"Uhm.. Hinata-chan apa ada sesuatu di dalam pikiranmu?" Pria berkulitkan warna putih kepucatan itu terlihat khawatir melihat perempuan indigo yang sedari tadi melamun sembari menatap pemandangan luar kaca yang lagi gerimis.
Sekilas dia melihat pemuda berambut sama dengan kulitnya itu kemudian "hm?" Melanjutkan aktivitas nya kembali.
"Ehm.. etto, maksudku kau terlihat tidak tertarik dengan kencan kita pada minggu ini.. seperti itu" pemuda itu tau kalau kata-katanya itu bisa berdampak buruk bagi hubungan mereka berdua tapi..
"Tidak tertarik, yah?" Gumam Hinata pelan yang pasti tidak dapat di dengar dengan jelas lalu mulai menatap pemuda itu "maaf, hanya saja..." di pejamkan kedua matanya perlahan "..hari ini aku banyak memikirkan sesuatu" sebuah senyum terukir di bibir sexy nya itu sebelum membuka kedua matanya kembali.
Wajah pemuda itu terlihat gugup sekaligus merona membalas tatapan Hinata "U-h a-ah... be-begitu ya?" Respon nya gugup "ka-kalau itu sebuah masalah atau berkaitan dengan itu... walaupun sedikit, kau bisa membicarakannya dengan ku. Hinata-chan".
Hanya balasan senyum yang diberikan Hinata pada pemuda itu "Hmm.." dan sekali lagi menatap luar kaca samping kiri dengan satu tangan yang menompa dagu nya.
Matanya di pejam sekali lagi dan mengingat ucapan pemuda tadi 'Tidak tertarik, ya?' .
Kilasan ingatan apa yang terjadi kemarin tiba-tiba terbesit di benaknya 'Ya, itu benar. Aku sama sekali tidak tertarik'.
Bibir Hinata sengaja di cap-capkan berulang kali dengan pelan 'waktu itu...' wajahnya perlahan merona 'waktu itu hujan juga'.
'Besok minggu dan senin tanggal merah' Perempuan indigo itu tau dan sangat hafal dengan kalender bulan ini tapi karena mungkin ingin menolak fakta itu dia kembali mengecek berulang ulang kali di kalender hp serta internetnya saat ini.
'Aku ingin segera bertemu dengan nya lagi' digigit bibir bawahnya dengan gemas dan tiba-tiba menjadi senang sesaat setelah menaruh hp nya kembali.
"-ngat yah, hmm.. kurasa itu saja" di tutup menu makan itu dan melihat ke arah Hinata. "Kalau kau Hinata..-chan!?" Lagi pemuda itu di buat terkejut. 1 Bulan selama bertunangan dengan Hinata baru kali ini dia melihat wajah perempuan itu kegirangan.
Segera buku menu di hadapan Hinata di buka dan jackpot "aku ingin 4 tonkotsu ramen dan omelet gulung sebagai makanan penutup... dibungkus yah"
"Eh!?/?!" Kedua pemuda (yang 1 pelayan) terkejut bukan main dengan permintaan perempuan cantik di hadapan mereka ini.
Memang tidak ada yang aneh dengan perkataan Hinata, dia terlihat dan terdengar elegan di setiap perkataannya.
Hanya saja bukankah... 4 terlalu berlebihan? Bahkan 1 saja bisa bahaya loh (iykwim woman).
"Hinata-chan.. e-empat? Ehm bukannya itu,-"
"Aku akan memakannya bersama keluarga" tidak ingin berbasa-basi lebih lama lagi Hinata langsung mengetahui dan memperbaiki kesalahpahaman tersebut.
Perasaan lega dirasakan kedua pemuda itu. Mereka berdua pun saling berpandangan dan mengangguk serentak sebelum salah satu dari mereka pergi dan segera menyiapkan pesanan.
.
"Hinata-san, kau yakin tempatnya disini?" Yakinnya pada Hinata sekali lagi. Gedung atau apartment tua yang tampaknya tak ter-urus dengan baik itu terlihat seperti bangunan tak berhuni di karenakan hasil radiasi akan penemuan berbahaya dan tidak layak di tinggali ataupun di dekati.
Kalau bisa di bilang lamborghini itu terlihat terhenti dengan indahnya di depan pagar usang berkarat, membuat seni itu terlihat berantakan karena adanya mobil itu.
"Uhm.." kembali ia melihat buku kecil di kedua tangannya "yah kurasa memang ini" angguknya yakin kemudian turun dari mobil dengan percaya diri.
"Aku akan menemanimu,-"
"Eh, tapi bukannya kau mendapat panggilan penting tadi?"
"Itu bisa menunggu,-"
"Tidak apa-apa kok, aku hanya ingin memberitahukan penyampaian sekolah saja"
"Ba-baiklah. Hati-hati yah, tingkat kriminalitas semakin tinggi apabila semakin gelap hari" Hinata pernah memenangkan juara nasional karateka putri dan campuran 2 tahun lalu, jadi tak patut dia mempercayai kekuatan yang di hasilkan dari tunangannya itu.
Detik demi detik mobil itu menghilang dari pandangan Hinata. Sebelum memasuki area gedung itu, buku kecilnya kembali di buka.
"69" di tatap kembali buku itu. "Lt 4 Pintu ruang 69" tarikan nafas panjang sengaja di kuatkan "Ya, tidak salah lagi ini ruangannya".
#tok tok tok
Hening,
#tok tok tok
Hening,
"Uhm anu bisakah kau membuka pintunya?" Kembali Hinata mengetuk-ngetuk pintunya.
Hilang kesebaran, kaki Hinata mulai mengikuti pergerakan tangannya "Oi, aku tau kau di dalam. Naruto, cepat buka" bukan ketukan lagi namanya kalau bunyi dentuman itu terdengar kuat dan kasar.
"hm? Kau sedang apa?"
Suara tak asing dan sangat ingin di dengar indigo itu reflect memutarkan badanya 180*.
Ya. Benar saja. Pemuda pirang yang selalu di pikirannya sejak kemarin itu kini berada tepat di hadapannya.
Lebih tepat nya lagi berada di atas pagar balkon, dan sedang berdiri dengan gagahnya.
"Uhn.." Pemuda pirang yang di panggil Naruto, menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas perempuan indigo itu "kau... Hyuuga Hinata? Apa yang sedang kau lakukan disini?" Penampilan Naruto sangatlah berbeda dengan di sekolah.
Kaca mata tebal yang selalu saja dirusaki dan entah bagaimana bisa di perbaiki, tidak di pakainya saat ini. Dan lagi rambut yang di atur dengan rapi layaknya kutu buku dibiarkan berserakan, serta sepasang 3 garis di pipihnya tidak di tutupi dengan plastik daging yang biasa di gunakan.
Terlihat liar dan menggoda.
Terpukau sesaat dengan pemandangan yang di tambahi dengan bulan purnama di belakang pria itu membuat Hinata menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"a-apa yang kau lakukan disitu?! Cepat turun! Kau tau ini Lt.4!" Jujur perempuan indigo itu tiba-tiba menjadi sangat panik dan khawatir.
Lalu malah menjadi kesal mendapati respon wajah datar yang seperti mengatakan 'Lt.4? Terus? Ngomong-ngomong lu belum jawab pertanyaan gue'.
Segera Hinata melepas barang bawaannya dan langsung memeluk kedua pergelangan kaki.
"O-oi! A-apa yang k-kau lakukan wanita!" Terkejut serta panik akan respon tiba-tiba lawan bicara membuat Naruto kewalahan "k-kau berniat menarikku? Atau mendorongku hah?!"
"baik-baik! Aku paham! Ini Lt.4! Bahaya %!$!;*!#"
.
"Hah, hah.. t-terus, apa yang kau lakukan disini. Wakil ketua osis..."
"...Hyuuga Hinata?" Seru Naruto setelah mengatur nafasnya kembali.
"Tidak sopan berbicara dengan seseorang di luar seperti ini. Apa kau tidak punya tata karma?" Bukannya menjawab. Hinata malah mengatainya.
"Dengan kata lain kau ingin masuk ke dalam, kan?" Balas Naruto tak kalah dingin.
"Kalau kau hanya ingin membicarakan sesuatu lakukan saja disini" sambung Naruto.
"... benar tidak apa?"
"Ya,ya,ya. Tenang saja, aku punya waktu untuk meladenimu,- Oi apa itu?!" Mata saphire Naruto terbelalak melihat apa yang disodorkan. "Je-jelaskan apa maksudnya tindakanmu itu... dan isi dari kantung itu"
"Menjelaskan? Apa kah harus? Lagipula kau juga sudah tau kan apa ini" kantung itu sengaja di goyangkan pelan "Kenapa kau bergetar Naruto-kun?" Seringai Hinata yang perlahan di tunjukan sesaat dia menyodorkan kantung itu menjadi, saat air liur berjatuhan dari bibir Naruto.
Lama Naruto tak berkutik dari tempat membuat Hinata menghela nafas panjang "Tonkotsu Ramen... tiap detik yang terbuang. Ramen ini akan mendingin loh"
"A-ah! Ke-kenapa kau tidak bilang dari awal!" Gerutu nya menggeser Hinata ke samping lalu menyentuh atas pintu besi. Di dinding itu ada semacam tombol kecil yang di tekan Naruto. Dan hasilnya kunci Ruangan itu di temukan saat dinding dengan lebar 16 cm dan panjang 5cm di samping tombol tadi bergerak dan menampilkan kunci itu tertempel dalam beton.
Hinata melihat seluruh pergerakan Naruto dengan seksama. Dan setelah puas dan mengerti dengan cepat dia mengambil sapu tangan dari saku pantat kirinya lalu menyeka liur Naruto yang kembali berjatuhan.
Yang pasti Hinata tau, kalau pemuda pirang itu kembali menghayalkan ramennya tersebut.
.
#brakk
"Uhm... lumayan-lumayan" seru Naruto melepas mangkuk ke-4. Ditatap wanita indigo itu dengan puas dan bertanya"apa sudah habis?".
Anggukan pelan di berikan Hinata atas pertanyaan itu seraya mengucek belanjaan nya kembali dan mengeluarkan sesuatu.
"Omelet?" Tanya Naruto sambil mengangkat makanan itu.
"Ya. Makanan penutup"
"Hah? Haruskah?" Badan Naruto yang tadi duduk bersila di hadapan meja kecil, kini dengan malas menghadap arah kanan ke arah tv kecil dekat dinding. "Tak butuh dan tak tertarik".
"Kau tak bisa selalu makan ramen saja"
"Ha? Kata siapa? Aku bisa makan ramen 2,- ehm tidak...30?... 40-an? Kuharap. Aku tak terlalu ingat, tapi aku yakin aku bisa" sekilas Naruto melirik pandangan Hinata yang tajam ke arahnya.
Wanita itu menarik napasnya pelan mendapati respon Naruto yang begitu datar dan cuek yang kini menonton tayangannya kembali setelah dia melirik dirinya disertai balasan tentang kecanduan nya pada makanan yang bernamakan ramen itu.
Tempat tinggal yang berisikan 1 ruangan yang luas nya tak bisa dibilang kecil ataupun besar ini adalah tempatnya pemuda pirang itu tidur, makan, ataupun bermalas-malasan.
Sangat beda jauh dengan kehidupannya yang mewah. Apalagi kamar mandi pemuda itu. Hinata kembali mengedarkan pandangan nya melihat ruangan sekitar.
'Walaupun begitu tempat ini tidak kotor dan tak terlalu banyak barang' telunjuknya sengaja menyentuh meja kecil itu, memastikan tidak ada debu.
Ruangan yang berisikan hanya futon, lemari kecil penongkah tv, disertai meja kecil itu membuat ruangan ini tidak dapat di bilang sempit ataupun luas. Mungkin pas pas-an.
"Terus.." seruan suara datar itu mengejutkan sekaligus menghentikan pandangan Hinata yang meng-arah ke dinding belakang tempat ia duduk.
"..apa kedatanganmu kesini Hyuuga..-san?" Lanjut Naruto tanpa memandang Hinata.
"Apa harus ada alasan lain untuk mengunjungi seorang kriminal?"
"Hn, kurasa tidak ada" siaran demi siaran di ganti Naruto melalui remote tv di tangan kiri nya.
Naruto kini duduk berhadapan dengan Hinata kembali tak lama setelah dia bosan dengan tayangan yang itu itu melulu.
"Seperti yang kau lihat kan? Aku hanya bermalas-malasan dan sama sekali tidak melakukan kejahatan ataupun hal-hal ilegal semacamnya, kan?" Dengan 1 tangan yang menahan dagu kepala nya. Naruto menatap Hinata dengan tatapan bosan.
"Apa belum puas juga?" Sambungnya lagi.
"Soal besok.."
"Besok? Kenapa dengan besok?"
"... kau lupa dengan janjiku?" Sempat Hinata terdiam kesal akan pemuda itu melupakan janji yang di berikan pada nya.
Namun mana mungkin ia menunjukan kekesalannya secara langsung pada Naruto, melainkan hanya bisa mengeluarkan suara yang sangat dingin dari yang sebelumnya.
"Oh, soal itu. Aku sudah mengatakannya kan kemarin. Lupakan saja itu, lagi pula kau sudah membawakan makanan lezat tadi" balas nya sedikit mengantuk.
"Itu tidak ada kaitan nya dengan janjiku"
"Hah..." tarikan nafas pelan kali ini terdengar dari pemuda itu "Dengar... hyuuga-san soal kemarin itu. Anggap saja itu adalah kesalahanku. Dan kau mempunyai alasan untuk membencinya".
Hinata yang tadinya melihat Naruto datar kini menjadi tajam dari sebelumnya.
Naruto yakin saat ini adalah kesempatan mengusir perempuan itu. Dengan bangkit berdiri dia berkata "akan ku temani kau sampai ke stasiun kereta".
Dilihat Hinata masih berkutat diam di tempat. 'Hah... kurasa tak ada cara lain' batin Naruto tiba-tiba memasang muka dingin.
"Hyuuga Hinata. Putri pertama dari mentri pertahanan negara, Hyuuga Hiashi." Tubuh Hinata menegang seketika.
"Telah bertunangan pada saat bulan lalu, lebih tepatnya 2 april lalu. Dan pada saat ini berada di tempat tinggal yang diketahui oleh dirinya sendiri, Seorang kriminal" Masih tak ada tanda-tanda pergerakan untuk pergi dari Hinata. 'Keras kepala'
"...Dan lebih parahnya lagi. Ia menyuruh tunangannya sendiri untuk mengantarkannya ke pria yang baru saja tidur dengan nya kemarin"
Lelah berdiri Naruto duduk kembali dan masih menunjukan wajahnya yang dingin dan kelam.
"Aku penasaran apa yang kau katakan agar mendapat kepercayaan nya" lalu menyeringai. Mata Hinata tak terlihat lagi. Itu terhalangi dengan poni nya yang tebal.
15 menit Naruto menunggu respon Hinata namun nihil. Wanita itu tak bergerak sama sekali. Wajah dingin Naruto terganti dengan kebosanan kembali. Dan lagi lagi menarik nafas panjang.
"Hyuuga Hiashi-san telah banyak membantuku. Aku tak ingin membuat dia kesal dan marah melihat aku atau kau saling berdekatan"
"Kau adalah seorang bangsawan dan aku seorang kriminal. Pahami situasi kita."
"Di jaman kita yang makin modern ini. 1 orang saja yang melihat, besok sudah pasti akan viral" sambung Naruto santai sambil menonton berita terkini.
'2 JAM YANG LALU TELAH TERJADI AKSI PERANG ANTAR KETIGA KELOMPOK BERBEDA YAITU KEDUA MAFIA DENGAN KEPOLISIAN...'
#bzzt
Di matikan tv itu serta menghiraukan Hinata yang masih terpaku di tempat. Naruto mendekati jendela dan melihat keluar.
"Hmm.. cukup jauh dengan disini" kegaduhan serta penuh lampu biru dan merah menghiasi malam saat Naruto melihat tempat TKP itu dari balkon luar jendela.
#Krekk
"Akan berbahaya kalau kau pergi sendirian. Kalau sudah ada mood untuk pulang, bangunkan aku." Naruto kemudian merapikan meja itu dengan menyandarkannya ke dinding.
Dan mengatur futonnya.
"Pastikan kau pulang." Ditatap waker dekat tv pukul 21:49 "Kalau lebih dari jam 10, akan ku gendong kau kalau perlu." Setelah mengatakan itu. Dia merebahkan tubuhnya , mencari kenyamanan. Tentunya dengan posisi membelakangi Hinata
"Shikamaru..."
"Shikamaru-kun melihat kita kemarin..."
Tak ada respon dari Naruto selama 2 menit. Sebelum "o-oi, kau serius?" tatapan horor di perlihatkan nya pada Hinata.
Mata Hinata masih terhalangi dengan rambut. Membuat Naruto susah melihat kalau dia itu bercanda atau serius.
Tubuh yang baru saja istirahat tadi celingukan sendiri "Nara Shikamaru. Anak dari Nara Shikaku. Tangan kanan sekaligus ahli strategi dari pemimpin perdamaian dunia."
"Dilihat dari kepribadiannya kurasa menjelaskan kesalahpahaman ini bisa di perhitungkan" kata Naruto pada dirinya sendiri.
"Kesalahpahaman? Apanya?" Bibir indigo itu menyahut kembali membuat urat perempatan di dahi Naruto terlihat.
"Oi Peduli sedikit dengan,-"
"Diam! Aku sama sekali tidak peduli!" Ke enam kata yang dia ucapkan di penuhi dengan cekaman membuat Pria itu terdiam
"Aku tak peduli dengan reputasi! Aku tak peduli dengan tunangan atau orang itu atau orang lain!" Hinata tidak berteriak layaknya perempuan lain yang sudah kesal sampe kepuncaknya. Melainkan mengeraskan cengkraman di kedua lutut nya seraya menggertakan giginya kuat.
Dia tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya pada orang lain tak terkecuali pria di hadapannya ini. Yang melihat dirinya dengan tatapan terkejut dan kemudian kembali terganti dingin.
Tapi mau bagaimana lagi. Kali ini dia tak bisa menjadi sok kuat seperti biasanya. Pria itu terlalu berharga baginya untuk ditinggalkan atau meninggalkan.
Hinata sangat tidak ingin kehilangan dirinya. Sebab, pria ini. Kriminal di hadapan nya ini telah mencuri hati nya semenjak masuk ke perkarangan sekolah serta di perkenalkan dan di beri tanggung jawab kepada seluruh Osis oleh guru baru yaitu Kakashi Hatake yang notabene nya adalah seorang anggota CIA.
Buliran air mata mulai berjatuhan dari kedua mata nya yang saat ini di tundukan.
Lama suasana itu terdiam membuat Naruto melangkahkan kaki nya kembali ke jendela dan melihat keadaan luar.
Hujan.
Sebagian wajah Naruto tentu juga terhalangi dengan helaian rambutnya semenjak pengakuan Hinata.
Yang membuatnya merasakan amarah seperti Kejadian itu.
"Melawan arus sosial sekaligus dapat menyebabkan ia memberontak kepada siapapun yang tidak di sukai nya. Tak terkecuali keluarganya sendiri" seru Naruto dingin masih menatap awan gelap diluar.
Dan tak lama kemudian cuaca menjadi buruk seiring dia berdiam diri. Suara Guntur mulai menghiasi dunia luar, dan tak lama itu petir mulai berkeluaran di sekitaran awan.
"Apa itu... dinamakan Cinta?" Mata Naruto tiba-tiba menjadi kemerahan setelah badannya berbalik arah dan menatap wanita itu yang juga menatapnya dengan berliang air mata di wajahnya.
Ditutup jendela itu kemudian duduk dekat di hadapan Hinata.
"Akan ku beritahu padamu 1 atau 2 hal tentang rahasia dan kebenaran di dunia ini. Hyuuga Hinata"
.
#Tok tok tok
"Masuk"
"Permisi Minato-sama, 30 menit lagi rapatnya akan dimulai" kata wanita itu sopan di dekat pintu.
"30 menit?"
"Ya, Minato-sama"
"Kurangi jadi 10 menit"
"Tapi,-"
"Situasi kita pada saat ini akan menjadi apochalypse!"
"?! a-a-apocha,- ba-baik Minato-sama segera terlaksana!" Wanita itu kemudian segera berlari pergi dari tempat itu lupa menutup pintu.
Pintu yang terbuka lebar itu pun perlahan tertutupi menampakan seorang pria yang rambutnya di ikat kebelakang.
"Hah, merepotkan" pintu pun tertutup rapat "kau seharusnya sedikit lebih tenang Minato".
"Tenang? Tenang kau bilang Shikaku? Bagaimana aku bisa tenang dengan situasi yang kau pasti juga sangat tau ini!" Remasan berkas document yang sedari tadi di lihat-lihatnya itu terdengar kasar.
"Ya. Aku sangat tau dengan situasi ini. Tapi sebelum apa yang kita takuti itu terjadi, kau sudah mati akibat kelelahan" balasan Pria bernama Shikaku itu berhasil membuat Minato bungkam lalu menyandarkan bahu nya ke dinding.
"Katakan padaku Minato kapan terakhir kalinya kau istirahat?"
"Hah.." dengus pelan Shikaku "kau terlalu panik Minato. Setahun lalu itu memang hampir saja menjadi kekalahan kita. Tapi sekarang ini kita bisa di katakan siap karena perlengkapan dan penemuan senjata baru itu. Dan lebih terutama nya lagi kita punya mereka ". Jelas Shikaku menenangkan Minato.
"...ya, kau benar..." ujar Minato lirih.
Helaan nafas panjang kembali terdengar "Minato,-".
"Tidak ini salahku... maaf.. hanya saja, aku tidak mau hal itu terjadi pada seseorang yang seharusnya bukan di pihak yang salah" potong Minato masih terdengar lirih.
Dilihat dari wajah Shikaku dia tampak tau apa yang dimaksud dari pemimpin dunia itu.
Wajah tenang yang terpampang sedari tadi di wajahnya saat ini tak terlihat jauh dari Minato.
"Ya, itu juga merupakan kesalahan"
Tangan Minato perlahan mulai memperbaiki berkas lembaran document yang tadi di remasnya.
"Kau punya sesuatu yang harus di laporkan, kan Shikaku?" Keheningan terjadi sesaat pecah dengan pertanyaan Minato.
"Ah kau benar. Tinggal menunggu waktu untuk 3 dari mereka berdelapan itu akan bangun"
"3? Itu berita yang sangat bagus" suasana itu perlahan mulai membaik setelah suara perempuan yang sama serupa tadi keluar dari telepon meja Minato.
"Tinggal 3 menit lagi". Segera Minato berdiri setelah menutup document yang bertuliskan...
"Uh ayolah Minato kau terlalu serius" pergelangan tangan Shikaku tiba-tiba merangkul leher Minato.
"Hentikan Shikaku"
"Oh ayolah. Ceritakan padaku bagaimana kencanmu dengan Kushina 2 hari lalu... sukse,- uhm..."
Rangkulan di leher Minato melonggar dan tak lama itu. "...maaf" kata Shikaku setelah melihat wajah Minato yang tak dapat di jelaskan dengan kata-kata.
Kedua nya pun berjalan dalam keheningan.
.
"Tidak salah lagi. 2 jam yang lalu, terdapat pertemuan organisasi bernamakan Akatsuki di Tokyo, Jepang."
"Apakah ada saksi yang melihat wajah mereka? Atau seseorang dapat menjelaskan apa yang di lakukan Akatsuki itu di situ?"
"Kalau ada tidak mungkin kita di panggil untuk berdiskusi sekarang ini".
"Uhn..."
"Apakah itu sudah terkonfirmasi kalau itu adalah anggota Organisasi yang asli? Banyak orang-orang tertentu di dunia ini yang mengambil kesempatan mengakui grup yang berisikan 3 atau 4 orangan menyebut mereka salah satu anggota dari Akatsuki"
"Tapi pada akhirnya mereka hanyalah gadungan"
"Ya, kau benar apakah sudah terkonfirmasi?"
Di dalam ruangan gelap itu terdapat banyak sekali layar-layar yang isi nya terdapat pemimpin-pemimpin dunia yang sedang melaksanakan rapat.
Dan argumen-argumen itu terus dan tetap berjalan seiring waktu.
"Aku sebagai perdana mentri Jepang. Tsunade Senju sangat yakin dan mempunyai bukti dari drone yang menangkap wajah 3 sekaligus anggota mereka".
"Wajah? Kau berhasil? Dengan begini identitas mereka cepat atau lama akan berhasil di dapatkan"
"Yah kau benar A"
"Minato? Apa ada sesuatu di benakmu?" Tatapan setiap orang di layar-layar itu penuh dengan ketegasan. Tak terkecuali wanita yang bernamakan Tsunade Senju itu.
"... tidak cukup" gumam si pria pirang itu pelan. Kepalanya sengaja di tundukan dan bertopang di kedua tangannya seraya memejamkan mata.
"Hm apa maksudmu Minato?"
"Tidak cukup"
"Setelah 3 tahun lamanya mereka bersembunyi dan telah di nyatakan bergabung dengan Organisasi ITU... mereka kembali tak dapat di temukan walau Organisasi yang hampir menggulingkan aliansi dunia itu di lenyapkan" seru Minato dingin
"1 tahun lalu kita menghadapi Organisasi yang paling di takutkan itu pada masa nya. Dan pada akhirnya kita menang, walaupun banyak yang di korbankan. Lagipula lawan kita pada saat itu bukanlah manus,- hmm" jelas pak tua yang di ketahui oonoki itu sebelum berdehem.
"Kita... akhiri pertemuan hari ini"
"Apa maksudmu dengan mengakhiri, Minato?!"
Tanpa menjelaskan sepatah kata. Layar-layar itu mulai di matikan 1 persatu dan tersisa 4 yang sengaja di diamkan.
"Itu hampir saja Oonoki"
"Uhm.. maaf aku terbawa suasana"
"Para pemimpin lain mungkin akan segera bertanya-tanya dan mungkin juga akan membuat pemikiran mereka sendiri lalu pada akhirnya akan menimbulkan saling ketidak percayaan mereka pada kita" sambung Minato dingin. "2 atau 3 bulan pun mereka juga mungkin bisa menyatakan kalau kelima dari kita yang selamat dari peristiwa itu adalah akal-akalan agar bisa menguasai pemimpin-pemimpin negara lainnya" sambung nya lagi menatap tajam ke arah layar 1 itu.
Situasi dalam rapat itu menegang, dan melihat Minato yang masih ingin menceramahi pak tua itu. Membuat seseorang yang berdiri sedari tadi di dalam kegelapan belakang Pria pirang itu. Memegang pundak kanan Minato seraya menggeleng pelan kepala nya.
Dalam ruangan gelap yang di tempati Pemimpin dunia itu hanyalah berisikan 2 orang. Tentunya itu berlaku pada pemimpin yang lainnya.
Terutama ke empat pemimpin Negara yang akan memulai rapat rahasia mereka ini.
"Jangan lakukan itu lagi" kata Minato ke pak tua itu setelah menghembuskan nafas pelan.
"Tentu saja" balas pak tua itu cepat. Kelegaan nya dapat di ketahui dari wajah nya yang sedari tadi terlihat menahan nafas. Ketiga layar sisanya juga terlihat seperti itu.
Minato kemudian membuka laporan di atas meja nya. "Aku sudah menduga organisasi Akatsuki itu akan bergerak dalam jangka waktu tidak lama ini".
"Tapi tak kusangka harus di tempat itu."
"Kusarankan agar kita mengerahkan seluruh pasukan khusus untuk mencari di seluruh penjuru jepang" kata pria besar berkulit kecoklatan itu.
"Kau ingin membuat Negara ku ini di landai perang besar-besaran, A?" Seru Tsunade dingin.
"Tidak. Jangan berperasangka buruk Tsunade. Maksudku lebih cepat lebih baik. Apapun yang mereka incar di tempat itu pasti akan berbahaya"
"Jadi sebelum mereka mendapat apa yang mereka inginkan. Lebih baik kita mendesak mereka. Lalu mengakhirinya sekarang" sambung A.
Tak dapat lagi menahan amarah nya urat perempatan wanita blonde itu terlihat. "Jadi kau bermaksud membuat tempat itu menjadi Neraka seperti waktu itu! Dengan kau berkata mendesak mereka berarti tidak ada rencana untuk mengungsikan warga yang sama sekali tidak tau apa yang akan terjadi pada mereka 5 menit setelah itu akan mati! Begitu!?" Teriak nya memuncak.
"Tenang Tsunade"
"Tenang? Tenang kau bilang Oonoki?! Jangan bilang kau mendukung apa yang dikatakan berengsek itu!"
Suasana yang tadi nya mulai terbuka itu kembali menegang dalam keheningan.
Pemimpin dunia yang bernamakan Minato itu masih terlihat tenang dengan dirinya yang membolak balikan laporan.
2 menit diam dalam keheningan sebelum "Kalau memang itu yang terbaik kita harus melakukan nya".
"Oonoki berengsek!" Geram Tsunade yang sudah sangat marah.
"Jangan kau pikir kita bertiga tidak tau apa yang kau dan Minato rahasiakan pada kita" Perkataan itu sukses membuat Tsunade terdiam. Tak terkecuali juga Minato.
Pak tua itu kemudian mengatur nafas nya. "Apa yang di incar Akatsuki di tempat itu adalah dia, kan?".
"Pemimpin Organisasi paling menakutkan yang memaksakan rahasia yang bahkan tidak kita ketahui sepanjang masa ini terbongkar..."
"... a.k.a Naruto"
.
"Diam" Dalam perkataan wanita Indigo itu terdengar sangat senduh. Mata yang terlihat sudah sangat lelah menumpahkan air mata masih saja berjatuhan.
"Bahkan setelah mendengar itu. Kau masih saja keras kepala..."
"Diam" kata Hinata serak.
"Orang yang kalian takutkan pada waktu itu adalah aku.."
"Diam" Lagi dia memohon.
"Akulah yang menebar terror keseluruh dunia..."
"Hentikan!" Tak tahan dia pun menutup sepasang telinga dengan kedua tangan nya kuat.
"Dan 1.3 juta penduduk yang berada dalam kawasan yang ku jajahi semuanya di bunuh..."
"Sudah kubilang diam!" Suara itu masih mencapai kelopak telinga nya. Membuat dia sedikit berteriak sekaligus mengancam. Dia tau kalau ucapan pria pirang ini akan menuju ke sana.
"Termasuk ibum,-"
#PLAKK
Tamparan yang di rasakan di pipih kiri Naruto terasa sangat sakit. Membuatnya terbelalak dan menatap Hinata dengan tampang terkejut.
Dan malah lebih dikejutkan lagi dengan respon Hinata. Wanita indigo itu tiba-tiba memeluk lalu menyandarkan wajah nya di dada bidang Naruto.
"Kumohon, hentikan..." mohon nya terisak-isak.
Lagi. Mata Naruto tertutup dengan helaian rambut pirang nya. Ruangan yang tadi nya di penuhi dengan percakapan kini di penuhi dengan isakan Hinata. Sebelum,
"..apa yang kau lihat dari orang brengsek bernama Naruto ini Hinata?" Ucap Naruto pelan. Isakan Hinata masih belum berhenti dalam dada nya.
"Seorang pria pirang culun pengecut, yang pasrah di bully"
"Walaupun kau tau dari awal orang brengsek ini adalah seorang kriminal?" Ucap nya lagi dengan senduh.
Anggukan pelan disertai gunggaman terasa di dada Naruto. "Aku mencintai mu. Aku mencintai pria pengecut berengsek bernama Naruto" sambung nya masih terisak.
"..." Naruto tak tau ekpresi apa yang harus di keluarkan nya dari balik sikap yang dingin. Yang dia inginkan dari awal bukanlah ini.
Yang di inginkannya adalah balasan setimpal dan tak apa jika itu akan menjadi lebih buruk untuk kriminal sepertinya.
"...Walaupun orang brengsek ini mengatakan kalau dia lah yang membunuh,-"
"Hentikan!"
Naruto menurut setelah mendapat pukulan pelan berulang kali di dada nya.
"Kenapa aku?" Kata nya lirih
"Aku tak tau. Sewaktu melihat mu a-aku tidak bisa berhenti memikirkan mu.." kedua tangan yang tadi nya memukul dada Naruto kini berada di tengah-tengah kedua dada besar milik nya dan dada milik Naruto. "Aku sangat mencintai mu" kata Hinata berulang-ulang kali.
"...aku sama sekali tidak diperkenankan merasakan perasaan itu.."
Suara lirih Naruto dihiraukan Hinata dengan dirinya yang perlahan-lahan melepas pakaian nya. Tangan kiri yang masih berkutat di dada Naruto, kini mendorong pria itu pelan ke bawah.
"..." Pria itu hanya diam membisu. Dirinya bisa melihat dengan jelas Hinata yang kini tengah menduduki perut nya dalam keadaan setengah bertelanjang.
Kedua tangan Hinata menyentuh serta menggenggam tangan Naruto setelah dia berhasil melepas bra nya.
"Aku juga masih kurang tau tentang itu, soalnya ini hal pertama bagiku" Mata mereka berdua saling bertatapan dan sangat dekat hingga bibir mereka berdua kapan saja bisa bertemu.
Kecupan pertama hanyalah sebagai pembasah. "Aku..." dan kecupan kedua sebagai perangsang nafsu. "..mencintaimu" sebelum kecupan ketiga di daratkan. Hinata terkejut dengan Naruto yang tiba-tiba membanting nya ke sebelah, lalu membisikan sesuatu ke telinga yang membuat perempuan indigo itu senang.
Naruto mengangkat kepala nya lalu mendapati wajah Hinata yang mata nya berkaca-kaca namun sangat merah padam dan tersenyum sexy kearahnya.
"aku siap..." jawab Hinata sebelum Naruto mulai menyesapi leher putih mulusnya.
.
To be cont...
.
sory guys... gak tau harus bilang apa lagi...
tapi, laptop gue dah R.I.P :'(.
jadi... taulah gimana. Gue ngetik ini dari hp mohon maaf kalo ada yang gak beraturan dan juga cerita ini hasil remake dari yang pertama (gak ke save)..
seharusnya cerita ini gak berakhir disitu.. di cerita pertama yang gue tulis di laptop gue, ada lemon naru ama hina dan juga ada hari esoknya... namun yah... inilah hasil kalo nulis dari awal lagi.
soal this releationship called harem.. akan dilanjutkan kalo data dalam harddisk laptop gue dapat di selematkan...
papoi out...
