CAN YOU SEE ME ?
Bleach Tite Kibo
.
.
.
9 September, Kurosaki's Home
Kelopak mata itu perlahan terbuka memperlihatkan iris kecoklatan Ichigo. Dipaksakan tubuhnya yang lelah bangun dari tidurnya. Tubuhnya sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit. Tatsuki, sahabatnya, semalam penuh menceritakan apa yang terjadi pada keluarganya selama tiga tahun tanpa kehadirannya. Seketika, hanya karena cerita beberapa waktu lalu —Ichigo merasa bukan bagian dari keluarga Kurosaki.
Matanya tertuju pada frame kecil di atas mejanya. Pikirannya kalut, senyum yang terperangkap dalam foto diframe itu membuat keadaan hatinya semakin sakit. Itu foto keluarganya. Ayah dan ibunya tersenyum menggendong adik kembarnya dan Ichigo kecil tersenyum lebar diantara keduanya, mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia.
Menatap sendu kearah lain, Ichigo menolak memerangkap kembali dirinya ke masa lalu yang sudah berakhir tersebut. Mengacak rambutnya, gerutuan kecil lepas begitu saja mengisi sunyi kamarnya pagi itu. "Baka," keluh Ichigo seraya mendekati jendela kamar dan membukanya, membiarkan angin pagi musim gugur menusuk tulangnya yang terasa kaku pagi ini.
Ichigo lelah. Dia tidak melakukan apapun memang, bertarung melawan hollow yang menjadi alasannya datang ke Karakaua pun tidak, tetapi dia lelah. Lelah untuk sesuatu yang tidak pernah terlintas dipikirannya, lelah untuk semua drama aneh yang takdir goreskan untuk keluarganya.
Tok tok!
Suara ketukan pintu mengalihkan Ichigo dari lamunannya. Dengan sigap dia membuka pintu kamarnya. "Yuzu?" Ichigo sedikit terkejut melihat adiknya berdiri tertunduk di depan pintu kamarnya. Tiba-tiba setiap perkataan sang adik semalam membuat keadaan hatinya semakin memburuk, rasanya sakit melihat sang adik seoalah ketakutan dan berdiri dengan rasa bersalah didepannya. Yang mana, seharusnya perasaan seperti itu adalah untuknya, bukan Yuzu.
"Ichi-nii, tentang semalam―," Ichigo tidak membiarkan Yuzu melanjutkan perkataannya. "Kau tidak sekolah, Yuzu?"
Yuzu menggeleng lemah, sang adik masih belum mengangkat kepalanya dan menatap mata Ichigo. "Ichi-nii, Aku―."
Lagi, Ichigo tidak membiiarkan Yuzu mengatakan apapun. "Yuzu, rambutku mulai memanjang dan membuat gatal leher. Kau mau memotongnya untukku," Ichigo menunggu respon sang adik yang mulai mengangkat kepalanya dan menatap Ichigo.
"Seperti dulu," lanjut Ichigo tersenyum sendu.
Yuzu mengangguk dengan cepat, membiarkan linangan air mata jatuh ke lantai. Ichigo yang melihatnya hanya tersenyum sendu, membiarkan setiap momen pagi itu sebagai saksi bisu janjinya. Ya, janji. Janji kecil yang dikunci dihatinya yang sakit seketika itu juga. Yaitu, membangun kembali momen indah bersama keluarganya ―walau hanya sebentar saja.
"Ichi-nii! Bisakah Kau bersikap seperti dulu, seperti seorang kakak biasa yang menghawatirkan adiknya. Yang akan datang jika kami membutuhkanmu, tidak bisakah?"
Perkataan Yuzu terngiang lagi, tetapi kali iniIchigo tersenyum yakin akan jawabnya. "Ya, aku bisa," bisiknya lembut.
...
"Terima kasih, Ururu-chan."
Ururu hanya mengangguk kepada Isshin yang tengah duduk berdua dengan Urahara. Dia baru saja menyajikan secangkir teh untuk keduanya, sebelum akhirnya Ururu kembali meninggalkan keduanya berbincang di teras depan toko.
"Malam yang panjang," Isshin menatap dalam diam sahabat bertopi hijau yang mulai menyesap tehnya itu ―Urahara.
"Lapisan pertama yang telah rusak semalam adalah milik gadis Ishida, artinya tidak ada reject atas kerusakan kido lagi setelah ini." Isshin menundukkan pandangannya, matanya tertuju pada jam pasir yang baru saja dibalikkan oleh sahabatnya beberapa waktu lalu itu.
"Jam pasir itu.. setiap butir yang jatuh adalah waktu yang dimiliki putrimu sebelum semua lapisan kidonya menghilang." Kepala keluarga Kurosaki itu masih enggan menyahuti pembicaraan sahabatnya, dia tidak tahu apa yang ingin disahutnya lebih dulu. Kejadian semalam atau kenyataan tentang hidup putrinya yang tengah dihitung oleh butiran pasir dihadapannya.
Selama tiga tahun terakhir, Urahara telah banyak membantunya. Memintanya lebih dari semua ini akan membuat Kurosaki Isshin merasa semakin bersalah. Dia pun telah berjanji pada Urahara bahwa permintaannya agar menjaga rantai jiwa Karin adalah permintaan terakhirnya.
Isshin menghela nafas panjang dan melihat ke arah langit pagi musim gugur, dia butuh relaksasi. Meraih cangkir teh hangat dan menyesapnya perlahan, Kurosaki Isshin benar-benar butuh ketenangan hari ini.
Menyadari rekan minum tehnya yang memerhatikan dari sudut mata, Isshin menaruh kembali cangkir tehnya. "Sampai setiap butir pasirnya terjatuh, aku pastikan tidak akan ada yang bersedih dihadapan putriku." Satu determinasi yang diucapkan Isshin bukan hanya tertuju pada Urahara, tetapi juga pada setiap orang yang sedang mencuri dengar pembicaraan mereka dari balik shoji toko Urahara.
Isshin melihat sekilas senyum khas sahabatnya dari balik tensen kecil yang menutupi wajah mantan kapten divisi 12 itu. "Tetapi sebelum aku lupa," Isshin menunjukkan wajah konyolnya yang khas sebelum melanjutkan perkataannya itu, "Terima kasih atas semua bantuanmu selama ini."
"Siapa yang bilang aku membantumu selama ini."
Jawaban khas sahabatnya. Dia sudah menduganya. Entah kenapa, Isshin memilih tertawa lepas pagi ini sebagai sahutan atas jawaban khas Urahara Kisuke.
...
Fuwa Mahiro yang mengantarkan adiknya ke sekolah tersenyum lembut sebelum akhirnya melepaskan genggaman tangannya dari sang adik tepat di depan sekolahnya. "Ai-chan belajar yang rajin ya," ujarnya lembut pada sang adik.
"Baik onii-chan," ujar Fuwa Aika tersenyum semangat. "Apa pulang nanti Ai boleh mengunjungi Karin-nee?" lanjutnya.
"Tidak, sepertinya tidak. Aika menghabiskan waktu dengan onii-chan saja ya, Karin-chan pun sepertinya begitu."
Aika menatap bingung kakanya sebelum menganggukkan kepala dan berbalik memasuki sekolahnya.
...
Karin berjalan pelan meraba ruangan di Urahara Shoten itu, sampai akhirnya langkahnya terhenti pada dinding yang terasa seperti jendela diruangan tersebut ―karena dia bisa merasakan angin musim gugur menelisik lembut tubuhnya yang mulai gerah terus terkurung di kamar semalaman.
Karin merasakannya. Dia mulai mendengar suara kematiannya sendiri dalam suasana hening seperti. Dia tahu tidak lama lagi waktunya akan habis. Tidak butuh Urahara atau Inoue memberitahunya pun, Karin dapat merasakan bahwa rantai jiwanya yang retak dan mungkin seharusnya sudah putus mulai kembali bekerja sebagai mana takdir seharusnya berjalan baginya.
Sekarang waktunya, pikir Karin. Setelah sekian lama takdir dikehidupannya tertahan oleh kido dan kemampuan aneh Inoue, akhirnya takdir kembali menunjukkan taringnya dihidup Karin. Takdir kematiannya.
"Harus dimulai dari mana ya," gumam Karin mengisi sunyi ruangan. Dia berpikir untuk membuat list hal yang harus dilakukannya bersama orang yang dia sayangi sebelum takdir benar-benar menjemputnya. "Saat pulang nanti aku harus meminta bantuan Yuzu membuat list sepertinya," senyum tulus akhirnya terukir diwajahnya setelah sekian lama Karin menantikan waktunya.
.
.
.
Author's Note:
Hallo Minna-san, akhirnya aku bisa kembali menyelesaikan fic ini. Mohon reviewnya yaa, karena aku janji.. dalam satu atau dua chapter lagi akan menyelesakan fanfic ini hehe. Semoga masih ada yang menantikan fanfic gaje ini ya wkwk
