Tepat pada hari Sabtu, sepagi mungkin Yoongi mengajak Jimin keluar dari apartemen. Ia ingin menemui orang tuanya dan segera mengikat Jimin menjadi miliknya.

Jimin gugup setengah mati. Memang, cinta Yoongi tak perlu dia ragukan. Tapi ia amat bimbang.

Tidak semua orang bisa menerima hubungan sejenis.

Tak sadar Jimin meremas kuat tangan Yoongi dengan tangannya yang berkeringat.

"Jiminie, tanganku bisa mengecil kalau kau terus meremasnya seperti ini."

Jimin masih diam dan melonggarkan remasannya pada tangan Yoongi.

"Aku gugup, Yoongie. Aku tak bisa menemui mereka. Kalau mereka tak menyukaiku bagaimana? Aku–"

"Jangan katakan bahwa kau akan menyerah. Kita akan berjuang, Jimin. Kita, kau dan aku."

Yoongi mengecup bibir Jimin, menyalurkan cinta dan energi untuk Jimin disana. Setelah melepas ciuman, Yoongi menatap Jimin penuh harap.

"Baiklah, kau dan aku, Yoongi. Aku siap untuk berjuang bersamamu."


Happy reading and sorry for typos!

.

.

.

Jimin bisa menyimpulkan bahwa Yoongi itu sangatlah kaya. Tidak tidak, mungkin ayah atau ibunya memiliki darah chaebol atau sebenarnya Yoongi memiliki sindikat mafia terselubung yang tidak Jimin ketahui (sebenarnya Jimin meragukan ini, namun apa salahnya menebak?).

Semakin jauh Jimin melangkahkan kakinya di dalam mansion Yoongi, ia semakin merasa bahwa dirinya sama sekali tak pantas menyandang marga Min di depan namanya kelak.

"Aku kira kau akan melupakanku, Yoongi-ah.."

Jimin dan Yoongi sama-sama menoleh ke belakang, dan Jimin langsung membungkukkan tubuhnya begitu melihat seorang wanita dengan anggunnya melangkah mendekati mereka.

"Jagi, kau tak harus membungkuk. Tegaklah!" Seru wanita itu.

Jimin langsung menegakkan tubuhnya namun ia menegang. Yoongi mengelus berulang pundak Jimin agar tidak gugup.

Padahal ia sendiri juga gugup.

"Yah, aku tak akan melupakan siapa yang melahirkanku, Min Jooyeon."

Jimin mencubit lengan Yoongi sekali, "Tak sopan, Yoongie. Dia ibumu!" Bisik Jimin dengan geram.

"Jangan bilang kalau kau sedang membawa calon menantuku?" Tebak Jooyeon mengabaikan betapa kurang ajarnya Yoongi. "Ngomong-ngomong, dia manis dan sopan sekali, anakku."

"Siapa calon menantuku?" Teriak suara dari dalam sebuah kamar.

.

.

.

Min Jiyong, sang pemilik mansion, menelisik wajah kedua orang yang berusaha menghindari tatapannya.

Jooyeon berdehem mencairkan suasana, "Yah, jangan membuat calon menantu kita ketakutan, Jiyongie!"

Jiyong menaikkan sebelah kaki di atas singgasananya, kemudian menatap lekat Jimin lagi.

"Jadi, katakan. Sudah berapa kali Yoongi membobolmu?"

Jimin menegang dan melirik Yoongi dengan maksud aku harus menjawab apa?

"Appa, pertanyaan macam apa itu?" Protes Yoongi.

Namun Yoongi pun terdiam begitu tatapan sang ayah begitu berbahaya, memperingati Yoongi untuk diam saja.

"Saya.. Saya tidak bisa menghitungnya, Tuan Min.." Gagap Jimin.

"Berapa kali Yoongi menyentuhmu?"

"Itu juga, saya tidak bisa menghitungnya, Tuan Min.." Bisik Jimin semakin ketakutan.

Pletak!

Jiyong melempar sebelah sandal rumahnya tepat di wajah Yoongi. "Berani-beraninya kau! Maksudmu kau akan menikahi calon menantuku yang akan pincang permanen karena ulahmu? Begitu, Min Yoongi?"

Yoongi bergumam menyumpahi sang ayah tanpa suara, sedangkan Jimin mulai memberanikan diri untuk menatap Jiyong secara terang-terangan, namun itu sungguh menggemaskan di mata Jiyong.

Jiyong memberi gestur pada Jimin agar datang padanya, "Sini, anak papa yang malang."

Jimin menurut. Begitu mendekat, Jiyong menarik tangan Jimin untuk duduk di atas pangkuannya. "Anak papa, katakan, siapa yang lebih mempesona? Aku atau anakku yang mesum itu?"

"MIN JIYONG!" Koor Jooyeon dan Yoongi tak terima.

.

.

.

Jimin masih di atas pangkuan Jiyong dengan Yoongi yang duduk di lantai sebelah singgasana sang ayah dengan wajah suram. "Tuan Min, saya berat." Cicit Jimin.

"Ralat, aku appamu, nak." Ujar Jiyong dan menatap sinis Yoongi yang langsung membalas menatapnya kesal.

"Appa, eomma saja sudah cukup, oke? Jangan goda kekasihku!"

Jooyeon geregetan sendiri di tempat duduknya. "Jiyongie, dengarkan kata anakmu!"

Jiyong menatap tajam Yoongi dan Jooyeon bergantian, "Demi Tuhan, kalian cemburu atas hubungan mertua dan menantu?"

Yoongi mendengus, "Masalahnya, menantumu itu sedang duduk di atas pangkuanmu, appa!" Geram Yoongi. "Jiminie, turun saja dan duduk sini!" Seru Yoongi yang menepuk kedua pahanya yang sudah dalam posisi bersila.

Jimin melirik Jiyong di belakangnya untuk mendapatkan persetujuan. "Bolehkah.. Appa?"

"Aww! Kau dengar itu, Jooyeon? Begitu saja dia sudah menggemaskan. Bagaimana kalau kau coba memanggilku daddy?"

"Sudahlah appa!" Geram Yoongi tak sabaran. Ia berdiri dan langsung menarik Jimin dari sang ayah dengan menggendongnya.

"Aku akan memandikan Jimin, jangan mencari kami!"

.

.

.

"Yoon–nghh.. Jangan memulainya, ini di rumah orang tuamu!" Jimin mengerang begitu Yoongi menyerang tubuh polosnya dengan ciuman bertubi-tubi.

Yoongi mengerjit namun menurut. Setelah membubuhkan satu tanda kecil di bahu Jimin, Yoongi pun menggendong Jimin ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.

"Well. Jadilah anak baik, dan jangan coba-coba menggodaku. 'kay?"

Jimin mengangguk tapi ia terus memandangi Yoongi yang sedang memandikannya dengan cekatan.

"Hm, aku tahu bahwa aku lebih mempesona dibandingkan appa, heum?" Goda Yoongi sembari memijat bokong Jimin.

Jimin mendelik dan meremas kedua tangan Yoongi yang menggerayangi belakang tubuhnya, "Tidak, dan kau–nakal sekali, Yoongie."

Yoongi menghimpit Jimin di ujung bathub dan melesakkan kepalanya pada ceruk leher Jimin, "Teruslah mengelak. Dan aku ingin bercinta denganmu sebentar saja, Jiminie. Janji. " Parau Yoongi.

.

.

.

"Tidak bisakah kalian menginap? Aku masih ingin mengenal calon menantuku lebih dalam." Protes Jiyong begitu Yoongi mengatakan bahwa ia datang hanya untuk mengenalkan Jimin pada mereka.

"Masih siang, Yoongi-ya. Kenapa harus terburu-buru?" Melas Jooyeon.

Yoongi mendengus geli, "Yah, aku akan sering berkunjung, oke? Aku sibuk dengan calon pengantin dan anakku."

Jiyong membolakan mata, "Calon apa kau bilang?" Ujar Jiyong dengan raut wajah kaget.

Jimin sudah bersembunyi di balik tubuh Yoongi, takut jika Jiyong marah setelah mengetahui ia sudah hamil sebelum mengikatkan janji suci dengan anaknya.

"Hm, calon anakku. Aku akan ke rumah sakit Dokter Jeon."

Jooyeon maju dan menatap tajam Jimin, "Kau yakin itu cucu kami? Apa kau sudah berhu–"

"Jangan coba-coba menuduh Jiminku, eomma." Desis Yoongi, "Seks pertamanya adalah denganku, dan aku menyetubuhinya tiap malam. Maka aku dengan senang hati membawa Jimin ke hadapan kalian. Kalau kalian tak senang, aku tak peduli. Tapi aku akan segera menikahinya." Jelas Yoongi dengan nada mengancam. "Ayo pergi, Jiminku. Jangan takut."

Jimin mengikuti Yoongi dari belakang dengan takut-takut, tak lupa permisi dengan orang tua Yoongi tanpa suara.

"Siapa yang tak senang?" Interupsi Jiyong dari belakang mereka yang baru saja akan keluar dari pintu utama. "Cepatlah bawa calon menantuku kembali, dan.. Jika kau mengizinkan, bawalah foto cucuku bersama kalian."

Yoongi berbalik sebentar, menggumamkan terimakasih dengan sangat pelan, kemudian kembali lagi dengan membawa Jimin dalam rengkuhannya.

.

.

.

"Yoongie, aku sudah tak sabar!" Rengek Jimin yang bergerak gelisah di bangku mobil.

Yoongi mengacak surai Jimin dan berusaha untuk tidak menggigit gemas sang terkasih, "Jiminie, jangan lasak, oke? Aku juga tak sabar. Tapi setidaknya jangan membuat anak kita tak nyaman." Jelasnya menenangkan Jimin.

Jimin menggerutu dan memandang ke depan dengan hidung berkerut sebal. "Lama sekali, Yoongie."

"Lama darimana, Jiminie? Bersabarlah. Kita sudah hampir sampai. Tak sampai lima menit."

Entah insting keibuan Jimin yang terlalu kuat atau sifatnya mendadak menjadi tak sabaran, Jimin kembali bergerak gelisah. "Aku ingin segera membawa foto anakku ke appa, Yoongie."

"Hem, ngomel terus. Lihatlah ke kirimu."

Jimin langsung melirik ke kaca mobil di sebelahnya dan matanya berbinar, mereka sudah sampai di rumah sakit!

"Cepatlah, Yoongie!" Pekik Jimin yang segera melepas seatbeltnya dan keluar dari mobil dengan antusias.

.

.

.

Sabar, Yoongi. Dia calon pengantinmu. Sabar. Yoongi merapalkan doa dalam hati untuk tidak menyerang Jimin sekarang juga.

"Jimin, ikut aku, oke? Kau bahkan tak tahu dimana ruangan Dokter Jeon."

Jimin masih larut dalam acara mari lihat-lihat betapa besarnya aset keluarga Min. Jimin sesekali menyapa para suster yang memberi salam padanya, atau beberapa pengunjung yang jelas-jelas menggodanya yang terlalu imut dalam balutan sweater berwarna navy blue dengan bagian depan yang bergambar hamtaro.

Dia bahkan tak tahu raut wajah Yoongi yang berubah menjadi amat dongkol. Ingin saja Yoongi meremas mata mereka yang menatap memuja Jiminnya.

"Tuan Min!" Jungkook berjalan cepat begitu melihat tuannya sedang berjalan menuju ruang operasi. "Lewat lift saja! Kita akan memeriksa keadaan Jimin, kan?"

"Tapi aku ingin berjalan-jalan, Dokter Jeon.." Cicit Jimin. "Akhir-akhir ini aku sering kelelahan. Mungkin aku butuh olahraga untuk kesehatanku dan anakku. Aku mulai jarang berolahraga karena tuanmu yang pelit ini."

Yoongi memeluk Jimin dari belakang, "Ikut saja Dokter Jeon, Jiminie. Nanti malam kita akan berolahraga." Bisiknya. "Ayo, Dokter Jeon." Perintah Yoongi tak peduli wajah Jimin yang memerah padam.

.

.

.

Jimin diberi segelas air kemudian berbaring di ranjang ruangan pribadi Jungkook. Mungkin sudah dihimbau Yoongi sebelumnya, karena semua alat sudah tersedia dalam ruangan itu.

"Rileks, Jimin." Ucap Jungkook yang sedikit menaikkan sweater Jimin kemudian menempelkan transducer di atas perut Jimin dengan hati-hati.

Yoongi menggenggam tangan Jimin dengan erat, agar Jimin tahu ia tak akan pergi kemanapun tanpanya.

"Lihat, Jiminie. Anak kita." Bisik Yoongi tepat di telinga Jimin.

Jimin sedikit memanjangkan kepalanya untuk melihat layar USG, dan ia bergetar hebat.

"Jimin benar-benar hamil. Lihat, ia masih seperti kacang." Jelas Jungkook singkat yang menunjuk sesuatu yang sangat kecil pada layar USG dengan tongkat. "Yang jelas, itu bukan tumor. Itu janin, Jimin."

Jimin mengangguk dengan mata berkaca-kaca, "Aku melihatnya, Dokter. Dia begitu kecil." Serak Jimin.

Yoongi duduk di pinggir ranjang dan membawa Jimin dalam pelukannya. "Dan kelak dia akan membesar dalam perutmu, Jimin. Jagalah anak kita untukku, untuk kita. Heum?"

Tak tahan dengan suasana yang mellow, Jungkook pun bersuara. "Jadi, bagaimana kalau kita mulai membuat program olahraga khusus untuk ibu.. Hamil?" Jungkook mengerutkan keningnya. "Atau ayah hamil?"

"Tapi Jeon–"

"Intinya jangan coba-coba bermain dengan kasar pada calon ibu, kalau bisa tahan saja nafsumu sampai sembilan bulan lewat dua hari. Atau kegilaanmu itu akan berpengaruh buruk pada janin!" Tegas Jungkook menatap tuannya dengan tajam.

Jimin menyengir dengan sangat manis, dengan Yoongi yang merasa hidupnya akan sengsara sejak saat ini juga.

.

.

.

3J UKE SQUAD BONUS

ENJOY!

–JIMIN SANG PENGGODA ULUNG

Yoongi menggigit bibirnya geram. Sejak Jungkook memberi himbauan agar tidak melakukan seks dengan Jimin, Yoongi harus menahan hormonnya mati-matian agar tidak menyerang Jimin yang terus menyiksa birahinya.

Seperti sekarang, Jimin sedang menindih Yoongi dengan tubuhnya yang dibalut pakaian serba terbuka. Dengan french maidy costume berwarna hitam (andalan Jimin untuk terlihat panas di depan Yoongi) dan strippy stocking selutut berwarna merah dengan pita kecil berwarna pink untuk menambah kesan imut Jimin (sejujurnya Jimin semakin seksi dengan stoking berpita itu).

"Jimin, aku mohon. Astaga."

Jimin terkekeh dan membubuhkan kecupan kupu-kupu pada sudut bibir Yoongi, "Sembilan bulan lagi, dad. Setelahnya kau bisa mengikatku dan mencambukku, sepuasnya."

Yoongi menggeram pelan dan memeluk sang kekasih. "I'm suffering, Jiminie. But your offer seems worth."

Yoongi bersumpah ia tak melupakan pekerjaannya, namun bergelung dalam selimut bersama orang terkasihmu selama seharian penuh tampaknya boleh juga.

–JINNIE OH JINNIE

Jin disekap dalam rumah Namjoon selama beberapa hari lantaran Namjoon tak sanggup lagi menahan kerinduan pada sang terkasih yang lebih tua tiga tahun darinya.

Bukannya bercinta, Jin malah ngambek dan selalu ketus setiap Namjoon berusaha mendekatinya.

Kecuali dalam urusan makanan, Jin akui ia tak bisa menolaknya. Namjoon lumayan dalam hal memasak walaupun sering berakhir dengan dapur yang rusak parah karena ulah sang pemilik rumahnya sendiri.

"Besok hyung sudah boleh balik ke rumah Yoongi hyung, bagaimana?" Tawar Namjoon saat Jin masih tak ingin melihat wajahnya.

Jin otomatis menoleh, "Kau serius, Joonie? Akhirnya aku bisa memanjakan pangeran kecilku!"

Namjoon tersenyum mesum. "Sebelum hyung pergi, bisakah kita bercinta sebentar? Kangen, hyung."

Jin kembali dalam mode garangnya. "Don't even touch me, I'm sensitive, Joonie!"

Hmm.. Tapi itu kode atau larangan, Jinnie?

–JEON'S FLIRTY PATIENT

"Anak ini benar-benar!"

Pria di depannya nyengir kotak, begitu terpesona dengan dokter di depannya saat ini.

"Serius, Dokter. Jantungku berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya begitu melihatmu."

Itu Kim Taehyung, pemilik senyum kotak yang menggombali Jungkook barusan.

"Kalau begitu cari dokter lain, Pasien Kim. Mungkin aku malah menjadi sumber penyakit anehmu, bukan dokter penyembuhmu." Jelas Jungkook yang ingin membakar Taehyung hidup-hidup.

Taehyung menggeleng tak setuju. "Tapi tugas dokter adalah menyembuhkan pasien."

Jungkook bersungut-sungut, "JANGAN BUANG WAKTUKU, KIM TAEHYUNG!"

Hum, fyi, Jungkook dan Taehyung pernah menjalin hubungan, namun hubungan mereka sudah pupus.

Kita lihat saja nanti bagaimana cara Taehyung menaklukkan Jungkook, sekali lagi.

.

.

.


TBC

Tugas oh tugas~ makin hari makin numpuk. Untung aq kuat.

Disempetin update kl emang ad waktu senggang ehe~

Kaget ga sih, tiba-tiba ortu yoongi nerima jimin gitu aja xD but actually yes, aku ga mau terlalu banyak konflik di ff ini, malah berbelit dan berujung writers block ;_;

I UWU YOU SOMAC READERNIM ~ baik yang rajin review ato nge-kritik saran *bow* maupun siders *bow again, kalian tetap nyempetin buat singgah dan baca ff sampah ini :")

See ya!

Regards, nchu