Can You See Me?

Bleach belongs to Tite Kubo

Chapter 10

.

.

.

"Karin ―," Ichigo menghentikan perkataannya ketika melihat tubuh Karin terhuyung lemas. Dengan cepat dia meraih tubuh kecil adiknya, mengabaikan perubahan reiatsu dalam ruangan tersebut. Ichigo menatap khawatir sang adik yang terjatuh di pangkuannya.

Betapa terkejutnya Ichigo ketika melihat wajah Karin yang pucat serta suhu tubuhnya yang rendah. Dia pun dapat merasakan tubuh adiknya bergetar dalam pangkuannya. Mata Karin pun terlihat menutup perlahan, walaupun Karin terus mencoba untuk menjaga matanya agar terjaga.

Semua penghuni rumah pun berlarian ke ruang depan ketika merasakan menurunnya tingkat reiatsu Karin secara tiba-tiba. Mereka terdiam ketika melihat Ichigo yang duduk di lantai dengan Karin di pangkuannya. "Ichigo, ada apa dengan Karin?" tanya Rukia khawatir.

Ichigo hanya terdiam dan menatap mata Rukia dengan perasaan takut dan bingung. Dia tidak tahu ada apa dengan Karin, tapi rasanya sangat menakutkan ketika dia memegang tubuh Karin dan melihat wajahnya. Tubuhnya tanpa sadar bergetar dan perlahan mengendurkan pegangannya pada Karin.

Toushiro yang melihat pegangan Ichigo mulai mengendur perlahan mendekatinya dan mencoba meraih tubuh Karin. Tapi, Isshin – yang entah datang darimana - lebih dulu meraih Karin dari pangkuan Ichigo. Mantan kapten divisi 10 itu telah bersiap dengan tubuh shinigaminya.

"Aku akan pergi ke Urahara," ujar Isshin yang langsung melakukan shunpo ke tempat Urahara. Meninggalkan keterkejutan setiap orang yang berada di rumah itu, Isshin pergi dengan wajah penuh kekhawatiran.

Yuzu yang berdiri di belakang Rukia hanya diam melihat ayahnya pergi. Wajahnya tertunduk sesaat hingga akhirnya, iris coklatnya tertuju pada Ichigo - sang kakak yang masih duduk terdiam di lantai. Sang kakak yang memandang kosong ke depan.

Dengan langkah canggung, Yuzu berjalan dan mengulurkan tangannya pada Ichigo. "A-ayo kita ke Urahara-san untuk melihat keadaan Karin-chan, Ichi-nii!" ajak Yuzu dengan suara yang bergetar. Matanya memandang tepat ke kepala jingga tersebut.

Ichigo yang melihat uluran tangan Yuzu mulai bergeming dan perlahan mengangkat kepalanya yang langsung menatap iris kecoklatan yang serupa dengannya itu, Ichigo melihat rasa takut dan khawatir dari mata Yuzu. Dia pun meraihnya dan berdiri. Tanpa berbicara apapun, Ichigo mengajak Yuzu berjalan pergi. Meninggalkan keterpakuan para shinigami yang melihat kejadian aneh tersebut.

Rukia yang ingin mengikuti Ichigo tertahan oleh Rangiku yang menarik tangannya. Wakil kapten divisi 10 itu memberikan gelengan lemah, seolah memberi tanda bahwa bukan saatnya untuk mereka ikut campur dalam masalah ini. Rukia tertunduk, Rangiku benar. Dia akan membiarkan Ichigo mencari tahu sendiri tentang keadaan Karin saat ini.

"Kurasa kali ini Ichigo merasakannya," ujar Renji yang tiba-tiba mengisi hening ruangan tersebut. "Reiatsu gadis itu terus melemah setiap harinya, terutama saat ini," sahut Ikkaku yang entah kenapa kali ini bersikap lebih tenang dari biasanya. Semua mata shinigami kini tertuju pada Ikkaku.

"Hee, ada apa? Aku benarkan, memang ada yang aneh dengan gadis Kurosaki itu."celetuk Ikkaku yang merasa risih dengan pandangan mereka.

Di sisi lain, Toushiro tidak ingin membiarkan dirinya diam disana saja. Tangannya mengepal erat, ada perasaan aneh yang sulit untuk dia abaikan saat ini. Dengan cepat Toushiro memakan soul candy miliknya dan melakukan shunpo. Membuat kaget para shinigami yang ada disana.

"Taicho," lirih Rangiku ketika dia terlambat menyadari perasaan kapten divisi 10 tersebut. Renji perlahan berjalan mendekati Rangiku, menepuk lembut pundak wanita blonde tersebut. "Sudahlah, lagipula tidak ada salahnya jika Taicho pergi. Bukankah akan lebih baik jika dia mengetahui kabar tentang orang yang dicintainya, sama seperti Ichigo."

Jalan Karakura

Ichigo dan Yuzu berjalan dengan bergandengan tangan, mereka menyusuri jalan sepi di malam hari. Suara langkah kaki mereka mengisi hening di sepanjang jalan. Sesekali Ichigo melirik pada adiknya yang terus saja menundukkan kepalanya. Dia terus menahan urgensinya untuk bertanya, ketika menyadari kemungkinan bahwa adiknya tidak akan menjawab pertanyaan itu.

Menatap langit gelap malam itu, Ichigo hanya bisa terdiam. Membisu mengikuti irama sang adik yang hanya berjalan diam disampingnya. Menyedihkan, dirinya yang jauh dari kata tenang kini takluk oleh diamnya sang adik ― tapi Ichigo tidak marah akan itu. dia hanya marah dan kecewa ketika tahu bahwa dirinya tidak pernah tahu apa yang terjadi pada keluarganya.

Pandangan Ichigo teralih pada salah satu atap rumah, sekelebat bayangan putih menangkap perhatiannya. "Toushiro," bisik Ichigo ketika berhasil melihat dengan jelas bayangan itu. Entah Toushiro mendengar bisikan Ichigo atau tidak, tapi dia berhenti sejenak di atap rumah itu.

Kedua mata mereka bertemu pandang, iris teal penuh ketegasan milik Toushiro tampak meredup. Entah apa yang membuat sinar itu hilang, kali ini Ichigo pun tidak dapat membantu apapun. Seolah mereka berkirim pesan lewat tatapan, Toushiro pun kembali melakukan shunpo dengan wajah yang terlihat menahan pedih.

Ichigo bukannya tidak tahu tentang perasaan Toushiro pada Karin ataupun sebaliknya. Dia hanya ingin yang terbaik bagi keduanya. Tapi, tidak bisa menyalahkan takdir ― walaupun Karin bukan seratus persen manusia ― hubungan keduanya adalah hal tabu di soul society, terlebih Karin bukanlah shinigami sepertinya.

"Tidakkah mereka terlihat seperti Kaa-san dan Tou-san, Ichi-nii. Tapi dengan masalah yang berbeda," perkataan gadis disampingnya membuat Ichigo menghela nafas panjang. Yuzu saat ini bukan Yuzu yang dulu, gadis lugu yang tidak tahu apapun dan memiliki kehidupan yang tenang. Kini adik kecilnya itu telah tahu banyak hal, lebih banyak dari apa yang Ichigo mungkin ketahui saat ini.

"Toushiro memberitahunya kah tiga tahun lalu?" tanya Ichigo seraya menatap Yuzu yang masih merundukkan wajahnya. Yuzu menggeleng sebagai jawaban, "Karin-chan mendengarnya dari Urahara-san saat kami bertanya tentang kabarmu."

"Sepertinya Aku tahu kenapa Toushiro tidak mengatakan hal itu. Biarpun dia lebih tua dariku, dia tetap seorang anak yang butuh kebebasan. Sotaicho tidak bisa seenaknya meminta bocah itu untuk tidak mengunjungi Karin," jelas Ichigo. Dia teringat betapa kecewanya Toushiro tiga tahun lalu ketika memintanya untuk tidak lagi pergi ke dunia manusia, hanya karena takut akan hubungan sang kapten divisi 10 itu dengan adiknya.

Ichigo menghentikan langkahnya ketika merasakan Yuzu berhenti berjalan, gadis Kurosaki itu tampak bergetar menahan sesuatu. "Yu," sahut Ichigo mencoba menyadarkan Yuzu dalam diamnya.

"Kalau begitu, kenapa kalian tidak kembali tiga tahun lalu. Se-seandainya ... tidak, seharusnya kalian datang lebih cepat. Kalau lebih cepat, maka semuanya tidak akan jadi seperti ini. Dan Karin, dia ...," Yuzu memegang kepalanya erat. Gadis Kurosaki itu terus saja menggelengkan kepalanya, membuat Ichigo perlahan merasakan reiatsu yang cukup besar meluap dari Yuzu.

Mencoba meraih tubuh sang adik, Ichigo berjalan perlahan untuk mendekati Yuzu. Tapi sayangnya, Yuzu berjalan mundur menjauhinya. Membuat iris kecoklatan pemuda Kurosaki itu membesar seketika, pikiran bahwa sang adik takut padanya pun mulai mengusik dirinya. "Yu, kendalikan emosimu. Kau dapat mengundang hollow," cetus Ichigo.

"Berhenti! Berhenti membicarakan hollow atau lainnya, Ichi-nii! Bisakah Kau bersikap seperti dulu, seperti seorang kakak biasa yang menghawatirkan adiknya. Yang akan datang jika kami membutuhkanmu, tidak bisakah?" Airmata perlahan jatuh dari wajah gadis itu.

"Yu, apa ada yang tidak Aku tahu selama tiga tahun ini?" tanya Ichigo yang kini hanya menatap sang adik tanpa mendekatinya. Yuzu yang mendengar pertanyaan itu sontak mengangkat wajahnya, menatap tajam pada mata sang kakak yang terlihat sendu. Menyedihkan ― dulu dirinya dan Karin lah yang tidak tahu apapun tentang kondisi kakaknya, tapi kini ― Ichigo lah yang tidak tahu apapun tentang mereka.

Kembali, gadis Kurosaki itu menggelengkan kepalanya. Air mata yang masih setia mengalir di wajah gadis itu menjadi saksi bisu kemarahannya pada sang kakak, ya, kemarahan pertamanya pada sang kakak. Tangan kecil yang awalnya menutupi wajahnya kini turun dan mengepal erat, seolah menahan sesuatu yang siap diledakkan saat itu juga. Tapi Yuzu menahannya ― dia akui, dirinya tetaplah sama seperti yang dulu ― gadis kecil yang sensitif.

Ichigo tidak mengerti, apa ada yang salah dengan pertanyaannya. Karena tiba-tiba, reiatsu Yuzu mulai stabil kembali. Menandakan bahwa sang adik sudah berhasil menahan emosinya. Seulas senyum diberikan Ichigo untuk Yuzu, tidak tahu untuk apa ― tapi dia senang jika Yuzu tidak lagi marah padanya walaupun itu hanya perkiraannya saja.

Tangan pemuda Kurosaki itu terangkat untuk meraih tangan Yuzu. Iris sang shinigami representative itu kembali melebar, dia terkejut dengan mata sang adik yang tiba-tiba menatapnya. Tatapan itu terlihat ... menyakitkan. Rasa terkejutnya tidaklah sampai disitu, Yuzu tiba-tiba saja berlari melewatinya. Meninggalkan sang shinigami dengan penuh keterkejutan.

.

.

.

Author note :

Hey minna-san! Aku cukup sedih bahwa tidak ada yg meriview fic ini lagi. Tapi aku sudah cukup jauh berharap dengan ceritaku. So, aku akan tetap melanjutkannya sampai selesai karena ini pairing favoritku.

Jadi sekali lagi, mohon reviewnya ya semuanya! (Bow)

Dalam beberapa chapter ke depan, fic ini akan tamat. Mohon dukungannya!