Byun Baekhyun POV

Hari ini aku meminta Chanyeol untuk mengunjungi tempat air terjun. Karena nama itu menyerahkan semua tempat wisata disini, aku pun menentukan tempat untuk berkunjung dengan meminta rekomendasi dari pelayan resort ini.

Aku sudah siap untuk ke tempat tujuan dengan beberapa barang yang ku bawa di dalam tas.

Skip time

Tiba di air terjun, aku membuka jaket lalu mengenakan kaos putih yang sudah ku kenakan sebelumnya di dalam jaket. Celana pendek dan melepaskan alas kaki. Ya, tentu saja aku ingin menikmati air yang terlihat segar itu.

"Kau tidak mau bermain air?" Tanyaku pada Chanyeol.

"Tanganku masih terdapat perban."

"Jadi aku main air sendiri?"

"Nikmatilah liburanmu. Karena besok belum tentu kau seperti ini."

"Baiklah! Aku ingin bertapa di bawah air terjun itu."

Dengan semangat aku berlari kecil mendekati air terjun. Terdapat beberapa orang yang juga menikmati air segar ini.

"Omo...sudah lama sekali aku tidak merasakan air terjun." Seruku berdiri tepat di bawah air terjun.

Ku lihat Chanyeol masih berdiri di sebrang sana memperhatikanku. Dengan bertingkah konyol, aku bergaya sexy seperti sedang melakukan shower. Bahkan aku melakukan beberapa gaya seperti iklan tv yang ku lihat.

Lelah bergaya, aku melakukan posisi bertapa membuat Chanyeol menggelengkan kepalanya. Aku tak peduli itu. Yang terpenting adalah aku menikmati air terjun ini.

"Arrggh!"

Aku dapat mendengar seseorang merintih kesakitan. Pandanganku menangkap seorang namja memegangi kakinya yang berdarah.

Ku tajamkan penglihatanku pada namja itu.

"Bukankah itu namja yang menolongku?" Pikirku.

Kemudian aku mendekatinya dan memastikan kalau tebakanku benar.

"Omo...kita bertemu lagi! Kau namja yang menolongku dan bertemu pada saat di villa bukan?" Tanyaku.

"Ah ne! Kita bertemu lagi dan kau masih mengingatku."

"Walau kau tidak berkacamata, tapi aku tetap mengenali wajahmu. Bagaimana aku melupakan orang yang telah menolongku." Kekehku.

"Kau sendiri?" Tanyanya.

"Ani! Aku dengan namja yang ada di sebrang sana." Jawabku menunjuk Chanyeol.

"Oh my...hampir lupa! Kakimu berdarah..."

"Sepertinya kakiku terkena batu krikil di dalam air ini."

"Ayo ikut aku! Akan ku obati kakimu. Anggap saja sebagai balas budiku."

Aku menarik tangannya melangkah ke tepi air. Tiba di tepi, aku segera mengambil tasku. Tanganku masih memegang tangan namja ini.

"Ah beruntung aku membawa obat luka dan plester." Tanganku mengeluarkan sebuah plester dan obat.

Aku bersimpuh di hadapan namja ini untuk segera mengobati kakinya.

"Biar aku saja yang mengobatinya." Ucapnya yang tiba-tiba duduk di hadapanku dan menahan tanganku.

"Gwaenchana! Sekarang aku sudah terbiasa mengobati orang sejak bersamanya." Balasku melirik Chanyeol yang masih terdiam.

Namja ini pun terdiam selama aku mengobati kakinya.

"Siapa namamu?" Tanyaku.

"Panggil saja Sehun."

"Ok ini sudah selesai Sehun-ah! Sekarang balas budiku terbayarkan." Seruku tersenyum lebar padanya.

"Gamsahamnida!" Balasnya tersenyum membuat kedua matanya berbentuk sabit.

Tak lama kemudian Chanyeol mendekatiku.

"Kau sudah puas bukan bermain airnya? Ayo kita kembali!" Perintahnya meraih tanganku dengan sedikit kasar.

"Jangan menarikku seperti ini!" Protesku.

"Bajumu tipis. Bermain air lama-lama bisa membuatmu sakit!" Balasnya masih menarikku kuat.

"Jangan kasar pada wanita!" Timpal Sehun menahan tangan Chanyeol.

"Lepaskan tanganmu dariku!" Pinta Chanyeol dengan penuh penekanan.

"Lepaskan tangannya dari tanganmu. Kau bisa menyakitinya." Balas Sehun.

Ku lihat keduanya saling menatap tajam dan mematikan.

"Ini bukan urusanmu! Dia hanya membalas budi padamu."

"Kau tidak boleh bersikap kepada wanita dengan kasar!"

Genggaman Chanyeol terlepas begitu saja dari tanganku. Namun tangan itu beralih pada kerah baju Sehun yang ia tarik dengan satu tangannya.

"Tangan satuku masih berfungsi dengan baik untuk menghabisi orang. Jangan membuatku untuk melakukannya!" Ancam Chanyeol.

"Hentikan! Ini tempat wisata jangan hancurkan suasana disini! Baiklah ayo kita kembali." Timpalku menjadi penengah mereka.

Chanyeol melepaskan tangannya dari Sehun ketika aku yang menarik tangannya.

"Mianhae Sehun-ah! Kami ingin kembali ke penginapan. Annyeong..." Ucapku pada Sehun yang menatapku terdiam.

Sehun POV

Jongdae hyung dan Minseok nuna memintaku untuk datang ke restoran dekat pantai.

"Kami sudah menghubungi kantor tentang nama gadis itu." Ucap Minseok nuna.

"Nama dan ciri-ciri gadis itu sama seperti seorang ibu yang melaporkan anaknya hilang selama beberapa hari ini." Lanjut Jongdae hyung.

"Lalu apa saja yang kalian laporkan pada mereka?" Tanyaku.

"Kami mengatakan kalau gadis itu sudah di temukan. Dan meminta mereka untuk menunggu kabar dari kita." Jawab Minseok nuna.

"Namja buronan itu sepertinya menyadari kalau ada yang mematainya. Karena dia terus saja diam memperhatikan kami ketika di pantai." Pikir Jongdae hyung.

"Kau benar hyung! Dia sudah mencurigai keberadaan kita."

"Tadi kami hampir berkelahi karena masalah gadis sandraannya. Namja itu sangat bersikap kasar." Jelasku.

"Kapan kita akan bertindak? Jika dibiarkan terlalu lama, kasihan gadis itu." Tanya Minseok nuna.

"Saat aku menemui gadis itu di villa, ada sesuatu yang membuatku curiga." Pikirku.

"Wae?" Tanya Jongdae hyung.

"Beberapa bagian tubuhnya terdapat tanda kemerahan."

"Apakah namja itu berbuat tindak kekerasan? Tanda memar?" Tanya Minseok nuna.

"Ani. Sepertinya itu bukan sebuah memar."

"Lalu?"

"Ada kemungkinan namja itu melakukan pelecehan pada gadis sandraanya."

"Mwo?"

"Tapi gadis itu tidak mau berkata apa-apa soal tanda itu. Bahkan dia menutupinya."

"Dan saat dia tau ketika namja itu pulang, dia memintaku untuk pergi dari villa dengan wajah panik."

"Kemungkinan namja itu telah mengancamnya." Pikir Jongdae hyung.

"Bagaimanapun juga kita harus cepat-cepat membebaskan gadis itu dari tangan buronan tersebut." Ucap Minseok nuna.

"Alasannya menyandra gadis itu karena ingin meminta berkas dan bukti mereka pada agen kepolisian bukan?" Tanyaku yang hanya di balas anggukan.

"Kalau begitu berikan berkas dan bukti mereka." Lanjutku.

"Mwo? Itu sangat penting karena masih dalam proses penindak lanjutan oleh pihak kepolisian." Ucap Jongdae hyung.

"Kita pancing dia dengan berkas dalam bentuk copy. Usahakan menyerupai yang aslinya."

"Kau yakin ini berhasil?" Tanya Jongdae hyung.

"Saat ini yang kita harus selamatkan adalah gadis yang di sandra. Jika gadis itu sudah berada di tangan kita, dia sudah tidak bisa berkutik untuk mengancam."

"Dan kalian bisa membawanya ke pengadilan."

"Omo...aku terpesona oleh detektif kita ini!" Goda Minseok nuna.

"Lalu rencana apa lagi yang kita lakukan disini?" Tanya Jongdae hyung.

"Kalian bisa segera balik ke Korea. Selebihnya biar ku urus disini."

"Ok kami akan segera membuat berkas palsu itu ketika tiba disana. Kabari kami selalu arraseo?" Ucap Minseok nuna.

Park Chanyeol POV

Aku terus menarik Baekhyun hingga kembali ke kamar. Ku lepas kasar tangan mungil ini.

"Kau kenapa? Apakah aku melakukan kesalahan?" Tanya Baekhyun.

"Akhir-akhir ini ada beberapa orang korea yang kita temui." Ucapku.

"Lalu?"

"Itu bukan sebuah kebetulan. Tapi untuk mematai kita!"

"Mematai?"

Melihatnya yang terlihat lugu membuatku gemas mencengkram bahunya dan menatapnya tajam.

"Namja tadi sudah berkali-kali bertemu denganmu. Kemungkinan dia adalah mata-mata dari pihak kepolisian."

"Jangan lagi berhadapan dengannya!"

"Jika bertemu dengan orang korea lainnya, jangan berdekatan dengan mereka."

Gadis ini hanya terdiam menatapku. Kedua tanganku pun terlepas dari bahunya.

"Kau adalah seorang mafioso. Kau melakukan kriminal dimana mana. Kau sudah melanggar banyak aturan negara."

"Kau memang pintar. Ani! Lebih tepatnya kau sangat licik. Tapi tetap saja kau akan kalah dengan tindak kebenaran oleh mereka."

"Dalam kehidupan ada manusia jahat dan baik. Ada penjahat dan polisi. Ada yang menaati aturan dan melanggar aturan. Dan semuanya ada hukum untuk keadilan."

"Bagaimana pun juga, seorang kriminal atau penjahat akan berakhir pada sebuah sel. Yang jahat akan merasakan akibatnya. Dan yang baik akan menerima keadilan."

"Suatu saat aku akan terlepas olehmu. Dan aku bukan lagi anak anjing sandraanmu."

Gadis ini terus berceloteh dengan wajah seriusnya.

"Tidak akan ku biarkan itu!" Balasku.

"Kau menyandraku dengan alasan menginginkan berkas yang kau maksud itu bukan?"

"Lalu bagaimana jika mereka benar-benar menyerahkan berkas itu? Perjanjian harus di tepati. Kau akan melepaskanku saat berkas itu sudah di tanganmu."

"Hidupmu hanya akan ada dua kemungkinan. Mendapatkan berkas itu atau masuk kedalam sel tahanan."

"Tapi untuk anak anjingmu ini, dia tetap akan terbebas darimu. Entah itu kau mendapatkan berkas ataupun masuk kedalam sel, anak anjing ini akan terbebas dari sandraanya."

"Diamlah!"

"Kau berharap mendapatkan berkas itu bukan? Karena dengan begitu kau tidak lagi bisa berdebat denganku. Mungkin kau akan hidup senang."

"Bagaimana jika aku tetap tidak akan melepaskanmu walau berkas itu di tanganku?" Tanyaku menyeringai.

"Mwo? Kau harus menepati janjimu!"

"Dalam dunia kriminal bermain licik adalah kunci untuk bertahan hidup."

"Aku masih membutuhkanmu." Bisikku.

"Jika pilihannya adalah antara berkas itu atau dirimu, sepertinya aku akan jawab dirimu."

"Masuk kedalam sel tidak masalah untukku, asalkan kau tidak pernah terlepas dariku!"

Aku menarik pinggangnya agar dia mendekat padaku. Kedua mata sipit itu masih menatapku.

"Ku pastikan tidak ada satu orang pun yang berani mengambilmu dariku!"

Perlahan aku mendekati wajahnya menghapus jarak diantara kami. Aku menutup matanya dengan tanganku.

Cup~

Bibirku berhasil mendarat pada bibir tipisnya. Dengan lembut aku melumatnya. Bibir manis ini sudah menjadi favoritku untuk menyentuhnya.

Tidak ada perlawanan dari Baekhyun. Gadis ini hanya terdiam dalam keadaan matanya yang masih tertutup dengan tanganku.

Alasanku menutup matanya agar dia tidak memandangku dengan sisi jelek. Aku ingin menunjukkan sisi lain dariku yang bisa dirasakan tanpa di lihat. Ya, aku ingin memberikan sentuhan yang berbeda dari sebelumnya. Jika kemarin aku terlalu memaksa dan penuh nafsu, tapi tidak untuk ini. Aku mencoba menyadarkannya kalau aku pun memiliki perasaan sebagai manusia.

TBC~