Can You See Me?

Chapter 8

Bleach belongs to Tite Kubo

.

.

.

Yuzu pov

Menyeramkan, Aku tidak pernah melihat ayah semarah itu. Tapi kini di depanku, tidak― bahkan di depan Karin juga. Tou-san sedang memarahi Urahara-san.

Ruangan putih itu cukup pengap walaupun semua perawat dan dokter telah keluar dari sana. Benar-benar panas untuk sebuah ruangan ber-ac.

Di depanku, Karin terbaring lemah dengan alat-alat rumah sakit yang ada di tubuhnya. Inoue-san, Tessai-san, Yorouichi-san dan Urahara-san pun berdiri mengeliligi Karin. Pendar hijau muncul dari tangan mereka keatas tubuh Karin, begitu juga tangan Tou-san.

Dan Aku disini, hanya bisa menangis. Tidak tahu apa yang harus Aku lakukan. Sekilas kudengar bahwa Karin tidak bisa diselamatkan. Tou-san dan Urahara-san terus berdebat mengenai menyalahi takdir atau apapun itu dengan sesuatu yang disebut rantai jiwa.

Satu persatu dari mereka mulai menyerah menyembuhkan Karin. Dan Aku masih disini― menangis.

...

Kurosaki house, 5 pm.

"Kau sudah melapor pada si kakek tua itu, Rukia?" tanya Ichigo yang baru saja selesai mandi. Rambut jabriknya terlihat layu(?) karena air. Kaos putih dan celana pendek, setelan yang sama dengan sebelumnya.

"Ya," jawab Rukia dalam bentuk gigainya dan langsung menaiki tangga― gadis itu sungguh lelah dan ingin berisirahat. Ichigo mendecih pelan melihat sikap kekasihnya itu.

"Hai, Strawberry head!" sapa Renji yang berjalan menghampirinya. Ichigo menatap teman rambut merahnya itu. "Hei, ada apa dengan Rukia?" tanya Ichigo.

"Entah, mungkin dia lelah. Sudahlah, perempuan memang seperti itu kan. Oh ya, buket bunga di meja depan itu untuk siapa? Apa Kau ingin menjenguk seseorang?" tanya Renji.

Alis Ichigo bertaut, menjenguk? Apakah itu arti dari keanehan rangkaian bunganya. "Apa maksudmu dengan menjenguk seseorang?"

"Heh, jangan bilang Kau bermaksud memberikan bunga itu untuk Rukia dan Kau tidak tahu artinya?"

"Tentu saja bukan untuknya. Jadi apa arti karangan bunga itu?"

"Baguslah! Kau tahu 'kan Rukia suka merangkai bunga. Seingatku, bunga-bunga dari karangan itu adalah cepat sembuh atau berduka cita. Ya, semacam itulah."

Ichigo tertunduk. Pikiran aneh yang terus menghantuinya itu kembali datang. Ada yang aneh pada keluarganya, tidak― ada yang aneh dengan Karin.

Renji melihat sahabatnya itu tenggelam dalam pikirannya sendiri, "Jadi, bunga itu untuk siapa?"

Ichigo berjalan menuju tangga. "Karin," jawabnya tanpa melihat kearah Renji.

/!/

7 September. Kurosaki house, 2 pm.

Karin yang baru pulang pagi tadi merasa lebih baik. Ya, dia tidak suka kemoterapi atau hal aneh lainnya yang membuatnya harus pergi ke rumah sakit. Dimana suara penderitaan orang yang akan meninggal selalu terdengar disetiap sudutnya.

Tapi, hanya dengan pergi kesanalah rasa sakitnya akan lebih membaik. Dan setidaknya, tidak akan membuat kakaknya khawatir setiap malam karena jeritannya.

"Kau sudah bangun?" suara Ichigo memenuhi kamarnya yang sepi. Karin mengangguk keasal suara itu. seperti biasa, dia sedang menikmati angin musim gugur lewat jendela kamarnya.

Ichigo menggeleng lemah melihat adiknya duduk di depan jendela, padahal diluar cukup dingin. Tapi dia mengabaikannya, selama adiknya menyukai itu― kenapa tidak?

"Hai Karin, ini mungkin terdengar aneh. Tapi Aku sangat merindukan teriakanmu atau pukulanmu. Tidak berpikir untuk melakukan itu lagi?"

"Tentu saja, Aku mau! Itu seperti bagian dari kebiasaanku, Ichi-nii. Tapi, bagaimana jika Aku salah melakukannya ke orang yang tepat. Aku pasti akan dipandang aneh." Karin tertunduk lesu. Dan Ichigo tampak bingung. Tidak biasanya Karin mempedulikan pandangan orang.

"Yasudahlah! Kau ingin Aku melanjutkan ceritaku lagikan?" tanya Ichigo yang duduk di atas kasur Karin.

Gadis Kurosaki itu mengangguk. Akhir-akhir ini dia mulai suka dengan karya penulis kesukaan kakaknya itu. Ya, William Shakespear. Yang menurut Karin, bacaan yang sangat tidak sesuai dengan sikap kakaknyayang terlihat urakan. Walaupun Karin mengakui, kakaknya itu tergolong orang yang cerdas. Karena walaupun dia sering membuat masalah di sekolah, Ichigo sesalu mendapatkan peringkat yang bagus di kelasnya.

"Aku akan membaca lanjutan minggu lalu, Kau masih mengingatnya 'kan?" tanya ichigo. Karin mengangguk.

Ichigo pun mulai membuka buku yang dibawanya. Sebuah kisah tragedi yang cukup rumit, tapi sayang jika tidak di dengar sampai selesai. Perlahan, rangkaian kata yang disusun indah oleh Shakespear mulai dikumandangkan dan menggema di ruangan itu.

"'Make You to ravel all this matter out. That I essentially am not in maddnes, but mad in craft' cried Hamlet." Ichigo menghentikan bacaannya ketika melihat Karin tampak memikirkan sesuatu.

"Apa ada yang Kau tidak mengerti?" tanya Ichigo seraya memberi tanda pada halamannya dan menutup buku berjudul Hamlet tersebut.

"Ichi-nii, apakah sebuah arwah dapat berpengaruh begitu besar terhadap kewarasan Hamlet hingga bersikap dingin pada ibunya?" tanya Karin yang berjalan perlahan dari kursinya dan duduk di samping Ichigo.

Ichigo berpikir sejenak. "Tidak, dia cukup waras untuk tahu mengenai semua kegilaan dalam kematian ayahnya. Tapi Karin, apa Kau tahu kenapa Hamlet bersikap seperti itu pada Lady Gertrude, ibunya?"

Karin menggeleng.

"Karena tidak ada kepercayaan diantara mereka. Hamlet yang tidak bisa mempercayai sang ibu sepenuhnya karena menikahi pembunuh ayahnya, dan Gertrude yang terlalu takut untuk memberitahukan sebuah pengakuan yang menyakitkan pada Hamlet."

Karin membeku ditempatnya. Kata-kata mengenai kepercayaan itu menyakitkannya. Apakah kakaknya itu akan bersikap seperti itu jika mendengar pengakuannya? Oh tidak, Karin merasa dirinya seperti Lady Gertrude.

Ichigo melihatnya, melihat ekspresi iritasi yang cukup dalam pada rona wajah adiknya. Dia tidak bermaksud menyinggungnya tentang kepercayaan. Tidak seperti Hamlet, Ichigo akan tetap mempercayai keluarganya. Semenyakitkan apapun rahasia yang sedang mereka simpan darinya.

"Ini adalah awal klimaksnya, berpikir untuk melanjutkannya lagi?" tanya Ichigo memecah hening dalam ruangan itu. Dan Karin menjawab dengan anggukan kecil.

Author note:

Yeeey Aku update! (Proud of myself - ironic). So, apa yang kalian pikirkan dengan fic ini selama ini. Tolong berikan review, jika tidak ada review aku sangat sedih. Please treat me well! Karena hitsukarin sangat sedikit, aku hanya ingin memeriahkan pairing kesukaanku itu.

Terima kasih untuk silent reader juga tapi tetap mohon reviewnya !

MK ...