Can You See Me?
Bleach belongs to Tite Kubo
Chapter 9
8 September. Kurosaki House, 4 pm.
Ahosi berdiri gugup memegang buket bunga di tangannya. Seorang wanita yang memiliki replika serupa dirinya berdiri tepat di sampingnya. Mengelus pundak kecil sang putra, wanita yang tidak lain adalah ibunya itu hanya dapat menenangkan sang putra.
Memencet bel rumah keluarga Kurosaki, wanita dengan gaya elegan itu menarik nafas. Ibu dan anak itu benar-benar terlihat seperti keluarga kelas atas dengan pakaian mereka yang rapih.
Perlahan pintu mulai terbuka dan menampakkan seorang lelaki berambut hitam lengkap dengan jas dokternya. Wajahnya tampak lelah, menandakan bahwa dia baru saja selesai bekerja. Kurosaki Isshin, lelaki yang membuka pintu itu tersenyum ramah pada dua orang di depannya.
Membuka lebar pintu tersebut, Isshin mempersilahkan mereka masuk ke rumahnya. "Yuzu, Karin, Kurozawa-kun dan ibunya datang!" seru Isshin seraya menuntun mereka ke ruang tengah.
Ahosi melihat ke ruangan yang pernah dikunjunginya dua tahun lalu itu. tidak ada yang berubah, hanya saja kini lebih ramai. Ada beberapa orang yang tidak dikenalnya disana. Matanya terhenti pada gadis berambut hitam panjang yang duduk di sofa dengan seorang lelaki berambut putih. Gadis itu tampak sedang mendebatkan sesuatu dengannya.
Menarik sisi baju ibunya, Ahosi meminta izin untuk menghampiri gadis yang tidak lain adalah Karin. Ibunya hanya mengangguk, dia kembali mengikuti Isshin.
"Toushiro, Kau harus mencoba hal lain selain amanatto. Pizza itu sangat enak, tidak seperti yang Kau bayangkan kok."
"Tidak, Aku pernah mencobanya. Dan itu tidak enak."
"Ah! Yang Kau makan waktu itu pizza keju. Kau belum mencoba yang lainnya," Toushiro bersikukuh dengan argumennya, dia tidak akan lagi memakan makanan bulat dengan toping aneh di atasnya itu. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa manusia menyukai makanan aneh seperti itu. "Tou―."
"Karin-chan," suara seseorang di sampingnya menginterupsi Karin. Karin tahu suara siapa itu, ayahnya pun tadi sudah memberitahunya walaupun dia sedang berdebat dengan Toushiro.
Kurozawa Arisa, sang ibu, memperhatikan putranya yang menghampiri Karin. Ada perasaan sedih ketika melihat gadis Kurosaki itu. "Kurosaki-san, bisa kita bicara berdua saja?" tanya Arisa menepuk pundak Isshin yang berdiri di depannya.
Isshin menengok dan tersenyum. Dia pun mengajak wanita 34 tahun itu ke klinik miliknya.
...
Suara ketukan pintu terdengar dari dalam klinik yang tutup beberapa menit lalu. Mengusik kesunyian ruangan yang diisi dua orang dewasa sejak tadi. seorang laki-laki berambut hitam yang duduk di kursi dokternya, serta seorang ibu muda yang duduk di depannya.
Wanita yang sedang menangis itu cepat menghapus air matanya ketika mendengar suara pintu terbuka. Keduanya menengok kearah pintu dan melihat gadis remaja berambut honey blonde berdiri dengan celemek pink masih terpasang di tubuhnya.
"Otou-san, Kurozawa-san, makan malam sudah siap!" ujarnya tersenyum ramah pada wanita yang duduk di depan ayahnya. Yuzu tahu Kurozawa Arisa baru saja menangis, tapi rasanya dia tidak perlu menyinggung alasan kenapa wanita itu menangis.
"Ya Yuzu. Kurozawa-san, mari Kita makan malam dulu. Tidak baik membuat yang lain menunggu," ujar Isshin dengan suara ramah. Arisa mengangguk dan mengikuti langkah Isshin yang berjalan keluar ruangan.
Yuzu yang sudah menaruh apronnya mengikuti langkah ayahnya dan Arisa menuju meja makan. Disana, semua orang telah menunggu. Mereka pun mulai mengambil bangkunya dan bersiap untuk makan malam. Yuzu melihat kearah Ahosi yang duduk di samping Karin wajahnya terlihat lebih ceria dari kemarin lusa dia melihatnya.
"Ichi-nii, makan malam kali ini― biar Ahosi saja yang membaca doanya. Kau mau 'kan, Ahosi-kun?" tanya Yuzu. Bocah 12 tahun itu memperhatikan orang-orang yang baru dikenalnya beberapa waktu lalu, sebelum akhirnya mengangguk dan mulai memimpin doa.
Saat doa selesai dibaca seruan 'ittadakimasu!' mengisi suara di meja makan itu. suara riuh dan canda terdengar dari ata meja makan itu. suasana hangat yang membuat setiap orang yang berkunjung dan bergabung akan merasa sangat senang.
...
"Karin-chan, Ahosi selalu mengirim bunga. Apa bunganya sampai pada Karin-chan?" tanya Ahosi sebelum dia dan ibunya pergi dari rumah keluarga Kurosaki.
Karin yang mengantarkan mereka sampai ke depan rumah pun tersenyum mendengar pertanyaan Ahosi. "Tenang, bunganya sampai kok. Lain kali, Ahosi-kun harus mengirimkannya langsung padaku."
Ahosi tersenyum dan mengatakan iya sebagai jawaban. Ibu dan anak itu pun berlalu pergi. Membiarkan Karin berdiri terdiam di depan pintu. Gadis itu menunggu hingga langkah mereka tidak terdengar lagi.
Karin berbalik dan memasuki rumahnya, langkahnya terhenti ketika merasakan reiatsu Ichigo di depannya. "Ada apa, Ichi-nii?" tanya Karin penasaran.
"Kau mengenal bocah itu dimana?" tanya Ichigo.
"Ahosi? Aku menolongnya tiga tahun lalu. Kalau Ichi-nii hanya ingin menayakan itu, Aku―."
"Aku tidak suka dia memberikanmu karangan bunga seperti itu. Kau kan baik-baik saja, Karin-chan."
Sebuah jeda yang cukup lama sebelum akhirnya Karin tertawa lepas. Dan tawa itu sukses membuat risih Ichigo. Laki-laki jangkung itu tidak suka jika perhatiannya itu ditertawakan. "Hei Karin, itu tidak lucu!" gerutu Ichigo.
"Iya-iya, habisnya Ichi-nii aneh. Memangnya apa yang salah dengan karangan bunga itu?" tanya Karin seraya menahan tawanya.
"Sudahlah, lupakan kata-kataku yang tadi!" Karin terdiam, dia tidak pernah mengerti jalan pikiran kakaknya iu.
Tangan besar Ichigo kembali mengacak rambut adiknya ketika melihat ekspresi bingung yang tersemat di gadis Kurosaki itu. "Ichi-nii, jangan mengacak rambutku terus-menerus! Aku bukan anak kecil lagi," gerutu Karin yang langsung menangkis tangan kakaknya tersebut.
"Sebelumnya boleh," sungut Ichigo.
"Sekarang tidak!" Karin berjalan angkuh melewati Ichigo. Dan senyum terulas di wajah Ichigo. 'Itu baru Karin-ku,' pikir Ichigo yang mulai mengekor di belakang Karin.
Dia terus memperhatikan langkah adiknya dari belakang. Langkah Ichigo terhenti ketika melihat tubuh di depannya tampak bergetar, "Karin-chan, Kau kenapa?"
Ichigo hanya melihat adiknya menggeleng dan mengangkat tangannya sebagai isyarat bahwa dia tidak apa-apa. Tanpa rasa khawatir atau curiga, Ichigo hanya bergumam kecil. Dia pun berjalan mendekati Karin yang masih terdiam di tempatnya, perlahan dia berdiri di sampingnya.
"Karin ―," Ichigo menghentikan perkataannya ketika melihat tubuh Karin terhuyung lemas. Dengan cepat dia meraih tubuh kecil adiknya, mengabaikan perubahan reiatsu dalam ruangan tersebut. Ichigo menatap khawatir sang adik yang terjatuh di pangkuannya.
Betapa terkejutnya Ichigo ketika melihat wajah Karin yang pucat serta suhu tubuhnya yang rendah. Dia pun dapat merasakan tubuh adiknya bergetar dalam pangkuannya. Mata Karin pun terlihat menutup perlahan, walaupun Karin terus mencoba untuk menjaga matanya agar terjaga.
Semua penghuni rumah pun berlarian ke ruang depan ketika merasakan menurunnya tingkat reiatsu Karin secara tiba-tiba. Mereka terdiam ketika melihat Ichigo yang duduk di lantai dengan Karin di pangkuannya. "Ichigo, ada apa dengan Karin?" tanya Rukia khawatir.
