CAN YOU SEE ME
Bleach Tite Kubo
10 Agustus. Karakura grocery, 9 am.
"Bagaimana jika sup miso?" tanya Yuzu dengan senyum terkembang di wajahnya. Rukia hanya mengangguk pada gadis Kurosaki itu. saat ini, mereka berdua sedang berada di toko. Ichigo meminta Rukia untuk menjaga Yuzu saat mendengar adiknya itu akan pergi berbelanja sendirian. Oh, kenapa kekasihnya harus separanoid itu? Memberikan banyak alasan yang aneh agar dia mau menemani Yuzu berbelanja. Hei, dia seorang shinigami bukan babysitter.
Rukia mengedarkan pandangannya ke sekitar toko. Pandangannya terhenti pada seorang lelaki berambut hitam memakai kaca mata yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Uryuu?" bisik Rukia memastikan penglihatannya.
"Dimana?" tanya Yuzu yang tidak sengaja mendengar bisikan Rukia tersebut. Rukia mengisyaratkan pandangannya pada Uryuu yang sedang membayar di kasir toko. "Rukia-nee, bisa Kau pilihkan sayur ini sebentar? Ada yang harus Aku bicarakan dengan Uryuu-san," pinta Yuzu. Rukia hanya mengangguk singkat, dan Yuzu berlari meninggalkannya.
Rukia tidak pernah melihat teman quincy-nya itu sejak datang kesini. Yang dia temui hanya Inoue saat datang ke rumahnya, laki-laki itu selalu sibuk dengan urusan rumah sakit― itulah yang Inoue katakan saat terakhir Rukia berkunjung ke rumahnya dua hari lalu. Lalu kenapa dia disini? Apa karena ini hari minggu? Ah tentu saja, seorang dokter pun butuh libur 'kan?
"Ah, Kuchiki-san. Gomen, tidak bisa menemuimu dua hari lalu!" suara khas itu membuat Rukia tersadar dari lamunannya. Di tatapnya Uryuu yang sudah berdiri di depannya. Berapa lama dia terhanyut dalam pikirannya? "Kuchiki-san, Kau baik-baik saja?" tanyanya lagi.
"Ah iya, Aku hanya kaget Kau ada di depanku," celetuk Rukia tiba-tiba. Uryuu hanya bergumam singkat dan kembali melihat Yuzu yang berdiri di sampingnya. Tampak gadis Kurosaki itu masih sedih atas apa yang dikatakannya tadi. Di tepuknya lembut pundaknya dan berujar, "Yuzu, Aku akan datang ke rumahmu malam nanti."
Rukia mengalihkan pandangannya pada Yuzu. Wajah ceria yang dilihatnya beberapa waktu tadi telah hilang. Kesedihan lebih mendominasi wajah cantik itu. dilihatnya Yuzu yang mengangguk lemah atas pernyataan Uryuu tadi.
"Baiklah! Yuzu, Kuchiki-san, Aku pulang duluan ya! Sampai bertemu nanti malam!" Dan dengan itu, Uryuu berjalan keluar dari toko. Dengan wajah Yuzu yang tertunduk sedih dan Rukia yang terdiam penuh tanya. "Rukia-nee sudah memilih sayurnya, ayo kita bayar belanjaannya!" ajak Yuzu tiba-tiba. Rukia hanya mengikutinya dari belakang. Dia masih dapat melihat kesedihan dari adik kekasihnya itu.
Setelah keluar dari toko, mereka berjalan dengan tenang menyusuri jalan pulang. Tidak ada yang memulai pembicaraan sedikit pun. Suasana jalan yang sepi membuat keduanya terbawa lamunan masing-masing.
Langkah Rukia terhenti ketika menyadari Yuzu berhenti tiba-tiba. "Rukia-nee, bisa Kau bawa belanjaan ini ke rumah?" tanya Yuzu yang menyodorkan tas belanjaannya pada Rukia. Dia mengambilnya tanpa bertanya sedikit pun. Dan dengan itu, Yuzu berlari berlainan arah dengannya.
Setelah Yuzu tidak terlihat lagi dari pandangannya, gadis Kuchiki itu memakan soul candy miliknya. Dia keluar dari gigainya, "Bawa belanjaan ini ke rumah dan langsung masuk ke kamar!" gigai yang merupakan replika dirinya hanya mengangguk. Dan dengan cepat Rukia berlari melompati atap, tidak lupa dia pun menutupi reiatsunya agar tidak ada yang menyadari kehadirannya.
Langkahnya terhenti tidak jauh dari Yuzu yang kini tengah berdiri di hadapan Uryuu. Nafas gadis Kurosaki itu tampak terengah-engah karena berlari. Rukia mencoba mencari jarak aman― agar dia dapat mendengar pembicaraan mereka. Dengan perlahan dia melompat kearah pohon besar yang berada tidak jauh dari mereka. Berdiri dengan hati-hati pada salah satu dahan yang terlihat kuat, Rukia pun mendengarkan dengan tenang.
Yuzu yang tengah selesai mengatur nafasnya kembali berdiri dengan tegap di hadapan Uryuu. Matanya menatap dalam iris hitam lelaki di depannya itu. "Tidak bisakah, Uryuu-san? Seperti beberapa waktu yang lalu?" tanya Yuzu tiba-tiba. Matanya mulai berembun, meneteskan air mata yang sejak tadi coba ditahannya.
Uryuu terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa agar adik dari temannya itu berhenti menangis. Ditaruhnya belanjaan yang sejak tadi dipegang, dekat dengan kakinya. Kaki jenjangnya berjalan mendekati Yuzu dengan perlahan― dan sebuah pelukanlah satu-satunya hal yang mampu dilakukannya.
"Maaf!" lirihnya. Yuzu memberontak dan melepaskan pelukan dari orang yang telah dianggap sebagai kakaknya itu. "Bukan kata itu! Aku ingin kata 'ya'! bukan maaf!" seru Yuzu dengan air mata masih mengalir di wajahnya.
Tubuh gadis itu bergetar. Tidak bisa begini! Kalau sebelumnya bisa, kenapa yang ini tidak bisa? Yuzu tidak terima dengan kenyataan pahit yang suatu saat nanti akan di dapatkannya. "Kalau begitu ... Aku yang akan mendonorkan jantungku," ujar Yuzu dengan nada pasti.
Mata lelaki itu melebar. Dia terlalu kaget mendengar pernyataan itu. Bukan itu yang dimaksud olehnya, bukan karena tidak ada donor jantung. Tapi karena―.
"Tidak bisa, Yuzu! Bukan itu maksudku," sergah Uryuu.
"Kenapa tidak bisa? Sebelumnya bisa dengan yang lain, kenapa tidak dengan jantungku?"
"Kau tidak mengerti! Operasi ketiga itu pun gagal, apa Kau tidak melihatnya? Kita tidak bisa melakukannya terus menerus, atau Kau akan melihatnya kembali mati begitu saja oleh pisau bedah. Inoue dan Tessai-san pun tidak bisa menolongnya lagi jika hal itu terjadi."
"Tidak! Tidak akan ada yang mati! Tidak― tidak ... Karin."
Degh! Jantung Rukia seolah berhenti berdetak ketika Yuzu melirihkan nama Karin diakhir kalimatnya. Keseimbangan kakinya melemah mendengar informasi yang tampak samar itu. Dia sudah cukup menjadi pendengar. Dia butuh penjelasan lebih dari apa yang di dengarnya.
Rukia turun dari pohon dan menatap tajam pada dua orang di depannya. Kehadirannya cukup membuat Uryuu tersentak tapi tidak dengan Yuzu. Dia terlalu sakit dan sedih untuk mengurusi keterkejutannya. Gadis Kurosaki itu sudah duduk terjatuh menangisi sesuatu yang entah apa itu. Dan Rukia akan mencari tahunya.
"Jantung? Operasi? Siapa? Siapa yang Kalian maksud? Dan mengapa dengan Karin?" tanya Rukia intens.
...
Kurosaki house, 7 pm.
"Hei, Rukia! Kenapa Kau terlihat lesu seperti itu?" tanya Ichigo melihat kekasihnya. Sejak tadi, Rukia tidak menyentuh sedikit pun makanannya. Wajahnya pun terlihat sedih. Padahal teman mereka sedang bertamu kesini. "Tidak, Aku hanya lelah." Jawabnya tanpa melirik pada Ichigo.
Uryuu tampak melirik sekilas pada Rukia lewat sudut matanya. Dia sedikit khawatir mengenai kejadian siang tadi. Inoue yang duduk di sampingnya hanya dapat tersenyum miris, dia pun mengetahui kejadian itu setelah Uryuu memberitahunya.
"Uryuu-kun, bisa temui Saya di klinik setelah ini?" tanya Isshin yang telah menyelesaikan makanannya. Uryuu melihat tatapan sedih dari Kurosaki tertua sekaligus pamannya itu, dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Ichigo yang mendengar pertanyaan ayahnya tampak bingung, "Hei baka Oyaji! Apa yang ingin Kau lakukan dengan Uryuu?"
Sebelum Isshin menjawabnya, Uryuu lebih dulu menyahuti pertanyaan temannya itu. "Ada beberapa obat yang memerlukan izin rumah sakit resmi untuk klinik, Kurosaki-san perlu memastikan obat-obat itu dulu. Dan Aku akan mengirimkan permintaannya pada rumah sakit besok, jadi dia meminta rekomendasiku."
Ichigo terdiam, dia tidak benar-benar mengerti tentang obat. Dia hanya mengangguk. "Strawberry head, Kau mengerti yang dikatakannya barusan? Jangan hanya mengangguk saja!" ejek Renji yang tampak senang membuat kesal Ichigo. "Hei ...!" gerutu Ichigo. Dan makan malam itu pun kembali dipenuhi dengan keributan.
...
"Silahkan berkunjung lagi!" seru Yuzu yang menemani pasangan Ishida muda itu keluar rumah. Keduanya hanya tersenyum dan membungkukkan badan. Mereka pun berjalan memasuki mobil mereka yang terparkir di depan rumahnya. Yuzu terdiam sesaat sebelum akhirnya berjalan memasuki klinik yang tepat berada di samping rumah.
Klinik itu gelap, lampu dalam ruangan telah dimatikan― menandakan bahwa klinik telah ditutup. Yuzu berjalan mendekati sosok laki-laki yang duduk di balik meja dokter di ruangan tersebut. Kepala laki-laki itu tertunduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Dirinya tidak terusik ketika Yuzu menyalahkan lampu ruang tersebut.
"Tidurlah di kamar, Tou-san!" pinta Yuzu lembut pada laki-laki yang tidak lain adalah ayahnya, Isshin.
Isshin menurunkan kedua tangannya. Ditatapnya sendu putri bungsunya itu, wajah putrinya itu sangat mirip dengan mendiang istrinya― Kurosaki Masaki. "Tidurlah lebih dulu, besok Kau sekolah pagi 'kan?" ujarnya lembut. Mencoba menegarkan dirinya di depan sang anak, Isshin pun memaksa sebuah senyum terkembang di wajahnya.
Yuzu yakin, bukan hanya dia yang dapat merasakan perubahan ayahnya itu. Ichigo dan shinigami lain pun merasakannya. Mantan kapten divisi 10 itu terlihat lebih dewasa. Dia menghilangkan sikap anehnya yang dulu. Ya, menghilangkan. Sang ayah menghilangkan sifat anehnya itu beberapa bulan lalu. Ketika kejadian buruk menimpa Karin. Ayahnya mencoba menjadi seseorang yang tegar dan bisa diandalkan disaat keterpurukan menimpa saudara kembarnya itu.
"Tou-san, sudah seminggu Kau tidak tidur di kamar." Isshin tergelak dari duduknya, dia menggelengkan kepalanya lemah. Bagaimana putrinya tahu bahwa dia tidak pernah tidur di kamarnya. Padahal, dia selalu mengendap-endap keluar setiap malam dari kamarnya.
Seolah mengerti apa yang dipikirkan ayahnya, Yuzu duduk di kursi pasien yang tepat berhadapan dengan ayahnya. "Karin mendengar Tou-san keluar kamar dan tidak kembali. Dia sangat khawatir, Tou-san. Jika tidak bisa untuk Tou-san, lakukanlah untuk Karin. Yu mohon!"
Ah, bagaimana dia bisa lupa bahwa pendengaran Karin sangat tajam. Kembali sebuah senyum palsu terkembang di wajahnya. Diangkat tangannya untuk mengelus singkat rambut honey blonde sang putri, "Tidurlah lebih dulu, Aku akan menyusul setelah membereskan beberapa dokumen ini."
Yuzu tersenyum, dia yakin ayahnya tidak akan berbohong jika sudah mengelus rambutnya hangat seperti itu. "Oyasuminasai," ujarnya. Dia beranjak dari kursinya dan berjalan ke pintu yang mengarah langsung ke dalam rumahnya. Isshin melihat seksama ketika pintu itu ditutup dan Yuzu sudah meninggalkan klinik.
"Karin ...," satu kata mengisi ruang itu dan detik kemudian suara tangis memenuhi ruangan yang didominasi oleh warna putih tersebut. Sebelum akhirnya, Isshin akan mengakhiri malam di atas kasur yang seminggu ini cukup dirindukannya.
...
Rukia yang baru saja kembali dari patroli malamnya tidak sengaja melihat Isshin yang baru saja keluar dari klinik. Matanya sembab, menandakan bahwa mantan kapten divisi 10 itu baru selesai menangis. Penampilannya sangat berantakan, tidak seperti dirinya yang biasa― selalu rapih setiap keluar dari klinik.
Isshin terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum melihat Rukia yang tengah berdiri di hadapannya. Kekasih putranya itu kini pulang lebih awal dari patrolinya. "Ada yang bisa kubantu, Rukia-chan?" tanya Isshin ramah.
Tubuh kecil Rukia bergetar, dia memegang shihakuso bagian dadanya erat. Mencoba menghilangkan delusi rasa sakit yang entah sejak kapan dirasakannya. "Tidak bisakah Kau memberitahu Ichigo tentang ini semua?" sebuah pertanyaan cepat, keluar begitu saja darinya. Dia berharap tidak menangis saat ini, tidak disini.
Isshin mengepalkan tangannya erat. Mencoba menahan rasa sedihya kembali. Dia telah diberitahu keponakannya mengenai Rukia yang juga mengetahui kondisi Karin. "Bisa Kau yang memberitahunya? Lidahku seperti terpotong tiba-tiba setiap kali mencoba mengatakannya," ujar Isshin dengan suaranya yang sedikit bergetar.
"Tapi―," Rukia belum sempat menyelasaikan kalimatnya ketika merasakan sebuah tepukan di bahunya. "Aku sangat lelah, selamat malam!" Suara Isshin yang lirih di telinganya membuat Rukia tertunduk. Dia hanya mengangguk. Isshin pun berjalan menuju kamarnya, dia benar-benar 'lelah' saat ini.
Author Note :
Michel comes back! Di chapter ini Aku kasih hint atau bisa dibilang rahasia Karin. Dua chapter langsung pula.
Tapi ini sebagai tanda maaf karena lama ga update. So, nikmati ceritaku yang jelek ini ya!
