Can You See Me?
Bleach Tite Kubo
11 Agustus. Kurosaki house, 2 pm.
"Aku akan mengangkatnya ke kamar," ujar Mahiro yang melihat Karin tertidur di bangku. Dia tampak kelelahan setelah belajar.
"Tidak, biar Aku saja." Mahiro melihat pada Ichigo yang berjalan ke bangku tempat Karin tertidur. Dia baru saja mengenal lelaki itu beberapa waktu lalu. Ichigo mirip dengannya. Dia sangat menyayangi adiknya.
"Baiklah, Kurosaki-san!" Ichigo lalu menggendong Karin ke kamarnya. Dia berjalan hati-hati agar Karin tidak terbangun. Dan kini di ruang tengah hanya ada dirinya dan tiga orang yang kurang dikenalnya. Karin bilang, mereka adalah teman kakaknya. "Ah, Kami belum mengenalkan diri 'kan?" cetus Rangiku yang mencoba mengusik sepi di ruang tengah itu.
Dia mengulurkan tangannya pada Mahiro dan laki-laki blasteran Jerman itu pun menyambutnya dengan senyum, "Aku Matsumoto Rangiku, panggil saja Rangiku. Perempuan yang duduk di sampingku itu Kuchiki Rukia." Rukia menundukkan kepala singkat, "Ah! Dan yang beramput putih itu calon pacar Karin, Hitsugaya Toushiro."
"Matsumoto!" seru Toushiro dengan wajah menahan malu. Hei, kenapa dia harus malu. Mahiro sendiri sedikit terkejut. Dia kemudian hanya tertawa kecil dan tersenyum ramah kearah Toushiro. Yang diberikan senyum hanya menatap bingung.
"Wah, kalau benar Kau calon pacar Karin-chan. Kau harus meminta restuku dulu whitey-chan," celetuk Mahiro tiba-tiba. Mata Toushiro melebar, cara bicara orang itu seperti Ukitake taicho.
"Hohoho! Lihat, Mahiro-kun sepertinya menyukaimu Taicho! Dia memanggilmu 'whitey-chan,' seperti Ukitake-san saja. Benarkan Rukia?" ujar Rangiku dengan suara jahil khasnya. Rukia hanya mengangguk santai.
"Taicho?" tanya Mahiro. Dia sedikit bingung, kenapa Rangiku memanggil Toushiro dengan taicho. Toushiro hanya menggelengkan kepala melihat kebodohan Rangiku. Rangiku sendiri menghentikan tawanya dan menjawab gugup, "Ah, umh itu. Hitsugaya-san merupakan kapten kendo di universitas kami, hahaha! Jadi Aku memanggilnya Taicho deh."
"Wah, kapten kendo! Ternyata Kau kuat juga ya whitey-chan," ujar Mahiro dengan mengembangkan senyumnya. Dia sangat kagum dengan Toushiro, walau tubuhnya terbilang kecil untuk usianya― dia ternyata sangat kuat. Dan sebuah pertemanan hangat pun terbentuk anatara mereka. Mahiro sangat suka dengan sikap ramah Rangiku. Sepertinya dia akan menjadi teman yang baik begitu juga dengan lainnya.
"Terima kasih telah mengajari, adikku!" ujar Ichigo ramah seraya merundukkan badan. Mahiro hanya tersenyum dan merundukkan kepalanya juga. "Senang bertemu dengan Anda, mata ashita!" dan dengan itu, Mahiro pun pergi dari rumahnya.
Ichigo sepertinya cukup menyukai orang itu. Dia sangat baik pada Karin, bahkan terlihat seperti dia adalah kakaknya. Dan hal itu membuat Ichigo kagum sekaligus iri padanya. Selama dua tahun orang itu menemani Karin dan mengajarinya. Sedangkan dia tidak sama sekali ada dekat Karin saat Karin membutuhkannya. Itu membuatnya tidak berguna bagi keluarganya sendiri.
Rukia memeluk punggung kekasihnya saat menyadari kesedihan mulai menghampiri Ichigo. Pasti dia kembali menyalahkan dirinya, Rukia tidak suka hal itu. dia tidak suka melihat orang yang dicintainya bersedih. "Daijoubu, Karin-chan sendiri tidak masalah dengan itu. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu lagi!"
Ichigo membalik badannya dan balas memeluk Rukia. Rasa bersalahnya belumlah hilang. Tetapi dia tidak suka melihat orang yang dicintainya itu khawatir. Sehingga dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Toushiro dan Rangiku yang juga berada di ruangan itu hanya terdiam. Mereka tidak tahu harus melakukan apa.
Dan saat itu juga, terdapat satu pikiran yang mengganjal dari Rukia. Haruskah dia mengatakannya sekarang? Ah, tidak. Itulah keputusan yang akhirnya diambil. Dia tidak bisa mengatakan itu. Mengatakan satu hal yang membuat Ichigo lebih sedih dari ini. Ya, tidak. Tidak untuk saat ini.
...
Karakura park, 5 pm.
"Jadi, Kau benar tidak berpacaran dengannya ya." Karin mengangguk mendengar perkataan temannya itu. Dia dan Toushiro sedang berjalan-jalan sore, mereka sering melakukan ini sebelumnya.
Toushiro melirik Karin yang mengangguk akan pernyataannya. Dia sedikit puas mengetahui bahwa Mahiro memiliki pacar. Apalagi Karin hanya menganggap Mahiro seperti kakaknya saja. Langkahnya terhenti ketika melihat tukang es krim yang berada tidak jauh dari lapangan― tempat mereka akan beristirahat.
Karin pun ikut berhenti ketika Toushiro menghentikan langkahnya. Tangannya saling berpegangan saat ini, sehingga dia menyadari langkah temannya yang terhenti itu. "Ada apa?" tanya Karin penasaran.
"Kau ingin es krim?" tanya Toushiro balik. Karin mengangguk pelan. Kemudian mereka berjalan ke salah satu bangku taman terdekat disana. "Tunggu disini!" seru Toushiro dan berjalan pergi untuk membeli eskrim.
Karin duduk menunggu beberapa saat. Sebelum akhirnya sebuah tangan mengambil tangan kanannya, orang itu memberikannya sesuatu seperti cone es krim. "Vanilla," suara husky Toushiro terdengar lembut olehnya.
"Rasa kesukaanmu," lanjut Toushiro yang mengambil tempat duduk tepat di kiri Karin. Karin hanya tersenyum dan mulai memakan eskrimnya. "Ini eskrim yang biasa Kita belikan?" tanya Karin ditengah makannya.
"Hn, Kau selalu membelikannya saat Kita selesai bermain bola dulu."
"Ya, sudah lama Aku tidak memakannya."
"Hei, Kau lapar ya?" tanya Toushiro yang melihat eskrim vanilla milik Karin telah habis dimakannya. Karin hanya tertawa kecil mendengar nada suara temannya itu, apa dia terlihat aneh saat menghabiskan eskrim dengan cepat? "Hei, Toushiro! Sejak dulu Aku memang suka makan eskrim. Tidak perlu kaget begitu."
"Hah, iya juga ya."
"Toushiro, Kau sudah selesai memakan eskrimmu?"
"Aku tidak membelinya," Karin bergumam pelan. Mereka terdiam di sana cukup lama. Sebelum akhirnya, Toushiro memiliki ide untuk mengisi waktu mereka sebelum makan malam tiba. "Bagaimana jika Kita bermain bola?" usulnya tiba-tiba.
Mendengar kata sepak bola membuat Karin tertunduk. Tangannya terangkat dan memegang erat dadanya. Ada rasa sedih mengingat dia harus meninggalkan olahraga kegemarannya itu untuk waktu yang lama, bahkan mungkin selamanya.
Toushiro yang melihat perubahan ekspresi dari temannya itu sedikit tersentak. Apa dia mengatakan hal yang salah? Kenapa Karin tampak sedih mendengar ajakannya? "Tenang, Aku akan membantumu saat bermain." Toushiro mencoba membujuknya sehalus mungkin.
Karin menggeleng lemah, mengeratkan pegangan pada baju bagian dadanya. "Tidak bisa," lirihnya dengan kepala masih tertunduk. Toushiro hanya diam, menunggu alasan jelas sang teman.
"Aku sudah berjanji pada Tou-san untuk tidak bermain lagi. Gomen!"
Isshin melarang Karin bermain bola? Tidakkah itu aneh. Isshin tidak pernah melarang Karin bermain bola walaupun putrinya itu sering terluka. Tapi kenapa mantan kaptennya itu kini melarang Karin.
Sebenarnya sudah seminggu ini dia melihat keanehan pada keluarga Kurosaki. Mereka tampak menyimpan suatu hal, yang sepertinya Rukia sudah mengetahui hal itu. Gadis Kuchiki itu pun tampak berubah dari biasanya.
"Baiklah, mungkin sebaiknya Kita pulang saja." Toushiro memegang tangan Karin dan mengajaknya berdiri. Dia tidak ingin menanyakan hal yang mungkin membuat teman yang dicintainya itu bersedih. Ya, teman yang dicintai. Toushiro telah lama menyukai Karin. Dan dia berencana megungkapkan perasaannya itu suatu saat nanti.
Mereka jalan dengan tenang. Toushiro dan Karin sama-sama terhanyut dalam pikirannya masing-masing. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Lembayung senja sebagai latar mereka pun membuat suasana sore itu terlalu tenang.
"Toushiro, Kau pernah bilang 'kan kalau Kau berasal dari Rokungai."
"Aku pikir Kau sudah mendapat banyak informasi tentang Soul Society, Karin."
"Ya, tapi ada satu hal yang belum Aku tahu." Toushiro berhenti dari langkahnya dan berbalik menghadap Karin. Memandang sekilas pada sungai di sampingnya dan mulai menunggu pertanyaan Karin.
Tahu bahwa Toushiro menunggu pertanyaannya, Karin pun mengambil nafas sejenak dan bertanya. "Apa mereka yang sudah mati akan mengingat masa lalunya? Mereka yang ada di Rokungai maupun di Seiretei, apakah mereka mengingatnya?"
"Kenapa Kau menanyakan itu?" suara Toushiro terdengar aneh di telinga Karin. "Hei, Toushiro! Pertanyaanku jangan dijawab pertanyaan lagi!" gerutu Karin.
"Aku terlahir di Rokungai dan tidak punya masa lalu 127 tahun yang lalu dan Kau tahu itu kan? Jadi Aku tidak tahu tentang mereka yang punya masa lalu. Auw!" Toushiro mengernyit kesakitan dan langsung memegang lututnya yang baru saja di tendang Karin.
"Apa Kau tidak bisa menjawab pertanyaanku saja?" gerutu gadis Kurosaki itu sekali lagi seraya melipat tangannya di dada. "Ah, bisakah Kau tidak menendang seseorang seperti itu?"
"Yah, terserah katamu saja! Sekarang jawab pertanyaanku, Hitsugaya Taicho!" pinta Karin dengan nada sarkasme diakhir kalimatnya.
Toushiro – entah untuk ke berapa kalinya – kembali mendesah panjang. Iris teal taicho muda itu menatap tajam mata Karin sejenak dan mengalihkan pandangannya langsung pada sungai di sampingnya.
"Itu adalah hal yang terlarang di Soul Society. Tidak akan ada yang bisa mengingat masa lalunya, entah di Seiretei maupun Rokungai. Jika ada yang dapat mengingatnya, maka kemungkinan dia akan menderita ketika mengingat rasa sakit selama dia hidup di dunia. Itulah yang terjadi pada beberapa shinigami yang berhasil mengingat masa lalunya, mereka lebih memilih membunuh diri mereka sendiri daripada terus mengingatnya."
Tanpa sadar, airmata mengalir di wajah Karin. Ada perasaan sakit yang entah kenapa datang menghampirinya, sangat sakit. Tapi bukan karena penyakitnya, ada hal lain yang sangat mengganggu hatinya setelah mendengar penuturan Toushiro.
Toushiro menyadarinya, menyadari perasaan sakit Karin. Perasaan yang entah kenapa harus dirasakan oleh Gadis Kurosaki itu. Toushiro pun menghapus airmatanya. Airmata yang tidak diketahui sebabnya. Airmata yang membuat seorang Hitsugaya Toushiro seolah merasakan sakit yang sama.
"Berhentilah menangis!" tutur Toushiro. Suaranya terdengar begitu tegas, seolah itu adalah permintaan sekali dalam seumur hidupnya. Karin yang wajahnya tertunduk pun langsung terangkat dan memandang gelap ke sumber suara tegas tersebut, tapi dengan air mata yang masih mengalir di wajahnya.
Karin tidak tahu harus berkata apa, dia sungguh tidak bisa berhenti mengangis saat ini. Entah kenapa – Karin sangat ingin menyalahkan pemilik jantungnya sebelumnya – orang itu pasti sangat sensitif.
Toushiro melihatnya, masih melihat airmata yang jatuh dari mata indah gadis yang dicintainya. Ya, gadis yang sangat dicintainya lebih dari seorang teman. Gadis yang perlahan telah mengisi kekosongan hatinya.
Tanpa sadar, tangan Toushiro terangkat dan menangkup wajah Karin. Memberikan usapan kecil untuk menghilangkan airmata di wajahnya. Menatap lurus pada mata Karin, Toushiro seolah terhipnotis. Dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya pada Karin, menghiraukan jarak kecil diantara wajahnya dengan wajah gadis itu.
Sebuah ciuman singkat tepat di bibir kemerahan gadis Kurosaki itu pun menjadi akhir dari kebodohan Toushiro. Kebodohan yang entah untuk keberapa kalinya. Karena sang Taicho muda itu kembali lagi dikuasai oleh hatinya dibandingkan otaknya.
Berbeda dengan biasanya, kali ini dia membiarkan hatinya kembali menuntunnya. Dia mengabaikan keterkejutan Karin dan wajah memerah mereka. Belum ingin memisahkan jarak diantara mereka, Toushiro menyentuhkan dahinya dengan dahi Karin. Hidung keduanya saling bersentuhan, seolah berbagi satu hembusan nafas bersama.
Demikian juga Karin, dia mengabaikan rasa terkejutnya dan membiarkan hatinya menuntunya. Menikmati satu momen indah yang hanya bisa dirasakannya tanpa bisa dilihatnya. Merasakan setiap hembusan nafas hangat dari seseorang yang disukainya, dan sebuah ciuman pertama yang tidak akan pernah dilupakannya.
Menurunkan tangannya, Toushiro mengangkat tangan Karin dan membuat tangan gadis itu berada di dadanya. Seolah memberitahu Karin akan degupan jantungnya yang tidak stabil karena apa yang dia lakukan. Kemudian tangan Toushiro mulai melingkari pinggang Karin. Entah apa, tapi Toushiro hanya ingin memastikan bahwa Karin dapat merasakan perasaannya tanpa harus dikatakannya. Ya, perasaan cintanya.
"Aku tidak tahu ada apa. Tapi jika Kau belum ingin mengatakannya padaku pun itu tidak masalah. Tapi Aku ingin Kau tahu satu hal Karin," Toushiro memejamkan matanya sejenak dan merasakan dengan tenang hembusan nafas gadis yang dicintainya itu.
Karin membiarkan Toushiro melanjutkan perkataannya, tidak ingin mengganggu momen indah saat itu. Dengan dahi dan hidung yang saling bersentuhan, Karin seolah dapat melihat ekspresi Toushiro saat ini.
Kembali membuka matanya, Toushiro menatap dalam mata Karin. "Jika Kau nanti melupakanku, Aku akan membuatmu mengingatku. Jika Kurosaki Karin akan menderita jika mengingat kapten Gotei 13 ini, maka Hitsugaya Toushiro seseorang yang sangat menyukaimu tidak akan membiarkan itu dan tidak akan membuatmu menyesal pernah mengingatku. Seperti Aku yang tidak pernah menyesal menjadikanmu bagian dari ingatanku."
Karin dengan cepat memeluk Toushiro erat ketika mendengar penuturan itu. Ada getaran aneh yang sulit dijabarkan olehnya saat ini, tapi dia sangat menyukai getaran itu. Membiarkan desir angin yang menerpanya kala itu, Karin terus memeluk erat shinigami yang juga telah membalas pelukannya.
...
16 Agustus. Kurosaki house, 9 pm.
"Yu, sepertinya ini obat yang berbeda dari sebelumnya." Karin mencoba meraba kembali beberapa kapsul obat yang ada di tangannya, bentuk dan jumlahnya pun berbeda― kali ini lebih banyak dari yang biasa. Yuzu yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya pun terhenti. Dia mengalihkan pandangannya pada Karin yang sedang duduk di pinggir kasurnya.
Air minum dan obat yang diberikannya pada Karin telah ditaruh di meja samping kasur. Karin sendiri masih memegang obatnya, dia masih ragu untuk meminumnya. Karena memang obat yang biasa diminumnya telah diganti dengan yang baru. "Apa obat yang sebelumnya sudah habis?" tanya Karin memastikan.
Yuzu masih terdiam di kursi belajarnya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Saat Uryuu datang berkunjung, dia memberikan obat-obatan yang baru pada ayahnya. Dia bilang obat itu dapat mengurangi rasa sakit yang mungkin akan Karin alami suatu saat nanti. Dan saat itu adalah sekarang.
Karin terbangun dari tidurnya dan merasakan jantungnya terasa sakit. Dia tidak mengatakan itu, tetapi keringatnya yang semakin banyak serta wajahnya yang memucat membuat Yuzu yang masih terbangun menyadari itu. Tidak butuh waktu lama untuk Yuzu berlari dan mengambil obat itu di bawah. Dia tidak ingin melihat saudaranya terus kesakitan seperti itu.
Karin hanya tersenyum lemah, tidak mempedulikan rasa sakit yang amat sangat pada jantungnya. Mungkin Yuzu sedang fokus mengerjakan pr-nya, itulah yang ada dipikarannya ketika Yuzu tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Dia pun meminum obatnya.
Yuzu melihat senyum kecil saudaranya sebelum meminum obat itu. Dia tidak tahu berapa lama lagi senyum itu akan menghilang dari kehidupannya. Dan Yuzu tidak bisa membayangkan senyuman itu hilang, tidak untuk cara yang menyakitkan seperti ini. Kembali, airmata telah jatuh dari pelupuk matanya. Sebisa mungkin dia menahan isakannya agar tidak membuat Karin khawatir.
Ayahnya dan Yuzu belum memberitahu Karin apapun mengenai sakitnya yang semakin parah. Tapi Karin sudah tahu itu. Karin sering mendengar Yuzu menangis hampir setiap malam selama dua minggu terakhir ini. Begitu pun sikap ayahnya yang semakin menjaga jarak dengannya. Karin tahu alasannya, dan dia akan terus berpura-pura bahwa dia tidak mengetahui keadaannya yang kunjung tidak membaik itu.
Ya, dia akan terus berpura-pura jika itu membuat keluarganya senang.
"Yu, besok hari libur 'kan. Bisa Kita pergi liburan sama-sama?" tanya Karin. Rasa sakitnya sedikit berkurang setelah meminum obat itu. Yuzu menghapus air matanya dan menjawab, "Tentu saja, Kita berdua selalu melakukannya 'kan."
"Bukan berdua," sela Karin. "Berempat seperti dulu. Aku, Yu-chan, Ichi-nii dan Tou-san. Bisa?" lanjutnya.
Yuzu tersenyum, dia tidak mungkin mengabaikan permintaan saudara kembarnya saat ini. "Ya, Aku akan memberitahu mereka sekarang. Sepertinya mereka masih terbangun, Karin-chan tidur saja." Karin mengangguk, dan mulai merebahkan dirinya di atas kasur. "Konbanwa, Yu!"
"Konbanwa, Karin-chan!" Yuzu pun merapihkan bukunya. Dia beranjak dari kursinya dan pergi menemui kakak dan ayahnya.
Isshin pov
"Yu, tenanglah!" ujarku menenangkan Yuzu yang terus menangis di pelukanku. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menenangkan putri bungsuku itu. sejak tiba di rumah sakit, dia telah menangis di pelukan Ryuken.
"Tou-san, matanya ... Yu takut. Karin-chan berdarah lagi," itulah kata yang terus diucapkan Yuzu saat Isshin datang menghampirinya. aku tidak mengerti apa yang coba dimaksud olehnya, kecuali satu hal. "Kurosaki-san, bisa Anda bertemu dokter Ishida di ruangannya sebentar?" tanya salah satu suster rumah sakit yang sejak tadi berdiri disana.
Aku mengangguk dan mengisyaratkan Yuzu untuk menunggu disini. Dia mengangguk dengan tangis masih menyelimuti wajah cantiknya. Setelah memastikan suster tersebut akan menjaga Yuzu untukku, Aku pun berjalan ke ruangan Ryuken.
Ruangan itu cukup luas untuk dokter kepala unit pembedahan, tetapi tidak cukup besar untuk seorang pemilik rumah sakit sepertinya. Aku melihat Ryuken yang duduk dengan kepala tertunduk. Berharap dia akan memberikan kabar baik, Aku menyapanya ramah.
"Bagaimana keadaan putriku, Ryu?" tanyaku tegar. Dia tidak kunjung menjawabnya. Kembali perasaan aneh yang lima bulan lalu menghantuiku pun kembali datang. "Dia tidak apa-apa kan?" tanyaku dengan suara tegas. Aku tidak tahu kenapa suaraku terdengar marah padanya.
"Tenanglah, Isshin!" ujar Ryuken menatap dalam mataku. Seolah memberikan ketegaran yang entah untuk apa itu.
"Ini berat. Aku tidak tahu bagaimana keadaan matanya yang terkena bara api itu sampai Karin-chan sadar nanti. Tapi Aku pun tidak tahu apa Karin-chan akan sadar atau tidak," lanjutnya.
Mataku terbelalak, apa yang dimaksudkan olehnya dengan sadar atau tidak itu.
"Sepertinya operasi lima bulan lalu itu menunjukkan kegagalan."
...
17 Agustus. Kurosaki house, 7 am.
"Apa Aku harus memotongnya, Ichi-nii?" tanya Karin yang tengah duduk di depan meja rias Yuzu. Ichigo berpikir sejenak, melihat pantulan wajah adiknya di depan cermin. Saat ini dia sedang menyisir rambut Karin yang semakin panjang. "Tidak, Kau terlihat cantik seperti ini." Dan kata itulah yang dapat menggambarkan pandangan Ichigo saat ini mengenai adiknya. Dia sangat suka melihat Karin memanjangkan rambut dibandingkan harus memotongnya pendek.
"Benarkah?" tanya Karin memastikan.
"Tentu saja. Adakah orang yang mengatakan Kau jelek selama ini? Beritahu Aku orangnya, biar kuberi dia pelajaran." Karin tertawa kecil mendengar nada suara kakaknya. Hei, tentu saja tidak ada yang berani mengatakannya jelek.
"Hei, kenapa Kau tertawa Karin-chan? Aku mencoba melindungimu." Ichigo mulai mengikat ponytail rambut Karin.
"Ah iya, Ichi-nii memang kakak terbaikku." Ichigo menganggukkan kepalanya bangga. "Dah, selesai! Tidak serapih Yu-chan, tapi tetap bagus." Karin meraba rambutnya yang telah selesai diikat ponytail itu. Sedikit berantakan, tapi tidak apa.
"Cukup rapih, walaupun mungkin Aku masih bisa melakukannya sendiri. Bicara tentang Yuzu, dimana dia sekarang?" tanya Karin yang telah memutar tubuhnya mengahadap sang kakak. "Dia sedang menyiapkan bekal untuk piknik nanti," jawab Ichigo.
"Wah, Aku tidak sabar menunggu piknik nanti!"
"Karin, maaf merusak rencana piknikmu. Aku sudah melarang Mereka untuk ikut, tapi―."
"Sudahlah, Ichi-nii! Sepertiya, lebih banyak orang akan lebih seru. Ah, bisa ambilkan tongkatku. Aku akan membawanya saat piknik nanti. Supaya tidak merepotkan Kalian."
Wajah Ichigo tertunduk, dia tidak suka saat Karin selalu mengira dirinya itu merepotkan. "Aku akan mengambilnya,"ujar Ichigo.
"Baiklah, Aku akan menunggu di bawah." Karin pun berdiri dan berjalan keluar kamarnya dengan perlahan― dia tidak ingin mendengar omelan kakaknya yang berlebihan. Ayolah! Karin sudah terbiasa berjalan-jalan sendiri di rumahnya, dia tidak butuh diarahkan lagi seperti di luar.
Ichigo hanya menggeleng lemah melihat adiknya itu. dia sangat keras kepala, seperti dirinya. Atau mungkinkah dia yang terlalu berlebihan.
Karin turun perlahan menuruni tangga, dia tidak ingin berlari jika menuruni tangga. Karena Yuzu pasti memarahinya jika mengetahui itu, sungguh adiknya itu akan sangat cerewet jika sudah marah.
"Ada seseorang di depanku?" tanya Karin yang merasa jalannya terhalang oleh seseorang. Jika dirasa dari reiatsunya, mungkin itu Yumichika. "Ah, Karin-chan maaf! Apa Aku menghalangimu?" tanya Yumichika yang berbalik melihat Karin, suaranya terdengar kaget dan― sedih?
"Kalau Kau terus berdiri disini, tentu saja." Yumichika tertawa canggung sebelum akhirnya menggeser tubuhnya. Karin sedikit bingung, kenapa shinigami itu menyingkir dibandingkan melanjutkan jalannya, bukankah lebih baik dia juga turun ke bawah atau mungkin ke atas. Apa dia sedang menunggu sesuatu?
"Yumichika-san, Kenapa Kau tidak turun dan malah diam disini?" tanya Karin penasaran. Yumichika tidak menjawab, dia hanya berbisik kecil― dan Karin dapat mendengarnya dengan jelas. Perlahan Karin mencoba menepuk bahu shinigami yang sedang memakai gigai dengan kemeja pink itu.
Menyadari pergerakan tangan Karin yang ingin memegangnya, Yumichika tersenyum lemah. dia mengangkat tangannya dan menautkan jemarinya yang terbilang lentik itu pada tangan Karin. Merasakan mendapat perhatian dari Yumichika, Karin tersenyum ceria memamerkan gigi putihnya.
Yumichika terdiam, bingung akan ekspresi Karin yang bisa dibilang tidak benar-benar ingin tersenyum. "Yumichika-san tidak perlu khawatir. Aku pernah melewati sesuatu yang seperti ini sebelumnya," ujar Karin. Dia pun melepaskan tautan jemari shinigami itu dan meneruskan jalannya. Mengabaikan segala kekagetan Yumichika yang terdiam kaku di tangga.
Bagaimana Karin tahu kalau dia sedang mengkhawatirkannya? Dia yakin suaranya sudah sepelan mungin sehingga tidak ada yang mendengarnya.
...
Beberapa waktu sebelumnya.
Yumichika berjalan pelan ke kamar Isshin, dia sedikit takut dengan mantan kapten gotei 13 itu sejak sifatnya agak berubah. Tapi ingin dibuat apa lagi, dia disuruh Yuzu untuk memanggilnya. Rasanya tidak tega menolak gadis secantik Yuzu.
Belum sempat Yumichika mengetuk pintu kamarnya, suara Isshin terdengar di depan pintu kamarnya yang tertutup. 'Sepertinya Dia sedang menelpon seseorang,' pikir Yumichika.
"Tidak bisakah diusahakan kembali, Ryuken?" suara Isshin terdengar lirih dari luar. Dan mungkin tidak masalah jika Yumichika ingin sedikit mencuri dengar pembicaraannya. Yumichika pun menyodorkan telinganya pada pintu, berusaha mendengar lebih jelas pembicaraan Isshin pada seseorang yang Yumichika tahu merupakan ayah dari Uryuu.
"... Tessai dan Inoue akan membantu operasi itu ... Aku mohon! Cobalah sekali lagi! ... Aku tidak peduli! Berapa kali pun itu, Aku akan tetap mencobanya ... Karin-chan akan tetap hidup, berhentilah mengatakan kalau dia akan mati!"
'Mati? Siapa yang akan mati?' tanya Yumichika dalam hatinya. Tubuhnya bergetar tidak percaya dengan apa yang dikatakan Isshin selanjutnya. Separah itukah kondisi gadis Kurosaki itu. Yumichika tidak percaya. Selama ini Karin terlihat baik-baik saja, tidak tampak seperti seorang yang sedang sakit.
Pintu itu terbuka, Isshin tampak terkejut. Tapi dengan cepat dia menguasai emosinya, menutupi rasa terkejut dengan senyum ramahnya. Bukankah cepat atau lambat semua orang akan tahu kondisi Karin. "Ah, Yumi-kun! Apa Yuzu memintamu memanggilku?" tanya Isshin.
Yumichika terdiam. Dia belum sempat menata keterkejutannya karena informasi yang baru saja di terimanya, tapi Isshin tiba-tiba keluar dari kamar dengan wajah ceria seperti biasa. Benarkah suara seorang ayah yang sedang depresi yang tadi di dengarnya itu benar-benar Isshin, atau delusinya saja.
Isshin menepuk ringan bahu pemuda di depannya, "Bisa Kau tidak beritahu hal ini pada Karin? Aku takut ini akan mengganggu kesehatannya." Suara Isshin terdengar lirih. Detik berikutnya, lelaki itu telah berjalan melewati keterpakuan Yumichika. "Apa Ichigo tahu hal ini?" dan kata-kata itulah yang akhirnya keluar dari mulut Yumichika.
Isshin menghentikan langkahnya, "Bisa Kau beri tahu 'kan hal itu padanya? Aku tidak sempat." Dan kemudian dia kembali berjalan menuruni tangga. Kembali, Yumichika terkejut akan apa yang dikatakan Isshin.
'Apa Aku bisa?' pikir Yumichika. Dia tidak tahu bagaimana mengatakan hal seperti itu pada Ichigo. Melihat perubahan Ichigo yang lebih pemurung dua minggu terakhir ini karena kebutaan Karin saja dia cukup khawatir. Bagaimana jika dia memberitahu Ichigo mengenai hal yang lebih mengerikan dari kebutaan itu? Seorang Ayasegawa Yumichika tidak bisa membayangkannya.
Author Note
HaaaaH I'm coming back!
okay di chapter ini banyak ooc nya jadi maaf ya, tapi seperti inilah gayaku menulis
Mohon Review Kalian!
