Aku dan Baekhyun berhasil kembali ke markas. Semua barang ku biarkan di dalam mobil karena akan ku antar segera barang-barang itu ke Suho.
Wajah Baekhyun masih terlihat kesal dan tak mau bicara denganku. Jika seperti ini aku akan membiarkannya karena pada akhirnya dia yang menyerah.
"Oh my...seharusnya aku minta penyelamatan pada namja yang datang ke villa itu!"
"Bahkan itu adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri ketika monster ini pergi!" Celotehnya.
Aku menatapnya tajam. Melangkah mendekatinya. Gadis ini melangkah mundur hingga dirinya berhasil ku kunci pada dinding.
"Jangan berani melarikan diri dariku!"
"Kau adalah anak anjing milikku. Tidak ada satupun yang bisa mengambilmu dari tanganku!" Acamku penuh penekanan.
"Kau! Selalu memandangku sebagai anak anjing. Di matamu aku seperti anak anjing."
"Apakah karena itu kau dengan seenaknya memperlakukanku seperti binatang?! Kau melakukan sex denganku dan merusak segalanya!"
"Aku bukan seekor anak anjing! Aku manusia. Aku hanya seorang gadis malang yang telah di rusak oleh Park Chanyeol!" Gertaknya membalasku dengan tatapan tajam dan berkaca-kaca.
Aku terdiam memandangnya yang mengeluarkan kemarahannya.
"Bukankah kau sudah terbiasa membunuh orang? Kenapa kau tidak membunuhku saja?! Haruskah aku membuat kesalahan agar kau bisa membunuhku?"
Dia melangkah menuju dapur dan kembali dengan sebuah pisau yang dipegangnya erat.
"Lakukan seperti kau lakukan kepada namja yang kau bunuh itu." Pintanya memberiku pisau ini pada genggaman tanganku.
"Kenapa kau memintaku untuk membunuhmu?"
"Karena hidupku sudah tak berguna lagi. Untuk apa aku hidup jika harus seperti ini?"
Aku tidak tau harus berbuat apa di hadapan gadis ini.
"Jangan diam saja! Cepat..!"
Entah apa yang ada di pikirannya hingga emosinya tak terkendali. Gadis ini memaksaku untuk mengarahkan pisau itu padanya. Tanganku terus di tarik. Aku mencoba menolaknya dengan menahan tarikannya.
"Diamlah Baek!" Gertakku membanting pisau itu ke lantai lalu mencengkram bahunya.
Tangisnya pecah begitu saja. Wajahnya terlihat sangat menyedihkan. Tangannya menepis tanganku dari bahunya lalu berdiri membelakangiku.
Aku hanya terdiam melihatnya terisak dengan tubuhnya yang terlihat bergetar dari belakang.
Tanganku terangkat dan ingin meraih bahu kecil itu, namun tanganku tergantung di udara karena ragu untuk menyentuhnya lagi.
"Tenangkan pikiranmu. Aku akan kembali lagi." Ucapku dengan nada rendah lalu melangkah pergi.
Skip time
Aku pergi meninggalkan Baekhyun di markas. Dengan segera aku menuju ke apartment Suho untuk memberi semua barang ini.
Tiba di basement, aku menunggu beberapa menit hingga Suho datang dengan dua orang bodyguard.
"Kau tidak tau kalau villa itu adalah milik Yifan?" Tanyaku.
"Aku sudah tau karena dia yang mengusulkan tempat itu." Jawab Suho.
"Kenapa kau tidak bilang padaku? Kau tau? Bajingan itu mempermainkanku."
"Ada apa dengannya?"
"Dia meminta yang tidak seharusnya menjadi masalah untukku."
"Apa yang dia pinta?"
"Dia ingin mengambil anak anjing sandraanku untuk di jual ke luar negeri. Dia bilang uangmu tidak cukup untuk semua narkoba itu."
"Kau membawa anak anjingmu kesana? Tunggu, aku penasaran dengan maksud anak anjingmu itu."
"Dia tidak sungguh seekor anak anjing bukan?" Tanyanya.
"Tentu saja bukan. Dia seorang gadis."
"Jadi sandraanmu adalah seorang gadis? Omo...pantas saja bandar narkoba itu berusaha keras mengambilnya."
"Bagaimana dengan agen polisi itu?" Tanyanya kembali.
"Tenanglah. Mereka pasti masih berpikir karena yang mereka hadapi mafioso sepertiku."
"Lalu apa yang terjadi hingga membuatmu luka seperti ini?"
"Aku membunuh bajingan itu."
"Yifan tewas?"
"Kau bisa cari bandar narkoba lain yang lebih pintar darinya. Semua barang ada di dalam mobil."
Dua bodyguard ini segera mengambil semua barang di dalam mobilku.
"Sebagai permintaan terima kasihku karena kerja kerasmu, akan ku kabulkan 2 permintaanmu. Katakanlah.."
"..." aku berpikir sejenak.
"Liburan dengan anak anjing itu. Siapkan semuanya untuk kami." Pintaku.
"Mau kemana?"
"Ke Bali Indonesia."
"Hanya itu?"
"Yang terlintas di otakku hanya itu. Lagi pula aku butuh istirahat beberapa hari. Tubuhku benar-benar kaku."
"Baiklah liburanlah selama 5 hari disana. Akan ku siapkan semuanya."
Byun Baekhyun POV
Kedua mataku sembab karena terus menangis. Tak sengaja aku melihat sebuah flashdisk diatas meja.
Karena penasaran, aku mencoba untuk melihat file yang terdapat pada flashdisk itu. Aku mencari sesuatu yang bisa memperlihatkan isi flashdisk ini.
Sebuah tv terdapat tempat untuk menyambungkan flashdisk ini. Dengan segera aku menyambungkannya.
Damn!
Aku cukup terkejut ketika mendapati sebuah video pornografi yang diputar. Bukan karena video itu, tapi orang yang melakukan pornografi tersebut.
Dapat ku lihat dengan jelas kalau itu adalah diriku bersama Chanyeol.
Melihat ini semua membuatku merinding dan berdebar hebat.
Bagaimana tidak? Video ini dengan jelas memperlihatkan aktifitas kami di ranjang yang sangat hebat. Bahkan diriku sendiri seperti menikmatinya.
"Oh my...bagaimana bisa aku tidak menolaknya? Dan memanjakannya!" Gerutuku menepuk bibirku ketika meliht adegan saat aku mengulum kepemilikan Chanyeol.
"Kenapa dia merekam ini semua?!"
Krek~
Mendengar suara pintu terbuka, aku segera mematikan tv dan meletakkan flashdisk itu pada tempat awal.
"Kau sudah membaik?" Tanyanya.
Bibirku masih terbungkam bahkan belum nafsu untuk menatapnya.
"Baiklah jika kau masih marah padaku. Cepat tidur..."
"Aku tidur di bawah saja." Balasku.
"Terserah padamu saja." Chanyeol naik ke atas tempat tidur.
Namja itu membaringkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya. Tangannya masih terbalut perban dan wajahnya yang terdapat beberapa plester.
Perkelahian itu sekilas terbayang olehku. Chanyeol yang sangat pintar bela diri melumpuhkan lawannya. Kemarahannya pada namja yang menculikku hingga membunuhnya.
'Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya.'
'Dia terlihat seperti monster, tapi terkadang sikapnya hangat walau tidak begitu dia tunjukkan.'
Namja ini tidur membuat sisa ruangan diatas sana. Dengan ragu aku naik keatas tempat tidur dengan perlahan tanpa membuat suara sedikit pun.
Ku baringkan tubuhku membelakanginya.
Deg~
Sebuah tangan kekar yang di perban mendekap pinggangku. Bahkan ku rasakan hembusan nafas hangat pada tengkukku.
"Mianhae..." Bisiknya.
Untuk pertama kali aku mendengar kalimat itu yang keluar dari seorang Park Chanyeol.
Tidak ada kalimat lanjutan darinya.
Hening.
Dan bisa ku dengar dengkuran halus darinya yang masih mendekapku dari belakang.
TBC~
