"Jun, kamu bisa ganti'in baju sean kan, aku mau pulang dulu buat siap-siap,"

Habis mandiin sean, yixing langsung naruh tubuh gempal sean yang masih terlilit handuk keatas karpet bulu, tepat didepan televisi kamar junmyeon.

"Kamu ada jadwal pagi?" junmyeon yang baru selesai memakai kemejanya langsung berjalan mendekati sean.

"Iya gitu," yixing milih-milih setelan baju sean, yang tadi pagi udah disusun rapi sama junmyeon didalam lemari kecil. Sampai ahirnya yixing jatuhin pilihanya sama sepasang baju bola lengan panjang berlabel arsenal, tim kesukaan junmyeon.

"Terus sean gimana?"

Junmyeon nerima baju yang dikasih yixing, setelah menaburi tubuh kecil sean sama bedak bayi, sekarang junmyeon mulai memakaikan sean baju walaupun agak susah sih, karena sean gerak-gerak terus nggak bisa diam.

"Nanti sean biar aku bawa ke agensi, setelah jam makan siang, aku anter dia ke café kamu. . Pokoknya setelah jam makan siang selesai itu giliran kamu yang harus jagain sean sampe jam makan malam. Gimana, deal?"

Junmyeon tampak berfikir sebelum dia mengangguk setuju, "Deal, kedengaranya ide bagus, terus setelah jam makan malam, kita ngurus sean bareng-bareng lagi"

"Setuju" sahut yixing cepat.

"Yaudah kalo gitu," balas junmyeon terus ngusel-ngusel hidungnya dipipi gembil sean. "Sean nanti yang nakal ya, kalo sama paman kunti. Sip?"

"Dududuudu . . " sean mengoceh senang sambil menepuk-nepukkan kedua tanganya.

Yixing mendengus. "Mana ada orang tua yang ngasih nasehat anaknya buat disuruh nakal, dasar otak kuaci" cibir yixing sambil ngegembungin pipinya sebal.

Junmyeon ketawa singkat. "Yaudah sana pulang, katanya mau siap-siap"

Yixing mengangkat bahu enteng, "Ini juga mau pulang kok, jangan lupa sekalian siapin perlengkapan sean ya jun,"

"Perlengkapan, perlengkapan apa?"

Yixing menepuk dahinya, "Astaga! Masa nggak tahu, ya popok, botol susu, bubur bayi, baju ganti, pokoknya itu deh. Taruh aja didalam tas" perintah yixing sebelum dia benar-benar melangkah pergi dari kamar junmyeon.

Junmyeon mengangguk paham, sebelum menggendong sean kemudian menyiapkan semua perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan.

~Baby Stranger~

Pemuda bermarga zhang berjalan dengan langkah tergesa memasuki gedung agensi, sesekali irish cokelatnya akan melirik ke arah jam yang melingkar dipergelangan tangan mungilnya.

"Aduh kita terlambat tiga puluh menit sean, pasti kakak-kakak NCT udah pada nungguin paman yixing deh diruang latihan" keluh yixing sambil membenarkan letak posisi sean yang berada didalam gendonganya, kecepatan langkah kakinya sedikit terhambat akibat beban tubuh sean dan tas ransel bayi yang tak kalah beratnya.

"Ini semua gara-gara si lucifer, yang salah nyiapin perlengkapan kamu. Bisa-bisanya dia masukkin semua baju-baju kamu kedalam tas, pokoknya kalo sean udah besar nanti jangan jadi kayak paman junmyeon ya! Jadi kayak paman yixing aja"

"Tatatatatatatata~" sean menepuk kedua tanganya semangat sebagai respon.

Keberadaan yixing dan sean cukup menyita perhatian banyak orang, yang tak sengaja berpapasan denganya di lobi gedung. Tapi namanya juga zhang yixing, dia sih cuek-cuek saja.

"Yixing!"

Yixing menghentikan langkahnya, terus menoleh kebelakang waktu dengar namanya dipanggil oleh seseorang. Yang ternyata adalah sahabatnya, sesama pelatih koreografer dance sepertinya.

"Joohyun, kenapa?" yixing melihat kearah gadis cantik berambut sepunggung yang dikucir kuda itu dengan tatapan bertanya, oh ayolah demi stocking karetnya bae joohyun yang sekarang lagi dipakai. Yixing sekarang lagi buru-buru tahu.

Joohyun, gadis bertubuh mungil itu menatap yixing dengan tatapan menyelidik. "Sejak kapan kamu punya bayi, dan kenapa kamu tidak memberi tahuku kalo kamu juga udah nikah sama baek. Xing! Kukira kamu itu sahabatku," joohyun melipat kedua tanganya didepan dada, meminta penjelasan.

"Dudududududu" oceh sean, seakan menanggapi pertanyaan joohyun dengan bahasanya sendiri.

Yixing menghela nafas, sebelum dia menimpali pertanyaan salah satu sahabatnya selain im yuna itu.

"Bae joohyun dengar, pertama ini bukan bayiku, kedua aku belum menikah. Setidaknya tanyakan saja pada si keparat byun itu, yang betah tinggal di US dan tak kunjung melamarku," bola mata yixing kembali bergulir melihat kearah jam tanganya. "Untuk masalah bayi ini, aku berjanji akan menjelaskanya padamu saat jam makan siang nanti, dan sekarang aku sudah terlambat dan sedang buru-buru asal kamu tahu. Daah cantik!"

"Tapi xing, zhang yixing! Astaga perhatikan langkahmu, kamu sedang membawa bayi!"

Yixing langsung pergi begitu saja, meninggalkan joohyun yang menahan kesal karena melihat sahabat mungil cendrung cerobohnya itu, berlari kesetanan menuju ke arah pintu lift.

Sampai didalam ruang latihan, yixing bisa bernafas lega saat melihat murid-muridnya sudah memulai latihan sendiri dengan chittaphon, sicheng dan jisung yang memimpin di depan.

"Sean sayang, paman yixing ngajar kakak-kakak ini dulu ya, sebentar kok. Sean duduk disini dulu ditemenin shaun the sheep"

Setelah ngambil bantal kecil dan boneka domba dari dalam tas, yixing mendudukan tubuh gempal sean dipojokan ruang latihan.

Dengan tawa kecil bayi berumur satu tahun itu langsung memegang boneka domba ditangan yixing dengan penuh semangat.

"Tatatatatatatata~"

Yixing ketawa singkat sebelum menciumi kedua pipi gembil sean dengan gemas, tanpa menyadari kalau sekarang semua penghuni ruang latihan sudah berhenti latihan, malah kini membuat sebuah kerumunan kecil dibelakang sang pelatih.

Dengan rasa kepo yang tinggi, mereka terus mengamati bagaimana interaksi pelatih mereka dengan seorang bayi kecil yang terlihat sangat lucu.

"Lucu banget sih coach dedek bayinya, jadi gemes pengen nyubit" anggota paling muda diantara mereka, yang berani bersuara pertama kali.

Yixing menoleh saat mendengar suara park jisung mengintrupsinya. Pemuda yang lahir pada tanggal tujuh oktober itupun membelalakan mata sipitnya, melihat semua anak didiknya bukanya melanjutkan latihan malah bergerombol dibelakangnya.

"Sedang apa kalian?" kata yixing sok galak. Lebih tepatnya digalak-galakkan.

"Jadi coach terlambat gara-gara ngurusin anak coach dulu, Uchh kasihan. Memangnya bapaknya kemana?" kata renjun polos.

"Ih renjun, jadi kamu belum tahu ya. Kan coach yixing ldr'an gitu sama pacarnya yang nggak jelas sekarang ada dimana," balas taeil antara polos atau bego beda-beda tipis.

Renjun ngangguk. "Kasihan ya coach, masih muda udah jadi single parent" habis ngomong gitu, mulut renjun langsung dibekap sama jeno.

Yixing menggigit bibir bawahnya kuat, dengan wajah yang memerah antara kesal dan malu.

"Dia bukan anak saya, dia itu ponakan saya. Udah sekarang mulai latihan lagi! Cepat cepat!, ten sampai mana gerakanya tadi?" yixing berdiri terus mengajak semua anak didiknya buat ngambil posisi masing-masing.

"Gerakan lima coach," yuta yang jawab pertanyaan yixing, mewakili ten yang malah asik ngobrol sama haechan.

Prak!

Pukulan rotan yang bertubrukan dengan lantai, menghasilkan suara yang begitu nyaring, membuat semua penghuni ruang latihan mematung seketika, ㅡminus yixing dan sean.

"POKOKNYA SAYA NGGAK MAU TAHU YA! Mulai sekarang berhenti main-main! Kalian tahu kan, kalo bentar lagi kalian akan debut?"

"Ya coach," sahut mereka serempak sambil nundukkin kepala takut-takut.

"Dan saya juga nggak mau tahu, hari ini pokonya kalian harus dapat gerakan lima belas, BISA?!"

"Bisa coach"

Yixing mengangguk angkuh, terus ngebalikkin badanya kedepan kaca, membelakangi anak-anak(?)

"Udah pemanasan kan?"

"U-udah coach," suara minhyung yang satu-satunya berani menyahut.

"Bagus, lee taeyong hidupin musiknya! Kita mulai dari gerakan dasar,"

~Baby Stranger~

Junmyeon lagi fokus meeting sama karyawanya, membahas launching menu baru yang akan diluncurkan sama cafénya ahir bulan ini.

"Saya setuju sama dessert yang diajukan chef kyungsoo dan chef mingyu, untuk makanan beratnya. Saya kira chef kai bisa menangani"

Junmyeon menutup proposal ditanganya, tanda jika rapat siang ini sudah berakhir.

Setelah mendapat persetujuan dari semua pihak, ruangan privat room rich café yang dipergunakan untuk meeting beberapa saat yang lalu mulai berangsur lenggang.

Lelaki bertubuh proposional itu melangkah keluar ruangan, sesekali irish kelamnya menatap ke arah jam mahal yang melingkar ditangan kirinya, jarum pendek menunjukkan jika jam makan siang sudah berlalu sedari dua jam yang lalu.

"Kok si kunti belum sampe sini juga ya, apa jangan-jangan terjadi sesuatu sama sean." junmyeon bergumam khawatir, sambil bawa ponselnya junmyeon memilih duduk disalah satu sofa cafe, dia bermaksud mau nelfon yixing.

"Heh baru sadar, kalo ternyata nyimpan nomor si kunti ada gunanya juga." sambil senyum simpul junmyeon coba menghubungi yixing, tapi boro-boro suara cempreng tetangganya yang terdengar di sberang sana, yixing malah tidak mengangkat panggilan junmyeon.

"Gak diangkat astaga, jangan-jangan emang bener lagi terjadi sesuatu sama sean," junmyeon gak nyerah buat menghubungi yixing.

"Bos jun, ini diminum dulu. Kayaknya bos jun lagi stres berat"

Park chanyeol, salah satu pegawai junmyeon dengan pengertianya naruh jus alpukat dimeja depan sang bos.

Dengar suara baritone milik chanyeol, junmyeon ngalihin perhatianya dari ponsel ke arah sang pegawai.

"Makasih chanyeol," balas junmyeon terus ngasih senyum tipis kearah si tinggi, sebelum nyeruput jusnya dikit.

"Sama-sama bos. Oh ya bos, saya kan sudah baik nih ya perhatian sama bos, ngasih minum walaupun bos nggak minta, jadi err gajian bulan depan kasih bonus saya ya bos, tapi serius saya nggak minta ini. Itu seiklasnya bos aja.. He he he"

Emang dasarnya chanyeol itu orangnya humoris, pengertian, tapi ada maunya.

Junmyeon menghela nafas karena udah hafal sama tabiat karyawanya itu. "Ya ya ya, udah sana balik kerja lagi. Bikin iritasi mata saya saja kamu disini, sana hush!" junmyeon ngibasin tanganya.

Chanyeol berlalu pergi sambil menggerutu "Untung situ bos, kalo nggak udah.."

Junmyeon nggak bisa dengar lagi gerutuan chanyeol yang sudah berlalu jauh. Lelaki pemilik tahi lalat kecil diatas bibir kanan itu balik berkutat sama ponselnya lagi, buat menghubungi si tetangga.

~Baby Stranger~

Selesai ngejelasin persoalan sean dan semua tetek bengeknya ke joohyun, begitu selesai yixing langsung melesatkan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke cafe junmyeon.

Yixing lagi migren sekarang, mikirin anak-anaknya(?) yang bentar lagi mau debut tapi masih belum bisa nguasai semua koreo, dan sekarang ditambah lagi masalah sean yang terus-terusan rewel diatas kursi khusus bayi.

"Sean ssst, diam dulu paman lagi nyetir sayang, bentar lagi kita sampe kepaman junmyeon kok. Cup cup"

"Hweeee. . Jujuju"

"Iya paman junmyeon, sekarang berhenti nangis ya?"

Yixing berusaha nenangin sean sambil fokus nyetir. Ya, tinggal satu belokan lagi kok mereka udah sampai ke cafe junmyeon.

Setelah sampai didepan rich café, yixing brentiin mobilnya gitu aja di parkiran terus ngambil sean ke gendonganya sambil nenteng tas bayi.

Udah masuk kedalam, sean masih belum berhenti nangis dan sukses bikin yixing bingung sendiri.

"Sean kamu apain sampe nangis gini?" junmyeon langsung nyamperin yixing dengan raut khawatir, waktu lihat pemuda berlesung pipi itu memasuki cafe.

"Nggak tahu jun, dari tadi rewel terus" yixing nyerahin sean kegendongan junmyeon. "Sean berhenti nangis dong sayang, kan ini udah sama paman junmyeon" kata yixing sambil usap-usap pipi sean yang memerah.

"Hweee hweeee"

"Sean cup cup, sean kenapa nangis? Hey ini udah digendong sama paman junmyeon" junmyeon juga berusaha nenangin tapi sean masih belum mau berhenti nangis.

"Jun, kamu nyium aroma sesuatu yang aneh nggak sih?"

"Aroma, aroma apa?"

"Nggak tahu, aku ngerasa dari dimobil tadi juga nyium aroma ini. Tapi nggak tahu, baunya aneh gitu"

Junmyeon mengerutkan dahi, "Jangan-jangan.."

Sontak mereka berdua mengendus ke arah sean, dan ternyata aroma sesuatu itu berasal dari sana.

"Sean poop" kata yixing sambil menepuk dahinya.

"Kamu gimana sih jadi orang tua bego banget, masa bayi poop aja nggak tahu" balas junmyeon yang langsung jalan menuju ke arah toilet, yixing ngikutin dibelakang sambil nenteng tas perlengkapan bayi.

"Kamu kok jadi nyalahin aku sih, mana kutahu kalo sean poop. Lagian dia juga nggak bilang malah nangis terus!" yixing menggembungkan kedua pipinya sebal.

Junmyeon mendudukan sean diatas wastafel, waktu mereka udah sampai di toilet.

"Udah kamu diem, sekarang gimana caranya gantiin popok sean." junmyeon menatap ke arah yixing lewat pantulan kaca didepanya.

"Ya tinggal dibuka aja, terus dibersihin itunya pake tisue basah. Beres!" yixing mengambil popok sama tisue basah dari dalam tas, terus diletakkin disamping sean. "Cepet buka" perintahnya ke junmyeon.

Junmyeon terlihat ragu, "Err kamu aja deh yang gantiin popoknya"

Yixing melotot lucu ke arah junmyeon sebelum dia memberi gestur silang memakai kedua tanganya.

"No! Jijik jun," ujarnya melas.

"Kamu kira aku nggak jijik" junmyeon menghela nafas.

"Hweeeeee jujujuju. ."

"Nah kan, sean bilang jujuju gitu. Berarti dia minta kamu yang harus gantiin popoknya!" yixing senyum lebar karena merasa sudah terbebas dari zona merah.

"Kok gitu!" junmyeon berseru tak terima sebelum sean kembali mengoceh disela-sela tangisnya.

"Yiyiyiyiyi. . Hweeee"

Junmyeon menyeringai. "Sekarang dia minta kamu yang harus gantiin popoknya,"

Yixing menengguk ludah kasar, "Nggak mau, aku nggak bisa sumpah!" elaknya lagi.

Junmyeon lagi-lagi cuma bisa menghela nafas, dia udah nggak tega sebenarnya ngelihat sean nangis kayak gitu, tapi junmyeon juga nggak bisa kalau harus membersihkan kotoran ugh, junmyeon lebih kearah jijik sebenarnya. Walaupun junmyeon juga pernah gantiin popok keponakanya pas lagi poop, waktu itu dia juga terpakasa karena minseok kakaknya lagi pergi sama eommanya, ninggalin kookie sama dia.

Tunggu?

Agh, kenapa junmyeon bisa lupa kalau dia punya kakak yang punya anak bayi. Astaga junmyeon, sepertinya kamu sudah mulai ketularan penyakit pikunya yixing, tck.

"Dil, pegangin sean bentar."

Junmyeon langsung ngambil ponselnya disaku celana. Begitu sean udah dipegangin sama yixing.

Yixing natap junmyeon dengan tatapan ingin tahu, walaupun dia sedikit kesal sih karena junmyeon tadi udah manggil dia kerdil. Huh dasar tiang listrik.

"Kamu mau nelfon siapa?"

"Minseok" junmyeon udah nempelin ponselnya di telinga kanan.

"Hah? Gila..." yixing menggelengkan kepalanya pelan waktu dengar jawaban junmyeon, sebenarnya yixing ingin sekali memukul kepala yang isi otaknya cuma sebesar biji kuaci itu menggunakan tangan cantiknya, ya kalau aja tangan yixing bisa mencapai kepala junmyeon, mengingat tinggi badanya saja hanya sebatas dada bawah junmyeon. Ahh, yixing benci itu.

"Nomernya nggak aktif," kata junmyeon tiba-tiba.

"Dasar otak udang, kalopun nomer kakak kamu aktif juga bakal kelamaan kalo dia kesini tuan kim junmen! Mikir dong!" geram yixing.

Junmyeon mendengus, "Terus sekarang gimana? Emangnya kamu mau gantiin popok sean, nggak kan?!" junmyeon berseru agak emosi.

"Bukanya aku nggak mau ya, aku emang nggak bisa! Kenapa nggak kamu aja?!"

"Kok kamu malah jadi nyolot!"

"Siapa yang nyolot, perasaan kamu yang duluan nyolot! Lucifer,"

"Kok kamu malah jadi ngatain aku, dasar kerdil. Untungnya dulu aku nolak kamu,"

Dengar ucapan junmyeon yang barusan, yixing jadi tambah emosi. "Kok kamu jadi bahas-bahas masa lalu sih!"

Junmyeon naikkin satu alisnya. "Kenapa? Mau marah? Nggak terima? Emang kenyataanya gitukan"

Yixing mengepalkan tanganya, dia udah siap-siap mau mukul wajah jelek lelaki keparat bermarga kim itu, kalau saja tidak ada seseorang yang masuk kedalam toilet.

"Bos junmyeon,"

"Kyungsoo!"

Yixing cuma melirik pemuda pendek (err maksudnya lebih pendek yixing sih sebenarnya) melalui ekor mata.

"Kalian sedang apa?" Pemuda bernama kyungsoo mendekat, menatap junmyeon, yixing dan sean secara bergantian. "Kenapa adik kecil ini nangis?"

"Kyung astaga, kamu bisa kan menggantikan popok bayi?" junmyeon yang pertama kali bersuara. Karena yixing malah sibuk menelisik baju chef yang kyungsoo pakai.

"Bisa bos!" jawab kyungsoo terus senyum sampai bibirnya berbentuk love.

Junmyeon bernafas lega, terus buru-buru nyerahin sean ke tangan kyungsoo. "Tolong gantiin popoknya sean ya, soalnya kita berdua nggak ada yang bisa." kata junmyeon sambil nyenggol bahu yixing.

"E-eh iya, tolong ya kyungsoo" balas yixing ikut berbelas kasih.

Kyungsoo senyum lagi, "Iya, tapi sebaiknya kalian keluar aja deh dari sini, dari pada nanti jijik" ujar kyungsoo.

"Sip, kita keluar" junmyeon langsung narik tangan yixing buat keluar dari toilet.

"Eh bos tunggu!"

Junmyeon berhenti diambang pintu sama yixing, menoleh ke kyungsoo lagi. "Ya?"

Kyungsoo menggaruk belakang kepalanya. "Err anu, ini semua nggak gratis lho bos. Gajian bulan depan tambahin bonus ya?"

Seketika raut wajah junmyeon yang tadinya dipenuhi oleh bunga-bunga bermekaran, langsung berubah menjadi flat.

"Ya, bulan depan bonus buat kamu. Ah tidak, maksudku untukmu dan untuk si park chanyeol. Udah ayo xing, kita keluar" kata junmyeon setengah bete, sebelum narik tangan yixing keluar dari toilet.

"Makasih bos jun!"

Ingatkan junmyeon untuk mencari pegawai yang berhati tulus setelah ini.

~Baby Stranger~

Sambil nungguin sean yang masih ditoilet sama kyungsoo. Junmyeon mengajak yixing ke ruang kerjanya, yah dari pada nungguin didepan pintu toilet, mending diruangan junmyeon aja yang ada AC nya.

"Ruangan kerja kamu lumayan ya, design interiornya bagus" komentar yixing waktu udah masuk kedalam.

Junmyeon duduk disofa, nyenderin punggungnya yang lumayan pegal. "Suka?"

Yixing yang lagi fokus mengamati miniatur piramidapun menoleh ke arah junmyeon, ya disain ruangan junmyeon itu bertema arabian. Makanya yixing suka.

"Yeah lumayan, unik aja kesanya" kata yixing terus jalan lagi ke arah deretan guci-guci yang disusun rapi dilemari kaca, masih ala-ala arabian. "Kamu beli ini semua impor atau lokal?"

"Impor lah, langsung dari saudi arabian, tapi sebagaian juga ada yang dari turkey" junmyeon melipat kedua tanganya didepan dada, pandangan matanya gak beralih dari pergerakan sang tetangga.

"Kamu nggak berubah ya dari dulu, masih tetep suka hal-hal yang berbau arabian." Yixing berhenti disalah satu rak kaca, dia langsung noleh ke junmyeon sambil senyum tipis. "Saking maniaknya, sampai-sampai dulu direkomendasiin sama guru seni, buat ngambil peran jadi Aladdin. Di teater musikal tahunan sekolah"

Junmyeon ketawa renyah. "Kamu masih ingat ya?"

Yixing mengangguk antusias. "Aku masih menyimpan rekamanya,"

"Ohh, nggak heran. Aku kira penyakit pikunmu udah sembuh"

Yixing mengerucutkan bibirnya sebal. "Ishh, Siapa juga yang pikun!" Ujar yixing. "Lagi pula, aku juga ikut berpartisipasi kok diteater musikal waktu itu."

"Masa? Dapat peran apa?" tanya junmyeon dengan tatapan ingin tahu. Soalnya junmyeon nggak ingat kalau yixing juga ikut dalam acara tahunan itu. Junmyeon juga nggak pernah lihat sosok tetangganya itu diruang latihan.

Yixing langsung membuang wajahnya yang memerah ke arah lain, dia kelihatan malu gitu sama junmyeon. "N-nggak, nggak penting. Bukan apa-apa"

"Xing?"

Yixing memutar bola matanya malas. Sebelum menyahut, "Apa?"

"Jangan bilang, yang jadi pohon kurma itu... kamu?"

Mendengar ucapan junmyeon, yixing sontak menutupi wajahnya yang merona malu. Oh, andai saja disitu ada lubang buaya, pasti yixing dengan senang hati akan menenggelamkan dirinya disana dan nggak akan pernah muncul lagi didepan junmyeon.

Ngomong-ngomong soal peran itu, yixing jadi ingat sama perjuanganya. Untuk dapetin peran itu susah banget perjuanganya, yah walaupun cuma jadi pohon kurma.

"Tapi memang sudah nggak ada peran lagi yixing, semua peran sudah terisi semua sama hasil casting kemarin."

"T-api tapi bu, kemarin iching kan nggak bisa ikut casting, iching kemarin nggak masuk sekolah, iching sakit. Bu guru please~ kasih iching peran di teaternya junmyeon. Jadi apapun iching mau kok!"

Buguru mijit plipisnya pelan, sebelum dia ingat kalau masih ada dua peran yang belum di ambil sama siswa lain. "Benar kamu mau jadi apa aja? Soalnya ibu guru baru ingat kalo masih ada dua peran yang masih kosong."

"Iya mau~" yixing loncat-loncat bahagia, ahirnya dia bisa ikut partisipasi satu teater sama junmyeon si kapten tim basket, plus pangeran sekolah. Yes!

"Jadi mumi atau jadi pohon?"

"Hah? K-kok"

"Iya yixing, cuma dua peran itu yang masih tersisa. Jadi kamu pilih jadi mumi apa pohon?"

"Emm, ya udah deh bu guru. Iching pilih jadi pohon aja dari pada jadi mumi, kan serem"

"Pftt, jadi benar? Kamu jadi pohon kurma? Hahahahahaha! Kerdil kerdil, tapi cocok juga sih kamu dapat peran itu, sesuai ha ha ha" junmyeon ketawa sampai mau mati rasanya.

Yixing kesal, iya yixing memang paling nggak suka kalau junmyeon udah bahas-bahas masa lalu. Karena masa lalu yixing itu, nista semua isinya.

"DIAM!?" yixing ngebentak.

"Ha ha ha!"

"Jangan salahin aku ya, kalo mulut kamu aku sumpal pake sepatu!"

Yixing nggak main-main waktu ngomong gitu, buktinya sekarang dia lagi ngelepasin salah satu sepatunya.

Junmyeon masih belum berhenti ketawa, sampai nggak sadar kalau yixing udah bersiap-siap mau nyumpal mulutnya pakai sepatu. Tapi naas, mungkin dewi fortuna hari ini lagi nggak berpihak pada yixing.

Buktinya baru jalan beberapa langkah, yixing malah jatuh tersandung pinggiran karpet tebal yang ada dibawahnya. Hilang keseimbangan, yixing terjatuh yang sialnya kini malah menimpa tubuh junmyeon yang lagi duduk sandaran disofa.

CUP

Bibir bertemu dengan bibir, dengan mata yang saling terbelalak kaget. Si pemuda yang lebih kecil menumpukan kedua tanganya dibahu yang lebih besar, sedangkan yang lebih besar meletakkan kedua tanganya di pinggang yang lebih kecil.

Alih-alih ingin menyumpal mulut junmyeon dengan sepatunya, sekarang dia malah menyumpal mulut junmyeon dengan bibirnya, membuat siapa saja yang melihat posisi keduanya akan berfikir yang tidak-tidak. Seperti kyungsoo -minus sean yang baru saja masuk ke ruangan junmyeon.

"Astaga!" pekik chef mungil itu kaget, tanganya segera menutupi kedua mata sean. Mungkin saja suara pekikaknya terlalu berlebihan, sampai membuat kedua orang yang berada disofa melepaskan tautan bibirnya.

Bukannya apa, kyungsoo sekarang malah jadi merasa tidak enak sama bos nya. "M-maaf, sepertinya aku datang diwaktu yang nggak tepat. Silahkan dilanjutkan lagi" kyungsoo udah mau keluar lagi sama sean, tapi junmyeon buru-buru nyegah.

"Jangan keluar! E-eh maksudnya bawa sean kesini." Junmyeon jadi salah tingkah sendiri. Begitu juga dengan yixing.

"Y-ya udah, aku mau balik lagi ke agensi. Bhay!" selesai ngomong gitu, yixing langsung mlesat secepat kekuatan flash. Pergi meninggalkan junmyeon yang masih bisa mengecap rasa manis yang tertinggal dibibirnya.

Junmyeon sontak memegangi dadanya, kok yang didalam sana ada yang berdebar-debar. Astaga, jangan-jangan

"Bos jun?"

"E-eh kyungsoo"

"Ini sean nya, saya mau lanjut lagi kedapur."

"Ahh iya, terimakasih ya"

~Baby Stranger~

Habis selesai makan malam, JunXingSe sekarang lagi kumpul bareng diruang tengah rumah yixing.

Mereka udah sepakat buat ngelupain kejadian nista, yang terjadi diruangan junmyeon tadi siang omong-omong.

Diatas karpet bulu warna ungu lembut, mereka bertiga duduk lesehan sambil mainan cat minyak sama kanvas, cuma junmyeon saja sih yang dari tadi kelihatan respect banget sama sean yang lagi belajar melukis, walaupun hasilnya freak gitu tapi yah namanya juga debay jadi wajar yakan.

Sedangkan pemuda yang lebih kecil juga sesekali akan menanggapi saat sean memberinya cat minyak, setelahnya yixing akan fokus lagi kehamparan layar ponselnya yang kelihatanya lebih menarik dari pada main sama sean.

"Tatatata!" sean nunjukkin cat minyak warna hijau ke yixing sambil narik-narik ponselnya yang sukses bikin yixing bete, padahal yixing kan lagi chat'an sama pacarnya.

"Hijau, ini warnanya hijau.. Udah sean main sama juju aja sana, yiyi lagi sibuk" hambis ngomong gitu tanpa rasa bersalah yixing langsung pindah keatas sofa, terus senyum-senyum sendiri sama ponselnya.

"Jujujujuju~"

Seakan ngadu sama junmyeon, sean merangkak ke arah lelaki bermarga kim itu dengan mata yang berkaca-kaca. Seolah sedang mengadukan perbuatan yixing.

"Sean main sama paman juju aja ya, nggak usah main sama orang labil" cibir junmyeon sambil menekan bagian kata labil ke arah si pemuda zhang.

Yixing yang lagi dalam mode peka pun ngerasa tersindir sama ucapan junmyeon barusan.

"Yew apa sih, yang nggak punya pacar sirik aja." yixing ngomong gini tanpa menoleh sedikitpun ke junmyeon.

Junmyeon mendecakkan lidah, terus menggendong sean yang kayaknya udah ngantuk, nyariin botol susunya.

"Heh just announce aja ya, bentar lagi sean juga bakal punya mama baru kok, tinggal tunggu tanggal main nya aja sih. Ya kan sayang, sean udah nggak sabar punya mama baru ya? Uchh gemesnya anak papa" balas junmyeon sambil jalan ke sisi meja dekat yixing, ngambil botol susu sean.

Sontak yixing ketawa sumbang, dengar ucapan junmyeon. "Really? Aku nggak yakin ada cewek ataupun cowok yang mau sama err bujang lapuk kayak kamu jun, yeah you know lah.. ha ha ha"

Junmyeon ngedikkin bahunya acuh. "Ada kok,"

Yixing berhenti ketawa, dia ngusap matanya yang sampai berair. "Siapa?"

Tiba-tiba tanpa diduga junmyeon natap yixing lekat-lekat, sebelum dia bilang "Kamu" kata junmyeon pelan, plus pakai suara husky nya.

Yixing membelalakan matanya lucu, dengan jantung yang berdegub kencang. Ada apa dengan jantungnya, oh yixing please, kamu jangan baper sama gombalan receh semacam itu. Ingat! kamu udah lupain junmyeon sejak lama okay. Junmyeon itu brengsek, dia pernah nyakitin kamu.

Habis ngomong gitu, junmyeon buru-buru pergi ke kamar yixing untuk menidurkan sean, yang udah lelap banget digendonganya.

Yixing baru bisa menguasai dirinya lagi, waktu junmyeon udah melangkah menaiki anak tangga.

Dia buru-buru menyahut. "Ih nggak sudi ya, lagian akukan musuh kamu! Udah taken lagi. Amit-amit suka sama titisan lucifer kayak kamu, I hate you kim lucifer junmyeon! Aku benci kamu selama lama lama lamanya!"

Yixing teriak ke junmyeon yang udah sampai didepan pintu kamarnya di lantai dua.

Dengar teriakan yixing, junmyeon langsung noleh kearah si pemuda bermata cokelat, sebelum tanya. "Kamu pernah dengar istilah nggak?"

"Istilah, istilah apa?"

"Kata orang, benci sama cinta itu beda-beda tipis. Dulu kamu pernah jatuh cinta sama aku kan, jadi hati-hati. Siapa tau aja sekarang kamu malah CLBK sama aku xing" kata junmyeon disertai tawa renyah yang khas, junmyeon ngedipin satu matanya ke yixing. Yang langsung pemuda bermarga zhang balas dengan gestur pura-pura ingin muntah.

"Eyy! udah dibilang nggak usah bahas-bahas masa lalu lagi, masih aja diungkit-ungkit. Apa tadi? CLBK sama situ? Duh nggak usah mimpi deh situ ya! Sorry-sorry aja. Pacar aku lebih oke dari kamu!" sungut yixing.

Junmyeon cuma ketawa singkat nanggapin balasan si tetangga, sebelum balikin badan masuk kamar, buat nidurin sean.

Sosok tinggi junmyeon udah hilang dibalik pintu kamar.

Yixing ngerjapin matanya beberapa kali, sebelum dia menunduk lesu menatap wallpaper yang ada dilayar ponselnya.

"Bee.. Aku mohon kamu cepet pulang."

Yixing menatap rindu sosok pemuda bermata sipit, yang didalam foto itu lagi nyium pipinya dari belakang, yixing masih ingat jelas. Foto itu dia ambil waktu hari valentine tahun lalu.

"Aku takut Bee, aku takut yang junmyeon bilang tadi benar-benar jadi kenyataan. Aku takut kalo terus-terusan didekat junmyeon aku bakal CLBK sama dia. Aku nggak mau, dia dulu udah jahat sama aku."

Habis ngomong gitu, yixing jadi ngerasa sedih. Selain dia udah kangen banget sama pacarnya, dia juga ngerasa takut jatuh lagi kedalam lubang yang sama. Yaitu jatuh cinta sama orang yang salah.

TBC.

makasih yang udah ninggalin jejak..