A Fanfiction story by AthenaAD

It's F and Y

Disclaimer: Boboiboy dkk belongs to Animonsta. This story belongs to me.

Note: Typo, kata tidak baku, gaje, EYD tidak sesuai, dll

Happy Reading

•••

"Ying, apa kamu punya mantan?"

Aku mengernyit heran. Ada angin apa sampai dia menanyakan hal itu? Setahuku, Fang adalah tipe orang yang cuek dan masa bodoh.

"Emang kenapa?" tanyaku.

"Gapapa sih." Dia menggaruk tengkuknya dengan wajah yang terbilang 'aneh'. "Nggak jadi deh."

Aku mengulum senyum. "Kamu cemburu?"

"Siapa yang cemburu sih? Emang mantan kamu lebih tampan dari aku? Nyatanya nggak kan."

Ya, mungkin dia bisa bicara begitu. Tapi aku melihatnya dengan jelas. Wajah yang menoleh ke arah lain dan bibirnya yang maju sedikit. Oh, dan lihatlah telinganya. Merah sekali, sangat serasi dengan kanvas langit yang bermandikan gradasi merah dan oranye.

"Kamu tuh lucu banget sih!" Aku tidak dapat menahan diriku untuk mencubit pipinya. Gelak tawa meluncur mulus dari bibirku saat bibirnya semakin maju.

Dia melepas paksa tanganku. "Lucu dari mananya sih? Dilihat dari manapun juga, aku ini tampan!"

"Iya iya. Kamu tampan." Aku menatap Fang jenaka. Sengaja menjeda kalimat untuk beberapa saat. "Kayak anjing pitbull punya nenekku."

"Kok disamain sama anjing sih?!" protesnya tidak terima. Aku tertawa geli. Sungguh, ekspresi Fang adalah yang terbaik dari komedian terbaik manapun.

Hening menyela di antara kami, lantas memeluk kami. Bukannya tidak ada mood untuk berbicara, hanya saja, kali ini kami kehabisan topik. Namun sama seperti sebelumnya, ini adalah hening yang menenangkan sekaligus menyenangkan di waktu bersamaan.

"Aku cuma pengen tahu.. aku ini yang pertama dan satu-satunya yang datang ke hidupmu atau nggak."

Aku tak kuasa menahan kehangatan yang menjalar hingga ke sanubariku. Benar-benar hangat, hingga rasanya aku tak ingin beranjak dari sana, sampai kapanpun tidak akan pernah. Tidak sekarang, tidak besok, tidak selamanya.

Aku beranjak dari kursi taman, lantas membalikkan tubuh dan mengulurkan satu tanganku padanya. Kulihat dahinya yang mengernyit heran. Aku membalasnya dengan seulas senyuman.

"Ikuti aku," ucapku.

Dia menyambut uluran tanganku, kemudian juga beranjak dari kursi. Masih dengan mempertahankan senyuman, aku menariknya menjauhi taman, menuntunnya menuju suatu tempat.

"Ying, kita mau kemana?"

Aku tidak menjawab. Masih terus melangkah, hingga beberapa menit kemudian aku berhenti. "Kita sudah sampai."

"Ini kan SD aku dulu. Kok kita kesini?" tanyanya.

Diam tetap kupertahankan. Tarik napas, buang. Lantas aku memantapkan langkah untuk masuk ke dalam. Diikuti Fang yang masih mempertahankan wajah bingungnya. Aku mendengus geli. Wajahnya benar-benar lucu jika bingung. Ah tidak, apapun yang berkaitan dengannya selalu lucu di mataku.

Aku memanjat pagar kawat yang membatasi area belakang sekolah dengan area di belakang pagar tersebut. Kunaiki pagar itu dengan mudah, lalu melompat hingga akhirnya aku berada di balik pagar itu.

"Ayo Fang," ajakku.

Aku tahu betul, Fang semakin bingung dengan tingkahku yang semakin aneh. Aku pun sadar itu. Tapi aku merasa aku harus melakukan ini. Fang perlu tahu kebenaran yang selama ini terkubur dalam memoriku.

Bagi Fang, hanya perlu satu lompatan untuk melewati pagar kawat itu. Hanya butuh beberapa detik untuk menunggu Fang berdiri di sisiku.

"Ying, kita mau ngapa--"

"Kita sudah sampai." Aku segera memotong ucapannya.

Sebuah taman yang cukup luas terpampang di hadapanku. Pohon maple, kursi taman, air mancur yang masih mengucurkan airnya, ayunan yang tergantung di pohon, dan sebuah pondok yang nyaman. Kuhirup napas dalam-dalam. Suasana yang selama ini kurindukan akhirnya bisa kurasakan lagi.

Aku menatap Fang. Dan kurasa, dia juga mengagumi keindahan taman berkedok angker ini. Terlihat dari matanya yang sedikit berbinar, namun berusaha untuk tetap cool. Aku mendengus. Dasar pria sok populer.

"Kalau taman ini dibersihkan, mungkin bisa jauh lebih bagus lagi."

"Benar." Aku mengangguk menyetujui. "Dulu aku sering kesini setiap jam istirahat."

Kutolehkan kepalaku ke arahnya. "Dan mungkin kamu nggak tahu kalo dulu kita bersekolah di tempat yang sama."

Aku melangkah menuju pohon maple. Tak mempedulikan Fang yang menatapku dengan sorot bercampur aduk. Aku menggeser daun-daun kering yang menumpuk di sekitar pohon maple hingga aku menemukan lubang berukuran kecil. Kira-kira cukup dimasuki satu tangan orang dewasa.

Aku memasukkan tanganku ke dalam sana, lalu menarik tanganku kembali yang penuh dengan robekan kertas. Kuberikan secarik kertas padanya.

'Namanya Fang. Dia anak yang menggemaskan, tapi pendiam. Semoga aku bisa berteman dengannya.'

Fang tertegun. Aku memberikan secarik kertas yang lain.

'Ternyata dia lumayan judes, tapi penggemarnya banyak sekali. Aku ragu, apa aku bisa berteman dengannya.'

Kuberikan lagi secarik kertas yang ketiga padanya.

'Aku gagal menyelamatkan bekal Fang dari para murid laki-laki yang sekelas dengannya. Awas saja, kuadukan mereka nanti ke ibu guru.'

Kembali, aku memberikan secarik kertas lain ke tangannya.

'Puas sekali aku saat melihat mereka diceramahi bu guru. Rasain, siapa suruh jadi orang jahat. Sudah tahu itu tidak baik, malah dilakukan.'

Lagi, secarik kertas lain mendarat di tangan Fang.

'Aku masuk ke SMP yang sama dengannya. Masih seperti dulu, dia sendirian.'

Lagi.

'Fang, bisa tidak sih kau turunkan egomu sedikiiittt saja? Apa kau tidak ingin berteman denganku?'

Lagi.

'Fang pingsan. Sekarang dia di UKS. Apa dia tidak sarapan?'

Lagi.

'Hari ini aku memasakkan bekal untuknya, dibantu ibuku tentunya. Duh, semoga saja tidak beracun '

Lagi.

'Aku melihat dia berada di sebuah rumah kosong. Sendirian. Dengan wajah babak belur dan berlinang air mata. Tahukah kau Fang? Aku merasa sakit saat kau sakit.'

Lagi.

'Fang, bisakah kau memberikanku izin untuk masuk ke dalam hidupmu? Memberi warna pada kanvasmu yang berwarna kelabu?'

Lagi.

'Maafkan aku, Fang. Aku mendengar perdebatanmu dengan abangmu. Kau salah Fang. Kau pantas dicintai. Setiap orang dilahirkan untuk dicintai, termasuk kau, Fang.'

Lagi.

'Kau membuang bekal dariku, Fang. Apakah rasanya seberacun itu? Jika ya, aku bersyukur Fang . Lebih baik kau kelaparan daripada mati keracunan. Aku belum siap jadi tersangka.'

Dan lagi.

Fang membaca semua kertas yang disodorkan padanya. Wajahnya tersenyum, kadang tertawa.

Tapi matanya bersedih. Matanya mendung. Matanya menangis.

Kertas yang kusodorkan ternyata sangat banyak. Aku pun tak menyangka kalau kertas berisi curhatanku semenumpuk itu. Butuh waktu lama baginya untuk selesai membaca seluruh kertas itu.

Hingga akhirnya Fang terpaku pada secarik kertas yang terakhir.

'Fang, aku tak peduli dengan dirimu yang broken home. Aku tak peduli dirimu yang tak punya teman sama sekali. Aku tak peduli dengan dirimu yang buruk. Aku tak peduli. Karena aku akan selalu mencintaimu, sampai mati.'

Belum sampai disitu, Fang mendapat tumpukan kertas foto di pangkuannya. Lagi, matanya dibuat terbelalak saat melihat foto-foto itu.

Itu dirinya. Dari kecil, hingga dirinya yang sekarang. Dirinya yang dulu suka menyendiri di taman sekolah, dirinya yang sedang menulis, dirinya yang sedang melamun sambil melihat ke luar jendela, dirinya yang sedang berjalan-jalan di trotoar, dirinya yang sedang menangis di rumah kosong, dan masih banyak lagi.

"Ying, ini, ini.. ini apa..?"

"Fang. Ini jawaban untuk pertanyaanmu tadi."

Fang terdiam. Kurasa ia masih belum paham dengan semuanya. Semua yang terjadi.

"Fang, bagaimana bisa aku berpacaran dengan orang lain jika dari dulu aku selalu memperhatikanmu?"

Kurasakan degup jantungku mulai mengkhianati ritme sejatinya, kurasakan kehangatan perlahan menjalar ke pipiku, menghasilkan rona yang matang. Memang sulit mengungkap fakta --memalukan-- yang selama ini kusembunyikan, tapi Fang harus tahu kebenarannya.

"Dari dulu, aku tidak pernah ingin berharap tinggi. Bisa berteman saja, itu sudah cukup. Namun sekarang, aku bisa memilikimu. Rasanya seperti mimpi." Aku menatapnya dengan sorot lembut. Kuulas sebuah senyuman manis. "Dan aku tidak mau terbangun dari mimpi itu."

Aku mencium jari telunjuk dan tengahku, lalu menempelkannya di kening Fang.

"Aku mencintaimu, Fang."

--Ying

Thanks for having you in my life.

~

~

~~~

~

~

TBC

Okay guys.

Setelah melalui pertimbangan, akhirnya kuputuskan untuk membuat work ini menjadi cerita berchapter. Maaf kalo part ini agak berlebihan, karena moodku mendadak galau tanpa alasan.

Aku juga memutuskan untuk membuat hingga lima chapter saja. Karena ini bukan cerita bersambung, tapi hanya sepenggal kisah romansa antara Fang dengan Ying. So i decided not to make it much.

Regards,

AthenaAD