Ku buka kedua mataku yang masih terasa berat ini. Sebuah lengan mendekapku dengan hangat. Ya, Baekhyun tertidur mendekapku dan wajahnya terbenam di dadaku.
Perlahan aku melepaskan diri darinya. Tubuhnya ku tutup dengan selimut tebal ini. Semua pakaian masih berserakan dimana mana. Dengan segera aku merapihkan semuanya beserta meja dan kursi itu. Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi. Aku pun bersiap-siap untuk menyelesaikan semuanya hari ini.
Selesai mandi, aku segera memuat file dalam bentuk CD untuk ku serahkan pada Yifan.
Baekhyun masih tertidur lelap. Sepertinya anak itu benar-benar lelah dengan kejadian semalam. Terpaksa aku harus meninggalkannya tanpa membangunnya.
Skip time
Aku kembali pada gudang tempat pertemuanku dan Yifan. Kedua mataku menatap tajam manusia yang duduk santai di hadapanku ini.
"Bagaimana malammu?" Sindirnya.
Ku leparkan CD ini padanya yang dengan sigap menangkapnya.
"Serahkan semua barang itu! Aku alergi berlama-lama di tempat ini." Ucapku yang dibalas seringai darinya.
"Pantas saja kau anak emas Suho. Kerjamu sangat bagus dan memuaskan Park Chanyeol."
"Masukan barang-barang itu kedalam mobilnya!" Perintahnya pada para bodyguard yang langsung menjalankan tugas.
"Kau yakin ingin langsung pergi? Aku bisa mengajakmu bersenang-senang sejenak. Anggap saja bonus untukmu."
Byun Baekhyun POV
"Ummm~" Lenguhku merenggangkan ototku yang terasa kaku.
Ku lihat jam sudah menunjukan pukul 02.00 siang.
"Omo...selama itukah aku tidur?"
Saat aku ingin beranjak dari tidur, aku merasakan nyeri dibawah sana. Dan ku dapati diriku yang terbungkus selimut dalam keadaan naked.
"A-apa yang terjadi semalam?"
"Yak! Park Chanyeol..." Pekikku.
Tidak ada respon apapun dari ruangan ini.
Sepi.
Aku pun segera menuju kamar mandi.
Ketika bercermin terlihat jelas wajahku yang tak berbentuk. Rambut acak-acakan, dan bibir yang membengkak. Juga leher dan beberapa bagian tubuhku terdapat bekas kemerahan.
"Apa yang dia lakukan lagi padaku?!"
"Lihat saja akan ku patahkan tulangnya jika dia pulang nanti!"
Selesai mandi, aku mencari makanan pada kulkas. Ku dapati sebuah roti. Mau tak mau aku harus memakan roti itu karena perutku sangat lapar.
Sekilas bayangan yang terjadi semalam melintas di pikiranku. Ciuman itu, sentuhan itu, desahan, dan percumbuan itu membuat selera makanku hilang.
"Arrgg...EOMMA!!"
Knock knock~
Suara ketukan pintu membuatku langsung tertuju pada suara itu. Ya, pasti itu adalah si monster itu. Dengan segera aku berjalan menuju pintu. Ingin sekali berlari, tapi kenyataannya aku berjalan seperti pinguin. Ini benar-benar membuatku sakit dan perih hingga sulit untuk berjalan.
"Yak Park--"
Baru saja aku menggertak, namun mulutku terbungkam saat mendapati sosok namja lain. Bukan Park Chanyeol.
Kali ini seorang tamu yang datang. Seorang namja berkacamata berdiri di hadapanku.
'Bukankah dia namja yang menolongku?' Pikirku.
"Gwaenchana?" Tanyanya menyadarkanku dari lamunan.
"Ah gwaenchana!" Kekehku.
"Mmm...bukankah kau namja yang menolongku saat itu? Kau ingat? Aku gadis yang kau tolong di billiard bar lalu." Tanyaku.
"Tentu saja aku ingat."
"Gamsahamnida! Maaf kalau telat mengucapkannya. Karena aku pergi begitu saja."
"Kenapa kau bisa disini?" Tanyaku kembali.
"Aku...sedang berliburan di desa ini. Tadi tak sengaja aku mendengar suara teriakan dari dalam villa ini. Ku pikir villa ini kosong."
"Teriakan tadi hanya pelampiasan emosiku saja."
"Kau sedang sakit?" Tanyanya memperhatikanku.
"Ye?"
"Lehermu ada tanda kemerahan. Apa kau sedang alergi?"
"Mwo? Ahh...nde! Aku sedang alergi. Karena udara disini sangat dingin." Kekehku menutupi leherku dengan tangan.
"Kau sendiri?" Tanyanya kembali.
"Ani! Aku tinggal dengan..."
Aku berpikir sejenak.
"Aku tinggal dengan temanku!"
Tak sengaja aku melihat mobil Chanyeol dari kejauhan. Seketika aku panik.
"Omo...aku sedang memasak air. Lain kali kita mengobrol lagi nde..." Aku segera menutup pintu.
Dari dalam aku mengintip namja itu yang masih berdiri di depan pintu.
"Cepatlah pergi jebal..." harapku masih memantau mobil Chanyeol yang semakin dekat.
Beruntung, sebelum mobil Chanyeol tiba namja itu sudah melangkah pergi.
Aku kembali melangkah menuju pintu bersiap untuk memberi pelajaran pada Chanyeol.
Krek~
Bugh!
Dengan sangat terkejut aku mendapati tubuh Chanyeol yang terjatuh dihadapanku. Dengan sekuat tenaga, aku menahan tubuh besar ini agar tidak tumbang.
"Gwaenchanayo? Apa yang terjadi?" Tanyaku panik melihat wajah Chanyeol yang babak belur. Banyak goresan luka dan darah pada wajah dan tangannya.
Ku rangkul Chanyeol menuju sofa di ruang tengah. Dengan susah payah aku merangkulnya karena keadaanku yang masih merasakan sakit.
Tubuhnya ku baringkan di sofa. Kedua matanya terus terpejam dengan nafas terengah-engah.
"Kau masih hidup bukan? Apa yang terjadi padamu? Kau darimana? Kenapa tidak membangunkanku?"
Tak ada balasan darinya.
"Aigoo...eoteokhae?" Panikku.
Aku mencari obat di sekitar villa ini. Tidak ada satupun yang ku temukan. Jalan pertama ku adalah mengompresnya terlebih dahulu. Ku bersihkan darah pada kening, hidung, pipi, dagu, dan bibirnya.
"Sshh..." Rintihnya.
"Tahan!"
Dia terdiam tepat saat aku menggertaknya.
"Bisakah aku keluar? Aku ingin membelikan obat untukmu."
"Andwae! Sudah ku katakan jangan keluar dari villa ini."
"Tapi bagaimana dengan lukamu?"
"Ini sudah biasa. Aku bisa menahannya."
"Kenapa kau keras kepala?!"
"Diluar sana bahaya untukmu!"
Heol. Bahkan dirinya jauh lebih berbahaya untukku.
"Apa yang terjadi padamu hingga seperti ini?"
"Tidak perlu tau urusanku."
"Aisshh...ya sudah terserah padamu saja! Pingsan saja kalau begitu! Aku tidak perduli!!" Kesalku melempar handuk kecil ini padanya lalu masuk ke dalam kamar.
TBC~
