Author POV

Chanyeol bangun dari tidurnya. Tubuhnya masih terasa kaku karena perkelahian siang tadi. Jam menunjukkan pukul 10.00 malam. Namja ini memutuskan untuk segera kembali ke Seoul. Semua barang-barang ia masukan ke mobil.

"Keluarlah!" Pinta Chanyeol di depan pintu kamar.

Baekhyun tidak keluar kamar setelah perdebatan sore tadi.

"Kau mau aku tinggal disini sendirian? Baiklah jika kau nyaman di tempat ini." Lanjut Chanyeol lalu melangkahkan kakinya menjauh dari pintu itu.

Krek~

"Yak! Jangan tinggalkan aku!" Baekhyun keluar dari kamar dan menahan tangan Chanyeol.

"Ku pikir kau masih ingin tinggal disini. Kkaja..."

Chanyeol kembali melangkah terlebih dahulu. Gadis ini pun ikut melangkah di belakangnya.

"Kita akan pulang?" Tanya Baekhyun ketika mereka sudah berada di mobil.

"Urusanku disini sudah selesai. Sebaiknya malam ini juga kita kembali ke Seoul."

"Kau mengemudi dengan keadaan tubuhmu seperti ini? Apakah sudah baikan?"

"Wae? Bukankah kau sedang marah padaku? Kau masih mengkhawatirkan ku?" Goda Chanyeol.

"..." Baekhyun langsung terbungkam menghadap arah jalan.

Ketika dipertengahan jalan yang sepi sebuah mobil sedan menghalangi jalan mereka. Bisa dilihat beberapa bodyguard keluar dari mobil itu.

"Shit! Mau apa mereka?!" Chanyeol menatap tajam orang-orang bertubuh besar itu.

"S-siapa mereka?" Panik Baekhyun.

"Jangan keluar dari mobil. Akan ku urus mereka." Ujar Chanyeol kemudian keluar dari mobil.

Tatapan Chanyeol sangat mematikan melihat para bodyguard yang menghalangi jalannya.

"Kalian diperintahkan tuan iblis itu bukan? Berani sekali kalian menghalangi jalanku?! Minggir atau ku habisi kalian semua!" Gertak Chanyeol.

Sebuah tendangan dan tinjuan keras dari Chanyeol telah menyerang beberapa bodyguard itu. Sekitar 10 orang bodyguard membalas serangan Chanyeol.

Baekhyun yang berada di dalam mobil menjadi panik dan ketakutan dengan keadaan ini. Ia melihat sebuah perkelahian antar satu berbanding sepuluh. Kedua mata sipitnya membulat ketika melihat para bodyguard itu menyerang Chanyeol dengan senjata tajam.

Tidak ada senjata yang Chanyeol bawa. Ia melakukan perkelahian dengan tangan kosong. Pisau itu terus mengarah padanya.

"Omo...eoteokhae? Chanyeol tidak bisa melawan mereka sebanyak itu. Lagi pula kondisinya pun sedang buruk. Ayolah Baek...berpikir!"

Baekhyun mencari cara di dalam mobil. Gadis ini mencari suatu benda yang bisa dijadikan penyerangan. Tidak ada satupun yang dia dapatkan di dalam mobil ini.

Dengan keberaniannya, dia keluar dari mobil lalu membuat beberapa bola salju sebagai penyerangan bodyguard itu.

"Ini adalah jalan terakhir. Ku harap ini bisa mengalihkan penyerangan mereka." Gumam Baekhyun.

Selesai beberapa bola salju terbentuk, gadis itu langsung melemparkannya dengan cepat tepat di wajah para bodyguard itu.

"Yak! Berhenti menyerangnya! Kemarilah aku banyak bola salju untuk menyerang kalian!" Gertak Baekhyun dengan wajah angkuhnya walau dalam hati dia sangatlah ketakutan.

'Gadis bodoh! Kenapa dia keluar?' Batin Chanyeol.

Karena para bodyguard teralihkan, Chanyeol langsung merampas pisau dari tangan bodyguard itu. Dia pun kembali menyerang.

Perkelahian kembali terjadi. Namun tanpa Chanyeol sadari, Yifan keluar dari mobil dan menangkap Baekhyun dengan paksaan.

"Yak lepaskan!" Berontak Baekhyun saat dirinya di paksa masuk ke dalam mobil Yifan.

"PARK CHANYEOL!!" Pekik Baekhyun membuat Chanyeol menoleh.

Namja itu melihat Baekhyun yang di paksa masuk ke dalam mobil oleh Yifan. Dengan emosi yang meningkat, Chanyeol menyerang bodyguard itu tanpa ampun. Bahkan tak segan untuk membunuh semua bodyguard itu dengan pisau yang di pegangnya.

Melihat lawannya sudah tak berdaya, Chanyeol beralih pada mobil Yifan yang sudah melintasi jalan. Dengan cepat Chanyeol mengejar mobil itu dengan mobilnya.

Tak perdulikan seberapa cepat dia mengemudi yang terpenting adalah dia bisa menyusul mobil Yifan.

"Ku habisi kau malam ini Wu Yifan!!" Chanyeol semakin menginjak gas dengan cepat. Beruntung jalan ini sangat sepi.

Brukk!

Chanyeol banting stir ke arah mobil Yifan yang sudah berada di sampingnya. Alhasil mobil yang di kemudi Yifan menabrak pohon. Dengan cepat Chanyeol keluar dari mobilnya dan menghampiri Yifan.

Pintu mobil di buka kasar lalu menarik Yifan dan menyeretnya ke jalanan.

Bugh!

Sebuah pukulan menghantam wajah Yifan juga tendangan kuat dari kaki panjang Chanyeol.

Baekhyun keluar dari mobil dengan keningnya yang berdarah akibat benturan saat mobil menabrak pohon itu. Gadis ini melihat perkelahian hebat antara dua namja itu. Keduanya bersenjata pisau.

Yifan membalas penyerangan hingga tubuh Chanyeol terjatuh begitu pun pisau yang ditangannya terlepas.

Kedua mata Baekhyun membulat sempurna saat Yifan melayangkan pisau itu kearah Chanyeol.

Bugh!

Kaki Chanyeol mendorong Yifan hingga membuat tubuh sang lawan terjatuh. Dengan cepat dia mengambil pisaunya lalu tanpa membuang waktu, benda tajam itu diarahkan tepat di jantung Yifan. Pisau berhasil menusuk dalam tubuh itu.

"Lawan sepertimu bukan apa-apa untukku. Kau hanya mengendalikan bodyguard itu. Enyahlah kau pecundang Wu Yifan!" Gertak Chanyeol penuh penekanan dengan tatapan tajam dan semakin menusuk benda tajam itu di jantung Yifan.

Chanyeol mencabut pisau itu lalu menjauhkan dirinya dari Yifan yang sudah tak berdaya.

Namja ini melihat Baekhyun yang terdiam dekat mobil. Ia pun mendekati gadis itu.

Baekhyun sedikit melangkah mundur menjaga jarak pada Chanyeol yang masih memegang pisau penuh darah itu.

Dengan segera namja ini membuang pisau tersebut.

"Gwaechana? Kau terbentur?" Tanya Chanyeol mencoba meraih Baekhyun namun gadis itu menolaknya dan tetap menjaga jarak darinya.

Chanyeol mengerti perasaan Baekhyun saat ini.

Ya, gadis itu sangat shock dengan apa yang dia lihat tadi. Ini adalah pertama kalinya dia melihat secara langsung seseorang yang dibunuh.

"Ayo pergi dari tempat ini sebelum ada yang melihat!" Chanyeol menarik paksa Baekhyun masuk ke dalam mobil.

Tanpa kesadaran mereka, seseorang menjadi saksi dengan perkelahian dan pembunuhan itu.

Sepanjang jalan, Baekhyun terdiam membisu tanpa bicara sepatah katapun.

Namun sesekali matanya melirik luka pada tangan Chanyeol akibat goresan dari pisau saat namja itu di serang lawannya.

"Kenapa kau keluar mobil? Sudah ku katakan kau akan celaka!" Timpal Chanyeol.

"Aku menyelamatkanmu dari orang-orang itu!"

"Kau membuat celaka pada dirimu! Sudah ku bilang, abaikan apapun yang terpenting dirimu aman."

"Lalu bagaimana dengan dirimu? Kau lebih celaka dariku! Kau tidak mengabaikanku. Kau menyelamatkan dari orang yang bahkan kau bunuh! Kau membunuh seseorang karena ku! Dan aku sangat merasa bersalah."

"Untuk apa kau menyalahkan dirimu? Aku yang membunuhnya bukan kau. Dan itu sudah biasa ku lakukan."

"Kau membunuh orang tidak pernah merasa bersalah?!"

"Hidup hanyalah jalan yang penuh dengan pilihan dan usaha."

"Aku menjalankan kehidupan dengan seperti ini adalah pilihanku. Usahaku menjalankan hidup memang seperti ini." Ucap Chanyeol.

"Kau adalah sandraanku. Jika orang itu mengambilmu dariku untuk di jual keluar negeri, aku akan gagal dalam misiku untuk mendapatkan berkas itu dari agen kepolisian."

"Mwo? Aku akan di jual?"

"Mereka masih berusaha keras untuk menjualmu walaupun aku sudah mencoba penolakan dengan berbagai cara."

"Luka yang kau dapat ketika pulang tadi, apakah karena mereka?"

"Itu karena aku sudah muak dan menyerang Yifan. Karena keadaanku mabuk, aku kalah dalam perlawanan."

Baekhyun hanya terdiam mendengar penjelasan dari Chanyeol.

"Saat aku pergi, apakah ada yang datang? Ku lihat dari cctv di kalungmu itu ada seorang pria yang datang."

"Kau melihatnya?"

"Wajahnya tidak terlihat. Hanya jaket hitam."

"Dia bukan penjahat. Dia orang yang menyelamatkan ku saat itu."

"Kenapa dia bisa di villa?"

"Hanya sebuah kebetulan. Karena dia sedang liburan."

'Aku yakin dia pasti mata-mata!' Batin Chanyeol.

"Bisakah kita ke apotek? Lukamu harus segera di obati dan juga luka ku ini." Pinta Baekhyun.

Chanyeol pun berhenti tepat di sebuah apotek yang buka 24 jam. Namja itu hanya menunggu di dalam mobil.

"Jangan jalankan mobil, obati dulu lukanya." Ujar Baekhyun ketika kembali masuk ke dalam mobil dengan berbagai obat yang dia beli.

Sudah kesekian kali gadis ini membersihkan luka Chanyeol. Ia membersihkan darah itu dengan obat cairan antiseptik. Sesekali di tiup pelan luka itu untuk menghilangkan perihnya. Chanyeol menahan perih namun terdiam melihat Baekhyun yang dengan teliti mengobatinya.

Perban itu sudah merekat pada tangan Chanyeol. Sedangkan Baekhyun hanya merekatkan plester pada keningnya yang terluka.

"Apakah aku masih bisa untuk protes?" Pikir Baekhyun.

"Wae?"

"Apa yang terjadi malam itu antara kita? Saat aku terbangun, tubuhku hanya terbungkus selimut. Kau..." Baekhyun menatap penuh selidik kearah Chanyeol. Bahkan menatap lekat namja itu.

"Ya aku melakukannya lagi!"

"Mwo-ya?!"

"Itu salah satu menolak permintaan Yifan."

"Kenapa dengan cara seperti itu?!"

"Karena aku menolak dirimu untuk di jual, dia membuat pilihan dan memintaku untuk melakukan sex denganmu."

"Jika tidak, dia tidak akan memberi barang pesanan Suho dan kau tetap tidak aman darinya."

"Aku sengaja membuatmu mabuk agar kau tidak menolakku. Kau tidak ingat sama sekali?"

"Diam! Aku tidak mau bicara denganmu lagi!!" Gertak Baekhyun mengalihkan pandangannya.

TBC~