Jungkook tahu tapi sengaja menganggapnya enteng. Ulangan matematika pak Edi selalu dadakan, alasannya klise, agar murid selalu belajar jadi siap kapan aja jika ada ulangan. Egois memang, tapi begitulah kebijakan guru berkepala pelontos itu. Ditambah matahari yang bersinar terik membuat kepala Jungkook serasa di godok dalam tungku.

Melihat punggung-punggung yang tengah khusyuk mengerjakan soal sama sekali ga membuat Jungkook mendapat ilham untuk menjawab barang satu soal pun. Tapi Jungkook ga merasa sendirian, para barisan belakang seperti dirinya juga keliatan ga berdaya menghadapi deretan angka rumit itu. Contohnya saja Mingyu, teman seberang kanannya yang terang-terangan membalik kertas dan menumpu pipi di atasnya. Jungkook berani jamin Mingyu bahkan belum ngerjain satu soal pun. Di tambah lembar jawabannya akan terbentuk motif air liur yang meleber disepanjang kertas. Eww!

Waktunya sepuluh menit lagi! Selesai tidak selesai kumpulkan!

Jungkook melirik lagi lembar jawaban miliknya. Koson. Bersih noda. Pulpen yang seharusnya digunakan menulis habis ia gerogoti ujungnya. Jungkook menyerah, otaknya udah panas sejak awal Biarlah ia harus remidi lagi minggu depan atau kemungkinan terburuk pak Edi akan menelpon Ayahnya untuk yang ketiga kali.

Di menit-menit terakhir ketukan pintu dari seorang anak laki-laki mengalihkan perhatian seluruh mata. Jung Jaehyun dari kelas sebelah masuk setelah diizinkan. Dia membisikkan sesuatu pada pak Edi. Raut mukanya keliahatan serius sekali. Jungkook tidak tahu apa-apa saat pak Edi tiba-tiba memanggilnya untuk maju ke depan.

"Jungkook, ayahmu kecelakaan.."

Siang itu Jungkook berlari dengan hati yang kacau. Setelah mendapat izin dari BK (diwakili oleh Jaehyun) Jungkook tergesa-gesa mencari tumpangan. Sebuah taksi berwarna biru langit akhirnya menepi kea rah Jungkook.

"Ke RS XXXX pak!"

Jungkook cemas bukan main. Segala pikiran buruk menghantuinya. Air matanya tumpah ruah tanpa bisa dibendung lagi. Jungkook belum siap jika harus kehilangan orang tua untuk kedua kalinya. Dia merasa belum menjadi anak yang berbakti bagi sang Ayah. Dia belum mampu menunjukkan pada sang Ayah bahwa dia bisa mendapat nilai 75 di mata pelajaran matematika. Jungkook merasa masih banyak hal yang belum ia lakukan untuk Ayahnya.

Im so sick of this fake love, fake love

Hapenya berdering nyaring sekali. Jungkook merogoh sakunya dan menemukan panggilan dari sang Ayah. Tanpa pikir panjang langsung ia angkat.

Takut-takut Jungkook bersuara.

"H-halo?"

Tak ada jawaban selain deru nafas Ayahnya yang terdengar lemas di telinga Jungkook. Air mata Jungkook semakin deras, bibirnya ia gigit kuat-kuat.

"Jungkooghh… bisa temenin akh Ayah engga? Aghyah takut aghh sendirian-"

Bbipp!

Panggilan terputus begitu saja.

"Ayah! Ayah!" seru Jungkook tapi ga ada sahutan lagi dari sana. Pikiran Jungkook semakin kalut setelah mendengar suara Ayahnya. Bagaimana kalau itu menjadi panggilan terakhir dari sang Ayah? Bagaimana kalau itu menjadi terakhir kali Jungkook mendengar suara Ayahnya?

"Pak bisa lebih cepet lagi gaa? Ayah saya lagi sekarat inii.." Rengek Jungkook dengan tangis dan ingusnya yang memeler. Si supir taksi yang ga tega sekaligus merasa kasihan, akhirnya menambah kecepatan mobilnya dengan kecepatan ekstra. Menyalip dengan gesit di antara celah-celah yang bisa dilewati.

Sesampainya di RS Jungkook langsung mencari ruang rawat Ayahnya yang ternyata berada di lantai dua. Jungkook mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa segera menemui sang Ayah. Tak ia pedulikan gerutuan orang-orang yang ga sengaja tabrak bahu dengannya. Pikirannya sekarang hanya satu,yaitu menemui sang Ayah selagi ia bisa. Jungkook ga mau membuang waktunya barang sedetik sebelum ia bertemu Ayahnya.

Hati Jungkook mencelos gitu aja pas ngelihat dari kamar rawat Ayahnya keluar beberapa perawat membawa ranjang seseorang yang ditutup kain putih sepanjang tubuhnya.

"Ayah.."

Jungkook menangis sejadi-jadinya. Tangis pilu yang membuat siapa saja yang mendengarnya merasa iba. Jungkook mengikuti ranjang itu sambil memanggil-manggil Ayahnya.

"Ayah….Ayah.. jangan tinggalin Jungkook yah…"

Jungkook ga nyangka sekarang ia harus kehilangan kedua orang tuanya. Segala kenangan tentang Ayahnya terputar begitu saja di otaknya. Sosok Ayah yang ia sayangi lebih dari apapun didunia ini kini ikut meninggalkannya. Jungkook merasa ini semua bagaikan mimpi, baru saja kemarin ia dan Ayah memancing di kolam, bermain gitar bersama, membuat pan cake di dapur, namun sekarang yang ada hanyalah Ayahnya yang terbujur kaku.

"Jungkook!"

Andai aja Jungkook bisa mendengar suara serak-serak basah itu lagi untuk terakhir kali, Jungkook akan menyimpannya baik-baik dalam memori dan mengingatnya dikala rindu Ayah.

"Jungkook!"

Dan sekarang kewarasannya ikut terenggut karena terlalu merindukan suara lembut itu. Suara itu terdengar lagi memanggilnya.

"Jungkook kamu ngapain nangisin jenazah orang, Nak?"

Tunggu! Tunggu dulu. Itu benar suara Ayahnya kan? Bukan halusinasi apalagi imajinasi kan? Tapi kenapa terdengar nyata? Apa Jungkook sedang bermimpi?

"Jungkook! Denger Ayah ngga sih?!"

Cowok berseragam SMA itu berbalik dan kaget bukan main ketika menemukan Ayahnya sedang menatapnya dengan sekantung cairan infus di tangan. Ayahnya terlihat sehat bugar, bahkan bisa berdiri dengan tegap.

Jungkook mengucek matanya berkali –kali. Di lihat lagi sosok yang tengah tersenyum itu. Berapa kali pun Jungkook mengedipkan matanya sosok mirip Ayahnya itu masih ada.

"Ehh ini anak malah bengong!"

Jungkook menampar pipinya. Betapa bodohnya ia tadi. Dan sekarang Jungkook merasa malu sampai ke ubun-ubun karena orang-orang di sekelilingnya—mayoritas ibu-ibu-tengah menatapnya sambil menahan tawa. Jungkook sadar tingkahnya barusan menjadi hiburan bagi penghuni rumah sakit. Rasanya ia ingin mengubur dirinya dalam-dalam ke pusat bumi bersama jenazah yang tadi.

Argggh malu-maluin banget gue!

"EHH? JUNGKOOK MAU KEMANA KAMU?"

EPILOG

"Sus, beneran ga sakit kan?"

"Iya Pak, ngga bakalan sakit. Rasanya Cuma kayak digigit semut kok"

Sungjin paling benci yang namanya jarum suntik. Walaupun ia selalu mengajarkan Jungkook menjadi anak yang tangguh dan ga takut sama apapun, nyatnya Sungjin hanyalah lelaki biasa. Ia takut sekali pada benda runcing itu. Rasanya seperti darah di tubuhnya akan bocor begitu aja kalau ditusuk jarum. Dan itu udah ketiga kalinya sang perawat meyakinkan Sungjin untuk mau di suntik. Untungnya perawat berpipi tembam itu sabar menghadapi Sungjin.

Demi mendapatkan kekuatan, Sungjin terpikirkan untuk menelpon anaknya, Jungkook.

"Sus, saya nelpon anak saya dulu ya. Biar saya ga takut."

Suster itu mengangguk dengan sabar sambil mempersiapkan peralatan untuk menyuntik. Sungjin menunggu Jungkook mengangkat panggilannya. Matanya berubah parno ketika melihat cairan bening itu muncrat begitu saja dari ujung jarum.

"H-halo?"

Jungkook sudah mengangkat panggilannya, namun perhatian Sungjin teralihkan ketika melihat suster mulai memberinya alkohol di bagian lengannya yang akan di suntik. Seperti menunggu detik-detik malaikat pencabut nyawa, Sungjin belum siap!

"Jungkooghh… bisa temenin akh Ayah engga? Aghyah takut aghh sendirian-"

Jusss

"Arghhhh!"

Sungjin berteriak tatkala merasakan jarum itu menusuk lengannya begitu dalam. Sungjin ga habis pikir suster itu tega menyuntiknya tanpa aba-aba lalu menarik jarumnya tanpa perasaan. Itu adalah suntikan kedua dalam hidupnya setelah suntikan di pantat ketika Sungjin masih sekolah dasar. Dan rasa sakitnya masih sama. Sama-sama menyeramkan!

"Nah, sudah selesai. Ga sakit kan pak?"

Suster itu tersenyum tanpa dosa setelah menempelkan kasa dan perban di bagian lengannya yang di suntik tadi.

Sungjin meringis dan berjanji akan mau lagi mau disuntik seumur hidup!