Disclaimer: Harry Potter punya J.K. Rowling. Saya tidak mengambil keuntungan materil apapun dari penulisan fanfiksi ini.
.
Setelah cukup lama akhirnya tugas Sejarah Sihir tentang penggolongan status darah dikembalikan. Murid-murid bersorak senang ketika mereka sama-sama mendapat nilai tertinggi di kelas. Profesor Thomas terakhir menyebut nama Scorpius untuk maju menerima tugasnya. Ia sudah bersiap bertanya ketika Profesor Thomas memberinya perkamen bernilai sempurna.
"Profesor?"
"Hmm?"
"Nilai saya? Apa ini benar?"
"Benar, Greengrass."
"Tapi terakhir kali Anda bilang tugas saya ada yang salah."
"Yah," kata guru itu sambil melipat tangan, "aku sudah minta bantuan Profesor Sprout. Ada beberapa kesalahan… sepertinya kesalahannya ada padaku… setelah Profesor Sprout yang mengoreksi, ternyata tugasmu benar."
Scorpius meneliti wajah gurunya, mencoba mencari jejak kebohongan, tapi ia sendiri menyerah. Tak sopan memandangi guru terus-terusan, apalagi guru wanita.
"Ada apa, Scorp?" tanya Austin yang jadi teman sebangkunya. Kathleen yang ada di belakangnya melongok ingin tahu.
"Apa tugasmu ada yang salah?" tanya gadis itu.
"Kalau kau saja bisa dapat nilai sempurna, masa Scorpius tidak?" kata Austin. Kathleen sebal merasa diremehkan. Scorpius hanya tersenyum, senyum yang ia sendiri bingung apa artinya.
.
XxX
Sebulan sebelum ujian OWL Slytherin akan bertanding Quidditch terakhir kalinya tahun ajaran itu. Pertandingan melawan Hufflepuff dan ada isu kalau tim itu jadi lebih kuat dari sebelumnya. Katharina Walter tentu saja menepati omongannya. Scorpius tidak bergabung dan teman sekamarnya sendiri, Rory Payne yang menggantikan posisinya.
"Maafkan aku, Scorp," kata Payne sebelum pertandingan.
"Sudah berapa kali kau bilang maaf?" tanya Scorpius berusaha biasa-biasa saja. "Tidak perlu minta maaf."
"Ini demi tim kita. Doakan kita bisa menang Piala Quidditch!" katanya berapi-api. Scorpius tahu sebenarnya Payne berambisi jadi pemain inti dari dulu, hanya saja ia selalu masuk bangku cadangan. Porsi partisipasinya dalam pertandingan pun masih bisa dihitung. Tapi ia tidak bisa sebal pada Payne. Tiap orang punya ambisi sendiri-sendiri, hanya jangan sampai merugikan orang lain. Toh mereka juga sama-sama membela tim Slytherin.
Para Potter dan Weasley mengajak Scorpius bergabung bersama mereka. Kathleen agak cemberut, karena kapan lagi ia bisa menonton tim Quidditch Slytherin dengan Scorpius di sampingnya? Tapi Scorpius tak peduli. Kebetulan juga ada Rose. Dan ia diam-diam bersyukur tidak ada John di kelompok itu.
"Hai, Scorpius. Rasanya agak aneh melihat Slytherin bertanding tapi kau malah bersama kami," sahut James Potter lalu tertawa. Albus dan Lily kompak menyodok rusuk kakak mereka. James meringis kesakitan.
Mereka duduk di tribun Gryffindor. Beberapa murid perempuan Gryffindor terkikik melihat Scorpius ada di antara mereka.
"Kenapa, sih? Memangnya aku tidak boleh ada disini, ya?" kata Scorpius, berlagak tak tahu alasannya.
"Justru mereka senang ada kau disini," jelas Albus. "Aku bosan, kadang-kadang aku dengar namamu disebut. Greengrass beginilah, Greengrass begitulah."
"Sama sepertimu. Aku sering mendengar Potter beginilah, Potter begitulah."
"Hanya ada tiga Greengrass di sekolah ini dan jelas yang dimaksud adalah kau. Tapi kalau Potter? Potter yang mana dulu?"
"Ketiga-tiganya, sih. Oh Albus, kau harusnya tahu itu," kata Scorpius, meninju lengan Albus pelan. Tapi gantinya Albus malah mendorong Scorpius ke belakang. Untung saja di belakang Scorpius duduk gadis-gadis pemujanya. Para gadis itu memekik senang. Albus tertawa, tapi Rose terlihat tidak suka.
"Albus! Jangan ngawur!" tegur Rose.
"Scorpius tahu aku cuma bercanda. Iya, kan?" Scorpius mengangguk. "Tuh!"
"Lain kali jangan sembarangan, ya! Untung dia terdorong ke belakang. Kalau ke depan bagaimana?"
Albus menatap ke depan dan tampak ngeri sendiri, tapi kemudian ia mengernyit. "Tapi, Rose, FYI, tribun ini disihir jadi tidak mungkin bisa ada yang jatuh."
Rose hanya melirik kemudian bersedekap dan diam.
"FYI? Seperti anak muda Amerika saja!" kata Scorpius terkesan.
"Benar, kan? Aku tahu dari acara TV!"
Hugo Weasley menyahut betapa ia ingin punya TV di rumah tapi tidak dibolehkan orang tuanya. Lalu adiknya Emma berkata kalau Hugo pernah merusak koleksi TV hitam putih kakek mereka. Sedang Scorpius teringat kembali pada Rose.
"Hei, kenapa kau sewot? Aku saja tidak," ujar Scorpius sambil menyikut Rose.
"Tindakan Albus bisa bikin celaka."
"Kami cuma bercanda! Dan aku tak bakalan celaka duduk disini."
Mata kelabu Rose kini tampak khawatir. "Scorpius, aku rasa tepat kau tidak dipakai di pertandingan kali ini. Aku tidak tahu kenapa dua pertandingan kemarin kau buruk, tapi aku lega. Kalau sampai kau terluka lagi—"
"Kau tak mau mendonorkan darahmu?" kemudian Scorpius tertawa, walau diam-diam agak dongkol juga. Aku celaka gara-gara Coop-mu itu, tahu!
"Aku serius," kata Rose tegas. "Tidak hanya itu. Setiap waktu kau harus lebih hati-hati. Jangan sampai celaka. Nanti kau bisa kehilangan banyak darah lagi."
Senyum Scorpius membeku, kemudian perlahan hilang. Perkataan Rose membuatnya sadar kembali dengan keanehannya… kalau memang bisa dibilang aneh. Kenyataannya ia tidak tahu gampang kehilangan banyak darah itu kelainan atau masih termasuk normal.
"Apa menurutmu aku punya suatu penyakit?" Scorpius bertanya serius dan Rose tampak lega.
"Sepertinya. Jadi jaga dirimu baik-baik."
"Benarkah? Penyakit apa?" Suara Scorpius masih terdengar serius.
Rose melebarkan matanya, ekspresi leganya hilang, kemudian ia menggeleng. "Oh, lupakan perkataanku. Aku cuma mau menakutimu. Mana aku tahu? Aku kan bukan dokter atau Penyembuh." Kemudian Rose tertawa lepas. Terlihat sangat alami, tapi Scorpius tidak terkesan.
.
XxX
Sebenarnya Scorpius masih penasaran dengan 'penyakit' yang mungkin dimilikinya. Ia tahu Rose bukan Penyembuh ataupun dokter, tapi gadis secerdas Rose pasti tidak sembarangan bicara, apalagi tentang hal serius. Namun tekanan OWL sekali lagi memaksanya untuk mengesampingkan hal lain. Beberapa teman sekelasnya bahkan dilanda kepanikan luar biasa hingga harus masuk Rumah Sakit. Kathleen Bletchley bukan salah satunya. Diluar sangkaan Scorpius, gadis itu perlahan menjauh darinya dan lebih sering kelihatan belajar.
Akhirnya setelah minggu-minggu penuh tekanan, Scorpius berhasil melewatinya dengan cukup baik. Di hari terakhir, ia merendam kaki di pinggir Danau Hitam bersama teman-temannya.
"Hai, Scorp, aku terkejut kau ada di sini," kata Zabini yang baru tiba. Ia melempar tasnya ke rumput dan mulai mencopot sepatunya.
"Kenapa terkejut?"
"Aku kira kau ada di Rumah Sakit."
Scorpius tambah heran. "Kenapa harus ke situ? Aku baik-baik saja."
"Oh," kata Zabini, terdengar agak menyesal. "Kukira kau ikut mengantar Malfoy. Dia tadi pingsan setelah ujian selesai."
Scorpius tiba-tiba berdiri dari duduknya. Austin, Payne, dan Abbott yang ada di dekatnya terciprat air danau. "Apa?!"
"Oh," ujar Zabini. "Aku tahu kau naksir gadis itu, tapi ekspresimu berlebihan, man."
Scorpius memasang tampang sebal sebentar, tapi rasa khawatirnya lebih besar. Buru-buru mengeringkan kakinya, ia memakai sepatunya lagi dan berlari menuju kastil.
Di Rumah Sakit, Scorpius jadi satu-satunya murid Slytherin yang ada di situ. Di sekeliling Rose berdiri hampir seluruh teman-teman Gryffindornya.
"Rose!" panggil Scorpius sambil menerobos kerumunan itu. Tentu saja Rose tidak bisa menjawab. Ia tak sadarkan diri. Tapi ketika melihat John Cooperstein, rasa tak sukanya muncul lagi. Ingin rasanya ia menarik tangan John dari tangan Rose.
John menatapnya sekilas, kemudian kembali memandangi Rose. Wajahnya terlihat sedih, tapi tetap saja Scorpius tak menyukainya.
Madam Longbottom datang dan segera menyuruh kerumunan itu bubar. Murid-murid itu mundur sedikit, mengamati Madam Longbottom memeriksa pasiennya. Sesaat kemudian ia benar-benar meminta mereka bubar.
John bergeming hingga membuat Madam Longbottom menyuruhnya sekali lagi.
"Ayo, kau juga harus pergi, Greengrass!" kata John pada Scorpius.
"Greengrass, kau tetap di sini," kata Madam Longbottom mengejutkan Scorpius dan John. John terlihat tak terima tapi Madam Longbottom memeringatkan melalui ekspresinya. Berat hati John keluar dari ruangan.
"Ada apa, Madam?" tanya Scorpius.
"Ikut aku ke situ," jawab Madam Longbottom, mengajaknya duduk di meja kerja di dekat kantornya. Setelah duduk, wanita itu berkata, "Aku khawatir Malfoy kurang darah lagi. Seperti sebelumnya, aku minta bantuanmu mendonorkan darah."
Scorpius tak langsung menjawab. Rose? Kurang darah lagi? Ada apa sebenarnya dengannya?
"Greengrass? Kau keberatan?"
"Oh," respon Scorpius. "Sama sekali tidak."
"Terima kasih. Transfusi bisa dimulai lima belas menit lagi. Kau harus makan dulu agar kondisimu cukup sehat. Kau habis ujian juga, kan?"
Dengan lambaian tongkatnya, Madam Longbottom menyajikan aneka makanan di hadapan Scorpius.
"Habiskan dalam waktu lima belas menit. Sementara aku akan menyiapkan alat-alatnya."
Seakan ada seseorang yang lain dalam dirinya yang sudah lama tak makan, Scorpius dengan lahap menghabiskan makanan itu. Tapi ia tak begitu memedulikan rasanya sebab ia sibuk berpikir tentang Rose. Rose harus segera ditangani, begitu pikirnya. Ia harus kuat demi Rose. Ini sudah kedua kalinya Rose kena gangguan yang sama dan ia punya firasat ini bukan sesuatu yang baik. Jadi yang sebenarnya punya penyakit itu siapa, sih?
Dua puluh menit kemudian darah Scorpius selesai diambil. Madam Longbottom menyuruhnya makan lagi dan tak melihatnya bekerja.
Tentu saja Scorpius tak lapar, tapi ia dipaksa makan lagi walau tak sebanyak sebelumnya. Setelah makan, dengan bosan ia menunggu penanganan Rose selesai. Sebenarnya tak ada yang menyuruhnya tinggal, tapi Scorpius ingin jadi orang pertama yang melihat Rose setelah ditransfusi. Lagipula, untuk kedua kalinya, darahnya mengalir di tubuh Rose. Kemudian ia ingat bahwa mereka berdua impas. Rose mendonorkan darahnya dua kali, begitu juga Scorpius. Tiba-tiba ia agak merinding. Ia merasa, dalam suatu hal yang sulit dijelaskan, ia benar-benar terkoneksi dengan gadis itu.
"Hannah?" terdengar suara laki-laki memasuki Rumah Sakit.
Scorpius yang duduk di dekat pintu melihat gurunya datang. "Profesor Longbottom, Anda mencari Madam Longbottom?"
"Ya, dimana dia?" kata gurunya itu sambil tersenyum. Ia memandang ke tempat Rose berbaring ketika Scorpius menunjuknya. "Oh, sedang ada pasien, ya. Dan kau sedang apa di sini, Nak? Menunggu giliran diperiksa?"
"Tidak, Profesor. Rose Malfoy yang sedang ditangani Madam. Saya menungguinya."
Neville Longbottom menaikkan alisnya. "Oh, ya? Kenapa dia? Tampaknya cukup serius," katanya, menatap kesibukan dibalik tirai itu sekali lagi.
"Katanya kekurangan darah."
Kemudian Neville melirik makanan Scorpius yang belum habis. "Lalu kenapa kau makan di sini?"
"Madam yang menyuruhnya. Katanya saya harus makan sehabis transfusi darah."
"Maksudmu, kau memberikan darahmu pada Rose?"
"Iya, Sir."
"Oh," kata Neville. "Baiklah. Kalau dia sudah selesai, beritahu kalau aku tadi kemari."
"Ya?" terdengar suara dari balik tirai. Sesaat kemudian muncul Madam Longbottom bersama dua asistennya. "Ada apa, Neville?"
Kemudian Neville berkata sesuatu pada istrinya yang tidak didengar Scorpius. Ia langsung melompat begitu tirai tempat tidur Rose dibuka. Namun belum sampai dekat, seorang asisten Madam Longbottom mencegahnya. Kemudian satu asisten yang lain menutup tirainya.
Scorpius kecewa karena ia tidak bisa langsung melihat Rose. Ia disuruh kembali saja.
"Kapan saya boleh kesini lagi?"
"Tunggu dua jam lagi."
Scorpius mengangguk pasrah, kemudian ia keluar Rumah Sakit berbarengan dengan Neville.
"Bagaimana, Nak?"
"Rose boleh dijenguk dua jam lagi."
"Oh,"kata Neville. "Hei, Nak, apa kau keponakan Daphne Greengrass? Dia dulu seangkatan denganku." Scorpius menatap gurunya, kemudian mengangguk. "Siapa nama ayahmu?"
"Edmund Greengrass."
"Edmund Greengrass?" tanya Neville tak mengerti. "Katamu kau keponakan Daphne? Aku tahu kalau dia punya adik laki-laki. Aku lupa namanya, tapi kurasa bukan Edmund."
"Memang bukan, Sir. Adik laki-laki Bibi Daphne namanya Philip, dan dia paman saya."
Dahi Neville mengerut. "Lalu kau anak Astoria kalau begitu? Kalau aku tidak salah ingat, adik Daphne yang satu lagi namanya Astoria."
"Benar."
"Lalu siapa itu Edmund Greengrass? Apa dia masih berkerabat dengan ibumu?"
"Bukan, Sir. Ayah saya orang Australia. Bisa saja berkerabat jauh, tapi ayah saya itu Muggle. Jadi sepertinya tidak."
"Oh, begitu," kata Neville. "Tiap kali aku melihatmu, wajahmu rasanya tak asing. Tapi kukira wajahmu tidak terlalu mirip Daphne atau kedua adiknya. Apa kau lebih mirip ayahmu?"
"Kata Mum begitu."
" 'Kata Mum'? Memang menurutmu kau tidak mirip ayahmu?"
"Tidak tahu juga, Profesor. Saya tidak tahu wajah ayah saya."
"Kenapa begitu?" tanya Neville heran.
"Ayah saya meninggal sebelum saya lahir. Kami juga tidak punya fotonya. Kata Mum foto mereka kebakaran atau hilang, saya lupa."
"Oh," Neville terlihat menyesal dan Scorpius kurang menyukai itu. Ia tidak suka mengungkit kehidupan pribadinya, tapi yang tadi memerlukan ia berkata yang sebenarnya. "Maafkan aku. Tapi mungkin memang aku tidak pernah bertemu ayahmu. Mungkin kebetulan saja dia atau kau mirip seseorang."
"Mirip dengan siapa, Sir?"
"Entahlah." Neville mengangkat bahu. "Rasanya familiar tapi aku selalu gagal mengingatnya. Aku memang agak pelupa. Tapi seringkali banyak orang-orang yang mirip di dunia ini padahal mereka tidak bersaudara."
Scorpius mengangguk pelan. Neville kemudian undur diri dan tinggallah Scorpius di lorong. Sendirian, dengan pikiran dipenuhi percakapannya dengan Neville barusan.
.
XxX
Setelah makan malam, Scorpius kembali lagi ke Rumah Sakit. Ia lega tidak ada siapa-siapa, hanya ada Madam Longbottom dan kedua asistennya. Ketika melihat Scorpius, mereka kompak berpindah tempat ngobrol ke dalam kantor matron.
Scorpius memandangi Rose yang tertidur. Seketika rasa khawatir merayapi hatinya lagi. Ada apa dengan Rose? Kenapa dua kali seperti ini? Ia rasa ini bukan tekanan pelajaran biasa. Sepertinya ada stres yang lebih dalam yang dipendam Rose sendirian.
Scorpius meraih tangan Rose yang hangat. Kulitnya kelihatan tambah pucat dari biasanya. Scorpius mengelus tangan Rose pelan. Tanpa bisa dikendalikannya, ujung hidungnya terasa meradang. Matanya sudah mulai buram ketika tubuh Rose bergerak-gerak. Scorpius segera membersihkan matanya. Ia sendiri bingung kenapa ia bisa nyaris menangis.
"Scorpius?" panggil Rose pelan. Ia memandangi tangan mereka yang bertautan. Scorpius salah tingkah. Ia akan melepaskan tangan Rose tapi gadis itu mencegahnya. Tanpa kata-kata, namun dengan perbuatan. Rose yang mengeratkan kembali genggaman mereka.
"Kau sudah baikan?" tanya Scorpius. Suaranya agak bergetar dan ia sendiri malu mendengarnya. Tapi Rose tampak tidak terganggu. Ia mengangguk.
"Kutebak aku dapat darahmu lagi."
"Ya. Hutangku lunas."
"Hutang apa?"
"Darahmu sudah kukembalikan."
Rose tidak menjawab. Ia malah mengelus pelan tangan Scorpius. Hati Scorpius berdesir. Rasanya aneh tapi nyaman.
"Coop tadi kesini," cerita Rose, yang sebenarnya agak merusak suasana. Scorpius terlihat kurang nyaman, tapi Rose tidak peduli. "Jangan pernah lagi curiga pada Coop. Dia anak yang baik."
"Tapi—"
"Aku tidak mau mendengarkanmu," kata Rose mantap, dan Scorpius merasa sedikit tersinggung. Rose mengeratkan lagi pegangan tangan mereka. "Jangan khawatir. Aku kenal dia sudah lama, dari kecil. Aku tahu seperti apa dia. Lagipula, ada darahmu dalam diriku. Aku akan baik-baik saja, kan?"
Rasa hangat menjalari sampai ke wajah Scorpius. Itu benar. Rasa-rasanya mereka sudah terkoneksi, dan Scorpius akan melindungi Rose dengan cara apapun.
"Darahmu dalam diriku… Rasanya seperti kita ini bersaudara," kata Rose lagi. "Jadi kuanggap kau kakakku sendiri. Aku tidak punya kakak. Kau tidak keberatan, kan?"
Scorpius tak peduli kalau Rose menganggapnya cengeng. Rasa aneh muncul kembali. Ia tidak tahu kenapa ia bisa sedih tanpa alasan yang jelas. Tapi ia jadi lega ketika gadis itu juga ikut menangis. Ia bahkan tidak memikirkan kenapa Rose tiba-tiba jadi emosional juga sepertinya.
"Ya," kata Scorpius. "Aku tahu. Berarti kau adikku kalau begitu."
Tanpa mereka sadari, sepasang mata John Cooperstein memandangi mereka dari dekat pintu. Ia datang tak lama setelah Scorpius dan memutuskan kali ini tidak akan membuat keributan dulu. Lagipula ia ingin tahu apa yang akan diperbuat Scorpius pada gadis yang disukainya itu.
John terlonjak ketika tiba-tiba di dekatnya terdengar langkah-langkah kaki. Suara-suara orang dewasa muncul kemudian. Ada Profesor Sprout, dua orang yang ia tahu sebagai orang tua Rose, dan seorang wanita yang ia tidak tahu siapa. Mereka berlalu saja di depan John, seakan tidak ada orang lain di situ.
"Rose!" teriak Hermione Malfoy bahkan sebelum masuk ruangan. John refleks ikut mereka masuk, namun masih tahu diri untuk menjaga jarak.
Para orang dewasa itu mendapati Scorpius dan Rose yang masih 'asyik sendiri'. Maksudnya, mereka larut dalam suasana hingga tak menyadari orang lain telah masuk. Para orang tua tertegun. Bahkan Hermione dan Astoria sudah menangis.
"Rose!" seru Hermione, kali ini membuat keduanya sadar. Kikuk, mereka melepaskan tangan masing-masing dan segera menghapus air mata mereka.
"Mum!" balas Rose. Kemudian ia melihat ayahnya juga. "Dad."
Hermione dan Draco langsung menghampiri putri mereka. Astoria hanya diam saja, tak menjawab tatapan bertanya anaknya. Ia hanya berdiri dan air matanya keluar tambah banyak. Tak direspon ibunya, Scorpius ganti mengamati keluarga Malfoy yang tengah bersedih, tapi kemudian Rose tiba-tiba tampak marah.
"Rose, apa ini?" tanya Hermione tak mengerti.
Rose memandangi Hermione dengan marah, kemudian berganti ke ayahnya, ke Scorpius, bahkan ke Astoria. "Kalian bohong! Jahat!"
Scorpius melebarkan matanya, tak percaya Rose marah lagi setelah insiden dengan Lucy Weasley. Ia bahkan tak mengerti kenapa Rose ikut marah padanya dan Astoria. Memangnya ada apa?
Seakan-akan melupakan pembawaan anggunnya selama ini, Rose terus meluapkan kemarahannya. Madam Longbottom dan para asistennya keluar dari kantor. Profesor Sprout dengan bijak langsung menutup tirai tempat tidur Rose. Kemudian Madam Longbottom menyuruh Scorpius dan Astoria keluar dari Rumah Sakit.
Dengan tubuh bergetar Astoria menurut. Ia menggandeng lengan Scorpius keluar. Pada saat itulah Scorpius baru menyadari keberadaan John yang sama terkejutnya dengannya. Teringat kembali dengan permintaan Rose, Scorpius tak berkata atau melakukan apapun padanya.
"Mum, ada apa sebenarnya?" tanya Scorpius. "Kenapa Rose marah-marah?"
Astoria tak menjawab. Ia terus saja mengajak Scorpius berjalan, seakan sudah tahu seluk beluk sekolah ini. Ya, tentu saja karena Astoria dulu sekolah di Hogwarts juga. Di dekat jendela besar tanpa kaca, mereka berdua duduk di atas kursi batu panjang.
"Dan kenapa Mum ada di sini?" lanjut Scorpius.
Astoria mengambil tangan Scorpius yang tadi dipegang Rose. "Nak… Kau sayang dengan gadis itu, kan?"
"Tentu," jawab Scorpius tanpa ragu. Rasa aneh yang tak bisa dijelaskan kembali hadir di hatinya.
"Mum tahu semua yang terjadi. Dua kali gadis itu memberimu darahnya dan dua kali juga kau memberi darahmu."
"Mum, ada apa ini sebenarnya?"
Astoria menatap Scorpius dengan mata beningnya. "Aku tahu kau belakangan ini merasakan sesuatu yang aneh. Iya, kan?"
Sunyi beberapa saat dan selama itu pula Scorpius nyaris tak berkedip.
"Dan gadis itu lebih tahu dari dirimu. Itu sebabnya ia marah-marah."
Scorpius sudah menduga ini. Kelakuan aneh ibunya sejak musim panas lalu, pertemuan dengan Draco Malfoy di Hogsmeade, ibunya yang pingsan, kepergian mereka ke Australia, pembicaraan ibunya dan Mrs Appel, pembicaraan rahasia kakak beradik Greengrass, pertemuan dengan keluarga Malfoy, tugas Sejarah Sihir, empat kali transfusi itu…
"Kau—" kata Astoria, tampak berat untuk berbicara, "Mum tak bisa menjelaskan lebih sekarang. Pulanglah dan kau akan tahu semuanya."
"Tapi—," kata Scorpius terputus. Memang ada hal-hal yang agak ganjil dan aneh, tapi ia sendiri tidak yakin dan tidak bisa menjelaskan. Pandangannya menerawang. Astoria terisak lagi. Ia buru-buru mengelus pipi anaknya, kemudian langsung berdiri. Scorpius tak memandangi ibunya sampai menghilang seperti yang biasa ia lakukan. Ia menatap hampa tempat yang tadi diduduki ibunya selama beberapa menit, kemudian ke luar jendela, tepat menghadap Danau Hitam yang dibawahnya terdapat asramanya.
.
XxX
Beberapa hari sebelum pulang, Scorpius sering menghilang dari pandangan orang-orang. Teman-teman dan para sepupunya merasa aneh, tapi Scorpius tidak mau menjawab. Ia jadi orang yang melankolis; sering menyendiri di manapun, bahkan di tepi Hutan Terlarang. Hagrid pernah memergokinya. Tapi bukannya menghukumnya, Hagrid malah mengundang Scorpius masuk ke pondoknya. Walau tidak dekat secara pribadi, nyatanya mereka bisa ngobrol apapun selama berjam-jam.
Di akhir kunjungannya yang kedua, Hagrid kaget sekali karena waktu sudah menunjukkan lewat jam malam. Scorpius tak kalah kagetnya. Ia benar-benar lupa kalau malam itu ia dapat tugas patroli. Rasanya menyusul ke kastil pun tak akan membantu. Para Prefek pasti sudah bergerak dan menunggu menginterogasinya keesokan hari.
"Maafkan aku, Nak," kata Hagrid sambil membuka pintu pondoknya. "Kalau ada yang tanya, bilang saja kau dapat tugas dariku."
Scorpius menggeleng lesu. "Itu bohong."
"Oh!" muncul suara perempuan yang tiba-tiba terdengar. "Ternyata kau di sini?"
Scorpius dan Hagrid mendapati Lucy Weasley yang ternyata cukup dekat dengan mereka. Entah dari mana dia muncul. Di sampingnya ada John Cooperstein. Lucy memang memandangnya seakan telah mendapatkan buruan, tapi John tidak. Ia tidak seperti biasanya. Ia hanya memandang Scorpius dengan ekspresi yang susah dimengerti.
Bodoh jika tetap mengatakan kalau Scorpius ada tugas dari Hagrid, jadi Scorpius menyerah karena ia sudah tertangkap basah. Lagipula kedua Prefek itu mungkin sudah mendengar pembicaraan Scorpius dan Hagrid.
"Hukum saja aku, Weasley. Potong poin asramaku."
Ekspresi kemenangan Lucy tiba-tiba hilang dan Scorpius tak tahu kenapa. Tapi kemudian ia ingat kalau gadis itu mungkin punya perasaan padanya.
"Tak usah potong poin asrama," kata John. Lucy menoleh padanya cepat. Ia terlihat tak setuju tapi tak mengatakan apapun. Scorpius memandang John kebingungan.
Tiba-tiba Hagrid angkat bicara. "Ini salahku, anak-anak. Dia ada di pondokku. Harusnya aku yang bertanggung jawab."
"Tidak, Profesor. Saya tamu. Saya yang harus tahu diri," kata Scorpius.
Ketiga murid itu kini memandang Hagrid, seperti meminta saran. Akhirnya, dengan berta hati Hagrid memutuskan, "Tidak usah pengurangan poin asrama. Scorpius bisa bantu muridku yang kena detensi. Bilang ke Mr Filch," kali ini Hagrid memandang Scorpius, "kalau kau aku suruh bantu Harry Dursley. Nanti dia akan antar kamu."
Hagrid menghilang sebentar ke dalam pondok kemudian muncul lagi sambil membawa selembar perkamen. Surat detensi. Scorpius menerimanya sambil menelan ludah. Seumur hidup sekolah di Hogwarts, baru kali ini ia dapat detensi.
Hagrid memandang Scorpius dengan ekspresi bersalah, tapi Scorpius tetap berkeras kalau ini kesalahannya sendiri. Ia kemudian pamit dan menuju kantor Filch.
Orang itu masih sama menyebalkannya sejak zaman ibunya sekolah dulu, walau biasanya bersikap lebih lunak pada para Prefek dan Ketua Murid. Maka ketika Scorpius masuk kantornya, pria tua itu mengira kalau Scorpius melaporkan murid lain yang kena detensi.
Mata Filch yang mengantuk mengerjap-ngerjap tak percaya. Ia tak berbicara sepatah kata pun. Ia menerima surat detensi Scorpius dan memberikannya buku detensi untuk ditandatangani. Masih dalam diam, Filch lalu mengantar Scorpius sampai depan kantor Kepala Sekolah.
Scorpius menaikkan alisnya. Kenapa ia malah diantarkan ke kantor Kepala Sekolah?
Filch masih tak berkata apa-apa. Ia hanya mengucap kata kunci kemudian pergi. Gargoyle di depan kantor bergerak kemudian menampakkan tangga spiral di dalamnya. Ragu-ragu Scorpius naik tangga. Ia tak pernah ke kantor Kepala Sekolah sebelum ini.
Scorpius mengetuk pintu berkali-kali namun Profesor Sprout tidak muncul-muncul. Dengan perlahan Scorpius membuka sendiri pintu itu. Di dalam malah tak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah berdiri mematung beberapa saat, Scorpius menangkap sosok seorang murid di lantai dua, tepat di atas meja kepala sekolah. Murid itu tampak tak merasakan kehadiran Scorpius. Baru ketika Scorpius berkata "Permisi?" murid itu menoleh.
"Profesor Sprout sedang ada di ruangan di sana," kata murid itu sambil menunjuk pintu tertutup di sisi lain ruangan.
"Apa kau Harry Dursley?"
Murid itu mengangguk dengan mata mengantuknya. Ia tampak lelah dan seketika Scorpius merasa kasihan. Ia sendiri belum pernah menjatuhkan detensi pada siapapun.
"Profesor Hagrid menyuruhku untuk membantumu."
Mata Dursley membesar sedikit dan wajahnya sedikit sumringah. Scorpius otomatis tersenyum kemudian naik tangga di belakang meja kepala sekolah. Ketika sudah mendekati Dursley, Scorpius tahu kenapa anak itu tampak bosan dan lelah. Di lantai banyak sekali perkamen.
"Profesor Hagrid menyuruhku mengurutkan data-data siswa secara manual. Entah siapa yang habis mengacaknya," kata Dursley. "Aku harus analisa di tahun berapa mereka dengan melihat tanggal lahir mereka." Dursley menunjuk tujuh baris perkamen yang tersusun rapi. "Sisi paling kiri tahun pertama. Sisi paling kanan tahun terakhir. Sudah selesai setengahnya. Kau bisa ambil tumpukan perkamen di dekatmu itu. Yang itu belum aku sortir."
"Oke," kata Scorpius. Dursley juga mengambil tumpukan lain yang belum disortir. Mereka bekerja dalam diam. Baru saat itu Scorpius bisa mendengar suara Profesor Sprout dari ruangan tertutup itu. Tampaknya ia berbicara dengan seseorang walau Scorpius tidak bisa mendengar suara lawan bicaranya. Pun ia hanya mendengar suara Profesor Sprout tanpa tahu apa yang sedang dibincangkan.
Scorpius menemui nama-nama yang sudah pernah didengarnya. Nama beberapa Prefek, nama beberapa teman seangkatannya, nama beberapa murid dengan nama belakang yang familiar, hingga nama yang sama sekali asing bahkan nama belakangnya pun Scorpius belum pernah tahu.
Scorpius meletakkan perkamen sepupunya sendiri, Victoria Parkinson di tumpukan kelas enam tepat setelah Dursley meletakkan perkamen di tumpukan kelas lima. Jantung Scorpius tiba-tiba berdetak lebih keras memandang tumpukan itu. Ia tak tahu kenapa ia merasa sangat perlu melihatnya. Hati-hati sekali seperti sedang melakukan pencurian, ia lalu mengambil tumpukan data murid kelas lima ke pangkuannya.
"Aku lupa," kata Dursley tiba-tiba, agak mengagetkan Scorpius. "Kita masih harus mengurutkan sesuai abjad nama belakang."
Scorpius mengangguk sekenanya karena matanya sudah terpaku pada perkamen yang baru saja diletakkan Dursley. Perkamen atas nama Rose Antlia Malfoy. Disitu jelas tertulis tempat dan tanggal lahirnya, siapa nama lengkap ayah dan ibunya, bahkan tanggal lahir mereka masing-masing. Status darah, lulusan mana mereka, bahkan asrama mereka dulu. Scorpius buru-buru melihat perkamen yang lain. Ada punya Daisy Finnigan, Albus Potter, Aileen Claridge, Viola Hitchens, dan anak-anak lain seangkatannya. Akhirnya ia menemukan namanya sendiri di urutan dua paling belakang.
Para siswa Hogwarts sudah otomatis terdaftar di Hogwarts begitu mereka baru dilahirkan, begitu yang pernah didengarnya. Dan perkamen biodata itulah yang otomatis langsung ada di kantor Kepala Sekolah Hogwarts. Langsung muncul tanpa campur tangan tangan manusia yang bisa merubah. Asli, tanpa rekayasa.
Selama apapun Scorpius memandangnya, urutan huruf di perkamen itu tidak berubah. Nama lengkapnya tetap Scorpius Hyperion Greengrass. Begitu juga data dirinya yang lain. Walau sudah tahu data disitu tidak akan bisa berubah, Scorpius tetap ingin beberapa data di perkamen itu bisa berubah. Berubah sesuai data yang ia percayai, paling tidak sampai beberapa detik sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Dursley ketika Scorpius tiba-tiba berdiri. Tak menjawab, Scorpius menengok sana-sini, mencari apapun yang bisa dibuat menulis. Tak ketemu, ia menuruni tangga dan mencari apapun dari meja Profesor Sprout. Ia langsung menyambar begitu melihat perkamen kosong dan pulpen Muggle. Ia menyalin dengan cepat semua yang ada di perkamen datanya.
Sementara itu Dursley masih penasaran. "Hei, ada apa?"
Scorpius menulis seperti kesetanan, tapi ia tetap berusaha membuat tulisannya bisa terbaca. Ia selesai menulis bersamaan ketika pintu ruangan tempat Profesor Sprout ngobrol tadi terbuka. Tapi bukan Profesor Sprout yang keluar, melainkan seorang gadis yang sudah beberapa hari ini ia hindari.
"Scorpius?" kata gadis itu tanpa suara.
"Rose, jangan lupa tutup pintunya, ya," terdengar suara Profesor Sprout dari dalam ruangan. Rose lalu menutup pintu. Pelan-pelan ia berjalan menuju Scorpius. Matanya bergantian memandangi Scorpius, perkamen, dan Dursley yang melongok ke bawah tapi gagal melihat Scorpius yang ada tepat di bawahnya.
"Ada apa, Senior?" tanya Dursley lagi. Ia juga memandang Rose, meminta jawaban Scorpius sedang apa.
Rose hanya terpaku memandangi Scorpius yang juga melakukan hal serupa. Ketika akhirnya mata Rose menjadi bening dan mulai kabur, Scorpius berdiri tegak. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa bahkan ketika Rose akhirnya berjalan cepat keluar kantor kepala sekolah.
.
.
.
TBC
Seperti biasa, ditunggu tanggapannya ^_^
Next chapter:
"Mau lihat tempat dimana kamu dulu dilahirkan?" tawar Astoria lembut. Scorpius mengangguk. Rasanya sudah begitu lama mereka duduk, hingga ketika Scorpius berdiri rasanya lega. Lega fisik dan ajaibnya, juga lega psikis. Ia tidak bisa terus marah seperti di drama-drama Muggle pada umumnya. Ia memang bisa jadi marah di satu sisi, tapi di satu sisi lain ia bahagia.
