Byun Baekhyun POV
Tiba di rumah, aku berlari menuju kamar mandi. Sebenarnya sejak bangun tidur, aku merasa mual dan sedikit pusing. Tapi aku memaksakan diri untuk tetap mengikuti sidang itu.
Bahkan tidak ada sisa makanan yang ikut keluar dari mualku ini. Hanya air yang keluar.
"Sepertinya aku masuk angin." Pikirku keluar dari kamar mandi.
Aku mencari obat untuk menghilangkan rasa mualku ini. Namun tidak ada satu obat pun di rumahku. Mau tak mau aku harus ke apotik membelinya.
Skip time
Ketika mendapat obatnya, aku kembali ke rumah dan segera meminumnya.
Aku tiduran di atas sofa dan menonton sebuah acara tv. Selesai sidang, eomma pergi ke rumah bibi karena ada urusan. Alhasil aku harus di rumah seorang diri.
Saat aku memejamkan kedua mataku, beberapa menit kemudian aku merasa udara sangat sesak. Bahkan aku tidak sanggup untuk menghirup udara.
Uhhuukk...
Aku terus terbatuk ketika udara rumah tidak seperti biasanya.
"Ada apa dengan udara ini?" Pikirku segera berlari menuju pintu.
Damn!
Pintu tidak bisa ku buka. Ini terkunci dari luar.
"Oh my...aku lupa menyimpan kunci rumah! Siapa yang melakukan ini?"
"Yak! Buka pintunya!" Gertakku mencoba menggedor pintu.
Uhhuukk...
"Eotteokhae?" Panikku.
Aku berlari menuju telepon rumah untuk menghubungi seseorang yang bisa menolongku.
Nafasku benar-benar sesak. Aku seperti kehilangan nafasku. Bahkan tubuhku sudah keringat dingin menahan sesaknya udara disini.
Author POV
Chanyeol masih terbayang dengan semua ucapan Baekhyun saat persidangan tadi. Tak lama Sehun datang menemuinya yang berada di dalam sel tahanan.
"Apa alasanmu melindunginya?" Tanya Sehun.
"Untuk apa kau bertanya itu? Ini bukan waktunya untuk introgasi." Balas Chanyeol.
"Kau adalah satu-satunya mafioso yang melindungi seorang sandraannya. Aku tau kau pasti punya alasan untuk melindunginya."
Mafia itu hanya terdiam mendengar ucapan sang detektif tersebut.
"Kau menyukainya bukan? Kau--" Belum sempat Sehun melanjutkan kalimatnya, smartphone miliknya berdering tanda panggilan masuk.
Dengan segera dia mengangkat panggilan tersebut.
"S-Sehun..."
"Baekhyun?" Kejut Sehun.
"uhhukk t-tolong aku..."
"Apa yang terjadi?" Sehun mulai panik saat mendengar ucapan Baekhyun yang memintanya pertolongan.
"A-aku tidak tau uhhukk cepatlah ke rumahku udara disini sangat sesak uhuukk.."
"Bertahanlah aku dan beberapa polisi akan kesana!" Sehun langsung memutuskan panggilan dan meminta beberapa polisi untuk menuju rumah Baekhyun.
Chanyeol menahan Sehun sebelum namja itu pergi.
"Apa yang terjadi padanya?!" Tanya Chanyeol.
"Ada yang aneh dengan rumahnya. Sepertinya udara rumahnya tercampur gas racun."
"Bawa aku ikut kesana!" Pinta Chanyeol.
"Tidak bisa. Tenanglah aku akan menolongnya. Ku pastikan dia akan baik-baik saja." Tanpa membuang waktu Sehun segera berlari keluar.
Chanyeol ingin sekali merusak sel tahanan ini. Beberapa polisi terlihat bersiap pergi. Namja ini mencari cara agar dirinya terlepas dari sini.
"Jeogi! Perutku sangat sakit. Bisakah aku ke toilet?" Pinta Chanyeol pada seorang polisi penjaga.
Polisi penjaga itu pun mengantarkan Chanyeol ke toilet. Saat ia memasuki toilet, borgol itu di lepaskan dari tangannya.
"Mmm...bisakah ambilkan obat untukku? Pencernaanku benar-benar buruk." Pinta Chanyeol kembali.
Tepat saat polisi itu pergi untuk mengambil obat, Chanyeol segera melarikan diri secara diam-diam.
Skip time
Chanyeol berhasil keluar dan segera menjauhi kantor polisi itu.
Sebuah taxi, ia hentikan. Namun bukannya duduk di kursi penumpang, Chanyeol meminta untuk mengemudi kepada supir taxi.
"Percayalah ini akan aman. Aku tidak bisa membuang waktuku." Ucap Chanyeol segera menginjak gas mobil taxi itu dan mengemudi dengan kecepatan diatas rata-rata.
Namja ini terus mengikuti mobil polisi yang menuju rumah Baekhyun.
Ketika beberapa meter dari jarak mobil polisi yang terhenti, Chanyeol pun menghentikan taxi tersebut. Tanpa membayar, Chanyeol segera berlari menuju rumah Baekhyun. Supir taxi itu tidak bisa berkutik karena dia tau kalau Chanyeol adalah narapidana karena namja itu memakai baju tahanan.
Langkah Chanyeol terus mendekati rumah Baekhyun. Namun ia tidak melangkah sama dengan pihak kepolisian dan Sehun yang berada di depan pintu rumah Baekhyun. Chanyeol memanjat pagar belakang rumah Baekhyun. Dia mencari pintu yang dapat membuatnya masuk kedalam.
Brakk!
Sebuah tendangan keras menghantam pintu belakang rumah. Ya, Chanyeol berhasil membuka pintu belakang dengan sekali tendangan.
Ketika melewati kamar mandi, dia membasahi handuk lalu menutup hidungnya untuk melindungi pernafasannya pada udara beracun ini.
"Siapapun tolong aku!"
Suara Baekhyun membuat Chanyeol melangkah pada sumber suara.
"B-Baek?" Kejut Chanyeol saat mendapati Baekhyun terbaring lemah dengan wajah pucatnya.
Chanyeol berlari kemudian meraih tubuh mungil Baekhyun. Handuk basah yang ia kenakan diberikan pada Baekhyun untuk menutupi hidung gadis itu.
"Bertahanlah!" Ucap Chanyeol menahan rasa sesak udara disini.
Tubuh Baekhyun di angkat oleh Chanyeol untuk segera keluar. Kedua mata sipit itu memandang Chanyeol teduh. Senyumannya sedikit terangkat hingga gadis ini mulai tak sadarkan diri.
Brakk!
Tepat saat Chanyeol ingin keluar, Sehun dan beberapa polisi membanting pintu depan rumah.
"Baek?" Kejut Sehun melihat Baekhyun sudah tak sadarkan diri pada gendongan Chanyeol.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit!" Pinta Chanyeol mulai panik.
"Yang lain tolong sterilkan udara rumah ini. Dan selidiki penyebabnya. Gadis ini akan ku tanganni." Perintah Sehun pada beberapa polisi tersebut.
Sehun segera membuka pintu mobilnya. Chanyeol pun langsung masuk bersama Baekhyun di kursi belakang.
Tanpa membuang waktu Sehun mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Chanyeol mencoba untuk memberikan nafas buatan pada Baekhyun.
Sehun hanya terdiam melihat Chanyeol yang terlihat sangat panik dan khawatir.
Skip time
Tiba di rumah sakit, Baekhyun langsung di tangani oleh dokter. Sementara Sehun dan Chanyeol menunggu di luar ruangan.
"Kau melarikan diri?" Tanya Sehun.
"Kau menolakku untuk ikut pergi. Terpaksa aku melarikan diri."
"Aku tidak bisa diam begitu saja jika itu berhubungan dengannya."
"Kau akan bermasalah pada pihak kepolisian karena melarikan diri dari sel tahanan."
"Itu tidak masalah. Aku tidak memikirkan diriku. Aku hanya memikirkan bagaimana caraku untuk menolong Baekhyun."
"Ku rasa ini ada hubungannya dengan Suho. Saat di sidang, Baekhyun menuntut Suho pada pengadilan. Ku pikir Suho marah dengan tindakan Baekhyun."
"Ini masih di selidiki. Tapi bagaimana jika itu benar?"
"Jika terjadi sesuatu pada Baekhyun, aku tidak akan memandangnya sebagai pimpinanku lagi. Akan ku habisi orang berkuasa itu!"
"Kau--"
"Kau mencintai Baekhyun?" Tanya Sehun.
"Jangan bertanya hal itu."
"Wae? Bukankah itu benar?"
"Aku tidak bisa menjawab untuk hal itu. Menjawab pertanyaan itu sangat sulit."
"Sulit bukan karena aku tidak tau jawabannya. Tapi aku merasa tidak pantas untuk menjawabnya."
Sehun mencoba mencerna semua ucapan Chanyeol.
"Lihatlah aku hanya seorang namja yang di pandang buruk oleh banyak oran lain."
"Orang sepertiku apakah pantas mengatakan kalau aku mencintainya?"
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan membuat mereka berdua teralih.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Chanyeol pada dokter tersebut.
"Beruntung dia cepat di tolong. Dan racun yang di hirupnya tidak begitu banyak yang di hirup. Apakah kalian membuat bantuan pernafasan?"
"Di perjalanan aku mencoba memberinya nafas buatan." Jawab Chanyeol.
"Itu adalah tindakan tepat. Tapi..."
"Tapi kenapa?" Tanya Chanyeol.
"Janin yang ada di rahimnya tidak tertolong. Karena janin itu terlalu muda dan racun itu membunuhnya didalam."
"Janin?" Kejut Sehun.
"Ya. Sebenarnya dia sedang mengandung janin yang baru saja berumur 2 minggu."
Kedua tangan Chanyeol mengepal kuat mendengar pernyataan itu.
"Kami sudah melakukan pembersihan darahnya. Saat ini kondisinya masih lemah dan masih membutuhkan bantuan oksigen."
"Baiklah. Terima kasih!" Seru Sehun.
Dokter tersebut meninggalkan mereka berdua.
"Kau membuatnya hamil?" Tanya Sehun.
"Itu adalah rencanaku agar dia tidak bisa lepas dariku. Siapa yang berani membunuh janin itu?!" Chanyeol terlihat geram.
"Baekhyun sudah berhasil selamat. Saatnya kau kembali ke sel tahanan." Ujar Sehun.
"Beri aku waktu untuk melihatnya di dalam sana." Pinta Chanyeol.
Sehun pun menuruti permintaan itu. Namja ini menunggu diluar saat Chanyeol masuk ke ruangan rawat Baekhyun.
Pintu pun di buka oleh namja tinggi itu.
Chanyeol duduk di samping Baekhyun yang terbaring dengan selang oksigen di hidungnya. Gadis ini belum sadarkan diri.
"Kau tau? Aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku saat ini."
"Ada rasa takut dan khawatir saat mengetahui kau dalam bahaya. Ada rasa senang saat dokter mengatakan kau selamat dari racun itu dan mengandung janin dariku. Ada rasa sedih dan marah ketika mengetahui kalau janin itu terbunuh didalam sana karena racun itu."
"Aku mengutuki orang yang berbuat ini padamu."
Kedua mata besar itu terus memandang sosok mungil yang terbaring lemah.
"Kau tau? Aku melarikan diri lagi dari polisi itu. Yang ku pikirkan hanyalah dirimu. Dan aku tidak perduli apa yang akan terjadi padaku saat melarikan diri dari sana."
"Aku--"
Chanyeol meraih punggung telapak tangan Baekhyun lalu mendekapnya dan mengusapnya lembut. Sesekali ia mengecup punggung telapak tangan mungil itu.
"Maaf Baek, aku mencintaimu. Maafkan aku yang sangat mencintaimu."
"Aku tidak berani mengatakan ini padamu. Karena aku merasa tidak pantas mengatakan hal ini."
"Maaf aku telat menolongmu hingga janin itu tak terselamatkan."
"Tapi aku senang tidak terjadi apa-apa denganmu."
Hening.
"Tidak ada waktu banyak untukku disini. Aku akan kembali ke sel tahanan."
Sebelum Chanyeol keluar dari ruangan, ia mengecup kening Baekhyun.
TBC~
