Ingatan berkilas, cepat namun sangat lamban memberinya efek besar, ia senggukkan dan menatap nanar ponselnya. Satu kenyataan... Sasuke tak pernah menemuinya, sama sekali tak pernah menemuinya...
-0-0-0-
Sudah sebulan lewat, sebulan tanpa kehangatan dan menjalaninya dengan rasa positif, 'Sasuke tengah bekerja, Sasuke-nya tengah bekerja...'
Menghela napas lelah Sakura keluar dari ruangan Tsunade setelah pengecekkan rutin terkait transplantasi hatinya dan jaitan yang sudah mengering. Segera pulang dengan Shinkansen. Saat ini mungkin ia tengah merasakan deja vu, sebuah memoar kecil yang menyudutkan perasaannya. Kenapa di saat seperti ini hatinya terpanggil oleh perasaan miris?
Menunduk dan membuka ponselnya dan terkejut menadapati sebuah video kiriman dari nomor yang tak dikenal, sayangnya ia tidak terlalu berniat menontonnya dan memilih memainkan beberapa game guna mengusir rasa gundahnya.
-0-0-0-
Dua hari terlewati cepat...
Muntah, Sakura membungkuk dan memegangi sisi sink erat saat merasakan kontradiksi hebat di perut, rasanya ia tak memakan sesuatu yang aneh, kenapa perutnya berdemo seolah tak menerima makanan itu?
Ia hanya memakan empat kue kering dan satu tusuk dango? Apa ada yang salah?
"Hueek!" kembali muntah dan mengeluarkan cairan bening berbau masam, Sakura mencuci mulutnya dan membersihkan sisa muntahan. Tubuhnya meluruh lemah dan duduk menyender di tembok kamar mandi dengan kedua kaki yang tertekuk.
"Ada apa denganku?" monolognya memandang kosong sepuluh jemari kakinya.
-0-0-0-
Sakura memincing memandangi kalendernya kemudian matanya menerawang—mengingat, "hem... Tiga minggu lebih, su-sudah lewat tanggal... Ah... Apaa..." mata Sakura membulat, spekulasi mengatakan, cepat dia henyak dengan memikirkan banyak hal positif. Namun, tak urung, ia memilih membuktikannya dengan membeli testpack di apotek.
Dua garis merah, Sakura membulatkan mata dan meremas gagang testpack itu. Seharunya apa yang harus ia lakukan? Berbahagia atau bersedih dengan kenyataan baru ini? Ia gamang.
-0-0-0-
Menjalani hari dengan kerinduan berat, pun saat ia tengah menyelami malam dengan gamang, sebenarnya apa yang terjadi? Apa salah ia mengunjungi mansion Uchiha dan bertanya ke manakah kekasihnya? Namun seorang ibu dengan senyum sendu dan uraian air mata menyuruhnya pulang dengan menjerit keras seolah Sakura telah melakukan hal buruk pada anaknya.
Mikoto mendepaknya kasar dengan berteriak, "pergi! Pergi!" kata itu teringang di telinganya. Sakura menghela napas berat dan mulai menggerakkan ayunan yang ia duduki.
Apa ini salah satu rencana Sasuke? Membuatnya pergi dari hidupnya setelah mengatakan hal-hal yang paling ia banyangi? Rasanya seperti kau terbang bersama awan namun gravitasi tak cukup membuatmu merasa lebih lama di atas, terhempas dengan luka dan sendirian menanti kapan sebuah hal baik datang? Rasanya hal baik kini perlahan menjauhinya...
Tanpa Sakura sadari dua mata viridiannya mengembun, sekarang hal apa lagi yang akan menimpanya? Tangannya mengelus perutnya. Apa sekarang kehadiran janin ini... Ah tidak, Sakura menggeleng keras, lalu kembali melamun.
"Apa yang harus aku lakukan, sayang?" dan bertanya pada janin kecil dengan kesendirian menggerakkan engsel ayunan. Berayun-ayun.
Sapuan angin membelai wajahnya.
-0-0-0-
Sakura duduk sendiri, makin hari ibu hamil ini tak menunjukkan aura indah sabagaimana mestinya, semakin hari malah pipinya menirus, matanya tampak kosong dan ia hanya bisa duduk dan duduk menatap pot kaktus hias di atas meja.
Ia tak bisa menangis, tidak. Karena baginya menangis adalah hal pecuma karena menangis tak bisa membuat Sasuke 'datang' padanya, tidak bisa.
Ia tak bisa melakukan apa-apa kecuali menatap figura besar berisikan dirinya dan Sasuke yang berangkulan mesra. Ia bisa melihat bahwa senyum Sasuke terlihat nyata, matanya yang menyipit dan lesung tipis di kedua pipinya.
Menegakkan punggung ia meraih ponselnya mengetikkan sesuatu untuk Sasuke.
[Sasuke... Kau di mana?]
[Sasuke. Aku merindukanmu...]
[Kenapa kau tak pernah membalas pesanku?]
[Apa kau terlalu sibuk dengan perusahaan cabang di Hokkaido?]
[Sasuke...]
[Aku melihat-lihat rumah di kompleks Konoha kemarin, di sana aku sudah memilih beberapa rumah... Aku sudah tak sabar Sasuke...]
[Sasu!]
[Aku hamil Sasuke! Anak kita! Sudah sebulan! Hmm, seperti katamu, jika anaknya perempuan kita beri nama Sarada dan laki-laki Satoshi...]
[Sasuke, aku merindukanmu... Kau di mana? Apa yang telah terjadi? Aku merindukanmu... Sangat merindukanmu... Aku membutuhkanmu untukku, untuk anak kita dan mana janjimu untuk tetap merengkuhku? Di mana kau Sasuke...]
Air mata meluncur cepat, Sakura sesenggukan meremas ponsel putihnya, matanya yang sendu mengembun. Ia hanya ingin Sasuke-nya... Sasuke!
Sakura membuka kembali perpesanan dan mendapatkan sebuah nomor tak dikenal mengirimnya sebuah video berdurasi 1 jam.
Sakura membukanya dan matanya mengembun. Air mata jatuh tak tertahankan, Sasuke... Itu Sasuke-nya!
["Hai Sakura...!"] Sasuke, dia menyapanya dengan wajah penuh senyum dan pakaian hijau khas operasi.
"Hai Sasuke..." Sakura menyapanya dengan senyum yang terbit—sangat tidak sinkron dengan pipinya yang basah. Namun senyum itu seolah ada karena sendu, ia mulai mengerti...
["Hem, bagaimana keadaanmu? Baikan bukan?"] Sasuke tertawa kecil di dalam video itu dan Sakura ikut tertawa lirih, setiap tawanya air mata tak kunjung berhenti menetes.
["Bagaimana dengan perumahan di kompleks Konoha, bagus bukan?"]
Mata Sakura memburam. "Ya, Sasuke bagus..." katanya dengan parau.
["Ah, sudah menemukan rumah cocok? Dan, kau mau kita menikah tanggal 15 april? Ah baiklah! Berarti tinggal menghitung bulan bukan?"]
["Kau ingin punya anak berapa? Dua kurasa cukup, laki-laki dan perempuan? Manis bukan? Hahahaha..."]
["Sarada dan Satoshi, apa bagus untuk nama anak kita kelak?"] Sasuke tertawa bahagia, namun tidak dengan binar kelam dikedua maniknya yang tampak putus asa, Sakura merasakannya... Ia merasakannya...
Mata Sakura memejam, beberapa bulir air mata lolos bersamaan dengan helaan napasnya yang memberat, tangannya bergetar memegang ponselnya dan tatapannya setia memandang sendu Sasuke dengan wajah tampannya yang tersiram cahaya lampu operasi.
["Sakura..."] panggil Sasuke dengan suara parau. Sakura memandang Sasuke lembut, seolah Sasuke benar-benar nyata bukan berada di dalam video.
"Ya?" tanya Sakura.
["Aku mencintaimu, tak lepas dari segala kekuranganku, kau tetap di sisiku, menerimaku dengan bagaimana pun keadaanku hingga aku tak tahu hal apa yang bisa aku berikan padamu sebagai timbalan..."]
Tangis Sakura semakin deras melihat seulas senyum tulus Sasuke yang tampak pilu menyakitkan, "tidak Sasuke... Tidak perlu," racaunya dengan menggeleng kepala, namun Sakura tahu tindakkannya percuma, Sasuke sudah melakukannya...
["Terkadang aku merasa kurang cukup bahkan tak pantas di sisimu, kau begitu murni bersanding denganku, aku tak tahu harus mengungkapkannya seperti apa..."] Sasuke menunduk, menyembunyikan air matanya yang bercucuran di video itu.
Sakura pun sudah tak kuasa menahan laranya, ia menggigit bibirnya sendiri dan mengeluarkan air mata.
["Aku mencintaimu, sangat mencintaimu hingga mati pun aku rela melakukannya, namun sepertinya kata itu sedang Tuhan ujikan padaku, aku ingin 'hatiku' tetap padamu, rasa cintaku tetap untukmu hingga ragaku sudah membaur bersama tanah..."]
Sakura terisak, "Sasuke... Sasu... Hiks, jangan..." namuan rasanya semua itu telah terlambat.
["Jaga hatiku untukmu, sebagai bukti jika kau selalu ada di hatiku, aku mencintaimu dengan nyawaku..."]
"Aku juga hiks mencintaimu Sasuke... Hiks, sangat, sangat mencintaimu... Jangan—hiks tinggalkan hiks aku..."
["Aku selalu mencintaimu... Di mana pun aku berada, di hatimu aku mencintaimu... Sakura, selamanya..."]
Video berdurasi satu jam itu berakhir, satu hal yang ia tahu, 'hatinya' hati Sasuke sudah tertanam menjadi bagian dari 'dirinya', seperti apa yang Sasuke katakan.
Sakura meraung, "tidak Sasuke! Tidak! Mana janjimu?! Mana bukankah kau akan menikahiku bulan besok? April, 15 April! Ke mana Sasuke yang kukenal egois... Hiks! Ke mana...!"
"Jangan tinggalkan aku~ jangan tinggalkan aku~ hiks... Jangan..."
"A-aku sudah memilih rumah hiks Sasu~ lantai dua, war—hiks-na biru langit dan hijauuu~ hiks..."
Sakura mengadah menatap foto Sasuke yang tersenyum lembut, "MANA JANJIMU! Hiks... Mana Sasuke~ kita akan menikah, ber—hiks-keluarga... Di mana... Sasuke... Sasuke..." lirih Sakura sendu memandang foto Sasuke.
Hancur yang ia rasa, sosok penting telah hilang dan ia rasa semuanya nampak tak berarti, sangat...
"A-aku mencintaimu Sasuke..." mata Sakura menutup, erat, pejam dengan lengan kanan memeluk figura foto Sasuke dan satu tangan kirinya memegang perutnya. Napasnya berhenti, telah berhenti.
Di sini hatinya tertanam, sebagaimana Sasuke menanamkan cintanya yang besar dalam hati kecilnya.
-0-0-0-
Hanya untuk satu jam saja aku mengenangmu dan melupakannya sebagaimana mestinya, namun kedua mata pekatmu membuatku merindu pada kubangan dalam yang tak berujung.
Mendapatiku sendiri duduk di atas kayu dengan warna hitam kesukaanmu yang membuatku merindu. "Ke mana kau pergi?"
Menderita dengan hatiku yang menjerit pilu, "ke mana kau pergi?"
Dengan jiwaku yang sakit.
"Ke mana kau pergi?"
Adalah kataku yang bertanya, "ke mana kau pergi?"
Karena aku merindukanmu, duduk sendiri di atas kayu lembab dan menantimu menjemputku pada tempat tak berwaktu. Lama, sangat lama hingga aku tak tahu persekian detik, menit, jam, hari, pekan, bulan hingga tahun...
"Aku menunggumu, Sakura..." dan yang kulihat adalah engkau yang memelukku erat dengan cahaya hitam terdalam. Memeluk bersama hatiku yang teredam jerit pilu. Namun jantungku berdetak cepat merasakan perasaan membuncah.
Aku sudah tahu, kau di sana menungguku. Aku hanya takut, jika suatu saat aku sendiri dan kau memilih pergi. Maka, aku akan berlari mengejarmu hingga berhenti.
"Ke mana saja kau pergi Sasuke? Aku khawatir padamu..." ucapku merampas seluruh wewangiannya yang membuatku merindu.
"Aku selalu di sini, di hatimu. Selalu, karena hatiku adalah bagian dari dirimu..." aku berseri, rasanya bahagia hingga menyejukkan jiwaku dan mengangkatku terbang tinggi menggapai 'bintang-bintang' kecilku.
"Dan Sasuke, kau adalah hatiku yang ada pada diriku..." kami tertawa.
"Ya, selamanya..."
"Selamanya..." bersama dipelukkannya aku merasa utuh dan sempurna...
Suatu saat kau akan mengerti...
-0-0-0-
Terang benderang, matanya membuka lebar dan melihat sosok berdiri di matanya, mengabur. Namun ia tahu siapa yang memperlihatkan wajah cemas itu. Pikirannya terhenyak.
"Syukurlah kau sudah sadar..." suaranya lembut hingga Sakura menghembuskan napas dan tersenyum tenang.
"Sasuke?" tanyanya saat matanya kembali berfungsi benar, jeli dan tampak nyata. Tangan Sakura menggapai wajah tampan itu, nyata, sangat nyata, ia bisa merasakan tekstur halus wajah kekasihnya. Tak terasa air mata lolos dari kedua emerald-nya, melihat Sakura menangis membuat pria bernama Uchiha Sasuke khawatir.
"Kenapa Sakura...?" tanya Sasuke mengelus sisi wajah wanita yang berstatus isterinya.
"A-aku merindukanmu..." bisik Sakura. Sekejap, Sasuke memeluk Sakura erat. Menaruh keningnya penuh hati pada kening Sakura.
"Aku juga..." menghembuskan napas pelan Sasuke menjawabnya.
"Bagaimana keadaanmu? Merasa baikan?" tanya Sasuke yang dijawab anggukan. Perlahan, Sasuke mengangkat kepalanya dan melepas pelukan, saat itu, Sakura merasa takut dan cemas—jika semua ini hanya ilusi.
Sasuke terkekeh lirih saat tangan Sakura cepat meraih lengannya, menggenggamnya. Lalu wanita tercintanya bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi?" emerald Sakura menatap Sasuke lalu matanya menyipit saat merasakan perutnya yang terasa berat, matanya membelalak saat melihat bukitan besar di perutnya...
Sasuke terkekeh, "hem, kau pingsan karena kelelahan dan lagi rupanya bayi kembar kita terlalu aktif, bulan ke-8 memang merepotkan..." Sasuke melengkungkan senyum seraya mengelus permukaan menggunung perut Sakura.
Sakura menahan napas. Jadi selama ini...
"Kau terlalu lama tertidur, Sakura... Aku khawatir..." bisik Sasuke pelan dengan mengecup kedua pipi Sakura bergantian. Mata emerald sakura membulat.
...jadi selama ini, hanyalah mimpi?
"Sarada dan Satoshi terlalu bersemangat..."
Sekarang, kau mengerti?
-0-0-0-
Lalu apa yang salah? Dirimu yang terlalu berimajinasi atau ini adalah salah satu masa lalumu? Jawabannya ada pada dirimu...
"Itu hanya bunga tidur Sakura..."
"Tapi itu terasa nyata, Sasuke."
Tawa Sasuke mengudara. "Tenang, selamanya aku tetap berada di sisimu."
"Janji?"
"Tentu, aku berjanji!"
:Tamat:
-0-0-0-
Note :
Heheheeeee~ ending macam apa ini?! Lempar hape. Astaga! Abal! Ngaco n caprak bangeut!
Maaf ya... Singkat, karena aku ngetiknya pakek hape umi... Dan pasti typo banyuaaak! Mengingat ngetiknya pakek dua jempol.
Asalnya Sasuke aku buat mati karena ngedonor hatinya ke Sakura, tapi pas liat review dan banyak yang bilang happy end yaudah aku turutin, Vanya baik kan? Wkwkwkw *nyengirkuda* apa ini dah termasuk happy end?
Jadi, apa feelnya kerasa? Soalnya aku ngetik sampe nangis *halah!* *lebay*
Hem, makasih banyuaak buat yg udah fav, foll n review minnaaa~
Sekian dari Vanya! Nantikan fic gajeku yg lain yaa~
Sign, Vanya si anak kecil yang lagi nabung beli light stick bomb! Hiyaaah! Lope Gede dari Future wife Taehyung-ahh...
Bye! Bye! Bye!
