Can You See Me?

Bleach Tite Kubo

5 Agustus. Karakura Street, 9 am.

Karin memperpanjang langkahnya di jalan yang cukup sepi itu. Langkahnya tampak seirama dengan langkah Ichigo yang mengikutinya dari belakang. Jalan itu pun dipenuhi gerutuan pelan gadis Kurosaki berambut raven tersebut.

Dia kesal. Kurosaki Karin sangat kesal dengan sikap kakaknya yang overprotective itu. Dia tidak butuh dipantau 24 jam untuk melakukan aktifitasnya sendiri. Apalagi sampai harus membuat kakaknya itu melalaikan tugasnya sebagai shinigami.

Brugh!

"Akh!" seru Karin yang terjatuh diatas aspal ketika tanpa sengaja dia menabrak sesuatu di depannya. Ichigo yang melihat adiknya menabarak seseorang langsung berlari menghampirinya, membantunya untuk berdiri. "Apa Kau tidak apa-apa, Nak?" tanya seorang lelaki tua yang baru saja ditabrak Karin.

Ichigo membungkuk dan meminta maaf sebelum akhirnya membawa Karin menjauhi orang itu. Sementara Karin terus menggerutu di genggamannya.

"Aduh!" keluh Ichigo yang melepas tangan Karin dan mengelus lututnya yang ditendang adiknya itu. "Hei, kenapa Kau menendangku sih?!" Karin hanya memalingkan wajahnya. Dia sungguh kesal dengan kakaknya itu.

"Ha~h, baiklah! Aku tetap akan berpatroli malam hari, dan siang harinya menemani― Auch!" Ichigo kembali memegang kakinya yang kembali di tendang oleh Karin. Ichigo ragu Karin benar-benar buta, bahkkan tanpa melihat, adiknya itu tetap dapat menendang kakinya dengan tepat.

"Aku tidak butuh babysitter, Ichi nii! Kau akan istirahat di siang hari dan pergi berpatroli malam harinya, itu perintah!" seru Karin sambil menyilangkan tangannya di depan dada.

Ichigo masih mengelus kakinya yang kesakitan, dia yakin kakinya akan patah jika di tendang lagi sekuat itu. "Ya ya ya, terserahlah!"

Karin tahu kakaknya itu tidak mendengarkannya dengan baik. Tapi akhirnya dia menyerah. Jika dua orang keras kepala diajak berargumen, pasti tidak akan menuaikan hasil.

"Ya, Aku baru saja menemukannya," sura husky yang berasal dari belakang Kurosaki bersaudara itu pun berhasil mencuri perhatian. Disana, Toushiro baru saja menutup hp miliknya dan mengihampiri mereka. Dia sedang memakai gigainya. "Hei, Kurosaki! Kau dicari Kuchiki," ujar Toushiro seraya menaruh tangannya di dalam saku celana.

"Siapa?" tanya kedua Kurosaki bersamaan. Toushiro menggeleng pelan, dia lupa bahwa dua orang di depannya adalah kurosaki. "Tentu saja Kau, Kurosaki Ichigo."

"Tidak, Aku sedang menemani Karin."

"Sotaicho ingin bertemu denganmu, sebaiknya jangan membuatnya menunggu," abai Toushiro yang tidak memperdulikan penolakan Ichigo.

"Untuk apa kakek tua itu menemuiku?" tanya Ichigo penasaran.

"Entah," khas Toushiro. Menjawab dengan satu kata, salah satu hal yang tidak disukai Ichigo dari kapten termuda Gotei 13 itu. "Aku akan menghubunginya nanti malam," ujar Ichigo.

"Ichi-nii," suara Karin terdengar penuh intimidasi. Dan sukses membuat Ichigo merinding karenanya. Suara kaki yang mengetuk-ngetuk seolah bersiap untuk menendang pun membuat Ichigo menjauh perlahan dari adiknya― kakinya yang jenjang itu terlalu sayang jika dijadikan bola.

"Ah, mungkin Aku harus kesana. Hei, Kau tolong jaga adikku ya!" setelah menyelesaikan kata-katanya, Ichigo pun berlari melewati Toushiro. "Ichi-nii, Aku tidak butuh babysitter!" gerutu Karin dengan kerasnya menyadari bahwa kakanya itu telah berlari menjauh darinya.

Toushiro hanya mendesah melihat tingkah mereka. "Ayo Kita pulang!" ajaknya pada Karin yang berdiri beberapa kaki di depannya. Karin mengangguk dan membalik badannya, berjalan kearah awal dia menghindari Ichigo sebelumnya.

"Kau ingin kemana?" tanya Toushiro yang dengan cepat memegang bahu Karin.

Karin menghentikan langkahnya dan berbalik. Keheningan sejenak diantara mereka. Pluk! Karin mengetuk dahinya pelan. Dia lupa bahwa tadi Ichigo menariknya paksa entah kearah mana. Dan dia benar-benar tidak tahu arah rumahnya kini. Baka, Ichi-nii!

"Sungai," dusta Karin. Dia tidak ingin terlihat payah di depan temannya itu, walaupun dia sendiri tidak yakin bahwa arah yang diambilnya tadi menuju sungai.

Toushiro hanya mengangguk singkat dan meraih pergelangan tangan Karin. Mengetahui temannya itu berbohong, Toushiro hanya diam. Dia tahu, bahwa itu bukanlah kearah sungai mamupun rumahnya.

Karin terkesiap ketika menyadari tangan Toushiro meraih tangannya, "He-hei! Aku bisa berjalan sendiri." Karin mencoba lepas dari tangan dingin temannya itu.

"Kau ingin ke sungai 'kan? Biar Aku yang mengantarmu, Kau sendiri tidak membawa tongkat. Bagaimana jika menabrak sesuatu? Aku tidak ingin kerepotan karena itu," jelas Toushiro yang mulai menuntun Karin ke jalan menuju sungai.

Karin tidak merespon, dia hanya mengikuti langkah Toushiro di depannya. Uh! Tapi kakinya terasa sakit. Rasanya seperti dia baru saja terkilir saat bermain bola.

Toushiro melihatnya. Dia merasa ada yang aneh dengan cara jalan Karin, apa gadis itu baru saja terkilir. Bugh! Kepala Karin bertubrukan dengan punggung Toushiro. Kapten es itu baru saja menghentikan langkahnya tiba-tiba dan berbalik menghadap Karin.

"Aw, Tou! Kenapa Kau berhenti tiba-tiba?" tanya Karin seraya mengusap dahinya dengan tangan yang tidak di pegang Toushiro.

"Lepas sepatumu!" perintah Toushiro. Karin bersungut bingung, berpikir bahwa Toushiro meminta hal yang aneh. Hei, ini musim gugur! Apa dia harus berjalan dengan kaki telanjang di saaat dingin.

Mengetahui apa yang dipikirkan temannya, Toushiro pun mulai menjelaskan permintaannya. "Kau terkilir 'kan? Biar kuperiksa, mungkin saja Aku bisa menyembuhkannya dengan kido-ku."

"Kau dalam gigai-mu 'kan? Apa bisa?" tanya Karin.

Toushiro tidak menjawab, dia hanya membungkuk dan membuka sepatu Karin. Melihat pada kaki kecil temannya yang tampak mememerah. Karin tidak protes sama sekali dengan tindakan temannya, dia hanya menunggu dan memastikan apa yang akan dilakukan Toushiro.

Karin tidak melihatnya. Tidak melihat pendar hijau yang muncul dari tangan kanan temannya itu, tapi dia bisa merasakan kehangatannya. Perlahan rasa sakitnya mulai berkurang.

"Darimana memar-memar ini? Kau tidak bermain bola untuk dapat memar ini 'kan?" tanya Toushiro yang masih memusatkan perhatiannya pada penyembuhan di kaki Karin. Mungkin kido-nya tidak sehebat divisi 4 atau Orihime Inoue, tapi untuk memar kecil seperti ini― itu adalah hal yang mudah bagi lulusan terbaik akademi shinigami sepertinya.

"Ichi-nii, Aku menendang kakinya tadi. Aku pikir tidak akan sakit, ternyata kakinya keras juga ya. Hahaha!" tawa Karin mengingat betapa bodohnya dia untuk tetap memukul kaki kakaknya yang sangat keras itu, walaupun dia sudah merasakan sakit pada tendangan pertama.

Toushiro menggeleng lemah, "Tentu saja keras, bagaimanapun juga dia adalah seorang petarung. Tubuhnya harus siap untuk pukulan sekecil apapun."

"Tapi, dulu setiap Aku menendangmu. Rasanya tidak sesakit ini," ujar Karin.

Wajah Toushiro memerah, dia tidak suka jika ditanyakan alasan kenapa dia selalu bersikap berbeda di depan Karin. Ya, sikap yang berbeda hanya untuk seorang gadis dari dunia manusia.

"Karena Kau temanku," dan itulah jawaban yang bisa diberikan Toushiro padanya.

Toushiro memasangkan kembali sepatu temannya itu dan berdiri. Karin menggerak-gerakan kakinya, rasanya lebih baik dari sebelumnya. Dan sebuah senyum terkembang di wajahnya.

...

Suara aliran sungai yang menyatu dengan udara dingin mengisi sunyi di sekitarnya. Tidak jauh dari sungai, tepat diatas rerumputan― Toushiro dan Karin duduk dengan nyaman menikmati suasana menjelang siang kala itu. Kilauan sinar matahari cukup untuk menghangatkan mereka. Walaupun Toushiro tidak butuh sinar matahari untuk menghangatkan diri― ya, pangeran es tidak butuh kehangatan kan?

"Tou, bagaimana keadaan temanmu itu?" tanya Karin memecah sunyi. Toushiro mengalihkan pandangannya dari sungai, menatap tepat kearah Karin yang duduk disampingnya. Temannya itu masih menatap lurus kearah depan, mungkin menikmati suara sungai yang mengalir.

"Hinamori? Dia sudah sadar setengah tahun yang lalu," jawab Toushiro yang kembali mengalihkan pandangannya. Perlahan merilekskan tubuhnya, meluruskan kaki dan menjadikan tangannya tumpuan tubuhnya.

"Lalu bagaimana dengan perasaanmu, Kau sudah menyampaikannya kan?"

Toushiro tahu apa yang dimaksud Karin. Dulu dia pernah memberitahu Karin mengenai perasaan sukanya pada Momo. Tapi itu dulu, perlahan perasaannya pada teman masa kecilnya itu telah berubah. Ditambah lagi, Momo hanya menganggapnya sebagai adik― itulah yang ditangkap Toushiro saat Momo sadar dari komanya setengah tahun lalu.

"Tidak," satu kata itu pun dipilih Toushiro sebagai jawaban. Dia tidak memilih kata 'belum' ataupun 'iya' karena dia memang tidak akan pernah mengungkapkan perasaan lamanya itu.

Tidak ingin memasuki kehidupan temannya terlalu dalam, Karin hanya mengangguk. Walaupun dia penasaran dengan apa yang dimaksud Toushiro. Karena kata 'tidak' baginya tidaklah menjelaskan apapun.

"Tou, Kau dan Ichi-nii akan disini selama tiga bulan kan?"

"Hn, tapi jika divisi 12 dapat mengatasi tugasnya lebih cepat mungkin hanya dua bulan atau kurang."

"Oh."

"Karin, Kau tidak berpikir lagi untuk menjadi shinigami seperti Ichigo?"

Lama jeda diantara mereka hingga Karin kembali bertanya, "Bukankah itu ilegal?"

"I-itu ... ah! Kau kan putri dari seorang shinigami juga, sepertinya itu tak jadi masalah sekarang. Bukankah Kau juga selalu ingin melindungi keluargamu? Dan jika dalam wujud shinigami, kemungkinan besar Kau akan dapat melihat lagi."

Karin mengangguk singkat, "Ya, Aku ingin. Rasanya menyenangkan jika bisa menendang hollow itu diwajahnya, atau tidak lagi dilihat lemah oleh yang lain. Aku ingin sekali menjadi lebih kuat."

Ada yang aneh, Toushiro merasa aneh dengan ekspresi Karin saat mengatakan itu. Wajahnya tidak seceria dulu, saat dia mendeklarasikan dirinya untuk menjadi shinigami suatu saat nanti. "Hn?"

Karin memeluk lututnya erat, seolah menyembunyikan rasa tidak nyaman didirinya saat ini. Dan kecangggungan kembali tercipta diantara mereka. Perlahan Karin menghilangkan perasaan itu, menguatkan determinasi yang cukup lama dijaganya dalam dua tahun terakhir ini.

"Tapi Tou, Aku hanya ingin melindungi keluargaku. Saat melihat Ichi-nii pergi― Aku, Yuzu dan Otou-san merasa sangat kesepian. Terkadang melihat Yuzu khawatir setiap harinya tentang keadaan Ichi-nii membuatku tidak nyaman. Jadi Aku memikirkan cara lain untuk melindungi keluargaku, cara yang Aku ambil sejak Okaa-san meninggal."

Tidak ada respon, Karin pun melanjutkannya. "Tidak menangis dan menjadi lebih kuat agar mereka tidak perlu mengkhawatirkanku, atau tidak memasukkan mereka dalam masalahku sendiri. Sepertinya cara itu lebih baik dibandingkan menjadi shinigami, setidaknya mereka tidak perlu khawatir jika Aku terluka karena hollow atau apapun itu."

"Tapi Kau selalu saja membahayakan dirimu sendiri. Padahal tidak memiliki pedang, kau malah berlari melawan hollow itu dan menendang bola ke wajahnya." Toushiro melihat Karin tertawa kecil setelah mendengar penuturannya, dia pun ikut tertawa saat mengingat kejadian itu. Hei, perkataannya itu tidak salah. Karin selalu keras kepala dengan mengatakan bahwa dirinya bisa menendang hollow-hollow itu. Walaupun akhirnya, Toushiro akan selalu membantunya jika dia gagal.

"Yap, itulah gen Kurosaki. Ah, apa Aku terlihat bodoh saat melukan itu? Tidak, kan?" tanya Karin retoris sambil menahan tawanya.

"Ya, Kau bodoh!" sahut Toushiro angkuh. 'Kau bodoh selalu membiarkan dirimu terkena masalah karena menolong orang yang tidak kau kenal,' ujar Toushiro dalam hati. Dan itulah satu hal yang disukainya dari Karin. Selalu mengatakan tidak ingin mencampuri urusan orang lain, tapi nyatanya dia selalu melibatkan dirinya ke dalam masalah orang itu. baik diminta maupun tidak.

"Toush! Kau tidak seru, Aku 'kan hanya beretoris. Dasar, old man!" twitch! Sudut siku-siku seolah tercipta di dahi kepten muda itu. Toushiro tidak suka jika Karin sudah memberikannya julukan-julukan aneh seperti itu. Tapi kembali, dia selalu membiarkan Karin menyematkan julukan itu padanya.

Pluk! Beban dibahu Toushiro bertambah tiba-tiba. Harum green tea perlahan mengisi indra penciumannya. Melihat pada temannya yang tengah mengistirahan kepalanya pada pundaknya, Toushiro hanya tersenyum. Perlahan dia pun menyenderkan kepalanya di atas kepala Karin. Jika di lihat dari belakang, mereka seperti Yin dan Yang yang saling melengkapi.

"Jika Aku tertidur, Kau harus menggendongku ke rumah." Ujar Karin, suaranya terdengar bercanda. Tapi dia serius, dia sangat mengantuk dan tidak ingin dibangunkan nanti.

"Hn," Toushiro menjawab dengan satu gumaman kecil dan kembali menikmati angin musim gugur saat itu.


Author note :

Terima kasih atas review penyemangat dan membangunnya!

Maaf jika banyak katakter ooc disini! Tapi satu, jika kalian merasa risih dengan sikap Karin. Aku mohon maaf! Aku butuh Karin yang seperti itu untuk satu buah alasan yang pasti kalian akan tahu jika terus semangat membaca ceritaku.