"hmn.."
Erang perempuan berambut biru itu diatas futon kecil. Dalam posisi matanya yang terpejam, kedua tangannya terlihat sedang mencari sesuatu disekitar tubuhnya. Dirinya terlalu kelelahan untuk membuka kedua mata.
Namun selang beberapa detik mencari kedua alis matanya mengkerut. Rasa lelahnya terganti dengan jantungnya yang tiba-tiba berdegub kencang. Seketika perempuan itu dengan cepat bangun dan melihat sekitar.
'Tidak ada?!'
Selimut yang tadinya menyelimuti sebagian tubuh telanjang miliknya kini di angkat dengan tergesa-gesa.
'Tidak ada!'
Perempuan itu terlihat sangat berharap kalau sesuatu yang di carinya itu berada dibalik selimut. Tapi nihil.
Ruangan yang hanya di terangi dengan sinar cahaya bulan dari jendela tak tertutupi kain itu. Jelas memperlihatkan kalau tidak ada sesuatu yang dicarinya dalam ruangan itu.
"mmm"
Dia sedikit mengerang dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan kekecewaan. Dan yang hanya bisa di lakukannya sekarang adalah memeluk bantal kepala milik orang yang mendiami ruangan No.69 ini sembari memeluk kedua lututnya erat.
"Na-naru"
Isaknya pelan menghirup aroma khas dari seseorang yang bernama Naruto. Cukup lama perempuan indigo itu berada dalam posisi tadi sebelum dia membelakkan matanya. Diapun segera menghapus air matanya dengan bantal lalu tersenyum.
"Aku yakin pernah mengatakan ini, tapi... jangan salahkan aku jika situasi menjadi buruk"
Itulah. Kilasan balik perkataan itulah alasan kenapa Perempuan Indigo ini tersenyum manis. Bisikkan Naruto semalam tampak membuatnya sangat bahagia. Bahkan jika hanya mengingat perlakuan lelaki pirang itu kembali, dia dapat merasakan deruhan nafas hangat yang menggelitik telinga kanannya di setiap kata yang di keluarkan lagi.
Hinata membenamkan wajahnya yang tiba-tiba memerah kembali ke bantal seraya memukul kepala miliknya berulang kali. 'Bodoh sekali aku bisa melupakan itu' kata-kata itu berulang kali diucapkannya dalam batin.
*Srek
Aktivitas memukul kepala terpaksa di hentikan setelah mendengar sesuatu dari arah pintu (Pintu ruangan No.69 hanya ada 2 yaitu pintu Keluar-Masuk dan pintu kamar mandi). Hinata yakin mendengar sesuatu dari arah itu dan memilih untuk memperhatikannya sebentar.
Beberapa detik kemudian suara itu tak terdengar lagi. Awalnya dia berpikir untuk mengabaikan suara itu dengan berpikir salah dengar. Namun sekilas perempuan itu rasa kalau dia harus memeriksanya.
.
Dari lubang kecil dia tak melihat kalau ada seseorang dari balik pintu. Dia boleh saja membuka pintu itu dan melihat di sekitar luar. Tapi saat ini dia masih dalam keadaan telanjang bulat. Yah walaupun jika dia sedang memakai baju, Hinata mungkin tak akan keluar dari pintu itu.
Dia tak ingin mengambil resiko.
Karena dia tidak tau kalau pemilik gedung ini memperbolehkan membawa lawan jenis ataupun dapat menginap/bermalam. Namun karena ketidak ketatnya penjagaan di luar tempat masuk gedung membuat Hinata berpikir kalau itu boleh. Jika memang benar asal suara itu pemilik gedung ini yang memeriksa sekitar. Naruto bakal diusir, atau lebih buruknya lagi.
Kalau memang tempat ini sengaja disediakan untuk pengasingan Naruto. Besar kesempatan jika pemilik dari gedung ini di perintahkan untuk memberitahukan jika ada hal aneh atau apapun yang terlihat mencurigakan dari pergerakan lelaki pirang itu.
Bisa-bisa Naruto dilaporkan sebagai penculik dan memperkosa dirinya.
Itu scenario terburuk. Pemilik gedung ini terlalu OP untuknya.
'Kurasa aku harus menambahkan orang itu ke dalam list sesuatu yang harus dijauhi'
Perlahan Hinata memundurkan dirinya menjauh dari pintu. Dan kini pintu itu terlihat mengerikan baginya dengan keluarnya aura ungu-keunguan di setiap celah.
Bagian tubuh bawah Hinata yang bergetar-getar bukanlah akibat dari dirinya takut terhadap pikiran negatif berlebihan ke pintu itu. Namun bagian bawah tubuhnya itu sudah bergetar-getar sedari tadi semenjak dia bangun dari futon kecil yang tadi dia tiduri.
Pinggulnya nyeri akibat 6 jam yang lalu. Dan Hinata lagi-lagi merutuki kenapa bisa lelaki pirang itu terlihat sangat berpengalaman. Walaupun dirinya sudah berusaha keras menahan, tetap saja itu mustahil.
"Uhmm!"
Wajah Hinata terlihat menguat, tidak, lebih tepatnya berusaha menahan sesuatu yang besar memasuki vaginanya. Berulang-ulang kali benda itu dimasuk-keluarkan dari lubang miliknya dengan cepat.
"hm! Hmmm!"
Hinata membekap bibirnya dengan kuat seraya memejamkan matanya. Wajahnya sangat memerah dengan deruhan nafas terengah yang keluar karena tak dapat di tahan dari setiap lelaki pirang itu memaju-mundurkan pinggulnya sehingga seperti menampar pantat perempuan itu dengan paha miliknya.
Kedua kaki yang sengaja melingkari tubuh lelaki itu terlihat menguat dan terlihat seperti kesetrum sebentar sebelum akhirnya melemas. Tindakan itu membuat Naruto diam sebentar dan memperhatikan wajah Hinata kini melemas.
"oh yah, kau sudah kelalahan? Ini baru 3 menit loh... dan kau sudah keluar sebanyak 2 kali."
Mata Hinata yang menatap langit atap dengan terengah-engah menggerakan pupil matanya melihat Naruto yang kini menyeringai saat di tatapi. Beberapa detik mereka diam dalam posisi seperti itu sebelum,
"Mau berhenti?"
Walaupun Hinata balik menyeringai kepadanya itu tak menutupi kalau dia hanya berpura-pura masih tangguh.
"Ja-jangan sombong dulu.."
Perempuan indigo itu tak berniat dirinya direndahkan dengan mengatakan dirinya tidak dapat memuaskan lelaki dihadapannya ini.
"ha-hanya karena bisa membuatku kelu,-?! AHHHHMMM!"
"Maaf-maaf kupikir kau sudah tak kuat lagi..."
Tidak seperti sebelum, Lelaki itu lebih mempercepat dan juga memperkuat gerakannya. Dia juga dengan sengaja memotong ucapan Hinata dan seperti yang di rencanakan pancingannya berhasil.
Kedua betis kaki Hinata kini diangkat dan di taruh ke pundaknya seraya menghimpit perempuan itu lebih ke bawah.
"...mana mungkin seorang gadis... hmm kurasa tidak pas, ahem maksudku seorang Wanita yang di segani semua lelaki di Sekolah karena wajah..."
walau dalam keadaan menghimpit. Naruto menyentuh pipih Hinata,
"...Tubuh..."
dan kemudian pinggulnya,
"...Terutama bagian ini..."
lalu kearah dada besar Hinata yang terhimpit dengan pahanya sendiri,
"...hanya dapat bertahan 3 menit, bodohnya aku"
Lanjut Naruto lagi, merutuki dirinya. Ekspresi yang di tunjukan Hinata masih menguat tapi dapat dilihat dengan jelas kalau dia sudah diambang batas. Mata yang terpejam dengan kuat akibat tindakan tiba-tiba lelaki itu kembali menatapnya.
"h-a-ha! Ka-ka-kau me-mmmmahmmm!..."
Hampir saja dia kehilangan kosentrasinya saat dirasakan kepala penis Lelaki itu makin mendobrak pintu rahimnya. Dengan berdiam sebentar dan kembali berkosentrasi dia dapat menahan nafsunya kembali.
" –ang bo-bodoh. La-la-lag,-hnnnn..-i pula!T-t-tiga menit it-hhuuu su-sudah dari tadhiiii!"
Gerakan Naruto yang terakhir itu berhasil merubuhkan Hinata.
"sudah dari tadi?"
Masih dalam keadaan menghimpit. Naruto menggerakan tangannya meraih hp Hinata dan menyalakannya. Dia tak tahu password yang di gunakan Hinata. Tapi kalau hanya melihat jam bisa kan?.
"ah, kau benar Hinata. Ini sudah bukan 3 menit lagi, tapi 4 menit lewat 10 detik."
"Lagi-lagi aku salah, kurasa diriku ini makin menjadi bodoh..."
Naruto menepuk jidat nya pelan lalu menaruh Hp itu sebelum melihat perempuan itu kembali.
"...Hinata?."
Wajah Hinata menjadi tak karuan. Bibirnya sudah tidak lagi menguat, begitu juga dengan matanya. Pupil matanya sudah hanyut di dalam lautan biru mata Naruto dan yang tersisa kini hanya Pure Love.
"aku sa-sangat mencintaimu, Naru."
Ekspresi yang di keluarkan Hinata tentu terlihat sangat sexy. Tapi kemudian air matanya mulai merembes keluar.
"Aku sangat-sangat mencintaimu"
kembali dia berkata itu, itu, dan itu lagi.
"Aku tahu..."
Balas Naruto sebelum mengangkat Hinata dan membalikan badannya.
"...tahan tubuhmu"
Perempuan itu pun menurut. Hinata menopang tubuhnya dengan kedua tangan sehingga mereka berdua dalam posisi doggy style.
"Na-naru ga-gaya ini"
"kenapa? kau malu? Bukannya kita sudah pernah melakukannya sekali? Di uks"
Hinata bukan malu. Dia hanya ingin protes kalau gaya ini tak patut ditiru (paan sih Hinata! Ini gaya favorit author!) tapi apa dayanya dia. Dia tak bisa membuang tenaganya dengan percuma.
"kumasukan ya?"
Setelah mengatakan itu anggukan kepala Hinata dilihat Naruto. Tak pake lama Pria itu segera memasukannya.
"GyaaaA! NA-NARUTO!"
Teriakan itu bukanlah desahan melainkan kesakitan.
"oh ara.. aku memasuki lubang yang salah"
Balas Naruto polos.
"pantas saja ini sangat sempit"
Seru Naruto kembali menghiraukan Hinata yang berteriak kesakitan dan minta berhenti.
Rasa sakit yang Hinata rasakan di lubang pantatnya itu bukan main. Dia yang seharusnya sudah larut dalam nafsu, harus merasakan rasa sakit yang membuatnya menggertakan gigi dengan kuat. Bantal satu-satunya yang Naruto miliki sudah terlihat mau terobek akibat cengkramannya. Membuat instingnya berpikir secara otomatis bagaimana cara menghentikan penis pria itu
"lu-lubang ittthuuu! Ko-kotor Naruu! AHH!"
Akhir teriakan Hinata tadi berhasil menghentikan Naruto.
"A-anus. Bu-bukanlah tempat seks na-naru.. hah.. hah..."
Tambah Hinata ngos-ngosan meyakinkan lelaki itu untuk mengeluarkan penis besar itu keluar dari lubangnya yang salah masuk.
Setelah mengatur nafasnya sedikit lebih tenang Hinata melihat belakang mendapati wajah dingin Naruto hanya tinggal se-centi dihadapannya dan berucap..
"tak apa bukan? Semua hal bersih dan kotor milikmu... adalah milikku juga"
Detup jantung Hinata seketika terdengar berhenti. Kedua bola mata lavendernya memutih. Seluruh tubuhnya mati rasa dan layaknya waktu terhenti dia pelan-pelan mencerna kata-kata Naruto. Sebelum jantungnya itu berdetak tak karuan dan tiba-tiba menyambar mulut pria itu dengan nafsu tak berhenti sampai situ tangan kanan miliknya ditaruh di belakang kepala Naruto untuk lebih memperdalam ciumannya.
Merasa tidak ada lagi perlawanan sok kuat dari lawan jenis. Tangan kiri lelaki itu digunakan untuk menopang tubuhnya dan juga membantu menopang tubuh Hinata dengan tangan kanannya yang memeluk perut perempuan itu.
Selama 10 menit mereka mempertahankan posisi itu sebelum akhirnya Hinata menuntut untuk mengganti gaya.
"hmm mmmhh!?"
Tapi dibantah Naruto. Lelaki itu tampaknya masih ingin dalam posisi seperti itu (trima kasih.. hero :').
Perempuan itu kembali merasa tak berdaya. Dia masih ingin mencium Naruto lebih lama lagi. Tapi dalam keadaan seperti ini itu mustahil. Lehernya nyeri setelah 10 menit berlalu, mungkin tadi dia terlalu bersemangat. Bisa-bisanya lelaki itu menggombal, dipelajari darimana juga!.
Hinata merasa pening. Tubuhnya makin terangsang. Perempuan itu sudah tak tau lagi berapa kali dia keluar. Sudah 20 menit berlalu dan lelaki itu masih saja dalam posisi seperti tadi. Kedua tangannya bergetaran tak kuat menahan tubuhnya lagi dan sudah 2 kali kedua tangan itu sempat roboh tapi tak lama itu dibangunkan kembali.
Dan inilah dia, hasil 30 menit tadi yang berlalu.
Perempuan itu menatap hampa kasur di bawahnya, seakan kasur itu seperti tumpukan kain sutra yang sangat empuk. Namun hanya sebatas melihatnya.
"Na-na-nauuu nii awaat.."
"hm? Gawat apa?"
"auuu membanngi k-keh!... ka-kasur nii.."
"hah.. Baiklah aku paham"
Desah Naruto membaringkan Hinata.
"kau yakin tidak ingin berhenti?"
Pastikan Lelaki itu lagi melihat punggung belakang Hinata yang terengah-engah. Gelengan kepala perempuan itu cukup menjawab pertanyaan Naruto.
Hinata membaringkan tubuhnya setengah menghadap Naruto.
"Tidak adil jika Cuma aku yang keluar"
"Tapi kau terlihat sudah tak sanggu,-hn!?"
Seketika itu Naruto ingin menelan ludahnya sendiri. Itu karena Hinata tiba-tiba mempersempit lubang pantatnya dan berkata "aku hanya belum terbiasa" dengan terengah-engah.
"dasar keras kepala"
Setelah mendengar ucapan lelaki itu. Ingatan Hinata hanyalah berisikan serpihan beberapa gaya seks yang di gunakan Naruto kepadanya. Dimulai dari massionary, doggy (3), menyamping sembari lelaki itu mengangkat kaki kanan miliknya, dan setelah itu mengangkat tubuh Hinata.
Sampai situlah yang diingat Hinata. Sampai dimana dia puas Naruto menyemburkan cairan putih kental miliknya itu sekali kerahimnya sebelum dia tertidur lelap.
*Sreek
Suara itu kembali terdengar. Itu berasal dari arah di balik pintu kamar mandi.
"hm?"
Hinata menatap pintu di sebelah kirinya itu lalu membuka-nya. Ruangan itu tadinya gelap, sebelum Hinata menyalakan lampu tersebut dan membelakkan mata-nya.
.
Pertengahan kota. Tempat dimana orang berlalu lalang sibuk akan urusan. Tapi tidak untuk hari ini. Hari ini adalah hari dimana semua orang menikmati hari libur mereka. Itulah yang dipikiran Shikamaru saat ini. Saat dia menatap jam tangan yang terdapat di tangan kirinya dengan malas.
09:40
"..."
Sebentar dia terpaku menatap. Sebelum akhirnya melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran yang terbilang cukup mewah. Pintu restoran itu terbuka seiring pemuda nanas itu mendekat. Dan setelah benar-benar sudah berada di dalam. Dia langsung di suguhi salam hangat dari pelayan yakni yang membuka pintu tersebut.
Shikamaru membalasnya dengan menatap pelayan itu sekilas lalu menuju meja resepsi. Pelayan kali ini adalah perempuan.
"Selamat datang Tuan. Meja untuk berapa orang?"
Shikamaru menatap pandangan yang tersaji di hadapannya. Baju yang di kenakan perempuan itu begitu serasi jika di pasangkan dengan pelayan lelaki tadi. Menambah kesan stoic jika perempuan itu berbaring terkulap di sofa empuk di belakangnya.
"a-anu tuan?"
"ah! I-iya?"
Shikamaru menggeleng pelan kepala-nya. Jangan salah paham dulu. Dirinya sedari tadi bukanlah memikirkan hal mesum. Melainkan terhipnotis sesaat pada sofa yang menurutnya empuk itu. Jujur kalau mau bilang. Dirinya sangat kesal bukan main karena hari ini adalah hari dimana dia harus bermalas-malasan di rumah tersayangnya. Namun malahan harus mengikuti kegiatan rutin tak jelas dari salah satu teman perempuan yang tak berhenti-henti menelepon hpnya.
Walaupun sudah di non-aktifkan tak lama itu pintu kamar miliknya diketuk seseorang.
Yakni Ibunya.
"Shikamaru. Ada telfon dari Ino-chan"
Kekalahan mutlak untuknya.
"Meja untuk berapa orang? Tuan?"
"aku yakin teman,- hmm maksudku kenalanku telah memesan tempat"
Shikamaru menambah aksen sedikit berbatuk untuk membetulkan perkataannya. Membuat pelayan itu mengernyitkan dahi mendengar pernyataannya.
"Bu-bukan teman anda?"
Pelayan itu bertanya kembali guna mempertahankan percakapan seraya membuka buku di tangannya.
"hem. Mengganggu seseorang di pagi-pagi buta di hari yang hanya terjadi 1 minggu sekali ini. Apakah itu bisa dikatakan teman?"
Ucap Shikamaru malas dan dengan percaya dirinya menyalingkan tangan di dada. Pelayan itu tampak kebingungan. Dia tak tahu harus membalas apa. Pernyataan yang di katakan pemuda nanas itu sangat bertolak belakang dengan sikapnya. Membuat perempuan itu menyerah untuk meng-akrabkan diri dan langsung to the point.
"uhm.. Ka-kalau begitu. Siapa nama kenalan anda tuan?"
"Kalau tak salah... Yamanaka"
"hmm...Yamanaka-san?... Yamanaka Ino-san?"
Pelayan itu melihat raut wajah Shikamaru yang tiba-tiba absurp. Seakan-akan nama tersebut sudah cukup didengarnya hari ini. Menerima itu sebagai jawaban Iya dia melanjutkan.
"Ruangan Yamanaka-san berada di no 2 VIP. Kalau begitu ikut aku tuan."
Shikamaru menurut membiarkan perempuan itu menuntun jalan. Sesampainya di lorong raut wajah tak suka terpajang di wajah pemuda tersebut. Saat melihat deretan pintu itu. Dan seperti yang di duga Shikamaru. Dalam setiap deretan pintu yang di laluinya terdapat nomor dan semakin hari dia menelusuri lebih ke dalam. Angka itu mengecil.
.
Shikamaru kini telah berada di depan ruangan no 2. Setelah di tinggalkan pelayan perempuan itu beberapa detik yang lalu. Dia membuka pintu itu.
Ruangan itu berisikan Sofa, TV dan beberapa kursi yang mengitari Meja makan yang cukup panjang itu. Dan diantara kursi tersebut sudah ada 5 orang yang menempati dan 2 orang menempati sofa.
"Yo! Kau lama!"
Dia melihat asal dari seruan tersebut. Itu berasal dari seorang lelaki yang mempunyai tato taring di sepasang pipi nya. Lelaki yang di kenalnya Kiba itu menyeringai polos seraya menepuk-nepuk kursi disebelahnya.
Shikamaru mengabaikan salam datang-nya itu dan memilih duduk di arah yang berlawanan dari maksud Kiba. Kiba yang seakan tahu itu bakal terjadi hanya bisa mengercutkan bibirnya lalu menatap perempuan pirang yang sedari tadi bahkan sebelum datang-nya Shikamaru sedang mencoba menghubungi seseorang.
"Lihat Ino. Kau membuatnya kesal."
Perempuan pirang bernama Ino sekilas menatap seseorang yang mengajak-nya bicara itu. Lalu kemudian menatap Shikamaru yang sekarang ini duduk di pojok arah pintu menyendiri dengan kedua tangan-nya yang memegang menu makan.
"hm? Oh kau sudah datang rupanya..."
"Yang tersisa kini Hinata-chan."
Sambung perempuan pink. Nama tersebut berhasil mendapat perhatian dari teman-temannya. Perempuan yang bernamakan Sakura itu juga sedikit tak percaya kalau nama yang di katakan-nya tadi itu bisa melupakan kegiatan rutin yang di deklarasikan Ino beberapa bulan yang lalu.
"Aku mencoba menghubunginya sedari tadi... tapi tak diangkat. Bagaimana dengan mu Tenten?"
"Barusan aku mendapat panggilan dari Neji. Dan dia bilang bukannya dia nginap bareng kalian? seperti itu"
Seluruh isi ruangan kini menjadi hening. Telefon genggam yang di pegang Ino sedari tadi tiba-tiba terlepas. Kiba yang tadinya berniat memanasi Shikamaru menjadi bosan (karena respon datar) dan memillih bermain dengan akamaru (kecil) sebelum terbelalak. Sama hal juga dengan Sakura dan sang ketua yang sedari tadi diam.
"Ba-baiklah. Kurasa itu sudah Cukup."
Seru Tenten mulai risih dengan tatapan-tatapan itu.
"Oi sudah kubilang cukup!"
"ah. Gomen Tenten... tapi kau yakin itu yang Neji bilang?"
"Tentu saja Ino. Telingaku 100% masih bisa digunakan."
Ruangan itu kembali hening.
.
"Selamat datang... tuan?"
"ya terima kasih. Bisakah kau menutup mulutmu dan berjalan ke pojok sana? Sekarang."
Seorang pria berpakaian serba Hitam tiba-tiba masuk dan dengan tenang menodong pelayan tersebut setelah pintu itu terbuka. Tak lama kemudian, beberapa orang berpakaian sama masuk dan mengunci pintu masuk.
"Ini perampokan. Jadi kuharap kerja sama kalian atau mati sekarang!"
Tempat itu tak lama menjadi gaduh. Tapi saat beberapa tembakkan ke arah atap. Mereka menjadi diam seketika.
"Kalian cukup bodoh juga ya? Untuk seekor orang kaya. Mah terserahlah. Karena aku berbaik hati sekarang kuanggap itu sebagai peringatan terakhir."
Ucap orang itu di tengah-tengah kerumunan lalu memberikan anggukan ke salah satu anggota.
"Kalian dengar orang itu! Sekarang ikut aku dengan tenang dan jangan sampai membuatku menembak lagi. Karena bukan atap kali ini yang kutembak... kuharap kalian mengerti sisanya"
Para korban-korban itu dengan takut mulai mengikutinya dari belakang. Diikuti dengan 4 orang lainnya yang menjaga dari belakang.
.
Orang-orang serba pakaian Hitam itu berjumlah 10 orang. 7 dilengkapi dengan senjata MP5 disertai surpressor dan red-dot sight. 1 dilengkapi dengan AWM. 1 MP017 tipe shotgun dan tas yang dipenuhi dengan granat. Dan sisa 1 nya yakni pemimpin mereka hanya memakai Desert Eagle dan beberapa flash bang.
Setiap anggota mempunyai peran mereka masing-masing. Pada saat mereka masuk ke dalam restoran berbintang itu. Dengan segera mereka menurunkan tirai-tirai disetiap jendela guna menutup pandangan dari luar.
Semua CCTV yang berada di restoran itu di tembak sebelum membawa para korban/sandera ke suatu ruangan.
5 orang tetap tinggal di ruang utama. Yaitu 4 orang yang bersenjatakan MP5 dan 1 pengguna AWM. 2 orang termasuk pemimpin mereka menjaga para sandera. 3 orang sisa yang mendahului mereka mendobrak disetiap pintu yang terdapat di lorong lalu menggabungkan lebih banyak sandera.
.
"Tak bisa di hubungi lagi"
"Sudah ke 13 kali kau mencobanya Ino-chan.."
Ujar perempuan pink sambil bertongkak dagu melihat teman blondenya. "..kurasa kita akan memulainya tanpa Hinata-chan hari ini.". Sambungnya lagi seraya melirik sekilas pemuda raven yang duduk di kiri tengah layaknya pemimpin. Wajah pemuda itu tertutupi dengan helaian rambut depan sehingga sulit diketahui Sakura.
"Menurutmu kenapa dengan Hinata-chan, Lee?" tanya Kiba kini berada di area sofa tempat nyantai. Dia memilih kabur dari meja makan saat mendengar pelaku penyiksaan perempuan kemarin dulu itu tak terima usulan si pink.
Tampaknya kegiatan ini sangat penting buat si pembuat.
Pemuda bertato taring itu berbaring dan menaikkan kakinya ke atas tangan sofa. "PMS?" tak lama itu tarikkan lalu buangan nafas pelan terdengar.
'bodohnya aku bertanya padanya' batin Kiba sambil bermain-main dengan akamaru yang berada di atas dadanya. 'Hinata tidak datang? Tidak ada kabar? Hmmm..' Akamaru kini diangkat. 'bahkan berbohong pada Neji?... Hal aneh kadang terjadi juga' disaat dia menurunkan Akamaru kembali ke dadanya. Semar-semar suara dari seberang ruang terdengar.
"hm?"
Telinga Kiba ditekan lebih dalam ke arah dinding. Sebelum,
#BRAKKK!
Pintu yang dari ruangan yang mereka tempati tiba-tiba didobrak dengan kuat. Refleks mendapat seluruh perhatian dari semua Anggota OSIS itu.
"Tangan di atas kepala dan jalan ke sudut dinding sekarang!"
1 tembakan dikeluarkan ke arah meja tepat didepan Ino. Menghancurkan beberapa gelas minuman.
"Aku melihat mu bocah! Sekali lagi kau bertindak konyol ku lubangi kepala pacarmu ini!"
Kiba menegang. Dilihatnya tangan kiri Ino. Serpihan-serpihan gelas kaca yang pecah akibat tembakan itu terkena kuat dan merobek kulit putih Ino.
Lama Kiba terpaku menatap sebelum rasa marahnya kian memuncak. Gara-gara dirinya temannya itu terluka. Karena tingkahnya yang gegabah ingin segera menyerang para orang bersenjata itu.
Gara-gara dirinya.
"BRENGSEK!"
"KIBA!"
Tangan pemuda berambut bob dengan cepat memegang pundak Kiba.
Kuat.
Sangat Kuat.
Kiba membalikan wajahnya menatap Lee tajam.
Pemuda bob yang menurutnya kelewat polos dan mungkin sebab itu dia bertingkah konyol sehari-hari.
Baru kali ini Kiba melihatnya.
Ekpresi yang di keluarkan si pemuda bob itu.
Marah.
Bahkan terlihat menyeramkan dibanding dengan dirinya.
Perlahan-lahan dia mulai tenang lalu menatap Sasuke yang mengangkat kedua tangan dengan tenang. Begitu juga dengan Shikamaru dan Chouji. Berbeda dengan Sakura dan Tenten. Kondisi mereka sangat Shock dan ketakutan.
Tak lama itu Kiba menurut dan diikuti Lee.
.
"Sekumpulan anak-anak? Di ruangan VIP?"
Nanti di lanjut…
wew data gue dapat juga, walau memakan waktu 2 hari buat dapatin... gak becus ternyata mereka...
kelanjutannya nanti gue teruskan nanti. soalnya ini cuman make laptop teman gue, dan sudah waktunya untuk memulangkannya.
well, berhubung ini hari ulangtahunnya. gue di panggil... u know lah...
sekian,
Papoi out.
