Kedua mataku terbuka perlahan dan mendapati Chanyeol yang masih tertidur lelap. Ya kami tidur dalam satu ranjang yang besar ini. Aku memberi jarak tidur kami dengan dua buah bantal guling.
Bangun dari tidur, aku tidak beranjak begitu saja dari ranjang ini. Aku terdiam memandang seorang mafia di hadapanku ini. Ciuman kemarin masih terus terlintas di benakku. Itu adalah kedua kali dia memperlakukanku dengan cara berbeda.
Aku benar-benar tidak bisa menebak jalan pikirannya. Semua ucapannya kemarin membuatku tidak bisa mencerna dengan baik maksudnya.
"Jika tertidur, kau tidak terlihat seperti orang jahat. Aku tidak tau kenapa kau menjalani hidupmu sebagai seorang mafia. Itu sangatlah berbahaya."
"Kau membahayakan orang lain juga dirimu sendiri. Apakah kau tidak mempunyai keluarga?"
"Adakah gadis lain sebelum diriku yang kau perlakukan seperti ini?"
Ya tentu saja Chanyeol tidak akan menjawab. Namja ini masih tertidur lelap.
"Karena ini adalah sebuah liburan, nikmatilah istirahatmu. Aku tau kau sangat lelah."
"Setelah mandi, aku ingin ke pasar untuk membeli beberapa bahan makan. Sepertinya aku akan membuatkanmu beberapa makanan."
Selesai berceloteh ria, aku segera mandi dan bersiap ke pasar terdekat. Dengan sebuah petunjuk arahan dari pelayan resort disini, aku memberanikan diri untuk berjelajah di negeri orang.
Skip time
Walau sedikit bingung, namun pada akhirnya aku menemukan pasar di Bali ini. Karena masih pagi, pasar ini cukup ramai.
Aku berjalan santai memperhatikan setiap penjualan disini. Bahan makanan disini sedikit berbeda karena bumbu setiap negara pasti berbeda.
"Kau disini?" Tanya seseorang menepuk bahuku hingga membuatku cukup terkejut.
"Omo...kau membuatku terkejut!"
"Sedang apa kau disini?" Tanya Sehun namja yang akhir-akhir ini sering ku temui.
"Aku ingin membeli bahan makan. Tapi sepertinya aku bingung karena bumbu disini pasti berbeda."
"Kau ke pasar sendiri? Dimana namja itu?"
"Dia masih tertidur. Aku sudah izin tapi entahlah dia mendengarkanku atau tidak."
"Kalau begitu bisakah aku menemanimu?"
"Mmm..." Sekilas ucapan Chanyeol terlintas di pikiranku tentang namja ini.
'Namja tadi sudah berkali-kali bertemu denganmu. Kemungkinan dia adalah mata-mata dari pihak kepolisian.''Jangan lagi berhadapan dengannya.'
"Wae?" Tanyanya.
"A-ani! Mmm...baiklah~" Balasku tersenyum kaku.
Namja berkulit putih dan tinggi ini berjalan di samping untuk mengikuti langkahku.
"Kau sedang berlibur disini?" Tanyaku.
"Nde!"
"Omo...kau terus melakukan liburan. Sepertinya hidupmu sangat santai."
"Bukankah kau pun sama seperti ku? Kau melakukan liburan bukan?"
"Ah...kau benar!" Kekehku.
"Sebenarnya aku berlibur karena selalu di ajak namja itu." Lanjutku.
"Saat di villa kau juga bersamanya?" Tanyanya.
"Nde!"
"Kalian teman dekat?"
Aku terdiam dengan pertanyaannya ini.
"Kekasih?"
"A-ani!"
"Lalu?"
Park Chanyeol POV
Aku beranjak dari tempat tidur ketika mendapati Baekhyun sudah menghilang dari pandanganku. Berkali-kali aku memanggilnya namun tidak ada jawaban apapun. Hingga aku memeriksa semua ruangan yang kosong tidak ada sosok gadis itu.
"Kemana dia?"
Selesai mandi, aku keluar dari kamar lalu bertanya pada pelayan resort disini tentang keberadaan Baekhyun.
'Kenapa dia pergi tanpa izin padaku?!'
Dengan langkah cepat, aku segera menuju pasar yang sudah di tunjukan oleh pelayan resort tersebut.
Shit!
Tiba di pasar aku mendapati pemandangan yang sangat tidak ku inginkan.
Kedua mataku memanas melihat dua orang yang terlihat dengan posisi mesra.
Ya, Baekhyun dan namja yang terus mengikuti gadis itu akhir-akhir ini.
Tubuh mungil itu di dekap oleh namja yang tak ku kenal. Walau terlihat seperti menahan tubuh itu yang hampir terjatuh, tapi aku tetap tidak ingin ada yang menyentuh Baekhyun.
Kedua kakiku melangkah cepat menghampiri mereka.
"C-Chanyeol?" Baekhyun terkejut lalu melepaskan diri dari tangan namja itu dan segera berdiri tegap.
"Kenapa kau pergi seorang diri?!" Gertakku.
"Aku sudah meminta izin padamu. Mungkin karena kau tidur jadi tidak mendengarku."
Aku menarik tangan Baekhyun dengan kuat untuk tetap berada di dekatku. Ku genggam erat bahkan terlihat seperti aku tidak mau kehilangan gadis ini.
"Jangan pernah pergi tanpa diriku!"
"Ini sudah kedua kali kau melakukannya dengan kasar." Timpal namja itu.
"Kau tidak perlu ikut urusan dengan kami!" Balasku menatapnya tajam.
"Aku selalu berurusan dalam masalah seseorang yang berbuat kasar atau hal yang tidak menyenangkan pada wanita."
Ku lepaskan genggaman tanganku pada Baekhyun. Tanpa memperdulikan emosi, sebuah pukulan berhasil menghantam wajah namja itu.
"Yak hentikan!" Gertak Baekhyun namun ku abaikan.
Kerah baju namja itu ku tarik kuat. Belum ada perlawanan darinya.
"Kau! Bukan namja biasa. Siapa yang memerintahkanmu mengikuti kami?! Berani sekali kau memata-matai kami!" Gertakku penuh penekanan.
"Di negeri orang tidak seharusnya kau membuat keributan." Ucapnya.
"Pergi dari hadapanku atau akan ku habisi kau!"
Sebuah pukulan kembali menghantam wajahnya hingga namja itu terjatuh ke tanah.
"Sehun-ah! Gwaenchanayo?" Baekhyun menghampiri dan mencoba untuk menolongnya.
"Jangan pedulikan orang ini! Sekarang kita kembali ke resort." Timpalku menarik Baekhyun untuk menjauh dari namja itu.
Tanpa memperdulikan pemberontakan Baekhyun, aku tetap berjalan cepat dan masih menariknya kuat.
"Yak lepaskan! Sakit..."
Tiba di penginapan, aku melepaskannya kasar. Ku dekap bahunya dengan erat dan menatapnya tajam.
"Apa yang kalian lakukan disana?!"
"Kalian melakukan sebuah pertemuan?"
"Kau ingin melarikan diri dariku dan meminta bantuan olehnya?!"
"Dengarkan aku! Semua yang ada di pikiranmu itu salah!"
"Saat aku bangun, kau masih tertidur lelap. Ku lihat kau sangat menikmati tidurmu."
"Aku tidak berani untuk membangunkanmu. Dan sebelumnya aku sudah meminta izin ke pasar dalam keadaanmu yang masih belum bangun."
"Aku pergi ke pasar karena ingin membeli bahan makanan untuk ku masak dan dapat kau makan."
"Lalu kenapa kau bisa bersama namja itu?!"
"Kami tak sengaja bertemu lagi. Tolong jangan menghakimi dirinya."
"Kenapa? Kau khawatir dengannya?"
"Kau menyukai namja itu?"
"Berhenti menyudutkanku Park Chanyeol!" Gertaknya melepaskan tanganku dari bahunya.
"Aku tidak suka seseorang menyentuhmu! Jika berani seseorang menyentuhmu, akan ku patahkan tulangnya."
"Kami bahkan tidak melakukan apa-apa! Dia hanya menahan tubuhku agar tidak terjatuh karena tubuhku terdorong oleh keramaian disana."
"Jangan pernah pergi seorang diri tanpaku."
Gadis ini hanya terdiam.
"Kapan masa suburmu?" Tanyaku.
"W-wae? Kenapa kau bertanya hal itu?"
"Jawablah..."
"Aku tidak begitu paham. Mungkin minggu ini adalah masanya."
"Kita belum mencoba ruangan spa. Kau mau mencoba spa disini?" Tanyaku.
"Kau tidak ingin makan terlebih dahulu?" Tanya balik.
"Nanti saja. Ayo lakukan spa.."
"Kau sangat aneh. Emosimu hilang begitu saja." Timpalnya.
Kami pun melangkah menuju ruang spa.
TBC~
