Sorry for Mistakes that I did !

Hwaaaaahuuuuu! Aku ingin menangis dan berhenti menulis cerita ini rasanya. Apa lebih baik ku berhenti yaaaaa. Huaaaaaaaa! Crying out loud. I loath myself. Bwehehehehe!

Untuk chapter 6 itu sebenarnya bukan aku yg post tpi temanku, dan karna kecerobohanku jadi tidak memberitahunya bagian mana saja yg harus diposting. Jadi selama ini aku menaruh chapter yg berulang deh hiks... Someone in the other side, Slap myself so hard please!

And special thanks for Ichirisa, yang sudah mengingatkan keteledoranku. Sebagai gantinya Aku akan mempost chapter baru ini untuk permintaan maaf. Dan Aku akan membuat oneshot hitsukarin sebagai ganti permintaan maaf juga #kalauakuadawaktuluangmingguini.

Semoga kalian menyukainya

...…...

Can You See Me?

Bleach belongs to Tite Kubo

Chapter 7

.

.

.

Karin pov

Gelap. Satu hal yang akan mengisi kehidupanku selamanya. Tou-san bilang Aku masih bisa melihat lagi jika Aku menerima pengobatan dari Orihime-chan.

Tapi tidak, terima kasih. Terlalu banyak hal yang aku terima begitu saja sejak kecelakaan pertama. Bukankah Kurosaki adalah orang yang kuat? Jadi, seharusnya kehidupan yang mereka berikan saja sudah cukup. Ya, kali ini aku harus berusaha sendiri untuk tetap hidup.

Ya, aku masih ingin hidup. Setidaknya, sampai Ichi-nii dan seseorang yang Aku cintai kembali datang mengunjungiku. Aku harap rasa sakit yang kembali datang menyerang jantungku di tiga minggu setelah keluar rumah sakit ini tidak benar-benar mengganggu kesehatanku lagi.

"Nee-chan?" Ah! Itu suara Ai-chan― gadis kecil yang kuselamatkan dua bulan lalu saat kebakaran. Sebaiknya Aku menghampirinya, pasti dia menungguku untuk bermain bola. Untung saja, Tousan tidak melarangku bermain bola.(?)

...

Yumichika masih terdiam di tangga, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Bisa dibilang dia tipe yang mirip dengan Rangiku, sulit menjaga rahasia. Tapi, bukankah Isshin hanya memintanya untuk tidak mengatakan hal buruk pada Karin? Lagipula, sepertinya Karin tahu keadaannya yang semakin memburuk.

Tetapi, bukan Karin yang dikhawatirkannya. Seseorang berkepala strawberry lah yang membuatnya khawatir. Haruskah Yumichika memberitahu itu pada Ichigo. Terdiam― ya, dia harus mengatakannya.

"Hei, Yumichika! Apa yang Kau lakukan di tangga?" Yumichika sedikit terkejut, dia menengok ke belekang dan melihat Ichigo membawa tongkat. Ichigo berdiri di depan tangga dan menuruninya, berhenti beberapa anak tangga di depan Yumichika. "Kau tidak berpikir melewatkan liburan dengan tetap berdiri di tangga 'kan?" tanya Ichigo dengan nada mengejek.

"Tentu saja tidak. Aku sedang memikirkan sesuatu,"sahut Yumichika. Mungkin dia harus mengurungkan niatnya. Lidahnya kelu dan pikirannya kosong saat harus mengatakan sesuatu tentang kondisi Karin pada temannya itu.

"Ah! Kenapa akhir-akhir ini Kalian sering sekali memikirkan 'sesuatu' sih?" tanya Ichigo asal.

Yumichika menaikkan alisnya bingung, "Kalian?"

"Kau, Kau dan Rukia." Ichigo menunjuk-nunjukkan jarinya pada Yumichika. Shinigami dengan penampilan nyentrik itu pun mengabaikannnya dan berjalan ke bawah. Mungkin dia harus menjaga jarak juga dengan Ichigo.

Sungguh, dia tidak tega melihat Ichigo yang mungkin akan hancur jika mengetahui kenyataan. Walaupun dia juga masih samar untuk informasi mengenai kesehatan Karin. Jadi, dia tidak akan sedikit bersalah jika tidak memberitahunya pada Ichigo. Benar, kan?

/!/

Karin pov

"Yu! Tou-san!" Aku terus menjerit dan memanggil nama mereka. Adakah seseorang akan datang menolongku? Kami-sama, ini sangat menyakitkan!

Aku terus memegang dadaku, rasanya sesak. Obat yang mulai diberikan Tou-san beberapa bulan lalu tidak lagi ampuh mengatasi rasa sakit ini. Apa Aku harus turun ke bawah dan memanggil Tou-san di klinik?

Uh! Tidak! Bahkan untuk berdiri dari lantai yang dingin ini pun Aku tidak bisa. kenapa rasanya sakit sekali? Sungguh, ini seperti Aku tidak bisa merasakan apapun lagi selain rasa sakit.

Terlalu menyakitkan. Seolah Aku akan mati saja.

Tidak ada suara apapun yang dapat kudengar kecuali jeritan rasa sakitku. Semuanya begitu sakit. Aku hanya bisa merasakan pelukan seseorang yang datang menghampiriku. Hei, kenapa Aku tidak bisa mendengar suara langkahnya. Kenapa yang terdengar hanya jeritan rasa sakitku?

Akh! Untuk pertama kalinya kegelapan ini menyiksaku.

...

Kurosaki house, 8 pm.

Dengan perlahan, Isshin menaruh Karin yang tertidur di kasurnya, disusul dengan Ichigo yang berjalan masuk menggendong Yuzu dan ikut menaruhnya disana. Si kembar tampak pulas di kasurnya.

"Aku akan kembali ke klinik," ujar Isshin yang kemudian berjalan keluar dari kamar. Ichigo hanya melihatnya sekilas dan berbalik memandang adiknya.

Mereka baru saja pulang dari piknik. Sedikit keributan kecil mengenai tempat sebelumnya, tapi akhirnya mereka memilih kebun binatang. Renji bilang, mereka ingin melihat binatang lebih banyak disana― di soul society tidak ada kebun binatang. (?)

Aneh, bukankah ini piknik keluarganya. Kenapa mereka yang seenaknya menentukan. "Ha~h!" sebuah desahan panjang lolos begitu saja dari mulutnya.

Berbicara mengenai desahan, dia jadi teringat dengan Yumichika. Kursi ke-5 divisi 11 itu tampak aneh. Dia tidak banyak mengeluh mengenai bau kebun binatang yang mungkin bisa dibilang 'tidak cantik' olehnya itu. Dia lebih banyak terhanyut oleh pikirannya sendiri.

Tapi syukurlah, dia tidak menjadi salah satu orang yang akan menghancurkan pikniknya. Mengingat bagaimana sikap shinigami lain ketika berkunjung ke kebun binatang tadi. Itu cukup memalukan baginya.

Ichigo mulai menarik selimut dan meyelimuti adiknya. Setelah memberikan kecupan singkat di dahi keduanya, dia pun berjalan keluar.

Langkah Ichigo terhenti ketika membuka kenop pintu. Dia mendengar deruan nafas berat di belakangnya. Dia pun berbalik ke asal suara. "Karin?" lirihnya ketika melihat Karin menggeliat di kasurnya.

Ichigo berjalan menghampiri sisi kasur Karin. Adiknya itu tampak pucat dengan banyak keringat membasahi wajahnya, nafasnya pun berat. Perlahan tangannya menggapai tubuh adiknya itu. Dingin. Tubuh Karin sangat dingin.

"Karin-chan, Kau tidak apa-apa?" tanya Ichigo panik. Kedua tangannya telah merengkuh tubuh kecil adiknya itu.

Karin yang merasakan pelukan Ichigo mulai membuka matanya. Dia memeluk erat tubuh kakaknya, "Sah-sakhit."

Ichigo tersentak. Dia tidak pernah mendengar suara Karin sesakit ini. Dia harus memberitahu ayahnya secepatnya, tapi pelukan Karin terlalu erat. Dia pun tak mungkin berteriak dan membangunkan Yuzu.

Yuzu menggeliat tak nyaman di tidurnya, dia tahu kenapa. Ikatan batin dengan saudaranya begitu kuat. Dan dengan cepat dia memaksa kedua matanya yang sangat mengantuk untuk terbuka. "Karin-chan," kagetnya ketika melihat Karin yang tengah duduk di kasur dengan Ichigo yang terus memeluknya.

Ichigo melihat Yuzu yang tengah terbangun, dia bersyukur― mungkin adiknya tahu bagaimana cara menenangkan Karin. "Yu, bisa Ka―," belum sempat Ichigo meminta, Yuzu telah turun dari kasurnya dan berlari keluar.

Obat. Itulah satu-satunya hal yang terpikirkan oleh Yuzu saat ini. Dengan cepat dia menuruni tangga dan memeriksa kotak obat di dapur.

Para shinigami yang sedang beristirahat di ruang tengah pun melihat Yuzu yang jalan tergesa-gesa ke dapur. Mereka tidak tahu ada apa. Tapi suara beberapa benda berjatuhan di dapur membuat mereka penasaran.

"Tidak ada! Kenapa disini juga tidak ada?" Yuzu terus mencari obat itu. dia yakin menaruhnya di kotak obat, tapi kenapa tidak ada. Tidak peduli dia telah menjatuhkan perlatan masak yang tersusun rapih disana. Tujuannya hanya satu, menemukan obat itu secepatnya.

"Yu, apa yang Kau cari?" tanya Rukia khawatir ketika melihat wajah Yuzu yang panik. Keadaan dapur pun tampak berantakan. Tanpa menoleh Yuzu pun menjawabnya, "Obatnya, Rukia-nee. Obatnya tidak ada."

Mengerti dengan apa yang terjadi, Rukia dengan cepat membantu Yuzu mencari obat itu. Shinigami lain hanya memperhatikan dengan wajah yang bingung.

"Ada apa?"tanya Toushiro yang semakin penasaran dengan apa yang dua gadis itu lakukan. Wajah panik dan terus mengacak-acak dapur. Rasanya bukan sifat Yuzu dan Rukia yang biasa.

Tidak ada tanggapan. Entah mereka tidak mendengarnya atau tidak ingin menyahut. Renji, Rangiku, Ikkaku, dan Yumichika hanya memandang satu sama lain. Mereka tidak tahu harus melakukan apa.

Yuzu tersentak, dia rasanya mengingat sesuatu. Dengan cepat dia membuka keranjang piknik yang belum sempat dirapihkan olehnya. Dibukanya keranjang kayu yang ada di atas meja makan dan mulai mencari.

Dapat! Obatnya terbungkus rapi di bawah serbet. Bagaimana dia bisa lupa? Obatnya dia taruh disana tadi pagi untuk berjaga-jaga. Dengan cepat Yuzu mengambilnya.

Rukia melihat Yuzu yang telah menemukan obat itu. Adik dari kekasihnya itu langsung berlari ke tangga. Ada perasaan sedih ketika melihat ekspresi Yuzu yang seperti itu. Gadis itu benar-benar terlihat khawatir dan panik.

Shinigami lain melihat Yuzu yang berlari menaiki tangga. Haruskah mereka mengikutinya?

"Kuchiki-san, obat apa itu tadi?" pertanyaan Toushiro membuat mereka semua berpaling dan memandang Rukia dengan penuh tanya. Mereka pun cukup penasaran dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

Rukia menundukkan kepalanya, tangannya bergerak tidak nyaman. Dia tidak bisa mengatakannya. "I-ini sudah malam, saatnya Aku berpatroli." Seketika itu juga, Rukia keluar dari gigainya dan melakukan shunpo.

"Cih! Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini?" gerutu Ikkaku yang juga mengikuti langkah Rukia. Keluar dari gigainya untuk ikut berpatroli. "Hei, Yumichika! Kau ikut tidak?" tanya Ikkaku.

"Ah, Aku ikut!" sahut Yumichika. Kemudian Renji dan Rangiku pun mengikuti langkah mereka. Entah apa, tapi mereka tidak ingin ikut campur lebih dalam dengan permasalahan keluarga Kurosaki.

Toushiro memandang sekilas ke arah tangga. Iris teal-nya menunjukkan ke khawatiran. Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang terjadi pada Karin, tapi dia tidak ingin mengakuinya. Dan akhirnya, dia pun keluar dari gigainya dan melakukan shunpo menyusul yang lain.

...

Ichigo memperhatikan Karin dengan perasaan cemas. Adiknya itu telah terlelap kembali di kasurnya. nafasnya tampak lebih teratur, suhu tubuhnya pun kembali normal. Dia memandang Yuzu yang juga berdiri di sampingnya.

"Yu, obat apa itu?" tanya Ichigo lembuat. Dia tidak ingin memojokkan adiknya yang terlihat sedih itu.

Yuzu menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap mata sang kakak saat ini. "Obat penenang, Ichi-nii. Karin-chan sering bermimpi buruk akhir-akhir ini," dustanya pasti.

Ichigo mengangguk singkat. Dia menepuk pelan pundak adiknya, "Tidurlah, Aku akan ada di kamar saat Kalian membutuhkanku."

Yuzu memandang Ichigo dan tersenyum lemah. dia berjalan ke sisi lain kasurnya dan mulai tidur di samping Karin.

Ichigo menaikkan selimutnya dan memandang sendu kepada adik kembarnya itu. mencium singkat dahi mereka, "Selamat malam!"

Ichigo tahu Yuzu berbohong padanya. Dia dengar sendiri bahwa Karin mengeluh kesakitan. Walaupun Ichigo sangat ingin mengetahuinya, dia tidak mungkin memaksa adiknya. Tapi dia tidak ingin menanyakan hal itu padanya sekarang, tidak sekarang.

/!/

Isshin pov

Ini aneh. Aku tidak tahu ada apa. Ini operasi yang ketiga kalinya untuk Karin.

Aku hampir saja kehilangan nyawanya lagi. Kami menuggu pendonor dengan waktu yang terlalu lama. Segala pengobatan telah dilakukan. Tapi satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah donor jantung itu.

Oh Kami-sama, bagaimana jika nanti Aku terlambat lagi. Apakah tidak ada yang bisa kulakukan. Aku bahkan telah melanggar takdir. Sebuah dosa lain yang tidak termaafkan bagi mantan shinigami sepertiku.

Tidak, bukankah ini untuk kebaikannya. Lagipula ini tidak akan merugikan siapapun.

...

6 September. Kurosaki house, 8 am.

Ichigo duduk di bangku dengan terus mengganti channel tv di depannya. Memakai kaos putih dengan celana pendek, dia sedang berhenti dari aktifitas shinigaminya.

Ya, aktifitas shinigami yang mulai rutin dilakukannya lagi sejak lima hari lalu. Saat ayahnya memutuskan membawa Karin berlibur berdua saja. Ini cukup aneh bagi Ichigo― tidak mungkin bagi Karin untuk menghabiskan waktu dengan ayahnya yang 'antik' berdua saja. Walaupun sejauh ini sifat ayahnya sudah banyak berubah.

Dia tidak terlalu banyak bertanya kenapa ayahnya hanya mengajak Karin. Karena adiknya itu pun terlihat biasa saja― terkesan menerimanya. Apalagi Yuzu pun mendukung keputusan ayahnya.

Mugkin karena akhir-akhir ini Karin sering 'bermimpi buruk'. Hampir setiap malam, Ichigo selalu mendengar Karin menjerit walau hanya sesaat. Dia pun sebenarnya cukup khawatir dengan kondisi adiknya itu.

'tok-tok-tok!' suara ketukan pintu menghentikan aktifitas Ichigo― mengutak-atik remote.

Dengan malas, shinigami berambut orange itu berjalan ke pintu dan membukanya. Di depannya, seorang bocah laki-laki berumur sekitar 12 tahun tengah berdiri memegang bunga. Pakaiannya terlalu casual untuk disebut dengan pengantar bunga― kemeja putih lengan panjang dengan vest biru dan celana hitam panjang. "Aku tidak memesan bunga," sahut Ichigo tanpa menyapa sedikit pun.

Rambut coklatnya seperti potongan rambut Ichigo, iris matanya pun berwarna senada dengan rambutnya. Kulit putih bak porselen itu tampak berkeringat. Aneh― ini masih pagi, tapi bocah itu sudah berkeringat.

Dahi Ichigo mengerut, anak itu masih diam dan memandangnya tanpa memberikan respon apapun. "Hei bocah! Aku bilang Aku tidak memesan bunga," kali ini dengan suara yang lebih keras.

Pandangan anak itu melebar, dia bukan kaget dengan suara Ichigo yang meninggi tapi satu hal lain. "Wajahmu mirip Karin-chan," gumam anak itu.

Mendengar nama adiknya disebut, Ichigo merendahkan tubuhnya untuk sejajar dengan wajah anak itu. "Darimana Kau tahu adikku? Aku tak ingat dia punya teman sependek dirimu," ujar Ichigo penasaran.

Alis anak itu terangkat, dia sedikit terusik dengan perkataan orang itu. Apa laki-laki di depannya itu mengira dirinya seumuran dengan Karin. "Pendek? Aku pikir ukuran tubuhku sudah sesuai dengan anak umur 12 tahun biasa," jelas anak itu lantang.

Ya, ternyata bocah itu memang tidak seumuran dengan Karin. "Hah, ya terserah Kau saja! Sekarang jawab pertanyaanku bocah," abai Ichigo yang mulai menegekkan tubuhnya lagi. Punggungnya sakit jika merunduk seperti itu.

"Hajimemashita, Ahosi desu." Ahosi membungkuk dengan sopan.

'Heh, dia anak bangsawan?' pikir Ichigo ketika melihat sikap anak itu yang terbilang cukup sopan. "Ichigo, kakak dari orang yang Kau panggil Karin-chan itu."

Ahosi membungkuk sekali lagi, "Kurosaki-san? Bisa berikan ini pada Karin-chan saat kembali?" Dia menyodorkan buket bunga yang dibawanya tadi.

Aster, krisan, dan mawar pink dirangkai menjadi satu dengan bunga lainnya. Ukurannya sedang, dan terlihat sangat indah. Ichigo mengambilnya dan memperhatikan baik-baik buket bunga itu.

Rasanya ada yang aneh dari rangkaian bunganya.

"Ya, kalau urusanmu sudah selesai pulanglah!" perintah Ichigo dengan malasnya. Dia tidak ingin meladeni seorang anak kecil hari ini.

Ahosi membungkukkan badannya kembali, dia benar-benar anak yang sopan. Memberi salam dan berjalan pulang.

Ichigo masih memperhatikan Ahosi sampai dia berbelok dan menghilang dari pandangannya. Kembali perhatiannya tertuju pada buket bunga yang di pegangya. "Apa dia penggemar rahasia Karin-chan ya?" tanya Ichigo retoris.

...

Yuzu yang baru saja pulang dari Urahara shoten tidak sengaja bertemu Ahosi. Senyum tipis menghias wajah cantiknya. "Ahosi-kun, Kau dari rumah lagi?"tanya Yuzu yang telah berdiri di depannya.

Ahosi tersentak, dia tidak melihat ke depan sejak tadi. "Yuzu-chan," ujarnya.

Yuzu menggeleng lemah, tahu bahwa orang di depannya baru tersadar dari lamunannya. "Lain kali jangan melamun saat berjalan, apa Ahosi-kun dari rumahku lagi?" tanya Yuzu sekali lagi.

Ahosi mengangguk, "Bagaimana kabar Karin-chan?"

"Kau selalu datang satu hari sebelum Karin pulang. Jadi Aku tidak tahu perkembangannya, jika Kau datang besok atau lusa mungkin Aku bisa menjawabnya."

Ahosi tertunduk. Dia tahu Karin tidak mungkin ada di rumah sekarang, karena minggu ini adalah jadwal gadis itu untuk kemoterapi. Dia hanya sengaja datang saat tidak ada gadis Kurosaki itu di rumahnya. Perasaan bersalah selalu menghampirinya ketika melihat wajah Karin.

"Karin-chan akan sangat senang jika bertemu denganmu, kami pun tidak menyalahkanmu tentang kejadian dua setengah tahun yang lalu. Jadi, datanglah!" seolah mengerti perasaan Ahosi, Yuzu menggenggam tangan anak itu. Memberikan kenyamanan dan menghilangkan rasa takutnya.

Dengan ragu, Ahosi mengangguk. "A-aku akan datang esok lusa,"ujarnya gugup.