Halo, bertemu lagi dengan author tak bertanggung jawab ini -_- Sudah setahun sejak di update tapi baru sekarang di update lagi. Sebenarnya ceritanya sudah sampai jauh, cuma tiba-tiba tak ada ide. Siapa tahu dengan update ini tiba-tiba ilham muncul. Maaf ya kalau bab ini cuma sedikit, huhuhu.
.
Disclaimer: Harry Potter punya J.K. Rowling. Saya tidak mengambil keuntungan materil apapun dari penulisan fanfiksi ini.
.
Scorpius dan Viola Hitchens mengamati para Prefek senior mereka. Selagi tiga Prefek yang lebih tua menjelaskan tentang seluk beluk Hogwarts, Scorpius dan Viola mengatur anak-anak kelas satu agar tidak keluar barisan. Sesekali ada beberapa anak yang melenceng dari barisan saking terpananya dengan Hogwarts.
"Hati-hati, jangan keluar barisan," kata Scorpius, mendorong lembut seorang anak perempuan kembali ke barisannya. Anak itu mengedip, kemudian tampak tersipu. Scorpius meringis. Bukan keinginannya jadi orang yang tampan, yang bahkan sudah kelihatan memikat sejak tahun pertama.
Oh, tidak. Mungkin saja sejak bayi. Hehehe. Scorpius tersenyum sendiri.
Ketika sampai di ruang bawah tanah, anak-anak itu tambah kelihatan terkejut. Untuk apa ada asrama di ruang bawah tanah? Tapi tunggu sampai mereka tahu penampakan asrama Slytherin yang sesungguhnya.
"Baron Berdarah," kata salah satu Prefek, dan pintu asrama Slytherin terbuka. Namun sebelum anak-anak itu masuk, sesosok putih masuk asrama duluan. Dengan kaki tidak menapak tanah, sosok itu berkata riang, "Hai, aku Baron Berdarah!"
Beberapa anak kaget dan agak takut, yang lain masih sama terpananya. Tapi beberapa detik kemudian mereka sibuk mengagumi asrama mereka. Tidak hanya ada di bawah tanah, asrama Slytherin juga terletak di bawah Danau Hitam. Dari jendela bisa dilihat beberapa ikan berenang santai. Cahaya dalam ruangan berpendar menenangkan. Ruang Rekreasinya tampak luas.
Setelah memastikan anak-anak itu masuk ke kamarnya masing-masing, kelima Prefek plus seorang Ketua Murid yang baru datang langsung mengadakan rapat. Terutama untuk Scorpius dan Viola, para murid senior memberi arahan apa saja yang harus mereka lakukan sebagai Prefek.
Esok paginya Scorpius tidak bisa berleha-leha setelah sarapan. Ia harus cepat-cepat mengarahkan para siswa baru ke kelas mereka. Setelah pelajaran usai pun ia dan Viola harus siaga di lorong untuk memantau siapa saja, termasuk siswa lama agar cepat-cepat masuk kelas selanjutnya.
Kebiasaan ini berlanjut hingga sebulan sampai anak-anak itu bisa lebih mandiri. Setelah itu kerjanya jadi lebih ringan. Saat itu pula ia sudah benar-benar memikirkan Quidditch lagi.
Sebulan sebelum pertandingan Slytherin melawan Gryffindor, sang Kapten, Katharina Walter meminta semua anggota tim berkumpul. Siswi kelas tujuh itu sudah memikirkan rencana yang dirancangnya sendiri.
"Beberapa hari lalu aku sudah tempel pengumuman seleksi di mading Ruang Rekreasi," kata Walter. Ia kemudian mengecek satu per satu perkamen di tangannya. "Ada dua anak kelas satu yang nekat mendaftar, duh, padahal mereka bisa apa?"
"Apa kita harus ikut seleksi juga?" tanya Hobbins mengangkat tangan.
"Ya," jawab Walter. "Tanpa kecuali."
Beberapa orang mendesah, berat hati mengikuti seleksi. Mereka takut ada murid lain yang bisa mengungguli mereka, yang berarti mereka harus diganti.
"Kita peringkat dua musim lalu," kata Hobbins lagi.
"Ya, peringkat dua, bukan peringkat satu."
Dalam hati Scorpius juga tak ingin ikut seleksi lagi. Sebenarnya, tidak ada yang ingin. Ia berpikir enak sekali jadi murid senior di tim. Katharina satu-satunya anak kelas tujuh dan juga paling lama bermain, jadi otomatis ia jadi Kapten tanpa perlu diseleksi ulang.
Tapi biasanya seleksi juga tidak menghasilkan pemain baru, kecuali di posisi-posisi yang sedang kosong. Memang ada kasus pemain lama yang diganti yang baru padahal belum lulus, tapi itu hanya kadang-kadang saja.
Ngomong-ngomong soal posisinya, Scorpius adalah Chaser. Dia sudah memegang posisi ini sejak kelas tiga. Cukup mengherankan baginya, sebab di keluarga besarnya hampir tidak ada yang jadi pemain Quidditch. Ibunya juga tidak. Ayahnya apalagi, bahkan jika olahraga yang dimaksud adalah sepak bola.
Ia dengar tim Gryffindor baru mengadakan seleksi besok, jadi Slytherin jadi tim pertama yang memakai lapangan Quidditch. Katharina Walter tanpa pertimbangan langsung tidak menerima kedua anak kelas satu itu.
"Aku kan sudah bilang kalau kalian otomatis gugur kemarin?" katanya.
Kedua anak itu—laki-laki dan perempuan—tersipu malu. Sebelum berlalu, mereka sempat mengedip pada dua orang lainnya dalam tim. Scorpius tahu yang dimaksud anak perempuan itu dirinya, tapi ia bingung siapa yang dikedipi si anak laki-laki itu. Matanya menatap teman timnya satu-satu, dan tampaklah Alison Tyler tersenyum dikulum, kemudian berkata, "Hah, anak kelas satu jelas bukan seleraku. Maaf ya, adik kecil." Kemudian kedua anak itu benar-benar pergi.
Tidak ada anggota lama yang diganti. Mereka hanya mendapat satu anak untuk posisi satu Beater dan satu Seeker. Mereka juga punya beberapa anggota cadangan baru.
Besoknya Katharina mengarahkan semua anak buahnya menonton seleksi tim Gryffindor. Ia bertekad timnya harus menonton semua kegiatan tim lawan. Jadilah seluruh tim Slytherin beserta cadangannya duduk bersama-sama di bangku tribun.
Scorpius duduk bertopang dagu. Saking seringnya menonton tim lawan berlatih sejak ia terpilih di kelas tiga, Scorpius tahu semua nama anggota mereka. Tentunya ia juga tahu James Potter, siapa yang tak tahu dia? Anak Harry Potter yang terkenal, wajah tampan, otak pintar, kaya, Kapten Quidditch…
Sama seperti Katharina, James juga mempertahankan semua anggota lamanya. Ia mendapat satu pemain baru dan beberapa cadangan. Ia bahkan menolak seorang Rose Malfoy. Ya, wajar saja, sebab Scorpius pun mengakui kalau Rose bukanlah tipe pemain Quidditch ideal. Tahun sebelumnya juga gadis itu mengalami penolakan sama. Entah apa yang ada di pikirannya sampai begitu percaya diri ikut seleksi dua kali dan ditolak dua kali pula.
John Cooperstein masih di tim. Setelah pertemuan dibubarkan, pemuda pirang itu mendekati Rose. Scorpius mengamati dua orang berseragam merah itu lebih awas. Mereka ngobrol, kemudian tampak tawa cantik Rose dan John kelihatan senang sekali. Rose tak kelihatan kecewa telah ditolak James Potter.
Kemudian Scorpius melihat sesuatu… permen—ah tidak, cokelat. Mungkin saja cokelat. Rose pernah bilang kalau John suka memberinya cokelat.
"Hei, Greengrass, ayo kembali ke asrama," kata Hobbins.
"Ada apa?" tanya Alison Tyler, melihat Scorpius tak merespon. Kemudian ia tahu penyebabnya. Tersenyum, ia berujar, "Sudah, lupakan saja dia. Sainganmu banyak."
Scorpius sempat mendengar tawa di sekelilingnya dan derap sepatu menjauh, namun ia bergeming. Konsentrasinya tetap pada kedua Gryffindor itu. Dan ia tiba-tiba jadi panik sekaligus marah ketika tangan John mengacak pelan rambut Rose.
Hei, apa yang kaulakukan?
Rose tersenyum lagi dan ia berjalan ke arah kastil, sedang John tampak berjalan ke markas tim Gryffindor. Scorpius otomatis berdiri, tapi ia kelewat tak sadar mengapa ia harus mengikuti John.
"Oh, hai, Greengrass," sapa John tepat sebelum menutup pintu.
"Coop, boleh aku—maksudku, boleh aku bicara, Cooperstein?" tanya Scorpius agak mengernyit. Kenapa ia jadi ikut-ikutan memanggilnya 'Coop'?
John tersenyum agak heran, tapi ia meladeninya. Ia keluar dari markas dan berkata, "Ada apa?"
.
.
.
bersambung
Next chapter:
"Anda habis menjenguk Scorpius? Bagaimana keadaannya?"
Astoria tak menjawab. Ia hanya tersenyum angkuh, memberinya tatapan kau-siapa-dan-apa-urusanmu-bertanya-seperti-itu. Namun mengingat gadis itu mungkin telah berjasa menyelamatkan nyawa putranya, sebagai seorang penyihir dari keluarga terhormat dan berdarah-murni mau tidak mau Astoria harus mengucapkan terima kasih.
"Granger, terima kasih atas bantuanmu pada anakku Scorpius. Sekali lagi terima kasih banyak."
"Tunggu—Granger? Oh, maksud saya, Anda pasti keliru antara saya dan ibu saya," ucap Rose sambil tertawa kecil, menunjukkan keramahannya. "Maksud saya, banyak yang bilang kalau saya mirip ibu saya. Memang dia ibu saya, jadi wajar saja jika saya mirip dengannya."
Sayangnya usaha Rose untuk beramah tamah dengan Astoria tidak berhasil. Astoria kembali menampakkan eskpresi awalnya.
