Main Cast : ChanBaek!

Other Cast : Exo, Jaejong

Disclaimer: Punya GLOOMY ROSEMARY & Cupid

.

.

.

.

Previous Chapter

"Dengarkan aku.." Chanyeol berusaha menarik lengan ramping itu. "Tak seharusnya kau berbuat seperti itu padanya, karena Dia—

"Kau membela wanita itu?!" Baekhyun menunjuk Lissa

"Baek... dengar, ini—

"WAE?! APA KAU PIKIR AKU BISA MENERIMANYA?!"

.

.

.

.

Chapter 11


Silent Regrets

YAOI

Rate M

Gloomy Rosemary


Pagi itu...

Seharusnya menjadi pagi yang tenang untuk pemuka perusahaan seperti dirinya, mengawali cuti panjang demi seorang yang kini tengah berbadan dua. Ah ya... jauh hari Ia mempersiapkan segalanya.

Tapi..

Pagi yang Ia harapkan itu.. mendadak kacau begitu jeritan memekakkan terdengar riuh. Bahkan semakin lama semakin menjadi-jadi.

"PERGIII!"

Chanyeol yang masih memejamkan mata, tampak mengernyit begitu mendengar jeritan tenor itu , Ia tau benar itu suara Baekhyun. Ah mungjkin saja namja mungilnya tengah bertengkar dengan Taehyung. Ya... mereka kerap membuat onar.

Lalu—

"A—AAAA! LEPASKAN RAMBUTKU BODOH!"

Suara perempuan...

Tak pelak membuat kedua obsidian itu terbelalak lebar.

Ia benar-benar mendengar suara perempuan di sini, bukan milik Jaejong bukan pula milik pelayannya.

Ia lekas bangkit terduduk, mencoba menerka seraya mengembalikan nyawanya selepas tidur.

"Aissh!" Decaknya, begitu Ia mengingat sesuatu.

"Mungkinkah Lissa?" Gumamnya sambil melompat dari ranjang, dan berlari secepat mungkin menuju pintu utama .

.

.

Dan benar saja...

"B—Baekk!" gagapnya begitu mencapai tangga, dan melihat Baekhyun telah menyeret keluar seorang perempuan bertubuh tinggi.

Cepat-cepat Ia berlari mendekat, sebelum Baekhyun berbuat fatal..

Bukan karena Ia mencemaskan Lissa...

Tapi Ia takut, jika wanita itu berbalik menyerang Baekhyun.

Siapapun yang melihat tentu tau, Baekhyun dan Lissa nyaris memiliki tinggi yang sama. Akan menjadi cerita lain, jika Lissa yang tak tau kondisi Baekhyun itu mendorongnya begitu saja.

"Baekhyun!" Ia menarik lengan namja kecil itu.

"Apa yang kau lakukan?!" Tegasnya lagi, berusaha melepaskan cengkeraman Baekhyun di rambut Lissa.

Tapi rupanya Baekhyun terlalu kesal, bahkan tak peduli dengan kehadirannya kali ini. Bersikeras tetap memaksa Lissa untuk meninggalkan ruang itu.

"Y-Yya! Lepaskan Dia!" Chanyeol kembali memaksa memeluk tubuh mungil itu

Dengan tangis yang nyaris pecah itu, Baekhyun menatapnya kesal. "Kau membentakku?!" Baekhyun menatap kecewa. Dan menghempas genggaman tangan Chanyeol.

Sikap yang kontras itu tentu membuat Chanyeol berjengit terkejut... Baru kali ini Ia melihat Baekhyun bicara seperti ini padanya.

"Karena kau menyakitinya" Bisik Chanyeol sambil menggenggam sebelah tangan Baekhyun yang masih menarik rambut Lissa, beruntung wanita itu tak melawan, dan berusaha melepaskan dirinya sendiri.

"A-Apa?" Baekhyun menatapnya tak percaya. "kau membelanya?! Kau memilih wanita ini dibandingkan diriku?!"

"AISSHH! Bisakah kau melepas tangan bocah ini dari kepalaku?!" Teriak Lissa frustasi, bahkan berulang kali pula Ia berusaha meraih Chanyeol untuk membantunya.

Tapi semakin lama... tarikan Baekhyun semakin menyiksa.

Merasa tak sanggup, Lissa memilih mengangkat kedua tangannya bersiap mendorong bahu Baekhyun.

Membuat Chanyeol beralih mendekap paksa tubuh Baekhyun, hingga cengkeraman tangan bocah itu terlepas.

"Baek—

"Aku mengandung anakkmu.." Namja mungil itu masih menatap kecewa sambil berjalan ke belakang.

Sementara Lissa di seberangnya, memilih mengabaikan keduanya lalu mengambil Koper yang sebelumnya dibuang oleh Baekhyun. Menyeretnya dengan tertatih, untuk dibawanya ke dalam.

"Ouch Shit! Ini gila..." Gumam Lissa, memutar mata jengah sambil merapikan rambutnya yang acak-acakkan.

"dengarkan aku..." Chanyeol berusaha menarik lengan ramping itu. "Tak seharusnya kau berbuat seperti itu padanya, karena Dia—

"Kau membela wanita itu?!" Baekhyun menunjuk Lissa

Chanyeol kebas. "Baek dengar... ini—

"WAE?! APA KAU PIKIR AKU BISA MENERIMANYA?!" Jerit Baekhyun tiba-tiba, membuat Pria itu stagnan... dan hanya bisa menatapnya dengan mata tak berkedip. Masih tak percaya jika itu Baekhyun yang bicara.

.

.

.

Nyaris 15 menit terlewat selepas Chanyeol melompat keluar dari ranjangnya...

Tapi rasanya suasana semakin genting untuknya... semenjak Ia melihat bocah lugu itu bisa semarah ini.

Meski nyatanya, amarah Baekhyun membuat penampilannya terlalu menggemaskan dengan piyama besar yang merosot memperlihatkan sebelah pundaknya.

Ah lihat Dia...

Tangan terkepal di kedua sisi tubuhnya.. bocah itu berusaha menunjukkan betapa marah dirinya kali ini.

Tak ingin mendengar apapun, selain berkilah.. dirinya lah yang paling benar di sini,

Baekhyun masih memandang kesal Pria tinggi di depannya.. sebelum akhirnya memutar tubuh untuk menghentak kaki menuju sofa. Lalu—

Ia duduk di lantai, dan menjadikan sofa sebagai sandaran untuknya menangis sambil memukul-mukul sofa.

Sebenarnya Baekhyun bisa menduduki sofa itu selayaknya fungsinya..

Tapi entahlah, mungkin hati yang kacau kala itu... membuatnya yakin sikapnya kali ini adalah satu-satunya cara untuk ditunjukkannya pada Chanyeol. Jika hatinya benar-benar remuk. Pikir Baekhyun.

"Wanita itu—

Baekhyun beralih posisi menyandarkan kepalanya ke kanan. Hingga membuat Chanyeol bisa melihat air mata yang berlinang di pipinya

"Kau memilih wanita itu TUAAANNNN!" Kembali Ia berteriak, dengan tangan tak pernah berhenti mengucek kedua mata sembabnya.

Sementara Chanyeol yang melihat, hanya menghela nafas berat, sesuatu yang aneh mungkin saja terjadi hingga membuat namja kecilnya mendadak besikap sedemikian sensitif dan childish. Ia mengenal Baekhyun lebih dari siapapun, anak itu terkadang pendiam, pemalu bahkan terlalu pasif atas apapun. Tapi seiring dengan membesarnya perut Baekhyun , perlahan Ia mulai sadari... Baekhyun rupanya turut berubah.

Sejenak menatap Lissa berharap bantuan mungkin datang dari perempuan itu, tapi yang terlihat Lissa masih disibukkan menyisir helai rambutnya, memilahnya dengan hati-hati.

Karena bekas cengkeraman Baekhyun rupanya meninggalkan banyak simpul kusut, dan itu luar biasa sakit untuk diurai.

"Mengapa kau seperti ini?" Chanyeol memilih mendekat untuk menyentuh kedua bahu Baekhyun, sesaat mengecup pipinya sekilas... mencari peluang untuk meluruhkan hati anak itu.

"Ugh!" Tapi Baekhyun menepis tangannya dan memilih kembali menyembunyikan wajah di antara lipatan kedua lengannya.

"Setidaknya dengarkan aku.." Bisik Pria itu sambil membelai kepala Baekhyun. "Kau tau aku belum selesai bicara.." Lanjutnya kali ini berusaha meraih tangan Baekhyun.

"Kau memiliki hubungan dengannya?!" tiba-tiba Baekhyun mengangkat kepala, lalu menunjuk Lissa.

Membuat wanita itu memandang keduanya dengan mata membulat lebar.

"inikah yang kau pikirkan sedari tadi?" Chanyeol mulai menangkup wajah Baekhyun, membelainya pelan bahkan jika sampai... betapa ingin dikecupnya bibir mungil itu.

"Jawab!"

Tapi... jangankan mendekat, Ia kembali dibuat berdebar dengan pekikkan kesal namja kecil itu.

"Aku dan Lissa sebenarnya—

"Dia hamil?" Baekhyun kembali menujuk Lissa tanpa mengalihkan tatapannya dari Chanyeol.

"Ha—Hamil?" Gagap Chanyeol, terlihat Shock dengan tuduhan Baekhyun.

"Aku benar?! Dia Hamil?! Hks!"

Kembali tak mendapat kesempatan untuk menyela, Baekhyun terlanjur menutup diri dengan berjalan menuju anak tangga lalu mendudukkan dirinya di tangga paling bawah, tak hanya itu, Ia pun memeluk pembatas tangga dengan nafas terisak.

Dan Chanyeol benar-benar kehabisan kata untuk menghadapinya.

"Tidak... " Chanyeol melangkah mendekat, untuk berjongkok tepat di depannya. "Aku dan Lissa hanya rekan kerja.. kita tak memiliki hub—

"Bohong!" Jerit Baekhyun, di antara teralis pembatas tangga itu.

"Hei.." Lalu tiba-tiba Lissa berdiri di depan keduanya.

Rambut panjangnya tak lagi terurai kusut, melainkan terikat ke atas hingga tak memungkinkan Baekhyun kembali menariknya.

"Hentikan semua omong kosong ini dan buka lebar kedua matamu!" Wanita itu beralih menyeret kopernya lalu di angkatnya ke atas meja. Membuat Baekhyun yang sbeelumnya mendelik tak suka, kini mengerjap ingin tau.

"Hamil? Hahahahaha! Geezzz!"" Racaunya lagi sambil membuka isi koperenya, memilahnya dengan kesal sebelum akhirnya mengeluarkannya dari dalam

"Inikah pekerjaan wanita HAMIL yang kau maksud itu?!" Lissa terbahak seorang diri, sembari menata beberapa busana dan di atas meja

.

..

"Apa yang kau bawa?" Baekhyun mulai penasaran, berjalan mendekati Lissa dengan jemari meremas-remas ujung piyamanya sendiri.

"Oho! Kau mulai berbaik hati padaku sekarang?" Sindir Lissa sambil berkacak pinggang.

Baekhyun hanya meliriknya sekilas sebelum akhirnya menundukkan kepala dengan bibir terpout.

"Semua itu untuk siapa?" Tanya Baekhyun lagi, kembali berjalan lebih dekat hingga menempel lengan Lissa. Sesekali menggigit bibir bawahnya sambil melirik Lissa malu-malu. Ah! Baekhyun benar-benar ingin tau, mengapa wanita itu membawa pakaian yang kerap Ia lihat di acara pernikahan.

Sementara Chanyeol hanya terkekeh sambil menyamankan diri di atas sofa, mengamati perilaku Baekhyun yang kerap pasang surut.

"Kau ingin menarik rambutku lagi?" Lissa mencondongkan tubuh ke arahnya, dan Baekhyun hanya menggelengkan kepala pelan.

"dan Aku HAMIL?" Sergah Lissa lagi, mempertegas kata di akhir.

Baekhyun mengerjap, lalu kembali menggeleng pelan. "Ti—dak" Lirihnya... bahkan terlalu lirih.

Lama Lissa menatap Baekhyun, ingin menyentak kesal... tapi dengan kerjapan dan wajah seperti itu—

"Arghh! Kau membuatku gila!" Racau Lissa frustasi, sambil melempar tubuhnya ke sofa.

"Kau belum menjawabnya" Baekhyun kembali menunjuk beberapa benda dan pakaian berkilau di atas meja.

Lalu mengekor Lissa dan duduk di sebelahnya. "Semua ini untuk siapa?" tanya Baekhyun lagi terlihat antusias.

"Yya!" Lissa lebih memilih memanggil Chanyeol.

"Kau gila... Dia masih terlalu bocah!" Ujarnya sambil menunjuk Baekhyun yang kini terpana memandangi tuxedo di depannya.

Chanyeol hanya tersenyum tipis sambil mengendikkan bahunya, gila atau tidak... tapi faktanya Ia terlanjur membuat anak itu hamil.

Bahkan bertekuk lutut ingin menjadikan bocah itu miliknya seutuhnya

"Siapa yang menikah... semua ini baju untuk menikah bukan?" celoteh Baekhyun, masih antusias menyentuh tuxedo itu

"Yang jelas itu bukan untukmu!" Sahut Lissa, membuat Baekhyun kembali mendelik tak suka.

"Aku tak bertanya itu untukku!" elak Baekhyun sambil bangkit berdiri.

"Memang bukan untukmu! Aku dan Chanyeol membicarakan semua ini untuk bisnis. Kau dengar? Untuk Bis—Nis" Ujar wanita muda itu berulang-ulang.

Semula Ia berpikir, Baekhyun akan kembali membalas dengan jawaban yang lebih kekanakan. Tapi rupanya, anak itu memilih membuang muka... lalu berjalan menghentak menapaki anak tangga menuju kamarnya.

"Kau marah?" teriak Lissa.

"..." Baekhyun melempar tatapan tajam untuknya

"Ya! Kau mudah sekali marah huh?"

BRAKKKK

Pintu dibanting keras, tak menyisakan apapun selain kerjapan mata wanita muda itu.

"Kau yakin?" Tanya Lissa tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya pada lantai atas. "Anak itu masih labil... kau yakin ingin menikahinya?"

Pria itu hanya mengulum senyum. "Sekretris Lee sudah membayar uang muka lebih dari yang kau harapkan, apa itu tak cukup manjadi bukti?"

Lissa mengerjap, namun otak kembali menerawang jauh ke belakang... tepat pada nominal yang masuk ke dalam rekeningnya.

"Ahahahahah kau benar... kau benar. Mari kita bahas tujuanku kemari" Sergahnya, mengganti topik, sebelum pengusaha kaya itu berubah pikiran lebih-lebih membatalkan kerja sama.

"Sejujurnya.. aku tau aku datang di saat yang tak tepat. Seperti yang kau lihat.. tanpa asistenku dan tanpa pembantu yang lain. Mereka mengambil cut—err, sepertinya tak perlu kusampaikan padamu" koreksi Lissa, sambil mengambil sebuah kipas... meski sebenarnya AC di ruang itu cukuplah dingin

"Dan satu lagi... anak itu nyaris membunuhku. Ini benar-benar waktu yang tak tepat.. seharusnya kau memberi tahu Dia akan kedatanganku, tapi tak apa.. aku seorang yang profesional, di bawah petir sekalipun.. aku akan menjaga kepuasan client-ku. Jadi... ini konsep yang kau pilih bulan lalu" Lissa kembali mengambil beberapa katalog dari dalam kopernya

Sementara Chanyeol hanya tersenyum tipis, tak banyak bicara dan lebih memilih melihat katalog yang dibawa wanita itu.

.

.

.

.

Lebih dari dua jam lamanya dua sosok itu bercengkerama, memastikan semua memang sesuai dengan kehendak sang Presdir

Tanpa tau, seorang namja mungil mengintip keduanya dari celah pintu... tak bisa mendengar apapun selain melihat Lissa yang banyak bicara dan Chanyeol terlihat menikmati waktu senggang itu.

"Aishh!" Decak Baekhyun sambil menjejak pintu. "Bisnis? Bisniis?" racaunya sambil berjalan menuju ranjang.

Ia meninju kesal.. bantal di bawahnya. Merasa jengkel dengan sikap Chanyeol yang lebih memilih bisnis bersama wanita itu dibandingkan mengejarnya.

"Ugh!" baekhyun menyerah dan lebih memilih melempar tubuhnya ke ranjang, berguling ke kanan dan ke kiri lalu lambat laun anak itu mulai menguap kecil.

Sesekali mencoba untuk bertahan..

Namun mata yang berat itu, membuatnya benar-benar lelap dalam waktu yang cepat.

.

.

.

"Anak itu benar-benar percaya ucapanku?" Tanya Lissa masih merasa heran dengan Baekhyun yang termakan ucapannya.

Chanyeol hanya tersenyum tipis, tanda mengiyakan.

"Yyaa... Dia benar-benar polos, sebaiknya kau jelaskan semua ini padanya. Atau apa yang terjadi padaku pagi ini, akan kembali terulang" Ujar Lissa begitu sampai di ambang pintu utama, sambil menyeret koper besarnya

"Biar saja... itu akan menjadi kejutan untuknya" Jawab Chanyeol santai, sambil memberi isyarat pada Sopirnya untuk mengangkat barang Lissa.

"Hingga kalian sampai di Venice?"

"Hn..."

"Kau gila.." Sahut Lissa tak habis pikir. Lalu beranjak memasuki mobil Chanyeol.

.

.

"Pikirkan lagi" Lissa kembali mencondongkan kepalanya ke arah Jendela mobil. "perut Baekhyun akan semakin membesar, Dia akan lebih baik mengenakan gaun" Lanjutnya lagi sambil tersenyum lebar.

"Tsk.." Sementara Chanyeol hanya berdecak, dan mengamati mobil itu hingga hilang di balik gerbang besarnya.

.

.

.

Sesaat kemudian Ia mencoba mencari Baekhyun ke dalam kamar keduanya. Tidakkah bocah itu pergi dengan wajah tertekuk? Pastilah Baekhyun kembali menyudutkan diri di sudut kamar kali ini.

"Baek.." panggilnya seraya menapaki anak tangga.

"..." Tak ada jawaban

Membuatnya mengernyit, dan mempercepat langkah mendekati pintu kamarnya.

Sesaat mengamati knop pintu miliknya, merasa curiga jika bocah itu mengunci diri di dalam.
"Bukankah kau ingin melihat sakura di taman Namsan?" Ujarnya seraya memutar knop pintu, dan—

Cklek

Pintu itu rupanya tak terkunci.

Chanyeol beralih membukanya, Sedikit terhenyak melihat Baekhyun telah terlelap pulas.

Ah... ia tak ingin mengusiknya kali ini, dan lebih memilih berjalan ke meja nakas untuk mengambil selembar potret.

Lama Ia memandanginya, merasa takjub dengan potret USG dari janin yang mungkin berusia hampir 2 bulan itu

"Dia menakjubkan bukan?" Bisiknya, sambil berjalan mendekati Baekhyun... membelai sebelah pipi anak itu, sebelum akhirnya memberi kecupan kecil di ujung hidung kecilnya.

.

.

.


Sore mulai menjelang, selama itu pula... Baekhyun masih terlena dalam lelapnya.

Mungkinkah anak itu terlalu lelah?

Tapi Ia pun tak bisa berbuat banyak selain menunggunya, dan menyiapkan beberapa hal yang mungkin Baekhyun sukai kelak.

"Tuan... bagaimana dengan bunga ini?" Ujar Seorang pelayan, membawa vas besar penuh dengan rangkaian bunga mawar segar

"Letakkan di sudut jendela.." Titahnya menunjuk sebuah balkon berjendela besar, tempat yang kerap Baekhyun gunakan untuk bermain game atau mungkin mendengarkan lantunan musik.

"Tidak" chanyeol tiba-tiba mendekati pelayan yang lain, menahannya untuk mengambil gulungan karpet. "gunakan yang itu saja.." Ujarnya seraya menunjuk gulungan karpet berbahan bulu tebal.

"Pastikan tak ada lantai manapun yang bisa membuat baekhyun tergelincir... tidak pula untuk anak tangga"

"Baik Tuan.." Sahut beberapa Pria itu, membersihkan lantai dan setiap sudut ruangan, sebelum nantinya beberapa lantai utama akan dilapisi dengan karpet.

'DINGGGG'

Hinga tiba –tiba saja Ia dikejutkan dengan bell yang berbunyi, sejenak melihat arlojinya... ini bukan waktu Jaejong dan Taehyung pulang.

"Buka pintunya.." Ujar Chanyeol pada wanita paruh baya yang telah bersiap di ambang pintu.

.

.

"Hellooo..."

Dan begitu pintu terbuka, seorang Pria tinggi merangsak masuk ke dalam tanpa sungkan.

"Kau pulang lebih awal hari ini?" Tukas Chanyeol dari lantai atas

Terlihat Pria itu- Sehun- hanya terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Tak banyak pekerjaan yang kulakukan, karena kau cuti dan forecast bulan ini pun telah kuberikan padamu" Sehun beralih mendudukkan diri di sofa, menyilangkan kaki setelah sebelumnya meletakkan sebuah paper bag di atas meja.

Sementara Chanyeol hanya berdehem, lalu berjalan menuruni tangga untuk mendekati Pria muda itu.

"Ah! Satu hal lagi... aku membawa benda spesial untukmu" Ujar Sehun seraya mengetuk-ngetuk paper bag di atas meja.

Chanyeol mengernyit, mendelik curiga pada benda yang baru saja dibawa oleh rekan kerjanya itu.

"kau ingin menyuapku?"

"Haha! Kita di luar kantor Dude! Justru aku membawa hadiah untukmu... lihat saja" Bujuk Sehun.

Presdir muda itu hanya menatapnya lekat, lalu setelahnya menyerah dan mengambil paper bag Sehun tanpa ragu.

"Wine?" Tanya Chanyeol, mengamati botol berisi cairan meraj pekat... dari design yang terlihat, mungkin saja itu Wine.

"A— kurasa lebih kuat dari sekedar Wine" Bisik Sehun, sedikit mengggeser tubuh mendekati Chanyeol.

"Seseorang memberikannya padaku kemarin... tapi aku bisa terancam jika sampai Luhan melihat aku menyimpan benda ini" Lugas Sehun lagi, memasang wajah pasti... jika Chanyeol pasti akan menyukainya.

"Lalu kau memberi benda terbuang ini untukku?"

"Ah Noo! Bukan maksudku membuangnya... hanya saja, Dia akan lebih tepat dimiliki olehmu" yakin Sehun sambil mendorong lengan Chanyeol.

"Kau pecinta SM bukan?" Bisik Sehun lagi

Chanyeol berjengit terkejut. "Apa ini sebenarnya?" Serunya sambil melemparkan botol itu ke arah Sehun.

Sehun mengamati ke sekitar, memastikan tak ada seorang pun di sana. Begitu yakin tak ada siapapun Ia mulai menyeringai penuh isyarat.

"Semacam viagra.." Ujar Sehun lirih, kembali percaya diri.. Presdir muda itu kelak akan memujinya. Ia tau Chanyeol... pemuda itu menyukai hal semacam ini. Bahkan Chanyeol pernah memintanya membeli berbagai sex toys, untuk ia maninkan di tubuh Baekhyun.

"Kau pikir aku segila itu?! Dia sedang hami—

"Tak masalah..." Sergah Sehun sambil merangkul pundak Chanyeol.

"beberapa kali aku melihat jurnal Luhan... perangsang sebenarnya stimulus yang baik untuk kandungan " Ujarnya lagi, meski sebenarnya tak yakin dengan apa yang dikatakan.

"What the—

"Sssh... terima saja. Kelak kau akan berterima kasih padaku" Sergah Sehun lagi, sembari meletakkan Viagra itu di pangkuan Chanyeol.

"Ah! Di mana Baekhyun? Sedari tadi aku tak melihatnya..."

"..." Sementara Chanyeol hanya memandangi Viagra itu, berselisih dengan batinnya sendiri.. untuk mengambil ataukah membuang minuman berefek perangsang itu.

Lalu mendadak ponsel Sehun berdering keras...

"Ah sial..." Decak Sehun begitu melihat siapa yang memanggil.

"Bisakah kau ikut denganku sekarang? Tuan Kang membutuhkan persetujuan darimu" Tanya Sehun tak yakin.

"Apa?!Lalu untuk apa aku mengambil cuti?!"

"Ayolah kumohon, aku melupakan satu hal hari ini... Sebelum pukul 5 sore ini, laporan itu harus dikirim ke pihak audit. Itu membutuhkan persetujuan darimu... lihat sebentar saja" Bujuk Sehun lagi.

Sempat terdengar decak tak suka dari presdir muda itu, tapi Ia pun tak bisa mengelak... meletakkan viagra itu di atas meja, lalu mengikuti langkah Sehun dengan terpaksa, bahkan tak peduli Ia datang ke kantor dengan hanya mengenakan baju santai.

"Jaga Baekhyun... jangan biarkan dia keluar darii rumah seorang diri" pesan Chanyeol pada beberapa bodyguardnya, sebelum dirinya masuk ke dalam mobil Sehun.

.

.

.

.


"Ngh~"

Baekhyun sedikit menggeliat, merentangkan kedua lengan ke atas... sebelum akhirnya kedua mata sipit itu benar-benar terbuka.

Lama Ia bertahan di ranjangnya, memandang ke arah jendela dan Ia tau, senja telah menjelang.

Tapi mendadak raut menggemaskan itu berangsur masam, begitu sadari Chanyeol tak di sisinya bahkan hingga Ia terbangun dari tidurnya sekalipun.

Mungkinkah Pria itu masih terlarut membicarakan 'Bisnis' dengan wanita bernama Lissa itu?

Ia beralih bangkit dari ranjang, berjalan menghentak untuk mencari Pria kekar itu.

.

.

.

Tapi Begitu Ia melihat lantai bawah... tak ada seorang pun di sana. Bahkan untuk Bibi Han yang kerap menemaninya sekalipun tak ada.

"Yeollie..." Panggilnya, sembari membuka satu persatu setiap ruangan yang kerap Chanyeol gunakan.

Tak terdengar sahutan apapun, membuat anak itu semakin mengepalkan tangan kesal.

"Eommaaa!" Kali ini Ia melangkah ke dapur.

Tapi... masih sama

Dirinya tetap seorang diri di sana.

Hingga secarik kertas yang tersemat di lemari pendingin.

Baekhyun berdecak kesal... begitu tau, Ibunya rupanya pergi membeli perlengkapan untuk Taehyung..

"Yeolliieeee!"

"Ah... maaf tuan muda" Seorang wanita berlari tergopoh mendekatinya.

"Tuan Chanyeol tengah pergi bersama rekan kerjanya" Jelas wanita bernama Bibi Han

"LISSAAA?" Jerit baekhyun tiba-tiba

"Li—Lissa?" Gagap Bibi Han tak mengerti.

"AAAAAA—!" Bekhyun meremas kesal surai hitamnya, sambil berjalan menghentak ke ruang utama.

.

.

"Mengapa harus wanita itu?!" Teriak Baekhyun berkacak pinggang sambil menendang sofa.

"W-Wanita?" Bibi Han mengekor dirinya. "Wanita siapa yang Tuan maksud?"

"Dia! Bibi Han melihatnya bukan?!" Baekhyun mendudukkan dirinya penuh emosi di sofa.
"Chanyeol lebih senang bicara dengannya!" gerutunya lagi, sementara matanya melirik pada botol di depannya.

"N-Nee?" Bibi Han semakin tak paham mengartikan maksudnya, seingatnya Chanyeol pergi bersama rekan kerja Pria bukan wanita.

"Bahkan Dia tidak mengejarku!" Baekhyun mulai membuka botol itu, meerka itu mungkin juice atau vitamin yang disiapkan Ibunya.

"T-Tuan muda sedang tidur, j-jadi mungkin—

Gulp

"Tuan minuman apa itu?" panik Bibi Han, mengambil cepat botol yang baru saja ditegak Baekhyun.

"Bukankah ini untukku?" Baekhyun balas bertanya. Sambil merebut kembali minumannya.

"T-Tapi... Tapi Tuan Chanyeol tidak berpesan jika—

"ini untukku! Minuman ini enak... Bibi ingin mencobanya?" tawar bocah itu kemudian..

"Tidak Tuan... tapi—

"Uhmph!"

Wanita itu lekas terbelalak lebar begitu melihat Baekhyun membekap bibirnya sendiri. "Ada apa Tuan muda? Anda mual?"

Ia berusaha menangkup pipi anak itu, tapi—

"Nnhh~.."

Ia semakin dibuat bingung bukan kepalang melihat Baekhyun tersenyum dengan tatapan sayu. Dan lagi... ia tak salah dengar bocah itu melenguh.

"Anda baik-baik saja?"

"Uhm.." baekhyun kembali terkikik sambil mengusap-usap dadanya sendiri. Tak lama setelahnya, baekhyun memilih bangkit merambati sofa ingin kembali ke kamarnya.

"T—Tunggu Tuan, wajah anda memerah" Bibi Han memaksa menahan lengan Baekhyun.

"Hm? Merah?" Baekhyun memandangnya dengan tatapan setengah terbuka. "Wajahku memerah? Ehehehehe" Anak itu menangkup wajahnya sendiri sambil terkekeh aneh.

"Ya Tuhan... mungkinkah itu minuman keras?" gumam Bibi Han memandang minuman yang telah habis setengahnya dan Baekhyun bergantian.

"Pan—Nashh!" Baekhyun tiba-tiba meront.

"Lepas! Panas!" Rontanya lagi, berusaha melepas pegangan Bibi Han.

"Anda mabuk Tuan, sebaiknya—

"Nn~nah! Aku tidak mabuk... dan aku ingin tiduuurrr" Gumam Baekhyun sambil mengusap-usap wajah Bibi Han.

"Tapi—

"Mmm! Pai...Paiiiii" Baekhyun merambati pembatas anak tangga... berjalan terhuyung-huyung menuju kamarnya lalu—

BLAMM

Pintu itu benar-benar tertutup rapat untuknya.

.

.

.

"Apa anak kitu baik-baik saja, jika kubiarkan seperti itu?" Gumam Bibi Han cemas, Ia kembali mengamati sebotol minuman di meja.. banyak tertera tulisan asing yang sungguh tidak dimengerti olehnya.

"Mungkin saja.. ini beer mahal milik Tuan Chanyeol" Ujarnya lagi, sambil membawa botol itu lalu menyimpannya di dalam kulkas.

.

.

.

.


"Baek.. aku pulang"

Hampir pukul 7 malam, dan Pria itu baru kembali.

Mengedarkan pandangan ke sekitar demi menemukan siluet simungil, tapi Ia hanya melihat Jaejong yang terlihat panik memainkan ponselnya sendiri.

"Ah! Syukurlah kau kembali... berulang kali aku mencoba menghubungimu"

"Ada apa?" Chanyeol menelisik cemas. Dan berdecak, Ia lalai membuat ponselnya dalam keadaan senyap.

"Baekhyun sedari tadi mengunci kamar kalian, aku mencoba memanggilnya... tapi anak itu sama sekali tak menjawabku. Aku takut.. sesuatu yang buruk terjadi di dalam"

Chanyeol terbelalak lebar. Cepat-cepat ia berlari ke atas... bahkan dengan mengambil langkah dua anak tangga sekaligus. Sedikit terkejut melihat banyak bodyguardnya berusaha mendobrak pintu kamarnya.. namun gagal.

"Minggir..." Titah Chanyeol.

Membuat pria-pria kekar itu memberi sekat untuknya mendekati pintu.

"Baek! Apa yang kau lakukan di dalam? Buka pintunya..." Teriak Chanyeol sambil mengetuk pintu itu.

"..." Tak ada sahutan yang terdengar, semakin membuatnya kebas dan tak berharap namja kecil itu pingsan di dalam.

"Baekhyun!"

BRAKK! BRAK!

Ia mulai mendobrak pintunya sendiri. "BAEKHYU—

Cklek

Semua mendadak hening, begitu pintu kamar itu terbuka secara perlahan.

Chanyeol sempat mengerjap... sebelum akhirnya ia dibuat berjengit terkejut, kala seorang namja mungil bertelanjang dada muncul dari dalam dan memeluk perutnya.

"Yeollie~.." Gumamnya sembari menggesekkan hidung kecilnya di dada kekar itu.

"Kau sudah kembali.." Kikiknya lagi, kali ini sambil memainkan pahatan abs Chanyeol dengan ujung jemarinya.

"Kau baik-baik saja?" Chanyeol menangkup wajah Baekhyun, ada yang berbeda... wajah anak itu sangatlah panas. "Kau demam?"

"Mmmm~" Tapi Baekhyun hanya memejamkan mata, menempelkan telapak tangan besar itu untuk lebih menyentuh wajahnya. Itu benar-benar terasa nikmat untuknya.

"Di mana bajumu huh?" Ujarnya terusik, cepat-cepat Ia mendekap tubuh Baekhyun, dan dibawanya kembali ke dalam kamar sebelum tubuh mulus itu menjadi santapan mata untuk para bodyguardnya.

"Ahn~.. Ah"

Ia terbelalak lebar mendengar lenguhan kecil itu.

"Kau mendesah?" Lirihnya, sambil mengamati wajah Baekhyun.

Namun belum sempat ia menerkanya, tubuhnya tiba-tiba limbung begitu Baekhyun mendorongnya dan memaksa merangkak untuk duduk di pangkuannya.

'Chupp'

Chanyeol reflek memejamkan matanya begitu Baekhyun mencium kelopak mata kanannya, semula memang hanya kecupan lembut... tapi mendadak terasa panas kala Baekhyun mulai menyesapnya bahkan menggigitinya. Membuatnya mengerang...dan menjauhkan matanya dari bibir Baekhyun.

"Baek?"

Baekhyun menggigit bibir bawahnya sensual, entahlah tiba-tiba saja ia merasa dalam kondisi bergairah malam ini.

"Cium aku" Desahnya seraya menjilat bibirnya memutar.

"A—apa?" Chanyeol mengerjap, nyaris tak percaya Baekhyun mampu membuat raut semacam itu

"Kau tak menginginkanya?" Desah Baekhyun lagi sambil meraba kedua dadanya sendiri, meremas-remasnya pelan... hingga nipple yang mulai bengkak itu, terlihat mencuat menggida. Sesekali ia menggeliat dengan nafas terengah-engah mencoba menyulut birahi pria itu. "Yeollieh.."

Chanyeol terdiam, menahan nafas beratnya dalam diam. Sial! Baekhyun benar-benar panas malam ini. Tapi ada yang berbeda di sini, mustahil Baekhyun bersikap seagresif ini, lebih-lebih jika itu mengenai sex. Baekhyun sangatlah pasif dalam hal demikian, dan ia tau benar tentang itu.

Sesaat Chanyeol memejamkan mata dan beralih menghempas tubuh mungil itu di ranjang, lalu menggenggam kedua tangan Baekhyun di atas kepalanya. "Jangan membuatku lepas kendali... kita tak bisa melakukan—

"Ahnn~ Panash"

Chanyeol kembali meneguk ludah payah, begitu bocah dalam kungkungannya itu makin menjadi-jadi... terus menerus menggeliat liar, bahkan mulai berani menggesekan lutut di sela selangkangannya.

"Apa yang salah denganmu sebenarnya?" Cemas Chanyeol. Sepersekian detik berikutnya Ia membulatkan mata lebar begitu mengingat satu hal. "Kau meminumnya?"

"Ngh~ panash! pa—nash A~aahnn" Baekhyun mulai panik dengan rasa gerah yang berbeda itu, seolah-olah darah hanya berdesir dan mengalir di pusat genitalnya. Baekhyun tak tahan dengan kondisi seperti itu, berulang kali Ia mencakar-cakar leher dan dadanya sendiri. Merasa tak cukup jika itu hanya sentuhan

"Baekhyun?"

"Ahngg~ lep—pash...ukh~ unhhh" baekhyun kembali menggeliat kasar ingin melepas celana dalamnya sendiri

Chanyeol mendesah berat, tak ada pilihan lain selain membantu melepas underwear itu, Jika Baekhyun terus menerus merengek dan menggeliat tak nyaman karena gerah, bahkan Baekhyun nyaris menangis.

"Cukup, jangan melukai dirimu, aku sudah melepasnya" Chanyeol menahan tangan Baekhyun yang mencakar selangkangannya sendiri hingga meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih susu itu.

"Nnhh! ah~ ahhh" Baekhyun kembali menggeleng ke kanan dan ke kiri, tak tahan dengan semua sensasi panas berbaur gatal di setiap titik sensitif itu, apa yang terjadi dengan tubuhnya? Bahkan rasanya semakin parah jika tidak disentuh

"Sentuh...uhnn~ tanganmu" Rengek Baekhyun seraya membawa tangan Chanyeol untuk menjamah niplenya. Tapi Chanyeol hanya menyentuhnya saja tak melakukan gerakan apapun yang merangsang. Karena memang, Chanyeol masih menerka apa yang terjadi pada tubuh Baekhyun. Jika memang itu karena viagra yang di bawa Sehun, tapi perangsang macam apa yang ditambahkannya. Hingga membuat Baekhyun lepas kendali seperti ini, bahkan reaksinya melebihi obat perangsang yang diberikan Top saat menawan Baekhyun beberapa waktu lalu.

"Hks! Nghh" Baekhyun terisak terlihat frustasi meremas-remas kedua dadanya sendiri. Berharap Chanyeol tau...dirinya benar-benar tersiksa saat ini. Namun lambat laun remasan itu berubah kasar bahkan Baekhyun tak segan mencengkeram dan menarik kasar kedua dadanya. Tentu saja, Chanyeol berseru panik, jika itu di biarkan... Baekhyun akan membuat sekujur tubuhnya memar.

"Baek... hentikan!" Chanyeol memaksa menahan tangan lentik itu di kedua sisi tubuh Baekhyun. dan menghela nafas berat melihat tubuh molek itu benar-benar haus akan sentuhan.

"Sa—kit...nnh" Rintih Baekhyun sambil mengangkat pinggulnya, bukan rasa gatal lagi.. semua berangsur menjadi terasa ngilu di sekitar pinggul hingga ujung genitalnya.

Chanyeol sedikit berdehem memandang wajah pias itu, dibanding nafsu.. ia lebih merasa iba melihatnya seperti ini.

Tak ingin mengulur waktu lebih, Pria itu beralih menyusupkan tangan di bawah tengkuk Baekhyun sedikit mengangkatnya hingga benar-benar dalam kondisi nyaman.

"Sa—kit hks.." rintihnya

"Aku tau..." Bisik Chanyeol seraya mencium lama kening Baekhyun, sesekali ia meremas jemari mungil dalam genggamannya...berharap itu bisa sedikit menenangkannya

Baekhyun kembali mengerang frustasi, tak tahan jika hanya sentuhan seperti ini. Tak taukah Chanyeol, sesuatu dalam perutnya terasa kian berdesakkan minta dilepaskan, Baekhyun beralih memeluk cepat tengkuk Chanyeol dan melumat belahan merah itu dengan kasar.

"Uhmph...mmhh... nnh" Lenguh Baekhyun nikmat, meski tak cukup menyamarkan rasa panas itu, tapi setidaknya bibir Chanyeol bisa mengalihkan konsentrasinya. Berulang kali pula Baekhyun mengangkat pinggulnya, menggesekkannya tepat di tengah selangkangan Chanyeol, hingga perlahan membuat pria itu turut terlarut dalam hasratnya.

.

Chanyeol menyeringai di sela-sela pagutannya, merasa mendapat sensasi tersendiri melihat Baekhyun seliar ini.

.

.

"Lagi...Nnhh" Rengek Baekhyun tak sabaran sambil mendekap kepala Chanyeol, meminta Chanyeol lebih kuat menghisap niple kanannya. Tapi sepertinya itu tak membantu apapun, alih-alih mereda... sentuhan lembut itu hanya menyiksanya

Baekhyun mendorong kuat dada Chanyeol, hingga membuat cumbuan di nipple itu terlepas. Tak pelak Chanyeol mengernyit dan menatap heran...namun belum sempat ia melontarkan pertanyaan, Baekhyun telah lebih dulu memaksa merangkak naik dan menduduki pahanya dengan gelisah.

"B—Baek?" Chanyeol terkejut bukan main kala melihat namja mungil itu membuka kasar pengait dan zipper celana jeansnya, terlebih Baekhyun pun berani menyusupkan tangan ke dalam underwear Chanyeol demi mencari genital besarnya. Karena Baekhyun yakin memang hanya organ itu saja yang bisa membebaskannya di sini.

"Lepassh! Ah...Le—phas !" Jerit Baekhyun frustasi ketika ia kesulitan menarik turun under wear yang masih tersangkut di pahanya, dan makin tak sabaran begitu melihat penis Chanyeol telah mencuat keluar di hadapannya

Chanyeol terkekeh pelan walau sebenarnya ia cukup tak tega melihat Baekhyun begitu payah mengendalikan hasrat yang sebenarnya tak diinginkannya, ia beralih menangkup pipi Baekhyun lalu mencium cepat bibir bocah yang masih berusaha keras melepas underwearnya.

"Jangan panik... biar aku yang melakukannya" Chanyeol menggenggam cepat kedua tangan Baekhyun, dan mulai menarik underwear tersebut dari pahanya secara perlahan, membuat Baekhyun merintih karna gerakan lambat itu.

.

.

"Nghh~...ahh! Ce—phat! m—masukkan! Mmh" Racau Baekhyun kacau, kedua tangannya menyusup kebawah dan membentangkan buttnya sendiri memperlihatkan rektum merah yang telah berkedut sedari tadi.

Chanyeol sempat menggeram melihatnya, tak habis pikir perangsang milik Sehun bisa membuat Baekhyun seganas ini.

"Hks! Pleasee... Nghh...masukkan ku mohoon... ahnng.. pleaseee" Baekhyun kembali menggeleng resah, tak tau sebanbnya bagaimana mungkin tubuhnya bisa di luar kendali seperti ini.

"Ssshh..." Bisik Chanyeol kala merebahkan tubuh mungil itu dan membuat kedua kaki Baekhyun semakin terbuka lebar. Sedikit menggesek rektum panas itu dan mulai menusuk-nusuknya tak beraturan.

"Ahhss~... ngh! T—tidak! milikmu hks~ Ackkhh" Baekhyun menggeleng kasar, dengan menahan tangan kanan Chanyeol... sama sekali tak menginginkan foreplay apapun. Baekhyun hanya menginginkan penis itu masuk, lalu mencapai klimaks

"Itu akan menyakitimu jika—

"CEPAT!" Jerit Baekhyun frustasi, tak bisakah Chanyeol mengerti kondisinya saat ini? Persetan dengan rasa sakit... tubuhnya jauh lebih tersiksa jika tak segera dirasukki.

Chanyeol menghela nafas pelan dan beralih memposisikan penisnya tepat di bibir rektum Baekhyun. "Katakan jika ini sakit" Bisiknya, karna Ia tau tubuh Baekhyun.. sepelan dan selembut apapun Ia melakukan penetrasi itu, Baekhyun akan tetap merintih sakit.

"A—Aht! ...Hhh! Hks! Hhhh" Erang Baekhyun begitu penis besar itu menusuk tubuhnya secara perlahan.

"Baek—

"J—jangan ber—hentih Ahttt!" Serunya gusar kala menyadari Chanyeol menghentikan gerakannya. Baekhyun tau Chanyeol memang mencemaskannya. Tapi Ia lebih membutuhkan cumbuan Pria itu

Tak ada pilihan lain ..

Tanpa peringatan, Chanyeol menghentak masuk miliknya dengan sekali gerakan, Membuat Baekhyun terbelalak lebar , sadari rasa perih yang tajam begitu penis itu memenuhi rongganya dalam sekali hentak

"Hks! AAAAHHTT!"

Baekhyun menjerit keras begitu Chanyeol menghentak kuat miliknya, menggesek kasar dinding rektum yang masih terasa kering. Berulang kali pula ia menengadahkan kepala dengan linangan air mata di pipinya, namun Baekhyun mencoba bertahan karena memang hujaman kasar ini yang diinginkannya.

"L—lebih! Ackkh! Hks!... mmhahhh! NGHH!" Pekik Baekhyun seraya menggerakkan pinggulnya berlawanan, mencoba meraup tusukkan lebih dalam lagi dari organ keras itu.

Tapi sepertinya Chanyeol membatasi gerakannya, tak menghujamkan miliknya kasar seperti yang diinginkan Baekhyun, Ia memang dalam kondisi bergairah, namun pria itu masih memegang utuh logikanya...untuk tak menyetubuhi Baekhyun secara brutal.

"Ahhh... angh..ah! Ah! Yeollieh~" Rengek Baekhyun hampir terisak begitu Pria itu tak kunjung membalas hasratnya. Seakan semua denyut nyeri itu makin berkumpul di bawah perutnya jika tak segera mencapai klimaks.

"Engh~" Chanyeol beralih membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya, tanpa menghentikkan gerakan pinggul itu, .ia membekap penuh bibir Baekhyun dengan ciumannya, kedua tangannyapun tak tinggal diam...terus menerus meremas butt kenyal itu dengan gerakan memutar. Namun seolah tak cukup dan memang merasa tak puas, Baekhyun kembali menggerakkan tubuhnya berlawanan, bahkan begitu tak terkendali.

"Diam Baek" Ujar Chanyeol setengah membentak sambil menahan pinggul Baekhyun agar berhenti mengguncang tubuhnya. Kandungan anak itu terlalu dini, Tentu akan berakibat fatal, jika Baekhyun terus melakukan gerakan sekasar itu dan tetap keras kepala.

"Hks... ngh.. Yeol—lieh" Desah Baekhyun kecewa.

Bisa saja Ia melakukan hujaman lebih kasar dari semua itu, tapi Chanyeol berusaha keras untuk menahan diri, semua tentu untuk Baekhyun dan buah hatinya.

"Tenanglah... kau hanya akan menyakiti dirimu snediri jika seperti ini" Tegas Chanyeol, namun setelahnya ia membelai surai hitam Baekhyun dan memainkan setiap helaiannya dengan lembut.

"Hhh...hhh, sa—kith" Rintih Baekhyun dengan mata terpejam, pasrah bagaimana Ia harus membujuk Chanyeol agar membuatnya mencapai klimaks lebih cepat, Baekhyun sepenuhnya tau...kandungannya yang menjadi batas semua itu, Tak ada yang dapat dilakukannya lagi...selain menggigit bibir bawahnya kuat-kuat demi menahan desir panas yang berbeda di dalam tubuhnya.

Chanyeol berdecak , semakin tak sampai hati melihat Baekhyun bertahan seperti ini. Berulang kali pula ia merutuk pada seorang pria biang dari semua ini, tak seharusnya Sehun membawa perangsang terkutuk itu, lihat... Baekhyun meminumnya dan semua menjadi fatal. Jika sampai terjadi hal buruk dengan kandungan Baekhyun, Pria itu mungkin hanya tinggal nama.

"Nghh~ Hks! B-Bagaimana ini ..Hhh..hh " Cicit Baekhyun sambil menangis, tubuhnya makin terasa tak nyaman. Ujung genital dan rektum yang terus menerus berkedut panas itu, membuat lapisannya terlihat merah meradang.

"Aku mencintaimu..." Bisiknya sambil mengecup mesra kening Baekhyun, berharap semua itu sampai pada Baekhyun.

Sebelah tangannya beralih menggenggam genital mungil Baekhyun, mengocoknya perlahan dan meremasnya kuat begitu sampai di ujungnya yang kemerahan, membuat namja manis itu mulai merintih bahkan melengking nikmar

Chanyeol mengulas smirk tipis begitu melihat reaksi tersebut, dan yakin ini akan membantu Baekhyun mencapai klimaks lebih cepat.

Masih dengan merangsang genital mungil itu, Chanyeol kembali menggerakkan penisnya keluar masuk, dengan perlahan namun kuat.

"Aghhh! AHHH!"

"Hn? Nikmat?"

"Nik—math...Hhh! Ackk~...Akhh! Arkk~ AHH!" Pekik Baekhyun, kepalanya menggelang ke kanan dan ke kiri, kedua mata sesekali terbuka lalu terpejam seriring dengan hentakkan Chanyeol.

Ini lebih baik untuknya ... jemari panjang nan besar itu benar-benar memanjakannya bahkan terasa memabukkan.

.

.

.

Lenguhan nikmat dan kecipak tautan tubuh keduanya, makin intens terdengar memenuhi ruangan kedap suara itu. Segalanya terasa seperti candu, terlebih untuk Baekhyun, berulang kali bocah itu merengek lagi dan lagi dengan dada membusung tinggi.

Hingga tiba-tiba saja, seringai tajam itu terulas... begitu kedua obsidiannya menatap ke arah meja nakas. Tepat pada botol berisi setengah cairan merah ranum di dalamnya. Ya!...sisa wine yang diminumnya semalam

.

.

.

"AHH! Y—YEOLLIEH! AACKKHH!" Baekhyun menjerit keras, begitu Chanyeol menarik turun lapisan genitalnya, membuat bagian ujung kepalanya yang memerah semakin menyeruak keluar.

"ARGHT! APA YANGH...KAU —! HIIAAAAHH!" Baekhyun semakin menjerit histeris, kala pria itu meneteskan sesuatu di lubang urethranya dan berlanjut melumuri seluruh bagian juniornya dengan cairan asing itu. Detik itu pila, percum makin mengucur deras karenanya.

"Hmm...hanya sedikit wine.." Bisik Chanyeol sambil mendekati telinga Baekhyun. "Dear.."

Baekhyun menggeleng kasar, Cairan fermentasi itu benar-benar serasa membuat genitalnya terbakar, namun cukup ampuh memaksa keluar sesuatu yang sedari tadi berdesakan dalam perutnya.

"Uhnnn~~ ACKKHH! C—CUMMMMHH!"

Chanyeol menyeringai puas, kala melihat namja mungil itu mendapat klimaks dengan hebatnya, berulang kali Baekhyun mengglepar dengan pinggul terangkat tinggi-tinggi bahkan hingga penis Chanyeol terlepas dari rektumnnya.

"Nikmat hn?" Bisik Chanyeol lirih seraya mencium bibir yang terbuka akibat terengah itu. Baekhyun hanya mengangguk dalam diam, kedua tangannya mengalung erat di tengkuk Chanyeol, meminta pria itu memperdalam pagutan basahnya.

.

.

.

"Hhh... Hhh na—nappeun" Ucap Baekhyun tersenggal-senggal. Dan hanya ditanggapi kekehan pelan dari Pria kekar itu

Chanyeol beralih mengelus lembut kepala Baekhyun dan menatap lekat-lekat mata coklatnya. "Dan kau menyukainya" Ujarnya kemudian.

Baekhyun tak merespon apapun selain mendesis lirih akibat sensasi yang masih tertinggal di ujung juniornya. Terasa pedih namun begitu nikmat...dan sejujurnya Baekhyun sangat menyukainya.

Namun tiba-tiba saja ia memekik dan melonjak terkejut begitu sesuatu yang basah melingkupi ujung genitalnya, membuat organ mungil itu semakin terasa panas.

"Ahng~...Ah! Ahhss! Yeollieh" Kedua mata itu membulat lebar begitu melihat kebawah dan menyadri Chanyeol tengah mengulum penuh miliknya. Berkali-kali tubuh mungilnya menggigil hebat kala lidah panas itu menggelitik lubang kecil di ujung juniornya.

Chanyeol menggerang pelan seraya memjamkan kedua matanya, mencoba menikmati sisa wine yang telah bercampur dengan sari Baekhyun. Bagaikan nektar yang tercecap manis untuknya.

"Melanjutkannya lagi...tak masalah bukan?" bisik Chanyeol di sela-sela jilatannya.

Seharusnya tubuhnya melunglai lemas paska orgasme, tapi entahlah apa yang terjadi dengan tubuhnya? Baekhyun sempat menerka mungkin itu karna kandungannya ...dan malam ini ia benar-benar dalam kondisi bergairah melayani Chanyeol hingga pagi sekalipun. "Ah!..Anh! N—nee."

.

.

.

.


"Mmmaa!" Panggil Taehyung dari ambang pintu.

Membuat Jaejong bangkit ingin mendekati bocah mungil itu. "Dari mana saja hmm? Ini waktumu untuk tidur bukan?"

Taehyung menggeleng pelan, lalu menunjuk- nunjuk kamar di seberangnya.

"Ada apa?" Tanya Jaejong heran.

"Uhh aah uh ahh" Celoteh Taehyung tiba-tiba

Membuat wanita itu lekas membulatkan mata lebar.

"Baekkie hyung pelang.." Gumam bocah itu lagi.

"A—apa?"

"Yeollie hyung ... Boom! Baekkie Hyung, Uhh! Ahh! Uhh" Lanjut Taehyung semakin antusias menirukan apa yang dilihat dan di dengarnya.

"YYA! Dari mana kau sebenarnya?" Pekik Jaejong mengguncang tubuh Taehyung. Bahkan menutup telinga bocah itu dengan kedua tangannya, meski sebenarnya semua telah terlanjur.

Mengapa Taehyung harus mendengarnya?

Tunggu...

Bukankah kamar Chanyeol kedap suara?

Ataukah kamar itu tak terkunci lalu Taehyung mengintip?

"Dengar! Jangan melakukannya lagi! Jangan masuk ke kamar Hyung tanpa seizinnya!"

"Uhh! Ahh... uh"

"Taehyung!"

.

.

.

.


Hari silih berganti, rasanya satu minggu telah terlampaui..

Pagi itu suasana dapur terasa tak biasa...

Terlihat, Baekhyun berjinjit berusaha keras meraih kotak susu yang tersimpan di dalam sekat teratas almari dapur itu. berulang kali ia mengeluh pegal, namun tubuhnya yang mungil membuat kotak susu itu belum juga berhasil di gapainya.

"Seharusnya kau memanggilku untuk mengambilnya " Seorang Pria tiba-tiba saja meraih kotak susu itu untuknya dan memeluknya dari belakang, menahannya untuk tak lagi memaksakan diri seperti itu.

"Atau... biar aku saja yang membuatkannya untukmu" Ujar Chanyeol ketika mengambil alih kotak susu tersebut.

"nn~ tidak, biar aku—

Chanyeol membimbing Baekhyun ke meja makan dan mendudukkan tubuh mungil itu dikursinya, sesaat ia menyibak ke atas rambut Baekhyun dan mendaratkan kecupan lembut di keningnya.

"Kau cukup duduk manis di sini saja" Bisiknya kemudian.

Baekhyun tersenyum dan mengangguk patuh, kedua matanya tampak mengerjap dengan kedua kaki terayun di bawah meja, kala melihat Chanyeol melakukan sesuatu di depan pantry itu

Diam-diam Ia hanya memandangi punggung lebar itu..

Ia memang memimpikan semua ini...

Sosok yang dulu tak tersentuh, kimi memberi perhatian lebih untuknya... bahkan rela mengambil cuti hanya untuknya

Tapi satu hal yang mengusik dirinya. Mungkin benar.. Pria itu memberinya cinta, bahkan menerima dirinya dan keluarganya tanpa kurang apapun.

tapi benarkah ia cukup pantas dan baik untuk Pria itu? Sementara... siapapun yang memandang dirinya, tentu akan beranggapan sebelah mata.

Ah... Ia seorang namja yang memiliki rahim, bahkan kini dengan nyata mengandung.

"Apa yang sedang kau pikirkan hn?"

Baekhyun tersadar dari lamunannya, begitu Chanyeol tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas meja. Segelas susu hangat pun tersaji di hadapannya.

Tak ingin menjawabnya, Baekhyun lebih memilih memeluk leher Chanyeol dan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Pria itu

"Baek?"

"Bagaimana jika aku tak bisa melakukannya?"

Chanyeol mengernyit, menerka maksud namja kecil itu.

"Aku takut perutku semakin membesar, bagaimana orang-orang melihatnya nanti? Aku takut kau lelah... aku takut kau tak bisa menerimanya. A-Aku tak ingin perutku membesar dan melahirkan—

BRAKKK

Baekhyun terlonjak hebat, begitu Chanyeol tiba-tiba saja menggerak mejanya

"Y—Yeollie"

.

.

.

.

.

.

.

.

Tebece...

Next Chap

"Ugh~ hks... apa yang kau masukkan? Ngh"

Baekhyun tak bisa berbuat banyak dengan kedua tangan dan kaki yang terikat seperti itu.

Menunggu dengan takut.. benda dingin yang sedari tadi menyentuh ujung genital dan rektumnya . hingga-

"A-AHHHTTT! Henti-kann!"

.

.

.

Yooooo gua balik lagi bawa FF lanjutannya, seharusnya semalam apdetnya... tapi karena suatu hal Gloomy baru bisa apdet sore ini

sesuai permintaan kay, review banyak gua apdet cepeett

So so so chanyul marah kaga tu di akhir cerita?

.

,

Jangan lupa review lagi, ga review g ada apdet

yang mau FF nya di update jangan lupa review di chapter terakhir sebanyak-banyaknya.

IG: gloomy_rosemary

Jangan Lupa review Ok

untuk:

neniFanadicky, chanbaek92, buny puppy, byunnami, Marshsamallow614 , khakikira , ctbisreal, RurohFujoCbHs, hulas99, fintowikson, Lussia Archery , kimkad , YaharS , Aisyah1, LyWoo, Byun soo byung, Yana Sehunn, baekkachu09 , Poppy20 , baekxylem , selepy , byunnami , Lusianabaconcy0461, bbhunyue, chanbaekis , mawar biru, love Elan , thevEXO, WinterJun09, tkxcxmrhmh , mii-chan07 , vryeol , Dodio347, baekby aeri04 , ChanBaekGAY , EyiLy , metroxylon, Fiyaa04, baby baek , Deliscius, Wahidah Putri Utami , chalienBee04, xiluhan74 , cbforever00, Yeolliebee , PinkuBlue614 , rimaa , kimi2266, YaharS , baekchann18, Avisyell756 , AuliyaRchy , byunlovely, ruukochan137, veraparkhyun , park chan2 , baeeki6104, chanbaek1597, byunlovely , bbhunyue, kkaiii, Hyo luv ChanBaek, Siapa Hayo, myliveyou, LightPhoenix614, Chanbaeknaena, Asandra735 , tyas 614, AnggunBBH06, AmyGAHF, Merina, dwi yuliantipcy , Shengmin137, kitukie, shereen park, yiamff , jempolnya pcy , Hyera832, Riinnchan, Ricon65 , BambiLuhan , Byunexo, SMLming , babyyh , chayeonlee , Sitachaan, Ziiwandha, hananachan, bbyLyi , hosh10 , hunhanshin, Loey761,dan all Guest (Sorry tdk semua)