Naruto by Masashi Kishimoto.
Warning: Incest, OOC, Harem, Lemon? Smut? Lime?, AU, Typo, Etc.
Cast: Naruto, Kushina, Naruko, and Sara
.
..
...
Uzumaki Family
...
..
.
Chapter 2
Hubungan Kushina dan Naruto semakin erat, ditambah mereka semakin menambah intensitas hubungan seks mereka. Kushina sendiri sangat senang dengan hubungannya dengan Naruto, bahkan beberapa kali Naruto mengajaknya untuk makan malam diluar. Dia tidak tau kalau Naruto mempunyai sisi romantis yang ditujukan kepada dirinya.
Namun hubungan mereka tercium oleh Naruko, anak pertama dari Kushina. Seorang gadis berambut pirang panjang dengan tubuh yang hampir mirip dengan tubuh Kushina. Gadis itu beberapa kali memergoki Kushina dan Naruto yang sedang berhubungan seks di ruang keluarga, Naruko tidak menyangka akan menemukan hal seperti itu didalam keluarganya.
"Kaachan..." gumam Naruto, ia terus menciumi wajah ayu Kushina. Saat ini mereka berada di dalam kamar milik Kushina, wanita itu meminta Naruto untuk tidur didalam kamarnya, guna untuk menemaninya saat tidur di malam hari. "Kau tambah cantik saja."
Wajah Kushina mulai diselimuti rona merah, ia malu akan pujian yang dilontarkan oleh Naruto. "Bodoh, aku sudah tua!"
Naruto malah tersenyum, kemudian ia mencium bibir Kushina dengan lembut, lidah mereka mulai menyatu serta saling bertukar saliva. Kushina sendiri sangat menikmati perlakuan manis yang diberikan oleh putranya itu.
Disisi lain, Naruko terlihat berdiri dibalik pintu ruang keluarga tersebut. Dirinya tidak menyangka kalau Kushina—Ibunya itu memiliki hubungan spesial dengan adik laki-lakinya. Ia berpikir, apa hubungan sedarah seperti yang dilakukan oleh Naruto dan Kushina itu diperbolehkan? Hal tabu tersebut apa boleh dilakukan?
Apa dirinya boleh berhubungan dengan Naruto?
Ya, semua pemikiran itu ada dikepala Naruko. Hatinya bimbang karena harus memilih melewati batas normal atau tidak. Jujur saja, ia mencintai sang adik laki-lakinya itu. Ia ingin menyatakan perasaannya, tapi ia tidak bisa karena itu adalah hal yang tabu.
Gadis itu pun berlari menuju kamarnya, ia mengunci pintu kamarnya, kemudian melompat ke kasur miliknya. Wajahnya sudah merah merona saat dirinya memikirkan adik laki-lakinya yang sedang bercinta dengan Ibunya. Namun dirinya tidak sadar jika salah satu tangannya mulai meraba bagian intim tubuhnya sendiri.
Naruko memasukkan tangannya ke dalam celana yang dipakainya, ia menyentuh area kewanitaannya serta menggosoknya dengan pelan. "Ahnnn..." Desahannya lolos dari bibir seksinya, ia pun menggigit bibir bawahnya untuk meredam desahannya tersebut. Ia membayangkan bagaimana gagahnya Naruto saat menyetubuhi Kushina.
Dirinya juga membayangkan jika saja Naruto memasukkan kejantanannya yang besar itu kedalam tubuh Naruko, maka gadis itu akan sangat puas. Naruko pun mulai melepas satu persatu pakaian bagian bawahnya hingga tidak menyisakan apapun. Area kewanitaannya sudah basah akibat lendir yang keluar dari tubuhnya.
Ia ingin dipuaskan oleh Naruto—adiknya yang seksi itu, ingin sekali digagahi olehnya. Dirinya kembali menggosok vagina miliknya dengan pelan, bibir bawahnya kembali digigit, ia tidak ingin ada yang mendengar desahannya. Sementara tangan putihnya yang lain mulai meremas payudaranya sendiri, wajahnya sudah merona akibat masturbasi yang diperbuatnya.
"Naruko, apa kau ada didalam?"
Dengan cepat, Naruko mengambil celana dalam serta celana pendek berbahan Jeans untuk dipakainya. Ia tidak mengira kalau Ibunya akan mengetuk pintu kamar miliknya. "Ada apa Kaasan?" tanya Naruko yang membuka pintu kamarnya, ia melihat sang Ibu yang berdiri dengan wajah yang tidak bersalah sama sekali setelah dia memadu kasih dengan Naruto.
"Tidak, aku hanya khawatir jika kau belum pulang, itu saja." Balas Kushina, ia kemudian masuk ke dalam kamar Naruko. "Hey, apa kau tidak mau menceritakan kuliahmu kepada Kaasan?" Wanita paruh baya itu duduk di ujung tempat tidur milik Naruko, ia tersenyum kepada anak pertamanya itu.
"Tidak ada yang spesial disana, mungkin hanya kehidupan para Mahasiswa yang biasa saja." Naruko menutup pintu kamar itu, ia kemudian berjalan dan duduk disamping Kushina. "Aku agak bosan sih, tapi mau bagaimana lagi?"
Tangan Kushina yang menyentuh tempat dimana Naruko tidur itu sedikit terkejut dengan sebuah cairan yang membasahi kasur tersebut, wanita tersebut mengernyitkan dahinya bingung. "Ngomong-ngomong, ini cairan apa Naruko?"
Gadis pirang itu terkejut, ia baru menyadari kalau cairan itu dari vaginanya yang saat ini sedang basah. "Hah? Mungkin itu air liurku tadi saat tidur." Ia terus menatap Kushina gelisah, ia takut jika ketahuan sedang bermasturbasi menggunakan tangannya. Tapi... entah kenapa Kushina nampak mempesona dimata Naruko. Ibu rumah tangga itu terlihat sangat cantik, dan... seksi.
Tanpa sadar, Naruko menyentuh pipi putih Kushina, membuat sang empunya mengernyitkan dahinya bingung. "Naruko?"
Seolah tuli, Naruko mendekatkan wajahnya ke Kushina. Gadis itu mencium bibir Kushina dengan lembut, membuat wanita itu terkejut setengah mati dengan apa yang dilakukan anak perempuannya tersebut. Kushina mendorong tubuh Naruko, menatapnya dengan intens.
Kushina bisa melihat kalau kedua mata Naruko seolah terpesona pada dirinya. "Oi, sadar! Apa yang kau lakukan Naruko?"
"Okaasan... kau cantik sekali..."
Kushina berusaha untuk menyadarkan Naruko, ia menggoyangkan tubuh Naruko dengan keras. Tapi usahanya sia-sia karena Naruko semakin agresif, gadis pirang itu mendorong tubuh Kushina untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur Naruko. Gadis itu kembali mencium bibir Kushina, kali ini Naruko memberikan ciumannya secara agresif. Kedua tangan putih Naruko mulai meremas payudara Kushina.
Wanita berambut merah itu berusaha untuk melepaskan diri dari Naruko, namun tenaga yang digunakan oleh gadis itu terlalu kuat hingga Kushina kelelahan meladeni kebrutalan Naruko. Ia sekarang hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh putrinya itu.
Naruko yang melihat Kushina pasrah langsung tersenyum. Ia menarik pakaian yang digunakan oleh Kushina ke atas, hingga wanita itu telanjang bagian dadanya. Naruko kembali dibuat tersenyum dengan tubuh Kushina yang menurutnya seksi itu, gadis tersebut mulai meraba beberapa bagian tubuh Kushina. "Ahhnnn..." sebuah desahan lolos dari bibir Kushina, membuat Naruko bersemangat untuk meraba tubuh seksi Kushina. "Oi, apa yang kau lakukan!"
Dia tidak peduli dengan ocehan Kushina. Naruko terus meraba tubuh Kushina, ia pun mulai menjilati wajah Kushina, mulai dari pipi hingga bibir seksi Ibunya tersebut. Wajah wanita itu basah akibat saliva yang diberikan oleh Naruko, ia kembali mencoba untuk mendorong Naruko.
Namun semua hanya sia-sia, Naruko semakin beringas. Gadis itu menyeringai menatap Kushina. "Kaachan, aku mencintaimu..."
Kushina bergidik ngeri mendengar hal tersebut. "Aku bukan Lesbian..." batinnya menjerit.
...
..
.
Kushina menatap datar Naruko yang sedang duduk seolah ingin bersujud, ia tidak menyangka kalau anak perempuannya itu akan melakukan hal yang nyeleneh. Kushina menepuk dahinya, ia bingung dengan arah pemikiran Naruko sekarang, gadis yang menjabat sebagai anak pertamanya itu menjadi seorang Lesbian.
Lebih parahnya lagi, Incest-Lesbian. Wow, Ibunya sendiri diperkosa.
"Err, aku kan sering berhubungan seks dengan Naruto. Mungkin aku harus ngaca." Batinnya ngawur, ia kemudian berdiri dari pinggiran tempat tidur milik Naruko, ekor matanya sedikit melirik ke atas kasur yang sudah basah akan keringatnya serta cairan-cairan kental. Sekali lagi, dia tidak menyangka akan klimaks beberapa kali saat bergumul dengan Naruko. "Astaga, apa kau tidak punya kekasih hingga melakukan hubungan dengan Kaachan?"
"Belum kaachan, aku hanya ingin Naruto—eh, aku masih belum ingin memiliki kekasih."
Kepala pirang itu langsung dipukul oleh Kushina. "Kau ingin Naruto? Dia adikmu sendiri. Kalian saudara kandung."
"Kaachan, aku akan membelikan sebuah cermin."
"Untuk apa?"
"Berkacalah sebelum berbicara." Naruko menghela nafasnya, kemudian ia berkata. "Kau sudah melakukan hubungan seks dengan anakmu sendiri Kaachan!"
Kushina terlihat diam sebentar, sebelum dia memasang wajah marahnya. "Hah? Aku tidak melakukan hubungan seks dengan Naruto, siapa juga yang mau berhubungan badan dengannya?"
"Kau." Balas Naruko disertai wajah datarnya, gadis itu menangkap kebohongan disetiap kata yang dikeluarkan oleh Kushina. Ia kemudian berdiri tepat didepan Kushina, Naruko menatap tajam wanita berambut merah tersebut. "Jadi, kau tidak mau berhubungan badan dengan Naruto? Baik, aku akan melakukannya dengan Naruto."
"Jangan! Eh!"
"Kenapa? Kau 'kan tidak mau melakukannya?"
"Bu-bukan seperti itu, uuhh..." wajah Kushina mulai diselimuti rona merah. Ia mengerucutkan bibirnya cemberut.
Sementara Naruko menghela nafas lelah, ia kemudian mendorong Kushina untuk terlentang di atas kasurnya kembali. "Kalau aku tidak boleh, maka Kaachan yang menjadi korbannya."
"Oh tidak, oh tidak, oh tidak. Dia mulai kumat. Kami, tolong aku!"
"Kalian disini, kukira kemana." Di daun pintu kamar Naruko, sosok pemuda berambut pirang tengah berdiri sambil membawa sebuah gelas yang berisi air putih. "Aku memberi salam, dan tidak ada yang menjawab sama sekali dari tadi."
"Maaf, Kaachan ada sedikit urusan dengan Naruko tadi."
"Bukan masalah orientasi Seks kalian 'kan?"
Naruko dan Kushina menatap datar Naruto, mereka berdua kemudian beranjak dari tempatnya, kemudian menggiring pemuda pirang itu untuk tidur terlentang di atas kasur Naruko. Kushina menatap putrinya itu dengan tatapan datar, sementara Naruko juga menatap balik Kushina, ia mengangguk seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Kushina.
Dengan cekatan, mereka berdua menarik celana panjang Naruto, membuat si empunya itu terkejut setengah mati.
"Bagaimana? Besar 'kan?"
"Umu! Ini besar sekali."
Kedua wanita itu menggenggam penis milik Naruto, kemudian meremasnya. "Awww... O-oi, sakit!" Naruto meringis saat Kushina serta Naruko meremas penis miliknya. "Naru-nee, Kaachan, ja-jangan diremas!"
"Mulai ereksi."
"Um! Penisnya mulai ereksi."
"Lepaskan oi!"
Naruko dan Kushina hanya bisa tertawa kecil melihat Naruto yang ingin dilepaskan. "Nee, Naruto, apa kau tidak menginginkan benda ini masuk ke dalam tubuh Neechanmu ini?" tanya Naruko dengan nada yang sensual, dia mulai mengapit penis Naruto dengan dadanya yang hampir menyamai Kushina.
Naruto kembali dibuat tidak berdaya. Hey, siapa yang tidak mau kejantanannya di apit oleh dua benda kenyal itu? "Ugh, Neechan..." lenguh Naruto yang menikmati titsjob yang diberikan oleh Naruko.
Sementara itu, Kushina merangkak menuju Naruto, wanita itu langsung mencium bibir Naruto dengan agresif. Entah kenapa, Kushina merasakan kenikmatan saat ia mencium Naruto.
Disaat Naruto masih berurusan dengan Kushina, sang Kakak—Naruko, tengah menyiapkan diri untuk memasukkan penis besar itu ke dalam liang senggamanya, gadis itu menginginkan Naruto. Ia menginginkan benda besar itu masuk ke dalam tubuhnya.
Senyuman pun mulai terbentuk di bibir seksinya, Naruko dengan pelan menurunkan pinggulnya, penis Naruto mulai masuk sedikit demi sedikit ke dalam liang senggama Naruko. Gadis itu merasakan sesak disana, namun ia terus menurunkan pinggulnya hingga semua benda besar itu masuk ke dalam vaginanya.
Naruko menggigit bibir bawahnya menahan semua desahan yang akan keluar dari mulutnya. Ia tersenyum sayu menatap Naruto yang saat ini tengah terkejut dengan apa yang dilakukannya. Gadis pirang itu tertawa kecil melihat wajah terkejut Naruto. "Hmm, Naru-chan, kenapa kau sampai terkejut seperti itu?" suara sensual dari Naruko, membuat si lelaki pirang itu merinding.
"Naru-nee... ka-kau."
"Um, aku... ingin merasakan benda milikmu itu, aku ingat saat Kaachan dengan semangatnya memasukkan benda tersebut kedalam mulutnya. Uhh, sepertinya... emmhh...! engghh...!" Naruko menggerakkan pinggulnya naik turun, ia merasakan gesekan antara dinding rahimnya dengan kejantanan milik Naruto. "Inikah... yang Kaachan suka...? unggh, aku merasa sesak... enggh!" Naruko mulai mempecepat gerakannya.
Sementara itu, Naruto saat ini sedang menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, Kushina yang berada disebelahnya hanya bisa tersenyum menatap kedua anaknya tersebut. Wanita berambut merah itu kemudian berinisiatif, ia menggeser tubuhnya, lalu mengangkat kepala Naruto dan meletakkannya di kedua paha putih miliknya.
Mata biru Naruto menatap Kushina—lebih tepatnya kedua dada Kushina yang menghalangi penglihatan Naruto. Kedua tangan pemuda itu dengan reflek meremas kedua dada Kushina. "Ahnnn...! Naru-chan, kau mesum!"
"Siapa suruh kau ada disitu, Kaachan." Tiba-tiba Naruto dikejutkan oleh sang kakak yang sekarang ini mendekatkan wajahnya ke pemuda itu. "Neechan?" Naruko tersenyum manis, ia kemudian mencium bibir Naruto dengan mesra, pantatnya masih naik turun. Keduanya terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang dimadu asmara, Kushina sendiri sedikit cemburu dengan kelakuan Naruko pada Naruto.
Wanita berambut merah tersebut, menarik Naruko dan mencium putrinya tersebut. Keduanya saling bertukar saliva, lidah mereka saling bertaut satu sama lain untuk menentukan siapakah pemenangnya. Sementara Naruto terus berkonsentrasi dengan gerakan pinggul Kakaknya tersebut, ia pun mulai menggerakkan pinggulnya naik turun. 'Keh! Sial, kenapa di dalam sana terasa enak?'
Pemuda itu merasakan cairan yang membasahi dinding rahim Naruko. Kedua tangan Naruto menangkap pinggul sang Kakak, ia mengelus lembut paha putih Naruko sebelum ia manampar kedua paha putih tersebut. Naruko mendesah di dalam ciumannya bersama Kushina, entah kenapa gadis itu merasakan sebuah sensasi saat Naruto menampar pahanya.
Rona merah terus menjalar di wajah cantik Naruko, ia merasakan sebuah sensasi yang mungkin tidak bisa dikatakan oleh bibirnya. Naruko pun mendorong tubuh Kushina, ia menatap Naruto yang sedang santai menggerakkan pinggulnya naik turun. "Naru...!" gadis itu memanggil sang adik, ia tersenyum manis kepada adik pirangnya tersebut, kemudian Naruko mencium Naruto dengan agresif. Keduanya terus saja bergumul ria, mereka mengacuhkan Kushina yang saat ini sedang memasang wajah cemberut kepada mereka.
Tiba-tiba tubuh Naruko bergetar hebat, dari dalam lubang senggamanya itu keluar sebuah cairan yang membuat kejantanan Naruto semakin licin dan terus menggesek dinding rahim milik Naruko. Pemuda tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia pun mempercepat gerakannya hingga dia merasakan sebuah cairan yang siap menyembur rahim gadis pirang itu.
'Sial, aku keluar!'
Penis Naruto pun menyemburkan sperma hangat ke dalam rahim milik Naruko, sperma yang sangat banyak itu memenuhi rahim sang kakak membuatnya meluber keluar dari dalam vagina gadis itu.
Naruko merasakan cairan hangat memenuhi vagina-nya. Ia menarik ciumannya dari Naruto, dan tersenyum menatap sang Adik. "Uhh, sperma Naru-chan... hangat..."
Kushina mulai mendekat ke wajah Naruto, ia memberikan sebuah senyum manis kepada pemuda pirang itu. "Sochi," panggil Kushina terhadap Naruto, membuat pemuda itu menatap wajah cantik Kushina. "Giliranku 'kan?"
'Oh, tidak!' batin Naruto berteriak. Wajahnya sudah membiru menatap senyuman Kushina. Sementara Naruko sudah menyingkir dari tempatnya duduk, ia berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya itu. 'Eh, Naruko-nee!?'
Kushina kemudian menggenggam penis Naruto, ia mengocok pelan kejantanan putranya tersebut, tawa kecil keluar dari bibir Kushina. "Kaachan menginginkanmu..." gumam Kushina dengan nadanya yang sensual, membuat Naruto merinding mendengarnya. Wanita itu terus mengocok penis Naruto hingga kembali ereksi. "Lihat, bangunkan?" Kushina pun mempercepat kocokannya terhadap penis Naruto, membuat sang pemilik itu meringis.
"Ka-kaachan..."
"Hm? Oh, kita akan bermain beberapa ronde kok, semoga kau kuat nanti Sochi."
'Tolong selamatkan aku!'
...
..
.
Keesokan harinya.
Naruto membuka kedua matanya, ia mengeksplorasi sekitarnya, disana Kushina dan Naruko tidur dikedua sisi tubuhnya, dan mereka berdua telanjang bulat. Manik sapphire itu menatap ke langit-langit kamar Naruko, pikirannya sudah terbang entah kemana.
"Naruto-nii, Naruko-nee, dan kaachan..."
Lamunannya pun buyar ketikat seseorang memanggil dirinya. Ia melihat seorang gadis yang tengah berdiri dengan mulutnya yang sudah tertutupi oleh kedua tangannya. "Sara..." ia langsung bangun dari tidurnya, kemudian mengambil semua pakaiannya. "I-ini semua ti-tidak seperti yang kau pikirkan!"
"..." Sara masih terdiam, putri bungsu Kushina itu masih tidak mau berbicara sama sekali.
"Sa-sara...?"
Tiba-tiba, Sara menyeret Naruto ke kamarnya. Gadis yang berusia 16 tahun itu menutup pintu kamarnya, tak lupa ia mengunci pintu tersebut membuat Naruto menatapnya heran.
Gadis itu kemudian mulai membuka kancing pakaiannya, ia menatap Naruto dengan tatapan sayu miliknya, kedua pipi putihnya sudah diselimuti oleh rona merah. "Tolong Naru-nii... Berhubungan badan denganku."
'Tolonglah...'
...
..
.
TBC
...
..
.
Keterangan:
Kushina: 40 tahun
Naruko: 22 tahun
Naruto 20 tahun
Sara 16 tahun
Yak segitu saja, maafkan saya kalo ada kesalahan.
Shinn out!
