Disclaimer: Harry Potter punya J.K. Rowling. Saya tidak mengambil keuntungan materil apapun dari penulisan fanfiksi ini.

Ada yang mantengin cerita ini ga ya? *nengok sekeliling

Kira-kira, apa memang ada sesuatu antara Draco dan Astoria di masa lalu seperti review dari Luna? (btw, makasih reviewnya, ya!)

Kalau masih ada yang kepo, happy reading!

.


Hogwarts, 2021

Scorpius Greengrass sudah duduk di tahun keempat dan masih sering memerhatikan si gadis Malfoy. Beberapa teman mendapati Scorpius memerhatikan Rose Malfoy dan mereka menggodanya. Mereka bilang kalau Scorpius akan punya banyak saingan untuk mendapatkannya. Ada juga yang bilang kalau mereka berdua akan jadi pasangan yang cocok. Malfoy sendiri tampaknya tahu Scorpius sering memerhatikannya, ditambah teman-teman Scorpius yang sering menggodanya jika Malfoy lewat di dekat mereka. Malfoy hanya melirik sekilas dan tampak tak tertarik. Meski mereka satu angkatan, namun faktanya mereka hampir tak saling mengenal.

Scorpius sudah berkali-kali membela diri kalau tatapannya pada Malfoy bukan berarti ia tertarik padanya. Sebenarnya Scorpius memang tertarik, namun dalam arti lain. Orang lain takkan tahu apa yang ia maksud, dan Scorpius memang tak mau membicarakannya dengan orang lain, bahkan pada sahabat dan ibunya sendiri. Belum waktunya, pikirnya. Lagipula ia juga belum seratus persen yakin.

Menjelang liburan musim panas dan akhir tahun pelajaran, Profesor Longbottom memberi tugas untuk murid-murid kerjakan berkelompok di masa liburan. Tahun depan mereka memang sudah di tahun kelima, namun ia memutuskan mempercepat pelajaran Herbologi sedikit. Katanya Gryffindor dan Slytherin masih akan berbagi kelas, jadi apa salahnya memberi tugas sedikit lebih cepat. Murid-murid mengeluh, namun Profesor Longbottom menenangkan bahwa tugas mereka mudah. Dengan cepat ia membagi murid berpasang-pasangan sebagai partner.

"Bletchley dengan Potter."

Scorpius merasa bahwa mereka akan dipasangkan antar asrama. Bisa dilihatnya Kathleen Bletchley tersenyum dikulum. Selama ini ia memang masih sering memerhatikan dan membicarakan Potter, selain masih suka menempel pada Scorpius. Scorpius mendengus.

"Weasley dengan Flint."

"Goyle dengan Finnigan."

"Malfoy dengan Greengrass."

Scorpius tersentak. Selama empat tahun mereka belajar di kelas yang sama, tak pernah sekalipun Scorpius berurusan langsung dengan Rose Malfoy. Ia tak tahu ini hal yang baik atau bukan, ketika tiba-tiba ia tersadar dengan "boo"-nya teman-temannya. Mereka mulai menggodanya.

Rose menatap mereka dengan kesal. Ia bertanya pada Profesor Longbottom, "Haruskah dikerjakan berkelompok dua orang? Anda tadi bilang ini mudah, lalu kenapa kami tidak mengerjakan sendiri-sendiri saja?"

Tiba-tiba Scorpius merasa agak tersinggung. Ia tahu Rose memang bisa bersikap agak angkuh, namun kali ini ia berbicara mengenai Scorpius dengan tidak enak. Maksudnya, Rose memang tidak menghinanya, namun bicaranya seakan Rose tak mau berpasangan dengan Scorpius.

"Rose, tugasnya memang mudah, namun aku ingin kalian mengerjakannya berpasangan."

"Kenapa?" kejar Rose.

"Kalian akan mengerjakannya waktu liburan, jadi aku ingin kalian mengerjakannya dalam suasana liburan juga. Kalian bisa saling mengunjungi partner kalian atau berwisata bersama. Saling mengunjungi teman itu menyenangkan, bukan?"

"Berwisata? Itukah tugasnya?" tanya Rod Goyle.

"Bukan begitu, Goyle, namun berwisata bisa jadi alternatif untuk mengerjakan tugas kalian dengan menyenangkan. Aku ingin kalian mencari lima contoh tanaman Muggle lalu bawa kemari ketika selesai liburan. Tanaman beserta potnya. Kalian bisa minta diantar orang tua kalian. Kalian tahu, jaga-jaga kalau kalian tidak biasa pergi ke daerah Muggle."

"Tanaman Muggle? Aku tidak tahu. Apakah sama dengan tanaman di dunia sihir?" tanya seorang anak Gryffindor.

"Ada yang sama dan ada yang tidak. Kalian bisa mencari tanaman apa saja."

"Untuk apa kita mencari tanaman Muggle? Apakah ini bagian dari materi pelajaran?" tanya Rose Malfoy lagi.

"Bisa dibilang begitu. Tanaman Muggle tertentu juga bisa menjadi obat. Nanti kita lihat tanaman apa yang berhasil kalian kumpulkan dan kita akan membahasnya."

Profesor Longbottom kembali menyebutkan pasangan-pasangan untuk tugas ini. Scorpius menyelami pikirannya sendiri. Sudah lama ia ingin dapat kesempatan untuk bekerja berdua saja dengan Rose, namun ia rasa yang ini datang tiba-tiba. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan setelah ini. Apakah ia harus—

"Senang berpasangan denganmu, Greengrass."

Scorpius baru sadar jika kelas telah usai dan Rose sudah berdiri di depannya. Rose mengulurkan tangannya dan menyunggingkan senyum. Mengherankan. Tidak biasanya Rose begini. Scorpius berusaha mencari senyum dingin pada wajahnya, namun yang ia temukan hanyalah senyum tulus pertemanan. Berbeda dengan sikapnya pada Profesor Longbottom tadi yang seakan protes karena dipasangkan dengan Scorpius. Memang benar kata orang, wanita bisa jadi sulit dimengerti.

Scorpius menjabat tangan Rose dengan gugup. Mereka terdiam beberapa saat sampai akhirnya Rose minta izin pergi duluan dari rumah kaca karena sudah dipanggil temannya. Pikiran Scorpius berputar-putar memikirkan apa yang harus ia lakukan. Scorpius sudah menunggu selama hampir empat tahun dan mungkin inilah saatnya.

.

XxX

Ketika makan malam, secara tak terduga Rose menghampiri Scorpius lagi. Tak biasanya anak Gryffindor ada di meja Slytherin, apalagi yang melakukannya adalah Rose Malfoy. Baru kali ini Scorpius lihat dia mau dekat-dekat dengan anak Slytherin.

"Halo Greengrass," sapanya sambil berdiri di belakang Scorpius. Beberapa anak menoleh ke arah Rose dan memandanginya heran.

"Eh, hai, Malfoy."

"Hanya mau memastikan tentang tugas kita. Bisa kau datang ke rumahku lima hari lagi? Kau tahu rumahku kan?"

"Eh… i—iya. Pasti."

Beberapa teman tertawa kecil. Pasti mereka menertawakan kegugupan Scorpius. "Eh, tidak. Maksudku, aku tak tahu rumahmu."

"Kalau begitu aku yang akan ke rumahmu. Tapi masalahnya, aku juga tidak tahu rumahmu."

"Ehm—iya. Baiklah, aku akan tanya orang dimana rumah keluarga Malfoy. Pasti ada yang tahu."

"Oke. Tanya saja pada ayah atau ibumu. Mungkin mereka tahu. Ayahku juga Slytherin, tahu. Orang tuamu Slytherin juga, kan?"

Scorpius tak menjawab karena ia jadi benar-benar gugup. Rose tidak menanti jawaban Scorpius. Ia langsung pergi tiga detik setelah mengucapkan kata terakhirnya.

.

XxX

Menjelang kembali ke rumah, Scorpius bertemu Rose lebih sering dari biasanya. Entah, sejak mereka dipasangkan di kelas Herbologi, mendadak semuanya jadi lebih mudah. Scorpius lebih sering bertemu Rose, dan walaupun Rose masih irit bicara pada Scorpius, ia bisa maklum. Dirinya terhitung masih asing untuknya.

Ketika di kereta, Scorpius berpapasan lagi dengannya, namun Rose hanya mengangguk sambil tersenyum kecil tanpa mengatakan apapun. Rose, seperti biasa, dikelilingi oleh teman-temannya yang biasanya. Scorpius merasa Rose punya karisma yang cukup kuat untuk jadi pusat perhatian. Mungkin karena ia jadi Malfoy pertama yang masuk Gryffindor. Atau karena kecantikannya? Atau karena kepintarannya? Atau karena ia anak Hermione Granger sang pahlawan sunia sihir?

Scorpius lupa menyebutkan bahwa teman-temannya yang biasanya itu sudah pasti termasuk Potter dan Weasley bersaudara. Tak usah ditanyakan, sebab ayah Potter dan Weasley juga ibu Malfoy adalah trio legendaris Hogwarts yang berasal dari asrama Gryffindor.

Ketika matahari sudah terbenam mereka sudah sampai di London. Sebelum kereta berhenti, Scorpius sudah bisa melihat ibunya dari kejauhan. Ibu yang ia anggap sebagai wanita tercantik di dunia. Namun ada yang agak aneh darinya. Sesuatu yang bisa Scorpius amati lebih jelas ketika ia sudah berada di depannya.

"Scorpius sayang," kata-katanya yang pertama setelah berbulan-bulan tidak melihat Scorpius.

"Mum terlihat agak berbeda," ucapnya sambil mendongak sedikit ke arah ibunya.

"Oh, Scorpy, kau sudah agak tinggi sekarang. Cepat sekali kau tinggi? Jangan balap Mum, ya."

"Mum?"

"Mmmm?"

"Apa Mum bisa merawat diri seperti yang kupesankan dulu?"

"Tentu saja, Sayang. Mum kan sudah dewasa."

Astoria sangat pandai bersandiwara. Dia memang tak kelihatan seperti berbohong bagi orang awam, tapi Scorpius merasa ada sesuatu yang tidak beres darinya. Keletihan menghiasi wajahnya yang cantik. Sesuatu yang tidak biasa sebab Astoria biasanya cermat sekali menjaga penampilannya. Sudahlah, mungkin Astoria sedang kelelahan.

"Kalau ada yang berbeda dari Mum, itu pastilah karena Mum sudah tak tahan lagi ingin bertemu denganmu. Mum sampai tak bisa tidur akhir-akhir ini," katanya sambil mengangkat wajah anaknya dan menatap langsung ke matanya. Hal yang selalu dilakukan semenjak Scorpius kecil. "Ayo lekas kita pergi sebelum pai daging buatan Mum jadi berjamur karena lama menunggu kita!"

.

XxX

"Mau kemana lagi kau, Sayang?"

Astoria terlihat sedikit protes waktu Scorpius minta izin kerja kelompok beberapa hari lagi.

"Dimana?" tanyanya lagi.

"Mmm… dulu Mum di Slytherin, kan?"

"Mmm… iya. Kenapa, Sayang? Dulu Mum kan sudah pernah bilang?"

"Kalau begitu, apa Mum tahu keluarga Malfoy?"

Raut wajah Astoria berubah. "Ada apa tanya itu?"

"Rekan satu kelompokku bernama Rose Malfoy. Ia bilang kalau ayahnya dulunya Slytherin, meskipun rekanku itu Gryffindor. Aku tak tahu rumahnya, dan dia bilang aku bisa tanya orang tuaku. Mum Slytherin, kan?"

"Menjadi Slytherin bukan berarti aku kenal dengan semua murid Slytherin, Nak. Lagipula di angkatan kami tidak ada yang namanya Malfoy," jawab Mum.

"Tapi Ibu pernah dengar nama Malfoy, kan?"

"Entahlah. Mungkin iya."

Scorpius berjalan menuju burung hantunya yang sedang bertengger di jendela. Dari pada menganggur, Scorpius mengutusnya untuk mengirim pesan pada Bibi Daphne. Mungkin saja ia tahu. Scorpius membuka laci kemudian mulai menulis surat.

"Kirim surat ke siapa, Sayang?"

"Bibi Daphne. Mungkin dia kenal keluarga Malfoy."

"Memangnya begitu penting, ya?" Kalimat ibunya membuat Scorpius menoleh. Seingatnya Astoria tak pernah bicara seperti itu. "Kenapa harus pergi ke rumah gadis itu?"

"Mum," kata Scorpius keheranan, "kami hanya berkelompok dua orang."

"Kenapa harus pergi ke rumah gadis itu?" Astoria mengulang pertanyaannya.

"Ya—"

"Suruh saja dia kesini. Apa dia tidak mau? Apa dia yang harus dikunjungi?"

"Mum—"

Astoria makin terlihat bukan seperti biasanya. Dengan cepat Astoria menyadari kesalahannya dan berbicara lebih tenang. "Biarkan dia yang kemari. Tulis saja alamat kita lewat burung hantu. Ia bisa pergi lewat jaringan Floo atau Bus Ksatria atau apalah. Tapi bodohnya dia tidak memberimu alamatnya—kalau memang ia ingin dikunjungi."

Benar juga. Pikir Scorpius, kenapa mereka tidak bertukar alamat saja waktu itu? Namun yang lebih menarik perhatian Scorpius adalah kata-kata Astoria tadi. Sebenarnya ada apa dengannya?

"Hmmm… tapi bodohnya kita tidak tahu alamatnya. Bagaimana bisa kita kirim surat kalau tidak tahu alamat pengirimnya? Hahaha."

Astoria tertawa agak aneh dan melupakan keanggunannya. Agak merinding juga mendengarnya. Sudah dua kali ia mengatakan 'bodoh'. Kemana Astoria yang biasanya?

.

XxX

Malfoy Manor

Wide High Road

Wiltshire

Malamnya balasan dari Bibi Daphne datang. Sesuai dugaan Scorpius, Daphne memang tahu alamat keluarga Malfoy. Sebelumnya Scorpius menulis surat dengan cukup lengkap. Ia memang tidak tahu ingat nama ayahnya Rose, tapi ia memberi tahu Daphne kalau ia akan kerja kelompok dengan anak perempuan keluarga Malfoy yang berada di tahun yang sama dengannya. Scorpius juga memberi tahu kalau ibu Rose bernama Hermione Granger. Sedang ayahnya, seperti yang Scorpius bilang tadi, tidak ia ingat namanya. Scorpius hanya ingat kalau namanya agak aneh—seperti namanya sendiri.

Scorpius tak tahu kenapa ibunya memberinya nama Scorpius. Ada 'Hyperion'-nya, lagi. Scorpius berharap bisa mendapat nama yang lebih 'normal', seperti Edward, Adam, Anthony, atau apapun itu. Ketika masih di Australia, Scorpius sering diledek teman-temannya di sekolah Muggle karena namanya aneh. Ketika masih lebih kecil lagi, sehabis diledek Scorpius suka bersembunyi untuk menyembunyikan tangisnya. Boleh saja Scorpius terlihat agak cengeng, namun setelah itu ia merasa senang sebab kebanyakan dari mereka mengalami kesialan kecil setelahnya. Untung saja mereka tak pernah mencurigai Scorpius, karena kesialan mereka terjadi ketika Scorpius tidak ada di dekat situ. Yang tidak diketahui mereka, Scorpius selalu menyaksikannya secara diam-diam. Scorpius juga tahu kalau itu dikarenakan dirinya punya kemampuan yang berbeda. Ibunya sendiri yang memberi tahunya. Di ulang tahunnya yang kesebelas, ia menerima surat undangan untuk bersekolah di Hogwarts dan Ilvermorny sekaligus. Scorpius dan Astoria memutuskan kembali ke Inggris saja. Kebetulan Astoria juga akan bekerja di St Mungo sebagai Penyembuh. Ibu Astoria juga sakit-sakitan dan ingin mereka kembali ke Inggris.

.

XxX

Scorpius sengaja 'melarikan diri' dari rumah karena Astoria tidak membolehkannya untuk pergi ke rumah Rose. Ia tak memberikan alasan kenapa Scorpius tidak boleh pergi. "Pokoknya tidak boleh," begitu katanya.

Astoria jadi agak aneh semenjak Scorpius pulang. Selain dari penampilannya, sikapnya juga kadang berubah. Seperti jadi lebih ketus dan protektif. Anehnya itu terjadi ketika Scorpius bicara mengenai Rose. Entahlah apa yang akan dilakukannya kalau Scorpius pulang nanti. Astoria sudah cukup menangani kenakalan Scorpius selama lima belas tahun kehidupannya, jadi Scorpius pikir yang ini tidak akan membuatnya kena serangan jantung.

Rumah keluarga Malfoy besar sekali. Atau bisa disebut mansion saking besarnya. Seperti banyak rumah keluarga sihir lainnya, bangunannya bergaya kuno. Namun zaman sekarang sudah banyak penyihir yang tinggal di rumah yang bangunannya lebih modern. Eh, tunggu…

Ada tombol merah bulat yang langsung Scorpius kenali sebagai bel. Ia familiar dengan ini karena selama tinggal di Australia, sebagian besar temannya adalah Muggle, dengan beberapa kenalan keluarga penyihir lokal. Sejauh yang ia tahu, masih sedikit penyihir yang punya bel seperti ini di rumah mereka. Temannya dari Ravenclaw ada yang tinggal di lingkungan Muggle dan Scorpius sudah pernah ke rumahnya. Rumahnya juga memakai bel seperti rumah Muggle pada umumnya.

Rose Malfoy muncul beberapa saat kemudian. Ia mengenakan baju terusan dan menata penampilannya dengan baik. Khas orang berada. Mungkin karena ini pulalah banyak cowok yang tertarik padanya.

"Sudah lama?" tanyanya ramah. Ia akui selama lima tahun bersekolah dengannya, baru-baru ini Scorpius tahu kalau Rose bisa bersikap seramah ini pada orang lain selain teman-temannya, tidak termasuk para guru tentunya. Mungkin ia bukan tipe orang yang bisa mudah ramah dengan semua orang.

"Tidak," jawab Scorpius. "Kupikir yang membukakan pagar harusnya peri-rumah."

"Tidak apa-apa. Punya peri-rumah tidak harus bergantung semuanya pada mereka, kan?" katanya sambil menutup pagar kembali.

Mereka berjalan menuju Malfoy Manor. Lumayan juga untuk olahraga, pikir Scorpius. "Kau tahu, biasanya di rumah kakek nenekku kami biasa naik sapu terbang jika datang lewat pagar depan. Jarak dari pagar ke pintu depan lumayan juga, seperti ini."

"Oh, jadi rumah kakek nenekmu juga sebesar ini?" tanya Rose takjub. "Hmm… kami juga pernah berpikir begitu, tapi kami pikir sebaiknya jalan saja. Sekalian berolahraga."

Rose mempersilahkan Scorpius untuk masuk ke dalam rumahnya. Sebenarnya Scorpius sudah terbiasa dengan model rumah seperti ini. Kakek dan neneknya tinggal di rumah seperti ini, walaupun dengan tipe bangunan yang lebih modern.

Scorpius duduk di sofa yang sangat empuk. Ia kemudian bertanya, "Kau sedang sendirian di sini?"

"Iya. Sebenarnya tidak, sih. Ada beberapa peri-rumah."

"Dimana orang tuamu?"

"Mereka seharusnya libur kerja, tapi ibuku sedang ada di The Burrow."

"The Burrow?"

"Rumah keluarga Weasley, rumah kakek neneknya Hugo dan Albus."

"Kalau ayahmu?"

"Ayahku… mmm… mungkin sedang di Kementerian, ada urusan mungkin. Atau malah ikut ke The Burrow. Aku tak tahu."

"Kau tidak ikut ke sana?"

"Mum menawariku, tapi aku bilang kalau aku ada kerjaan," jawab Rose.

"Jawaban yang bagus. Nah, sekarang kita mulai dari mana?"

Rose manawari Scorpius untuk duduk-duduk di halaman belakang rumahnya, yang langsung disetujui Scorpius. Setelah memesan makanan dan minuman pada peri-rumah, mereka kemudian berjalan ke halaman belakang lewat samping rumah.

Di sisi-sisi Malfoy Manor tidak ada rumah lain. Tampaknya rumah ini jadi satu-satunya rumah di wilayah Wide High Road.

"Apa kau tidak kesepian tinggal di sini?" tanya Scorpius sambil duduk di atas rumput. Rose mengikuti duduk di sampingnya.

"Kesepian sebenarnya, ditambah aku juga anak tunggal. Aku berharap punya kakak atau adik."

Scorpius tersenyum, yang sulit diartikan apa. Mungkin senyum simpati. "Kalau kau bosan apa yang kau lakukan?"

"Kalau ingin bertemu seseorang aku akan main. Biasanya sih ke rumah para Potter dan Weasley," jawab Rose. "Kalau kau, bagaimana?"

"Apanya?"

"Apa kau tidak kesepian juga?"

"Sama sepertimu. Aku harap punya kakak atau adik, atau dua-duanya."

Mereka berdua memandang lurus ke depan mereka. Hanya ada hutan.

"Ada apa di sana?"

"Seperti hutan pada umumnya, namun tentunya tidak seberbahaya yang lain."

"Apa hanya ada rumahmu di sekitar sini?"

"Iya. Membosankan, bukan? Rumah terdekat adalah rumahnya Daisy Finnigan. Itupun masih kesana-sana," Rose menunjuk ke jauh di samping kirinya, menandakan rumah yang dimaksud masih agak jauh. "Aku ingin Dad menjual tanahnya di sekitar sini saja, agar ada orang yang punya rumah di sini selain kami."

Seorang peri-rumah muncul dari udara kosong, membuat Scorpius agak berjengit kaget. Peri-rumah itu menyajikan makanan kecil dan minuman untuk mereka, kemudian menghilang tanpa berkata apa-apa.

"Makanlah, Scorpius. Kau pasti masih tidak enak badan habis naik Bus Ksatria."

Rose menoleh. Scorpius tidak mengapa-apakan sajiannya. Ia hanya memandangi Rose, tersenyum tipis. "Ada apa?" tanya Rose.

Scorpius menggeleng. Di dalam hatinya, ia merasa senang akhirnya Rose menyadari kehadirannya. Ia anggap tadi sebagai bentuk perhatian. Diraihnya satu potong roti kemudian ia memakannya.

"Nah, jadi apa rencana kita untuk mengumpulkan tanaman?" tanya Rose kemudian setelah sunyi beberapa saat.

Scorpius mengangkat bahu. "Sejak pindah ke Inggris, aku jadi lebih jarang berkunjung ke dunia Muggle."

Rose membuka matanya lebar-lebar, seperti terkejut. "Lho, memangnya kau bukan orang Inggris?"

Scorpius tertawa memerhatikan ekspresi Rose. "Aku dan ibuku termasuk orang Inggris tentu saja, tapi ayahku orang Australia. Kami tinggal di sana sebelum aku lahir, di lingkungan Muggle, hingga aku mendapat surat dari Hogwarts."

Scorpius memerhatikan ekspresi Rose belum berubah. "Australia? Aku tak pernah tahu itu. Tapi memang sih, seingatku dulu waktu kelas satu logatmu agak beda."

Scorpius tersenyum dikulum. Bagaimana Rose bisa tahu? Mereka kan tidak pernah berbicara sebelumnya. Namun Scorpius kan cukup ngetop, jadi setidaknya cerita tentang dirinya cukup banyak yang tersebar, yah walaupun tidak mesti tentang latar belakang keluarganya. Scorpius menggeleng-geleng. Ia terlalu pede. Ngetop? Hahaha. Tentu saja ia masih kalah ngetop dibanding Potter, Weasley, dan si gadis Malfoy ini.

"Lalu, kenapa kau malah sekolah di Hogwarts? Bukannya di dekat sana ada sekolah sihir juga?"

"Nenekku sakit-sakitan setelah kakekku meninggal. Beliau ingin agar aku dan ibuku kembali kemari."

"Kau dan ibumu? Bagaimana dengan ayahmu?"

"Ayahku sudah meninggal."

"Oh," Rose menutup mulutnya. "Aku minta maaf."

"Tidak apa-apa. Santai saja."

Rose menatap ke depan. Tanpa memandang Scorpius, ia bertanya lagi, "Kau masih pulang ke Australia?"

"Tidak."

"Kenapa tidak? Bukankah kau punya saudara di sana? Kakek dan nenekmu?"

"Ayahku sebatang kara," jawab Scorpius tenang. "Ia tak punya keluarga."

Rose kelihatan terkejut lagi dengan kisah hidup Scorpius. Terlepas dari sikap dinginnya, bukan berarti Rose tak pernah memerhatikan Scorpius sama sekali. Ia pikir Scorpius seperti anak kebanyakan yang hidupnya bahagia. Bahagia dalam artian punya keluarga yang lengkap tentu saja.

Mulut Rose masih membuka sedikit sambil geleng-geleng kepala. Ayah dan ibunya yang sama-sama anak tunggal saja tidak membuatnya menjadi anak tanpa anggota keluarga yang lengkap. Kakek dan neneknya dari kedua orang tua masih hidup. Walau tidak punya paman atau bibi, namun para Weasley dan Potter itu membuatnya seperti memiliki paman dan bibi, yang berarti anak-anak mereka otomatis menjadi 'sepupu' Rose.

"Lalu, apa usulanmu untuk tugas kita?" Scorpius mencairkan suasana, ingin topik tentang keluarganya tidak usah dibicarakan lagi.

"Ehm," Rose berusaha memulihkan dari rasa terkejutnya, "bagaimana kalau kita ke rumah kakek nenekku saja? Kakek dan Nenek Granger. Mereka kan Muggle yang suka menanam tanaman. Kita bisa minta tanaman mereka atau ditemani ke tempat jual tanaman."

"Waw. Kakek dan Nenek Granger? Tampaknya mereka orang yang menyenangkan."

"Tentu saja," kata Rose sambil tersenyum, sudah pulih dari rasa terkejutnya. "Bagaimana kalau besok? Aku tahu kalau kakekku besok tidak kerja. Nenekku yang masuk kerja."

"Mereka bekerja? Masih?"

"Iya, masih. Memang tidak sesering dulu, karena mereka sudah tua."

"Apa pekerjaan mereka?"

"Dua-duanya dokter gigi. Manis, kan?"

Scorpius tersenyum sambil mengangguk-angguk. Ia kemudian menatap langit yang kelihatan cerah sekali, kemudian memilih untuk rebahan. "Sudah? Cuma ini inti dari pertemuan kita?"

Rose terkikik layaknya gadis remaja pada umumnya, membuat jantung Scorpius berdesir aneh. "Remeh sekali, ya? Padahal kau sudah susah-susah kesini. Lain kali biar aku yang ke rumahmu."

Rose ikut rebahan di samping Scorpius dan memejamkan matanya. Scorpius menoleh ke Rose yang ada di samping kirinya, kemudian tersenyum otomatis. Ia tidak menyangka ternyata Rose orang yang menyenangkan. Ia dulu berpikir apakah Rose benar-benar sombong? Apa karena faktor keturunan dan kekayaan? Namun itu tidak terbukti. Rose kelihatan kurang menyenangkan karena memang belum kenal saja. Tampaknya Rose tipe orang yang didekati, bukan mendekati. Namun nyatanya Rose duluanlah yang mendekati Scorpius di rumah kaca. Sekali lagi, wanita memang sulit ditebak.

Scorpius ikut memejamkan mata juga. Tanpa obrolan. Hanya ada desir angin dan cicitan burung-burung di kejauhan. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga tak menyadari ada seekor burung hantu sudah ada di samping Rose, membawa surat.

"Hei, ada surat. Apa? Dari Hogwarts! Oh ya ampun, aku bahkan lupa aku sudah menunggu-nunggu surat ini dari awal liburan!"

Scorpius membuka matanya mendengar Rose berkata dengan berisik dan antusiasnya. Surat itu memang dari Hogwarts, dan terlihat sesuatu tampak timbul dari dalam amplop itu. Rose mendekatkan suratnya pada Scorpius. Mereka tak perlu membaca surat di dalamnya sebab apa yang timbul dari dalam surat itu menjelaskan segalanya.

Rose terpilih jadi Prefek Gryffindor.

Rose mengangkat tinggi lencana Prefeknya, membuatnya berkilauan. Lencana itu berwarna merah Gryffindor dengan warna emas di tepinya. Hurufnya juga berwarna emas, huruf P besar. Rose menggosok lencana itu, memastikan apa yang diterimanya asli. Setelah membaca surat yang menyatakan pengangkatannya sebagai Prefek, Rose refleks menggoncang kedua pundak Scorpius sebagai tanda kegembiraan.

"Wah… Rose… kau Prefek!"

"Aku sudah menduganya, tapi tunggu hingga ayah dan ibuku tahu. Mereka dulu juga Prefek!" seru Rose. "Siapa ya Prefek cowoknya? Aku harap Albus atau Hugo."

Scorpius menelan ludah. Jika salah satu dari mereka jadi Prefek cowoknya Gryffindor, sudah pasti ketenaran orang tua mereka berpengaruh dan memiliki kesaktian. Scorpius pikir, sebenarnya kedua anak itu tidak terlalu mencolok di bidang akademis. Yang bisa dibanggakan dari mereka hanyalah posisi mereka sebagai anggota tim Quidditch Gryffindor, selain ketenaran tentu saja.

"Scorp? Kau dengar aku?"

Scorpius tak sadar jika diajak bicara oleh Rose. "Ya? Ada apa?"

"Bagaimana denganmu? Apa kau jadi Prefek juga?"

Scorpius benar-benar tak pernah memikirkan itu sebelumnya. Ia tak pernah berpikir ingin jadi Prefek. Ia pun lupa kalau musim panas tahun ini para murid yang akan masuk tahun kelima berpeluang dapat surat pengangkatan menjadi Prefek.

"Kau benar juga. Aku lupa. Entahlah, tapi aku belum menerima surat dari sekolah."

"Sekarang pulanglah. Emmh, bukan maksudku mengusirmu, tapi kau ingin segera mendapatkan suratmu, kan?"

"Aku belum tentu jadi Prefek, Rose."

"Apa salahnya pulang mengecek. Lagipula, di antara teman-temanmu, tampaknya kau yang paling pantas jadi Prefek."

Scorpius menatap dalam mata kelabu Rose. Ia berharap menemukan lelucon, ejekan, atau kebohongan, namun tidak. Benarkah itu? Apakah itu berarti Rose tidak secuek yang dia kira? Bahkan Rose yang dingin pun diam-diam memerhatikannya?

"Err… kau benar. Aku akan pulang mengecek. Kalau begitu, sampai jumpa besok?"

"Sampai jumpa besok."

.

XxX

Scorpius bisa menebaknya. Ibunya berdiri berkacak pinggang depan pintu, marah karena anak semata wayangnya tiba-tiba hilang tanpa memberi kabar. Scorpius beralasan kalau ibunya tadi masih tidur dan ia tidak tega membangunkannya. Scorpius tahu kalau di hari Minggu Astoria bangun lebih siang dan ia sengaja pergi ke rumah Rose pagi-pagi.

"Kalau aku minta izin, apa memang dibolehkan pergi?" kata Scorpius akhirnya, tak bisa mendebat sang ibu lagi. Ia merasa kekhawatiran Astoria berlebihan. Scorpius anak laki-laki dan ia sudah berusia lima belas tahun. Memang apa yang bisa ditakutkan darinya? Scorpius merasa ada alasan lain. Tak pernah ibunya kelewat khawatir begini.

"Kau tahu, Scorp, kau tak boleh makan malam nanti. Itu hukumanmu," putus Astoria kemudian.

Hah! Apa-apaan ini? Tumben Scorpius menerima hukuman model begini. Kalau ia kelewat nakal biasanya Astoria tidak memberinya uang saku atau disuruh membersihkan kamar mandi dengan cara Muggle. Scorpius tersenyum sedikit, mengira hukumannya lucu. Coba kita lihat seberapa lama Astoria tega melihat Scorpius kelaparan.

"Kau tersenyum, Scorp? Mum serius. Masuk kamarmu dan jangan kemana-mana lagi."

Astoria memang terlihat serius, dan rencana Scorpius untuk mengecek surat hilang. Kalaupun suratnya datang, Astoria pasti sudah memberi tahu Scorpius dan ia tak perlu marah seperti itu. Pasti bilangnya, "Scorpius sayang, Mum sangat bangga padamu!"

Hanya karena membicarakan tugas sekolah dengan teman, kenapa bisa marah? Apakah karena temannya itu perempuan? Apakah Astoria takut Scorpius memikirkan cinta hingga lupa sekolahnya? Atau…

.

XxX

Cekrek…

Suara pintu dibuka pelan-pelan. Scorpius yang tengah berbaring langsung pura-pura tidur. Itu pasti ibunya yang mencoba mengecek anak laki-lakinya, apakah masih hidup atau tidak. Terdengar suara sendok beradu dengan mangkuk. Scorpius berusaha menahan agar perutnya tidak berbunyi. Terdengar suara baki diletakkan di meja kecil sebelah tempat tidur.

"Scorp Sayang…"

Suara ibunya lembut. Berbeda dengan tadi siang. Itu pertama kalinya Astoria berbicara pada anaknya setelah berjam-jam.

"Kau tak mau makan, Scorp?"

Kali ini Astoria menambah dengan belaian pada rambut Scorpius yang coklat gelap, sewarna dengan rambutnya sendiri.

"Jangan tipu-tipu. Mum tahu kau cuma pura-pura tidur." Suara ibunya masih lembut namun lebih tegas.

Masih belum bangun, Scorpius berbicara dari balik selimutnya. "Ada apa? Bukankah aku sedang dihukum?"

"Mum tahu kau tidak bakalan tahan lapar sepanjang malam."

"Aku tahan, kok," ujar Scorpius bohong.

Astoria menunduk, setengah berbaring di samping Scorpius dan berkata di dekat telinganya, "Mum tahu seperti apa anak Mum."

Scorpius memejamkan mata. Ia senang sekali kalau didempet dan diperhatikan ibunya begini. Berani taruhan, teman-temannya pasti menertawainya kalau tahu ini. Sang Pangeran Slytherin… yang benar saja! Ia pasti dicap anak Mama, tapi siapa yang peduli? Memang hanya ibunya yang dipunyainya. Ayahnya sudah tiada dan ia tidak punya kakak atau adik.

"Kalau tak mau makan, Mum akan tidur disini sepanjang malam."

"Kenapa?"

"Jaga-jaga kalau anak Mum terbangun di tengah malam karena kelaparan. Atau jadi sakit."

Scorpius duduk. Ia menatap mata ibunya. Mata yang masih sama dengan beberapa hari yang lalu.

"Aku tak mau makan."

Astoria menghembuskan nafas. Terkadang anaknya ini keras kepala. Atau jadi keras kepala jika ada yang diinginkannya namun tidak dituruti.

"Kau mau apa? Asal kau mau makan, Mum akan menurutinya." Astoria mengelus sayang tangan Scorpius.

"Mum tidak akan melarangku bertemu Rose Malfoy."

Mata Astoria melebar sedikit, kemudian kembali normal lagi. "Baiklah. Hanya tugas sekolah, kan? Jangan karena hal-hal lain selain pendidikan."

Scorpius mengangguk-angguk setuju. Astoria mengangsurkan nampan makan malam ke pangkuan Scorpius. Ia sudah akan mengambil sendok ketika Scorpius menolaknya. Sebagai remaja lima belas tahun tentunya ia sudah tak ingin disuapi ibunya, bukan?

Astoria mengusap kepala Scorpius, kemudian mencium puncaknya. "Mum sangat bangga padamu, Nak. Jadi anak baik, ya."

Astoria meninggalkan kamar dan Scorpius mulai makan. Ketika akan mengangkat mangkuknya, Scorpius menyadari ada sesuatu yang lain di nampan selain makanan dan minumannya.

.

.

.

.

TBC


Next chapter:

Astoria mendongak siapa kali ini yang ia tabrak. Seorang anak laki-laki seusia kakaknya menatapnya sambil mengernyitkan dahi dan berkata, "Kau?"

"Draco!" Daphne berlari menghampiri mereka. "Hai, Draco! Apa kabar? Kita tak berhubungan sama sekali selama liburan."

"Aku baik," jawab Draco. "Apa ini adikmu?"

"Iya. Ini Astoria. Kalian pernah bertemu, kan?"

"Yeah… beberapa kali," kata Draco sambil memerhatikan Astoria dengan seksama. Tanpa disadari Draco dan Daphne, Astoria perlahan dijalari rasa malu. Ia diperhatikan oleh remaja tanggung yang, ehm… tampan.