Disclaim : All chara punyanya J. K. Rowling ya, saya cuma pinjem nama aja
Pairing : Drarry n lainnya, jadi jelas ini ada unsur yaoi. Buat yang anti ga usah baca aja
Setting: Tahun ke-6, kurang lebih kaya di novelnya ya. N ada sedikit perubahan karena nyesuai-in ama cerita aku.
Warning: Ini ff boyboy yg ga suka jgn baca. typo banyak.
Malam itu Hermione tiba-tiba terbangun karena mendengar rintih kesakitan dari sebelah tempat tidurnya. Lucia yang tidur di sebelahnya tampak meringkuk sambil menahan sakit. Hermione bergegas bangkit dan menghampiri Lucia.
"Lucia, ada apa? Apa yang sakit?" tanya Hermione cemas sambil berusaha membangunkannya. Tubuh Lucia terasa panas sepertinya terserang demam.
"Mione, hh... maaf membangun... hh... kanmu. Kepalaku pus.. hh..ing." jawab Lucia sedikit terengah.
"Kita ke Hospital Wing sekarang. Aku akan mengantarmu." Hermione membantu Lucia bangun dan memakai mantelnya kemudian memapahnya keluar kamar.
suasana asrama sangat sepi karena semua anak sedang terlelap di tempat tidurnya masing-masing, terang saja karena ini sudah lewat tengah malam. Keluar melalui lukisan The Fat Lady yang marah-marah karena tidurnya terganggu. Mereka berjalan di koridor gelap hanya dengan penerangan dari obor yang tertancap di dinding.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh Snape yang sedang berpatroli. "Tengah malam begini masih keluyuran di luar asrama. Potong 50 po..."
"Maaf, Profesor Snape, tapi ini darurat. Lucia sakit dan dia semakin lemas, saya akan mengantarnya ke Hospital Wing." potong Hermione sebelum Snape sempat memotong poin dari Gryffindor.
Snape mengarahkan pandangannya pada Lucia. Sekilas tampak raut cemas dan khawatir dari wajahnya tapi dengan segera berganti dengan wajah datar lagi. "Biar aku yang mengantarnya, Granger, kau bisa kembali ke asramamu." kata Snape mengambil alih Lucia dari pegangan Hermione.
Hermione hanya mengangguk dan berbalik untuk kembali ke asrama. Baru beberapa langkah didengarnya Snape berkata, "10 poin untuk Gryffindor.", membuat Hermione kaget tapi Snape sudah berjalan menjauh sambil menggendong Lucia a la bridal style karena Lucia tidak sadarkan diri.Snape berjalan cepat menuju Hospital Wing sembari mengayunkan tongkat sihirnya membuat sebuah siluet keperakan berbentuk rusa betina yang berlari menjauh. Setibanya di rumah sakit itu ia langsung membaringkan Lucia di tempat tidur dan mengarahkan tongkat sihirnya ke tubuh Lucia. Snape sedang memeriksa keadaan Lucia dengan tongkatnya.
Tidak lama kemudian MadamPomfrey, matron rumah sakit muncul dengan pakaian tidurnya. "Astaga Severus, ada apa dengan MissMalfoy?" tanyanya.
"Sepertinya hanya demam. Aku akan membuatkan ramuan untuknya." jawab Snape berbalik pergi meninggalkan MadamPomfrey yang tertegun melihat kecemasan dari wajahnya.
"Tidak biasanya Severus bisa begitu perhatian pada murid." gumamnya pelan. Memastikan selimut Lucia sudah terpasang baik Poppy, matron rumah sakit itu merapalkan mantra penghangat agar Lucia tidak kedinginan. Kemudian dilihatnya Draco Malfoy masuk ke Hospital Wing dengan wajah cemas yang sama seperti Snape membuatnya benar-benar penasaran dengan sosok baru ini.
"Selamat malam, Madam. Profesor Snape mengabari saya kalau Lucia sakit. Bagaimana keadaannya?" tanya Draco sopan. Rupanya selain mengabari Poppy, patronus milik Snape tadi juga di kirim pada Draco.
"Jangan khawatir, Mr Malfoy. Hanya terserang demam, Severus sedang menyiapkan ramuan untuknya." jawab MadamPomfrey menenangkan Draco.
Snape kembali 10 menit kemudian membawa sepiala penuh ramuan yang masih berasap, mencoba menyadarkan Lucia agar meminum ramuannya. Draco membantu memegangi Lucia untuk duduk dan meneguk ramuan itu. Cukup puas dengan jumlah ramuan yang berhasil di minum, Severus menyimpan pialanya di atas nakas di samping tempat tidur.
"Terima kasih, Poppy. Maaf,merepotkanmu. Malam ini Lucia menginap di sini." kata Severus membuat MadamPomfrey jadi berpikir siapa sih yang jadi matron di sini, seharusnyakan dia yang memeriksa pasien dan menyiapkan obat. Dengan sedikit dongkol ia kembali ke kamarnya.
"Father!" panggil Lucia pelan.
"Jangan bangun dulu! Berbaringlah, demammu cukup tinggi." perintah Severus. "Draco, kau temani Lucia malam ini." tambahnya pada Draco sambil menyihir sebuah kursi empuk untuknya. Draco hanya mengangguk mengiyakan. Setelah itu Snape langsung pergi.
Draco menarik kursi itu mendekati tempat tidur Lucia dan duduk kemudian mengambil tangan Lucia dan menggenggamnya. "Jangan buat dia khawatir seperti itu lagi, Lucia. Belum pernah aku melihat Severus sepanik itu."
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu dan Father khawatir." Lucia menjawab.
"Memang apa sih yang sedang kau pikirkan? Twinkie bilang kau tidak boleh banyak pikiran." tanya Draco lagi. "Berani sekali Peri Rumah itu menasehatiku." gerutunya.
"Hahaha... Twinkie itu yang mengasuhku sejak bayi, Draco. Jadi pastinya dia sangat tahu tentangku. Tidak seperti Mumapalagi Dad" Lucia tertawa pelan tapi kemudian murung lagi.
"Mereka punya alasan kuat untuk melakukan itu, Lucia. Sekarang sebaiknya kau tidur lagi. Aku tidak mau kau tambah sakit. Severus bisa membunuhku nanti." perintah Draco mencoba membuat Lucia mengalihkan pikirannya.
Lucia yang juga tidak ingin membuat Draco khawatir mengerti tujuannya. Ia segera memejamkan matanya untuk tidur. Tidak butuh waktu lama karena Snape memang sudah mencampur obatnya dengan Ramuan Tidur Tanpa Mimpi tadi.
Flashback
Draco sedang duduk di dalam kamarnya sambil membaca buku. Ia sebenarnya malas berada di manor ini karena Voldemort dengan seenaknya telah menjadikan Malfoy Manor sebagai markasnya beserta para Death Eater. Walaupun Lucius sendiri masih berada di Azkaban bersama beberapa Death Eater yang tertangkap saat penyerangan di Departemen Misteri Kementerian Sihir kemarin.
Voldemort dengan mudahnya bisa memaksa ibunya untuk menjadikan rumah mereka sebagai markas. Satu minggu kemudian komplotan mereka itu berhasil membebaskan Lucius dan Death Eater lainnya. Lucius pulang dengan keadaan cukup lemah. Hal itu disebabkan oleh kutukan yang harus Lucius terima dari Voldemort sendiri.
Voldemort marah besar karena tidak berhasil mendapatkan bola ramalan. Penyihir jahat itu murka karena tidak bisa mendengar isi ramalannya. Voldemort melakukan Legilimency pada Lucius. Hal ini menyebabkan ada satu rahasia penting yang bocor. Padahal Lucius adalah seorang Occlumens yang handal namun dikarenakan kondisinya yang menurun ia jadi sedikit lengah. Untung saja Lucius segera sadar sehingga tidak semua rahasianya terkuak.
Satu informasi penting inilah yang mengubah hidup Draco dan keluarganya. Saat itulah Draco di paksa untuk menjadi seorang Death Eater dan di beri tugas oleh Voldemort. Saat itu jugalah ia bertemu dengan Lucia. Seorang gadis seusia dengannya datang bersama seorang Peri Rumah melalui jaringan FlooGadis yang sangat cantik, rambut pirang platina panjang yang serupa dengan milik Draco dan Lucius. Mata birunya seperti milik Narcissa.
Draco hanya menatap gadis yang langsung di peluk oleh ibunya itu. Masih merasa bingung dengan keberadaannya yang tiba-tiba.
"Reuni keluarga yang mengharukan." kata Voldemort dingin. "Seharusnya kalian berkumpul seperti ini sejak dulu." sambungnya lagi.
Draco memandang tajam kedua orangtuanya, bertanya apa maksud dari perkataan yang Voldemort lontarkan. Dia benar-benar bingung. Tapi Narcissa memberinya tatapan jangan-tanya-nanti-kami-jelaskan. Draco mengerti jadi ia memasang wajah es-nya lagi.
"Dark Lord, maafkan kami! Aku tidak pernah bermaksud menyembunyikan anak ini darimu. Aku menyingkirkannya karena dia tidak pantas berada di keluarga Malfoy. Seorang anak yang sakit-sakitan tidak seharusnya ada." Lucius berusaha memberi penjelasan pada Voldemort.
"CRUCIO" Voldemort merapalkan kutukan pada Lucius yang membuatnya langsung tersungkur dan kesakitan di lantai manor.
"Beraninya kau membohongiku. Aku memberi putramu tugas yang harus dia selesaikan. Kalau sampai gagal dia akan mati di tanganku. Putrimu yang kau sembunyikan selama ini akan menjadi mempelaiku. Itu kehormatan untukmu, Lucius. Jangan coba-coba untuk bertindak bodoh lagi." perintah Voldemort.
"Aku tidak akan berani untuk menentangmu Dark Lord." Lucius membungkukkan tubuhnya di hadapan Voldemort sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya akibat kutukan Cruciatus yang dilontarkan Voldemort tadi.
Voldemort mendecih kemudian mengibaskan jubahnya dan pergi dari situ. Narcissa segera menghampiri Lucius membawanya ke kamar bersama Draco dan Lucia. Narcissa membaringkan Lucius di tempat tidur kemudian berbalik menghadapi Draco yang masih menunggu penjelasan sementara Lucia menemani Lucius di sampingnya.
"Draco, Mum akan menjelaskan semuanya padamu. Tolong dengarkan dulu dan jangan menyela." kata Narcissa cepat karena sepertinya Draco mencoba untuk bertanya. Sebelumnya Narcissa memantrai kamar agar tidak ada yang bisa mendengarkan pembicaraan mereka.
"Draco, Lucia adalah saudara kembarmu. Mum dan Dad terpaksa memisahkan kalian karena adanya ramalan yang muncul saat kalian lahir. Lucia diramalkan akan menjadi mempelai dan ibu dari para penguasa kegelapan. Karena itulah Dumbledore meminta Mum dan Dad untuk menyembunyikan Lucia. Healer yang membantu persalinan Mum dimodifikasi ingatannya sehingga hanya kau yang diingatnya. Hanya Dumbledore dan Severus yang tahu keberadaan Lucia." Narcissa mulai bercerita dan dengan patuh Draco belum mengajukan pertayaan apapun jadi cerita dilanjutkan. "Lucia kami kirim ke Perancis dan tinggal di sana selama ini. Hanya Twinkie yang menemaninya. Setiap kami pergi ke Perancis, kami mengunjunginya. Severus adalah ayah baptis kalian jadi sesekali ia juga mengunjungi Lucia dan mengajarinya berbagai hal."
Narcissa berhenti sehingga Draco merasa sudah boleh bertanya. "Kenapa hal ini dirahasiakan dariku?" tanya Draco.
"Kami takut rahasia ini terbongkar. Kami akan memberitahumu semuanya saat kau sudah siap." jawab Narcissa pelan.
"Mum, sudah sejak kecil aku belajar Occlumency karena kita adalah mata-mata Orde Phoenix dan selama ini aku bisa menjaganya agar tidak ketahuan. Tapi kenapa hal sepenting ini aku tidak boleh tahu?" Draco bertanya lagi dengan gusar.
"Kami takut kau tidak bisa menerimanya karena selama ini kau terbiasa menjadi anak tunggal." kali ini Lucius yang menjawab.
"Alasan yang tidak masuk akal." sela Draco cepat.
Lucia bangkit berdiri dari sisi Lucius kemudian mendekati Draco. "Tolong maafkan Mum dan Dad, Draco. Mereka mengira kau adalah anak manja yang akan mengamuk kalau tahu punya saudara untuk berbagi." kata Lucia sambil tersenyum.
"What?"
"Lihat, kau marah kan? Kalau kau tidak merasa manja tidak perlu marah begitu." tawa Lucia kemudian memeluk Draco. "Sudah lama sekali aku ingin bisa memelukmu seperti ini. Selama ini aku kesepian."
Amarah Draco dengan cepat surut. Membalas pelukannya kemudian dikecupnya dahi Lucia. "Kalau saja aku tahu lebih cepat."
"Belum terlambat untuk itu, Draco. Kalian bisa mulai saling mengenal mulai sekarang tapi yang terpenting adalah tugas yang Dark Lord berikan padamu." sela Lucius.
"Dad tenang saja, aku sudah punya rencana." jawab Draco.
"Kau harus hati-hati, jangan gegabah." pesan Lucius. Draco hanya mengangguk kemudian mengajak Lucia keluar dari kamar orangtuanya.
flashback end
Draco tertidur di sofa yang di sihir oleh Severus sampai kemudian terbangun saat sinar matahari mulai menyapa. Dilihatnya Lucia masih tertidur nyenyak. Setelah memastikan Lucia baik-baik saja ia kembali ke asrama Slytherin untuk mandi dan berganti pakaian.
tbc or ...
a/n : maaf ya lama update-nya. tolong dimaklumi karna hape-nya rebutan ma anak aku. trus pengennya sih ga bikin ff panjang2 tapi ternyata nuangin ide di otak ke tulisan itu sesuatu banget. jadi maaf ya klo ngerasa ni ff makin ngawur. masih minta masukkannya ya... n thank you banget buat yang udah mau baca ff gaje ini.
