Yoongi stress.
Akhir-akhir ini Jimin semakin manja dan semakin berani. Bahkan ketika Seokjin melihat wajahnya kuyu dan bertanya kenapa–Yoongi hanya bisa menjawab seadanya.
Mana mungkin dia menjawab "Aku selalu kepikiran Jimin yang sedang telanjang dan menari-nari di atas tubuhku."
Heol, Seokjin pasti akan mendamprat Yoongi dengan spatula miliknya, dan memaksa Jimin agar tak sekamar lagi dengannya.
Setidaknya sampai mereka menikah. Hell! Holyshit! Hello bitches! What the fu–, satu malam tanpa Jimin dalam pelukannya sudah amat menyiksa.
Mungkin kalian punya saran untuk Yoongi–bagaimana cara menjinakkan kucing liar?
Happy reading and sorry for typos!
.
.
.
"Min Jimin!"
Untuk pertama kalinya Yoongi menyesal karena telah membeli apartemen yang terlalu besar. Ia terlalu malas bergerak. Namun karena Jimin yang sedang ingin bermain hide and seek dengannya, terpaksa ia harus menelusuri keseluruhan apartemennya pagi ini.
"Kalau aku mendapatkanmu, jangan salahkan aku yang akan mengikatmu di ranjang! Bukan–aku akan menelanjangimu, dan menggagahimu di ruang makan, kamar mandi, jalan raya, bahkan di depan orangtuaku nanti sekalipun, astaga!" Yoongi hampir kepleset karena mengomel tanpa menyadari Seokjin sedang mengepel ruang tamu.
"Bagus sekali, Min Yoongi. Kurasa kau bisa mulai belajar menjadi bapak rumah tangga?" Sinis Seokjin yang menunjuk bekas jejak kaki Yoongi di atas lantai yang masih lembab.
"Ah, Seokjin-ah," Yoongi menggaruk kepalanya, "Apa kau bertemu dengan Jimin?"
Seokjin kembali melirik Yoongi sebelum mengepel lagi, "Kalau kau bertanya padaku dengan maksud mengerjai Jimin seperti yang kau katakan tadi, yah… Aku tak ingin kau menyakiti pangeran kecilku. Jadi lupakan saja dan cari sendiri sana!"
Yoongi berdecak malas, "Kau pelit sekali hyung."
Seokjin membalas berdecak, "Kau memanggilku hyung kalau ada maunya, eoh? Pergi sana!"
"Astaga aku tak percaya Namjoon cinta mati padamu, hyung. Kalau dia tahu kau segalak ini pas–"
Tak!
Seokjin menggetok kepala Yoongi dengan gagang pel, "Dia menerimaku apa adanya, bodoh! Segalak apapun aku, paham? Kau juga harus seperti itu pada Jiminku!"
"Ya, Jiminmu." Sinis Yoongi sembari mengusap kepalanya. "Dimana Jiminku?"
"Kalau kau berniat menger–"
"Demi Tuhan, hyung! Aku hanya ingin membahas kunjungan kami ke rumah orangtuaku akhir pekan nanti!"
Seokjin menatap Yoongi dari atas sampai bawah, kemudian tertawa kencang. "Aku tak tahu, adikku yang manis–huek aku mual."
Yoongi membolakan matanya tak percaya. "Waktuku terbuang hampir sepuluh menit hanya untuk berbasa-basi denganmu, Kim Sialan Seokjin!"
Dan Yoongi kabur begitu saja setelah mengatakan kalimat itu.
.
.
.
Jimin bersantai di lantai empat, dimana terdapat ruangan berisi koleksi makanan yang dibeli Yoongi untuknya. Mulai dari makanan ringan sampai makanan siap saji yang dibekukan, semuanya tersimpan apik di balik lima pintu kulkas raksasa di dalam sana.
Jimin membuka salah satu pintu kulkas, dan matanya berbinar senang ketika menemukan makanan kesukaannya –lemon flavored cheesecake dan original matcha ice cream.
Begitu mengambil dua menu favoritnya, Jimin berlari menuju sofa di ujung ruangan tersebut. Ia semakin senang begitu membuka kotak berisi lemon flavored cheesecake. Yum!
Setelah duduk, Jimin mengambil potongan besar cheesecake dan tersenyum. Tadinya ia tak sadar ada sticky note berukuran kecil tertempel di pinggir kotak. Jimin menatap lamat-lamat tulisan di atas sticky note tersebut.
Jiminie's favorite dessert.
Tulisan Yoongi begitu rapi. Ia membacanya berulang sambil melahap potongan cheesecake miliknya.
"Oh~ uri Jiminie bersembunyi disini ternyata, hm?"
Jimin tersentak, dan ia langsung memasukkan sisa potongan cheesecake kedalam mulutnya. "Wungwie?" Seru Jimin setengah menelan cheesecake.
"Hm?" Yoongi mengangkat Jimin dan mendudukkan si manis di atas pangkuannya.
Posisi yang berhadapan sebenarnya tak sehat untuk jantung Jimin. "Yoongie?"
Yoongi sudah lupa dengan rencananya untuk berdiskusi mengenai kunjungan ke rumah orangtuanya di akhir pekan.
Jimin mengenakan kaus putih oversized yang memperlihatkan bahu mulusnya dan hotpants sependek celana dalam. Mau tak mau Yoongi menelan salivanya berulang kali.
Jimin yang menyadari arah pandangan Yoongi pun terkekeh–ah. Jimin memiliki ide.
"Yoongie.."
Jimin memeluk Yoongi dan mencium-cium bibirnya.
"That's why I hate pecking so much, Jiminie." Geram Yoongi menginterupsi.
Yoongi menarik Jimin lebih dekat dan menyapu lembut bibir Jimin dengan lidahnya.
Aroma anggur dari lipbalm yang Jimin pakai dan lemon bercampur, begitu menggoda hormon Yoongi untuk meledak kapan saja.
"Jiminie, could you help me to fix this fucking boner?" Yoongi membawa tangan kanan Jimin untuk meremas kejantanannya yang sudah begitu keras.
Yah~ Jimin tentu saja malu-malu mau. Niat hanya ingin menggoda Yoongi, malah langsung diajak bercinta.
.
.
.
Seokjin dan pasangan Yoonmin baru saja menyelesaikan makan siang mereka.
Yoongi kembali sebentar ke ruang kerjanya, sedangkan Jimin membantu Seokjin mencuci piring dan mengelap meja ruang makan.
"Yah, kenapa kakimu pincang, prince?" Tanya Seokjin khawatir.
Jimin sedikit malu untuk menjawabnya, "Uhm.. Itu.. Ah.." Jawabnya terbata.
Seokjin menautkan alisnya, "Dia benar-benar melakukannya?" Pekik Seokjin yang berlari ke belakang Jimin.
Puk puk puk
"Awh! Sakit, Seokjin-nim! Melakukan apa? Siapa?" Jerit Jimin keras begitu Seokjin menepuk bokongnya.
"Si bajingan itu benar-benar!" Geram Seokjin. "Padahal aku menepuknya dengan pelan, asal kau tahu, prince!"
Jimin yang pada dasarnya polos namun sudah sedikit ternoda oleh Min–Kotor–Yoongi, hanya memiringkan kepalanya dan menerka-nerka arah pembicaraan Seokjin.
"Jiminie, kau kenapa? Dimana yang sakit?" Yoongi keluar dari ruangannya dan berjalan cepat ke arah Jimin.
Aduh mati. Batin Seokjin.
"Namjoon mengajakku kencan. Aku keluar sebentar, prince. An–annyeong!" Seokjin terbirit meninggalkan keduanya.
Yoongi mengacuhkan Seokjin namun menatap bingung ke arah Jimin yang meringis tanpa suara. "Sweetie? Mana yang sakit? Tadi kau menjerit."
Jimin maju selangkah dengan tergopoh dan memeluk Yoongi, "Tidak ada, Yoongie. Seokjin-nim tadi memukul bokongku. Sakit sekali, ungh."
Yoongi melamun sebentar sebelum tersenyum mesum tanpa Jimin sadari, "Ah.."
"Un? Yoongie?" Jimin mengerjap bingung melihat tingkah aneh Yoongi.
Tiba-tiba saja Yoongi meraup bibir Jimin. Antara bingung dan takut, Jimin meronta dan sedikit meremat ujung lengan kemeja Yoongi.
Begitu Yoongi menahan tengkuk Jimin dan melesakkan lidah ke dalam mulutnya, Jimin menyerah dan akhirnya membalas lumatan demi lumatan yang dilancarkan Yoongi.
Sepertinya gampang untuk menaklukkan Jimin, eoh?
.
.
.
"Yoongie.. Bagaimana kalau Seokjin-nim pulang.."
Jimin menahan diri untuk tidak merusak meja makan yang sedang didudukinya. Namun rasa geli yang menjalar di sekujur perut membuat Jimin tak kuasa menaikturunkan tubuhnya.
"Yoongie.. Nanti mejanya patah.." Rengek Jimin yang sudah di ambang kewarasannya.
Yoongi semakin gencar menggoda Jimin, dan kini menyusu pada puting kanannya.
Jimin menggeleng kepalanya kasar dan memeluk erat tengkuk Yoongi, "Mmh.. Lagi, Yoongie.." Desah Jimin begitu Yoongi menggesekkan gigi pada putingnya.
Yoongi mengecup pucuk dada Jimin yang membengkak kemudian mengusap lembut peluh yang sudah membanjiri tubuh Jimin.
"Yoongie, nanti mejanya benar-benar patah!" Jimin memekik begitu Yoongi menurunkan hotpantsnya.
"Sssh, Jiminie, I've promised to myself to fuck you everywhere."
Yoongi menurunkan celananya dan melesakkan penisnya ke lubang Jimin yang sudah basah.
"Mh, it feels like home, Jiminie."
.
.
.
Jimin duduk setengah mengantuk di atas bangku ruang makan.
Entah Yoongi yang terlalu berstamina, atau memang tubuh Jimin yang butuh istirahat. Rasa pegal di sekujur tubuhnya ditambah lagi nyeri pada bagian bawahnya. Jimin mengerang tak nyaman begitu Yoongi mengusak kepalanya.
"Jiminie, apa aku terlalu.. Kasar?" Yoongi berjongkok untuk mensejajarkan wajah mereka.
Jimin menyender pada bahu Yoongi, sedangkan tangannya terjatuh bebas di samping tubuhnya. "Pegal sekali, Yoongie…"
Yoongi bersalah, tentu saja. Siapa lagi tersangka utama yang berani mengobrak-abrik Jimin sampai selemas itu kalau bukan Yoongi?
Tapi… Siapa suruh tubuh Jimin semontok itu?
Yoongi tersadar dari lamunannya begitu Jimin menggerakkan tubuhnya gelisah.
"Tidur ya, sweetie. Aku tahu kau lelah." Bisik Yoongi. "Maafkan aku, kau pasti kesakitan."
"Gendong aku kalau kau menyadari kesalahanmu, Yoongie."
.
.
.
"Mmmh, hmmh.." Jimin menahan gejolak tak menyenangkan yang terus menerjang perutnya.
Yoongi sedang tidur dan memeluknya. Kalau Yoongi terbangun bagaimana?
Jimin menghempaskan kepalanya berulang kali ke kepala ranjang.
Jimin menangis dalam diam dan menggeleng kuat. Sakit sekali.
Yoongi tersentak kecil, "Jimin? Jiminie?" Panggil Yoongi sembari menggoyang pelan bahu Jimin.
Jimin langsung mendorong Yoongi dan menyeret paksa kakinya yang pegal hingga tiba di kamar mandi.
"Jiminie?" Yoongi mengusap punggung polos Jimin dari belakang. Menatap sedih Jimin yang berusaha memuntahkan isi perutnya.
"Ugh.." Jimin mengerang sebelum kembali muntah-muntah.
"Sial.. Tidak ada yang keluar, Yoongi.. Padahal perutku kram. Hiks.." Isak Jimin kemudian mencuci mulut dan menghambur dalam pelukan Yoongi.
Yoongi menggendong Jimin bridal, mengecup pucuk hidungnya dengan penuh kasih sebelum membaringkan Jimin ke atas ranjang.
"Akan aku panggilkan dokter untukmu. Selama kau bersamaku, aku tak akan membiarkanmu terluka, Min Jimin."
.
.
.
"Whoa. Ini benar-benar keajaiban yang hakiki."
Jeon Jungkook, berprofesi sebagai dokter pribadi keluarga Min, sedang menatap takjub pasangan belok di depannya–sudah berpakaian, tentunya.
"Jangan bertele-tele, Jeon. Calonku sedang sakit apa?" Tanya Yoongi.
Jimin menatap takut Jungkook. Namun Jungkook hanya nyengir dan tiba-tiba menyalami Yoongi dengan brutal.
"Selamat, Tuan Min yang Agung! Percaya tak percaya, Pasien Park Jimin sedang hamil!" Ujar Jungkook dengan menggebu-gebu. "Tuan Min topcer juga rupanya!"
Jimin dan Yoongi sama-sama terbelalak. "Jiminku sedang hamil?" Seru Yoongi antusias.
"Yah, melihat ciri-ciri kondisinya yang jauh dari kata meriang dan sejenisnya, aku bertaruh dia hamil. Bagaimana kalau Tuan membawanya ke rumah sakitku pada akhir pekan?"
Yoongi mengerutkan alisnya. "Tapi aku akan membawanya untuk menemui orang tuaku, Jeon. Sedikit sore tak masalah, kan?"
Mata Jimin sudah akan keluar dari sarangnya, menemui orang tua Yoongi?
"Tentu saja. Aku mengabdi padamu, Tuan Min." Ujar Jungkook membungkuk hormat.
"Bagus sekali. Terimakasih, Jeon. Kau boleh pulang."
"Baik, Tuan Min. Oh, ya! Jangan lupa makan vitaminnya, Jimin. Itu akan merilekskan tubuhmu dan juga meredakan rasa mual." Peringat Jungkook. "Dan selamat untuk kandunganmu, Jimin." Seru Jungkook sebelum melenggang pergi.
.
.
.
Jimin melotot dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Sifat asli Jimin keluar lagi, heol.
"Jiminie. Kendalikan emosimu, oke? Nanti anak kita galak sepertimu, bagaimana?"
Jimin menendang lutut Yoongi kesal. "Memangnya Yoongie tidak galak?"
"Ya.. Setidaknya anakku bersarang di perutmu, cintaku. Jadi gen galakmu akan menurun padanya." Ujar Yoongi enteng.
"Yak!" Jerit Jimin dan kembali menendang Yoongi dengan brutal.
Jimin melompat dari atas kasur begitu Yoongi turun untuk menghindari tendangannya.
"Jiminie, demi Tuhan! Jangan lasak atau anak kita ikut melompat-lompat di dalam perutmu!"
Jimin merengut dan siap menangis namun Yoongi langsung menghampirinya, memeluknya erat.
"Jiminie.. Maaf. Tapi aku ingin melindungi anak kita."
Jimin mengangguk dalam pelukan Yoongi, dan menyembulkan kepalanya menatap Yoongi yang menunduk, membalas menatapnya lembut.
"Yoongie akan menjaga aku dan aegy kan? Aku tidak akan dicampakkan, kan?"
Yoongi mengusel pipi Jimin dan menggeleng.
"Aku akan menjagamu dan baby Min. Aku siap membawamu pada orang tuaku. Bertanggung jawab atas kau dan anakku. Mungkin dunia dan orang tuaku akan menolak," Ujar Yoongi dengan sungguh-sungguh, membuat Jimin bergetar. "Tapi itu sumpahku padamu, Min Jimin."
.
.
.
TBC
Maaf kalau chapter mengecewakan atau kurang ngena, tapi nchu lagi g ada ide cemerlang utk scene chapter ini (?) Dan kalau nchu ngaret, maafkan ya heuheu. Pihak sekolah melunjak, ini aja kerjain makalah sambil ngetik ff huhu /curhat. Tapi nchu janji bakal kelarin ff satu persatu.
See ya!
Regards, nchu
