
Lama.. Jaejong membiarkan Pria itu, duduk di sisi putranya... mendampinginya hingga mungkin ini sudah hampir pukul 4 pagi, tetap terjaga dan sama sekali tak memejamkan mata.
Wanita itu beralih mendekati Baekhyun lalu menyentuh keningnya,
Beruntung suhu tubuhnya tak setinggi sebelumnya... ini melegakan untuknya
"Demamnya sudah turun... kau bisa pergi sekarang" Ucap Jaejong dingin, dengan tangan terangkat ke arah pintu yang terbuka lebar
Chanyeol menghela nafas berat, sebenarnya tak rela untuk beranjak... bahkan Ia belum sempat mencuri kecupan di bibir kecil itu. Hingga berakhir dengan hanya memandangi wajah anak itu.
"Bukankah kau akan pergi setelah bertemu dengannya? kau sudah melihat dan menyentuhnya... sekarang tepati janjimu" tekan Jaejong lagi.
Pria itu beranjak enggan. Namun kembali merunduk dan berbisik lirih.. "Aku tak pernah meninggalkanmu" Ujarnya,
Sempat didengar samar oleh jaejong yang memang mengawasinya sedari tadi, walau sesekali wanita itu terlihat menundukkan kepala dengan tangan saling meremas kuat, Yakin... jika keputusannya memisahkan Baekhyun dengan Pria itu adalah yang terbaik untuk Putra kecilnya.
Chanyeol sedikit menegakkan tubuh , melepas genggaman Baekhyun sepelan mungkin lalu membenarkan letak selimut bocah itu... namn niatan yang lain mendadak muncul.
Chanyeol mengibaskan selimut Baekhyun, hingga tergerai menutupi dirinya yang tengah merunduk mendekati wajah anak itu. Satu gerakan cepat, dan...
'Chup'
Ia berhasil mencuri kecupan dari bibir ranum itu,
Setidaknya ini benar-benar menjadi penawar rindu untuknya...
.
.
.
"Aku pergi... hubungi diriku jika—
"J—jangan pernah kembali, jika aku melihatmu lagi... aku akan membawa Baekhyun pergi sejauh mungkin hingga kau benar-benar tak bisa menemukannya" Ancam Jaejong, tanpa menatap Chanyeol.
"..." Pria itu memejamkan mata getir lalu melangkah pelan menuju pintu utam, .tanpa menyisakan jawaban apapun untuk Jaejong yang masih memandangnya muak.
"Aku sangat mencintai Putramu " Gumam Chanyeol sebelum benar-benar menutup rapat pintu apartemen itu.
Tak pelak, membuat Jaejong terbelalak nanar... merasa sangsi namun tetap yakin pada pendiriannya. Pria itu tak bisa menjanjikan bahagia untuk putranya.
Ya! Ia yakin itu..
.
.
.
"Bangun Sayang" Jaejong mulai membuka tirai jendela, membiarkan berkas mentari pagi itu benar-benar menelusup masuk ke dalam.
Membuat Putra kecilnya menggeliat tak nyaman karena silau "Nghh.. " Lalu setelahnya Ia berguling, demi membelakangi cahaya itu
"Lihat.. apa yang Eomma buat pagi ini. Kau pasti menyukainya"
Ia terkekeh pelan, melihat Baekhyun bangkit gterduduk, terlihat menggemaskan dengan surai penuh acak dan mata setengah terbuka.
"E—eomma"
"Hmm?" Gumam Jaejong sambil menyentuh kening Baekhyun, dan tersenyum lebar ... menyadari demam bocah itu benar-benar luruh.
"S-Semalam, Tuan Chanyeol kemari?" Tanyany ragu-ragu
Wanita itu mendadak menghela nafas berat lalu menghentikan usapan tangannya di kepala Baekhyun, seolah tak rela Putranya kembali menyeicara tentang Pria itu Ia beralih bangkit dan mengambil beberapa hidangan untuk Baekhyun, tanpa menatap wajah pias Putranya.
"Biar Eomma menyuapimu sayang"
Baekhyun menggeleng enggan, kembali menatap penuh harap Ibunya. Tapi jangankan mendapat jawaban. Jaejong tetap bersikeras mengabaikan pertanyaan itu dan lebih memilih bicara tentang hal yang lain.
"Hari ini Eomma akan membeli beberapa pakaian untukmu, ada yang Baekhyun inginkan?"
Baekhyun menundukkan kepala, menyamarkan wajah pias itu dari sinar mentari yang mulai menerpa keduanya.
Hingga, Baekhyun kembali menggumam lirih..
"Bisakah aku bertemu dengan Tuan Chanyeol?" Berharap Ibunya bersedia membuka hati kali ini.
"..."
Namun tak ada jawaban, Jaejong tetap berkutat pada santap pagi Baekhyun, seolah menulikan pendengaran dari permintaan anak itu
"E—Eomma...aku ingin melihat Tuan Chan—
"Jangan menyebut nama Pria itu lagi di hadapan Eomma!"
"..." Baekhyun terdiam, meremas kuat selimutnya sendiri dan membiarkan dada itu kembali berdesir sesak.
Wanita itu memejamkan mata getir, sejenak berdecak pelan sebelum akhirnya mendekat dan memberi anak itu pelukan hangat. "Maaf jika Eomma bicara sekeras ini, Eomma hanya ingin kau menyadari Pria itu menyakitimu... lihat apa yang kini terjadi pada—
"T—Tuan tak pernah menyakitku, Tuan selalu menjagaku"
"Cukup Baekhyun!" jaejong menutup wajah dengan sebelah tangannya "Lupakan Pria itu! Eomma akan berjuang untukmu, kita akan memulai hidup yang baru, dan kau bisa bersekolah seperti sebelumnya nak"
"S—Sekolah?"
"Benar.. bukankah kau menginginkannya?" Ujar Jaejong seraya membelai kepala Baekhyun. "Eomma akan berjuang dan membawa Taehyung kembali" Lanjutnya lagi
Baekhyun menatap kebawah dan reflek memegangi perutnya, dengan kondisi seperti ini... bagaimana mungkin Ia melanjutkan sekolahnya. Saat perut itu membesar... Ia mungkin tak mendapat apapun selain cemooh dari siswa yang lain bukan?
Semua akan berbeda, Jika Chanyeol di sisinya...
"Jika janin itu menjadi penghalang untukmu—
Sontak Baekhyun membulatkan mata lebar. "Tidak!" Anak itu lekas beringsut menjauh sembari memeluk perutnya sendiri "Apa maksud Eomma? Aku ingin janin ini! aku akan menjaganya!"
Jaejong menatapnya sendu. Jalan Putra kecilnya masih panjang, bahkan Baekhyun sebenarnya masih memiliki masa depan, tapi mengapa anak itu harus menanggung aib semacam ini.
"Kau tak seharusnya memiliki janin itu... Baekhyun"
Semakin kebas untuknya, Ibunya mungkin tak pernah bermain dengan ucapannya... tapi Ia benar-benar tak bisa, membiarkan Ibunya memaksakan semua kehendak itu padanya.
"Eomma akan memanggil Dokter terbaik untuk berkonsultasi tentang hal ini"
"..."
Baekhyun memilih menyudutkan dirinya di ranjang, apapun yang Ia ucapkan mungkin hanya berbuah percuma. Mengingat.. hati Jaejong mungkin terlalu keras untuk menerina kenyataan tentang dirinya.
.
.
.
"Eomma sudah siapkan makan siangmu , kau hanya perlu menghangatkannya sayang" Bisik wanita itu, seraya mencium lama puncak kepala Baekhyun. "Eomma berangkat bekerja... ne"
Sejenak memandangi bocah yang terbaring membelakanginya, sedikit tak rela meninggalkan Baekhyun seorang diri sementara bocah itu selemah ini. Tapi, Ia tak memiliki pilihan lain selain beranjak dan menutup pintu apartemen itu sepelan mungkin.
.
.
.
Perlahan, Baekhyun mencoba membuka kedua matanya... sedikit sayu begitu anak itu mendesis pening. Namun beruntung Ia masih bisa bangkit terduduk lalu menyandarkan tubuh di kepala ranjang.
Semestinya, Ia tak harus merasa resah seperti ini... Tapi bagaimana Chanyeol memberi sikap di malam itu, kembali membuatnya menghela nafas tak tenang.
Hingga detik ini pun Pria itu tak kunjung datang..
"Ugh!" Baekhyun mendadak terbelalak lebar sambil memegangi bibir, begitu tersedak mual.
"Umpph!" Ia beranjak panik, lalu berlari tertatih merambati dinding demi mencapai toilet.
.
.
.
"Hoekkkk!"
Sementara itu...
PRANKK
Cangkir itu terjatuh begitu saja, membuat pemiliknya berjengit namun tetap berdiri kaku memandangi serpihan keramik di bawahnya.
"Kau baik-baik saja?" Ujar Sehun, yang kala itu memang berada di sisinya. Tak sepenuhnya menerka... tapi Ia merasa presdir muda itu tak fokus sejak pagi ini.
.
.
Chanyeol lekas menyingkir dari tempatnya berdiri, lalu melangkah menuju ruang kerjanya begitu beberapa orang terlihat membersihkan sedikit kekacauan yang Ia buat di hari ini.
"Beberapa proposal, harus anda review hari ini" Seorang wanita melangkah masuk, sembari meletakkan beberapa dokumen di atas meja kerjanya.
Pria itu menghela nafas berat, sebelum akhirnya mengambil salah satu dari proposal itu. sejenak membacanya... lalu tiba-tiba saja—
SRAKK SRAKKK
"OMONG KOSONG MACAM APA INI HAH?!" Teriaknya geram, sambil menyebar semua berkas yang baru saja di robeknya.
Tak pelak membuat sekretaris dan beberapa karyawan di ruangnya, saling berjengit dan menundukkan kepala takut.
Apa yang salah... Meski tau, Chanyeol pribadi yang keras. tapi mereka tak pernah melihat Pria itu semarah ini sebelumnya.
"Kalian ... keluarlah" Sehun mencoba mengambil situasi, dan mempersilakan beberapa karyawan itu untuk lekas keluar dari ruang Chanyeol.
.
.
"Yeol.." Panggil Sehun seraya berjalan mendekati Pria, yang masih menautkan jemari di depan dahinya, bahkabn Dia terlihat bernafas terengah.
"Kau membawa masalah pribadimu dalam pekerjaan" Gumam Sehun setelahnya, membuat Chanyeol beralih mendelik tajam padanya.
"Aku tau.. ini tentang Baekhyun"
"Tinggalkan ruang ini" Desis Chanyeol, merasa terusik.
Sehun tak semerta, mematuhi perintah itu. Tetap bersandar di meja, bahkan ingin memulai pembicaraan yang lain.
"Kau bisa mengarahkan semua orang milikmu, untuk membawanya pulang bukan?"
Chanyeol Kembali menatap Sehun sesaat kemudian menggeleng pelan, seolah mengisyaratkan dirinya tak bisa melakukannya begitu saja. "Kau tak mengerti apapun." Gumamnya kemudian.
Sehun berdehem, memang benar ia tak mengerti apapun...tapi jika mengingat semua yang dikatakan Luhan, setidaknya ia tau apa yang menghambat Chanyeol memaksakan sikap angkuhnya
"Aku tau kau mencemaskannya, tapi Jika itu karena Ibunya... aku bisa meminta Kyungsoo untuk memastikan kondisi Baekhyun" Tawar Sehun, sedikit mengangkat sebelah alisnya
"Kyungsoo?"
"Ya... Adik kecilku, anak itu juga teman sekolah Baekhyun. Ku rasa wanita itu akan mengizinkannya menemui Baekhyun"
Chanyeol terdiam, cara semacam itu terlalu kekanakan... ah! bahkan sama sekali tak memberinya untung untuk menemui bocah manis itu.
Tapi setidaknya... Ia ingin tau, kondisi Baekhyun paska... anak itu demam tinggi semalam.
"Hn..." Gumamnya sembari menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, dan memejamkan mata.
Sehun hanya mengulas senyum tipis, lalu melangkah pergi memberi sekat bagi presdir muda itu untuk menyamarkan rasa penatnya.
.
.
"Kembalikan anak itu padaku"
Sehun terhenyak mendengar gumaman lirih itu, ia tau Pria itu memang tak sedang berbicara pada siapapun tapi lebih pada dirinya sendiri. Nyatakah ini?
Pria yang dikenal angkuh bahkan berhati dingin itu, bisa meras terpuruk seperti ini?
'Baekhyun kelemahannya' .. mungkin benar seperti itu
.
.
.
.
,
"Benarkah ini apartemennya?" Gumam seorang bocah kala mengamati lekat-lekat bangunan yang menjulang tinggi di hadapannya, sesekali ia melirik mobil di sampingnya dan menggerutu kesal begitu melihat Sehun melempar senyuman lebar untuknya.
"Cepat masuk!" Titah Sehun kemudian, membuat bocah itu menekuk wajah ... terlebih melihat seorang Pria berwajah stoic yang memegang kemudi di samping Sehun, makin membuatnya menggerutu. ah! sungguh... dirinya melakukan semua ini demi Chanyeol! tapi Pria itu tak sedikitpun menujukkan sikap baik padanya.
'Ahjjussi itu tak pernah tersenyum! Ahjjussi itu seperti buronan' Batin Kyungsoo, masih melirik Chanyeol tak suka
"Tunggu apa lagi? cepat masuk dan temui Baekhyun!" Seru Sehun, sambil mendorong tubuh kecil itu
"Aisshh Hyung! Kau—
Kyungsoo terhenyak begitu melihat siluet seorang wanita berjalan memasuki apartemen itu, tentu saja ia tau siapa Wanita itu, cepat-cepat bocah itu berlari dan mengekor di belakang Jaejong.
.
.
.
Ia terkikik kecil melihat Jaejong berhenti di sebuah pintu... berjalan mengendap lalu berdiri manis di samping Wanita itu. Sontak Jaejong memekik terkejut melihatnya seorang bocah muncul tanpa suara
"ASTAGA! Siapa kau?" Jaejong nyaris terlonjak, namun buah dalam paper bagnya terlanjur berjatuhan di lantai.
Kyungsoo hanya tertawa kecil, merunduk demi memngut satu persatu buah tersebut. "Bibi, perkenalkan Oh Kyungsoo... teman sekolah Baekhyun" Salam Kyungsoo seraya membungkukkan tubuh dengan beberapa buah dalam dekapannya.
"Teman Baekhyun? bagaimana bisa kau tau tempat ini" Tanya Jaejong curiga
"O...i—itu, aku mengikuti Bibi, saat melewati ujung jalan itu" Kyungsoo menunjuk asal, jalanan di luar
Jaejong menatapnya lekat, tapi setelahnya menghela nafas pelan .. jika dilihat dari wajahnyapun. Kyungsoo sepertinya hanya seorang bocah seusia Baekhyun. "Hhh... seharusnya kau tak bermain-main di luar selarut ini, masuklah" Ujar Jaejong begitu membuka pintu apartemannya, sesekali ia tersenyum lembut sembari mengacak surai hitam Kyungsoo.
.
.
.
sesaat Ia melangkah masuk, bocah itu mulai mengedarkan pandangan ke sudut ruangan di hadapannya, meski tak terlalu luas tapi sungguh itu sangatlah hangat dan nyaman.
Tapi di mana Baekhyun?
"Baekhyun, temanmu datang sayang"
Ah!tepat sekali, wanita itu begitu tanggap menangkap raut ingin taunya, tapi masih saja, tak ada tanda-tanda Baekhyun di sekitarnya.
"Baekhyun? apa kau sedang mandi nak?" Seru Jaejong lagi.
Kyungsoo beralih berjalan mendekati ranjang di seberang lalu mendudukinya, menunggu Wanita cantik itu mencari putranya, merasa bosan... Bocah itu menghempas tubuh untuk berguling-guling ke kanan dan ke kiri, hingga cover bed itu benar-benar kusut
"Baekhyun!"
Namun tiba-tiba saja Kyungsoo menjerit histeris, begitu ia melihat Baekhyun tergeletak di sisi bawah ranjang tersebut. cepat-cepat ia merangkak dan melompat turun demi merengkuh tubuh lemas itu.
"A—apa yang terjadi?" Jaejong berlari kalut, begitu mendengar jeritan Kyungsoo. Bahkan semakin histeris melihat buah hatinya terpejam dengan darah segar mengalir dari hidungnya. menyesal Ia meninggalkannya seorang diri.
"B—Baekhyun? Bangun Na—
Ia kembali terperanjat hebat, begitu menyentuh pipi Baekhyun dan suhu tubuh anak itu sangatlah tinggi. "Baekhyun!"
"Bibi apa yang terjadi padanya?" Seru Kyungsoo panik namun Wanita itu tak sedikitpun menjawab bahkan menoleh padanya pun tidak. tetap mengguncang tubuh Baekhyun, berharap namja kecil itu lekas terbangun
Kyungsoo memilih beranjak bangkit lalu mendobrak paksa jendela apartemen tersebut hingga engselnya nyaris terlepas. Satu tarikan nafas panjang...
"CHANYEEOOOOLLLLL!" Teriaknya tiba-tiba. Wanita yang masih mendekap Putranya itu pun menoleh dan menatap geram padanya.
"Siapa yang kau panggil!" Bentak Jaejong tak terima.
Seolah tak peduli, Kyungsoo semakin berjinjit... dan kembali berteriak sekeras mungkin ...membuat beberapa penghuni di sekitarnya tampak menyalakan lampu apartemen, karena sungguh teriakkan memekakkan itu benar-benar mengusik siapapun
"SEHUN HYUUUUUNG! CHANYEOOOLLL AHJUSSIII!" Teriaknya lagi, sembari melemparkan sepatunya ke bawah...berharap besar dua pria yang masih menunggunya di tepi jalan itu mendengar jeritannya.
"Kau bagian dari orang itu?! Tidak! Kalian ingin melakukan hal buruk pada Putraku!"
"Bibi! aku sedang mencari bantuan!"
"Baekhyun baik-baik saja sebelum bertemu dengan kalian! Aku yang akan menjaganya! Jangan mendekati Putraku lagi! Hiks"
"Apa yang Bibi bicarakan sebenarnya?! Aishh mengapa Baekhyun mimisan sebanyak itu?"
.
.
"Ya Tuhan! mengapa sepanas ini? bantu aku...tolong, selamatkan Putraku!" Jerit Jaejong kalap, demam Baekhyun semakin parah terlebih darah yang mengalir dari hidungnya pun tak kunjung mereda. . "Hiks...tolong aku" Lirihnya pasrah
BRAAAKKKK
Lalu tiba-tiba saja pintu utama di dobrak kasar, seiring dengannya seorang Pria berlari ke dalam, lalu memaksa mengambil alih tubuh Baekhyun dari rengkuhannya.
Jaejong tak banyak melawan kala itu, pasrah... melihat Chanyeol mengangkat bridal putranya laly membawanya berlari keluar menuju sebuah audi di bawah sana.
.
.
"Hks!" lagi, Ia kembali terisak... menambah serakkan tisu di bawah kursi tunggu rumah sakit itu, hanya untuk menyeka air mata. Jika saja, ia tak meninggalkan anak itu seorang diri... mungkin yang terjadi tidak akan sefatal ini.
Chanyeol mendekat, lalu mencoba memberinya rengkuhan hangat "Tenanglah.." Bisiknya sambil sedikit meremas lengan wanita itu
"Seharusnya aku tak meninggalkannya seorang diri" Isak Jaejong
"Dia akan baik-baik saja" Tenang Chanyeol lagi, dan wanita itu semakin tergugu dalam tangisnya, menyesali... mengapa Putranya harus menderita seperti ini.
"Tubuhnya terlalu ringkih, bagaimana mungkin anak itu bisa bertahan dengan kondisi seperti ini" Racau Jaejong lagi, tak peduli seberapa kacau Ia menangis. Ia hanya menyesali... betapa miris hidup putra kecilnya saat ini.
Hingga... Ia mendadak terdiam, begitu sebuah tangan menggenggam tangannya erat.
"Tak masalah jika hingga saat ini kau membenciku, tapi kumohon izinkan aku menjaga Putramu"
"..." Jaejong membulatkan mata lebar
"Apa yang kulakukan mungkin tak bisa kau maafkan, tapi percayalah... " Chanyeol menatap lekat kedua mata wanita itu. "Aku benar-benar mencintai Putramu, Aku ayah dari janin yang dikandungnya... Kumohon beri kesempatan"
CKLEK
Lalu pintu itu yang sedari tadi di nanti itu terbuka, menjeda pengakuan Chanyeol dan membuat perhatian Jaejong teralih pada seorang ppemuda lengkap dengan pakaian medisnya,
Dokter muda itu tersenyum ramah begitu melihat Chanyeol dan seorang Wanita di sisinya tampak berjalan panik mendekatinya.
"Akan ku jelaskan nanti, temuilah Baekhyun terlebih dahulu... tapi untuk saat ini, kumohon jaga emosinya"
"P-putraku baik-baik saja bukan?"
Chanyeol hanya melirik wanita itu, tak ragu merengkuh pundaknya lalu membimbingnya masuk kedalam
.
.
.
"Baekhyun.." Panggil Jaejong lirih, mencoba menggenggam jemari kecilnya... dan bisa Ia rasakan betapa dingin tangan anak itu.
Bocah itu terlihat mengernyit, tapi tetap memaksa membuka kedua matanya dan tersenyum tipis melihat Ibunya, ingin merengkuhnya tapi sepertinya tak bisa.
Hingga pandangan anak itu tersita pada sosok pria di belakang Jaejong,
Ia membulatkan mata lebar, tak berharap dirinya sekedar bermimpi saat ini.
kedua tangannya memaksa menumpu tubuh untuk bangkit, mengabaikan ngilu saat jarum infus itu semakin menusuk tangannya. "T-Tuan.." Panggilnya, berusaha payah untuk bangkit...
Jika saja Ia bisa berlari dan meraih tubuh kokoh itu. "Tuan.." Baekhyun terus memanggil, tak ingin Pria itu tiba-tiba menghilang dan meninggalkannya begitu saja.
"Tuan ku moho—
GREBB
Tubuhnya yang lemas, ditarik begitu saja. Baekhyun sempat membulatkan mata lebar... namun aroma tubuh dan bagaimana hangat pelukan itu, membuatnya memejamkan mata, dan memaksa merangkul leher Pria itu seerat mungkin.
"Kumohon jangan pergi" Lirihnya, sambil menggeleng kasar. "Ja—ngan pergi"
"Tidak..." Bisik Chanyeol, seraya membelai kepala Baekhyun. "Aku sama sekali tak pernah meninggalkanmu" Pria itu mencoba menjauhkan wajah baekhyun, menatapnya begitu lekat... Hingga Ia bisa melihat betapa pias tatapan bocah itu.
Sakahkah jika Ia menginginkannya saat ini?
Raut memohon itu... sebenarnya terlalu mengacaukan pikirannya, reflek untuknya mendekatkan wajah.. lalu semua mengalir begitu saja.
Menyesap lembut, bibir yang basah karena air mata. Samar memang masih ia dengar... Baekhyun terisak lirih.
Meyakinkan dirinya untuk memagut bibir kecil itu lebih dalam lagi. Tak peduli... jaejong dan seorang dokter masih bertahan di ruangan itu.
"Mmh~"
.
.
.
Semestinya Ia kembali menyentak murka..
Tapi entahlah, nalurinya mulai memberinya bisikan yang lain.
Ia tak pernah melihat Baekhyun tersenyum semanis ini sebelumnya, tidak dengan semua hal yang telah anak itu lalui saat hidup dengannya.
Masih Ia ingat, bagaimana Yoochun kala itu menyiksa anak itu tanpa iba, dan dirinya yang payah... tak bisa melakukan apapun selain menangis.
Wanita itu memilih membawa langkahnya pergi, tak mengucap sepatah katapun selain senyuman untuk Pria yang masih memeluk Putranya di sana.
.
.
Sesekali terlihat, ia menyeka sudut matanya. "Maafkan Eomma nak..." Lirihnya, masih terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit itu. Hingga—
"Maaf, kau ingin pergi kemana?"
Seseorang tiba-tiba menarik tangannya, membuatnya reflek memutar tubuh... dan terhenyak begitu melihat Pria itu menahannya.
"A—aku sebaiknya kembali, karena—
"Baekhyun membutuhkanmu, dan kau tau itu" Sergah Chanyeol, seraya menatap lekat kedua mata wanita itu. "Kumohon ... Jika kau mengizinkanku memiliki Putramu, tinggalah bersamaku dan Baekhyun"
Jaejong terdiam, sadari ... sebagian naluri kembali tersentuh, mendengar Pemuda itu bicara demikian.
Sempat Ia berpikir, Chanyeol mungkin bukan seorang Pria yang bisa menjanjikan apapun selain uang, tapi melihatnya segigih ini, tentu membuatnya bisa melihat kesungguhan itu
.
.
"Setidaknya aku benar-benar melihat, Kau bisa menjaga Baekhyun. Aku masih memiliki seorang Putra yang menungguku, dan—
"Bukankah kau ingin mengambil hak asuh itu?"
DEG
Wanita itu kembali terhenyak, "B-Bagaimana bisa kau tau tentang ini?"
"Aku mengenalmu, dan aku mengerti semua tentangmu. Kau tak harus melakukan apapun, Putra keduamu, kupastikan jatuh dalam hak asuhmu"
"..."
.
.
Beberapa Minggu berselang, Jaejong tak pernah menduga, bias mentari dan bunga yang bermekaran di halaman itu akan terlihat seindah ini. Terlalu mempesona... hingga membuat satu senyum darinya terulas hanyat
"AAAAA—!"
Tapi, Paginya yang tenang kala itu mendadak rusuh, begitu Taehyung menjerit dan menangis keras.
"Taehyu—Astaga Baekhyun! apa yang kau lakukan pada adikkmu?" cepat-cepat jaejong berjalan mendekati keduanya, dan berdecak melihat Baekhyun kembali menggoda Taehyung.
"Aku tak melakukan apapun" Baekhyun melenggang santai, sambil menyesap lolipop di tangannya, tak peduli seorang bocah berusia 3 tahun itu masih menjerit memekakkan karena ulahnya.
Hingga tiba-tiba saja Taehyung berlari mengejarnya, lalu melompat-lompat demi memukul buttnya
"YACK! Mengapa memukulku?!" Pekik Baekhyun kesal, sambil memutar tubuh dan menahan kepala Taehyung.
"Pelmen Mphi! PELMEEENNN!" Taehyung balas menjerit.
Baekhyun menyeringai, mengayunkan lollipop itu di depan Taehyung lalu menjilatnya "ini milikku" ucapnya kemudian
"AAAAHHHHHH!" Tak pelak membuat Taehyung menghentak kaki kesal, bahkan mulai berguling-guling di lantai.
Sementaea wanita di seberang keduanya, hanya menggelengkan kepala pasrah.
Tapi sungguh ia bahagia dengan semua itu, Chanyeol benar-benar memenuhi janjinya, entah apa yang dilakukan pemuda itu hingga dapat membuat Yoochun bertekuk lutut bahkan hak asuh taehyung benar-benar jatuh padanya dengan mudahnya
"Aku pulang"
Taehyung berjengit, Baby itu tau benar siapa yang datang. Ia bangkit berdiri lalu berlari cepat menuju ruang tamu.
"Baek—
HUPP
Pria itu berjengit, begitu sesuatu tiba-tiba memeluk kakinya dan menggelayut erat di bawah sana.
"Taehyung?" Gumamnya heran, Ia merunduk lalu mengangkat tubuh gempal itu dengan mudahnya.
"Pelmen Mphiii.." Rengek anak itu sambil menunjuk seorang namja kecil, yang tengah bersandar di sofa dengan sebelah kaki terangkat.
"Baekhyun mengambil permenmu lagi?" Lugas chanyeol,
Taehyung mengangguk cepat, seakan menjadi kebiasaan untuknya... tak bisa melawan baekhyun, tapi Ia lihai dengan cara seperti ini, membujuk Chanyeol lalu semua akan terbalas.
Dan benar saja... Pria itu benar-benar membawanya melangkah mendekati perebut permen itu.
"Kau senang sekali menggodanya" Chanyeol beralih mendudukkan diri di sisi Baekhyun, tentunya dengan merengkuh Taehyung di atas pangkuannya.
"..." Bocah itu hanya melirik sinis taehyung, lalu kembali menyesap Lollipopnya.
"Itu milik Taehyung bukan? kembalikan padanya" Bujuk Chanyeol setelahnya
"..." Baekhyun tak menjawab, lalu lebih memilih memutar tubuh membelakangi Pria itu.
"Aku bisa membelikan banyak yang seperti itu untukmu, kembalikan pada—
"Ugh!" Baekhyun mendadak bangkit berdiri, lalu menyerahkan lolopop itu dengan kesal. Sejenak menatap tajam Taehyung di atas pangkuan Chanyeol, sebelum akhirnya berjalan menghentak menapakki anak tangga.
"Baekhyun perhatikan langkahmu! Yya!" Terdengar... Jaejong mulai berteriak panik, melihat Putranya kembali bersikap sesuka hati. "Jangan berlari seperti itu! perutmu bisa- yack!"
.
.
.
"Baekhyun di dalam?" Chanyeol melangkah mendekati Jaejong, lalu menyerahkan taehyung yang kala itu terlelap di pundaknya.
"Anak itu mengunci pintunya dari dalam. Maaf... Jika Baekhyun semakin bersikap kekanakan seperti ini"
Chanyeol mengernyit, tapi setelahnya terkekeh pelan. "Tak masalah.." Ujarnya, sambil mengeluarkan kunci cadangan kamarnya. Baekhyun yang mendadak bersikap kekanakan karena kandungannya, itu benar-benar menggoda untuknya.
.
.
CKLEK
Pintu kamar terbuka...
Baekhyun hanya merasa kesal mendengarnya, lalu memilih membungkus tubuh dengan selimut tebal miliknya.
"Tsk..." Chanyeol berdecak sambil menyeringai, sesaat mengamati bocah yang masih bergelung di bawah selimut itu, sebelum akhirnya mendekat... dan memerangkap tubuh kecil itu, dengan kedua lengannya.
"Kau yakin.. ingin bersembunyi dariku?" Bisik Chanyeol
"..."
"Keluarlah... atau aku memaksamu"
"..."
"Baiklah... aku memang lebih suka dirimu yang melawan seperti ini" Chanyeol mendadak bangkit..
Lalu, memaksa mengangkat tubuh Baekhyun yang masih terlilit di dalam selimut tebal itu.
"A—ahhh!" tak pelak, membuat bocah itu memekik panik.
.
.
Berulang kali meronta, hingga mungkin selimut tebal itu mulai merosot turun memperlihatkan setengah dari tubuhnya.
dan disanalah Baekhyun sadari, dirinya berada dalam gendongan bridal Pria itu.
"Ah... aku melihatmu" Kekeh Chanyeol sedikit menggoda, dan Baekhyun hanya memalingkan wajah tak suka.
.
.
"Marah hn?" Gumam Chanyeol begitu mendudukkaan Baekhyun di atas meja.
"..." Bocah itu hanya menundukkan kepala sambil meremas jemarinya sendiri.
Chupp
Membuat Pria itu tergoda, mencuri satu kecupan dari bibir pouty miliknya.
"Semakin kau menunjukkan wajah seperti ini..." Chanyeol mulai menjilat pipi Baekhyun. "Semakin aku tergoda untuk memakanmu.." Lalu beralih merunduk, demi merengkuh perut Baekhyun.
"A—Ah! T-tuan.." Baekhyun terbelalak panik, tak bisa melawan,,, begitu pria itu menyibak kemejanya, memperelihatkan perut yang sebenarnya mulai sedikit membuncit.
Satu jilatah pelan di atas pusarnya... Membuat Baekhyun menggigil, bahkan begitu resah meremas surai hitam Chanyeol. "Unnhhh.."
"Hari ini, kau memang sengaja menggodaku bukan?" Kekeh Chanyeol, kembali melumuri perut itu dengan lidah basahnya
Baekhyun menggeleng menahan lenguh, sembari terpejam... Ia mencoba mengatur nafas pendeknya. tapi mendadak kedua mata itu membulat lebar... begitu Chanyeol menarik turun celananya, hingga Ia setengah telanjang.
"AH!"
Terlambat untuknya...
Pria itu terlanjur mengangkat kedua kakinya ke atas, bahkan membukanya berlawanan arah...
Baekhyun tak bisa menerka... apa yang terjadi selanjutnya.
Matanya terpejam, dan ia hanya sadari jantunganya berdegup kencang... begitu lidah itu mencumbu rakus analnya di bawah sana.
"Ahn! Aaahh... T-Tuanhh ... ghhh"
.
.
.
Nafasnya memburu...
Baekhyun terkulai lemas, ... bahkan kedua kaki yan terbuka lebar di atas meja itu benar-benar tak bisa sedikitpun Ia gerakkan.
"Kau masih saja memanggilku seperti itu hn" Chanyeol, menekan dagu Baekhyun... menjilat pelan bibir terbuka karena terengah itu, sebelum akhirnya menyusupkan lidahnya ke dalam.
menikmati... begaimana panas saliva bocah itu bertaut intim dengannya.
"Mhanghh~.. ahhmm"
.
.
"NNHHH!" Baekhyun mengerang panik, begitu merasakan penis itu mulai mencari-cari celah untuk menyeruak masuk.
"Tak masalah jika aku memasukimu kali ini?" Bisik Chanyeol setengah mendesah
baekhyun menggeleng. Lalu meremas kedua lengan yang kini memerangkap dirinya.. "B—baby di dalam—
"Ayahnya ingin menyapanya" Desah Chanyeol, sebelum akhirnya... mendorong kuat penis besar itu dalam sekali hentak.
"A—AAAHHHH!"
.
.
.
.
"Ngh! AAH!... P—punggungku AHHN!" Tubuhnya beberapa kali di hentak, tapi kedua lengan itu tetap mencoba menahan pinggul Chanyeol, memaksa Pria itu sejenak memberi jeda
Pria itu memang menghentikan sentakkan miliknya, namun tak semerta menariknya keluar.
Terlihat... Chanyeol mulai mengangkat tubuh mungil itu, membuat Baekhyun berulang kali memekik panik, dengan genital yang masih mendesak penuh di dalam sana.
Lalu terakhir..
Ia hanya tau tubuhnya dibaringkan di ranjang, dan Ia kembali menjerit binal di bawah hentakkan Pria itu.
"Aaahh! Ackkhh!... AHH!"
.
.
"Saranghae.." Satu bisikkan Chanyeol yang terdengar, sebelum pandangannya memutiih... dan Ia menggila dalam klimaksnya
"AAAHHHNNN! aah~..."
.
.
"Buka matamu..."
Baekhyun hanya melenguh malas, tetap terpejam... meski berulang kali Pria itu mencoba membujuknya untuk terbangun.
Lalu kecupan-kecupan kecil di sekitar perutnya... membuatnya mengerjap dan tersenyum melihat Chanyeol terlihat gemas menciumi bagian itu.
"Hen—tikan" Rengeknya, sambil membelai surai pria itu.
Tapi Baekhyun merasa ada yang berbeda..
Begitu Ia sadari, sesuatu seperti berkilau di antara jemari yang kini Ia gunakan untuk membelai Chanyeol.
Ia mengerjap berulang kali, semakin nyata kala bias mentari pagi perlahan menerpa keduanya.
"Ah!" Bocah itu berjengit, mendudukkan diri... menatap tanpa kedip, sesuatu yang melingkar di antara jari manisnya.
"T—Tuan ini—
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, bahkan hingga Pria itu meraih jemarinya untuk dikecup lama, Ia masih terdiam dengan bibir digigit olehnya sendiri
"Menikahlah..." Chanyeol mencium pelan bibir tipis itu, hingga gigitannya terlepas. "Denganku..." Lanjutnya lagi, seraya menyingkirkan beberapa helai rambut yang menjuntai di pipi Baekhyun.
.
.
.
.
.
.
.
.
TebeCheeee
,
,
,
Next Chap
"A-ahh! Perutku!" Namja manis itu mendadak memegangi perut besarnya.
Membuat Pria itu terbelalak panik, tak ada siapapun selain dirinya di dalam lift ini. "W-Wae?"
"AH! CHAN-YEOL!" Ia bahkan mulai meremas lengannya. Dan merunduk memeluk perutnya
Cepat-cepat pria itu meraih ponselnya, lalu-
"BOS!" Pekiknya panik, begitu berhasi tersambung dalam panggilan itu. Sementara Baekhyun masih mencengkeram lengannya
"BOS Aku harus bagaimanaaa?!"
("Apa?!")
"i-istrimu-
("Baekhyun?! YACK! BERANI KAU MENYENTUHNYA!")
.
.
.
.
Yooo! akhirnya gua kelar ngetik chapter ini
Gimana sudah berasa Mpreg belom? hahahahah mampus gua...
Review Okay...
kaga review... ff macet hahha
.
.
IG: Gloomy_Rosemary
,
neniFanadicky, chanbaek92, LHR Official Couple Shipper, restikadena90 , buny puppy, byunnami, Marshsamallow614 , khakikira , ctbisreal, RurohFujoCbHs, hulas99, fintowikson, Lussia Archery , kimkad , YaharS , Aisyah1, LyWoo, Byun soo byung, Yana Sehunn, baekkachu09 , Poppy20 , baekxylem , selepy , byunnami , Lusianabaconcy0461, bbhunyue, chanbaekis , mawar biru, love Elan , thevEXO, WinterJun09, tkxcxmrhmh , mii-chan07 , vryeol , Dodio347, baekby aeri04 , ChanBaekGAY , EyiLy , metroxylon, Fiyaa04, baby baek , Deliscius, Wahidah Putri Utami , chalienBee04, xiluhan74 , cbforever00, Yeolliebee , PinkuBlue614 , rimaa , kimi2266, YaharS , baekchann18, Avisyell756 , AuliyaRchy , byunlovely, ruukochan137, veraparkhyun , park chan2 , baeeki6104, chanbaek1597, byunlovely , bbhunyue, kkaiii, Hyo luv ChanBaek, Siapa Hayo, myliveyou, LightPhoenix614, Chanbaeknaena, Asandra735 , tyas 614, AnggunBBH06, AmyGAHF, Merina, dwi yuliantipcy , Shengmin137, kitukie, shereen park, yiamff , jempolnya pcy , Hyera832, Riinnchan, Ricon65 , BambiLuhan , Byunexo, SMLming , babyyh , chayeonlee , Sitachaan, Ziiwandha, hananachan, bbyLyi , hosh10 , hunhanshin, Loey761,dan all Guest
Thankyou :)
Review again and again... and love me
