Disclaimer: Harry Potter punya J.K. Rowling. Saya tidak mengambil keuntungan materil apapun dari penulisan fanfiksi ini.
.
.
Ada hal baru yang menganggu Scorpius. Pelajaran Sejarah Sihir yang sebelumnya tidak lagi membosankan karena mundurnya Profesor Binns, kini tiba-tiba jadi tidak menarik lagi bagi Scorpius. Guru barunya, wanita bernama Profesor Thomas, memberikan tugas yang entah kenapa membuatnya tak nyaman.
Mereka baru saja menamatkan materi tentang sejarah penggolongan penyihir berdasakan keturunan. Ada darah-murni, darah-campuran, dan kelahiran-Muggle. Ada juga non penyihir seperti Muggle dan Squib. Profesor Thomas memberi tugas untuk dikerjakan selama liburan akhir tahun. Ia menugaskan setiap murid untuk menulis latar belakang keluarga mereka. Apa status darah mereka, termasuk status darah kedua orang tua mereka.
"Aku contohkan. Misalnya kau Albus Potter," Profesor Thomas menunjuk anak yang duduk pas di hadapannya. "Kau berdarah-campuran, kan? Ayahmu, Harry Potter, darah-campuran. Ayahnya ayahmu, James Potter, darah-murni dan ibunya ayahmu, Lily Evans, kelahiran-Muggle. Lalu ibumu, Ginevra Weasley, darah-murni. Baik ayah maupun ibunya ibumu, Arthur Weasley dan Molly Prewett, darah-murni. Begitu juga seterusnya ke atas."
Albus merasa malu sekaligus kurang nyaman. Profesor Thomas menyebutkan anggota keluarganya secara lengkap. Sudah cukup ia selalu jadi perhatian bahkan sebelum ia mulai masuk Hogwarts. Terdengar decak pelan di seluruh ruangan.
"Aku ingin tugas itu dikumpulkan di minggu pertama kita berjumpa lagi setelah liburan. Jangan lupa untuk memberi nama pada anggota keluarga yang kalian sebutkan. Sebutkan hingga ke jenjang kakek dan nenek kalian. Mudah, kan? Nah, selamat liburan!"
Ruangan langsung ribut begitu Profesor Thomas meninggalkan kelas. Mereka membereskan barang-barang mereka untuk langsung makan siang di Aula Besar.
"Ayahku Muggle, apa yang harus kulakukan?" gumam Scorpius pada dirinya sendiri.
"Apa yang harus kaulakukan? Kau tulis saja, apa masalahnya?"
Rose menjawab gumaman pelan Scorpius. Begitu juga Kathleen yang tiba-tiba menempel di samping Rose. Rose agak terkejut mendapat tempelan dari Kathleen. Seingat orang-orang dan dia sendiri, mereka hampir tidak pernah terlihat bersama di sekolah walau ayah mereka berteman.
"Hai, Rose!" sapa Kathleen.
"Oh… hai."
"Itu gampang, Scorp. Tulis saja kalau ayahmu Muggle, berarti kau adalah darah-campuran! Rose juga, tapi aku darah-murni."
Scorpius mendesah pelan. Disadari atau tidak, Kathleen masih terlihat membanggakan status darah-murninya.
"Maksudku, ayahku meninggal sebelum aku lahir dan ia hidup sebatang kara. Bagaimana aku tahu keluarganya?"
"Ah, kau kan bisa tanya ibumu. Lagipula, apa kau tidak pernah mendengar nama mereka?" Scorpius sadar dan seketika ia merasa lebih bodoh dari Kathleen, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kalau hanya nama sih, Scorpius tahu.
.
XxX
Namaku Scorpius Hyperion Greengrass. Aku berdarah-campuran. Ayahku seorang Muggle Australia. Namanya Edmund Thomas Greengrass. Ayah dari ayahku bernama Robert Greengrass dan ibunya bernama Rosamund Spencer. Sedangkan ibuku penyihir Inggris berdarah-murni. Kebetulan nama keluarganya sama dengan nama keluarga ayahku. Astoria Diane Greengrass lahir dari Arthur Greengrass dan Mary Prince.
"Apa ini, Scorpius?"
Scorpius berdiri di dekat pintu kamar. Di dalam kamar, Astoria menatap anak satu-satunya itu sambil mengangkat perkamen tugas Sejarah Sihir Scorpius.
"Mum, itu tugas sejarah sihirku. Professor Thomas menyuruh kami menulis tugas tentang keturunan keluargaku."
"Thomas? Mum tak pernah dengar."
"Dia guru baru. Baru mengajar tahun ajaran ini."
Scorpius yakin ia melihat gerakan tangan ibunya seperti ingin melakukan sesuatu pada perkamennya. Namun kemudian—yang membuat Scorpius heran—Astoria tidak jadi melakukannya. Astoria meletakkan kembali perkamen Scorpius di atas meja. Tentu saja! Itu tadi mungkin hanya perasaan berlebihannya saja, sebab Astoria memang agak aneh belakangan ini. Tak mungkin Astoria sampai mau merusak tugasnya, kan?
"Nah, Sayang," kata Astoria sambil meletakkan tangannya dengan anggun di pinggang, "di masa liburan yang singkat ini, bagaimana kalau kita berlibur berdua saja?"
Senyum otomatis mengembang di wajah Scorpius, dan itu membuat Astoria bahagia juga. Jika Astoria bahagia, Scorpius jadi tambah bahagia. Akhir-akhir ini Scorpius lebih jarang melihat ekspresi bahagia ibunya. Scorpius merindukan ibunya dulu, yang senantiasa terlihat bahagia sepanjang waktu. Astoria hanya sedih jika ada masalah tertentu, seperti ketika ayahnya meninggal dan ibunya sakit-sakitan. Tapi apa perubahan Astoria kali ini memang benar-benar masalah keluarga?
"Kita mau liburan kemana?"
"Ke Australia?"
Scorpius bertambah girang. "Benarkah itu, Mum? Kita akan ke rumah kita yang lama?"
"Darimana kau tahu?" tanya Astoria sambil mencubit pipi putranya.
"Hanya menebak. Aku kangen dengan kehidupan kita di sana."
"Kau benar-benar anak Mum. Tapi ingat, rumah itu sudah dibeli orang lain. Kau harus jadi anak baik di sana. Kita hanya tamu."
"Siap, Mum!"
.
XxX
Rumah yang disebut Scorpius sebagai 'Pondok Greengrass' itu masih sama seperti dulu. Scorpius memandang rumah itu dari luar dengan rindu. Rumah itu rumah masa kecilnya. Rumah tempat ia membagi banyak hal dengan ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki di tanah Australia ini.
Udara sekitar rumah itu sebenarnya cukup panas tapi untungnya halamannya masih asri seperti dulu hingga membuat hawa lebih teduh. Di Australia memang sedang berlangsung musim panas, berbanding terbalik dengan Inggris.
Rumah itu sudah tampak hangat dari luar. Apalagi ketika Muggle yang jadi pemiliknya kini membuka pintu. Scorpius bisa mencium aroma rumah yang khas dan kental dengan kebahagiaan penghuninya, masih sama seperti dulu.
"Astoria," kata wanita tua itu, memeluk Astoria hangat. "Dan kau pasti Scorpius. Astaga, kau sudah besar sekali!"
"Senang bertemu lagi dengan Anda, Mrs Appel."
Mrs Appel adalah seorang janda yang almarhum suaminya seorang penyihir. Setelah suaminya meninggal, anaknya berkeluarga, dan Astoria dan Scorpius kembali ke Inggris, Mrs Appel membeli rumah itu. Rumah yang lebih kecil dari rumah sebelumnya. Dulu Scorpius sering dititipkan di rumah Mrs Appel ketika Astoria bekerja. Kebetulan rumahnya hanya berbeda gang.
Awalnya Mrs Appel memberi kamar kosong untuk ditempati Scorpius, tapi Scorpius menolak. Mrs Appel masih bisa menempati kamarnya sendirian tanpa harus berbagi dengan Astoria. Scorpius bisa tidur di sofa depan perapian. Kadangkala itu yang ia lakukan waktu kecil dulu. Asyik membaca buku di sofa hingga akhirnya ketiduran.
"Kau tidak tidur, Sofia?" kata Scorpius pada kucing betina Mrs Appel malam harinya. Kucing itu hanya menelengkan kepala, ekspresinya sangat lucu. Scorpius jadi tertawa.
Dengan posisi berbaring, Scorpius melanjutkan bicara dengan Sofia. "Dulu aku sering tidur disini. Bedanya, aku benar-benar sendirian di ruangan ini. Kami dulu tidak punya binatang peliharaan. Kami baru punya peliharaan setelah aku sekolah di Hogwarts. Dia burung hantuku. Tapi sekarang dia dititipkan di rumah Nenek Mary.
"Yang punya kucing itu Rose. Sebenarnya tidak, dia punyanya burung hantu. Yang punya kucing itu ibunya. Namanya Crookshanks. Dia sudah tua tapi entah kenapa masih hidup. Yah, namanya juga hewan dunia sihir. Bulunya panjang, tidak sepertimu. Warnanya jingga, dan ekornya seperti sikat botol…"
Scorpius berhenti. Ia tidak tahu kenapa ia tiba-tiba memikirkan Rose dan ibunya Hermione, apalagi kucing bernama Crookshanks itu.
.
XxX
Peri-rumah keluarga Malfoy mengikuti Rose turun ke ruang bawah tanah. Alpen, nama peri-rumah itu, memegang lentera sementara Rose memegang senter kecil.
Alpen membuka pintu ruang bawah tanah yang juga difungsikan sebagai gudang. Dengan jentikan tangannya, ruang bawah tanah menjadi terang karena cahaya obor. Alpen menaruh lenteranya di lantai kemudian menunggu di ambang pintu.
"Kau tetap disitu, ya," kata Rose. "Beritahu aku kalau ada yang datang."
Alpen mengangguk hormat. Rose masuk ke dalam gudang, tetap memakai senternya agar matanya bisa melihat lebih baik. Rose mangamati segalanya dengan seksama. Beruntung ayah dan—terutama—ibunya cukup perfeksionis, hingga barang-barang di gudang itu tidak dibiarkan begitu saja. Semuanya dikelompokkan menurut jenisnya atau tanggalnya.
Ada beberapa kotak kayu yang bertuliskan 'Mainan Rose Waktu Bayi', 'Mainan Rose Umur 1-3 Tahun', dan seterusnya. Ada juga 'Pakaian Bayi Rose dari Kakek dan Nenek Granger', 'Buku Pelajaran Sekolah Draco dan Hermione', dan 'Surat-Surat untuk Hermione Tahun 1991-1999'.
Rose berhenti pada kotak kayu yang paling tersembunyi tempatnya. Saking tersembunyinya, ia tak akan menemukan kotak itu jika matanya tidak diset dalam mode teliti tingkat tinggi. Kotak kayu itu paling tidak menarik dibanding kotak-kotak kayu lain. Jika kotak lain terbuat dari kayu yang dipelitur, kotak itu dari kayu biasa yang masih kasar. Dan tidak seperti kotak-kotak lain, kotak itu tak ada labelnya.
Agak aneh sebetulnya mendapati kotak itu terkunci sedang kotak-kotak lain tidak. Rose memanggil Alpen untuk membuka kotak itu. Rose tidak bisa menyihir di luar sekolah bahkan hanya untuk 'Alohomora'. Selesai menunaikan tugasnya, Alpen kembali ke dekat pintu. Rose mengawasinya. Setelah memastikan tak ada orang yang akan datang, ia membuka kotak itu.
Ia menahan napas ketika aroma apak keluar dari kotak. Isinya koran-koran lama. Ada koran Daily Prophet dengan layout lawas. Rose membaca cepat namun cermat koran-koran itu, satu demi satu. Tak ada yang menarik. Berita tentang ibunya dulu sudah ia ketahui semuanya. Termasuk keluarga ayahnya.
Di tumpukan paling bawah Rose menemukan beberapa edisi koran lain. Bukan Daily Prophet atau media Inggris lain. Koran-koran itu berbeda nama, namun ada dua kesamaan mereka: sama-sama terbitan Australia dan gambar-gambarnya tidak bergerak. Koran Muggle.
Rose mengeluarkan secarik perkamen dari sakunya. Ia membaca daftar yang ia tulis di situ. Cocok. Memang koran-koran itu terbitan Australia semua.
Berdebar jantung Rose ketika ia mulai membaca satu koran. Sesekali matanya mengerling Alpen yang wajahnya juga ikutan tegang.
Mata Rose melebar ketika membaca headline berita itu. Ia bisa mendengar Alpen merintih, namun ia tidak peduli. Selama Alpen tidak memberi tahu kalau ada orang datang, Rose tidak akan berhenti membaca.
"Miss," kata Alpen lagi. Wajahnya kini agak takut. Ia punya perasaan kalau Rose tidak seharusnya melakukan itu, namun Alpen tidak tahu apa alasannya.
Rose masih melotot, mulutnya sedikit terbuka. Ia cepat-cepat membaca berita itu, lalu beralih pada koran Australia yang lain. Hingga semua koran itu habis ia baca cepat, ekspresi Rose masih sama. Cepat-cepat ia lipat koran-koran itu. Koran-koran Inggris ia masukkan kembali ke kotak. Ia menyuruh Alpen mendekat untuk mengunci kotak itu dengan sihir, kemudian ia letakkan di tempatnya semula. Setelah yakin tidak ada sesuatu yang mencurigakan, Rose buru-buru menyembunyikan koran-koran itu ke dalam jubahnya. Ia memang sengaja keluar rumah sejenak sebelumnya, agar punya alasan mengenakan jubah musim dinginnya yang besar dan tebal itu. Dengan begitu tidak akan ada yang curiga karena badannya memang kelihatan lebih berisi ketika memakainya. Tak akan ada yang tahu kalau ia menyembunyikan sesuatu di dalam jubahnya, jikalau ia bertemu seseorang.
Selagi Rose menyempatkan diri mencari buku di salah satu rak, Alpen sudah kembali ke tempatnya semula. Rose tahu ayahnya menyimpan buku berjudul Sacred Twenty-Eight di gudang ini alih-alih di perpustakaan pribadi mereka. Buku lawas tentang keluarga penyihir berdarah-murni di awal abad 20. Keluarga Malfoy ada di antara nama-nama keluarga itu.
Alpen menyadari ada orang yang turun ke bawah bertepatan ketika Rose sudah berdiri di dekat pintu. Rose juga menyadarinya.
"Rose! Apa yang kaulakukan disini?" Hermione tampak terkejut mendapati anak satu-satunya itu ada di gudang bawah tanah.
Rose menunjukkan buku Sacred Twenty-Eight di tangannya. "Untuk tugas sekolah."
"Kau cari buku itu, Rose? Kenapa tidak bilang? Nanti biar Mum yang mencarikan."
"Mum, aku sudah besar. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tapi kau masih ingat, kan? Jangan pernah masuk ke sini tanpa Mum atau Dad."
"Iya. Tapi aku tidak ingat kenapa."
"Rose," kata Hermione, memutar bola mata. "Kau tahu kenapa. Ini ruang bawah tanah. Kau tidak tahu apa yang bisa ada di sini."
"Memangnya ada apa? Hantu? Aku Gryffindor. Aku bukan penakut kalau untuk begini saja. Dan Alpen bersamaku."
"Hentikan, Rose. Kita sudah pernah mendiskusikan ini. Disini banyak barang-barang lama. Kami meletakkan mantra-mantra agar mereka tidak mudah rusak. Belum lagi hal-hal lain yang tidak kauketahui."
"Memangnya hal-hal apa yang tidak kuketahui?"
"Rose!" tegur Hermione.
Rose menghela napas. "Baik, Mum."
"Kau janji tidak akan melakukannya lagi?"
"Janji."
Hermione tampak lega. Ia membiarkan putrinya dan Alpen naik ke atas duluan sementara Hermione menutup kembali ruang bawah tanah itu.
.
XxX
Scorpius berbaris mengantri di depan sebuah food truck penjual es krim. Di musim panas seperti ini sangat enak makan es krim yang segar. Sejauh yang ia ingat, penjual es krim ini sudah berjualan ketika Scorpius masih tinggal di sini. Paman penjual itu terlihat berbeda dengan rambut pendeknya, namun Scorpius yakin ia masih orang yang sama.
Paman itu tidak mengenali Scorpius. Selain karena Scorpius sudah banyak berubah, suasana saat itu sedang ramai-ramainya. Akhirnya setelah mengantri cukup lama, Scorpius berhasil mendapatkan tiga buah es krim cup untuk dirinya, Astoria, dan Mrs Appel.
Kedua wanita itu asyik bercengkrama ketika Scorpius datang. Beberapa hari ini mereka menghabiskan waktu bahagia bersama-sama. Jalan-jalan ke tempat yang dulu biasa ia dan Astoria kunjungi, ditambah dengan rekomendasi lain dari Mrs Appel.
Hari ini sore terakhirnya di Australia sebab besok pagi ia dan Astoria kembali ke Inggris. Entah kenapa Scorpius merasa kurang rela. Ini tempat kelahirannya dan tak tahu kapan ia akan kembali ke sini lagi. Tapi tidak ada alasan untuk kembali kesini sering-sering. Ia tak punya keluarga disini.
Setelah menghabiskan es krim mereka kembali ke rumah setelah seharian di luar. Untung Mrs Appel wanita yang bugar. Ia tak tampak kelelahan setelah lama di luar.
Mrs Appel dan Astoria masak istimewa untuk makan malam, karena besok Astoria dan Scorpius akan kembali ke Inggris. Scorpius senang jika ada yang masak spesial seperti ini, apalagi jika melihat ekspresi bahagia ibunya. Kalau ingin meminta, Scorpius ingin seperti ini terus.
Selesai makan malam, Scorpius ingin membantu dua wanita itu membereskan meja atau cuci piring. Tapi Astoria mencegah.
"Scorpius, kau beli bahan makanan untuk besok, ya. Tadi lupa tidak sekalian beli. Untuk sarapan besok."
Scorpius mengangguk. Mrs Appel mencatat apa saja yang perlu dibeli Scorpius. Astoria lalu membuka dompetnya.
"Tak usah repot, Astoria. Pakai uangku saja. Kalian kan tamuku."
"Tidak. Justru karena kami yang jadi tamu, maka pakai uangku saja. Kami sudah terlalu banyak merepotkan." Tapi Mrs Appel sudah lebih dulu melesakkan sejumlah uang ke tangan Scorpius.
Scorpius meminjam sepeda kayuh Mrs Appel. Jarak toko bahan makanan tidak terlalu jauh. Ia dulu juga sudah biasa ke situ. Tapi mungkin penjualnya tidak akan mengenalinya juga. Bagus juga sih, sebab ia sendiri tidak akan bisa menjawab jika ditanya, "Nama sekolahmu apa di Inggris?" Ia tidak suka berbohong.
Orang yang berdiri di belakang meja kasir itu sekaligus pemilik tokonya. Ia masih orang yang sama. Wanita muda yang bersemangat. Namun lima tahun sudah berlalu. Mungkin ia sekarang sudah memasuki umur tiga puluh. Rambut hitamnya dikuncir kuda seperti biasanya.
Scorpius membalas senyumnya cepat, kemudian memilih belanjaan sendiri di rak-rak toko. Setelah catatan dari Mrs Appel terbeli semua, ia sengaja tidak langsung ke kasir. Ia melihat-lihat rak lain, mencoba mengingat barang-barang apa saja yang pernah ia lihat dulu.
Scorpius teringat Rose lagi ketika ia melihat satu merek cokelat. Cokelat itu favorit ibunya dulu. Scorpius juga menyukainya. Maka ia membeli delapan batang sekaligus. Untung saja ia bawa uang sendiri. Setelah itu baru ia menuju kasir.
"Orang Inggris?" tanya si kasir, ketika mendengar Scorpius menanyakan total belanjaan.
"Hu-uh," jawab Scorpius. Ia memang sengaja menonjolkan aksen Inggrisnya.
Kasir itu tersenyum lagi. "Mau kantong dari sini atau kau bawa kantong sendiri?"
"Oh, ini," kata Scorpius. Ia mengeluarkan kantong belanjaan yang tadi diberi Mrs Appel.
Sesampai di rumah, Scorpius yang baru memarkirkan sepeda melihat Sofia berjalan ke belakang rumah. Alis Scorpius terangkat, ingin tahu apa yang kucing itu lakukan di situ.
Ia berjalan mengendap-endap, berniat mengagetkan Sofia. Kucing itu tidak menyadari kehadiran Scorpius. Ia hanya duduk di sana, bengong. Kemudian tiba-tiba matanya fokus pada sesuatu. Ia membungkuk, kemudian menerkam sesuatu yang ternyata belalang. Sofia terlihat senang dengan tangkapannya. Scorpius hampir tertawa melihatnya ketika ia mendengar suara Mrs Appel. Rumah bagian belakang memang dekat dengan dapur dan ruang makan.
"Kau yakin, Astoria? Kembali ke sini lagi?" suara Mrs Appel terdengar agak pelan tapi jelas.
"Tentu. Aku sepertinya membuat kesalahan. Seharusnya dulu Scorpius kusekolahkan di Ilvermorny saja. Dan kami tidak perlu kembali ke Inggris."
"Tapi ibumu kan sedang sakit-sakitan waktu itu?"
"Ada Daphne dan Philip di sana. Lagipula aku bisa berkunjung ke sana kapan saja. Toh aku di sini sendirian. Scorpius ada di sekolahnya."
"Lalu kenapa kau dulu kembali ke Inggris? Kukira kesehatan ibumu jadi alasannya."
"Iya, sebenarnya."
"Lalu sekarang kau menyesal?"
"Aku tidak menyesal, Kate. Tidak ada kata menyesal sudah membahagiakan ibuku. Hanya saja… ini Australia. Semua permasalahan itu kan berawal dari sini."
"Dan kau ingin kembali ke sini?" nada suara Mrs Appel seperti heran. Astoria tidak berkata apapun, tapi Scorpius tahu ibunya itu mengangguk. Ia makin penasaran. Ia dan ibunya akan kembali ke Australia? Kenapa ibunya tidak bilang apapun? Walau menyukai tempat ini, tapi kehidupannya sekarang ada di Inggris. Ia masih sekolah juga.
"Toria, kau tidak bisa seenaknya membuat keputusan. Baik Inggris maupun Australia, dua-duanya punya kenangan akan itu."
"Lalu aku harus bagaimana?" nada suara Astoria terdengar menuntut. "Daphne bilang dia akan memunculkan kembali kasusnya. Menurutku ini tidak perlu. Lagipula ini tidak akan terjadi kalau aku tidak bertemu orang itu. Apalagi sampai pingsan. Untung saja kereta Scorp sudah pergi."
Kemudian Astoria menceritakan sesuatu. Scorpius kaget mendengar ibunya pingsan setelah Hogwarts Express pergi. Untung saja ia ditemukan kakaknya.
"Kau ingin lari dari orang itu? Seharusnya kau tahu sedetik setelah memutuskan kembali ke Inggris, kemungkinan besar kalian akan bertemu kembali."
Astoria tak menjawab, tapi Scorpius bisa menebak. Ibunya itu pasti sedang kebingungan. Tapi… orang siapa? Siapa orang itu hingga ibunya terlibat kasus? Siapa? Apa dia….? Tapi kasus apa? Kedengarannya lebih serius dari yang Scorpius pikirkan.
"Aku akan kirim surat setelah tiba di Inggris," kata Astoria, tak menjawab pertanyaan Mrs Appel. Terdengar suara kursi diseret dan Astoria berdiri. "Dimana Scorpius? Dia tak kembali-kembali! Oh, ya, seperti biasa, ia memang seperti ayahnya!"
"Ayahnya yang itu?" Terdengar suara Mrs Appel yang juga mendorong kursi.
"Ya!"
Scorpius berjalan tanpa suara sambil menggigit bibir bawahnya. Rasanya seperti memiliki paling tidak dua ayah. Satu ayah sungguhan dan satu ayah yang dianggap sungguhan, hingga harus ditimpali dengan, "Ayahnya yang itu?" Memikirkannya perasaan Scorpius jadi aneh.
"Oh, ini dia anak Edmund," kata Astoria begitu mendapati Scorpius di depan pintu. Scorpius menatap ibunya yang ternyata tidak kesal, malah tersenyum, walau sedang berkacak pinggang. Mrs Appel yang ada di belakangnya juga tersenyum.
"Hai, Mum. Maaf aku tadi berkeliling sebentar."
Di dalam mereka membuka belanjaan Scorpius. Mata Astoria melebar melihat cokelat yang ada di dalam kantong. Walau terlihat senang, tapi Astoria bertanya, "Hei, Scorpy, kau tidak memakai uang Mrs Appel untuk ini, kan?"
"Tidak, Mum. Aku beli sendiri."
Scorpius memberi ibunya dan Mrs Appel masing-masing dua cokelat, tapi Mrs Appel hanya mau menerima satu. "Aku sudah tua, Nak. Aku ambil satu saja."
Astoria menghitung cokelat Scorpius. "Hei, Scorp, cokelatmu ada lima! Banyak sekali."
"Ya. Aku juga membelikan Rose dua buah."
Alis Astoria terangkat. Mrs Appel bertanya, "Rose? Wah, siapa itu?"
Scorpius tersenyum. "Dia temanku."
"Benarkah?" Mrs Appel tidak percaya. Ia tersenyum penuh arti.
"Sudah. Ini sudah malam. Scorp, ayo sikat gigi lalu tidur," perintah Astoria, kembali ke dirinya yang berbeda. Mrs Appel mengernyit tak paham.
.
XxX
Scorpius sengaja tak menanyakan hal yang ia dengar dari percakapan ibunya dan Mrs Appel. Ia rasa belum saatnya. Lagipula liburan ini semua keluarganya berkumpul di Greengrass Manor. Ia berharap bisa mendengar pembicaraan antara ibunya dan Daphne. Juga pamannya Philip. Mungkin ia bisa tahu sesuatu soal rencana pindah itu. Dan soal kasus itu… sepertinya itu kasus sudah cukup lama. Pasti paman dan bibinya dua-duanya tahu.
Scorpius berusaha mengikuti kemanapun ibunya pergi tanpa menimbulkan kecurigaan. Ibunya memang kelihatan tidak curiga, tapi selalu tahu kalau Scorpius ada di dekatnya. Dengan halus Astoria 'mengusir' Scorpius agar berkumpul saja dengan para sepupunya.
Dengan malas Scorpius menyeret kakinya. Disaat seperti ini ia berharap punya Telinga-Terjulur koleksi Sihir Sakti Weasley.
Oh! Benar juga. Scorpius bisa pergi ke Diagon Alley dan membelinya! Ia tersenyum sendiri dengan rencananya.
"Ada apa kau mau ke Diagon Alley?" tanya Victoria Parkinson, murid kelas enam Slytherin.
"Pingin jalan-jalan saja."
"Ayo, aku mau!" sahut sepupu paling kecil, Margaret, anak Paman Philip. "Kebetulan persediaan tintaku mau habis dan aku mau menambah koleksi pena-buluku."
Sepupu yang lain sahut menyahut menyatakan keinginan mereka ke Diagon Alley. Scorpius meringis. Ya, harusnya ia tahu kepergian mereka ke Diagon Alley tidak hanya untuk menuruti rencananya seorang.
.
XxX
Victoria dengan telaten menjaga saudara-saudaranya agar tidak terpisah. Mereka berangkat bersama dan mereka pulang juga harus bersama. Apalagi ketika masuk Sihir Sakti Weasley yang sudah pasti penuh barang lelucon.
Scorpius untungnya bisa memisahkan diri. Ia hanya setahun lebih muda dari Victoria, tentunya ia tidak perlu dijaga. Ia menyusuri rak demi rak, tapi tak menemukan barang yang dicari.
"Ada yang bisa kubantu, anak muda?"
George Weasley sang pemilik toko berdiri di sampingnya. Senyumnya lebar, siap melayani pelanggannya.
"Ehm… Pak, apa kau punya Telinga-Terjulur?"
"Telinga-Terjulur, eh? Sayang sekali stok terakhir baru terbeli. Dan kau tahu siapa yang membelinya?" kata George, masih dengan senyum lebarnya.
"Siapa?"
"Aku masih ingat, kau kelas lima, kan? Jadi pasti tahu anak Hermione Malfoy."
"Rose?"
George nyengir. "Rosie! Lihat siapa disini!" teriaknya ke arah lain toko.
Beberapa detik kemudian muncul Rose Malfoy. Tampak cantik dan anggun seperti biasanya. Karena itulah Scorpius tahu tipe orang seperti Rose takkan tertarik dengan hal-hal lelucon.
"Kau membeli Telinga-Terjulur?" tanya Scorpius.
"Ya. Sulit dipercaya, bukan?" sela George. "Kita lihat apa yang akan dia lakukan dengan itu."
Pipi Rose memerah. "Jangan berpikiran begitu, Paman."
"Tapi kau tidak mau aku mengadu pada ibu atau ayahmu."
"Mereka tak akan senang kalau aku membeli barang macam begini. Terutama Mum."
"Ya, ya, baiklah. Asal jangan dibuat nakal, ya. Kau Prefek soalnya," kata George, lalu meninggalkan mereka dengan seringai khasnya.
Rose masih tampak agak malu, jadi Scorpius yang bicara duluan. "Oh, jadi kau Rosie, membeli barang itu, eh?"
"Scorpius, berhenti. Ini tidak seperti yang kaupikirkan."
"Kau mau menguping siapa?" tanya Scorpius to the point.
"Kau juga mau menguping siapa?" tanya Rose balik.
"Hanya iseng. Beberapa murid Slytherin membicarakannya dan aku penasaran," jawab Scorpius meyakinkan. "Kalau kau?"
"Aku mau menunjukkannya pada Kakek dan Nenek Granger."
"Benarkah?" tanya Scorpius, bergantian menatap Rose dan bungkusan yang gadis itu bawa. Rose mengangguk mantap.
Sebenarnya Scorpius penasaran dengan tujuan Rose membeli Telinga-Terjulur, tapi ia lebih memikirkan ketidakberuntungannya sendiri. Hanya perbedaan sekian menit dan ia harus kehilangan stok terakhir Telinga-Terjulur. Ketika bertanya pada George, stok yang baru akan tersedia lagi setelah liburan akhir tahun usai. Jadilah ia kembali dari Diagon Alley tanpa membawa apa-apa. Keluarganya agak heran, tapi bagaimana Scorpius bisa jujur kalau yang ia inginkan sebenarnya Telinga-Terjulur?
"Aku sebenarnya ingin beli buku terbaru Flourish and Blotts, tapi ternyata uangku tidak cukup."
"Buku apa memangnya?" tanya Paman Philip.
"Legenda Makhluk-Makhluk Mistis dari Seluruh Dunia."
Keesokan harinya, Paman Philip langsung memberinya uang dalam jumlah cukup banyak. Itu hadiah untuk Scorpius, katanya. Uang itu bisa digunakan membeli buku idaman Scorpius. Scorpius merasa bersalah, sebab perkataan bohongnya telah menipu orang lain. Tapi ia juga tak bisa jujur. Bagaimana bisa ia bilang kalau ia punya beberapa pertanyaan yang mengganggunya? Ia tahu ia tidak akan bisa langsung mendapat jawaban, jadi ia kira Telinga-Terjulur bisa membantunya.
Jadilah sampai liburan usai Scorpius tidak mendapat petunjuk lebih banyak.
Ketika waktunya kembali ke sekolah, Astoria tampak setengah hati mengantar anaknya ke stasiun. Bukan karena tak ingin melepas anak semata wayangnya. Itu sudah biasa baginya. Tapi ia masih terbayang peristiwa terakhir kali setelah kereta Scorpius pergi.
"Mum, lihat itu," tunjuk Scorpius ke arah lain. Astoria mengikuti arah telunjuknya dan tampak tak nyaman.
"Itu keluarga Malfoy. Ayo kita sapa Rose."
Astoria tak bisa menghindar. Kekuatan Scorpius sudah melebihi kekuatannya. Dengan gampang Scorpius menggandengnya sambil berjalan tanpa kesusahan.
"Hai, Rose!" sapa Scorpius.
"Hai, Scorpius."
Orangtua Rose ikut menoleh. "Selamat pagi, Mr dan Mrs Malfoy," kata Scorpius tanpa melepas tangan ibunya.
Scorpius mengamati saat-saat ekspresi orangtua Rose dan ibunya berubah.
"Astoria."
Terdengar Draco Malfoy berkata. Astoria yang agak menunduk langsung mengangkat kepalanya. Sementara Hermione menoleh pada suaminya.
"Oh… hai."
"Mana… Daphne?" suara Draco terdengar agak kikuk.
"Dia," jawab Astoria, tanpa sadar menggaruk belakang kepalanya. "Aku tidak tahu. Aku kesini bersama Scorpy."
"Scorpy?" tanya Draco.
"Anakku, Scorpius," kata Astoria, menoleh pada putranya.
"Oh, ya, ya. Scorpius… Hyperion… bukan?"
Hermione segera menyahut, "Wah, Draco, kau tahu namanya? Rose yang cerita, ya?"
"Tidak. Kathleen Bletchley yang bilang. Dia temannya Scorpius dan Rose. Waktu itu kami bertemu di Hogsmeade."
"Hogsmeade? Apa waktu Dad habis mengunjungiku di Three Broomsticks?"
"Iya, Sayang," jawab Draco, hilang rasa kikuknya. "Oh ya, Astoria, kudengar kau dulu tinggal di Australia, ya?"
"Ya… dari mana kautahu?"
"Kathleen Bletchley lagi yang bilang. Baru kemarin kami bertemu."
Scorpius tersipu. Walau ia tahu Kathleen menyukainya, tapi apa harus selalu membicarakannya tiap bertemu orang lain?
"Aku yakin Scorpius akan jadi laki-laki yang kuat, seperti ibunya. Iya, kan… Nak?" Draco beralih pada Scorpius. Pemuda itu tambah yakin kalau Kathleen memang sudah cerita banyak tentangnya. Tentu saja ia akan jadi orang yang kuat, sebab siapa lagi yang akan melindungi ibunya kalau bukan ia sendiri?
Tangan Draco tiba-tiba memegang pipi Scorpius, mengusapnya pelan. Entah kenapa rasanya ada sensasi aneh menjalari tubuh Scorpius. Ketika dilihatnya mata kelabu Draco, Scorpius tahu pria itu mungkin merasakan hal yang sama.
"Anak-anak," terdengar suara Hermione. "Kereta sudah akan berangkat. Kau Prefek, kan, Rose? Kau harus segera naik untuk rapat."
"Kau juga Prefek, kan, Nak?" kata Draco lagi pada Scorpius. Ia kemudian tertawa kecil. "Lagi-lagi Kathleen yang cerita." Draco menurunkan tangannya dari wajah Scorpius. Ada rasa aneh di hati Scorpius yang entah apa artinya.
Scorpius mengangguk pelan, kemudian pamit pada keluarga Malfoy. Kali ini ibunya yang memimpinnya, bukan dirinya seperti tadi. Astoria membawanya menjauh dari keluarga Malfoy.
"Jaga dirimu baik-baik, Scorpy," kata Astoria. Air mata mulai menggenang, bersiap tumpah.
Scorpius ingin berkata "Jaga dirimu juga, Mum. Jangan sampai pingsan lagi" tapi tampaknya ia tidak boleh mengatakan itu. Alih-alih, Scorpius membawa ibunya tambah menjauh, sampai tidak lagi bisa melihat keluarga Malfoy.
"Mum juga. Aku sayang padamu," ucap Scorpius. Tanpa malu ia mengecup kedua pipi dan dahi ibunya. Astoria kemudian memeluknya lama, dan tanpa suara ia menangis. Jubah Scorpius jadi basah sedikit karenanya.
Ketika kereta perlahan berjalan, Scorpius masih berdiri di jendela. Ia memandanginya hingga sang ibu tak kelihatan, hanya untuk memastikan ibunya tak akan pingsan lagi.
"Mum…"
.
.
.
TBC
Next chapter:
"Scorpius, melindungi dan dilidungi itu tidak ada hubungannya dengan gender."
"Aku sudah terbiasa melindungi ibuku bahkan sejak aku masih kecil. Rasanya lemah kalau—"
"Scorpius, tidak ada yang namanya lemah ketika kau berbuat kebaikan maupun yang menerima kebaikan. Selama masih ada kehidupan di dunia, maka akan terus ada orang yang menolong dan ditolong."
Scorpius menelan ludah dan ia mulai kedinginan. Ia memang tidak memakai baju setebal Rose, tapi ia tidak mau beranjak dari sisi gadis itu. Scorpius menoleh sedikit dan mendapati mata Rose terlihat bening di kegelapan di bawah bulan.
"Ada apa?" tanya Rose, mengangkat kepalanya. Scorpius menggeleng. Rose meletakkan lagi kepalanya di pundak Scorpius, membuat pemuda itu merasa nyaman. Scorpius juga meletakkan kepalanya di atas kepala Rose. Mereka menutup mata, tak bicara, merasa damai, sampai sebuah suara mengagetkan mereka.
