Park Chanyeol POV

Suho memintaku untuk mengakhiri masa liburanku. Hari ini juga aku dan Baekhyun kembali ke Korea.

Tiba di Seoul, aku langsung menemui Suho. Untuk kali ini aku menunjukkan diri Baekhyun pada godfather itu.

"Jadi dia adalah sandraanmu?" Tanya Suho memperhatikan Baekhyun yang terdiam.

"Ada apa kau memintaku kembali cepat?" Tanyaku.

"Kita tidak bisa berlama-lama menunggu berkas itu. Ku dengar agen kepolisian sudah melakukan proses penindak lanjutan." Jelas Suho.

"Lalu kau ingin aku melakukan apa?"

"Ancam mereka sekali lagi. Sepertinya sekali gertakan tidak cukup untuk mereka."

"Kebetulan gadis sandraan ini kau bawa. Kita ambil foto untuk mengancam mereka." Perintahnya.

"Foto seperti apa?"

Suho mengajakku menuju sebuah gudang cukup gelap. Tanganku masih menuntun Baekhyun untuk mengikuti kami.

"Ikat dia di kursi dan tutup mulutnya dengan lakban atau kain." Perintah Suho.

Baekhyun melirikku dengan wajah khawatir. Dengan segera aku mengikatnya pada kursi dan menutup mulutnya dengan sapu tanganku.

"Gunakan masker dan topimu. Berdirilah di belakangnya dengan sebuah pisau. Aku akan mengambil gambar yang terlihat kau seperti ingin membunuhnya." Perintahnya kembali.

Tanpa penolakan, aku menuruti semua perintahnya. Topi dan masker sudah ku pakai. Aku berdiri di belakang Baekhyun lalu mengarahkan pisau pada sisi pipinya.

"Jangan bergerak jika tidak mau tergores pisau ini. Kau bisa berpura-pura ketakutan." Bisikku tepat di telinganya.

"Ok seperti itu. Tahan! Akan ku ambil gambarnya." Ucap Suho.

"Ingat, walau berkas itu berhasil ku dapatkan bukan berarti kau lepas dariku Baek.."

Selama Suho sibuk mengambil foto kami, aku terus berbisik pada Baekhyun yang terdiam.

"Apapun yang terjadi nanti, aku akan mempertahankanmu."

"Mmpp!"

Tak sengaja Baekhyun sedikit menggerakkan wajahnya hingga mengenai pisau yang ku pegang. Gadis ini merintih dalam mulut terbungkam.

"Sudah ku bilang jangan bergerak!" Timpalku mendapati pipi Baekhyun tergores dan mulai mengeluarkan darah. Aku pun melepaskan pisau ini.

"Ok sepertinya ini cukup. Aku akan meminta bodyguard untuk mengirim foto ini pada mereka. Kembalilah ke markas." Ucap Suho segera meninggalkan kami.

Dengan segera aku membuka sapu tangan itu dari mulut Baekhyun.

"Gwaenchana?" Tanyaku.

"Ini perih..." Jawab Baekhyun menahan sakitnya.

Ikatan tali ini langsung ku buka dan membawa Baekhyun pergi dari gudang ini.

Skip time

Tiba di markas, aku mengeluarkan obat luka yang selalu dia bawa. Aku duduk di kursi dan memaksanya untuk duduk di pangkuanku dengan menghadapku.

"Sekarang biarkan aku yang mengobati lukamu." Ucapku.

"Apakah goresannya panjang?" Tanyanya.

"Ani. Dan untung saja tidak panjang. Hanya tergores sedikit."

Aku membersihkan darah pada pipinya dengan cairan antiseptik ini. Sesekali Baekhyun merintih menahan perih.

"Dekatkan wajahmu." Pintaku.

"..." gadis ini perlahan mendekati wajahnya.

Manik indah itu sangat jelas ku lihat. Sebuah plester kecil ku rekatkan pada pipinya yang terluka itu.

Ketika gadis ini ingin beranjak, tanganku menahan pinggangnya untuk tetap duduk pada pangkuanku.

"Duduklah dengan tenang." Ujarku.

"Maaf membuat wajahmu terluka."

"Apakah kau akan terus menuruti perintah bossmu itu?"

"Dia selalu membayarku lebih atas kerja kerasku padanya. Jadi aku tidak bisa menolaknya begitu saja."

"Apa isi berkas itu? Sepertinya itu sangat penting dari kedua pihak."

Aku terdiam sejenak menatap iris kecoklatan itu.

"Itu adalah kumpulan bukti kriminal yang di lakukan Suho. Mulai dari penjualan narkoba, pencurian tambang, pembelian tanah secara ilegal dan banyak lagi."

"Apakah kau masuk dalam berkas itu?"

"Semua yang tertera disana adalah namaku. Karena 80% semua itu aku yang lakukan atas perintahnya."

"Kalau mereka menyatakan kalian bersalah, semua kesalahan itu akan mengarah padamu? Dan hanya kau yang akan di penjara?"

"Itu sudah pasti. Mafioso akan melindungi godfather dalam keadaan persidangan. Godfather tidak boleh masuk penjara. Sedangkan kalau mafioso yang masuk penjara, dia akan melakukan cara agar membebaskannya."

"Aiisshh jadi dalang dari semuanya adalah dia. Aku ingin hukum negara lebih teliti dalam menyelidiki masalah."

"Kau ingin aku masuk kedalam sel tahanan?" Tanyaku.

"Bisakah aku bertanya sesuatu?"

"Ye?"

"Mungkin sebaiknya aku bertanya padamu untuk memastikan."

Baekhyun terlihat bingung.

"Apakah kau pernah mengalami jantungmu berdebar? Bukan karena ketakutan. Tapi saat berhadapan dengan seseorang."

"Kenapa kau mempertanyakan itu?"

"Jawab saja!"

"Mmm...apa yang kau maksud adalah jatuh cinta?" Tanyanya.

"Jatuh cinta?"

"Sepertinya kau memang tidak mengerti dengan kalimat yang biasanya di sebut 'cinta' karena hidupmu terlalu keras."

"Jika kau merasakan debaran pada jantungmu saat berhadapan dengan seseorang, atau merasakan hal lain seperti nyaman, dan seperti ingin memiliki itu artinya kau sedang merasakan jatuh cinta."

"Perasaanmu lembut akan keluar saat kau jatuh cinta pada seseorang."

"Ya kurang lebih seperti itu." Jelasnya.

"Lalu apakah kau merasakan hal itu padaku?" Tanyaku.

Gadis ini tertegun dengan pertanyaanku. Wajahnya terlihat gugup.

"..." Tidak ada jawaban darinya.

"Aku merasakan itu semua. Sesuatu yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Bahkan seperti adrenalin untukku."

"Debaran, nyaman, dan rasa ingin memiliki. Semua itu aku rasakan saat berhadapan denganmu Byun Baekhyun."

"Apakah ini bisa dikatakan jika aku jatuh cinta padamu?"

Author POV

Knock knock~

Seseorang telah mengetuk pintu markas membuat Chanyeol dan Baekhyun cukup terkejut. Bahkan Chanyeol tak menyangka jika markasnya dapat di temukan.

"Apakah itu bossmu?" Pikir Baekhyun.

"Jika dia kesini, dia akan menghubungiku terlebih dahulu."

"Sepertinya tempat ini sudah tak aman. Tunggu disini jangan keluar!" Pinta Chanyeol segera melangkah menuju pintu.

Sebelum namja ini membuka, ia mengintip dari sisi jendela untuk melihat siapa tamu diluar sana.

"Dua polisi itu? Dan..."

Aku mempertajam pandanganku ketika mendapati seorang namja tinggi berkulit putih memakai kacamata.

"Sehun? Namja penguntit itu?"

"Mau apa mereka kesini?"

"Ah sepertinya ancaman itu telah berhasil."

Chanyeol kembali menghampiri Baekhyun.

"Agen kepolisian datang! Dan Sehun salah satunya." Ucap Chanyeol.

"Mwo? Jjinja?" Kejut Baekhyun.

"Tanganmu harus ku ikat lagi. Dan mulutmu harus ku tutup dengan lakban hitam ini."

Namja ini segera mengikat kedua pergelangan tangan Baekhyun dan menutup mulutnya dengan lakban.

"Duduklah diam disini." Pinta Chanyeol saat Baekhyun duduk di sebuah kursi.

Selesai dengan Baekhyun, Chanyeol bersiap untuk membuka pintu tersebut.

Pintu itu berhasil Chanyeol buka.

"Woah siapa ini yang datang?" Seru Chanyeol dengan tawa liciknya di hadapan Sehun, Jongdae dan Minseok.

"Serahkan gadis sandraanmu!" Pinta Jongdae.

"Aigoo...tamu macam apa kalian ini?"

"Dimana gadis itu?" Tanya Minseok.

"Sedang bersantai. Tenanglah..."

"Lepaskan dia. Dan kau akan dapatkan berkas ini." Ucap Sehun menghadapkan sebuah map coklat yang berisikan berkas.

"Sudah ku duga kau adalah mata-mata dari agen kepolisian!"

"Dan kalian mengikutiku saat di Bali."

Chanyeol adalah mafioso yang terkenal dengan kepintaran dan kelicikannya. Maka dari itu agen polisi akan melakukan rencana sebaik mungkin untuk melumpuhkannya.

"Kami datang kesini untuk membawa berkas yang kau inginkan. Dan sesuai perjanjian, berkas ini jadi milikmu lalu bebaskan gadis itu." Ucap Jongdae.

"Baiklah tunggu aku akan bawa gadis itu." Chanyeol kembali pada Baekhyun yang masih terikat.

Perasaan Baekhyun saat ini benar-benar tidak enak dan sangat khawatir.

"Apapun yang terjadi, ingatlah kau tidak akan lepas dariku." Bisik Chanyeol menuntun Baekhyun menuju ketiga tamu tersebut.

Sehun memperhatikan Baekhyun yang terikat dan mulut yang tertutup lakban. Juga sebuah plester yang merekat pada pipi kanannya.

"Kau melukainya?" Tanya Sehun.

"Ini hanya ketidak sengajaan."

"Lepaskan dia." Pinta Minseok.

"Serahkan berkas itu."

"Ok dalam hitungan ketiga aku akan serahkan berkas ini dan kau pun serahkan Baekhyun pada kami." Ujar Sehun.

Tangan kanan Chanyeol menggenggam erat tangan Baekhyun, sedangkan tangan kirinya bersiap untuk meraih berkas yang ada di hadapannya.

Jongdae pun mulai menghitung.

"Hana..."

"Dul..."

"Set..."

Sehun dan Chanyeol saling mengulurkan tangan. Dengan cepat Chanyeol mendapati berkas itu. Dan ketika Minseok ingin meraih Baekhyun, Chanyeol menarik kuat Baekhyun kembali dalam dekapannya.

"Terima kasih untuk berkasnya dan kehadiran kalian disini. Silahkan pergi.." Seru Chanyeol menyeringai.

"Serahkan gadis itu Park Chanyeol!" Gertak Sehun.

"Kau sudah memberi kesepakatan tentang ini. Kau sudah mendapati berkas itu, jadi serahkan Baekhyun pada kami!" Sambung Jongdae.

"Aku masih membutuhkannya. Pergilah atau kalian tidak akan bisa pulang!" Ancam Chanyeol.

Dengan keberanian Sehun mencoba untuk mengambil Baekhyun dari tangan Chanyeol.

"Kau berani menantangku?!" Gertak Chanyeol melemparkan berkas itu sembarang lalu mencengkram tangan Sehun yang mencoba meraih Baekhyun.

"Jauhkan tanganmu darinya!" Timpal Chanyeol penuh penakanan.

"Berkas sudah di tanganmu, jadi lepaskan dia darimu!" Balas Sehun.

Tangan Chanyeol terlepas dari Baekhyun. Namja ini tak sungkan untuk menyerang Sehun. Sebuah pukulan keras menghantam wajah Sehun. Jongdae pun tak tinggal diam, dia membantu Sehun untuk melawan Chanyeol.

Melihat keadaan seperti ini Minseok langsung meraih Baekhyun.

"Bawa gadis itu ke mobil!" Pinta Jongdae.

Melihat Baekhyun berhasil di bawa oleh polisi wanita itu, Chanyeol mencoba menyerang Sehun dan Jongdae hingga keduanya terjatuh kelantai. Dengan cepat Chanyeol berlari mengejar Minseok yang membawa Baekhyun.

Belum sempat masuk ke mobil Minseok sudah di halangi oleh Chanyeol yang menodong pisau.

"Serahkan gadis itu! Kau hanya polisi wanita yang sudah pasti lemah. Jangan bahayakan dirimu, jadi serahkan Baekhyun jika ingin selamat!"

Bugh!

Sebuah tendangan berhasil menjatuhkan Chanyeol dan pisau itu.

Ya, Sehun dengan cepat menghampiri kembali.

Kedua namja itu melanjutkan aksi penyerangan. Chanyeol kembali meraih pisau itu dan bersiap untuk merobek kulit mulus namja putih itu.

Baekhyun sudah di amankan oleh Jongdae dan Minseok di dalam mobil. Melihat kedua namja itu berkelahi, Baekhyun benar-benar khawatir dan takut.

"Tenanglah kau sudah aman!" Ucap Minseok menenangkan Baekhyun.

Perkelahian semakin membuat tegang. Bahkan Chanyeol benar-benar mengarahkan pisau itu pada Sehun.

Syap!

Pisau itu berhasil menusuk tubuh dari salah satu namja itu. Posisi mereka menutupi penglihatan para saksi.

"Apakah Sehun tertusuk?!" Kejut Minseok.

"Kau tunggu di dalam, aku akan menghampirinya." Ujar Jongdae segera keluar.

Jantung Baekhyun berdebar hebat karena rasa takutnya melihat kejadian ini.

Tepat saat Jongdae mendekati kedua namja itu, tubuh yang tertusuk lemah dan terjatuh.

Beberapa pasang mata cukup terkejut melihat pisau itu yang menancap tepat di bagian perut kiri.

Baekhyun seperti kehilangan oksigen ketika melihat pemandangan mengerikan ini. Terlihat jelas kalau pisau itu benar-benar menembus perut namja itu.

Chanyeol.

Ya, pisau itu menusuk bagian perut Chanyeol. Sehun berhasil membalikkan posisi pisau itu hingga Chanyeol merasakan senjatanya sendiri.

'C-chanyeol!" Batin Baekhyun sangat terkejut.

TBC~