Disclaimer: Harry Potter punya J.K. Rowling. Saya tidak mengambil keuntungan materil apapun dari penulisan fanfiksi ini.

.


"Rose Antlia Malfoy," kata Profesor Thomas menggema. "Darah-campuran. Lahir dari Draco Lucius Malfoy, darah-murni, putra dari Lucius Malfoy dan Narcissa Black," Ia berhenti sejenak untuk mengangguk pada murid-muridnya, "dan Hermione Jean Granger, kelahiran-Muggle, putri dari Stephen Granger dan Jasmine Lewis."

Ia memimpin murid-muridnya untuk bertepuk tangan. "Bagus sekali." Kemudian berjalan ke arah murid lain.

"Viola Birgitte Hitchens," ia membaca lagi, "Darah-campuran. Putri dari—oh, ibumu orang Denmark, kutebak?"

Viola Hitchens mengangguk. Profesor Thomas melanjutkan membaca hingga ke beberapa anak lain. Namun pada akhirnya, tugas itu mereka simpan hingga kelas usai.

Sambil merapikan tugas murid-muridnya, Profesor Thomas berkata, "Tugasnya akan kukembalikan di pertemuan selanjutnya. Jangan lupa kerjakan tugas yang baru, ya!"

Murid-murid mengiyakan, namun begitu guru baru itu keluar, hampir semuanya mengeluh.

"Dia memang asik, sih, tapi kok hobi ngasih tugas, ya?" protes Kathleen Bletchley paling keras. Sambil menggerutu kecil ia merapikan barang-barangnya ke dalam tas.

Mendengarnya Scorpius menarik napas dalam, kemudian membuangnya. Memang sih guru yang satu itu termasuk rajin memberi tugas, namun Scorpius tak begitu keberatan. Ia termasuk siswa cerdas.

"Bagaimana menurutmu Profesor Thomas, Rose?"

Scorpius memutar kepalanya dan merasa tak nyaman. John Cooperstein sedang mengajak Rose bicara. Di mata Scorpius, John benar-benar sok manis dan cari muka. Tapi yang ia tak habis pikir, Rose seperti tidak merasa seperti itu. Ia malah jadi ngobrol asyik dengan rekan Prefek satu asramanya itu.

"Hei, Scorp, ayo kita makan siang," ajak Kathleen.

"Atau kau masih mau melihat mereka pacaran?" sahut Zabini lalu tertawa.

Kathleen merengut. "Dia tidak naksir Rose!"

"Tentu saja iya!" kata Zabini ngeyel. "Kau tidak cemburu? Dan kau malah ikut-ikutan akrab dengan Malfoy, Kath?"

"Aku tidak cemburu, kok," kata Kathleen, menggelayut di lengan Scorpius lagi. Zabini dan Austin yang melihatnya tertawa.

"Sudahlah, Scorp, menyerah saja. Malfoy tidak naksir kamu balik."

"Sudah kubilang aku tidak naksir dia! Aku—" Scorpius menggantung ucapannya.

Zabini dan Austin tertawa lagi. "Tuh kan, kau bahkan nggak bisa ngomong lagi. Itu sudah jelas. Selalu saja begitu," Zabini merebut lengan Scorpius dari Kathleen, kemudian menyeretnya keluar kelas.

.

XxX

"Anda memanggil saya, Profesor?"

"Oh, Greengrass. Silakan duduk."

Scorpius duduk di depan Profesor Thomas, bertanya-tanya kenapa guru itu memanggilnya.

Tersenyum, guru itu berkata, "Aku sudah mendengar kalau kau termasuk murid yang cerdas di sekolah ini." Ia berhenti untuk mengamati senyum terkembang di wajah Scorpius. "Kau juga Prefek dan pemain Quidditch."

"Ya, Profesor," ucap Scorpius, walau masih merasa penasaran.

"Begini, Nak, aku sudah mengoreksi semua pekerjaan dari kelasmu. Semuanya melakukannya dengan baik, jadi kuberi mereka nilai bagus. Tapi sayangnya," ujar Profesor Thomas, "waktu mengoreksi pekerjaan terkahir, yaitu pekerjaanmu, aku khawatir kau belum mengerjakannya dengan benar."

"Oh, ya? Belum benar bagaimana, Profesor?"

"Aku tidak tahu." Profesor Thomas mengangkat bahu. Ia kemudian mengeluarkan pekerjaan Scorpius. Kemudian dengan tongkat sihirnya, ia mengetuk-ngetuk tugas itu dan mengucapkan beberapa mantra sederhana namun tidak pernah didengar Scorpius. Awalnya tidak terjadi apapun, tapi kemudian muncul sinar merah.

Profesor Thomas kembali menatap Scorpius. "Nah, warna merah. Artinya pekerjaannya ada yang salah."

Ekspresi Scorpius kebingungan. Ia sudah beberapa kali membaca pekerjaannya dan ia yakin tidak ada yang salah, bahkan satu huruf pun.

"Lihat ini," kata Profesor Thomas. Ia kemudian mengambil pekerjaan murid lain, mengetesnya seperti tadi, dan muncul cahaya keperakan. "Seperti ini pekerjaan yang sudah benar."

Melihat ekspresi Scorpius, Profesor Thomas memberikan tugas Scorpius. "Coba kau baca lagi."

Tapi Scorpius sudah terlalu sering membacanya. Sekali lagi ia membacanya, kata demi kata, huruf demi huruf, bahkan tata bahasanya juga. Jangan-jangan ia tak sengaja menuliskan sesuatu yang berbau Bahasa Inggris Australia. Tapi semuanya baik-baik saja.

"Mananya yang salah? Apa ada mantra yang bisa menunjukkan mananya yang salah? Beri tahu saya salahnya dimana."

"Sejauh yang aku tahu, belum ada mantra yang bisa menunjukkan bagian mana dari tugas murid yang salah," jawab Profesor Thomas. "Tapi aku bisa membawanya ke Profesor Sprout, mungkin beliau tahu. Aku guru muda dan baru, mungkin ada sesuatu yang aku tidak tahu."

Scorpius mengangguk kemudian permisi. Di luar, pikirannya mulai bertanya-tanya. Apa benar yang dikatakan gurunya kalau pekerjaannya salah? Mengingatnya Scorpius ingat orangtuanya. Ibunya, Astoria, dan ayahnya, Edmund…

Tapi Scorpius tak ada waktu untuk terus memikirkan tugasnya yang salah itu. Setiap orang pernah salah, bahkan seringkali kesalahan yang tidak disadari. Atau malah mantra koreksi Profesor Thomas yang salah? Bisa jadi. Scorpius lebih memilih fokus belajar yang lain, menjalankan tugas sebagai Prefek, dan main Quidditch. Apalagi ini tahun OWL-nya. Ia harus belajar lebih rajin untuk kelas NEWT.

Untuk patroli Prefek, untung saja tidak pernah dipasangkan sesama lelaki. Paling tidak satu laki-laki dan satu perempuan, bisa juga lintas kelas dan asrama. Ia bersyukur tidak akan mungkin dipasangkan dengan John Cooperstein. Sebaliknya, ia bingung jika suatu saat pemuda itu dipasangkan dengan Rose. Ia tidak bisa begitu saja request pada Ketua Murid untuk mengabulkan keinginannya.

Seperti Scorpius biasanya, ia juga tak begitu kesulitan dengan pelajaran dan Quidditch. Hanya, Katharina Walter selalu mewanti-wantinya agar tidak jatuh lagi saat pertandingan. Scorpius merasa Katharina semata khawatir pada Slytherin, bukan padanya.

Tapi rupanya John Cooperstein masih 'dendam' padanya, dan itu membuat prasangka Scorpius padanya mungkin memang benar. Memang bukan John yang menyerangnya, tapi Beater Ravenclaw teman baik John. Mungkin agak jahat langsung menuduh, tapi entah kenapa hari itu semua beban naik ke kepalanya dan itu membuatnya gampang sensitif. Semua beban pelajaran, tugas Prefek, Quidditch, dan tiba-tiba saja… tugas Profesor Thomas itu. Ia memang tidak terlalu memikirkan tugas itu sebelumnya, tapi entah kenapa tiba-tiba tugas itu terasa makin memberatkannya.

Sebelum pingsan, Scorpius sempat meminta Madam Longbottom untuk tidak menghubungi ibunya lagi.

.

XxX

Scorpius terbangun karena suara di sekitarnya. Ketika ia membuka mata, dilihatnya Kathleen dan Rose sedang berbincang. Ia mengerutkan dahi, masih belum terbiasa dengan keakraban dua gadis itu. Walau dulu mereka tidak akrab, seingatnya Kathleen memang tidak pernah 'cemburu' pada Rose. Namun itulah wanita. Kata orang, wanita kadang susah dimengerti.

"Hai, Scorp," Kathleen duluan yang menyapa. "Sudah baikan?"

Masih pusing sedikit, tapi Scorpius yakin ia tidak kenapa-napa.

"Jangan diajak ngomong dulu, Kath," kata Rose lembut. Scorpius lagi-lagi heran dibuatnya. "Untung saja tidak separah yang awal. Ini masih hari yang sama dengan hari pertandingan."

Scorpius duduk perlahan lalu menatap ruangan Rumah Sakit. Penerangannya sudah dinyalakan dan di luar jendela tampak gelap.

"Aku… tidak akan melewatkan pelajaran kalau begitu?" kata Scorpius.

"Jangan bodoh," ujar Kathleen. "Kau tidak akan masuk sekolah besok. Setidaknya untuk besok saja, kok."

Tapi semakin kedua gadis itu melibatkannya dalam pembicaraan, makin pusing kepala Scorpius. Madam Longbottom segera menyuruh Kathleen dan Rose kembali ke asrama. Kathleen memegang tangan Scopius manja seperti biasanya sebelum berpisah. Rose juga menggenggam tangan Scorpius, dan seketika rasa nyaman muncul. Malam itu ia tidur dengan damai.

.

XxX

Pagi-pagi buta Madam Longbottom membangunkan Scorpius. Istri gurunya itu mendudukkannya di kursi yang di hadapkan di depan jendela yang terbuka lebar. Madam Longbottom bilang udara subuh baik bagi kesehatan. Memang begitu adanya. Terakhir kali ia dirawat di sini, matron itu juga melakukan hal yang sama. Sebelumnya Scorpius akan ngobrol dengan pasien lain sambil menatap ke luar jendela. Namun kali ini ia sendirian. Madam Longbottom sempat mengajaknya ngobrol, tapi tak lama.

"Oh ya, Madam," kata Scorpius sebelum Madam Longbottom pergi. "Kalau boleh tahu obat ini kegunaannya apa?"

"Oh, itu. Obat itu untuk menambah jumlah darah," jawabnya. "Minum setelah makan, ya."

"Menambah jumlah darah? Memang darah saya banyak yang hilang?"

"Cukup banyak, walau tidak sebanyak sebelumnya. Untung sudah ada pendonor sukarela, jadi kau lebih cepat tertolong."

"Pendonor darah sukarela?"

"Oh, para gadis itu belum memberitahumu?" ujar Madam Longbottom. "Kemarin kau ditransfusi darah. Pendonornya Malfoy lagi."

Setelah Madam Longbottom pergi, Scorpius sibuk dengan pikirannya. Ia dapat transfusi darah? Dari Rose lagi? Ini membuatnya merasa seperti laki-laki yang lemah. Seingatnya, baik kecelakaan yang lalu atau sekarang, tidak sebegitu serius, tapi kenapa ia harus dapat transfusi darah? Kenapa darahnya banyak yang hilang?

Kemudian ia mengingat masa lalunya. Ia jarang sekali celaka hingga berdarah. Sejauh yang bisa diingatnya, kecelakaan terparah dialaminya ketika masih di Australia dulu. Waktu itu ia masih kecil dan terjatuh dari ayunan. Astoria menangis sejadi-jadinya karena Scorpius kehilangan banyak darah.

"Sebenarnya jatuhmu tidak begitu parah, tapi Mum sangat panik waktu lihat darahmu banyak yang keluar."

Ya, perkataan ibunya dulu sesuai dengan yang dialaminya sekarang. Dan ketika Kathleen dan Rose menjenguk lagi sebelum masuk kelas, Scorpius menceritakan tentang itu. Kedua gadis itu mengangguk-angguk. Tapi berbeda dengan Kathleen yang tidak begitu memikirkannya, Rose terlihat serius.

Scorpius juga menceritakannya pada Madam Longbottom. Perempuan itu juga sama seperti Rose.

"Aku sempat berpikir begitu, tapi keselamatanmu yang paling utama. Aku harus cepat bertindak," katanya. "Terima kasih, Nak. Aku akan belajar lebih banyak lagi. Kautahu, sepanjang karirku menangani penyihir, belum ada yang seperti ini. Tapi kau tenang saja, sepertinya tidak ada yang serius."

Jika matron Rumah Sakit yang berkata seperti itu, maka tidak ada yang perlu ditakuti.

.

XxX

Scorpius merasa malas kembali ke asramanya. Bukannya Scorpius pengecut, tapi ia merasa tidak suka sekaligus takut karena sudah mengecewakan asramanya. Walau dengan pertandingan melawan Ravenclaw lalu mereka menang, tapi ia sudah terjatuh dua kali.

Lega ia ketika hanya sedikit orang yang menyadari kepulangannya. Tapi ia menjadi kecewa ketika Katharina Walter dengan terus terang akan mencopotnya dari posisi pemain utama.

"Greengrass, kalau kau seperti ini terus, maka terpaksa posisimu diambil pemain pengganti," kata Katharina dengan nada peringatan. "Untung saja dengan dua Chaser kita masih bisa menang."

Katharina benar, Scorpius sangat tahu. Tapi ia marah sekaligus kecewa karena si perfeksionis satu itu mengatakannya tanpa basa-basi, seakan ia penyakit yang harus segera dibuang. Hanya sedikit rasa perhatian yang ditunjukkannya. Tapi ia juga tahu diri dengan kondisinya, dan itu membuatnya frustrasi. Tanpa menimpali, Scorpius langsung masuk kamarnya. Sisa hari itu dilaluinya di kamar, sibuk memandangi makhluk-makhluk Danau Hitam dari jendela.

.

XxX

Awal bulan Maret ada kunjungan ke Hogsmeade lagi. Sudah seminggu sejak Scorpius kembali dari Rumah Sakit dan kondisinya sudah benar-benar pulih, dan sudah seminggu itu pula Scorpius jarang menangkap sosok Rose. Mereka hanya bertemu waktu di kelas dan tak ada waktu untuk ngobrol. Lagipula Kathleen masih selalu nempel padanya dan Rose masih suka ngobrol dengan John Cooperstein.

Scorpius tahu kelakuannya ini aneh, tapi ia sengaja bangun lebih pagi untuk menghindari Kathleen. Ia siaga di dekat asrama Gryffindor, bersembunyi di lorong terdekat. Sedikit-sedikit ia mengecek apakah yang keluar dari lukisan Nyonya Gemuk adalah Rose.

"Greengrass?"

Scorpius melonjak sedikit dan ia jadi agak malu. Di belakangnya ada orang lain yang entah kapan sudah ada di situ. Prefek kelas enam Gryffindor yang juga sepupu Albus Potter, Lucy Weasley berdiri di belakangnya. Rambut merahnya yang bergelombang dibiarkan terurai. Melihatnya Scorpius jadi ingat Emma, adik Hugo Weasley.

"Oh, kau, Weasley," balas Scorpius sambil nyengir.

"Sedang ngapain?"

"Cuma kebetulan lewat sini," kata Scorpius, kali ini kebohongannya tidak meyakinkan. Lucy tersenyum lebar dan Scorpius jadi tambah malu.

"Kalau kau cari Malfoy, dia sudah keluar sama Cooperstein dari tadi."

"Oh, ya?" tanya Scorpius, secara tidak langsung mengakui kebohongannya. "Apa urusan Prefek?"

"Tugas Prefek lebih longgar ketika kunjungan ke Hogsmeade. Yang mengurusi murid-murid adalah Kepala Asrama," ujar Lucy, mengulang salah satu poin pada bab 'Kelonggaran Tugas Prefek' di 'Panduan Prefek dan Ketua Murid Sekolah Sihir Hogwarts'. Scorpius nyengir dan Lucy berkata lagi, "Mau pergi denganku? Mungkin kita bisa ketemu Malfoy di sana. Aku dapat bocoran dari Albus kalau Malfoy mau ke Madam Puddifoot."

Scorpius mendelik. Madam Puddifoot kan tempat untuk kencan?

.

XxX

Rasanya agak aneh jalan berdua dengan Lucy Weasley ke Hogsmeade. Pertama, mereka tidak benar-benar berteman. Scorpius hanya mengetahui gadis itu karena ia Weasley dan Prefek. Kedua, karena jalan berdua dengan seorang gadis bisa membuat orang salah paham, seperti yang dialaminya sekarang. Beberapa murid, terutama para gadis memandangi mereka keheranan campur tidak suka. Tapi Lucy tak tampak terpengaruh dengan itu semua.

"Hei, Scorp!"

Scorpius terlonjak lagi seperti waktu Lucy memergokinya tadi, namun kali ini yang mengagetkannya adalah Zabini, teman sekamarnya sendiri.

"Alan!" sahut Scorpius sebal.

"Wah wah wah…" Zabini berbisik padanya. "Sekarang setelah gagal dapat teman dekatnya Potter, sekarang kau ganti ngembat sepupunya?"

"Shut up!" perintah Scorpius tanpa memelankan suaranya. "Ini tugas penting," kemudian Scorpius ikut berbisik. Tapi tanpa menoleh pada Lucy, Scorpius sadar kalau tindakannya bisa membuat gadis itu kurang nyaman.

"Jangan hiraukan Zabini," kata Scorpius pada Lucy. "Dia memang nggak jelas."

Lucy tersenyum dan Zabini tertawa. Menepuk pundak Scorpius dua kali, Zabini berlari ke belakang. Ternyata disana teman-teman Slytherinnya berada. Kathleen Bletchley dan teman-teman perempuannya juga ada di sana. Scorpius bisa menangkap sosok Kathleen yang matanya menyipit kurang suka. Ini pertama kalinya setelah cukup lama Kathleen tidak terlihat cemburu. Lagi-lagi Scorpius heran lagi, kenapa Kathleen tampak tidak cemburu jika ia bersama Rose?

"Kau mau ke Honeydukes?" tanya Lucy.

"Kalau kau?"

"Mmm… sebenarnya aku ingin kesana… tapi kita kan sedang mencari Malfoy."

"Kau lama tidak? Aku bisa menunggumu."

"Benarkah?" senyum Lucy terkembang lagi. "Baiklah. Aku janji tak akan lama."

Scorpius segan menolak keinginan Lucy, lagipula gadis itu sudah janji tidak akan lama. Agar tidak terlalu sia-sia, Scorpius ikut belanja di Honeydukes juga.

Honeydukes ramai seperti biasa, tapi Scorpius dan Lucy dengan cepat mengambil apapun yang mereka mau. Untung saja di waktu-waktu ramai seperti ini yang melayani pelanggan juga tambah banyak.

Keluar dari toko, Scorpius tersenyum melihat belanjaannya. Memangnya cuma John Cooperstein yang bisa membelikan Rose Malfoy cokelat?

Eh, tunggu. Scorpius baru ingat kalau ia masih menyimpan cokelat untuk Rose dari Australia. Scorpius benar-benar lupa, untung saja ia tidak lupa membawanya kembali ke Hogwarts.

Sehabis itu mereka langsung menuju Madam Puddifoot. Scorpius mendesah ketika melihat kedai itu sudah terlihat mencolok dengan warna merah muda dari kejauhan. Sangat wanita sekali dan Scorpius tidak suka itu, walau ia sudah menghabiskan seluruh hidupnya hanya tinggal dengan ibunya. Lucy sementara itu menjerit kecil dan terlihat senang.

Begitu memasuki kedai, bau yang sangat manis memenuhi udara. Scorpius mual mencium bau itu, tapi ia lebih mual lagi melihat banyak pasangan disitu sedang kau-tahu-apa. Menahan pandangannya, Scorpius berusaha mencari sosok Rose.

"Itu dia," gumam Scorpius. Ia ingin segera menghampiri Rose tapi Lucy menahannya. "Apa?" kata Scorpius.

"Kita awasi saja. Mereka juga cuma duduk-duduk biasa."

Sekali lagi Scorpius menuruti Lucy. Ia ikut saja ketika Lucy menariknya ke meja yang masih kosong. Scorpius sempat terkesan dengan kejelian Lucy melihat peluang karena tempat itu padat sekali. Yah, walau akhirnya mereka duduk jauh dari Rose dan John.

Menit-menit berikutnya ia tidak sadar sampai dua cangkir kopi susu diletakkan di depannya. Dengan cekatan Lucy segera membayarnya.

"Tenang saja. Nanti kuganti," kata Scorpius, dengan senang mencium bau harum di hadapannya.

"Tidak usah. Aku traktir saja."

Scorpius mengangkat tangan tanda berterima kasih. Ia mulai menyeruput kopinya sambil tetap mengamati Rose dan John.

"Oh, tidak," Scorpius bergumam. "Kenapa dia pegang-pegang tangan Rose?"

Scorpius mulai gelisah di kursinya. Meletakkan cangkirnya ke meja, kini ia berkonsentrasi penuh pada Rose. Gadis itu tampak tak menolak ketika tangan John memegang tangan kecilnya, kemudian mengelusnya sebentar. Scorpius tambah gelisah.

"Biarkan saja, Greengrass. Mereka kan memang dekat," sahut Lucy.

"Tidak bisa seperti itu!" kata Scorpius gusar.

"Kenapa?"

"Karena—karena—ah, begitulah pokoknya!" jawabnya tanpa menoleh pada Lucy. Ia menggeretakkan jari-jarinya di atas meja tak sabar.

"Kau suka sama Malfoy?"

"Bukan begitu. Oh!" Scorpius kelihatan panik. "Tidak! Lepaskan tanganmu dari wajah Rose!"

Beberapa orang menoleh, tapi tak ambil pusing dan kembali sibuk dengan kegiatan mereka. Lucy tampak malu. "Hei, Greengrass, kau tidak apa-apa?"

"Tidak. Aku harus kesana!"

Tanpa menunggu respon Lucy, Scorpius langsung beranjak mendekati meja Rose dan John. Ia tak bisa melihat tangan John mengelus pipi Rose. Tidak bisa. Ia tidak suka, apalagi setelah didekati, wajah Rose tampak pucat.

"Hei, Cooperstein! Kau apakan Rose?"

Rose dan John terlonjak, baru menyadari keberadaan Scorpius di kedai itu. Wajah John merah karena kesal, tapi ia berusaha menahan perasaannya.

"Masih mau cari gara-gara denganku, Greengrass?" kata John. "Tapi sayang sekali, bahkan kau tidak tahu kalau Rose sedang kurang sehat. Yah, memang sih, kau kan tidak di Gryffindor."

"Dia sakit?" tanya Scorpius panik. "Tidak! Tidak… kau sakit, Rose?"

Rose mengangguk. Scorpius menempelkan punggung tangannya di kening Rose dan merasakan kulitnya lumayan panas. John sementara itu berusaha menahan agar tak menampik tangan Scorpius dari kening Rose.

"Kau harus kembali ke sekolah!" Scorpius membantu Rose berdiri, tapi John segera mengambil alih.

"Kau telat, Greengrass. Aku barusan akan mengantarnya kembali ke sekolah."

"Oh, ya?" mata Scorpius menyipit. "Kalau kau tahu dari awal dia kurang sehat, kenapa kau paksa dia ke Hogsmeade? Oh, aku tahu alasannya… tapi kau tidak akan pernah bisa memanfaatkan Rose."

Mata John juga tidak kalah sipitnya. "Apa katamu?"

"Sudah, Scorpius. Aku akan kembali ke sekolah sekarang juga," Rose menyela. Dengan lemah ia berjalan perlahan. John segera memapahnya keluar kedai.

"Kita ikuti mereka," kata Scorpius pada Lucy.

Ketika terpapar udara musim dingin, Rose hampir tak kuat berjalan lagi. Dengan lembut John menguatkannya. Scorpius kelihatan khawatir sekali, tapi ia masih waspada dengan John. Ia setia memegangi Rose dari belakang.

Rose masih berjalan terseok-seok, tapi akhirnya ia menyerah. Ia merosot ke tanah bersalju dan tak bisa berdiri lagi. John memekik tapi Scorpius lebih sigap. Ia segera mengambil alih Rose dan bersiap menggendongnya di punggung.

"Greengrass—kau!"

"Diam! Rose harus segera diselamatkan. Weasley, bantu aku!" kata Scorpius sambil melemparkan belanjaannya. Setelah membantu mengangkat Rose, Lucy membawakan belanjaan Scorpius.

Setelah Rose ada di punggungnya, Scorpius berlari. Baru pertama kalinya ia menggendong seseorang di punggungnya. Rasanya berat sekali, apalagi Rose seumuran dengannya walau lebih pendek. Di depan Three Broomsticks, Madam Rosmerta yang sedang berbincang dengan pria tua melihat Scorpius yang berlari membawa Rose.

"Oh, Nak! Kenapa dia?"

"Dia pingsan. Dia sakit. Tolong dia, Madam!"

Madam Rosmerta buru-buru membukakan pintu. Beberapa pengunjung teralihkan perhatiannya dan jadi tambah berisik. Madam Rosmerta membukakan pintu yang ternyata mengarah ke kamarnya sendiri.

Lucy membantu Scorpius menurunkan Rose ke tempat tidur. Scorpius refleks membantu Madam Rosmerta menolong Rose, tapi John sudah tidak tahan lagi. Ia menampik tangan Scorpius.

"Apa maksudmu?" suara Scorpius meninggi.

"Biarkan para wanita yang bekerja," jawab John dingin.

"Oh, anak-anak, please, jangan bertengkar di situasi seperti ini," kata Madam Rosmerta sambil mondar-mandir membawa entah-apa yang tidak diperhatikan Scorpius. "Kembalilah ke sekolah atau kembali ke teman-teman kalian. Aku akan kirim kabar ke Hannah agar gadis ini bisa lebih terurus."

"Saya akan tetap disini!" kata John.

"Tidak. Saya yang tetap disini!" sahut Scorpius.

"Kalian keluarlah atau gadis ini tidak akan tertolong." Madam Rosmerta berhenti mondar-mandir. Tangannya di pinggang dan ia kelihatan serius. John dan Scorpius langsung takut dan tanpa perlawanan keluar dari kamar, meninggalkan Lucy tetap di dalam.

Scorpius menenteng belanjaan Honeydukes-nya tanpa tenaga. Kalau sudah seperti ini, rasanya malas untuk tetap di Hogsmeade. John juga begitu. Tanpa berkata apa-apa—bahkan tanpa adu mulut—kedua pemuda itu berjalan beriringan kembali ke Hogwarts.

.

XxX

Selepas tidur siang Scorpius merasa pegal-pegal di seluruh tubuhnya. Membawa beban berat memang bukan hal yang baru, tapi menggendong seseorang di punggung tidak termasuk. Ia membenci ini. Ia benar-benar merasa lemah. Setelah dua kali mendapatkan transufsi darah dari Rose, kini untuk menggendongnya saja Scorpius kesusahan.

Ia turun ke Ruang Rekreasi yang masih sepi, hanya ada anak-anak kelas satu dan dua. Berjalan perlahan ia sedikit mengurut punggungnya, ia menoleh ketika seorang anak perempuan memanggilnya.

"Butuh bantuan, Kakak Senior?" tanyanya sambil mengedip. Oh, jika Salazar Slytherin bisa menyaksikan, itu kan anak kelas satu yang nekat mendaftar Quidditch waktu itu!

"Hei, kau tak sopan mengganggu Prefek!" kata anak lainnya.

"Tapi aku kan cuma menawarkan bantuan!" sanggahnya.

Scorpius melambaikan tangan. Segitu lemahnyakah ia hingga anak-anak itu tahu kalau ia sedang kesusahan? Scorpius menguatkan diri untuk bisa berjalan normal. Ia sempat mendengar cekikikan para anak perempuan itu sebelum ia keluar asrama.

Ketika Scorpius sampai di Rumah Sakit, ia lega melihat Rose sudah dipindahkan kesitu. Ia tertidur damai dan tampak cantik sekali. Otomatis Scorpius tersenyum sendiri.

"Hai, Greengrass, kau mau menjenguk Malfoy?"

Scorpius berhenti tersenyum. Madam Longbottom berdiri di belakangnya membawa beberapa tumpuk perkamen.

"Salah satunya. Tapi apa Anda punya ramuan pereda pegal-pegal?"

"Pegal-pegal? Memangnya habis kenapa?"

Menahan malu Scorpius menjawab yang sebenarnya, tapi ia lega ketika matron itu tidak tertawa. Ia langsung menghilang ke kantornya dan keluar beberapa saat kemudian.

"Minum ini," katanya. "Kalau perlu air minum, ambil saja di meja sana. Dan oh, aku pergi sebentar dulu, ya. Jaga Malfoy."

Senyum Scorpius langsung terkembang. Ya, menjaga Rose. Ia sangat tersanjung dengan itu. Rasanya Madam Longbottom sudah percaya padanya.

Cepat-cepat Scorpius meneguk ramuannya, kemudian minum air putih untuk meredakan rasa pahit di lidahnya. Ia kemudian beranjak dan duduk di kursi samping tempat tidur Rose.

Tak tahu kenapa tiba-tba ia ingin sekali meraih tangan Rose dan mengelusnya seperti yang tadi John lakukan. Tapi tentu saja tidak seperti cara John melakukannya. Ia selalu berpikir bahwa pemuda itu tidak cukup baik untuk Rose. Tapi sebelum itu terjadi, Madam Longbottom sudah kembali. Ia menghampiri Rose dan langsung memeriksanya.

"Sudah waktunya," katanya.

"Sudah waktunya apa?" tanya Scorpius.

"Gadis ini demam dan kekurangan darah. Sepertinya kecapekan dan stres. Ditambah kurang makan seperti yang seharusnya. Kau bisa membantuku?"

"Bisa," jawab Scorpius spontan.

"Karena golongan darah kalian sama, dan kebetulan juga kau disini, jadi maukah kau mendonorkan darah? Ini sudah agak terlambat jadi transfusi darah bisa lebih cepat memulihkan kondisinya daripada tablet tambah darah biasa."

Scorpius mengangguk mantap. Ini pertama kalinya ia mendonorkan darah. Setidaknya ini saatnya ia membalas budi pada Rose. Darah Rose yang sudah mengalir di tubuhnya akan dikembalikan sebagian pada yang punya.

Setelah urusan donor selesai, Madam Longbottom menyuruh Scorpius kembali ke asrama. Scorpius sempat melihat dua asisten Madam Longbottom masuk, menarik tirai tempat tidur, dan mulai kelihatan sibuk. Seperti itukah keadaannya waktu itu? Scorpius berharap Rose tidak akan kenapa-napa.

.

XxX

Sore harinya Scorpius kembali lagi ke Rumah Sakit. Disana ia melihat Rose sudah bangun. Duduk bersandarkan bantal sambil makan jeruk dan membaca buku dengan serius. Scorpius tersenyum. Rose sama saja waktu sakit dan sehat.

"Halo, Granger."

"Oh, halo, Greengrass."

"Setidaknya berhentilah membaca buku ketika sakit," kata Scorpius, merebut buku Rose lalu menaruhnya di meja. "Dan sejak kapan ada buku di sini?"

"Albus yang membawanya untukku," jawab Rose.

"Oh, ya? Dia habis kesini?"

"Tentu. Ada juga beberapa Weasley dan Coop." Ketika menyebutkan nama terakhir, suasana jadi agak canggung. Rose membenahi duduknya dan makan jeruk lagi.

"Ya," kata Scorpius kemudian. "Mereka membawakanmu buku, tapi aku membawakanmu cokelat. Kurasa Coop juga tidak membawakannya."

"Mereka membawa banyak camilan, tapi Madam Longbottom melarang."

Scorpius terdiam sejenak, kemudian berkata, "Ya, mereka bisa memberikannya nanti kalau kau pulang, tapi aku tidak bisa melihatmu di Ruang Rekreasi Slytherin, kan?"

Scorpius menunjukkan bawaannya. Beberapa camilan dari Honeydukes dan—dengan bangga—juga menunjukkan tiga batang cokelat Australianya.

"Cokelat apa ini?" tanya Rose, mengambilnya dari tangan Scorpius. "Aku sudah coba banyak merk cokelat, tapi aku belum pernah tahu ini."

"Aku beli itu di Australia."

"Australia? Kapan kau kesana?"

"Liburan akhir tahun lalu."

"Tapi," Rose terlihat berpikir, "bukannya Australia punya musim yang berlainan dengan Inggris? Itu artinya di sana sedang musim panas? Kau tidak sakit?"

"Kami sudah biasa. Dulu waktu aku kecil, waktu liburan ke Inggris, kami rutin minum obat Muggle atau ramuan."

Rose memandangi cokelatnya dengan berminat, sebelum mengembalikan ke kantongnya.

"Terima kasih, Scorp. Kalau sudah sembuh pasti kumakan."

Tampaknya Rose tidak tahu kalau darah Scorpius sudah mengalir di tubuhnya, sebab kalau tahu Rose pasti sudah berterima kasih. Tapi Scorpius sama sekali tidak mengharapkan ucapan terima kasih. Ia sudah bersyukur sekali Rose akhirnya akan sembuh.

"Kata Madam Longbottom, kau mungkin kecapekan atau stres ya, sampai sakit begini?"

"Oh ya, Scorpius," kata Rose. "Terima kasih atas transfusi darahnya."

Scorpius tersenyum, tapi ia menanyakan kembali pertanyaan awalnya. Rose menjawab 'iya'.

"Kecapekan atau stres? Atau dua-duanya?"

"Kau seperti… det.. deteksi saja."

"Detektif maksudmu?" Rose mengangguk. Scorpius melanjutkan, "Tapi aku serius. Sebenarnya kau kenapa, sih?"

"Bukan masalah besar." Tapi ini masalah besar bagi Scorpius, walau Rose tak ambil pusing. "Ya… Cuma masalah pelajaran dan sejenisnya. Ini tahun OWL."

Tapi Scorpius tidak percaya. Rose bukan anak yang mudah tumbang karena pelajaran. Buktinya waktu ia datang kesini, Rose sedang membaca buku.

"Tapi aku benar-benar berterima kasih atas bantuanmu," lanjut Rose. "Aku masih ingat kau yang menggendongku ke kedai Madam Rosmerta. Aku memang sudah hampir pingsan, tapi aku masih ingat sedikit."

"Bantuanku tidak ada apa-apanya. Kau malah sudah menyelamatkan nyawaku dua kali."

"Madam Longbottom yang menyelamatkanmu."

"Kau juga." Mereka berdua langsung terdiam. Tidak ada yang menimpali lagi omongan satu sama lain. Beruntung bagi mereka, Madam Longbottom memasuki ruangan dan berkata sudah saatnya pengecekan kesehatan Rose. Scorpius langsung undur diri sebelum berpesan untuk membawa pulang oleh-olehnya ke asrama Gryffindor.

.

XxX

Keadaan Rose memang sudah bisa dikatakan sehat, tapi gadis itu sesekali tampak pucat. Ia tidak seaktif biasanya di kelas dan lingkaran gelap nampak di bawah matanya. Ia bahkan menolak ajakan John untuk berjalan bersama.

Selepas makan malam ia berjalan sendirian ke Danau Hitam. Ia memang sengaja berpakaian lebih tebal dari biasanya. Orang-orang mengira dia masih kurang sehat, tapi malam ini ia merasa baik-baik saja. Ia memang sudah berencana duduk di pinggir Danau Hitam sendirian.

Di depan Danau ia duduk di bawah pohon, sengaja menyembunyikan dirinya dari pandangan. Matanya menatap hampa ke atas air. Sekali terlintas pertanyaan dimanakah dan bagaimanakah persisnya asrama Slytherin yang ada di bawah Danau Hitam. Ia hanya berharap anak-anak itu hidup layak dan tak kehabisan napas.

"Tampaknya aku harus memotong poin asrama Gryffindor."

Rose tetap tak bergeming walau mendengarnya. Matanya menatap ke depan tanpa berkedip. Baru ketika Scorpius sengaja menendang kerikil ke atas danau, Rose menoleh. Ia tidak menampilkan banyak emosi, hanya tersenyum tipis.

"Memotong poin untuk apa? Aku tidak melakukan pelanggaran."

Sambil duduk, Scorpius berkata, "Karena Prefek Gryffindor yang cantik dan pintar ini tidak seperti dirinya yang dulu lagi."

Rose tersenyum tipis lagi, lalu merapatkan jubahnya.

"Ada apa kau kemari? Musim dingin belum benar-benar berakhir."

"Kalau kau?" tanya Rose balik.

"Alasan yang sama denganmu," kata Scorpius, tiba-tiba terdengar sedikit serius. Mata kelabu Rose menatap mata cokelat Scorpius selama beberapa detik, kemudian kembali lagi menatap Danau.

Setelah diam beberapa saat, Scorpius bersuara lagi, "Aku lemah, ya? Seperti anak perempuan?"

"Apa?"

"Harusnya aku yang melindungimu. Bukan kau yang melindungiku. Aku yang lebih banyak menyelamatkanmu, bukan sebaliknya."

Mata Rose mengerjap-ngerjap sesaat. "Scorpius, melindungi dan dilidungi itu tidak ada hubungannya dengan gender."

"Aku sudah terbiasa melindungi ibuku bahkan sejak aku masih kecil. Rasanya lemah kalau—"

"Scorpius, tidak ada yang namanya lemah ketika kau berbuat kebaikan maupun yang menerima kebaikan. Selama masih ada kehidupan di dunia, maka akan terus ada orang yang menolong dan ditolong."

Seketika Scorpius merasa malu. Memang ia merasa lemah, tapi apa yang dikatakan Rose benar. Terkadang nasib manusia bisa ada di atas atau di bawah. Mereka terdiam lagi.

"Scorpius?" terdengar suara pelan Rose.

"Hmm?"

"Seperti apa ayahmu?"

Scorpius menatap Rose dan gadis itu menatapnya balik. Merasa agak aneh, Scorpius bertanya balik, "Ada apa tanya ayahku?"

"Rambut dan matamu memang mirip ibumu, tapi aku selalu merasa kalau wajahmu pasti lebih mirip ayahmu."

"Kenapa bisa yakin?"

"Aku sudah pernah bertemu ibumu. Wajah kalian tidak begitu mirip, jadi wajahmu pasti lebih mirip ayahmu."

"Kau belum pernah tahu ayahku, memang. Jangankan kau, aku saja tidak tahu seperti apa wajahnya." Terdengar suara getir Scorpius, dan Rose terlihat menyesal.

"Oke. Tidak usah dijawab."

"Oh, yeah, tidak apa-apa," jawab Scorpius. "Aku ingat Mum memang pernah bilang kalau wajahku lebih mirip Dad."

"Dia pasti tampan sekali…"

Scorpius tertawa. Masih terdengar nada sedih dalam suaranya. "Ya. Aku selalu membayangkan dirinya tidak jauh beda denganku, jadi aku tidak terlalu penasaran. Bagaimana denganmu?"

Rose tidak segera menjawab. Ketika Scorpius menatapnya, kedua mata Rose terpejam. "Rose, kalau mengantuk, kita kembali saja."

"Tidak," jawab Rose tanpa membuka matanya. "Aku cuma ingin menghilang sejenak dari kehidupan ini."

Scorpius tak mengerti, namun ia terkejut ketika tiba-tiba Rose menyandarkan kepalanya ke pundak Scorpius.

"Menghilang maksudmu bagaimana?"

"Tidak apa-apa," jawab Rose. Kini matanya terbuka, namun ia tetap tidak mengangkat kepalanya. "Soal aku mirip siapa… aku mirip kedua orangtuaku. Aku benar-benar campuran keduanya, baik sikap atau kemampuan. Kalau fisik, aku yakin kau sudah pasti tahu. Rambut cokelat bergelombangku ini mirip…"

"Ibumu," sambung Scorpius.

"Mataku mirip…"

"Ayahmu."

"Kulitku agak pucat seperti…"

"Ayahmu lagi."

"Dan rupaku…"

Ada jeda sebentar, sebelum Scorpius berkata lagi, "Lebih mirip ibumu. Sepertinya."

Rose tertawa kecil yang anggun. "Ya… kalau bukan karena kulit dan mataku ini, mungkin tidak ada yang tahu kalau aku anak Draco Malfoy."

"Rose… kenapa kau bilang begitu? Kau mirip ayahmu, kok. Lagipula tidak mirip secara kasat mata bukan berarti seseorang bukan anak kandung orangtuanya, kan? Bisa saja mirip kakek-neneknya atau paman-bibinya."

"Tentu saja aku anak kandung ayah dan ibuku," kata Rose. "Seperti kau anak kandung ayah dan ibumu."

Scorpius menelan ludah dan ia mulai kedinginan. Ia memang tidak memakai baju setebal Rose, tapi ia tidak mau beranjak dari sisi gadis itu. Scorpius menoleh sedikit dan mendapati mata Rose terlihat bening di kegelapan di bawah bulan.

"Ada apa?" tanya Rose, mengangkat kepalanya. Scorpius menggeleng. Rose meletakkan lagi kepalanya di pundak Scorpius, membuat pemuda itu merasa nyaman. Scorpius juga meletakkan kepalanya di atas kepala Rose. Mereka menutup mata, tak bicara, merasa damai, sampai sebuah suara mengagetkan mereka.

"Oho! Apa ini? Bersiap untuk pemotongan poin asrama rupanya?"

Dibawah cahaya remang-remang mereka bisa mengenali pemilik rambut merah menyala itu. Walau tidak memakai seragam lagi, tapi Lucy Weasley tetap memakai lencana Prefek merahnya, sesuatu yang tidak dilakukan Rose atau Scorpius dengan lencana peraknya.

"Weasley?" kata Rose dan Scorpius bersamaan.

Lucy mengangguk-angguk tak senang. "Malfoy, walau aku Gryffindor juga, tapi aku tak segan memotong poin asrama kita karena kelakuanmu ini."

"Kelakuan apa?" tiba-tiba suara Rose meninggi dan Scorpius sedikit terlonjak karenanya. Ia tak pernah melihat Rose marah seperti itu.

"Kaupikir apa yang dilakukan laki-laki dan perempuan yang bukan bersaudara di suasana seperti ini?" Lucy mulai menaikkan tangan ke pinggangnya, menampilkan watak superior yang sempat dilihat Scorpius waktu bertugas sebagai Prefek.

"Kami tidak ngapa-ngapain!" bantah Rose. "Iya kan, Scorp?"

"Benar. Weasley, sebaiknya kau tidak usah berburuk sangka."

Lucy mengerucutkan bibirnya. "Buat apa aku memercayai kalian? Beri aku saksi yang netral maka aku akan percaya, bahkan yang jadi saksinya cumi-cumi raksasa sekalipun."

"Tapi banyak murid laki-laki dan perempuan yang berduaan dan Prefek tidak memotong poin asrama!" kata Rose.

"Itu lain kondisi. Kalian berduaan di tempat gelap begini dan parahnya kalian ini Prefek!"

"Tapi kami cuma duduk dan ngobrol," bela Scorpius berusaha tenang. Dua wanita sedang 'panas' dan ia tak mungkin memperburuk keadaan. Scorpius juga kurang percaya bahwa gadis berambut merah itu orang yang sama dengan orang yang membantu Madam Rosmerta menangani Rose.

"Kau cuma tidak suka, kan," kata Rose, pelan, tapi Scorpius masih dapat mendengarnya, "kalau aku dekat-dekat dengan Greengrass-mu ini?"

Scorpius dapat melihat wajah putih Lucy menjadi merah. Ia terlihat malu sekaligus marah. Tapi ia masih memberanikan diri berbicara.

"Tidak usah gusar," kata Lucy, tidak sadar jelas-jelas dirinya yang terlihat gusar. "Hanya sepuluh poin dari masing-masing Slytherin dan Gryffindor."

Rose menatap tajam figur Lucy yang berwajah keras. "Kau tahu, kalau kau seperti itu, kau kelihatan seperti ayahmu."

Lucy terlihat tambah marah. "Beraninya kau—jangan bicara begitu tentang ayahku!" Lucy menghentakkan kakinya, membuat rambut merahnya melambai sejenak. Ia segera memutar badan untuk kembali ke kastil, tapi tiba-tiba ia menoleh ke belakang dan berkata, "Kalau kau mengejek ayahku seperti itu, secara tidak sadar kau juga mengejek ibumu sendiri. Ayahku dan ibumu itu satu paket!"

Scorpius mengernyit. Apa maksudnya 'satu paket'? Apa mereka sebenarnya saudara? Atau malah saling punya hubungan di masa lalu?

"Apa maksudnya itu?" tak tahan juga Scorpius bertanya sambil memandangi sosok Lucy yang menjauh.

"Tidak penting. Ibuku dan ayahnya hanya mirip di watak saja, tidak lebih."

Tanpa berkata lagi Rose berjalan kembali ke kastil. Scorpius mengikutinya dalam diam. Hingga akhirnya mereka tahu, setelah sampai di Aula Depan, ucapan Lucy tidak main-main. Poin kedua asrama sudah berkurang.

.

.

TBC

Ada yang bilang penasaran sama ceritanya. Memang sengaja bikin teka-teki dan nggak secara eksplisit menjelaskan misterinya sampai tiba waktunya untuk diungkapkan. Dan sekarang semakin dekat dengan waktunya pengungkapan itu. Tapi coba aku lihat siapa saja yang kepo. Kalau tidak ada respon, kemungkinan ceritanya bisa discontinue.

Jangan lupa review ya! Saran boleh, tapi jangan flame, muehehe. Karena dengan review (atau follow atau likes) itu jadi penyemangat aku, dengan begitu aku tahu ada yang banyak menunggu kelanjutan cerita ini. Kalau nggak ada respon, yah gimana bisa tahu kalau banyak yang menanti lanjutannya?


Next chapter:

Hermione dan Draco langsung menghampiri putri mereka. Astoria hanya diam saja, tak menjawab tatapan bertanya anaknya. Ia hanya berdiri dan air matanya keluar tambah banyak. Tak direspon ibunya, Scorpius ganti mengamati keluarga Malfoy yang tengah bersedih, tapi kemudian Rose tiba-tiba tampak marah.

"Rose, apa ini?" tanya Hermione tak mengerti.

Rose memandangi Hermione dengan marah, kemudian berganti ke ayahnya, ke Scorpius, bahkan ke Astoria. "Kalian bohong! Jahat!"