Can You See Me?
Bleach belongs to Tite Kubo
Chapter 12
Flashback part 1
.
.
.
Karin-chan, aku tidak menyangka kalau Uryuu-san melamar Orihime-neechan. Padahal mereka baru saja lulus," ujar Yuzu seraya memeriksa ulang surat undangan ditangannya. Karin dan Yuzu yang baru saja pulang dari sekolah tidak menyangka bahwa dua teman kakaknya itu akan menunggu mereka di gerbang sekolah hanya untuk menitipkan surat itu.
Masih dengan seragam smp mereka, Karin dan Yuzu memutuskan untuk lebih dulu ke toko Urahara. Karena mereka ingin bertanya kapan kakaknya itu akan berkunjung lagi, ditambah ada surat yang harus mereka sampaikan padanya.
Karin hanya melirik adik kembarnya itu sekilas lalu kembali memerhatikan jalan. Membiarkan rambut pendeknya yang terikat ponytail tertiup angin, Karin hanya mengangkat bahunya sebagai respon. Yuzu hanya tersenyum melihat respon saudaranya itu. Dia pun kembali menyamakan langkah dengan Karin yang berjalan lebih cepat didepannya.
"Aa, Karin-chan! Kau berjalan terlalu cepat."
Sesampainya di toko Urahara. Seperti biasa, kedatangan kembar Kurosaki itu disambut oleh bocah hyperaktif berambut merah —Hanakari Jinta. Memperlakukan Yuzu bak putri raja, Karin pun melangkah acuh meninggalkan keduanya setelah sedikit memberikan pandangan intimidasi pada Jinta.
Membuka shoji didepannya, Karin memasuki toko itu perlahan. Mencoba mencari keberedaan paman si topi bersandal —Urahara Kisuka. Aneh, tidak ada Ururu atau Tessai yang menyambut kedatangannya atau kucing aneh yang dapat berbicara itu. Karin pun membiarkan langkahnya pada pintu lain diruangan itu. Dia tahu ruangan siapa itu, paman si topi bersandal —itulah julukan yang diberikan kakaknya pada laki-laki aneh itu.
"Hey, pa —," terhenti. Sahutan Karin terhenti kala mendengar suara dari dalam ruangan. Walaupun dia adalah orang yang mengesampingkan formalitas, tapi Karin tahu bersikap sopan untuk tidak menyela pembicaraan yang lebih tua. Mencoba menahan urgensinya untuk bertanya, Karin pun mulai duduk menunggu di depan pintu yang sedikit terbuka.
Entah karena celah itu atau memang Urahara yang bersuara keras, Karin mampu mendengar pembicaraan itu. Menganalisa, sepertinya Urahara sedang berbicara lewat telepon dengan seseorang —bukan seseorang, sepertinya itu dengan kakaknya. Mencoba mencuri dengar, Karin mendekatkan telinganya pada pintu.
"—ini, apa tidak bisa kau sampaikan sendiri ... Kurosaki-kun, hal sebesar ini seharusnya kau beritahu lebih awal ... Ara-ara, bukan seperti itu maksudku ... Baiklah aku akan mengatakan kalau kalian tidak bisa berkunjung tahun ini. Tapi aku harap, kalian dapat mengatasi sotaicho lebih cepat, karena aku tidak ingin berurusan dengan kemarahan dua gadis remaja."
Karin mendengar Urahara menutup telpon dan beranjak dari tempatnya. Dengan cepat, Karin menarik dirinya dan berdiri tegap di depan pintu. "Wah, siapa yang kutemukan mencuri dengar pembicaraanku? Kurosaki-chan," ujar Urahara yang berdiri tepat di depan shoji yang baru saja dibukanya.
Karin mendongakkan kepalanya mencoba melihat wajah Urahara. Urahara yang melihat pandangan itu langsung menutup wajahnya dengan tessen, "Ups, maaf! Aku tidak tertarik dengan gadis muda," ejeknya.
Mendecih pelan, Karin membuang muka melihat tingkah orang didepannya. "Urahara-san, kenapa Ichi-nii dan yang lain tidak bisa berkunjung tahun ini?" tanyanya mengabaikan sarkasme yang coba dilayangkan Urahara.
"Ara-ara, apa kau begitu ingin tahu?"
"Urahara-san!"
"Kau tahu? Ada dinding yang tidak bisa dilintasi antara yang hidup dan mati." Karin mulai jengkel dengan tebak-tebakan kata yang selalu dilontarkan si topi bersandal itu, tidak bisakah dia langsung memberitahukan intinya saja. "Tapi Ichi-nii belum mati!" tolaknya tegas.
Menyadari kejengkelan Karin, Urahara menuntun gadis itu untuk duduk dan berbicara dengan tenang. Setelah melihat Karin mengikuti langkahnya, Urahara menutup tensennya mencoba memberi isyarat akan keseriusannya. "Karin-chan," Karin tahu bahwa Urahara mulai serius dengan hanya mendengar bahwa dia memanggil dengan namanya saja.
"Ketika Kurosaki-kun telah memilih menetap di soul society itu artinya dia telah melepas kehidupannya di bumi, sama seperti ayahmu yang lebih memilih ibumu. Setiap pilihan ada konsekuensinya tersendiri, mereka berdua telah melintasi dinding antara yang hidup dan mati. Maka harus ada yang mereka tinggalkan, termasuk hubungan keluarga yang lama tercipta. Apa kau mengerti."
Karin mengepalkan tangannya, dia menggigit bibirnya mencoba menahan sesuatu. Tapi tidak, seorang Kurosaki tidak bisa menerima hal yang tidak jelas seperti ini. "Urahara-san, apa kau coba menyampaikan bahwa soul society melarang kakakku untuk datang ke dunia manusia lagi? Setelah sejauh ini kami mengizinkan Ichi-nii pergi, tidakkah mereka mengerti bahwa mereka telah merebut yang bukan milik mereka."
"Kau tidak mengerti juga ya, itu disebut konsekuensi. Apa yang kau rasakan saat ini sama seperti apa yang dirasakan oleh beberapa orang di soul society ketika Isshin memilih menetap disini —memilih ibumu."
"Tidak! Soul society yang membuat Tou-san harus melakukan itu. Sedangkan sampai saat ini kami tidak menahan Ichi-nii untuk memilih keinginannya."
"Tepat! Seperti yang kau katakan, tidak peduli kau menyukainya atau tidak tetap harus ada yang ditinggalkan. Kalian memang tidak menahan Ichigo, tapi soul society memiliki pemikiran lain. Maka dari itu aku mengatakan bahwa ini disebut konsekuensi antara yang hidup dan yang mati."
Kesal. Kemarahannya seperti akan meledak saat itu juga, tapi Karin terus menahannya dengan sabar. "Uugh! Apa kau bisa menghubungi Ichi-nii untukku?"
"Kurasa itu tidak bisa, dia berada dibawah pantauan divisi 1. Jadi Aku ragu bahwa sotaicho akan membiarkan kau menghubunginya."
"Tapi bukankah Ichi-nii baru saja menghubungimu! Ugh, lupakan saja! Kalau begitu biarkan aku menghubungi Toushiro."
"Aku takut, kau dan taicho muda itu akan lebih sulit dibandingkan Isshin." Karin terdiam, mata onixnya memandang nyalang pada Urahara. Mengisyaratkan bahwa dia tidak sedang bermain dengan permainan cinta kekanakan yang setiap orang tujukan pada dirinya dan Toushiro. Tapi di sisi lain, Urahara memberikan pandangan serius. Seolah mengirim pesan yang selalu tersembunyi dari perasaan teman shinigaminya itu.
Tidak. Ini tidak benar, apa yag didengarnya saat ini adalah kebohongan. Kurosaki Karin benci ketika dia tidak bisa melakukan apapun pada situasi seperti ini. Menggelengkan kepalanya lemah dengan air mata yang coba ditahannya, kebanggan seorang Kurosaki yang coba ditahannya seolah hilang dalam waktu sekejap. Membenci akan kelemahannya, Karin berlari meninggalkan Urahara —meninggalkan toko tersebut. Dia mengabaikan segala sahutan dan panggilan dari belakangnya. Karena yang Karin tahu hanyalah berlari sejauh mungkin saat ini.
Yuzu hanya membiarkan saudaranya berlari, berbeda dengan Jinta yang memanggil Karin. Menghiraukan air mata yang membasahi wajahnya, Yuzu yang juga telah mendengar pembicaraan itu pun memasuki toko dan menemui Urahara yang telah berdiri dari tempatnya.
"Kurosaki-chan, apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Ka-karin me...melupakan obatnya, obat yang Urahara-san berikan telah habis hiks… Mungkin karena itu dia —maaf kan sikap Karin-chan tadi!" Yuzu membungkukkan badannya. Urahara yang melihat tubuh Yuzu bergetar hanya menggelengkan kepalanya lemah. Membuka tensennya dan menunggu hingga Yuzu berdiri tegap kembali.
Lama, tapi Yuzu tetap membungkuk. Urahara menarik nafas panjang melihat tingkah gadis smp itu. Melihat tubuhnya yang bergetar karena menangis membuat Urahara tidak tega, "Kurosaki-chan berdiri lah, tubuhmu akan sakit kalau membungkuk terlalu lama."
"O-obatnya?" tanya Yuzu yang masih membungkuk. Urahara mengambil sebuah botol yang terselip di lengan bajunya. Mengarahkan botol itu tepat dihadapan Yuzu. "Angkat wajahmu dan ambillah!" pinta Urahara tulus.
Yuzu menghapus airmatanya dan mengambil obat itu, "Arigato!"
"Kurosaki-chan, terkadang bersikap egois itu penting untuk beberapa hal. Itulah yang Aku pelajari dari ayah dan kakakmu. Apa yang kulihat dari Karin dan dirimu hari ini. Aku mengerti, bahwa sikap itu ternyata telah mendarah daging dalam keluarga kalian."
Yuzu memandang heran pada Urahara. Mengerti akan keheranan gadis didepannya, Urahara memberikan seringai khasnya. Tapi sayang, kali ini seringai itu tidaklah membuat Yuzu ketakutan. Mendesah pelan, Urahara hanya dapat menggelengkan kepalanya lemah.
"Sudahlah, lupakan apa yang aku katakan. Berbicara tentang kemampuan Karin-chan, obat itu bukanlah untuk menghilangkan kemampuannya. Tapi hanya membuat kemampuan itu tertidur dalam waktu tertentu. Kemampuan yang dimilikinya memang sangat menyeramkan bagi gadis seperti kalian. Tapi terkadang ada saat dimana dia harus bisa mengendalikannya sendiri tanpa bantuan obat."
"Aku tidak peduli tentang kemampuan seperti apa itu dan tidak ingin membayangkannya. Tapi melihat Karin-chan terluka karena kemampuan itu sungguh menyakitkan. Urahara-san, aku harap anda cepat menemukan cara untuk menghilangkan kemampuan menyeramkan itu."
"Ara-ara, itulah kenapa Aku bilang bahwa kalian adalah 'keluarga'."
...
Lelah, kakinya lelah berlari. Suara-suara jeritan kematian pun semakin menyusup ketelinganya ketika dia menyadari dirinya berada di tengah keramaian. Terengah, Karin menumpukan kedua tangannya di lutut. Mengatur nafas panjang berusaha untuk mengabaikan pandangan aneh dan suara disekitarnya. Rambutnya yang terikat entah kapan terlepas. Rambut pendek sebahunya seolah membuat bingkai wajah kecilnya.
Merasa lebih tenang, Karin mengangkat tubuhnya yang tertunduk lesu. Melihat keramaian , itulah yang dilihatnya saat ini. Dia tidaklah takut akan para hantu atau plus yang bergentayangan disekitarnya. Dia hanya meretorikan keadaan ramai disekitarnya dengan perasaan yang dirasakannya saat ini. Belum lagi, Karin lupa untuk meminta obatnya dari Urahara.
Ugh! Kepalanya sakit ketika harus mendengar suara jeritan kematian orang disekitarnya saat ini. Melanjutkan langkahnya mencoba menghindari keramaian, Karin memghiraukan sahutan serta omelan beberapa orang yang tidak sengaja ditabraknya. 'Kenapa aku harus berlari ke pusat kota sih!' keluhnya mencoba menutupi pendengarannya.
"Aduh!" suara keluhan anak kecil berumur sekitar 9 tahunan itu membuat Karin terhenti. Dia melihat sebuah kotak yang terjatuh didepannya. "Itu milikku, Onee-san!" suara anak kecil yang sama membuat Karin melirik kearahnya lalu beralih pada kotak itu. Mengambilnya, Karin menyerahkan kotak tersebut.
Tertegun. Karin terdiam ketika melihat anak tersebut. Potongan rambut yang mirip dengan Ichigo dan ekspresi yang sama saat ibu mereka masih ada. Melihat nama yang tertera di kotak itu, Karin tersenyum pada replika kakaknya itu. "Onee-san, kotakku?" tanya anak tersebut seraya melambaikan tangannya di depan Karin.
"Ah iya, ini kotakmu." Anak itu tersenyum lebar ketika mendapatkan kembali kotaknya, "Ini hadiah untuk Kaa-san." Setelah mengatakan itu, anak tersebut membungkuk memberi hormat lalu berjalan melewati Karin. "Ichi-nii," gumam Karin yang berbalik dan memperhatikan langkah anak tersebut.
"Semoga isinya tidak rusak karena terjatuh. Sebaiknya aku cepat ke rumah sebelum Okaa-san khawatir."
"Aakh!" Karin mulai menutup telinganya kembali ketika mendengar suara itu. Suara yang penuh penderitaan dari mereka yang akan mati. Seakan mengenal suara itu, mata keabuannya tertuju pada anak yang baru saja ditemuinya. "Oh, Kami-sama! Tidak mungkin!"
...
Degh!
Yuzu memegang jantungnya. Aneh, tiba-tiba saja jantungnya berdetak sangat cepat. Pandangannya pun seakan kabur, tapi bukan karena air mata. Rasanya langkahnya enggan untuk menuntunnya ke rumah. Entah kenapa, kini Yuzu membiarkan kakinya yang bergerak sendiri kearah lain.
"Ti-tidak! Ini tidak mungkin!"
...
"Melemah, reiatsunya melemah."
"Siapa Urahara-dono?" tanya Tessai yang baru saja mengisi gelas teh Urahara. Urahara hanya diam dan memalingkan wajahnya pada langit mendung sore itu. "Bahkan langit pun menangis hari ini" bisiknya lemah pada udara yang menyesakkan sore itu.
Hangat. Pangkuannya terasa hangat tiba-tiba. Dilihatnya Yoroichi dalam bentuk kucingnya. Kucing itu menelingkup dalam pangkuannya, mencoba menghangatkan dirinya dari rasa dingin. "Apakah kau juga merasakannya?" Selanjutnya, hanya geraman kecil dari kucing tersebut yang mengisi sunyi toko itu.
...
Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh!
Kurosawa Ahosi memandang nanar ke depan, wajah putihnya kotor oleh noda darah. Punggungnya sedikit terasa sakit akibat benturan dengan aspal. Terdapat memar di tangan kananya. Bajunya pun terlihat lusuh. Kotak kado yang dipegangnya sejak tadi jatuh terlupakan begitu saja disampingya.
Sebuah truk muatan tampak rusak menabrak lampu jalan. Dengan cepat, semua orang menghentikan aktivitasnya dan membentuk kerumunan. Lalu lintas jalan menjadi padat dipenuhi oleh orang yang penasaran akan apa yang tengah terjadi.
Kurosawa Ahosi perlahan mendekati objek yang sejak tadi dilihatnya. Jalannya terseok, sekujur tubuhnya masih terasa sakit. Air mata perlahan mengalir diwajahnya. Terhenti, sama dengan apa yang dilakukan beberapa orang yang mengelilinginya. Ahosi menangis, dia menutup matanya.
Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh!
Yuzu berhenti berlari. Langkahnya melamban seiring rintik hujan yamg mulai turun. Pandangannya terpaku pada kerumunan orang yang berada di tengah jalan. Disudut matanya, terlihat aliran darah yang bersatu dengan air hujan diantara celah kerumunan. Suara bisikan perlahan memasuki gendang telinganya. Jantungya pun entah kapan telah bergemuruh sangat keras.
Menghilangkan lelah karena berlari cukup jauh hingga ke tempat itu. Yuzu mengambil langkah panjang mendekati kerumunan. Abai akan gemuruh detak jantungnya, gadis Kurosaki termuda itu menyusun segala determinasi hati disetiap langkahnya.
Yuzu menghiraukan gerutuan orang disekitar ketika dia memaksa masuk dalam kerumunan. Tujuannya satu, memastikan. Memastikan bahwa firasatnya salah. Memastikan bahwa rambut hitam berlumuran darah yang terlihat dari celah kerumunan adalah oramg lain. Memastikan bahwa — dirinya belum terlambat.
Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh! Degh
Kurosaki Ichigo memandang sendu pada langit gelap soul society. Masih petang memang, tapi dia berharap dapat melihat bintang. Walaupun tidak akan pernah ada bintang di langit soul society. Setidaknya, dia bisa mengisi langit gelap malam dengan ingatan wajah keluarganya.
"Akh!" sakit. Jantungnya dengan sendirinya berdebar dengan keras. Aneh. Rasanya dia ingin kembali sekarang juga ke kota Karakura. Menikmati udara disana. Bertengkar dengan ayahnya akan hal bodoh. Atau sekedar bermain dan bercanda dengan adik kembarnya. Ya, setidaknya biarkan dirinya bertemu dengan adiknya hari ini. Itulah yang sejak tadi dipikirkannya.
Disisi lain, barak divisi 10. Hitsugaya Toushiro melirik pada frame kecil yang terpajang dimejanya —frame foto dirinya dan keluarga Kurosaki saat ulang tahun si kembar tahun lalu. Rasanya, hanya dengan melihat foto itu semua rindunya berkurang.
Tapi entah kenapa, hari ini berbeda. Dia merasa harus pergi ke Karakura sekarang juga. Tak ingin menjadi naif —tapi dirinya— sangat merindukan Karin.
Degh! Degh! Degh! Degh!
Tik! Tik! Tik! Hujan perlahan mulai jatuh lebih deras. Beberapa siswa smp yang sedang bermain bola pun menghentikan kegiatan mereka. Salah satu dari mereka mulai mengambil bola dan menaruhnya di jaring tas. "Kurosaki-chan tidak datang hari ini?" tanya Pinta salah satu dari siswa smp tersebut.
Mereka memandang jalan yang tepat berada di samping lapangan. Tak ada tanda dari gadis berambut raven yang mereka tunggu akan datang. Hujan pun mulai turun lebih deras, menandakan bahwa mungkin gadis raven itu sungguh tidak akan datang. "Mungkin aniki Kurosaki-chan sudah datang, jadi dia melewatkan latihan hari ini." Mendengar penuturan Kazuya, mereka semua mengangguk dan mulai membereskan barang mereka untuk pulang.
Klinik Kurosaki yang ramai beberapa menit lalau kini berganti dengan suasana sepi. Hanya ada Kurosaki Isshin yang tampak merapihkan beberapa data pasien. Tapi kali ini ada yang berbeda darinya. Wajah lelah dan cerianya berganti dengan rasa takut dan air mata. Entah kapan, dia membiarkan air mata itu jatuh diwajahnya.
Degh! Degh! Degh!
Sirine ambulan datang beriringan dengan mobil petugas polisi. Membuat Yuzu dan kerumunan itu menyingkir dari area kecelakaan tersebut. Tandu yang dikeluarkan ambulan yang diturunkan petugas menutupi pandangan Yuzu dari korban kecelakaan.
Korban pertama yang dibawa petugas adalah seorang laki-laki tua yang dikeluarkan dari dalam truk. Seluruh tubuhnya berlumuran darah, membuat beberapa orang disekitarnya berjengit ngeri dan menutup mata. Termasuk Yuzu, dia mengaihkan pandangannya pada sisi jalan. Disana, petugas polisi sedang menenangkan seorang anak kecil yang menangis sejak tadi. Dia memandang pilu pada anak tersebut.
Beberapa petugas yang mencoba mengobati luka lecetnya memandang sendu pada anak itu, karena anak itu terus menolak untuk diobati. Yuzu yang iba melihatnya mulai berjalan menuju sisi jalan itu. Berharap ada yang bisa dilakukannya untuk membantu.
"Sepertinya dia mengalami trauma ... Dia terus menangis sejak tadi ... Yang ditandu itu bukankah dia yang menyelamatkan anak itu ... Bagaimana dengan gadis yang menyelamatkannya itu ya?"
Dtumb! Yuzu terhenti dari langkahnya ketika mendengar bisikan-bisikan orang disekitarnya. Jantungnya kembali berdebar dengan cepat. Tubuhnya bergetar ketika dia merasa bahwa petugas pembawa tandu berada dibelakangnya.
Suara paramedis itu terdengar dengan jelas, "Apa kita perlu melakukan CPR? ... Ya, detak jantungnya lemah ... Tapi pastikan dengan baik, sepertinya dia mengalami luka dalam juga."
Degh! Degh!
Rintik hujan kini berganti dengan guyuran hujan yang deras. Beberapa orang mulai menyingkir dari sana. Tapi Yuzu, dia masih memcoba memeberanikan dirinya untuk membalik badan. Dia masih mendengar suara paramedis yang mencoba memasang alat bantu CPR dibelakangnya.
"Ayo masukkan gadis ini! Kita harus membawanya cepat ke rumah sakit,"suara itu diiringi dengan langkah kak. Membuat Yuzu dan segala determinasinya membalik tubuhnya.
Dan. Tepat didepannya. Seseorang yang sejak tadi mengisi pikirannya terbaring lemah diatas tandu. Semua gerak disekitarnya seolah melamban seiring dibawa masuknya tandu itu ke dalam ambulans. Yuzu. Hanya terdiam terpaku memandang kosong ketika mendengar suara mesin mobil yang dinyalahkan.
Tap! Satu langkah mundur diambil olehnya. Kedua tangan terangkat untuk menutup mulutnya. Perlahan, air mata jatuh dari matnya dan menyatu dengan hujan yang membasahi wajahnya. Kurosaki Yuzu, entah kapan merasakan beban dipunggungya semakin berat. Membuatnya jatuh bersimpuh dengan kedua lutut sebagai tumpuannya.
"Ti-ti-tidak! KARIN!"
.
.
.
Author note:
Hei! I'm coming back! Akhirnya uas semester ini selesai. Dan aku harap kalian bisa menikmati chapter ini biarpun banyak OOC dan ke khilafan lainnya, hehehe.
Mohon reviewnya untuk chapter selanjutnya dan terima kasih yg sudah mereview fic gaje ini semoga kalian tidak bosan membaca dan memberikan review!
MK
