Drrttt~
Suara getar dari smartphone berhasil membangunkanku dari tidur. Ku lihat Baekhyun tertidur tepat di bawah ranjang ini.
'Godfather'
Nama itu tertera pada layar smartphone ku. Dengan segera aku menerima panggilannya.
"Ada apa?"
"Sekarang?" Ku lirik jam dinding menunjukan pukul 4.00 pagi.
"Baiklah..."
Aku pun beranjak dari ranjang lalu bersiap untuk pergi.
'Aku tidak bisa meninggalkan anak anjing ini begitu saja.'
Tanpa membangunkan Baekhyun, aku menggendongnya menuju mobil. Ya, anak ini harus ikut kemanapun aku pergi.
Skip time
Tiba di basement apartment milik Suho si godfather, aku keluar dari mobil. Ku lihat Baekhyun masih tertidur lelap.
Tak jauh dari mobil, Suho berserta dua bodyguard sudah menungguku.
"Maaf aku sedikit telat."
"Kau sudah mengerti bukan rutenya?" Tanyanya.
"bukan pertama kali aku melakukan ini, jadi jangan meragukanku."
"Aku sudah mengurus tempat inapmu. Jadi kembalilah beberapa hari kemudian setelah mendapatkannya."
"Tempat inap seperti apa?"
"Sebuah villa. Karena akan berbahaya jika kau tinggal di apartment."
"Baiklah aku pergi sekarang."
Suho memberiku sebuah koper yang di dalamnya sudah ku pastikan penuh dengan uang.
Setelah urusanku dengannya selesai, aku kembali ke mobil.
Aku cukup terkejut mendapati Baekhyun yang sudah terbangun di dalam mobil yang ku kunci.
"Aku benar-benar terkejut ketika menyadari aku bukan di markas jelek itu."
"Kenapa kau membawaku? Dan siapa orang tadi? Sepertinya dia orang yang banyak uang." Celotehnya.
Dengan posisiku mengemudi, aku coba untuk menjelaskan semua pikirannya itu.
"Kau harus ikut kemanapun aku pergi. Ingat, kau adalah anak anjingku Bubunie..."
"Ckck jangan memanggilku seperti itu! Menjijikan..."
"Orang tadi adalah godfather."
"Godfather?"
"Dia adalah ketua dari agen mafia. Banyak mafioso sepertiku yang dia kendalikan."
"Kendalikan? Apakah dia selalu memerintah pada kalian mafioso?"
"Kekuasaan sepenuhnya adalah miliknya. Di dunia ini uang adalah unsur dari segalanya. Dengan uang kau bisa berbuat jahat. Dan dengan uang kau bisa berbuat baik."
"Kau tidak pernah tertangkap polisi?"
"Hanya beberapa hari. Karena godfather yang membebaskanku dengan uangnya."
"Hal apa yang sudah kau lakukan?"
"Kenapa kau bertanya seperti wartawan?"
"Apakah aku terlihat seperti wartawan pintar?"
"Diamlah! Dan sebaiknya kau kembali tidur. Perjalanan masih jauh."
"Kita mau kemana? Sepertinya arah jalan ini menuju perdesaan."
"Pekerjaan ini akan butuh waktu kurang lebih 3 hari."
"Kau tidak akan melibatkanku pada masalahmu bukan?"
"Kau sudah terlibat! Ingat, kau sedang ku sandra."
Skip time
Hampir 3 jam kami menghabiskan waktu diperjalanan. Baekhyun pun kembali tertidur setelah berakhirnya perdebatan kami. Aku berhenti sejenak di depan pedagang roti pinggir jalan perdesaan ini. Ya, aku membeli 2 buah roti dan 2 cup kopi.
"Umm..." Gumam Baekhyun terbangun.
"Ini sudah waktunya sarapan. Makanlah rotimu dan ini kopimu." Roti dan kopi yang ku beli ini ku berikan padanya.
"Gomawo..." Balasnya segera menyantap roti itu.
Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah villa cukup besar. Ku lihat Baekhyun terus memperhatikan sekitar dengan roti yang masih ia makan.
"Villa milik siapa ini? Apakah di dalam menyeramkan seperti markasmu?"
"Entahlah! Yang terpenting kita bisa tinggal disini."
Aku melangkah mencari ruang kamar. Dan villa ini memang hanya ada satu kamar. Karena Suho tidak tau kalau aku membawa anak anjing kesini.
"Kamarnya hanya satu?" Tanya Baekhyun.
"Setidaknya ranjang ini lebih besar dari sebelumnya."
"Oh my...haruskah kita tidur sekamar lagi?"
"Kau ingin tidur di luar?"
"Itu lebih baik daripada tidur sekamar denganmu!"
"Kau bisa ku tinggal sekarang?" Tanyaku.
"Wae? Kau ingin pergi lagi? Bahkan kita baru saja tiba."
"Bekerja lebih cepat akan lebih baik. Ingat jangan lepaskan kalung itu dari lehermu!"
"Semua fasilitas ada disini lengkap. Kau bisa gunakan. Jika bosan lakukan kegiatan yang tidak membuatmu bosan."
"Kunci pintu dan jendela. Jangan keluar dari villa hingga aku kembali."
Gadis ini hanya mengangguk terdiam.
"Baiklah Bubunie, aku pergi sekarang..." Ucapku mengacak puncak rambutnya.
Walau aku sedikit ragu meninggalkan dia seorang diri tapi melihat tempat villa itu aman, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa dengannya.
Sebelum siang, aku harus menemui seseorang yang tak jauh dari villa. Kali ini aku tidak mengenakan pakaian serba hitam, namun pakaian santai seperti anak remaja pada umumnya. Kacamata bulat, hoodie, topi, dan sneaker. Karena jika aku mengenakan serba hitam di perdesaan seperti ini akan membuat warga curiga.
Sebuah rumah atau lebih tepatnya seperti gudang ku masuki. Pertama masuk aku disambut beberapa bodyguard berbadan besar. Ku tunjukan identitasku pada mereka yang sempat melarangku masuk. Setelah mengetahui identitasku, mereka mempersilahkanku masuk dalam untuk menemui boss mereka.
"Kau terlihat seperti anak remaja yang lugu Park Chanyeol..."
Entah itu pujian atau sindiran untuk Chanyeo dari sosok pria yang duduk dengan beberapa bodyguard yang berdiri disampingnya.
"Aku selalu pintar dalam hal penyamaran Wu Yifan..." balasku menyeringai.
"Kau sudah bawa uangnya?" Tanyanya.
"Suho sudah memenuhi koper ini dengan uangnya." Aku segera memberi koper yang ku bawa ini.
Wu Yifan boss bandar narkoba yang terkenal hingga ke agen international, langsung membuka koper yang penuh dengan uang itu.
"Kau kesini tidak sendiri bukan? Kau membawa seorang gadis cantik di villa." Tebaknya membuatku sedikit terkejut.
"Villa itu adalah milikku. Dan ada beberapa cctv disana. Siapa gadis itu? Kenapa kau tidak membawanya juga kesini?"
'Shit! Mau apa orang ini?'
"Karena ini hanya urusan kita. Dia tidak perlu ikut."
"Gadis secantik dia sayang untuk di sia-siakan. Kau akan mendapatkan uang lebih jika menjualnya."
"Banyak orang asing disana yang membutuhkan gadis cantik seperti dia. Aku yakin harganya akan tinggi."
"Kau membicarakan yang bukan urusan kita Wu Yifan!"
"Sekarang jadi urusan kita. Uang yang di kirim Suho tidak cukup untuk menebus barang-barangku."
"Akan ku beri barang-barangku, jika kau memberi gadis itu padaku."
"Bagaimana jika aku menolaknya?"
"Gadis itu akan ku ambil darimu sekarang juga. Kau salah meninggalkannya seorang diri disana."
"Keparat! Jangan sentuh dia!!"
"Dia gadismu? Aku tidak percaya kalau dia adalah gadismu."
"Aku akan lakukan apapun asalkan jangan berani kalian menyentuhnya!"
"Ok, kalau begitu ku beri kau pilihan mudah. Nasibnya akan ada di tanganmu."
Ingin sekali ku robek mulutnya itu.
'Jangan keluar dari villa Baek!' Batinku.
TBC~
