Hai! Aku datang lagi para reader yang menunggu dan tidak menunggu cerita ini, hehehe... Sebenarnya, aku sudah ingin mengupdate fic ini akhir Juli kemarin. Tapi sayangnya, laptop yang menemaniku sejak Sma mengalami kerusakan dan dataya tidak 'selamat' :(((( Di laptop itu ada banyak data, kenangan serta fic yang aku tulis dan sudah selesai. Jadi aku harus menulis ulang cerita ini deh, ditambah aku harus kembali mengingat bahkan membuat plot baru — karena kita tidak bisa menulis cerita yg sama 2×. Sialnya lagi, sebagai mahasiswa yg 'kebetulan' aktif di himpunan, aku harus menyusun ulang lpj yg ikut hilang didlm laptop ku. Jadilah aku baru bisa update sekarang.
Warning : Semi AU, OOC, dan romance gagal
Can You See Me?
Bleach belongs to Tite Kubo
Chapter 13
.
.
.
Entah berapa lama Toushiro menunggu di depan pintu, kakinya terasa lemah untuk sekedar beranjak dari tempat itu. Saat Jinta memasuki ruangan itu, dia tidak berniat melihat ke dalam. Beberapa saat lalu pun dia mendengar suara Karin— suaranya terdengar lemah, menandakan bahwa gadis itu telah sadar. Tapi sayangnya, suara Karin membuat semua ototnya terasa melemah. Tidak tahu kenapa, rasanya segala kesedihan gadis Kurosaki itu telah menjadi titik lemahnya.
"Hitsugaya-san," sejak tadi Ururu terus memanggil sang kapten muda didepannya. Tapi tampaknya sang kapten masih asik dengan pemikirannya. Jinta yang telah keluar lebih dulu pun memberikan tatapan tidak sukanya pada sang kapten, walaupun dia tahu apa yang mungkin sedang dipikirkan oleh kapten itu. "Hey, pendek!" seru Jinta yang kini berdiri dengan melipat tangannya di dada — tak lupa sebuah deathglare diberikan Ururu pada Jinta karena berkata tidak sopan.
Toushiro mendelik tajam pada Jinta, ketika menyadari sebutan apa yang telah disematkan padanya — dia sungguh sensitif jika menyangkut tinggi badan. Jinta yang melihat respon itu menatap bangga pada Ururu, seakan tahu apa yang akan menyadarkan kapten didepannya dari lamunannya itu. Ururu yang melihat itu pun hanya mendesah panjang dan menyampaikan apa yang Karin titipkan padanya sebelum keluar, "Hitsugaya-san, Karin-chan ingin bertemu denganmu. Tapi tolong, Hitsugaya-san, anda jangan sampai membuatnya sedih. Stress sangatlah tidak baik bagi keadannya saat ini." Dengan kata-kata itu pun Toushiro mengangguk dan memasuki ruangan, menghiraukan tatapan khawatir yang diberikan dua remaja yang ada didepannya, dia menutup pintu shoji seakan apa yang dibicarakannya adalah hal personal untuknya.
"Toushiro," terdengar suara Karin begitu Toushiro memasuki ruangan itu. Ruangan yang tidak terlalu besar dengan meja kecil di pojok dan futon yang Karin gunakan di tengah — tapi cukup besar jika hanya untuk dipakai satu orang saja.
Toushiro menarik nafas panjang sebelum berbalik menghadap Karin. Gadis Kurosaki itu terlihat pucat, berselimutkan kain berwarna biru gelap yang menutupi kaki jenjangnya, Karin duduk menghadap pintu, cangkir yang dipegangnya langsung ditaruh di sebelah futon. "Toushiro, kesinilah!" undang Karin setelah hanya mendengar suara shoji tertutup.
Melangkahkan kakinya, Toushiro berjalan dan duduk di seblah Karin. Dia memandang wajah gadis yang telah membuatnya jatuh cinta. Tidak secantik Yuzu memang, tapi aura yang dibawa Karin lah yang mungkin membuatnya jatuh cinta. Tapi, entah kapan aura hangat penuh keceriaan itu telah memudar, membuatnya rindu akan candu aura gadis didepannya.
"Aku dengar Jinta telah menceritakannya," ujar Karin memecah sunyi ruangan itu. Tangan kecilnya terus bermain dengan ujung selimut, menandakan ketidaknyamanan dirinya akan suasana sepi yang ada. Menyadari ketidaknyamanan itu, perlahan Toushiro mengangkat tangannya dan memegang pundak Karin. Memaksa gadis itu untuk berbalik menghadapnya, "Karin."
Suara husky dari sang kapten membuat Karin sedikit bergidik ngeri, pasalnya, Toushiro tidak pernah menggunakan nada seperti itu saat berbicara padanya. Gadis itu menundukkan kepalanya, biarpun tidak bisa melihat, Karin merasa bahwa Toushiro sedang menatapnya intens. "Toushiro, apa kau marah padaku? Apa kau marah karena aku tidak menceritakan apapun padamu dan kau mendengarnya dari Jinta — bukan aku?" bisik Karin yang masih bisa didengar Toushiro.
Menurunkan tangannya dari pundak Karin, Toushiro menggenggam tangan Karin dengan satu tangannya dan yang lain bergerak lembut menyingkirkan rambut raven yang menutupi wajah gadis itu.
Karin hanya diam dan membiarkan Toushiro menyelipkan setiap helai rambut ke daun telinganya. Dia menutup matanya dan menikmati setiap sentuhan dingin tangan Toushiro yang menyentuh wajahnya, jujur, Karin sangat menyukai sentuhan itu — seolah memberi arti bahwa Toushiro tidak marah padanya.
Iris teal-nya memandang lembut pada gadis didepannya. Rasanya saat ini Toushiro tidak akan masalah jika mengakui Karin adalah kelemahannya. Baginya, membayangkan dirinya lah yang telah melukai Karin merupakan mimpi buruk. Tidak tahu kapan dia telah menjatuhkan hati pada Karin, karena dia pun terbilang baru mengenal Karin dibandingkan dengan dia mengenal Hinamori atau Matsumoto
— jadi yang pasti, bukan kecantikan lah yang membuat Toushiro menyukai gadis ini.
"Toushiro, apa yang ada dipikiranmu?"
Suara Karin memecah lamunannya, entah sudah berapa kali dia melamun — Toushiro merasa sangat bodoh hari ini. Dia bahkan tidak menyadari bahwa tangannya telah memegang pipi Karin, sementara Karin sendiri menatap lurus padanya. Aneh, biarpun dia tahu Karin tidak bisa melihatnya, rasanya seperti Karin sedang menatap kekonyolannya itu. Dengan cepat dia menurunkan tangannya dari wajah Karin, menyatukan tangannya yang menggenggam tangan Karin, menangkup kedua tangan kecil Karin dalam tangannya.
Kehangatan langsung menjalar pada tubuhnya yang dingin. Membuat tubuhnya yang terasa tegang menjadi lebih rileks, padahal dia hanya menggenggam tangan Karin. Dan semua kekhawatiran itu seakan hilang bersamaan dengan senyum hangat yang Karin berikan padanya saat ini. Tanpa disadarinya, sudut bibir Toushiro pun telah terangkat dan membentuk senyum simpul.
"Aku ingin mendengarnya darimu," ujar Toushiro.
"Apa yang Jinta katakan tadi, aku tidak mau menganggapnya ada. Bagiku apa yang kau katakan adalah yang akan pertama kali aku dengar. Jadi, kumohon ceritakan semuanya padaku dan aku tidak mungkin marah padamu, karena aku tahu semuanya hanya darimu — Karin."
Penuturan yang dikatakan Toushiro memberikan angin segar baginya. Karin melepaskan genggaman tangannya dari Toushiro, tanpa berpikir — Karin langsung memeluk Toushiro. Melingkarkan kedua tangannya pada leher shinigami muda tersebut, Karin membenamkan wajahnya di pundak sang shinigami. Menyesap setiap aroma musim dingin yang selalu dibawa shinigami yang telah memikat hatinya itu, "Aku, aku akan menceritakan semuanya padamu."
Toushiro hanya membalas lembut pelukan itu ketika mendengar jawaban Karin, sebelum akhirnya, keduanya melepaskan pelukan itu dan mendengarkan setiap cerita yang terlewatkan oleh Toushiro selama tiga tahun ini.
(NB : Bagi yang kurang menyukai bagian flasback, bisa menunggu chapter yang akan datang :D )
/Flashback/
Aroma obat mengisi lorong rumah sakit saat itu. Suara isakan tangis terdengar menggema di setiap sudutnya. Putih, warna khas yang katanya membawa susana steril dan tenang nyatanya tidak membuat Yuzu menghentikan isak tangisnya. Gadis Kurosaki itu terus saja menangis. Ayahnya, hanya bisa terdiam.
Kurosaki Isshin tidak pernah merasa selemah ini sebelumnya. Kabar yang dorongan semanganya kemarin sore terus mengusik pikirannya. Dia bahkan tidak bisa menenangkan putri bungsunya saat ini. Beberapa teman putranya pun tampak terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa selain menepuk lembut kepala putrinya—sekedar memberikan dorongan semangat.
Saat ini hanya ada mereka berdua di ruang tunggu operasi. Teman serta kenalan keluarga mereka telah pulang malam kemarin. Ini adalah operasi panjang. Lampu penanda pun belum berganti warna menjadi hijau setelah mereka menunggu cukup lama.
"Pulanglah! Kau pasti lelah, Tou-san akan mengabarimu jika operasinya selesai." Suara Isshin tampak serak karena dehidrasi. Bahkan harus diakuinya, karena menunggu operasi selesai dia dan putrinya melewatkan makan malam mereka dan kelaparan.
Yuzu menggelengkan kepalanya. Isshin hanya tersenyum lemah dan membawa kepala Yuzu untuk bersandar dibahunya. Kembali, tangan besarnya mengelus lembut rambut honey blonde putri bungsunya itu.
Tap! Tap! Tap!
Derap langkah kaki terdengar dari lorong rumah sakit. Isshin dan Yuzu mengalihkan pandangannya pada sumber suara. "Anak itu," bisikan yuzu terdengar oleh Isshin. Mereka berdua pun bangun dari duduknya.
Terlihat, seorang wanita dan anak laki-laki dengan kemiripannya berjalan mendekati mereka. Ibu dan anak —itulah yang terbesit dalam pikiran Isshin. Mantan shinigami itu sesekali melihat pada putrinya yang tampak menunjukkan kesedihan kala melihat anak itu.
"Kurosaki Isshin?" itu terdengar seperti pertanyaan dibandingkan sapaan bagi Isshin. Dia pun hanya mengangguk sebagai respon. Matanya tertuju pada beberapa luka lecet dan plaster yang terlihat di wajah anak itu. Mengerti akan situasi yang ada, Isshin hanya tersenyum lemah melihat anak yang tampak mengumpat dibalik tubuh ibunya itu.
"Kurosawa-kun, apa dokter telah mengizinkanmu keluar?"
Kurosawa Ahosi —nama anak laki-laki itu— terkesiap ketika mendengar pertanyaan Isshin. Tidak jauh beda dengan putranya, sang ibu pun sangat terkejut — karena ini pertama kalinya untuk dia dan putranya bertemu dengan laki-laki didepannya. "Apa anda mengenal kami, Kurosaki-san?" tanya wanita itu.
Memandang sekilas pada putrinya, "Polisi telah memberitahuku beberapa hal." Sang ibu mengangguk dan meminta Ahosi untuk tidak berdiri dibelakangnya. Melihat ekspresi takut yang ditunjukkan Ahosi, Isshin merendahkan tubuhnya. Duduk dengan satu lutut sebagai tumpuannya. Mantan kapten shinigami itu mengambil tangan ahosi yang tampak lecet.
Tanpa disadari oleh yang lainnya, Isshin mulai menggunakan kido untuk mengurangi bekas lecet tersebut. Ahosi, disisi lain terkejut ketika merasakan bahwa rasa sakit ditangannya mulai berkurang. "Kau merasakannya 'kan, Kurosawa-kun?"
Ahosi tampak mengangguk kecil sebagai respon. "Inilah yang nanti akan dirasakan Karin-chan, semuanya akan membaik. Aku baru mengenalmu, tapi rasa sakitmu berkurang karena peganganku. Tapi bagaimana dengan putriku, Kau tidak berpikir bahwa aku akan membiarkannya kesakitan 'kan?"
Ahosi terdiam. Dia melirik ibunya sekilas. Sang ibu tampak tersenyum lemah. Perlahan, Ahosi keluar dari balik tubuh ibunya. Menunjukkan senyum yang tulus. Seakan Ahosi mengerti bahwa Karin akan baik-baik saja — bocah itu membisikkan kata 'arigato' pada Isshin.
'Ting!'
Suara bel yang berasal dari ruang operasi mengalihkan perhatian mereka semua. Lampu ruang operasi pun telah beralih pada warna hijau — menandakan bahwa operasi telah selesai. Perlahan pintu ruangan terbuka, para teknisi medis mulai keluar dengan satu kasur yang didorong mereka dan satu kasur lagi dengan segala peralatan medis yang masih terpasang disekitarnya yang dibawa oleh teknisi bedah medis lainnya.
Yuzu memandang iba pada orang yang dibawa petugas medis itu, wajahnya telah ditutupi oleh kain rumah sakit. Dia mengenalinya sebagai sopir yang terlibat dalam kecelekaan. Beruntungnya, keluarganya merelakan jantungnya untuk Karin sebagai permintaan maaf. Ya, jantungnya, satu jantung untuk saudaranya yang terbaring lemah pada kasur dorong satunya yang kini dibawa oleh teknisi bedah medis.
Dalam kecelekaan itu, Karin mengalami benturan parah di bagian kiri tubuhnya yang berdampak langsung pada lengan kiri dan jantungnya. Yuzu tidak mengerti apapun tentang gagal jantung atau lainnya yang dikatakan oleh pamannya — Ishida Ryuken. Tapi satu yang pasti, keadaan Karin sangat kritis saat itu.
Yuzu mengalihkan pandangannya pada ibu dan anak yang tampak menundukkan kepalanya saat petugas yang membawa Karin melewati mereka, lalu pandangannya tertuju pada ayahnya yang tampak menghampiri pamannya yang baru saja keluar ruang operasi. Isshin yang menyadari pandangan putrinya pun membalasnya, lelaki Kurosaki itu memberikan anggukan kecil pada Yuzu, seolah memberi tanda bahwa dia boleh meninggalkannya untuk melihat kondisi Karin.
Berbalik pada Ryuken, Isshin kembali mendengarkan penjelasan temannya itu tentang keadaan putrinya. "... Aku tidak tahu pasti hasil operasinya sampai Karin sadar. Kita harus menunggu selama 24 jam untuk mengetahuinya. Tapi kau tahu sendiri dampaknya akan banyak bagi gadis semuda dia kalaupun operasi itu berhasil."
Isshin menepuk dokter berkacamata itu sebelum akhirnya menyela pembicaraannya, "Aku tidak peduli tentang lainnya saat ini kecuali kesadarannya. Kita akan membicarakan itu dilain waktu. Terima kasih untuk usahamu sejauh ini, Ryuken."
Ryuken mengangguk kecil, "Temui aku diruanganku untuk informasi lebih lanjutnya."
...
28th day later.
Yuzu dengan masih memakai seragam smp-nya berjalan lemah menyusuri lorong rumah sakit. Kegiatan peminatan yang diambilnya membuatnya lelah. Apalagi jarak dari sekolah ke rumah sakit sangat jauh yang semakin menambah penatnya itu. Dia tidak keberatan jika memang harus meninggalkan kegiatan tambahannya itu, tapi Yuzu yakin, Karin akan sangat tidak menyukai tindakannya itu.
Ya, Kurosaki Karin — saudaranya, yang saat ini masih terbaring lemah di kamar rumah sakit dengan infus pemberi nutrisi yang masih menempel ditubuhnya. Sebenarnya, 10 jam setelah operasi, saudarnya telah sadar. Bahkan dia sempat berbicara lama dengannya walaupun hanya Yuzu yang berbicara dengan Karin mendengarkan saat itu. Karin pun telah bertemu Ahosi dan beberapa temannya yang kebetulan datang berkunjung. Tapi, saat Karin mengatakan dirinya lelah dan tertidur. Hingga saat ini, tidak ada tanda bahwa Karin akan terbangun dari tidur panjangnya.
Yuzu dan ayahnya sangat khawatir saat itu, tapi pamannya memastikan bahwa Karin hanya kelelahan dan tertidur. Namun kehawatiran mereka memang benar terjadi, selama tiga hari penuh Karin tertidur dan tidak membuka matanya ataupun bergerak. Mereka pun telah meminta bantuan Orihime dan Tessai untuk menyembuhkan keadaan Karin. Tapi sekali lagi, keduanya mengatakan kalau Karin hanya tertidur, benar-benar tertidur. Tidak ada efek lain pasca operasi ataupun tentang garis keturunan mereka yang bukanlah 100% manusia yang membuat keadaan Karin seperti ini. Karena semuanya telah memastikan, bahwa Karin hanya teridur.
Langkah Yuzu terhenti di depan pintu dengan nomor 102, ruangan Karin. Entah berapa lama Yuzu tenggelam dalam pikirannya hingga tidak menyadari bahwa dia telah sampai. Ketika dia ingin membuka pintu tersebut, suara dua orang yang dikenalnya membuat Yuzu terhenti. Perlahan, dia mendekatkan telinganya ke pintu untuk mencuri dengar pembicaraan itu.
"Lima belas hari lagi, jika sampai saat itu belum ada kemajuan maka tidak ada yang bisa kita lakukan lagi. Kau tahu prosedurnya kan?" tanya suara yang dikenali Yuzu sebagai suara pamannya, Ishida Ryuken. Disisi lain, Yuzu mendengar desahan panjang dari suara yang dikenalinya sebagai ayahnya. "Kau tidak perlu mengingatkan itu lagi padaku, Aku bukanlah dokter yang baru belajar seperti dulu." Kemudian Yuzu mendengar suara langkah kaki mendekati pintu.
Menjauh, Yuzu melihat pamannya membuka pintu ruangan. Lelaki yang tampak berumur 30 tahunan itu tersenyum dan mengelus kepalanya, meninggalkan Yuzu yang tertunduk lemah. Setelah dirasakan bahwa pamannya telah menjauh, Yuzu membuka pintu tersebut.
"Aaaah, Yuzu-cha~an! Kau sudah pulang, lihat apa yang Tou-san bawakan untuk Karin-chan!" Yuzu tersenyum melihat tingkah ayahnya yang unik. Rasanya tadi dia mendengar suara serius dari ayahnya— kini saat dia membuka pintu, yang didapatinya adalah ayahnya yang ceria. Melihat pada benda yang dibawa ayahnya, Yuzu tersenyum mencoba menghilangkan pikirannya yang tampak kacau saat ini. "Tou-san, bukankah itu cd band terbaru yang ingin Karin-chan beli!"
Isshin mengangguk antusias dan mulai memasukkan cd itu pada laptop yang telah terpasang langsung dengan speaker, entah sejak kapan benda itu ada disana dan bagaimana pihak rumah sakit mengizinkannya membawa masuk, hanya ayahnya lah yang tahu. "Haa~ah, pasti saat Karin-chan tersadar dia akan memeluk Tou-san dengan bangga. Selain itu ..."
Yuzu hanya menjawab setiap perkataan ayahnya dengan gumaman. Langkahnya perlahan menuju kasur tempat Karin tertidur, saudaranya tetap tidur tenang disana dengan suara yang cukup berisik diruangan itu. "Tou-san, rambut Karin-chan memanjang. Apa kita harus memotongnya?"
One day later at Urahara Shoten.
"Kau ingin permen, Kurosaki-chan?" tawar Urahara pada Yuzu yang duduk didepannya. Sejak gadis Kurosaki itu datang, dia tidak mengatakan apapun kecuali memainkan jemarinya dengan gugup. Dia pun tidak menaruh tas yang masih menggantung dilengannya. Gadis itu hanya menundukkan kepala lemah.
"Kurosaki-chan, apa aku perlu memanggil Isshin untuk mengantarmu pulang?" Yuzu mengangkat kepalanya dan menggeleng kuat. Tatapan matanya seolah meminta untuk tidak mengatakan apapun pada ayahnya. Urahara yang sebelumnya ingin beranjak dari tempat itu kembali duduk dan menatap Yuzu yang mulai berani menatapnya.
Memerhatikan tatapan penuh permintaan dari Yuzu, Urahara sadar, bahwa yang akan dikatakan oleh gadis didepannya itu cukuplah serius. "Katakanlah, " ujar Urahara dengan nada suara yang cukup tegas, sehingga membuat Yuzu sedikit berjengit dari tempatnya.
"Ichi-nii bilang kalau Aku tidak boleh terlalu dekat denganmu, Karin-chan pun mengatakan itu." Urahara melihat air muka penuh harapan dari ekspresi gadis didepannya, cara dia berbicara pun tidak terdengar gugup seperti kesan pertama yang sejak tadi diberikannya. "Tapi anehnya, setiap Ichi-nii atau Karin-chan dalam kesulitan, mereka selalu kesini. Seberapapun mereka ingin membuatku jauh dari sini, mereka selalu memintaku berlindung disini jika ada hal aneh mengenai monster atau —."
"Hollow, makhluk aneh yang akhir-akhir ini bisa kau lihat itu disebut hollow. Kedua kakakmu menginkanmu menjauh dari hollow-hollow itu," potong Urahara sekilas sebelum meminta Yuzu melanjutkan perkataannya kembali.
"Karena itu, aku kesini. Karena tidak ada yang bisa kumintai tolong lagi, selain Urahara-san. Aku ingin, anda menyadarkan Karin-chan dari tidurnya."
"Ara-ara, Kurosaki-chan. Kalau Orihime dan Tessai pun tidak bisa lalu begitu pun aku." Urahara pun berdiri dari duduknya dan berjalan melewati Yuzu, menatap gadis malang itu sekilas, Urahara merasa iba melihatnya. Tapi, apa yang dikatakan Yuzu rasanya kurang membuatnya menarik. Mungkin tidak semua Kurosaki itu benar-benar bisa menarik perhatiannya.
Berjalan menuju pintu shoji didepannya. Langkahnya pun terhenti, tangan yang tadinya ingin membuka pintu itu seakan tertahan. Reiatsu yang cukup kuat seolah menarik dirinya kembali dan berbalik pada sumbernya. "Urahara-san," suara gadis yang sama terdengar berbeda seiring reiatsu kuat yang mengiringinya.
"Jika Ichi-nii bisa membuatmu melakukan apa yang diinginkannya, kenapa aku tidak. Bukankah Kau bilang kami adalah Kurosaki, seorang Kurosaki dengan keegoisan dan kebanggaannya adalah mutlak. Aku akan melakukan apapun agar Karin-chan terbangun dari tidurnya — apapun."
"Terbangun dari tidur ya." Urahara mengangkat wajahnya, menatap langit-langit ruangan, seringai khasnya pun menjadi jawaban atas pernyataan Yuzu saat itu.
...
Urahara dengan tubuh shinigaminya menatap lama pintu dengan papan bernomor 102 didepannya. Shihoin Yoroichi pun dalam bentuk shinigaminya berdiri dibelakangnya. Ya, mereka tidak memakai gigai. Karena ini malam hari, dan rumah sakit pastinya akan melarang siapapun untuk menjenguk di waktu malam. "Apa yang akan kau lakukan, Kisuke?"
"Ara, apa kau tidak percaya padaku Yoroichi? Aku tidak akan membahayakannya, tenang saja."
"Kau tahu kan, bahkan Orihime dan Tessai tidak bisa membangunkannya."
"Ya, aku tahu. Tapi Karin hanyalah tertidur, tentu saja tidak ada yang bisa dikembalikan seperti semula oleh Orihime-chan, Karin pun tidak sakit jadi kido sehebat apapun tidak akan menyembuhkannya dari tidurnya. Gadis itu hanya tertidur. Tapi sudah cukup tertidurnya 'kan, karena ada seorang murid yang menungguku saat ini."
Yoroichi hanya memandang sekilas temannya itu, "aku akan menunggu diluar." Urahara mengangguk dan mulai membuka pintunya. Perlahan memasukinya dan menutup kembali pintunya. Urahara melangkahkan kakinya mendekati kursi yang ditempatkan tepat disamping kasur Karin.
'Krieet!' suara kursi yang bergeser mengisi sunyi ruang itu. Urahara duduk disana dan mengedarkan pandangannya, bola, semua pernak pernik bola menghiasi ruangan itu, dengan satu vas bunga menjadi hiasan tersendiri diruangan itu. Kembali pandangannya tertuju pada Karin, gadis kurosaki itu lebih kurus dan pucat dari terakhir kali dia menengoknya, rambutnya pun tambah panjang selain itu aura kehidupannya pun seakan menghilang dari rona wajahnya.
Urahara menyondongkan kepalanya, dia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi telinga Karin, memegang perlahan tangannya yang terinfus. Urahara mulai berbisik padanya, "Ne, Karin-chan. Apa kabarmu? Hime-chan —kalau kau tidak mengenalnya, itu adalah sebutanku untuk zanpakuto miliku — ya, bahkan dia sepertinya menghawatirkanmu.
"Karin-chan, bukankah kau tidak suka membuat orang khawatir padamu terlebih keluargamu. Tapi sayangnya kau telah melupakan mereka, Yuzu-chan dan ayahmu. Aku mengerti, di dunia mimpimu, Ichigo dan semua teman soul societymu sedang mengajakmu bermain. Semuanya, termasuk Yuzu dan ayahmu — tapi sekali lagi, itu hanya mimpi. Kau ingin semua mimpi itu tidak berakhirkan? Kalau iya, bangunlah. Ichigo dan yang lainnya menunggumu — disini, di dunia pemimpi yang nyata.."
Hening. Setiap kata yang diucapkan Urahara seakan terpantul lagi, setiap sudut ruangan seakan menjadi satu-satunya pendengar setianya saat ini. Tapi seorang Urahara Kisuke tahu apa yang dilakukannya, termasuk berbicara pada gadis yang sedang tertidur diruangan itu.
Mungkin yang bisa dilakukannya saat ini hanya dapat berbicara dan berbicara. Karena hanya dengan suaralah orang yang tertidur seperti ini akan terbangun. Memastikan setiap ucapannya terdengar oleh Karin, Urahara memegang lembut tangan gadis itu seperti ayah pada putrinya. Ini akan menjadi malam panjang bagi mantan kapten divisi 12 itu, karena ini pengalaman pertamanya untuk 'menarik seseorang dari dunia mimpinya'.
Pagi yang cerah dengan suasana tenang lorong rumah sakit membuat suara Isshin seolah menggema. Yuzu yang berjalan disamping ayahnya hanya tersenyum dan terkadang memberikan anggukan meminta maaf pada setiap orang yang memandangi sikap antik ayahnya itu. Walaupun sudah hampir sebulan para penghuni rumah sakit itu melihat tingkah Isshin, bagi mereka tetap saja hal itu sangat aneh dan terkadang menyebalkan. Mereka sempat bertanya, bagaimana orang seperti dia diizinkan masuk oleh pihak rumah sakit.
"Uuh, Tou-san! Jangan sembarangan mengejek Jii-san. Nanti kita bisa diusir," keluh Yuzu seraya menarik lengan ayahnya pada lorong rumah sakit yang menuju kamar Karin. "Oh,Yuzu-chan bagaimana bisa kau lebih memilih Ryuken daripada aku. Masaki lihatlah, bahkan Yuzu-chan sudah tidak memedulikan ayahnya lagi," Yuzu menggeleng lemah melihat tingkah kekanakan ayahnya. Dia mengerti kenapa kakaknya dan Karin sering sekali menendang ayahya — karena ayahnya begitu menyebalkan.
"Tidak Tou-san, Yuzu tetap akan peduli. Tapi lebih baik kita bertemu Karin-chan dulu, bukankah Tou-san harus membuka klinik lebih awal hari ini." Isshin mengangguk antusias ketika Yuzu mengatakan itu. Sebenarnya, dirinya tidak bermaksud mengejek temannya itu kalau saja dia tidak bersikap menyebalkan pagi ini. Biasanya temannya itu akan memeriksa Karin setiap pagi dan menunggu sampai dirinya atau Yuzu datang. Tapi pagi ini dia malah asyik mengobrol dengan dokter lain.
"Chiaki-san, sampai kapan aku harus menggunakan kursi roda?"
Suara itu. Yuzu menghentikan langkahnya begitu pun Isshin yang berdiri dibelakangnya. Mata kedua Kurosaki itu tertuju pada seorang pasien yang duduk dikursi roda tidak jauh didepan mereka dengan seorang suster muda yang mendorongnya. Rambut gadis itu jatuh terurai hingga punggungya, kulitnya tampak pucat tapi lebih cerah daripada hari sebelumnya, iris keabuannya tampak menunjukkan ketidaknyamanan akan sesuatu, kedua tangannya beristirahat dipangkuannya.
"Kurosaki-san, selama kau menjalankan beberapa pemeriksaan dan terapi kecil mungkin kau bisa berjalan dan bergerak seperti biasa." Suara lembut suster itu seakan mengetuk keterpakuan mereka yang berdiri tidak jauh didepannya.
"Karin panggil aku Karin saja. Aku pikir saat Jii-chan bilang aku hanya tertidur selama 28 hari itu tidak akan berdampak buruk padaku. Sampai-sampai aku harus duduk di kursi roda seperti ini."
"Karena kau tidak menggerakkan ototmu cukup lama, itulah yang menyebabkan keram dan sulit menggerakkan tubuhmu, tapi pemulihannya tidak butuh waktu lama. Karena kuro-Karin-san adalah orang yang tangguh." Suster itu tersenyum lembut pada gadis yang sejak tadi mendongakkan kepalanya saat mereka berbicara. Dia berharap dengan senyuman itu, Karin dapat melihat kejujurannya, karena adiknya pernah mengatakan bahwa Karin sangat tidak suka dianggap lemah bahkan dikasihani.
"Ya Chiaki-san benar," Karin mengangguk dan mengembalikan posisi kepalanya dengan benar—jujur, kepalanya agak sakit saat mendongak terus seperti tadi. Ufth! Pundaknya sedikit sakit ketika seseorang tiba-tiba saja memeluknya, bukan— bukan seseorang tapi Yuzu. Dari aroma tubuh dan kehangatan yang diberikan saat memeluknya, Karin tahu bahwa Yuzu lah yang memeluknya.
"Karin-chan!" suara Yuzu terdengar bergetar, Karin pun merasakan pundaknya basah —dia menangis. Yuzu menangis dalam pelukannya, bukan, bukan pekukannya, karena Karin sulit menggerakkan tangannya yang terasa kaku. "Yu, sudahlah — jangan menangis!" Karin berpikir, mungkin dengan perkataannya itu adik kembarnya akan berhenti menangis.
Tapi tidak, tangisan Yuzu semakin keras terdengar ditelinganya. Karin hanya bisa menarik nafas panjang melihat tingkah kembarannya itu. Matanya yang tertuju pada pundak Yuzu pun beralih ke depan. Pandangannya terhenti pada ayahnya yang masih berdiri diam ditempatnya. Entah kenapa, rasanya Karin ingin menyahuti kebodohan ayahnya karena bersikap seperti melihat hantu padanya atau Karin ingin sekali menendang wajahnya. Namun kali ini tidak, pandangan matanya melembut dan tersenyum simpul pada ayahnya. Sebuah senyum yang jarang diberikan pada sang ayah.
Kurosaki Isshin yang berdiri ditempatnya tidak tahu harus melakukan apa. Rasanya dia ingin memeluk Karin sama seperti Yuzu yang telah lebih dulu memeluk saudaranya itu. Tapi Isshin tahu, putri tertuanya itu akan risih jika dia memeluknya. Ya, setidaknya dia tidak ingin merusak momen yang mereka nanti selama hampir sebulan ini.
Isshin tergelak dari tempatnya saat melihat Karin tersenyum padanya. Sebuah senyum yang jarang dilihatnya, mata sang putri melembut dan seolah memanggilnya. Langkah Isshin tampak kaku, otaknya berhenti berpikir dan membiarkan hatinya memilih. Seketika, dia membenamkan kedua putrinya dalam satu pelukan yang hangat.
Chiaki, suster yang ditugaskan menjaga Karin hanya tersenyum lembut melihat momen hangat keluarga didepannya. Tanpa mengucapkan apapun, Chiaki berjalan mundur dan berbalik. Meninggalkan keluarga itu untuk menjaga Karin —rasanya hal itu dinilai lebih baik olehnya.
.
.
.
Four month later.
Karin menyiapkan peralatan sekolahnya dengan tergesa, ini adalah bulan ke dua sejak dirinya kembali bersekolah. Awalnya, dia sedikit takut ketika harus masuk kembali. Pasalnya, sudah tiga bulan terhitung dengan libur sekolah, telah banyak pelajaran tertinggal karena absennya itu. Tapi, sejak kesadaran Karin, teman-temannya dan Yuzu tidak pernah absen untuk mengajarinya selepas pulang sekolah.
"Karin-chan! Kau belum memakan sarapanmu!"seru Yuzu yang telah menunggu saudaranya itu dilantai bawah. "Yu, apa kau melihat ikat rambutku?" Karin bertanya seraya berjalan menuruni tangga dan menghampiri Yuzu. Yuzu mengedikkan bahu sebagai jawaban pertanyaan Karin.
Melihat saudaranya yang menggeram kesal dan mengacak rambutnya membuat Yuzu kasihan. Dia pun melepaskan ikat rambutnya — jika dibandingkan dengan rambut Karin, rambut Yuzu yang bergelombang lebih pendek. "Pakai punyaku dan cepatlah makan! Kita akan terlambat sebentar lagi," ujar Yuzu lembut.
Karin yang melihat Yuzu menyodorkan ikat rambutnya hanya terdiam, dia pun memandang Yuzu sekilas dan mengambil ikat rambut itu. Sebenarnya, Karin tidak masalah jika rambutnya tidak diikat — tapi itu dulu, sebelum rambutnya menjadi panjang melebihi bahunya. "Yu, mungkin aku harus memotong rambutku." Yuzu melihat Karin mengikat rambutnya dan berjalan ke meja makan.
"Kalau begitu, aku akan menemanimu ke kota besok. Ada beberapa barang yang harus aku beli," sahut Yuzu yang berjalan mengikuti Karin. "Kenapa tidak hari ini? Bukankah kita pulang lebih cepat," Karin menaikkan sebelah alisnya.
"Hari ini kita harus ke toko Urahara-san, bukankah pil yang dia berikan telah habis Karin-chan?"
Karin yang telah bersiap memasukkan sandwich kemulutnya pun tertahan, dia menurunkan tangannya sesaat dan melirik pada Yuzu yang duduk tepat di depan mejanya. "Yu, sepertinya aku tidak perlu lagi memakan pil itu." Karin tersenyum miris sebelum mengambil gigitan pertamanya.
"Tapi kau tahu sendiri kan saat lima bulan lalu, ketika kau tidak meminum pil itu, kau harus masuk rumah sakit selama dua bulan." Suara Yuzu terdengar melamah.
"Seperti Ichi-nii yang menerima takdirnya sebagai shinigami, aku pikir kemampuan ini pun ada baiknya. Kalau Ichi-nii bisa menolong arwah dari hollow dengan kemampuannya, maka aku bisa menolong manusia dari kematiannya. Hey, bukankah itu adalah hal keren! Kau memiliki saudara yang bisa mendengar suara hati seseorang sebelum kematiannya datang," suara tawa Karin pun mengisi hening rumah itu.
Yuzu tidak tahu harus melakukan apa. Ketika saudaranya telah memilih determinasi seperti itu, maka tidak ada yang bisa menentang argumennya. 'Karin-chan, yang kau lawan itu bukan monster tapi takdir. Bagaimana jika karma takdir itu berlaku padamu suatu saat nanti?' pikir Yuzu dalam diamnya.
Melihat adik kembarnya yang tenggelam dalam pemikirannya membuat Karin sedih. Sejak kejadian lima bulan lalu rasanya ada yang berbeda, keluarganya menjadi lebih khawatir walaupun mereka tidak menunjukkannya secara langsung. Memutuskan menyudahi sarapannya, Karin pun beranjak dari duduknya. "Yuzu, sejak awal, Urahara-san bilang kalau kemampuanku itu tidak bisa dihilangkan bukan? Dan sekarang ini, aku sudah menerima kemampuan aneh ini. Jadi tenang saja. Lain kali aku akan berpikir dulu sebelum bertindak," Karin pun mengambil tasnya yang diletakkan di meja. Memandang Yuzu yang telah memperhatikan ucapannya, Karin memberi isyarat untuk segera pergi ke sekolah.
Keesokan harinya, Yuzu kembali melihat saudaranya yang terbaring di kasur rumah sakit akibat menolong anak kecil dari kebakaran. "Kau bohong, Karin-chan!" seru Yuzu yang terus menahan tangisnya.
...
Two years later
Suasana lapangan saat itu terlihat sepi, bola yang tergeletak begitu saja didekat gawang tampak bergerak dimainkan angin. Di sisi lapangan tampak beberapa anak yang biasa memainkan bola itu. Mereka berdiri mengelilingi seorang gadis berambut raven yang duduk diatas bangku lapangan. "Dokter Kurosaki benar, sebaiknya Karin-chan tidak bermain bola," ujar seorang anak yang sering dipanggil Pinta itu.
"Hei, Pinta! Apa yang kau katakan. Jadi sekarang kau pro dengan Tou-san, hah?" seru gadis berambut raven yang telah bangkit dari duduknya. Pinta yang merasa tidak enak dengan temannya itu hanya menundukkan kepala, dia tidak bermaksud untuk meminta Karin berhenti bermain bola, dirinya hanya khawatir dengan kesehatan Karin. "Karin-chan, Pinta tidak bermaksud seperti itu. Kami hanya ingin kau lebih fokus pada kesehatanmu saja," bela Ryouhei yang membantu Karin untuk mengambil tasnya.
Ya, mereka semua khawatir dengan kesehatan Karin. Sejak kejadian kebakaran yang menimpa Karin dua tahun lalu, kesehatannya itu semakin melemah. Selain mengalami kebutaan, Karin pun harus menjalani operasi cangkok jantung untuk kedua kalinya. Mereka berpikir, mungkin karena operasi itulah kesehatan Karin menjadi terganggu.
Mengambil tasnya dari Ryouhei, Karin pun melipat tangannya didepan dada. "Iya, tuan-tuan! Tanpa kalian menghawatirkan kesehatanku pun aku sudah tahu, jadi tidak usah memikirkan itu dan biarkan aku bermain hari ini," ujar Karin dengan nada sarkasme. "Eeh, Karin-chan! Tapi Yuzu-chan sudah memperingatkan kami untuk tidak mengajakmu bermain hari ini—."
"Apa? Jadi, kalian takut pada Yuzu. Hahaha!" teman-temannya hanya memerah dan menundukkan wajahnya. Membiarkan Karin tertawa dengan puasnya. Menahan tawanya, Karin pun kembali tenang. "Baiklah! Ternyata kalian benar-benar tidak ingin aku bermain lagi ya," ujar Karin dengan dinginnya. Menghiraukan keterkejutan temannya karena ucapan Karin, dia pun berjalan angkuh ke depan dengan sedikit menabrak tubuh Pinta yang berdiri didepannya.
Temannya yang berambut afro pun langsung meraih tangan Karin, memaksa dirinya kembali berbalik menghadap teman-temannya. Karin sedikit kesal dan menyingkirkan tangan temannya itu. "Karin-chan dengar dulu!" gerutu Donny seraya memegang tangannya yang agak sakit karena Karin memelintirnya tadi. Seseorang berkacamata diantara mereka pun memberanikan diri berbicara ketika melihat Karin yang berdiri kesal didepan mereka. "Karin-chan, kami tidak melarangmu bermain. Setelah dokter Kurosaki mengatakan kau sudah membaik, kau bisa bermain lagi."
Hening.
Tarikan nafas panjang, Karin merilekskan tubuhnya. Dia mengambil tongkatnya dari tas dan menyerahkan tas itu pada seseorang didepannya, Karin tidak tahu siapa yang mengambilnya. "Bola?" tanya si kacamata — Kazuya. "Ambil lah! Pakai bola itu selama aku tidak bermain,"jawab Karin dengan mudahnya.
"Eeh~ itu kan bola kesayanganmu, Karin-chan." Kini Pinta pun kembali angkat bicara. Dia mengambil bola tersebut dari Kazuya, kembali melihat apakah benar itu bola kesayangan temannya. Terlihat, sebuah tulisan dengan tinta merah permanen, 'Happy Birthday 8th, Ichigo K.'
"Iya, memangnya kenapa? Aku memberikan itu sebagai pengganti diriku. Karena itu bola kesayanganku, kalian harus merawatnya. Kalau tidak, aku akan mengadukan kalian pada Ichi-nii karena telah merusak hadiahnya," jelas Karin dengan seringainya yang khas.
Teman-temannya yang lain bergidik ngeri ketika mendengar nama kakaknya disebutkan. Pasalnya, semua orang didaerah itu pasti mengenal Ichigo Kurosaki dan sifatnya. Mereka rasanya enggan membayangkan wajah Ichigo yang sedang marah.
...
Two month later
Karin pov.
Sakit. Rasanya seperti ada sesuatu yang memaksa jiwaku keluar dari tubuhku, seperti tarik menarik. Mungkin seharusnya aku sudah mati, karena beberapa saat lalu pendengaranku seakan lumpuh, aku hanya dapat mendengar suaraku, hanya mendengar denting rantai yang tertarik diiringi rasa sakit disekujur tubuhku. Mungkin kejadian beberapa saat lalu memang benar terjadi, karena aku, ironinya — bahkan bisa mendengar suara kematianku sendiri. Ya, kematianku. Oh Kami-sama, bahkan kemampuanku pun membuatku harus mengakui kematianku sendiri.
Entah aku harus beruntung atau tidak. Karena kini, aku bisa mendengar suara Tou-san dan yang lain. Suara mereka seakan mengelilingiku. Apakah ini artinya aku selamat dari kematianku sendiri? Tapi, sepertinya aku merasakan bahwa rantai jiwaku telah retak sebelumnya.
"Kau tahu, ini sudah melawan takdir. Rantai jiwanya telah rusak, kido atau shotten kishun Inoue tidak akan bisa memperbaikinya." Suara paman Ryuuken, apa ini artinya aku dirumah sakit — lagi.
"Kurosaki-jiisan, Karin tidak akan suka ini, sebelumnya dia tidak mau menerima bantuan apapun dari kita, apa baik kalau saat ini kita membantunya seperti ini?" Kini aku mendengar suara Inoue-nee. Sebenarnya ada berapa banyak orang diruangan ini?
"Isshin, yang dikatakan mereka benar." Itu suara kucing aneh di Urahara shoten, artinya Urahara-san dan mungkin Tessai juga ada disini. Tapi, apa yang dilakukan Tou-san hingga suara mereka terdengar kesal dan seperti kelelahan.
"Aku ayahnya, aku tahu yang terbaik untuknya. Karin-chan sangat tidak ingin bantuan apapun, dia ingin menjadi gadis normal setelah apa yang dialaminya sejauh ini. Tapi dia sangat tidak ingin menjadi plus atau hollow, jadi aku tidak bisa membiarkan dia 'pergi' sekarang." Suara orang disekelilingku terdengar hening setelah Tou-san berbicara. Aku sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi, tapi aku setuju dengannya, berakhir seperti apapun dan kapanpun hidupku, aku tidak ingin menjadi arwah penasaran atau monster aneh yang sering kulihat.
"Wah, sepertinya kau sangat mengerti tentamg anakmu ya. Aku pikir tidak masalah melakukannya itu terdengar seperti permintaan terakhir, kan? Selama apa yang diinginkannya terwujud, kita hanya harus menahan kido ini kan. Apa kau sanggup, Inoue-san?" Suara Urahara! Jadi tebakanku benar kalau dia pun ada disini.
"Selama kido bisa menahan rantai yang retak dan Karin-chan tidak berada jauh dari jangkauanku, aku pikir tidak masalah. Tapi kalau kerusakannya parah, aku tidak bisa melakukan reject pada kido itu. Seperti aku tidak bisa memperbaiki rantai jiwanya, aku sudah tidak bisa melakukan reject apapun pada Karin-chan. Karena rantainya rusak, itu berarti pengembalian keawal hanya akan berakhir pada titik ketidak ada kehidupan — kematian."
/Flashback End/
