Terima kasih buat yang sudah mengikuti, favorite, dan review. Untuk almaidah97, terima kasih atas ketertarikannya. Soal ada Drastoria atau nggak, itu rahasia muehehehe, tapi nggak dilarang untuk berharap kok. Aku juga bukan Dramione shipper kok, tapi soal ini endingnya sama siapa, tunggu aja ya. Siapa tahu malah bakalan bukan dramione atau drastoria XD

.

Disclaimer: Harry Potter punya J.K. Rowling. Saya tidak mengambil keuntungan materil apapun dari penulisan fanfiksi ini.

.


Rumah Greengrass, 1 September

"Lama-lama aku tidak kuat, Daphne. Aku ingin pergi."

Daphne membuang muka keluar jendela kamar Astoria, kemudian menatap lagi adiknya. Ingin berbicara sesuatu, tidak jadi. Beberapa kali begitu. Sementara suaminya, Magnus Parkinson, berdiri di depan pintu sambil bersedekap.

"Aku sempat melihat Malfoy," Magnus berkata. Daphne dan Astoria kompak menoleh. "Dia sempat menoleh ke arahmu waktu kau tertidur di bangku stasiun. Tertidur, pingsan, atau apalah itu. Tapi—tapi dia hanya melihatmu sekilas, dan kembali sibuk dengan istrinya."

Daphne dan Astoria juga kompak membuang muka. Daphne seperti ingin berbicara, tapi ditahannya lagi. Astoria melirik kakaknya.

"Apa? Kau mau bilang apa? Mencegahku?"

"Ehm," Daphne bersiap untuk berbicara, "kau tahu kondisi ibu kita. Setelah Dad tiada, Mum sakit-sakitan."

"Daph, sudah lima tahun sejak Dad meninggal dan Mum baik-baik saja."

"Apanya yang baik-baik saja? Mum bisa bertahan selama ini karena ada kita bertiga yang tinggal di dekatnya. Kita, anak-anaknya dan juga cucu-cucunya!"

"Tapi," kata Astoria sambil menggigit bibir bawahnya, "aku ingin kembali ke Australia."

"Kembali kemana maksudmu? Inggris adalah rumahmu! Disini kamu lahir, dibesarkan, dan tinggal sampai mati."

"Tapi tinggal di sini membuatku lama-lama tersiksa. Selain Mum, ada lagi masalah lama yang muncul belakangan ini. Semua muncul setelah Scorpius berhubungan dengan gadis itu."

"Tapi Australia adalah tempat awal mula masalah ini! Tidakkah kau ingin menjauh dari situ?"

"Kalau begitu aku bisa mencari negara lain untuk aku dan Scorpy tinggali."

Daphne menarik napas. "Sebenarnya sampai sekarang aku kesal sekali pada si Granger itu. Draco tampaknya tak tahu apa-apa karena Granger tidak berniat memberitahunya!"

Astoria merebahkan tubuhnya di kasur. Punggung tangannya ia letakkan di atas matanya, seakan berharap matanya tidak menampakkan hal-hal menyakitkan di hidupnya lagi.

"Dasar perempuan tidak tahu diuntung. Dia sudah mendapatkan apa yang diinginkan, namun dia tidak melakukan dan mengucapkan apapun! Dia bahkan… bahkan…," Daphne tidak meneruskan kalimatnya.

"Semua Muggle sama saja," celetuk Magnus.

Astoria mendesah. "Sudahlah, Mag. Keluarga kami tidak pernah membenci Muggle. Apa kau lupa kalau para Pelahap Maut juga bukan orang baik-baik?"

Raut wajah Magnus menegang, namun ia tak berbuat apa-apa. Lagipula adik iparnya ini benar. Paman dan bibinya dulu Pelahap Maut. Ayah dan ibunya, walau bukan Pelahap Maut, tidak punya rasa simpati terhadap Muggle dan penyihir kelahiran-Muggle yang diturunkan pada anak-anaknya.

"Kau benar. Kau terlalu baik untuk mereka," ucap Magnus datar dan pelan.

"Benar. Kau terlalu baik. Aku sedang berpikir untuk memunculkan kembali kasusmu," ujar Daphne perlahan antusias.

"Kau—apa?" Astoria langsung bangun dari pembaringannya. Matanya terbuka lebar.

"Itu ide bagus!" dukung Magnus.

"Tidak! Kau tidak bisa melakukan itu!"

"Kenapa tidak? Ini bukan hanya urusan Muggle. Dokter itu memang Muggle, hingga kasusnya diusut di dunia Muggle. Kau sebagai korban adalah penyihir, tapi tak ada satupun penyihir lain selain keluarga kita dan keluarga si Granger itu yang tahu! Ini tidak adil!"

"Daphne, kasus ini sudah ditutup! Sudah berlalu enam belas tahun yang lalu, tak ada gunanya! Kita tak perlu melakukan apa-apa lagi!"

"Tori, apa kau sudah lupa? Draco juga jadi korbannya! Tapi bedanya, dia sama sekali tak tahu menahu kalau ia mendapat masalah. Bukannya ini tak adil? Dia harus tahu kebenarannya."

Astoria sudah ingin menangis. "Lalu apa maumu? Kau mau koar-koar pada dunia soal ini?"

"Kalau itu diperlukan, aku tak akan keberatan."

"Daph," kata Astoria pelan menahan isak, "kita dulu sudah berusaha keras agar berita ini tidak bocor ke dunia sihir. Cukup heboh di dunia Muggle, dan kita tidak usah memperumitnya lagi!"

"Toria…"

"Aku bahkan berusaha bersikap normal layaknya Muggle—aku bahkan benar-benar hidup layaknya Muggle sejak saat itu sampai Scorpy menerima surat pertamanya dari Hogwarts!"

Daphne mengerjap-ngerjapkan matanya dengan takjub campur rasa kasihan. Ia jarang melihat adiknya sedih seumur hidupnya. Terakhir kali Astoria terlihat seperti ini ketika ia baru mendapatkan masalahnya itu di Australia.

"Tenangkan dirimu, Astoria. Kasihan bayimu. Kami akan membantumu. Kami akan mencari jalan terbaik. Percayalah."

Daphne serasa mengalami de javu. Ia sangat tak tega melihat adiknya harus tersiksa karena masalah lama yang muncul kembali.

"Kau istirahatlah, Tori. Aku akan menyuruh peri-rumahku untuk membantumu barang beberapa hari. Jangan bekerja apapun."

Setelah mengecup dahi adiknya dan membantunya berbaring, Daphne dan Magnus pulang. Entah Astoria pada akhirnya setuju atau tidak, Daphne masih bertekad untuk mencari keadilan untuk Astoria, Draco, dan juga… Scorpius.

.

XxX

"Yang kauberi pada Rose… itu apa?" Scorpius tahu kalau pertanyaannya konyol, tapi ia tak bisa tak bertanya.

"Cokelat," jawab John.

"Kenapa?"

John tersenyum heran lagi. "Ya… karena kami sama-sama suka cokelat."

"Apa kau juga memberi cokelat pada orang lain?"

"Ya, tentu. Tapi aku memang paling banyak dan paling sering memberi Rose."

Scorpius lalu diam. Ya, tentu saja John punya sesuatu pada Rose. Scorpius bisa melihat itu di mata John juga. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dibiarkan… karena menurutnya John Cooperstein itu playboy.

"Halo… memangnya ada apa, Greengrass?"

"Kau," kata Scorpius, "hati-hati saja. Jangan terlalu dekat dengan Rose."

Keramahan John hilang. Kini ia jadi tersenyum mengejek. "Oh yeah… dan memangnya siapa kau?"

"Aku Scorpius Greengrass dan aku Prefek!"

"Aku John Cooperstein dan aku juga Prefek!"

"Aku cuma tidak mau Rose kenapa-napa."

"Dan kenapa dia harus 'kenapa-napa'? Aku bukan orang jahat. Jangan seenaknya menjelekkan orang… oh… Slytherin Prince…" Scorpius bisa merasakan wajahnya mulai memerah karena marah. "Aku tahu siapa kau. Ya… memang siapa yang tidak tahu kau. Tampan, pintar… dan Prefek. Tapi rasanya ironis bukan kalau untuk mendapatkan satu gadis saja susah? Aku tahu yang kau incar itu Rose Malfoy tapi… buktinya aku saja bisa."

"Aku juga tahu kau, Cooperstein," balas Scorpius. "Kalau kau kira bisa mendapatkan Rose hanya untuk membuatnya sakit hati kemudian, kau benar-benar salah."

John mendengus. "Memang begitu ya tabiat orang-orang tampan dari Slytherin, eh? Suka menjelekkan orang, apalagi yang jadi saingan mereka."

"Aku bukan orang yang buruk, Coop!"

"Asal kau tahu, aku juga bukan orang yang buruk." John menusukkan telunjuknya sedikit di dada Scorpius. "Dan saranku, jangan cepat putus asa. Masih banyak gadis cantik lain di Hogwarts, oke, Scorpy Greengy?"

"Kau—"

"Ah, jangan menyedihkan begitu, Greengrass," kata John, masih tajam. "Memang berat diawal. Yah, bagaimana bisa tidak berat. Kau sudah suka padanya sejak kelas satu dan Rose sudah tidak suka padamu sejak kelas satu pula."

Muka Scorpius tambah memerah. Separah itukah dirinya dulu? Tidak bisa memendam perasaan hingga orang sekelas John Cooperstein bisa tahu? Ia memang suka Rose, ia memang suka memandanginya, tapi tidak—

"Aku heran bagaimana dia bisa tiba-tiba mau dekat denganmu," lanjut John. "Kalau kau mau mencurigai seseorang berbuat buruk, kau harus memikirkannya matang-matang. Tidakkah aneh, Rose tiba-tiba akrab denganmu? Kau tidak pernah memikirkannya?"

Perkataan itu seperti menghantam Scorpius. Ia memang marah, tapi omongan John memang bisa jadi benar. Ia sendiri heran dengan perubahan Rose, tapi, tapi—

Scorpius memercayai gadis itu…

"Oh, jadi kau menjelek-jelekkan gadis pujaanmu sendiri?" kata Scorpius dingin.

"Aku tidak bermaksud begitu. Tentu saja tidak. Aku hanya ingin memberi pencerahan pada Slytherin gegabah seperti dirimu bahwa," John menarik dirinya menjauh, "jangan cepat menilai seseorang dari penampilan luarnya." John masuk kembali ke markas, bersiap menutup pintu di depan muka Scorpius. "Maaf, Greengrass, kalau kau tidak setuju dan ngotot dengan pendirianmu."

Seusai pintu ditutup, Scorpius perlu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Ia sendiri tak percaya dengan yang terjadi barusan. Scorpius Greengrass, Prefek, anak baik-baik, harus ribut masalah gadis dengan pemuda lainnya? Oh, apa yang akan dikatakan ibunya? Apa yang akan dikatakan seluruh Hogwarts?

.

XxX

"Mum!"

"Apa yang terjadi?"

Scorpius terkejut melihat ibunya datang menemuinya di rumah sakit sekolah. Ia berasumsi mungkin Madam Longbottom si matron yang telah mengabarinya. Ia memang jatuh dalam pertandingan Quidditch tadi. Dirinya yang ada di posisi Chaser diserang secara brutal oleh dua orang beater Gryffindor sekaligus. Ironisnya salah satu dari mereka adalah John Cooperstein. Scorpius kira alasan John menyerangnya bukan hanya karena persaingan asrama.

"Sudah Mum bilang jangan ikut tim Quidditch!"

"Mum tidak pernah bilang begitu."

"Ah, sudahlah. Jangan membantah."

Scorpius melihat dalam mata ibunya. Mata yang sama dengan yang terakhir kali ia lihat. Seperti mata yang sedang dirundung masalah.

"Mrs Greengrass… Oh maaf. Kami tadi sudah mengirim berita susulan agar Anda tidak perlu kemari lagi. Anak Anda sudah dapat donor darah yang sesuai," tiba-tiba muncul Madam Longbottom dengan wajah meminta maaf. "Tapi ternyata Anda sudah datang."

"Tidak masalah Madam—"

"Longbottom."

"Longbottom. Madam Longbottom. Bisa saya bicara dengan Scorpius dulu?"

Madam Longbottom sudah akan beranjak ketika Scorpius bertanya, "Apa saya kehilangan banyak darah?"

"Lumayan. Mrs Greengrass, maafkan saya, karena langsung terpikir menghubungi Anda. Stok darah golongan B memang kosong, namun saya tidak berpikir untuk memintanya dari murid-murid."

"Tidak apa-apa, Madam. Terima kasih banyak."

"Siapa yang telah mendonorkan darahnya?" tanya Scorpius.

"Malfoy. Tampaknya dia temanmu. Seorang gadis Gryffindor. Untung saja darahnya cocok," kata Madam Longbottom sambil berlalu.

Astoria perlahan memutar kepalanya pada Scorpius. "Sudah Mum bilang, jangan sembarangan dekat dengan gadis."

"Dia temanku, Mum."

"Dia tampaknya peduli sekali denganmu."

"Karena dia temanku."

"Mum tidak percaya. Pokoknya kau tidak boleh terlalu dekat dengannya. Dia hanya teman sekelasmu. Tidak lebih."

"Atas dasar apa Mum tidak membolehkan aku dekat dengannya? Kenapa?"

"Karena—karena—" kata Astoria tertahan. "Karena tidak seharusnya begitu."

"Tapi—"

"Dan tidak seharusnya kau membantahku."

Astoria bangkit dari duduknya. Walau emosinya banyak berubah sejak musim panas, namun Astoria masihlah seorang ibu. Ia mengecup dahi anaknya sekilas dan melambaikan tangannya. "Maafkan Mum, Sayang. Ada pasien yang menunggu. Tulis surat kalau kau sudah sembuh."

Astoria berjalan dengan anggun menuju ke kantor Kepala Sekolah. Di situlah ia pergi menggunakan jaringan Floo. Ketika hampir sampai kantor yang dituju, tak sengaja ia berpapasan dengan pendonor darah untuk anaknya.

"Mrs Greengrass?"

"Oh… Halo."

"Anda habis menjenguk Scorpius? Bagaimana keadaannya?"

Astoria tak menjawab. Ia hanya tersenyum angkuh, memberinya tatapan kau-siapa-dan-apa-urusanmu-bertanya-seperti-itu. Namun mengingat gadis itu mungkin telah berjasa menyelamatkan nyawa putranya, sebagai seorang penyihir dari keluarga terhormat dan berdarah-murni mau tidak mau Astoria harus mengucapkan terima kasih.

"Granger, terima kasih atas bantuanmu pada anakku Scorpius. Sekali lagi terima kasih banyak."

"Tunggu—Granger? Oh, maksud saya, Anda pasti keliru antara saya dan ibu saya," ucap Rose sambil tertawa kecil, menunjukkan keramahannya. "Maksud saya, banyak yang bilang kalau saya mirip ibu saya. Memang dia ibu saya, jadi wajar saja jika saya mirip dengannya."

Sayangnya usaha Rose untuk beramah tamah dengan Astoria tidak berhasil. Astoria kembali menampakkan eskpresi awalnya.

"Baiklah—" ucap Rose agak kikuk. "Saya permisi dulu, Mrs Greengrass."

Astoria mengepalkan tangannya. Tentu saja panggilan "Granger" tadi sengaja ia lontarkan. Itu karena Rose Malfoy sangat mengingatkannya pada Hermione Granger. Satu yang mencolok adalah rambut cokelatnya yang bergelombang itu.

"Sebelum aku dapat kesempatan kenal lebih baik lagi dengannya, Rose terkenal agak dingin. Ternyata aslinya tidak! Mungkin dia terlihat begitu karena Rose tidak mengenal orang-orang itu. Anggapan yang sama pada ayahnya juga. Jika dilihat sekilas, Mr Malfoy memang kelihatan agak dingin. Itu kata Rose, sih, sebab aku sendiri belum pernah bertemu Mr Malfoy."

Astoria membuang muka sambil menutup matanya. Kepalan di tangannya makin erat. Kata-kata Scorpius masih tertinggal jelas dalam ingatannya. Tapi tiba-tiba kilasan masa lalu menyatroni pikirannya tanpa ampun. Semua itu seketika membuat kepalanya pusing.

"Draco," ucap Astoria lirih tanpa sadar, kemudian ia jadi benar-benar tak sadarkan diri.

.

XxX

"Scorpius!"

Scorpius menoleh. Ada Rose Malfoy berlari-lari kecil menuju ke arahnya. Di sampingnya ada kawanan Gryffindornya yang biasanya: Albus Potter, Hugo Weasley, Emma Weasley, James Potter, serta Lily Potter. Oke, memang hanya Albus dan Hugo yang seangkatan dengannya, namun sesuai tradisi sejak zaman orang tua mereka, Potter, Weasley, dan Granger selalu bersama.

"Apa kau sudah baik-baik saja?"

"Baik, Granger girl."

Sejak Scorpius dan Rose dekat, terkadang Scorpius memanggilnya dengan sebutan "Granger girl", mengingat dia satu-satunya anak Hermione Granger dalam kelompoknya. Perlahan-lahan Scorpius juga terbiasa bergaul dengan para Potter dan Weasley itu.

"Jangan panggil aku Granger ataupun Malfoy. Kalau tidak, aku akan memanggilmu Greengrass lagi," ujar Rose bernada mengancam. "Ngomong-ngomong, aku tadi bertemu ibumu. Ia juga memanggilku Granger. Kurasa karena aku dianggap mirip ibuku."

"Ibuku? Apa ia mengatakan sesuatu?"

"Hanya mengucapkan terima kasih, dan—itu saja."

"Itu saja?"

"Iya, itu saja. Tidak mengatakan yang lain," kata Rose. Yah, memang kalau tidak dihitung dengan ekspresi Mrs Greengrass yang sulit ditebak dan jujur saja… kurang menyenangkan. Rose bahkan sempat berpikir kurang ajar kalau Scorpius tidak mendapatkan sikap ramahnya dari ibunya.

"Rose, bagaimana ceritanya kau bisa mendonorkan darahmu untuk Scorpius?" celetuk Lily, bocah termuda yang juga seangkatan dengan sepupunya Emma.

"Oh, iya," kata Rose senang, ada distraksi untuk mengalihkan perhatian. "Profesor Sprout mengumumkan ke seluruh stadion, siapa yang punya golongan darah B, diharap untuk segera turun menemuinya."

"Kau tidak ada bersama kami, Adik Lily, jadi kau tidak tahu," celetuk James. "Dimana kau waktu itu? Dengan pemuda Macmillan itu? Kami tak melihatmu di barisan Gryffindor." Muka Lily memerah, namun ia meminta Rose meneruskan.

"Jadi, ceritanya begini—"

"Aku tidak memintamu yang bercerita, James!" sewot Lily. "Rose, lanjutkan!"

"Oh ya, jujur saja, Rose, banyak dari kami yang bertanya-tanya apa itu 'golongan darah B'," kata Emma.

Rose kemudian bercerita bahwa persediaan obat penambah darah yang hilang habis. Lagi pula, tidak selalu ramuan obat itu berhasil. Ada kalanya gagal. Kemudian para penyihir mendengar metode pengobatan Muggle melalui transfusi darah. Sudah cukup banyak peyihir yang mengetahui golongan darah mereka, salah satunya Rose. Saat itu ada beberapa anak yang bergolongan darah B, namun Rose tak tahu kenapa akhirnya Profesor Sprout memilihnya.

"Mungkin karena aku terlihat yang paling besar atau yang paling sehat. Entahlah," kata Rose mengangkat bahu. "Tapi untung saja, Scorp, golongan darah kita mirip."

"Cepatlah sembuh, Scorp. Kami tak ingin kehilanganmu ketika kunjungan ke Hogsmeade beberapa hari lagi," kata Hugo.

"Ya! Ini kunjungan kita yang pertama setelah resmi berteman!" dukung Albus.

"Kamu gila, ya?" kata James. "Dia tidak akan pergi bersama kita! Tentu dia akan pergi dengan teman-temannya sendiri. Iya, kan? Soalnya aku sendiri akan pergi bersama teman-temanku. Kunjungan ke Hogsmeade kan liburan, bukannya menjaga adik-adik kecil!"

Scorpius tertawa pelan karena badannya masih terasa sakit. James memang terkadang menyebalkan dan sok penting, namun ia benar. Scorpius tentu akan pergi dengan teman-temannya sendiri.

.

XxX

"Apa Scorpius tahu soal ini?" Astoria bertanya lemah. Ia duduk di sofa empuk di dalam kantor Kepala Sekolah Profesor Sprout dekat perapian. Tubuhnya dibungkus selimut ekstra dan di sampingnya ada meja kecil tempat teh hangat untuknya.

"Maksudmu, soal kau pingsan?" tanya sang kepala sekolah. "Entahlah. Ada beberapa anak yang melapor padaku kalau kau pingsan di depan kantorku. Aku tidak tahu apakah ada dari mereka yang mengenalimu."

"Aku harap dia tidak tahu," ucap Astoria. "Oh, anakku yang malang. Sejak musim panas aku menyadari diriku berubah. Aku tidak bisa sedekat dulu dengan Scorpy. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Enam belas tahun lalu aku berharap masalah tidak akan mengganggu kami lagi di masa depan. Tapi sepertinya ini memang tak bisa dihindari."

"Astoria," kata Sprout hati-hati. "Cepat atau lambat kebenaran pasti akan terungkap. Apa kau sudah siap?"

"Entahlah, Pomona," jawab Astoria, memalingkan muka ke perapian. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk Scorpy."

Sprout menatap Astoria dengan kasihan. Dibalik sikap menawan dan selalu cerianya, tak ada yang bisa menyangka bahwa Astoria telah mengalami hal buruk lebih dari yang orang lain bisa bayangkan. Dirinyapun begitu. Jika bukan karena ia kepala sekolah Hogwarts dan Astoria bukan wali murid, ia tidak akan tahu soal ini.

"Astoria—"

Tak dijumpainya lagi Astoria dengan tatapannya yang sayu. Tatapan itu telah hilang, digantikan dengan wajah tidur Astoria yang terlihat masih menyimpan masalah.

.

XxX

Sepanjang perjalanan ke Hogsmeade, Kathleen Bletchley bergelayut manja seperti biasa di lengan Scorpius. Dia terus-terusan mengoceh tentang apapun yang sama sekali tidak Scorpius perhatikan. Ia lebih tertarik dengan obrolan teman-temannya sesama laki-laki. Ada Zabini yang masih mengkhawatirkan Scorpius pasca terjatuh pada pertandingan Quidditch, ada Payne yang menceritakan liburannya ke tempat wisata Muggle di sebuah negara eksotis di Asia, ada Austin si darah-campuran yang suka bercerita tentang musik di dunia Muggle, ada juga Abbott yang membeberkan rencana liburan akhir tahunnya.

"Scorpius?"

"Apa?"

"Kau tidak mendengarku, ya?"

"Memang kau ngomong apa?"

Harusnya Bletchley sadar. Sudah sejak tahun pertama Scorpius mengacuhkannya, namun Bletchley tak tahu diri. Tepatnya tidak tahu malu.

"Aku pernah bercerita tentangmu waktu aku ada di rumah. Aku cerita bagaimana aku bisa sangat dekat denganmu sementara gadis lain tidak bisa. Hihihi."

Scorpius mendengus. Yang diomongkan gadis ini sangat tidak penting.

"Apa kau sudah membayangkan dengan siapa kamu akan menikah nanti, Scorp?" tanya Kathleen manja-manja mengejutkan. Scorpius tiba-tiba merinding. Ditanya seperti itu oleh gadis yang selama empat tahun lebih menempel padanya seperti lintah, Scorpius tidak perlu ragu apa jawaban gadis itu atas pertanyaannya sendiri.

"Tentu saja tidak," jawab Scorpius sambil berusaha melonggarkan cengkeraman tangan Kathleen di lengannya. "Tapi yang pasti seorang perempuan."

"Hihihi… kau bisa saja. Tapi serius, Scorp. Waktu aku cerita padanya tentangmu, katanya ia seperti melihat dirinya sendiri. Maksudnya, ia juga mengalami hal yang sama denganmu waktu masih sekolah dulu."

"Tentu saja. Pasti ayahmu ganteng sekali. Pantas kau cantik."

Kathleen terkikik lagi. Kathleen memang cantik, tapi Scorpius mengatakan itu bukan dengan maksud memuji. "Tapi, Scorp, kenapa jadi ayahku, ya? Aku bukan cerita ke ayahku, lho."

"Lalu?"

"Kau tahu? Ayah dari teman Gryffindor kita? Ayahnya Rose Malfoy." Ketika dilihatnya Scorpius terkejut, Kathleen mengernyit. "Kenapa? Dulu bukannya aku pernah bilang kalau ayahnya itu teman orangtuaku?"

"Tapi kau tidak pernah terlihat akrab dengan Rose."

"Ehm—Rose. Baiklah, sejak kau berteman dengannya, apa salahnya aku juga mengikuti jejakmu. Lagipula dia sepertinya anak baik."

"Lalu… sedekat apa kau dengan Mr Malfoy?"

"Biasa saja. Kalau anaknya—Rose maksudku, dia memang lebih sering berada dengan kelompoknya sendiri. Kau tahu, ibu dan ayahnya kan berbeda asrama, jadi teman mereka berbeda. Rose itu lebih sering bersama dengan golongan Gryffindor kurasa."

"Lalu kenapa kau membicarakan soal diriku dengannya?"

"Waktu itu Mr Malfoy bertemu ayahku. Ia berbasa-basi, seperti adakah cowok yang aku suka di sekolah. Lalu aku mulai bercerita," Kathleen berhenti sejenak untuk tertawa centil, "kemudian ia bercerita bahwa ia juga dulu seperti itu. Ia seperti dirimu. Dulu ada gadis yang selalu mengikutinya. Tapi coba tebak, Mr Malfoy bukannya menikah dengan gadis itu, tapi malah dengan bebuyutannya dulu di Hogwarts."

"Lalu?"

Kathleen sumringah. Ia merasa tersanjung Scorpius akhirnya antusias dengan ceritanya. "Tidak ada. Hanya saja, aku bilang kalau kau agak mirip dengan Mr Malfoy. Dia bilang mungkin cuma kebetulan. Kebetulan bisa ada dimana-mana."

Sesaat jantung Scorpius seperti berhenti berdetak. "Agak mirip? Apa maksudmu? Memang seperti apa ayahnya Rose hingga mirip denganku?"

"Oh… jadi kau belum pernah bertemu dengannya? Baiklah… dia memang tampan sih, kalau dia masih seusiamu mungkin sudah aku tempel juga, hihihi. Entahlah atau cuma perasaanku saja, tapi ketika melihat fotonya dengan ayahku dulu waktu masih sekolah, aku langsung teringat padamu. Mungkin karena kalian sama-sama dijuluki 'Pangeran Slytherin' kali, ya? Hihihi. Mr Malfoy memang seperti Rose, kulit pucatnya dan mata abu-abunya, tapi kurasa wajahnya mirip denganmu, walau kau punya penampilan yang berbeda dengannya. Rambutmu, matamu, kulitmu, semuanya berbeda. Tapi sungguh, Scorp. Aku bisa melihat sedikit dirimu pada diri Mr Malfoy. Kalian juga sama-sama pemain Quidditch. Tapi itu hanya perasaanku saja. Tak mungkin dia ayahmu, kan?"

"Bukan. Tentu saja bukan."

.

XxX

Rose duduk bersama Albus di Three Broomsticks. Rose mengaduk-aduk Butterbeer-nya hingga membuat Albus bosan.

"Kau tidak ingin mengabiskannya? Sudah setengah jam kita di sini."

"Memangnya kenapa? Kita bisa seharian di sini. Hari ini kan libur," sanggah Rose. "Lagipula aku masih menunggu ayahku."

"Itulah kenapa. Ayahmu tidak kunjung datang."

Rose akhirnya menyorongkan gelasnya kepada Albus yang diterima sepenuh hati. Albus berkata, "Kau selalu tidak habis minum satu porsi Butterbeer, lalu kenapa kau beli ini? Kau kan bisa beli porsi kecil."

"Ide bagus," ujar Rose malas.

"Eh, ada apa?" Sambil meminum minumannya, Albus melirik Rose yang membuang muka ke luar jendela. Albus mengikuti arah pandangnya, dan mendapati ada Scorpius Greengrass bersama teman-temannya di luar sedang bergerombol.

"Bagaimana kalau kita panggil dia?" usul Albus.

"Tidak usah."

"Memangnya ada apa dengan Scorpius?"

"Apa maksudmu?"

"Entahlah, tapi, aku masih penasaran kenapa kau bisa begitu cepat akrab dengannya. Padahal kau dulu tidak suka padanya."

"Prasangkaku tidak terbukti. Dia orang yang menyenangkan, dan sama sekali tidak playboy."

"Apa itu pertimbanganmu untuk menerima cintanya?"

"Apa maksudmu? Kau berlebihan."

"Dari kelas satu dia suka memerhatikanmu. Sampai sekarang," Albus menekankan dua kata terakhirnya.

"Hanya memerhatikan, bukan? Rasanya banyak yang seperti itu, bukan hanya dia. Lagipula semakin kesini aku semakin merasa dia tidak punya perasaan spesial padaku. Hanya—"

"Perasaan spesial apanya? Siapa yang menyukaimu, Nona?"

Rose dan Albus menoleh mendengar suara ketiga di samping mereka. "Dad!"

Draco Malfoy datang membawa beberapa bungkusan sekaligus. Ia langsung duduk dan meminum Butterbeer Albus yang awalnya milik Rose.

"Okelah, Dad tak bisa lama. Hanya sebentar. Masih ada pekerjaan." Draco memilah-milah bungkusan itu menjadi dua bagian. Satu bagian ia sorongkan pada Rose.

"Apa itu, Dad?" Rose melongok ingin tahu ke bungkusan yang lain.

"Belanjaan titipan ibumu."

Rose menengok bungkusan untuknya. Ada berbagai macam makanan yang ia yakin hasil masakan ibunya tadi pagi sebelum berangkat bekerja. Sementara bungkusan lain berisi buku-buku, baju, dan sekantong uang.

"Itu buku-buku terbaru. Ibumu ingin kau membacanya."

"Bibi Hermione benar-benar up to date. Iya kan, Paman?" celetuk Albus.

"Ya, khususnya up to date soal buku dan ilmu pengetahuan," jawab Draco sambil nyengir. Ia segera berdiri dan mengacak-acak rambut kedua anak itu. Rose mengawasi ayahnya hingga menghilang ke kedinginan di luar sana.

"Nah, Rosie, karena ayahmu sudah datang, bagaimana kalau kita ke Honeydukes? Aku yakin yang lain pasti sudah selesai belanja ke sana."

Rose dan Albus kemudian berjalan menuju ke toko Honeydukes ketika tiba-tiba Rose berhenti. Albus yang keheranan bertanya, "Ada apa?"

"Sepertinya barangku ada yang tertinggal. Kau kesana saja duluan."

"Benarkah? Tapi jangan lama-lama, ya. Kau tidak ingin kehabisan Kartu Cokelat Kodok keluaran terbaru, kan? Katanya ada kartu yang baru dirilis. Kita harus memborong, sebab jumlahnya—"

Rose hanya melambaikan tangannya menyuruh Albus segera pergi.

.

XxX

"Itu dia Mr Malfoy!" ucap Kathleen kegirangan.

Scorpius langsung menoleh. Ia mengikuti telunjuk Kathleen yang melonjak-lonjak kecil sambil menunjuk seorang pria. Seorang pria bertopi musim dingin memasuki Three Broomsticks. Scorpius masih sempat melihat rambutnya yang pirang cerah. Sesaat Mr Malfoy menoleh ke arah mereka, namun hanya sekedar menoleh sebab ia tidak sadar ada Kathleen yang tersenyum sumringah padanya.

Sekilas Scorpius sempat melihat mata abu-abunya yang sangat mirip dengan mata Rose, dan, oh ya ampun, wajahnya… Wajahnya sangat melekat dalam pikiran Scorpius. Wajah familiar, yang sangat familiar…

"Ada apa Mr Malfoy ke sini? Apa untuk bertemu anaknya? Tampaknya dia habis belanja, ya? Scorpius, nanti kalau dia keluar kita ajak bicara, yuk?"

"Baiklah," kata Scorpius yang mau tidak mau menjadi penasaran. Sembari menunggu Mr Malfoy keluar, mereka melanjutkan ngobrol dengan teman-teman mereka sembari makan permen Honeydukes yang dibagi-bagikan oleh Flint. Sesekali Scorpius dan Kathleen menoleh kalau-kalau Mr Malfoy muncul. Sikap Scorpius dinilai Kathleen sebagai keingintahuan atas ceritanya.

"Nanti kalau sudah ketemu, kau akan merasa kalau ucapanku benar—oh, itu dia!"

Kathleen segera menggandeng tangan Scorpius yang tidak pernah dilepasnya dari tadi menuju ke arah Mr Malfoy.

"Mr Malfoy, tunggu."

Tampaknya yang dipanggil tidak mendengar. Ia sibuk dengan beberapa kantong belanjaannya. Kantongnya berkurang dari yang tadi pertama ia bawa. Mungkin ia bertemu seseorang di Three Broomsticks. Mungkin memang Rose, batin Scorpius.

"Mr Malfoy!" panggil Kathleen lagi sambil berlari kecil mengimbangi langkah Mr Malfoy yang lebar-lebar. Akhirnya yang dipanggil menoleh. "Bletchley? Kathleen?"

"Halo, Mr Malfoy," sapa Kathleen yang agak ngos-ngosan karena harus berlari kecil sambil menyeret Scorpius.

"Aku baru saja bertemu Rose."

Kathleen tidak menyahut namun hanya tersenyum, hingga perhatian Mr Malfoy mengarah pada pemuda di samping Kathleen. "Kau bersama seorang teman rupanya."

Entah mengapa Scorpius merasa aneh dipandangi Mr Malfoy. "Oh, ini teman yang pernah kuceritakan. Sang Pangeran Slytherin."

Scorpius malu. Kathleen terlalu menyanjung dirinya hingga melabelinya dengan sebutan itu. Lebih malu lagi ketika Mr Malfoy memandanginya dari atas sampai bawah.

"Bagaimana, Mr Malfoy? Dia sedikit mirip denganmu, kan?"

Draco Malfoy masih menatap Scorpius dengan pandangan menilai. "Siapa namamu, Nak?"

"Scorpius, Pak."

"Lengkapnya Scorpius Hyperion Greengrass," celetuk Kathleen.

"Scorpius Hyperion…. Greengrass?"

"Apa Rose tidak pernah bercerita? Selama musim panas kemarin mereka punya tugas yang dikerjakan bersama," kata Kathleen lagi.

"Tidak. Dia tidak cerita apapun," timpal Draco. "Siapa ayahmu, Nak?"

"Ayah saya Muggle. Anda mungkin tidak mengenalnya."

"Aku tahu. Namanya Edmund Greengrass," sahut Kathleen.

"Tapi mungkin Anda tahu ibu saya, Pak," lanjut Scorpius.

"Siapa ibumu, Nak?"

"Astoria. Greengrass. Mungkin Anda kenal Daphne Greengrass? Dia bibi saya."

"Iya, aku kenal Daphne. Dia teman seangkatanku di Slytherin. Hmm rupanya dia menikahi seorang Greengrass juga," kata Draco sambil menengok jam tangannya. "Baiklah, Kathleen dan… Scorpius Hyperion, aku permisi dulu, ya."

"Bye, Mr Malfoy. Hati-hati," ucap Kathleen, mengawasi langkah Draco Malfoy yang agak terburu-buru. "Oh, Scorp, kurasa dia belum menjawab pertanyaanku, apakah kau mirip dengannya atau tidak."

"Itu tidak penting."

"Oh, kenapa kau tiba-tiba jadi dingin begini?" kata Kathleen mencubit pipi Scorpius. Ia menggelayut tambah manja di lengan Scorpius. "Yuk, kita belanja!"

Tanpa diketahui Draco Malfoy, Scorpius, dan Kathleen, dari tadi ada sepasang mata abu-abu memerhatikan mereka bertiga. Ia bersembunyi dekat bangunan terdekat dan menutup wajahnya dengan syal Gryffindor miliknya. Rambut cokelatnya melambai tertiup angin dan ia menyipitkan matanya…

.

.

.

Terbuka dengan saran dan pertanyaan (asal bukan flame ya!). Jika ada kekurangan dalam fic ini, mohon reviewnya.


Next chapter:

"Aku yakin Scorpius akan jadi laki-laki yang kuat, seperti ibunya. Iya, kan… Nak?" Draco beralih pada Scorpius. Pemuda itu tambah yakin kalau Kathleen memang sudah cerita banyak tentangnya. Tentu saja ia akan jadi orang yang kuat, sebab siapa lagi yang akan melindungi ibunya kalau bukan ia sendiri?

Tangan Draco tiba-tiba memegang pipi Scorpius, mengusapnya pelan. Entah kenapa rasanya ada sensasi aneh menjalari tubuh Scorpius. Ketika dilihatnya mata kelabu Draco, Scorpius tahu pria itu mungkin merasakan hal yang sama.