Hari ini yixing bangun pagi-pagi sekali, berhubung hari ini adalah weekend, dia free dari schedule mengajar kalau sedang weekend.

Selesai melipat selimutnya dan membereskan tempat tidur, yixing kemudian mengganti pyama tidurnya dengan kaus lengan pendek warna abu-abu dan bawahan celana kain selutut berwarna ungu, setelah berganti baju, pemuda yang pandai menari itu langsung mlesat kedapurnya untuk mencari makanan, berhubung perut yixing sudah keroncongan minta di isi ulang. Cuci muka gosok gigi mah, urusan belakangan, karena perut harus didahulukan.

"Bikin sarapan apa ya?"

Yixing membuka pintu kulkasnya, terus mengambil susu kemasan satu liter dan seloyang makaroni keju.

"Aha, tinggal panasin ini aja. Terus jadi deh! Untung aja kemarin masih ada sisa makaroninya.."

Yixing memasukkan susu sama loyang makaroninya kedalam microwave, tak butuh waktu lama buat yixing untuk mengangkat kembali sarapanya, terus ditaruh keatas meja makan. Yixing duduk terus mulai makan dengan tenang, sambil mendengarkan lagu I need you milik penyanyi asal china, yang itu lho, yixing lupa namanya, tapi yang jelas gantengnya sebelas dua belas sama adam levine.

Selesai sarapan yixing milih buat keluar rumah, dia baru ingat kalau tanamanya belum disiram seminggu ini, kan kasihan. Coba kamu bayangin tidak minum selama seminggu gimana rasanya? Yixing juga takut kali, kalau tanamanya mati kena dehidrasi.

Mengambil selang dipojokan rumah terus menyalakan kranya, yixing mulai jalan nyemprotin(?) tanamanya satu persatu.

Jangan salah, meskipun yixing cowok tapi dia juga suka menanam berbagai macam bunga lho, lihat saja dihalaman rumah yixing banyak sekali jenis bunga.

Bengong sambil menyiram tanamanya, yixing jadi ingat lagunya boyband exo yang judulnya play boy. Ingat lagu itu yixing jadi pengen nyanyi.

"Hmm.. Hey play boy~ Ah, suaruku masih bagus ternyata, mirip kayak baekhyun exo" Ujar yixing kesenengan, terus dia siap-siap mau nyanyi lagi sambil terus nyiram tanamanya.

"Play boy, Nggak nggak nggak kuat, nggak kuat! Aku nggak kuat sama play boy - play boy~ nggak nggak nggak level nggak level, aku nggak level sama play boy - play boy"

Yixing nyanyi sampai loncat-loncat kesenengan, tidak perduli kalau dia salah lirik lagu, air dari dalam selangnya muncrat kemana-mana, bahkan celana pendek yixing sampai basah dibagian bawah.

Sampai ahirnya yixing berhenti menyanyi, waktu dia mendengar suara bola yang memantul dilantai, seperti seseorang yang tengah melakukan dribble.

"Jangan-jangan junmyeon," kata yixing sambil senyum-senyum sendiri.

Yixing buru-buru matiin kran airnya, terus jalan mengendap-endap menuju pagar depan. Sampai di pagar depan, yixing memanjat tumpukan batu bata yang tertumpuk dibawah dinding pagar.

Jduk

Jduk

Suara bola kembali yixing dengar, sedikit lagi dan hup! Yixing kini bisa berdiri diatas tumpukan batu bata itu, kedua sikunya bertumpu pada tembok atas pagar.

Jduk

Jduk

Dan seperti prediksi yixing sebelumnya, saat ini dia bisa melihat junmyeon yang lagi bermain basket seorang diri didepan rumahnya.

Kegiatan rutin yang selalu dilakukan laki-laki tinggi itu jika sedang weekend, eh? Bagaimana yixing bisa mengetahuinya. Tentu saja, karena yixing juga tidak pernah absen berdiri dibalik pagar rumahnya, untuk melihat junmyeon bermain basket ngomong-ngomong, sambil bernostalgia semasa waktu sma.

Yixing menghela nafas, dia menaruh dagunya keatas tembok pagar. Mata coklatnya senantiasa mengikuti setiap pergerakan junmyeon, yang bergerak lincah kesana kemari.

"Jun, kamu masih aja tetap kelihatan ganteng, walaupun kamu udah gak muda lagi kayak dulu." gumam yixing.

"Tapi sayangnya aku udah nggak cinta lagi sama kamu, kamu itu tetep aja nggak bisa berubah. Masih jadi junmyeon titisan lucifer kayak jaman dulu..." yixing mulai alihin pandanganya dari junmyeon ke arah langit.

Yixing mau flashback kejaman dulu, gimana awal mula dia jadi benci banget sama manusia bernama kim junmyeon.

Suara sorak sorai siswa-siswi memenuhi lapangan basket in door sma bunga bangsa, banyak banner-banner dukungan untuk tim sekolah terpampang disana. Tapi dari sekian banyak banner-banner yang terpajang. Hanya ada satu nama yang mendominasi disetiap banner-banner itu. Ya, siapa lagi kalau bukan sang ketua basket.

Kim junmyeon

"Junmyeon! Junmyeon! Berjuanglah pangeranku! Aku mendukungmu sayang! Awwhh junmyeon~"

Tak kecuali seorang pemuda remaja bermata cokelat, yang duduk di barisan paling depan. Menyuarakan dukunganya pada si ketua tim.

"Junmyeon! Lihat kesini kumohon!" teriak pemuda itu lagi, junmyeon yang posisinya memang dekat dengan pemuda itupun menoleh dengan senyum kecil dibibirnya.

"Aghh! Yuna, yuna! Kau lihat tadi? Junmyeon tersenyum padaku, ya tuhan.. Dia menyukaiku!" pemuda itu mengguncang bahu teman perempuanya, yang duduk disebelah.

"Demi tuhan, dia hanya tersenyum tipis xing bukan berarti dia menyukaimu. Oh ya ampun"

Yixing, adalah nama pemuda bermata cokelat itu menggeleng tak terima saat mendengar ucapan yuna sahabatnya.

"Tidak! Junmyeon itu menyukaiku, pokoknya aku akan menyatakan perasaanku setelah permainan ini berakhir yuna" ucapnya penuh keyakinan.

"Terserah kamu saja xing, tapi ingat. Jangan mendatangiku kalau kamu dicampakkan oleh junmyeon nantinya."

Yixing tertawa, "Itu tidak mungkin, junmyeon juga menykaiku tahu."

Beberapa menit kemudian, setelah permainan basket selesai.

Yixing sudah berdiri didepan junmyeon yang kini memandangnya dengan pandangan acuh tak acuh.

"Cepat, apa yang ingin kamu sampaikan padaku bocah. Tck, waktuku tidak banyak," junmyeon mengusap lehernya yang berkeringat menggunakan handuk kecil.

Yixing yang sedari tadi menundukkan kepala, dengan tangan yang saling meremaspun kini mulai mengangkat kepalanya, mendongak menatap retina gelap milik junmyeon.

"Junmyeon aku, aku menyukaimu.." ujar yixing sebelum kembali menunduk lagi dengan wajah merah padam, menahan malu.

Junmyeon menaikkan alisnya, melihat pucuk kepala pemuda didepanya tanpa minat. "Lalu?" balasnya kemudian.

Yixing terkesiap mendengar jawaban junmyeon, dia berusaha memberanikan diri untuk kembali menatap junmyeon. "Lalu? Kenapa lalu?"

Junmyeon memutar bola mata malas. "Kamu ini idiot atau apa sih, memangnya kalau kamu menyukaiku lalu apa?"

Yixing menggigit bibir bawahnya. Sebelum menjawab "T-tentu saja, j-jadikan aku pacarmu junmyeon"

Junmyeon tampak menahan tawanya. "Pftt, apa? Menjadikanmu pacarku? Ha ha ha, jangan bermimpi bocah kerdil, HEY LIHATLAH SEMUANYA! ADA BOCAH SD YANG SEDANG MENYATAKAN CINTA PADAKU!"

Yixing sontak membelalakan kedua matanya kearah junmyeon, saat laki-laki itu tiba-tiba berteriak kencang, membuat semua orang yang tengah berada dilapangan beralih menatap kearahnya dan yixing.

Tubuh yixing membeku. "J-junmyeon k-kau, kau mempermalukanku"

Junmyeon kemudian tertawa tanpa dosa saat teman-temanya mulai mendekat, kemudian dengan sadisnya mengejek kemalangan nasib yixing.

Satu hal yang bisa yixing petik dari kejadian itu, bahwa junmyeon sudah berhasil mempermalukanya didepan umum, membuatnya seolah sedang berada dineraka detik itu juga.

Dan mulai saat itu, perasaan kagum dan rasa suka yixing, berubah membenci junmyeon, sangat benci.

Jduk

"Ochhh," yixing terkesiap dari acara nostalgianya, saat merasakan sakit didahinya yang terbentur bola basket.

Apa? Bola basket?

Masih mengusap dahinya, yixing mengedarkan pandanganya kesekitar tapi tidak menemukan siapapun, termasuk junmyeon. Kemana perginya orang itu huh? Apa dia sudah selesai bermain basket, tapi kalau junmyeon sudah selesai lalu dari mana datangnya bola basket ini.

"Hey, kembaran valak"

Yixing menunduk kebawah, dan ternyata junmyeon sekarang lagi berdiri dibawahnya.

"J-junmyeon, sejak kapan kamu berdiri disitu hah?"

"Sejak kamu kesurupan setan ngeseot, cepet turun! Untung aku tadi ngelihat terus nyadarin kamu. Kalau nggak udah kesurupan beneran kamu sun,"

Yixing menatap junmyeon aneh, "Sun? Apa sun?"

"Sundel bolong,"

"Sialan!"

Junmyeon ketawa singkat, "Udah ah cepetan turun. Itu ambil paketan kamu depan pagar" katanya sambil nunjuk sebuah kotak kardus yang tergeletak didepan pagar rumah yixing.

"Paketan? Paketan apa itu, seingatku aku nggak mesan paketan apa-apa"

Junmyeon mengedikkan bahu, "Mana kutahu," kata junmyeon cuek, sebelum mengambil bola basketnya terus ninggalin yixing yang masih mandangin kotak kardus itu.

"Siapa ya, yang mengirim paketan pagi-pagi begini," yixing perlahan turun dari posisinya buat ngebuka pagar rumah dan mengambil kardus paketan nya.

~Baby Stranger~

"Hmm, kok nggak ada nama pengirimnya ya?" yixing memeriksa buntalan kardus itu, tapi nihil dia tetap tak menemukan nama si pengirim.

"Apa jangan-jangan isinya bom!" nyali pemuda berlesung pipi itu mulai menciut, dia mundur satu langkah dari posisi letak kardus.

Lima menit berlalu, yixing mulai mensugesti fikiranya sendiri untuk tetap berfikir positive thinking. Ya, dia tidak boleh berfikir yang macam-macam. Siapa tahu kotak itu dari pacarnya, langsung dikirim dari US, ah bisa saja bukan. Karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Yixing mulai senyum-senyum sendiri, membayangkan betapa romantis pacarnya yang mengiriminya aliens, hey siapa tahu isi kotak itu adalah aliens yang dikirim langsung dari planet mars, pacar yixing kan bekerja di NASA.

"Kalau benar kotak ini isinya aliens dari planet mars, aku berjanji akan mengurusnya seperti anak sendiri honey, sampai kamu pulang nanti dari US" kata yixing penuh raut kebahagiaan terpancar diwajahnya.

Yixing beranjak untuk mengangkat kotak kardus berukuran besar itu sendirian, Sebelum. "Aduh, ini apa sih isinya kok berat banget, masa aliens seberat ini." keluh yixing, tapi dia tetap berusaha keras untuk mengangkatnya dengan sekuat tenaga.

Baru geser sedikit, yixing kembali meletakkan kardusnya. Dia beracak pinggang sambil melihat sekeliling, siapa tahu ada orang yang bisa yixing mintai bantuan.

Tapi sejauh mata cokelat itu memandang, tidak ada seorangpun didekatnya saat ini, kecuali junmyeon yang lagi duduk dibalkon rumahnya, topless sambil mainan barbel. Junmyeon lagi olah raga omong-omong.

"Panggil tidak ya, tapi kalau minta bantuan emaknya sinchan. Bukanya ngebantuin malah ngajakin war.. Tapi kalau bukan junmyeon siapa lagi? Ah panggil saja lah,"

Yixing nangkupin kedua telapak tanganya dimulut, sebelum pemuda dua puluh enam tahun itu teriak kencang. "JUNMYEON! SINI TURUN BENTAR DEH! MAU LIHAT ALIENS NGGAK! LANGSUNG DARI MARS LHO"

Setelah teriak gitu, yixing bisa lihat kalau junmyeon langsung menengok ke arahnya sambil naikin satu alisnya.

"NGAPAIN TERIAK-TERIAK! INI KOMPLEK BUKAN HUTAN! DASAR NORAK!"

Yixing mendengus sebelum dia teriak lagi, "KAMU JUGA TERIAK BODOH! CEPET SINI TURUN!"

'NO', ya itu kalimat yang bisa yixing tangkap dari gerakan mulut junmyeon, sebelum dia kembali berkutat dengan barbelnya, huh dasar titisan lucifer.

Yixing menggembungkan kedua pipinya kesal, sebelum pemuda itu mengalihkan kembali perhatianya ke eksistensi si kardus yang kini malah terlihat bergerak-gerak.

Yixing membolakan matanya. "Astaga kok bisa gerak-gerak, jangan-jangan isinya benar-benar aliens" ujar yixing sedikit waspada.

"Dudududu... Tatatatata"

Yixing memundurkan tubuhnya satu langkah kebelakang, waktu dia mendengar suara aneh yang berasal dari dalam kotak kardus.

"K-kok keluar suaranya"

"dudududu.. Hiks dudu.. hiks hiks"

Yixing menggigiti kuku jemarinya, dia tengah dilema sekarang, yixing berfikir keras antara ingin membuka dan melihat isi didalam kardus itu atau berlari masuk kedalam rumahnya dan bersembunyi dibawah meja makan.

Tapi kalau itu memang benar isinya adalah aliens yang dikirim pacarnya, apa yang harus dia takutkan, bukankah alien itu bentuknya lucu? Bisa joget-joget naega bogosipda - naega bogosipda Ohhh, Iyakan.

"Huh, Okay yixing jangan takut. Itu hanya alien. Hanya alien saja, kau kan zhang yixing pasti bisa mengatasinya dengan mudah"

Deg

Deg

Deg

Yixing mengulurkan kedua tanganya untuk menyibak tutup kardus bagian atasnya.

Danㅡ

Tara!

Seorang alien kecilㅡ ah tidak, bukan aliens seperti yang yixing bayangkan sebelumnya, tapi isinya adalah bayi. Kotak itu ternyata isinya adalah bayi. Ha ha ha, membuat yixing panik saja, yixing kira isinya apa, ternyata isinya hanya bayi.

Oh okay,

Hanya bayi.

"APA! BAYI!" teriak yixing histeris, dia menatap kotak itu dengan tatapan horor.

Teriakan kencang yixing ternyata mampu mengusik eksistensi si laki-laki yang berada diatas balkon. "SUDAH DIBILANG JANGAN TERIAK-TERIAK, KAMU SADAR TIDAK SIH, KALAU SUARAMU ITU MIRIP SAMA SUARA BAEKHYUN EXO KEJEPIT PINTU!" Junmyeon memberi death glare kearah yixing.

"DIAM KAU JARJIT! ASAL KAMU TAHU YA! AKU LAGI SHOKE SEKARANG!, NGGAK ADA WAKTU BUAT MELADENI KAMU, LEBIH BAIK CEPAT SINI TURUN KAMU! DAN LIHAT SENDIRI APA ISI YANG ADA DIDALAM KARDUS INI!"

"Dududu, hiks hiks hweeeee"

Dan bayi yang berada didalam kardus itupun menangis histeris, bisa jadi kalau bayi kecil itu takut pada suara teriakan mlengking yixing.

"Cup cup bayi kecil, jangan menangis ADUH JUNMYEON CEPAT KESINI! BAYINYA MENANGIS! Cup cup, astaga bagaimana ini, bayi siapa lagi. JUNMㅡ"

"Diam xing, aku sudah disini." Ujar junmyeon yang entah sejak kapan sudah berdiri didekat yixing sambil memperhatikan makhluk kecil didalam kardus.

"A-anak siapa ini jun? Jangan-jangan anak kamu ya!"

Junmyeon sontak memberi deathglare yixing, akibat ucapan ngawur pemuda mungil itu. Pacar saja junmyeon tak punya, mana mungkin bisa punya anak. Huh,

"Kamu jangan ngomong macam-macam ya dil, tidak mungkinlah bayi ini anakku. Bikin saja belum pernah mana mungkin aku bisa punya anak, dasar otak udang" sungut junmyeon tak terima.

Yixing mempotkan bibirnya, "L-lalu kalau begitu ini anak siapa?"

Junmyeon mengangkat bahu tak perduli. "Mana kutahu, atau jangan-jangan ini anak pacar kamu sama selingkuhan bulenya, terus karena pacar kamu malas ngerawat, ahirnya dibuang didepan rumah kamu!"

"W-what, tidak tidak. Kamu tidak usah memfitnah pacar aku juga dong! Ini masalah bayi ini, bukan pacar aku" yixing menggelengkan kepala tak terima atas tuduhan junmyeon.

"Hiks hiks hweeeeeee. . Hweeeee"

Tangisan bayi mungil itu kembali pecah, saat melihat kedua orang dewasa itu bukanya mengurusinya, malah asik dengan dunianya sendiri sampai melupakan keberadaanya. Sungguh kejam paman-paman ini, batin si bayi miris.

"Hweeee . . Hweeee"

Junmyeon yang lebih pekapun mengalihkan perhatianya ke arah si bayi malang. "Dia nangis xing, cup cup bayi manis diam ya, nanti paman kasih mobil-mobilan yang limited edition kalau kamu diam, okay?" junmyeon berjongkok didepan kardus itu, melihat si bayi dengan jarak lebih dekat.

"Dududu. . Mbrrrrr," ajaib, si bayi menghentikan tangisanya dan kini berganti meniup-niup bibir dengan lucunya, menatap kearah junmyeon dengan kedua bola mata yang berair membuat junmyeon gemas sendiri.

"Tatatatata..."

"Xing, sini deh lihat. Bayinya lucu" ujar junmyeon dengan nada takjub, entah inisiatif dari mana tangan junmyeon terulur mengusap lelehan liquid yang berada diujung mata si bayi.

Yixing menatap interaksi antara junmyeon dan bayi itu dengan pandangan ragu, sebelum ahirnya dia ikut berjongkok disamping junmyeon untuk melihat si bayi lebih dekat.

"Mamamamama. ." Oceh si bayi saat pandanganya bertemu dengan manik cokelat yixing.

Junmyeon sontak tertawa geli, "Astaga, dia memanggilmu mama. Ha ha ha lucu sekali ya, mama" kata junmyeon sambil membuat mimik wajah menyebalkan.

Yixing mendengus. "Diam kau lucifer, dia hanya bayi, asal mengoceh saja tahu!" balas yixing yang tak terima dipanggil mama, lalu tak sengaja matanya menangkap selembar kertas yang terlipat disamping bantal si bayi. "Ada suratnya." yixing segera mengambil kertas itu.

Junmyeon ikut menatap kertas ditangan yixing dengan pandangan was-was. "Cepat baca," desaknya tak sabaran.

"Berisik," yixing melirik sinis kearah junmyeon, sebelum mengalihkan perhatianya lagi kepada si surat. Berdeham sejenak, yixing mulai membacakan apa yang tertulis didalam lembaran kertas warna hijau itu.

"Dear diary, nama bayi ini adalah Oh Sean anda bisa memanggilnya sean, 12 april adalah tanggal ulang tahunya, umurnya sudah genap satu tahun bulan kemarin, dan teruntuk siapapun yang menemukan bayi ini, saya mohon rawatlah bayi ini seperti anak sendiri. Beri dia cinta dan kasih sayang sepenuhnya, karena saya tidak bisa memberikanya cinta. Maafkan saya sudah meletakkan sean didepan rumah anda, karena sebelumya saya ingin meletakkanya didepan rumah tetangga anda, tapi saya urungkan karena feeling saya lebih yakin jika anda lebih mampu merawat putra saya. Sekali lagi maafkan saya, mungkin saat anda membaca surat ini saya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Salam cinta, ibu kandung sean."

Setelah membaca isi surat itu, entah mengapa yixing jadi merasa kesal campur sedih sekarang. Kesalnya kenapa tidak jadi diletakkan didepan rumah junmyeon saja sih, agar dia bebas urusan. Lalu sedihnya, yixing merasa kasihan melihat bayi ini, masih terlalu dini untuk menanggung masalah yang ditimpa oleh kedua orang tuanya.

Yixing menoleh kearah junmyeon. "Jun," panggilnya pelan.

"Hiks, y-ya hiks. ." oh ternyata junmyeon juga tak kalah baper dari yixing.

"Cepat ambil mobilmu, kita bawa bayi ini kekantor polisi."

See you in next chapter,