CAN YOU SEE ME?

Bleach Tite Kubo

Yuzu pov

Aku melihatnya berlari memasuki gedung. Suaraku kelu, teriakan tidak akan membuatnya kembali kesini. Kenapa? Kenapa tidak dia menghiraukan suara itu? bagaimana jika kali ini dia tidak selamat lagi?

Tidak, dia akan selamat. Pasti. Aku tahu itu, Karin adalah orang yang kuat.

Tapi, bagaimana dengan kejadian lima bulan lalu. Saat Karin menolong anak kecil dari kecalakaan. Bukankah jika tidak ada keajaiban, Karin tidak akan selamat. Oh, tidak! Aku tidak bisa membayangkan hal itu lagi.

Aku tidak bisa membayangkan Tou-san menangis di kamar rawat Karin setiap waktunya seperti dulu. Ini tidak akan seperti waktu itu lagi kan?

Oh, Kami-sama! Dia baru keluar dari rumah sakit dua bulan lalu. Haruskah? Haruskah dia kembali ke tempat dimana suara-suara yang tidak ingin didengarnya terdengar begitu jelas dan banyak. Suara penderitaan mereka yang akan mati.

...

4 Agustus, Kurosaki house. 4 pm.

Brugh! Suara debaman keras terdengar saat Kurosaki Isshin terpelanting jauh kearah pintu karena menerima pukulan keras dari putranya. Menahan rasa sakit yang menjalar di bagian belakang dan wajahnya. Isshin mencoba bangkit. Dia tidak menyalahkan putranya atas apa yang dilakukan― sebelumnya, putranya pun sering memukulnya karena bersikap aneh. Tapi ini berbeda, pukulannya begitu keras dipenuhi dengan― kemarahan.

Ichigo yang tidak dapat menahan amarahnya pun langsung berlari menuju ayahnya dan menarik kerah bajunya. Dia tidak dapat berpikir jernih lagi atas apa yang dikatakan sang ayah sebelumnya. Bagaimana bisa dia tidak diberitahu apapun mengenai kondisi adiknya? Apa ayahnya tidak tahu betapa besar rasa khawatirnya jika jauh dari mereka? Tapi apa yang didapatkannya? Seorang adik yang hidup dalam gelap selama dua tahun.

Yuzu yang belum sempat mengganti baju sekolahnya pun tampak menangis terisak di pelukan Rangiku. Dia sangat tidak menyukai kekerasan. Apalagi itu terjadi diantara ayah dan kakak yang baru saja ditemuinya.

Ya, setelah Yuzu dan Isshin pulang, mereka melihat wajah penuh amarah Ichigo yang tengah menanti mereka di depan pintu. Sementara Karin tampak duduk terdiam bersama shinigami lainnya di bangku ruang tamu. Memahami apa yang tengah terjadi, Isshin meminta Yuzu mengantarkan Karin ke kamarnya. Dan mulai menceritakan apa yang terjadi pada salah satu putrinya itu.

"KENAPA SELAMA INI KAU TIDAK MEMBERITAHUKU?!" bentak Ichigo. Tangannya mulai mengepal untuk kembali memukul sang ayah. Sebelum tangannya terangkat suara dibelakangnya mulai menginterupsi gerakannya, "Sudah! Hentikan Ichigo!"

Perlahan Ichigo mulai melepaskan genggaman tangannya dari kerah baju sang ayah begitu juga dengan kepalan tangannya. "Cih!" decih Ichigo dan mulai berjalan melewati perempuan bertubuh kecil bersurai hitam yang tadi menginterupsinya. Ya, suara yang menginterupsinya tadi adalah suara Kuchiki Rukia. "Kau mau kemana?" tanya Rukia.

"Karin."

Setelah Ichigo menghilang dari pandangannya, Rukia menghampiri Isshin untuk membantunya berdiri. Shinigami lain hanya melihat kejadian itu tanpa melakukan apapun. Sungguh, ini permasalahan keluarga yang tidak pernah mereka alami. Mereka semua mengenal Karin dengan cukup baik. Dan mengetahui kejadian menyedihkan itu terjadi padanya, membuat mereka sangat sedih.

Tampak Toushiro berdiri bersandar pada dinding jauh dari shinigami lainnya. Dia sungguh sedih dan juga marah― perasaan sama yang dirasakan Ichigo saat ini. Tapi, dia tidak mungkin menunjukkan emosinya pada seorangpun. Karena bagaimanapun, dia adalah kapten Gotei 13.

...

Gadis Kurosaki berambut hitam itu benci suara keributan. Tidak berarti dia tidak pernah membuat keributan. Tapi entah kenapa kini dia sangat tidak suka mendengar suara apapun. Tapi sayangnya, kebuataannya membuat pendengarannya lebih peka. Suara bisikan kecil pun dapat didengarnya dengan baik.

Sejak empat tahun lalu saat Ichigo memutuskan tinggal di soul society, Karin mendapatkan satu kemampuan aneh. Dibilang kemampuan pun tidak― karena dia menganggapnya sebagai musibah. Bagaimana tidak, si gadis raven itu harus mendengar suara jeritan batin orang-orang yang akan mati disekitarnya. Jika beruntung, dia dapat membantu orang itu. Jika tidak, dia akan berakhir dengan perasaan bersalah dan sedih.

Melihat hantu saja membuatnya terganggu, apalagi mendengar jeritan kematian. Tapi setidaknya kini sudah berkurang― dia tidak akan melihat hantu lagi. Hanya saja, dia akan lebih banyak mendengar suara penderitaan orang-orang itu. Ukh! Apa kah hidupnya harus semenyedihkan ini.

Karin menatap kosong kegelapan di depannya. Yang dirasakannya hanya angin yang berhembus dari luar jendela kamarnya, tidak lebih tidak kurang. Saat ini, dia sedang duduk dikursi yang sengaja di taruh menghadap jendela kamarnya. Dia sangat suka melakukannya sejak dia tidak dapat melihat lagi.

Seolah memberikan sensasi baru selain kegelapan. Dia tetap dapat membayangkan rasanya hembusan angin menerpa wajahnya ataupun sinar matahari yang 'dulu' sangat menyilaukan baginya. Ya, dia dapat melihat dua hal itu dalam kegelapan yang melingkupi hidupnya. Melihat dingin karena angin, panas karena sinar matahari. Aneh? Tapi begitulah adanya.

Cklek! Suara pintu kamarnya yang terbuka mengalihkan perhatiannya dari jendela. Memandang hampa pada asal suara. Suara pintu tertutup dan langkah kaki yang mendekat kearahnya membuatnya bertanya― siapa yang memasuki kamarnya?

Dirasakan sebuah tangan besar menggenggam tangannya. Mengangkat tangannya yang lebih kecil kearah wajah orang yang mungkin sedang duduk bersimpuh di depannya. Mengetahui wajah siapa yang dipegangnya, senyum Karin mulai terkembang. Walaupun dia sempat sedih merasakan air mata membasahi wajah orang itu.

" Hai, Ichi-nii!" sapa Karin tanpa menghilangkan senyumnya― entah kenapa, karena satu hal dirinya jadi lebih lembut dari beberapa tahun lalu. Merasakan sebuah senyum terkembang di wajah kakaknya, Karin merasa sangat senang. "Disini dingin, ayo pindah ke kasurmu!" seru Ichigo.

"Apa Ichi-nii akan pergi lagi seperti tiga tahun lalu?" tanya Karin menghiraukan perintah Ichigo sebelumnya.

Ichigo menundukkan kepalanya, rasa bersalah datang menghampirinya kala mendengar pertanyaan Karin. Sejahat itukah dia? Bagaimana bisa dia berhenti mengunjungi keluarganya selama tiga tahun ini?

Lama dirinya terdiam, Ichigo memegang tangkupan tangan Karin di wajahnya. Memindahkan tangan dingin sang adik kembali pada pangkuan adiknya itu. Ichigo pun menjawab pertanyaan Karin dengan pasti, "Aku akan disini selama tiga bulan, tapi kalau Kau memintaku untuk tidak pergi― Aku akan disini. Selamanya."

Dan dengan itu, Ichigo menutup jendela kamarnya. Menggendong adiknya seperti yang dilakukannya saat mereka masih kecil dulu. Dengan perlahan, Ichigo menaruh Karin di kasurnya. Menarik selimut menutupi kaki Karin hingga perutnya. "Aku akan membangunkanmu saat makan malam siap," ujar Ichigo yang hendak pergi meninggalkan kamarnya.

Belum sempat Ichigo berbalik menuju pintu, Karin dengan cepat meraih tangannya dan menahannya. Ichigo pun kembali melihat Karin dengan tatapan bingung.

Merasa sukses mendapat perhatian kakaknya, Karin melepas genggaman tangannya. "Ichi-nii, jangan marah pada Tou-san."

Ichigo mengepalkan tangannya erat. Kembali melihat tatapan kosong Karin dan senyumnya― dia pun mulai dapat mengendalikan emosinya. Tersenyum singkat dan mencium dahi Karin― mencoba memberi tanda bahwa dia tidak akan membuatnya sedih lagi. "Tidurlah!" bisiknya lembut.

Biarpun Karin belum ingin tidur― dia tetap mengangguk― dia menutup matanya perlahan. Hingga rasa kantuk benar-benar menghampirinya.

Ichigo berdiri lama di depan pintu kamar Karin. Menatap kosong ke depan. Perlahan air mata lolos darinya begitu saja. Lagi? Kenapa harus menangis lagi? Itulah yang kini ingin ditanyakan Ichigo. Dia bukan laki-laki melankolis yang mudah menangis.

Yuzu yang baru saja menaiki tangga langsung terdiam melihat kakaknya berdiri di depan kamarnya dan Karin. Memandang lurus pada sang kakak yang mulai menangis dalam diam. Yuzu berjalan menghampiri kakaknya― berharap ada yang dapat dilakukan untuk menenangkan sang kakak.

Ichigo melihat adiknya berdiri di depannya. Sungguh, dia butuh seseorang untuknya saat ini. Dengan cepat dia memeluk sang adik, menangis terisak dalam pelukannya. Persetan dengan apa yang akan dikatakan orang jika melihatnya seperti ini. Dia butuh untuk menenangkan dirinya. Dia merasa telah gagal menjaga keluarganya.

Yuzu tak pernah melihat tangisan kakaknya lagi sejak ibu mereka meninggal. Pasti Ichigo merasa bersalah karena kembali tidak bisa menjaga keluarganya. Yuzu pun mengeratkan pelukannya, mulai menangis dalam pelukan itu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika kakaknya tahu satu hal yang belum diceritakan ayah mereka. Sesuatu yang berkaitan dengan kondisi Karin saat ini. "Maaf, Ichi-nii!" gumam Yuzu dalam tangis.


Kurosaki house, 6 pm.

Yuzu yang biasanya masak sendiri kini merasa terbantu. Ya, dia memang butuh seseorang untuk membantunya― bayangkan, dia harus memasak untuk sepuluh orang termasuk dirinya. "Terima kasih, Rukia-nee!" seru Yuzu yang terlihat puas dengan hasil masakannya dan Rukia di atas meja.

Rukia hanya tersenyum. Dia memandang pada Yuzu sekilas, dan ingatannya kembali pada saat Ishhin menceritakan apa yang terjadi pada Karin. Wajahnya tertunduk sedih. Membayangkan keluarga yang selalu ceria itu tengah menyembunyikan kesedihan mendalam.

Yuzu, walaupun dia terlihat seperti biasa. Rukia sadar, gadis bungsu Kurosaki itu pasti sangat sedih. Bayangkan, dia melihat saudaranya sendiri terluka di depan matanya.

"Yuzu-chan, apa Karin tidak sekolah lagi?" tanya Rukia mengalihkan rasa sedihnya.

Yuzu menggeleng lemah, "Tapi Aku dan Mahiro-nii selalu mengajarkan Karin-chan pelajaran yang Aku pelajari di sekolah."

"Mahiro-nii?" Rukia menatap Yuzu, berharap dapat mengetahui siapa orang yang dipanggilnya 'Mahiro' itu. belum sempat Yuzu menjelaskannya, suara langkah kaki datang dari arah tangga. Rukia dan Yuzu pun mengalihkan pandangan mereka.

Terlihat Karin dengan perlahan menuruni anak tangga, tangannya berpegangan pada dinding. Wajahnya terlihat tenang. Rambut panjangnya pun kini terikat ponytail.

Dibelakangnya, Ichigo mengikuti langkah Karin. Wajahnya terlihat khawatir. Sungguh, dia belum terbiasa untuk menerima kebutaan Karin. Apalagi saat adiknya itu melarang untuk membantunya dalam beberapa hal.

"Karin-chan, sudah lapar?" tanya Yuzu. Karin berjalan ke meja makan dengan hati-hati― dia tidak suka memakai tongkat saat di rumah. Karin mengangguk dan tersenyum. Rukia menyiapkan satu kursi saat melihat Karin berjalan mendekat padanya. "Terima kasih!" ujarnya seraya menduduki kursi itu.

"Dimana yang lain?" tanya Ichigo. Melihat Yuzu sedang menyiapkan makanan untuk Karin maka Rukia pun menjawabnya, "Isshin-san sedang di klinik dan yang lain sedang berpatroli, mereka sebentar lagi datang." Ichigo mengangguk sebagai respon. Dia pun berjalan keluar dari dapur.

Rukia hanya menatapnya bingung― dia tidak ingin mengganggu kekasihnya saat ini. Mereka telah berpacaaran cukup lama, lebih tepatnya sekitar 4 tahun yang lalu. Dan semua orang tahu mengenai hubungan mereka, terrmasuk Byakuya.

Suara pintu yang terbuka membuat Rukia tersadar dari lamunan singkatnya. "Aku akan pergi sebentar. Bisa Kalian sisakan makan malam untukku, ittekimasu!" seru Ichigo sebelum suara pintu tertutup terdengar. Rukia hanya mendesah pelan, berharap kekasihnya tidak melakukan hal gila― mengingat emosinya saat ini.

...

"Hei, strawberry head! Kau mau kemana?" tanya Renji lantang saat dia melihat Ichigo berjalan keluar rumahnya. Tanpa menegok ke belakangnya, Ichigo melambaikan tangan, "Ishida." Dan dengan itu, tubuh tingginya hilang di balik tikungan jalan. Mengetahui apa yang mungkin dilakukan temannya itu, Renji hanya mendesah pelan.

"Terlalu banyak mendesah dapat membuatmu cepat tua dan itu idak cantik," ejek Yumichika yang berjalan di belakangnya. Renji menengok ke belakangnya dan memandang tajam pada Yumichika. Menghiraukannya, Yumichika tersenyum palsu sebagai respon.

Renji dan yang lainnya baru saja pulang dan mengambil gigai mereka saat melihat Ichigo keluar dari rumahnya. Mereka merasa tidak nyaman berada dalam rumah itu terlalu lama setelah apa yang mereka ketahui. Apalagi saat melihat perubahan sikap Kurosaki Isshin yang berbeda. Dia terlihat dingin dan sangat tertekan.

"Taicho dan Ichigo tidak pernah setertekan itu sebelumnya," ujar Rangiku memecah keheningan. Toushiro memandangnya sekilas, mengerti pada siapa kata 'taicho' ditujukan. "Ini bukan urusan kita," jelas Toushiro dingin.

"Bagaimana bukan urusan kita? Karin sudah seperti saudara bagi kita, kan? Bukankah Taicho juga me―."

"Matsumoto!" bentak Toushiro memotong perkataan Rangiku. Melihat ekspresi sedih yang muncul di wajah kaptennya, Rangiku pun meminta maaf. Renji, Ikkaku, dan Yumichika hanya terdiam melihat ekspresi kapten divisi 10 tersebut.

Toushiro dan yang lainnya pun memasuki rumah. Memberi salam, dan berjalan ke dapur. Mereka sangat lapar setelah potroli― membunuh hollow adalah pekerjaan yang cukup merepotkan.

Menghilangkan rasa canggung saat melihat Karin tengah makan di meja makan. Satu persatu dari mereka pun menyapanya terkecuali Toushiro, dia hanya menatap Karin. Karin hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon, mulutnya sedang dipenuhi makanan saat ini. "Ah, Kalian sudah pulang!" seru Yuzu yang baru saja keluar dari toilet. Dia menyapa dengan ramah sebelum akhirnya mengambil kursi tepat di antara Rukia dan Karin.

Makan malam itu diawali dengan canggung sebelum akhirnya Karin beranjak dari bangkunya. Dia sudah selesai makan. Dia berjalan perlahan kearah tangga dan menaikinya, tidak ada yang berniat membantunya. Karena itu akan sangat menyakiti hatinya. Apalagi dia terbiasa melakukan sesuatunya sendiri sejak dua tahun lalu.

...

Ishida apartemant, 7 pm.

Inoue duduk di bangku dengan terus memainkan jemarinya. Rasa sedih dan bersalah menghinggapi dirinya ketika melihat temannya itu. teman yang sudah lama tidak ditemuinya. Kurosaki Ichigo. Gadis yang telah mengganti namanya menjadi Ishida Inoue itu benar-benar merasa bersalah. Karena dia tidak bisa memenuhi permintaan temannya.

Ichigo duduk di depan teman lamanya itu. kepalanya tertunduk. Dia sungguh merasa tidak bisa menjaga keluarganya.

"Kuroski-kun, Aku mencoba yang terbaik untuk Karin dua tahun lalu bahkan setelahnya. Selain luka bakar itu, tidak ada yang Aku bisa lakukan dengan matanya. Bukan Aku tidak mampu, kasus Karin-chan sangat berbeda dari biasanya."

Ichigo menatap sedih pada temannya, dia berusaha tersenyum menyampaikan rasa terima kasihnya. Setidaknya, Inoue telah berusaha mengobati Karin. Tapi apa yang dilakukannya. Bergelut dengan tumpukan kertas dan bertarung? Sungguh, Karin tidak membutuhkan itu dua tahun lalu maupun sekarang.

"Maaf, memintamu untuk hal yang tidak mungkin."

Inoue menggeleng, "Tidak, Aku pun sebenarnya ingin membantumu."

Ichigo memegang kepalanya, frustasi. Luapan emosinya masih belum hilang pada sang ayah yang tidak memberitahunya apapun. Hanya karena tidak ingin mengganggu tugasnya sebagai shinigami. "Kenapa Oyajii tidak mencari donor mata untuk Karin?!" raung Ichigo.

Mata Inoue melebar, menunjukkan ekspresi terkejutnya. 'Donor mata? Apa Kurosaki-san belum menjelaskannya?' tanyanya dalam hati. Mencoba mengerti alasan Isshin tidak memberitahu Ichigo 'hal itu' membuatnya semakin sedih. Jika karena kebutaan Karin Ichigo menjadi sedih, bagaimana dengan hal lainnya?

"Kurosaki-san telah mencobanya, berhentilah terus menyalahkannya" Inoue tidak tahu kenapa dia menaikkan nada suaranya. Ichigo terkesiap, dia jarang mendengar temannya berbicara dengan nada seperti tadi. Dan detik berikut, Ichigo mengabaikannya. Inoue benar, dia tidak seharusnya menyalahkan ayahnya. Tidak saat ini, maupun sebelumnya.

"Apa Aku harus berhenti menjadi shinigami untuk membayar ini semua?" Ichigo benar-benar frustasi.

"Tidak! Kau tidak bisa berhenti menjadi shinigami. Mereka tidak memberitahumu bukan untuk Kau berhenti menjadi shinigami. Mereka hanya tidak ingin Kau khawatir dan mengabaikan tugasmu."

Ichigo mengangguk. Tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Mungkin dia bisa untuk tidak berpatroli selama disini. Dan menghabiskan waktu dengan keluarganya selama tiga bulan ini. ya, teman-temannya pasti akan mengerti itu.

...

Kurosaki house, 9 pm.

Setelah kakaknya keluar dari kamar dan mencium dahinya. Karin terjaga dari tidurnya, dia duduk dan memandang lurus ke depan. Yuzu masih berada di bawah bersama Matsumoto dan Rukia― mereka sedang membicarakan sesuatu yang Karin merasa tidak tertarik bergabung. Sejak dia tidak bisa melihat, Karin mulai tidur lebih cepat dari biasanya.

Lamunannya diinterupsi oleh suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali. "Yu-chan?" tanya Karin memastikan orang yang baru memasuki kamarnya itu. "Hi!" suara husky yang cukup familiar di telinga membuatnya tersenyum ramah. "Toushiro," gumamnya.

Toushiro duduk di tepi tempat tidurnya. Rasanya ingin sekali tersenyum dan menyapanya ― tapi Karin takkan melihatnya. "Maaf Aku baru menyapamu," ujar Toushiro lemah. Karin hanya menggeleng, berharap temannya itu tidak merasa bersalah.

"Kau tahu," Karin mencari tangan Toushiro dan memegang tangan dingin itu.

"Hn," gumamnya singkat. Tangannya begitu hangat. Dan itulah salah satu hal yang paling disukai Toushiro dari Karin.

"Sebelum Aku buta, Aku sangat marah saat Kau berhenti mengunjungiku. Rasanya ingin sekali menendangmu dengan keras memasuki gawang― seperti bola. Tapi Aku malah tidak mengenalimu saat Kau datang," Karin tertunduk lesu.

Toushiro membalas genggamannya, mencoba berbagi kenyamanan yang sama dengannya. "Karin? Apa Kau masih marah karena Aku tidak mengunjungimu lagi? Aku sungguh minta maaf!"

Karin melepas genggaman itu dan menepuk tangannya, "Ah! Apa Kau benar Toushiro yang asli?" Toushiro menaikkan sebelah alisnya― bingung. "Kenapa sejak tadi Kau terus minta maaf? Apa Kau terkena pukulan kipas Urahara-san?" jelas Karin. Matanya yang tidak dapat melihat apapun tampak menyipit, seolah memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat― walaupun tidak bisa melihat.

Tanpa sadar, suara tawa lepas dari mulut kapten Gotei 13 itu. Entah apa, pertanyaan dan ekspresi Karin saat mengatakan itu membuatnya ingin tertawa. Mendengar kembali tawa temannya, membuat Karin tersenyum. Sebuah tawa yang dirindukan olehnya.

Toushiro tidak tahu. Tidak tahu kenapa dia selalu kehilangan kendali saat berada dekat Karin. Sikap dinginnya hilang begitu saja. Sebuah senyum dan tawa adalah hal biasa jika bersama dengan gadis Kurosaki di sampingnya itu. seperti saat ini, dia tidak tahu kenapa tangannya refleks mengacak rambut Karin. Rambut raven yang begitu lembut dan mungkin― harum.

Karin terdiam, wajahnya memanas ketika merasakan tangan besar temannya itu mengacak rambutnya. Dia merasa bahwa wajahnya memerah saat ini.

Menyadari hal yang dilakukannya. Wajah Toushiro memerah, kontras dengan warna rambutnya yang putih. Sempat terbesit untuk berterima kasih atas kebutaan Karin― karena dengan itu Karin tidak akan melihat wajahnya yang memerah ataupun menertawainya. Tapi dengan cepat pikiran itu dienyahkannya. "Ti-tidurlah!" pinta Toushiro gugup.

Karin mengangguk singkat. Toushiro terdiam, dia tidak tahu kenapa. Melihat Karin yang menuruti permintaannya begitu saja membuatnya bertanya. Biasanya Karin akan marah dan memukulnya keras di bahu jika Toushiro memerintahnya seperti itu. 'Mungkin dia lelah,' pikirnya menghilangkan rasa penasarannya saat ini.


Author Note:

Ah, terima kasih untuk yang mereview! Walaupun sedikit :(

Aku selalu menonton anime Bleach, tapi sayang tidak dilanjutkan sampai arc terbaru ini. Jadi Aku baru mulai membaca arc-nya lagi sekitar tiga bulan lalu. Dan, maaf ya jika banyak kekurangan. Aku penggemar Bleach yang menyedihkan ya :(