"Kepada Saudara Min Yoongi,bersediakah Anda menjadikan Park Jimin sebagai issuami Anda, dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, dan pada saat sehat maupun sakit?"

"Ya, saya bersedia."

"Kepada Saudara Park Jimin, bersediakah Anda menjadikan Min Yoongi sebagai suami Anda, dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, dan pada saat sehat maupun sakit?"

"Ya, saya bersedia."

"Dengan begitu, pada hari ini, tepatnya tanggal 13 Oktober 20XX, atas kesaksian Tuhan dan para hadirin yang hadir di pernikahan ini, kalian telah disahkan sebagai pasangan sehidup semati."


Happy reading and sorry for typos!

.

.

.

"Kau masih tak ingin membawa menantu dan cucuku kemari, Min Yoongi?" Jiyong berujar tak senang di ujung telepon ketika Yoongi menolak membawa Jimin ke rumah utama mereka.

Jimin bersungut-sungut dan merampas ponsel Yoongi, "Appa, Yoongie memang jahat sekali." Jimin menjulurkan lidah ke arah Yoongi dan melanjutkan obrolan dengan Jiyong. "Appa, perutku sakit. Sepertinya aegy marah pada ayahnya."

"Aku tak bisa membawanya pada Appa, Jimin sudah menjadi hakku!" Yoongi mendengus dan melirik sinis Jimin.

"Sejagad raya juga tahu kalau Jimin milikmu. Tapi kau anakku, jadi aku juga berhak atas menantuku. Cepat katakan, kapan kalian akan datang?"

"Dasar tukang ngadu." Bisik Yoongi kemudian mencium bibir Jimin. "Appa, kapan-kapan kami pasti datang. Tapi ini masih pagi. Jadi biarkan pengantin baru beristirahat dulu, oke? Kututup."

Yoongi menatap lembut Jimin, dan kembali membawa Jimin dalam ciumannya yang memabukkan.

"Jiminie kangen disentuh Yoongie.." Ujar Jimin di sela ciumannya.

.

.

.

Jimin berguling bosan di atas ranjang, kemudian menaiki tubuh Yoongi, dan ia kembali berguling di sebelah Yoongi dengan wajah tak santai.

"Katanya cinta. Tapi Yoongie sudah tak mau bercinta dengan Jiminie. Berarti Yoongie tak cinta Jiminie."

Yoongi tidak tidur, namun ia masih memejamkan mata menghiraukan Jimin.

"Yoongie, celanamu kembung. Ayo main!" Rengek Jimin menarik-narik jeans Yoongi, namun tangannya dicegat oleh Yoongi.

"Biarkan aku tidur, Jiminie. Kau tak ingin melihatku marah, kan?"

Jimin menghempas tangan Yoongi dengan kasar. "Ya sudah! Aku naik taksi ke tempat Appa. Awas kalau kau mencariku!"

.

.

.

"Yoongie benar-benar tak mencariku.." Jimin sesenggukan begitu tiba di depan mansion sang mertua. Ia berjalan karena tak membawa uang. Padahal, dalam kondisi hamil muda Jimin seharusnya tak boleh kelelahan.

Dan efeknya Jimin rasakan sekarang.

"Appa, eomma.. Jiminie mau masuk. Perut Jiminie sakit.." Jimin mengadu pada gerbang mansion. Bagaimana Jimin bisa berteriak bahwa ia berada di depan gerbang? Jimin merasa bingung dan semakin lelah.

Haruskah dia kembali ke apartemen dalam kondisi terburuknya? Atau menyerah saja disini?

"Appa.." Jimin mengetuk lemah pintu gerbang sebelum tergeletak tak berdaya.

"Menantuku? Dia Jimin kami! Bawa Jimin padaku!"

.

.

.

Jooyeon mengurut dada dan perut Jimin, kemudian meletakkan kepala Jimin pada pangkuannya dengan perlahan.

"Jiyongie.. Bagaimana ini?"

Jiyong menatap marah Jimin kemudian beralih ke ponselnya. "Anak sialan. Makanya aku ingin Jimin tinggal bersama kita. Lihat, Yoongi tak becus merawat Jimin!"

Jiyong mengetik cepat sesuatu pada layar ponselnya, menimbang-nimbang akan menjalankan rencananya atau tidak.

"Jiyongie, kau memikirkan apa?" Tanya Jooyeon penasaran.

"Memberi anak kita pelajaran." Jawab Jiyong enteng dan menatap ke layar ponselnya kembali.

.

.

.

Dari: Appa

Jimin ingin kalian bercerai. Dia baru saja membawa surat cerai kesini. Kalian baru menikah! Apa-apaan ini?

Yoongi terbangun dari ranjang dan membaca berulang pesan yang dikirimkan Jiyong padanya.

"Tidak, Jimin tak mungkin bisa lepas dariku semudah itu, Appa." Desis Yoongi dan mengirimkan pesan suara tersebut ke ayahnya.

Jiyong, kau baru saja membangkitkan iblis dari dunianya!

.

.

.

Jiyong mendengar pesan suara dari Yoongi kemudian panik.

"Jooyeon. Gawat. Kita harus segera ke dokter Jeon. Yoongi marah!"

Jooyeon ikut-ikutan panik dan menggoyang pelan tubuh Jimin. "Ayo sayang, kita harus bersiap-siap. Kita cek kondisi kandunganmu, kemudian akan menjagamu dari Yoongi. Kau tak perlu takut!"

Jimin baru saja terbangun, sedikit mengedipkan matanya dan hampir terjatuh karena tangannya sudah ditarik oleh Jooyeon. Dia bahkan tak tahu apa yang dikatakan oleh Jooyeon sebelumnya.

"Jiyong, kau bilang apa pada Yoongi? Jangan bilang–"

"Maafkan aku! Tapi kita harus bergerak cepat, Jooyeon." Jiyong membuka gerbang rahasia dari belakang mansion, kemudian menghidupkan mesin mobilnya. "Cepat masuk!"

Saat mobil Jiyong melaju menjauhi mansionnya, saat itu pula mobil Yoongi tiba di depan pintu gerbang utama.

.

.

.

"Kondisi kandungannya baik-baik saja, Nyonya Min." Kata Jungkook. "Tapi, aku melihat sedikit lecet pada lengannya. Apakah Jimin terjatuh?"

Jimin mengangguk pelan dan merapat pada Jooyeon. "Eomma, Yoongie tak cinta lagi pada Jiminie. Yoongie tak mau bercinta sama Jiminie. Makanya Jiminie datang.." Adu Jimin yang masih tak tahu apa yang akan terjadi padanya.

"Tak mau bercinta? Itu aneh." Gumam Jooyeon. "Jungkook, setahuku pada trisemester pertama, seks rutin akan berpengaruh baik pada kandungan. Apakah kau mengatakan sesuatu pada Yoongi?"

"Saya memang melarangnya, Nyonya. Dilihat dari sifat Tuan Yoongi, dia bahkan bisa membuat posisi janin berubah. Itu tak baik untuk kondisi uke langka seperti Jimin." Jelas Jungkook disambut dengan anggukan paham oleh Jooyeon.

"Pantas saja. Yoongi tak ingin membahayakan kalian berdua, sayang." Ujar Jooyeon lembut. "Tapi, Yoongi pasti akan paham dan menurut pada Jimin untuk pelan-pelan. Kasihan sekali Jiminku, Jungkook."

Jungkook menggaruk ujung dagunya. "Kalau begitu, aku akan mengeluarkan surat pernyataan untuk mereka, Nyonya. Maafkan aku." Ucap Jungkook tak enak hati.

"Tak apa-apa. Tolong cantumkan bahwa mereka boleh berhubungan asalkan pihak dominan akan memperlakukan submisif dengan lembut. Kalau tidak, pihak dominan akan menerima konsekuensinya. Yaitu orang tua dari pihak dominan akan mengambil hak penuh dominan atas submisifnya."

"Haruskah sedetil itu, Nyonya?" Tanya Jungkook. Namun ia kembali menulis begitu mendapat tatapan mematikan dari Jiyong.

Mata Jimin berbinar begitu surat dari Jungkook dimasukkan ke dalam amplop kuning dengan rapih. "Untukmu dan suamimu." Ucap Jungkook.

"Terimakasih, Dokter Jeon." Ujar Jimin riang.

"Kalau begitu, kami pamit dulu. Ini sudah sore." Ucap Jiyong tenang namun gusar. Dengan terburu-buru, Jiyong membuka pintu ruang kerja Jungkook.

Oh Tuhan..

"Jimin, maafkan Appa." Ujar Jiyong pelan begitu melihat Yoongi sudah menatap Jimin dengan raut tanpa emosinya.

Jimin bingung. Maaf untuk apa?

.

.

.

Jimin membolak-balik amplop yang diberikan Jungkook sambil tersenyum-senyum. Namun tidak dengan Yoongi. Ia mengira itu adalah surat cerai yang dimaksud Jiyong.

"Turun!" Perintah Yoongi begitu mereka tiba di depan apartemen. Karena terlalu senang, Jimin bahkan tak menyadari nada bicara Yoongi yang berubah sejak di rumah sakit.

Jimin membuka pintu apartemen dan berlari riang menuju kamar, kemudian meletakkan amplop di atas nakas.

"Senang, huh?" Sinis Yoongi.

Jimin semakin melebarkan senyumnya. "Dan terimakasih sudah menjemputku, Yoongie. Aku sudah tidak sabar–"

Yoongi mendorong Jimin hingga Jimin setengah tertindih oleh tubuh Yoongi. "Hah.. Tidak sabar, hm? Aku juga tidak sabar."

Jimin terkejut. "Kau sudah tahu isi surat itu, Yoongie? Yoongie jjang!" Jimin mengeratkan pelukan pada Yoongi, kemudian mengecup bibir Yoongi berulang.

Yoongi geram dan meraup bibir Jimin hingga tak bersisa. Lidahnya yang lihai mengeksplorasi deretan gigi Jimin, kemudian kedua benda lunak itu bertemu dalam perang yang menggairahkan.

Mereka saling menyamankan posisi kepala dan tubuh, dengan Yoongi yang semakin gencar menjatuhkan Jimin dalam jurang kenikmatan yang diciptakannya.

Jemari Yoongi menyusup di balik kaus Jimin, meraba kulit halus sang terkasih dengan tak sabaran, dan meremas pinggang Jimin dengan kasar.

Yoongi menyudahi ciuman mereka dan menatap dalam Jimin yang tersenyum tipis. "Yoongie, kau belum baca suratnya. Kau seharusnya baca kalau–"

"Untuk apa dibaca, Jiminie? Begitu inginnya kau terlepas dariku? Hanya karena aku tak ingin menyentuhmu?"

Alis Jimin tertaut bingung. "Yoongie.." Jimin merapikan surai Yoongi yang setengah menutupi netra Yoongi. "Aku benar-benar mencintai Yoongie. Aku tahu Yoongie tak mau bercinta denganku karena tak ingin melukai uri aegy." Ujar Jimin malu-malu dan tangan gemuknya bermain di dada Yoongi.

"Kalau kau sudah tahu, kenapa kau mengajukan surat cerai, Min Jimin!" Bentak Yoongi ketika ia rasa Jimin tak merasa bersalah sama sekali.

Jimin terkejut lagi dan meraba nakas di dekatnya. "Kau mengigau, Yoongie. Kau aneh." Jimin sedikit mengoyak amplop dan memberikan surat dari Jungkook untuk Yoongi. "Baca, Yoongie."

Yoongi merampas surat tersebut dari beranjak dari atas Jimin. Baru saja dibuka, Yoongi sudah membuang surat itu dan menatap Jimin dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Oh, Tuhan. Ini terakhir kalinya aku meragukanmu, Jiminie."

.

.

.

Jimin memekik. Yoongi menyatukan mereka dengan lembut, menyentuhnya dengan lembut, dan juga membawanya ke puncak dengan lembut.

Yoongi benar-benar berhati-hati. Padahal Jimin lebih menyukai seks mereka yang tak terkontrol.

"Yoongie.." Bisik Jimin. "Lebih kasar, dan aku tak akan mengatakan apa-apa pada appa dan eomma."

Setelah mendengar apa yang ingin ia dengar dari Jimin sendiri, Yoongi sedikit mengangkat tubuh Jimin dan kembali menyatukan dirinya dengan milik Jimin.

Tubuh Jimin terhentak-hentak begitu Yoongi menggenjotnya dengan tempo tanpa ampun. Tentu dengan mata mereka yang saling memandang dengan penuh nafsu dan cinta.

Mereka sama-sama menyukai percintaan yang kasar. Untuk apa bermain lembut, bukan?

.

.

.

"Prince! Aw, pangeranku memang manis sekali!" Jin datang ke apartemen tepat pukul tujuh malam, disambut dengan Jimin yang begitu imut dalam balutan piyama pororo berwarna hitam.

Yoongi memeluk posesif pinggang Jimin begitu Jin mendekat, namun lengannya dilepas oleh Jin. "Aku pinjam pangeranku." Ujar Jin cuek dan giliran Jin yang memeluk Jimin dengan posesif.

"Sopan sekali, Kim Seokjin. Kau bahkan tak mengatakan 'tolong', 'permisi', atau 'maaf sebelumnya'." Sindir Yoongi telak dan Jin hanya terkekeh sinis.

"Untuk apa, toh Jimin tak protes. Iya kan prince?" Jin mencari pembelaan pada Jimin dan untungnya disambut dengan anggukan menggemaskan Jimin.

Yoongi melirik Jimin hendak protes, namun ia terhenti dan menyeringai.

"Aku akan keluar bersama Namjoon. Kalian bersenang-senanglah."

.

.

.

"Dasi dan kain tipis, kau akan melihatku hanya memakai itu setelah mengijinkanku keluar dengan Seokjin hyung."

.

.

.


TBC

Yeu~ balik lagi dengan nchu~ ada yang kangen tida?

TIDAK! (jawab readers, huhu cuktaw)

Belum kelar ulangan sih, tapi nchu disini mau ucapin kaloooo

SELAMAT HARI ULTAH RI YANG KE 73! Merdeka! Yehet xD /apasi nchu, kamu gajelas

Pokoke, intinya nchu sayang sm readers semua. Yang rajin komen makasih loh, yang rajin baca diem-diem juga makasih loh. Acu senang kok karyaku dibaca. Setidaknya fiksi gaje ini dibaca entah layak dibaca atau tida layak, hehe./apasi pt.2

Tp sebenarnya acu bisa update dari kemarin-kemarin, kalo ga gila main game /kaboooor

Tapi tapii acu juga ada ngerjain sesuatu;_; jadi nchu mau masuk univ luar negri gitu, jd gitu deh. Mesti rajin, trus sering latihan, trus siap-siap utk ujian masuk ke univ luar, belum lg ulangan dan tugas tetek bengek, eh ditambah game xD jadinya ff terbengkalai huhu maapkeun acu

Seeya!

Regards, nchu