"Kau mau apa? Asal kau mau makan, Mum akan menurutinya." Astoria mengelus sayang tangan Scorpius.
"Mum tidak akan melarangku bertemu Rose Malfoy."
Mata Astoria melebar sedikit, kemudian kembali normal lagi. "Baiklah. Hanya tugas sekolah, kan? Jangan karena hal-hal lain selain pendidikan."
Scorpius mengangguk-angguk setuju. Astoria mengangsurkan nampan makan malam ke pangkuan Scorpius. Ia sudah akan mengambil sendok ketika Scorpius menolaknya. Sebagai remaja lima belas tahun tentunya ia sudah tak ingin disuapi ibunya, bukan?
Astoria mengusap kepala Scorpius, kemudian mencium puncaknya. "Mum sangat bangga padamu, Nak. Jadi anak baik, ya."
Astoria meninggalkan kamar dan Scorpius mulai makan. Ketika akan mengangkat mangkuknya, Scorpius menyadari ada sesuatu yang lain di nampan selain makanan dan minumannya.
.
.
.
Mistaken Identity
Disclaimer: Harry Potter punya J.K. Rowling. Saya tidak mengambil keuntungan materil apapun dari penulisan fanfiksi ini.
Terima kasih buat siapapun itu yang baca, review, favorite, follow... OneTakeGrangerAsWatson lagi penasaran ya? Baca aja terus ya!
Warning: May be OOC
Mind to RnR?
.
.
Surat dari Hogwarts.
Scorpius refleks tersenyum sendiri. Selain memikirkan ibunya yang sengaja memberikan kejutan ini, Scorpius juga memikirkan Rose. Tunggu sampai dia mendengar berita ini. Namun ia juga penasaran seperti Rose. Selain dirinya, siapa lagi yang jadi Prefek Slytherin? Pikirannya langsung tertuju pada Kathleen Bletchley. Scorpius menyeringai. Tak mungkin gadis itu.
Scorpius cepat-cepat menyelesaikan makannya. Sebenarnya ia penasaran siapa yang jadi rekannya, namun ditahannya. Kalau selama liburan ini tak ada yang memperkenalkan dirinya sebagai Prefek rekannya, tunggu saja sampai Hogwarts Express.
.
XxX
Paginya sikap Astoria sudah melunak. Ia menjawab sapaan selamat pagi Scorpius. Sudah kembali seperti biasanya, walau Scorpius merasa masih ada yang berbeda. Scorpius juga menyinggung surat Hogwarts-nya yang membuat Astoria mengucapkan selamat dan sekali lagi menyampaikan kebanggannya pada sang anak tunggal. Dan ketika akhirnya Scorpius menyinggung soal tugasnya bersama Rose Malfoy, sang ibu tak berkata apa-apa yang bernada menentang.
Bersamaan dengan ibunya yang berangkat ke St Mungo lewat perapian, Scorpius juga sedang menunggu Bus Ksatria. Scorpius sempat bicara mengenai penyambungan perapian rumah mereka dengan perapian keluarga Malfoy dengan jaringan Floo, namun Astoria tidak memberi jawaban memuaskan. Katanya, tidak sembarangan jaringan Floo dipasang. Jaringan Floo antar rumah pribadi hanya dipasang jika sudah memenuhi beberapa kriteria, seperti dua keluarga sudah saling percaya dan seberapa penting penggunaannya.
Jadi akhirnya Scorpius naik bus itu sekali lagi. Walau sudah beberapa kali naik Bus Ksatria, Scorpius masih belum bisa menaklukkan sensasinya. Ia tak mengerti kenapa banyak orang yang bahkan bisa tidur di dalamnya, namun ia berpikir mungkin karena ketahanan tubuh tiap orang berbeda-beda. Mungkin saja mereka sudah sangat sering menggunakan bus gila itu.
"Scorpius! Aku sudah menunggumu!" seru Rose bahkan sebelum Scorpius sempat memencet bel. Rose langsung mengajak Scorpius untuk ke depan perapiannya.
"Apa rumah mereka juga dipasangi jaringan Floo?" tanya Scorpius.
"Iya, namun hanya kami yang bisa menggunakannya, alias satu arah. Kakek dan nenekku tidak bisa pakai, tentu saja."
Mereka kemudian muncul pada perapian yang lain. Perapian dari rumah Muggle yang familiar di matanya. Seketika ia langsung ingat dengan rumahnya dulu di Australia. Rumah Muggle yang kecil. Cukup kecil hingga ia menyebutnya 'pondok', namun ia sangat menyukai rumahnya itu. Bersih dan asri. Lagipula, buat apa rumah yang besar jika yang tinggal di dalamnya hanya dua orang? Ia teringat dengan rumah keluarga Greengrass. Ironisnya, rumah yang hampir sebesar Malfoy Manor itu hanya ditinggali neneknya seorang, sebelum pamannya dan keluarganya pindah ke rumah itu untuk menemani nenek Scorpius yang sakit-sakitan. Scorpius lega, setidaknya neneknya itu ada yang menemani.
Rose dan Scorpius keluar dari perapian sambil membersihkan baju mereka dari bubuk Floo. Scorpius menatap ruang keluarga di depannya. Di rumah Granger itu tampak tak ada tanda-tanda kehidupan.
"Rose, dimana kakekmu?"
"Kau tunggu disini. Aku akan cari Kakek."
Tanpa disuruh Scorpius langsung duduk di sofa. Terdengar suara Rose memanggil-manggil kakeknya ke belakang rumah. Beberapa saat kemudian terdengar sahutan dari seorang pria.
Rose kembali ke ruang keluarga dengan kakeknya. Scorpius langsung bangkit dari duduknya, seakan minta maaf sudah duduk tanpa izin. Kakek Granger tertawa, tak keberatan dengan itu.
"Wah, siapakah pemuda tampan ini?" sapa Kakek Granger sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Scorpius Greengrass, Pak. Teman sekelas Rose."
"Hmm… kau sangat ganteng, Nak, tapi rasanya wajahmu tak asing." Kakek Granger memandangi Scorpius dengan matanya yang ramah.
"Mungkin wajah saya pasaran, Pak," ujar Scorpius, disambut tawa ketiganya.
Rose menceritakan pada kakeknya tentang tugas mereka. Kakek Granger kemudian membawa mereka ke penjual tanaman terdekat. Rose dan Scorpius yang sama-sama agak buta soal tanaman (khususnya tanaman yang belum pernah mereka temui di pelajaran) menurut saja ketika Kakek Granger memilihkan lima tanaman untuk mereka.
.
XxX
Benar kata Profesor Longbottom. Kegiatan mereka bisa disambi dengan kegiatan semacam bertamasya atau berjalan-jalan. Setelah membeli lima tanaman dan menyimpannya di rumah, Kakek Granger mengajak Rose dan Scorpius makan es krim di kedai. Kakek Granger, karena sudah tua, memilih untuk minum susu. Katanya itu lebih bersahabat dengan umurnya. Mereka juga makan makanan ringan lain seperti pancake dan pastel.
Scorpius tersenyum sendiri mengingatnya. Sudah lama rasanya ia tidak jalan-jalan ke daerah Muggle. Ketika masih di Australia, tentu ia menghadapi Muggle setiap hari. Ia ingat Astoria suka membawanya ke perpustakaan umum, taman, atau kedai untuk makan dan minum sesuatu. Kalau mengingat masa lalu mereka, sulit dipercaya kalau mereka penyihir. Apalagi Astoria. Dari buku-buku yang pernah dibacanya, penyihir berdarah-murni biasanya hampir tak pernah berkontak dengan Muggle.
Astoria membesarkan Scorpius dengan cara Muggle. Seingatnya, tidak ada aktifitas sihir sama sekali di depannya, hingga Scorpius bisa menampakkan sihirnya sendiri. Waktu itu teman-teman yang jahil kepadanya selalu kena batunya ketika Scorpius menginginkannya. Contoh lain adalah ketika bermain sapu dengan menungganginya. Tak disangka Scorpius bisa terbang.
"Aku kira sapu terbang cuma ada di dongeng! Seperti yang guru TK-ku ceritakan dulu, bahwa ada nenek penyihir jahat yang bisa terbang pakai sapu," ucap Scorpius polos.
Astoria bilang kalau Scorpius berbeda. Ia berbeda dan Astoria juga berbeda. Sejak saat itu, aktifitas sihir mulai terlihat di rumah Greengrass. Astoria tinggal menjentikkan tongkatnya dan pekerjaannya jadi lebih mudah. Biasanya juga pakai menggumamkan sesuatu. Mantra.
"Kau penyihir, Scorp," kata Astoria setelah Scorpius menerima undangan sekolah di Hogwarts dan Ilvermorny hampir bersamaan.
"Aku… apa?"Scorpius berhenti mengamati dua surat itu. Wajahnya kelihatan sangat bingung.
"Penyihir. Selama ini kau berbeda karena kau penyihir."
"Jadi… aku benar-benar penyihir? Benarkah?" ucap Scorpius benar-benar takjub.
"Ya. Aku dan kau… kita penyihir."
"Apa Dad juga?"
Kemudian Astoria bilang kalau ayahnya Scorpius bukan penyihir. Ia sama dengan kebanyakan orang di sekitar mereka. Orang-orang itu disebut dengan No-Maj, tapi Astoria lebih suka menyebut mereka Muggle.
"Apa aku akan sekolah di Ilvermorny? Itu lebih dekat daripada Hogwarts, kan?"
"Rasanya tidak, Sayang. Kau akan sekolah di Hogwarts."
"Tapi… kenapa Hogwarts? Aku kan orang Australia?"
"Tapi kau juga orang Inggris. Dan tahu kenapa kau harus pergi ke Hogwarts?"
"Karena aku orang Inggris?" kata Scorpius, memantulkan kembali ucapan Astoria.
Astoria mengacak rambut Scorpius gemas. "Bukan, Sayang. Kakek Arthur baru saja meninggal, kan? Dan Nenek Mary juga sakit-sakitan. Kita harus kembali ke Inggris menemani Nenek."
"Horeee kita akan liburan!"
"Bukan liburan, Sayang. Tapi kembali. Kembali ke Inggris dan tinggal di sana selamanya. Kita akan pulang."
Aneh rasanya menyebut Inggris sebagai 'tempat kembali', sementara Scorpius selama itu ke Inggris hanya untuk liburan. Sebagai anak yang lahir dan besar di Australia, tentu ia lebih merasa seperti orang Australia. Yah, walaupun logat bicaranya bercampur antara logat Inggris dan Australia, dan itu terdengar lucu baik bagi orang Australia mapun orang Inggris.
"Kau tak usah khawatir, Sayang. Tidak butuh banyak adaptasi. Bahasa yang dipakai masih bahasa Inggris dan ratumu masih Ratu Elizabeth II, hanya saja kita tidak akan tinggal di dekat Muggle lagi. Tidak seperti sekarang." Astoria tertawa, mengacak rambut Scorpius lagi yang makin terlihat berantakan.
"Apa Hogwarts punya asrama seperti Ilvermorny?"
"Tentu, Sayang."
"Padahal kalau masuk Ilvermorny, aku ingin masuk Thunderbird atau Horned Serpent," kata Scorpius sambil menunjuk surat Ilvermorny-nya.
"Kenapa begitu?"
"Tidak tahu. Hanya suka namanya saja. Memang kita bebas memilih asrama, ya, Mum?"
"Tidak, Sayang. Kita harus ikut seleksi dulu. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk Thunderbird atau Horned Serpent. Juga Pukwudgie dan Wampus. Masing-masing dari mereka unik dan istimewa."
Scorpius melebarkan matanya. "Kalau begitu, Mum masuk asrama mana di Hogwarts?"
"Slytherin."
"Apa murid-murid Slytherin hebat, Mum?"
"Semua murid itu hebat, Scorp."
Astoria membesarkan anaknya dengan baik. Scorpius tidak merasa ada penggolongan di kalangan penyihir. Ia tidak tahu kalau ada penyihir 'berdarah-murni', 'berdarah-campuran', atau 'kelahiran-Muggle'. Ia tahu itu pertama kali dari sepupunya Victoria Parkinson. Lalu ada Kathleen Bletchley yang berkata kalau ia adalah contoh yang berdarah-murni. Scorpius mendapat kesan kalau yang berdarah-murnilah yang paling istimewa. Namun kalau darah-campuran lebih kurang istimewa dibanding darah-murni, lalu kenapa Kathleen tertarik sekali padanya?
Uh, Kathleen. Scorpius jadi ingat tentang Prefek lagi.
.
XxX
Scorpius lupa bilang kalau Rose akan datang berkunjung, jadi Astoria terlihat kaget keesokan harinya. Rose tiba-tiba saja datang. Penampilannya berantakan habis naik Bus Ksatria, tapi tetap kelihatan cantik dan anggun, khas seorang Malfoy.
"Halo, Mrs Greengrass," sapa Rose sopan. "Saya temannya Scorpius, Rose Malfoy."
"Oh, ya. Silahkan duduk." Astoria tersenyum sedikit kemudian buru-buru naik ke lantai atas.
Scorpius mengernyit melihat tingkah ibunya. Biasanya Astoria antusias dan sopan terhadap tamu, namun yang tadi tidak seperti biasanya. Scorpius sadar kalau ibunya memang bertingkah aneh belakangan ini. Ia tidak tahu apa sebabnya.
"Maafkan ibuku. Dia tampak berantakan akhir-akhir ini."
"Apa ibumu kurang sehat?" tanya Rose prihatin.
"Tidak tahu," jawab Scorpius kurang nyaman.
"Oh ya, aku tadi dari The Burrow, dan tebak apa!"
Scorpius tahu apa yang akan dikatakan Rose, tapi ia memilih untuk bertanya, "Apa?"
"Bukan Albus atau Hugo yang jadi Prefek."
"Oh ya?" Scorpius melebarkan matanya. Ia tidak menyangka jawaban Rose seperti itu. Tadinya ia sudah menyangka kalau salah satu diantara mereka jadi Prefek.
Rose menarik napas. "Berarti pilihannya kalau bukan Coop, pasti George atau Liam."
"Coop?"
"John Cooperstein. Aku biasanya memanggilnya Coop."
Imut sekali, 'Coop'. Seingatnya baru kali ini John Cooperstein dipanggil seperti itu. Biasanya ketika orang memanggil orang lain dengan cara berbeda, pasti ada sesuatu di antara mereka. Kalau bukan karena saudara, sahabat, ya…
"Dia Beater, kan? Aku rasa dia bukan orang yang terlalu bagus."
"Tidak terlalu bagus? Apanya?" nada suara Rose agak tinggi.
Scorpius kelihatan salah tingkah. Ia sudah salah bicara. Ia baru saja bisa akrab dengan Rose namun hampir mengacaukannya. Jelas saja Rose tersinggung Scorpius berkata seperti itu.
"Maaf, maaf," Scorpius meminta maaf sambil garuk-garuk kepala. Rose, untungnya, tidak tersinggung lebih lanjut. Ia bahkan terlihat sama salah tingkahnya. Mungkin ia juga merasa sudah kelewatan.
"Tapi dia orang yang baik, kok, si Coop itu," sambung Rose, lebih lembut. "Dia sering menawariku cokelat. Dia kan pecinta cokelat."
Hmm… terang saja dia menawarimu coklat. Pasti ada maksud terselubung, pikir Scorpius.
"Lalu bagaimana dengan prefek Slytherin yang satunya?" tanya Rose mengalihkan topik.
Scorpius mengangkat bahu sambil menjawab, "Pokoknya aku harap bukan Kathleen."
Mereka berdua tertawa. Tentu saja Kathleen Bletchley adalah pilihan terakhir untuk dijadikan Prefek.
.
XxX
Astoria membantu Scorpius mengepak barang-barangnya untuk kembali ke Hogwarts. Ketika membereskan alat tulis Scorpius, Astoria menemukan berlembar-lembar perkamen yang tampak asing.
"Itu tulisan Rose, Mum. Bagus, kan? Kami mendiskusikan tanaman-tanaman itu, padahal Profesor Longbottom hanya suruh cari tanamannya. Dia memang rajin."
"Oh," hanya begitu respon Astoria. Ia lalu menjejalkan gulungan perkamen itu ke koper Scorpius.
"Aku bisa beres-beres sendiri, kok. Kalau capek Mum istirahat saja," kata Scorpius. "Aku kan sudah biasa mengurus semuanya sendiri."
Astoria menangkup wajah anaknya. "Tidak apa-apa kok, Sayang. Kapan lagi Mum bisa melihatmu lagi?" Astoria seperti biasa terlihat sedih melepas Scorpius, namun kali ini rasanya berbeda.
Astoria kemudian memberi mantra pengecil pada tiga tanaman Muggle Scorpius, lalu memasukkannya ke tas selempang anaknya.
Setengah jam kemudian semua barang Scorpius siap. "Masih ada waktu dua jam sebelum berangkat. Ayo sarapan dulu," ajak Astoria.
.
XxX
Seorang Prefek Slytherin kelas enam yang sudah dikenalnya membawa Scorpius langsung ke gerbong Prefek. Disana sudah banyak Prefek yang berkumpul, namun semuanya murid kelas enam dan tujuh. Hanya ada beberapa Prefek kelas lima yang sudah datang.
"Scorpius!" seru Rose ketika melihat pemuda itu.
"Hai," sapa Scorpius, kemudian duduk di sebelah Rose. Selain mereka berdua, ada juga Prefek perempuan dari Hufflepuff dan Prefek laki-laki dari Ravenclaw. Mereka langsung mengobrol seru tentang status baru mereka.
Pintu gerbong terbuka lagi dan muncullah Viola Hitchens. Ia langsung menemukan Scorpius dan berseru, "Sudah kuduga kau yang jadi partnerku, Greengrass!"
Scorpius nyengir. Tentu saja partnernya bukan Kathleen Bletchley, kan?
Prefek kelas lima lain susul menyusul datang. Yang terakhir datang adalah seseorang yang tidak disangka Scorpius.
John Cooperstein terlihat berseri-seri ketika tahu dirinya jadi pusat perhatian karena datang terakhir. Ia kemudian duduk tidak jauh dari Rose sambil melambaikan tangan. Tidak seperti kebanyakan Prefek kelas lima lain, John sudah memakai seragam Hogwarts lengkap dengan lencana Prefek merahnya yang berkilauan.
Scorpius tidak paham mengapa harus John yang jadi Prefek…
.
XxX
Peron 9 ¾, Stasiun King's Cross, 1 September 1993
"Aku akan pergi ke Hogwarts! Aku akan pergi ke Hogwarts!"
"Toria, diamlah!" ucap seorang gadis kecil lainnya yang lebih tua. Sang adik sangat bersukacita paling selama tidak setahun ini. Maka ketika tiba waktunya berangkat ke Hogwarts, Astoria berubah menjadi super cerewet sekaligus ceria.
Astoria menari berputar-putar, tak peduli tubuh kecilnya beberapa kali menabrak orang. "Toria, berhati-hatilah!" ibunya yang cantik dan anggun memperingatkan juga.
Bruk!
Astoria mendongak siapa kali ini yang ia tabrak. Seorang anak laki-laki seusia kakaknya menatapnya sambil mengernyitkan dahi dan berkata, "Kau?"
"Draco!" Daphne berlari menghampiri mereka. "Hai, Draco! Apa kabar? Kita tak berhubungan sama sekali selama liburan."
"Aku baik," jawab Draco. "Apa ini adikmu?"
"Iya. Ini Astoria. Kalian pernah bertemu, kan?"
"Yeah… beberapa kali," kata Draco sambil memerhatikan Astoria dengan seksama. Tanpa disadari Draco dan Daphne, Astoria perlahan dijalari rasa malu. Ia diperhatikan oleh remaja tanggung yang, ehm… tampan.
"Dia mirip sekali denganmu, hanya saja rambutnya selalu panjang. Sementara kau… rambutmu selalu pendek."
"Aku lebih suka pendek. Aku tidak sefeminin Astoria."
Kedua orang di depan Astoria itu memilih untuk berbincang berdua saja, sementara Astoria perlahan tidak tertarik lagi pada sekelilingnya. Ia lebih tertarik memandangi pemuda kecil di hadapannya itu. Berambut pirang cerah, berkulit agak pucat, namun tampan. Draco Malfoy…
"Toria? Tori?"
Astoria merasakan tubuhnya diguncang. Ia perlahan membuka matanya. Rasanya berat sekali. Aku dimana? Pikir Astoria. Bukannya tadi aku akan pergi Hogwarts?
"Astoria?"
Siapa itu? Pikir Astoria. Ia seperti mengenal suara itu, namun matanya masih kabur. Perlahan kesadarannya kembali. Ia melihat tangannya yang panjang, juga tubuhnya yang lebih tinggi dari anak sebelas tahun. Tak mungkin aku ke Hogwarts.. anak lain yang pergi ke sana… Scorpius…
Suara yang tadi memanggilnya lagi. "Kenapa kau tidur di sini, Toria?"
.
.
.
TBC
Next chapter:
Scorpius sempat mendengar tawa di sekelilingnya dan derap sepatu menjauh, namun ia bergeming. Konsentrasinya tetap pada kedua Gryffindor itu. Dan ia tiba-tiba jadi panik sekaligus marah ketika tangan John mengacak pelan rambut Rose.
Hei, apa yang kaulakukan?
Rose tersenyum lagi dan ia berjalan ke arah kastil, sedang John tampak berjalan ke markas tim Gryffindor. Scorpius otomatis berdiri, tapi ia kelewat tak sadar mengapa ia harus mengikuti John.
