"Yah! Kok Jungkook ga dibangunin sih?!"
"Ayah juga bangun kesiangan, Jungkook!"
Kedua ayah dan anak itu keluar dari kamar masing-masing dengan langkah tergesa-gesa. Jam dinding udah nunjukkin pukul 06.50. Itu artinya Jungkook cuma punya waktu sepuluh menit buat siap-siap. Ini semua karena tadi malem Jungkook yang keasyikan main game sampe jam setengah satu padahal besoknya adalah hari terakhir libur semester. Libur dua minggunya ga kerasa habis gitu aja. Mana hari pertama masuk sekolah hari senin lagi. Upacara bendera woy!
Sedang si Ayah yang akhir-akhir ini sibuk sama kerjaannya--sampe bawa laporannya kerumah biar bisa di lembur--pun tak luput dari bangun kesiangan. Sungjin juga manusia biasa, bisa capek juga kalo lembur bagai quda.
Berbekal cuci muka--sikat gigi--ganti baju kedua ayah dan anak itu buru-buru pake sepatu, nyomot selembar dua lembar roti lalu bergegas menuju garasi.
"Jungkook buruan!"
Teriak sang Ayah karena anaknya dari tadi masih ngiket tali sepatu diteras. Jungkook yang udah diburu-buru oleh Ayahnya itu akhirnya ngiket tali sepatunya asal-asalan. Dia berdoa aja semoga kakinya ga kesandung nanti.
Jungkook segera masuk ke dalem mobil menyusul si Ayah yang ternyata udah banjir keringetan, antara kecapekan naik-turun tangga atau khawatir dimarahi bos di kantor. Mungkin keduanya.
"Yah, keringetnya tuh di lap dulu. Kek abis jogging aja."
Sungjin yang nyadar mukanya berpeluh itu nyambar selembar tisu lalu di usap keringatnya. Di cek nya lagi jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu sepuluh menit baginya untuk tiba di kantor, asal jalanan tidak macet tentunya. Sungjin melirik Jungkook disebelahnya. Bisa-bisanya si anak malah keliatan santai bermain gadget, padahal Sungjin udah ketar-ketir takut dimarahi bos karena terlambat. Padahal pagi ini Jungkook ada upacara bendera, tapi dia sama sekali ga keliatan takut di hukum.
Sungjin menggeleng-gelengkan kepalanya. Sifat disiplinnya ternyata tidak menurun pada si anak. Lain kali Sungjin akan mengajarkan anak itu ketatnya disiplin!
Sambil menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Sungjin merenungkan sesuatu. Di hatinya terasa ada yang mengganjal tapi dia tidak tahu itu apa.
"Kayak ada yang lupa.. tapi apa ya?" gumam Sungjin.
Jungkook menoleh, ikut berpikir tapi sedetik kemudian dia ga peduli dan lanjut main mobil lejen. Biarlah si Ayah yang berpikir, acuhnya.
Sementara sang Ayah terus saja mengorek-ngorek memorinya tentang hal yang mungkin saja ia lupakan.
Kompor? tadi ga masak.. alat elektronik? udah ku matiin.. tagihan listrik? udah dibayar rabu kemarin. Gajian? masih minggu depan. Lah terus apa ya?
Sungjin mengetuk-ngetuk jarinya di stir mobil sambil terus berpikir. Sampai mata Sungjin menangkap gantungan kunci bentuk doraemon milik pengendara motor yang berada di depannya, barulah ia tersadar. Omoo!!
"Jungkook!!!" teriak Sungjin histeris. Sungjin menatap Jungkook dengan mata yang membola sedang si anak menatapnya dengan sorot kebingungan.
Ttiiiinnn ttiiinnnn
"Apaan sih Yah? Buruan udah diklakson mobil dibelakang tuh!"
Lampu yang berubah menjadi hijau tambah membuat Sungjin panik.
"Kook! Ayah lupa ngunci pintu depan!!!"
"APAAAA?!!"
